Diamond from Desert Rose


Tittle                : Diamond from Desert Rose

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance? Familly? Fantasy? Sad?

Rate                 : Silakan tentukan sendiri

Cast                  : All member DBSK (marga disesuaikan)

Disclaimer:      : They are not mine but this story and OOC Jung Hyunno, and others are mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran. Tanpa Edit jadi mungkin sedikit amburadul ==” Penceritaan ngebut. Saran dan masukkan diterima. Tidak menerima Bash dan Flamer dalam bentuk apapun!

❤❤❤

❤❤❤

landscape-730308_960_720

❤❤❤

PASTIKAN BACA WARNINGNYA!

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

Beberapa tahun yang lalu terjadi sebuah wabah penyakit yang menyebabkan banyak orang meninggal, jatuh miskin dan sengsara. Pada saat itu dataran Big East yang semula merupakan dataran subur berubah seketika menjadi dataran kering gersang, sumber mata air mongering tiba-tiba, lahan pertanian berbatu dan berpasir, binatang ternak dan hewan buas banyak yang mati kelaparan pun si empunya. Pada masa sulit tersebut manusia tidak lagi memedulikan keluarga, saudara bahkan orang yang dikasihinya. Asal bisa makan dan bertahan hidup apapun akan mereka lakukan, mencuri, merampok, membunuh bahkan menjual sanak keluarganya sendiri. Termasuk seorang ayah yang sangat miskin dengan kesadaran penuh menjual kedua anak laki-lakinya pada keluarga kaya sebagai budak untuk sekedar mengisi perut yang meronta-ronta kelaparan. Kedua saudara itu pun berpisah dan tidak lagi diketahui keberadaannya sampai sekarang, entah masih hidup atau sudah mati menjadi mayat tak berarti dan dimakan oleh sekumpulan burung bangkai yang meneriakkan rasa lapar mereka diangkasa yang kelabu. Keluarga lain pun tidak kalah miris, menjadikan anak gadisnya sebagai seorang gisaeng misalnya hanya untuk mempertahankan perut tetap kenyang. Kenyataan pahit yang dulu merantai Big East perlahan-lahan memudar seiring berjalannya waktu, namun disudut-sudut yang terlupakan oleh penguasa dan pemerintahaan masih terjadi kekerasan serupa namun tak sama. Siapa yang membawa senjata dialah yang berkuasa. Ironi memang.

Hidup berdasarkan naluri untuk membunuh, mempertahankan hidup menjadi pilihan sebagian orang. Menindas yang lemah menjadi pilihan hidup beberapa orang, salah satunya yang terjadi disebuah daerah bernama Bollero.

Duak!

Petani tua itu jatuh pingsan seketika ketika dada kurusnya dihantam telapak kaki berlapis baja.

“Cuh!” seorang pemuda yang membuat si petani tumbang meludah mengenai petani yang sudah tidak sadarkan diri itu, “Dasar tua Bangka merepotkan! Aku hanya ingin anak gadismu menemaniku di atas ranjang malam ini! Aku tidak perlu kasar kalau kau menurut sejak tadi.” Matannya yang jelalatan menatap seorang gadis yang menangis ketakutan dalam diam di sudut gubug. Pemuda berwajah bengis itu menghampiri si gadis, baru beberapa langkah terdengar jeritan ketakutan dari si gadis. Kepala pemuda berwajah bengis itu sudah terlepas dari tubuhnya, darah membanjiri gubug reot itu.

“Sampah kecoa semacam itu tidak pantas hidup!” katana panjang berlumuran darah itu kembali disarungkan. Wajah menawan pelaku pemenggalan sadis itu menatap si gadis yang tengah menangis ketakuta. “Aku hanya membunuh sampah! Kau tidak perlu takut! Rawat saja ayahmu, belikan obat atau ramuan agar keadaannya tidak selemah itu.” Tanpa ekspresi sosok menawan itu melempar 5 keping emas pada si gadis.

“Kau terlalu baik, Jae! Untuk apa kau memberinya uang? Yoochun tidak akan menyukainya!” ucap pemuda lain berwajah manis.

Play boy sialan itu akan kehilangan kepalanya bila dia berani menegurku, Junsu!” pria –berwajah canti- yang dipanggil Jae itu berjalan keluar meninggalkan gubug jelek itu tanpa berkata apa-apa lagi.

“Hei, jangan memanggil kakakmu dengan sebutan kasar seperti itu! Lagi pula kau akan membuat gadis itu trauma seumur hidup.” Komentar Junsu yang mengikuti Jae keluar dari gubug. “Dia cukup manis ku kira.”

“Hmmm…”

“Kau tidak suka pada perempuan ya?”

“Mereka merepotkan dan berisik! Aku tidak suka hal yang merepotkan dan tidak efektif!” komentar Jaejoong terdengar dingin _selalu seperti itu.

“Kau tahu Jae? Beberapa hari yang lalu aku mendengar kabar bahwa Jenderal menyebalkan itu akan menjebloskan kita ke penjara bila kelompok kita masih sering membuat onar.”

“Biar saja!”

Junsu hanya bisa menghela napas panjang menghadapi sikap kelewat dingin ‘rekan kerja’nya itu.

❤❤❤❤❤

“Hyung… Hyung…”

 Mata besar indah itu sembab, air mata terus membasahi wajah kusamnya yang penuh jelaga dan debu ketika sang ayah menyeretnya pergi –pergi untuk dijual ke orang kaya− sama sepertinya yang dijual untuk menjadi pelayan disalah satu rumah bangsawan. Ia ingin berlari menyelamatkan adiknya namun cengkeraman kuat dikedua bahunya membuatnya tidak bisa meronta dan meloloskan diri, ingin berteriak tetapi suaranya tercekat. Ia hanya bisa menatap sang adik yang perlahan-lahan hilang dari jangkauannya, dari matanya yang berkabut…

❤❤❤❤❤

“Wajahmu kelihatan buruk, Yunho Hyung! Apa semalam kau mimpi buruk?” pemuda jangkung itu menatap pria di sampingnya yang menampakkan benang kusut diseluruh permukaan wajahnya.

“Tidak.” Jawab si pemilik mata setajam mata musang yang sedang berburu, entah apa yang mengganggunya atau alasan apa yang membuat suasana hatinya memburuk sehingga wajahnya tampak sangat tidak bersahabat.

“Ah, aku tahu! Hyung selalu menolak berurusan dengan para kutu busuk itu tetapi kali ini Hyung mendapat perintah dari atasan untuk memberantas mereka secara langsung. Benar-benar menyebalkan bukan?”

“Changmin!”

“Ya?!” tanya si empunya nama. Wajahnya menegang. Rekan kerja, atasan sekaligus sepupunya itu sudah memanggilnya dengan intonasi suara yang bergitu datar, dingin namun penuh pemenkanan menandakan bahwa Yunho sedang dalam suasana hati sangat buruk.

“Suruh anak buahmu bersiap! Kita akan segera berangkat. Aku dengan senang hati akan memenggal kepala prajurit yang membelot!” ancam Yunho.

Changmin, pemuda jangkung itu menelan ludahnya susah payah. Wajah sumpringahnya tadi menghilang entak kemana digantikan wajah tegangnya. “Aku akan menyuruh anak buahku untuk segera berangkat, Hyung.” Ucapnya sambil bergegas lari keluar dari ruang kerja sepupunya.

Sepeninggal Changmin, Yunho membuka laci meja kerjanya, mengambil sebuah kantong kain kecil berwarna kelabu dari bahan kulit kemudian menuangkan isinya di atas meja. Sebuah kalung emas putih berbandul seeokor rusa kecil yang terbuat dari tembaga, perlahan Yunho mengusap rusa mungil itu sebelum meraup rantainya dan mengalungkannya dilehernya sendiri.

❤❤❤❤❤

Sebuah komplek di luar kota, sekitar 5 kilometer ke arah tenggara kota terdapat sebuah pemukiman kecil, sekitar 20 rumah gubug dan sebuah rumah jauh lebih besar berdiri ditempat itu. Tidak seperti pemukiman kumuh dimana masyarakatnya kurus kering kekurangan makanan dan memakai pakaian kumal, di pemukiman tersebut tidak bisa dijumpai pemandangan seperti itu. Penduduk yang tinggal disana sama seperti masyarakat menengah keatas pada umumnya, memakai pakaian sutra, menghiasi rambut mereka dengan manik-manik, makan makanan layaknya bangsawan dan bahkan memiliki banyak binatang ternak, sawah disekitar pemukiman itu pun sangat subur.

Yunho turun dari kudanya, berjalan dijalan setapak yang berada ditengah-tenagah pematang menggunakan sepatu bootnya. Sebuah pedang panjang terselip pada ikat pinggang kulitnya, jubah kebesarannya melambai-lambai tertiup semilir angin. Langkahnya mantab menuju bangunan paling mentereng (mewah) diantara banguan-bangunan lainnya tanpa memedulikan tatapan penduduk setempat dan bisik-bisik keras yang dialamatkan padanya. Diikuti Changmin dan sekitar 20 prajurit lainnya Yunho berjalan dengan wibawa dan keagungan yang menyertainya. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Yunho segera menendang pintu malang itu hingga terbuka lebar.

“Selamat datang, Jenderal!” ucap seorang pria yang berdiri di tengah ruangan kosong serupa aula itu dengan ramah. Wajahnya tersenyum berseri-seri melihat kemarahan yang tercetak jelas pada wajah Yunho. Di belakangnya terdapat sebuah anak tangga –hanya 3 buah anak tangga− hampa yang digunakan untuk duduk. Pada anak tangga ke-2 dan pertama telah duduk 2 orang yang salah satunya Yunho ketahui bernama Junsu, tetapi seorang lagi yang duduk pada anak tangga pertama dengan wajah menunduk tidak Yunho ketahui identitasnya, sedangkan pada anak tangga ke-3 –anak tangga teratas− kosong, seolah-olah memang sengaja kosong. Atau si empunya tengah berdiri dihadapan Yunho sekarang?

“Aku muak padamu, Park Yoochun! Kau dan segala keonaran yang sudah kau lakukan!” hardik Yunho geram.

“Ah… benarkah? Maafkan aku kalau itu mengganggumu tetapi yang kulakukan hanyalah membersihkan sampah!” jawab si pemilik pipi gempal itu tanpa memudarkan senyumannya.

“Kaulah sampah itu sendiri!” sindir Yunho.

“Seorang yang berpendidikan sepertimu tidak seharusnya menghina rakyat jelata sepertiku! Bukankah kau diajari sopan santun dengan baik, huh?”

“Sebaiknya kita langsung saja, Hyung! Tidak perlu bicara dengan tikus got seperti mereka!” saran Changmin.

“Mulutmu terlalu berbisa, Nak! Apakah kau menelan ular sebagai santapanmu setiap harinya?” tanya Yoochun.

“Ikut denganku untuk diadili secara baik-baik atau kau ingin aku memaksamu!” Yunho menawarkan –kalau bisa dibilang begitu− mengingat raut wajah tidak bersahabatnya.

“Tidak!”

Glaarrrr! Bersamaan dengan penolakan yang Yoochun utarakan petir menyambar dengan sangat keras hingga membuat penduduk disekitar berteriak dan bergegas memasuki kediaman masing-masing. Suara pintu-pintu yang ditutup bersahut-sahutan menjadi irama tersendiri.

Changmin yang merasa ‘terdakwa’ kurang kooperatif segera menarik katana dari sarungnya, diikuti oeh para prajurit yang berdiri tegang di belakangnya. Changmin mengacungkan pedangnya pada Yoochun.

“Bicara dengannya hanya membuang-buang waktu saja, Hyung. Mari kita adili mereka disini!” usul Changmin.

Tap!

Dengan wajah sumpringahnya Junsu berdiri di depan Changmin. “Ku rasa kau terlalu gegabah Choikang Changmin! Berkelahi di sini hanya akan membuat penduduk takut dan semakin membenci militer serta pemerintahan yang tidak pecus mengatasi kesenjangan sosial yang mencekik mereka!”

“Omong kosong!” bentak Changmin.

Buag! Tiba-tiba Changmin tersungkur saat sebuah tendangan kuat menghantam perutnya.

“Jae…” panggil Yoochun dengan suara tenang, dalam namun penuh penekanan.

Jaejoong −Jae− yang semula menundukkan kepalanya kini mendongak congkak pada gerombolan sampah –menurutnya semua antek-antek pemerintah adalah sampah busuk− yang mengganggu ketenangannya beristirahat.

Yunho tercekat melihat sosok Jaejoong. Ia merasa familiar pada Jaejoong, sepertinya mereka pernah bertemu disuatu tempat namun Yunho tidak mampu mengingatnya.

“Aku kurang suka kau menatap adikku seperti singa lapar, Jenderal!” ucap Yoochun mengalihkan perhatian Yunho yang semula terfokus pada Jaejoong kini beralih padanya. “Banyak pejabat korup yang ingin menjadikan adikku sebagai simpanan atau istri muda mereka tetapi aku tidak pernah merestui. Aku tidak sudi adikku dialiri aliran kotor hasil memalak rakyat miskin!” Yoochun meludah tepat mengenai permukaan sepatu kulit sebelah kiri Yunho.

“Uhuk! Uhuk!” Changmin terbatuk-batuk. Dibantu dua orang bawahannya, pemuda jangkung itu berusaha bangun dari dekapan lantai super dingin.

Rintik gerimis perlahan mulai turun disertai angin kencang yang meniupkan cabang-cabang pepohonan, membuatnya terlihat seperti menari-nari dalam latar kelabu yang kelam.

“Ini peringatan terakhirku! Kalau kau berbuat onar lebih dari ini, akan ku penggal kepalamu ditempat!” ancam Yunho yang hanya disenyumi oleh Yoochun.

❤❤❤❤❤

Sudah setengah tahun lamanya Yunho tidak pernah mendengar kabar mengenai kelompok Yoochun. Sebenarnya didalam hati Yunho berterima kasih pada kelompok Yoochun yang membasmi penjahat-penjahat yang meresahkan rakyat kecil, akan tetapi sebagian jiwa kemanusiaannya pun tidak membenarkan apa yang kelompok Yoochun lakukan –menghilangkan nyawa manusia− walaupun mereka pantas untuk dihukum.

Pada suatu senja dengan napas terengah-engah dan keringat bercucuran Changmin datang menemui Yunho dan mengabarkan mengenai kabar menyedihkan namun juga menggembirakan. “Menteri pertahanan bersama 5 peleton pasukan pilihan telah menggempur markas komplotan Yoochun. Semua hancur.” Itu yang Changmin sampaikan.

Yunho yang entah kenapa tiba-tiba merasakan kekhawatiran merambati dirinya segera meminta Changmin dan beberapa orang prajurit kepercayaannya untuk pergi ke pemukiman tempat Yoochun dan kelompoknya bersembunyi dari lidah pemerintah. Ketika sampai di ujung pemating, rasa nyeri merambati hati Yunho melihat api berkobar dan asap tebal memenuhi pemukiman itu. Yunho berjalan tergesa –setengah berlari melintasi pematang hingga beberapa kali nyaris terjerembab ke dalam lumpur sawah. Begitu sampai di pemukiman kumuh itu Yunho tercengung (tertegun penuh kekagetan) dengan putus asa melihat tidak satu pun bangunan berdiri di tempat itu, semuanya sudah terbakar menjadi arang. Mayat-mayat bergelimpangan (tergeletak/ terkapar) disusut-sudut tempat yang dulunya berdiri sebuah rumah. Mayat-mayat dengan keadaan menyedihkan. Kehilangan kaki, kepala, tangan bahkan ada yang terbakar. Seketika air mata mengalir membasahi sepasang mata musangnya. Bagaimana pun juga Yunho memiliki hati nurani sebagai seorang manusia, hatinya tergugah melihat rakyat tidak berdosa dibantai sedemikian rupa oleh pemerintah –yang begitu dibela dan diagungkannya.

“Periksa seluruh tempat! Selamatkan yang masih bernyawa!” perintah Changmin pada prajuritnya. Dengan prihatin Changmin menengkeram bahu kanan Yunho. “Hyung…”

“Ini biadab! Tidak manusiawi!” gumam Yunho.

“Mari kita cari keajaiban diantara reruntuhan nestapa ini. Hyung!” ajak Changmin.

Yunho menganggukan kepalanya lemah kemudian berdiri, berjalan ragu-ragu menembus asap tebal, mencari-cari harapan yang hanpir punah. Samar diantara kabut asap tebal Yunho melihat sosok manusia sedang duduk sedikit membungkuk. Dengan perasaan membuncah Yunho berlari menghampiri sosok itu. Alangkah terkejutnya Yunho. Tubuhnya kejang seketika melihat pemandangan dihadapannya. Sosok Yoochun berlumuran darah tergeletak tak berdaya di atas tanah berdebu penuh jelaga, terdapat luka sayatan panjang mulai dari dada kanannya sampai pinggang kirinya. Anak panah menancap pada paha sebelah kirinya. Kaki Yunho lemas seketika, sang jenderal terduduk di samping sosok yang bersimpuh menangis dalam diam di hadapan tubuh Yoochun. “Dia mati?” tanyanya seperti orang linglung.

“Belum.” Jawab Jaejoong. Rambut hitam kusutnya yang panjang tampak lembab. Wajahnya kusut dan sembab penuh debu alih-alih jelaga. Mata legamnya tampak kosong tak bernyawa.

Yunho berteriak memanggil bantuan, meminta orang-orangnya menggotong tubuh Yoochun –yang ia kira sudah mati. Yunho sendiri memapah Jaejoong untuk segera mendapat pertolongan. Ketika Yunho bertanya pada Jaejoong perihal keberadaan Junsu, sosok itu hanya menyawab “Junsu diseret bersama para gadis lainnya.”

Yunho merutuk, dalam hati kecilnya tumbuh bibit benci pada pemerintah yang semula menjadi junjungannya.

❤❤❤❤❤

“Yang ku dengar Jaejoong adalah adik kembar Yoochun. Ayah mereka dulunya pejabat pemerintah yang jujur, karena terlalu jujur akhirnya ayah mereka difitnah dan dijebloskan ke penjara sebelum dihukum pancung. Ibu mereka diperkosa sebelum dibunuh oleh pejabat lainnya tepat dihadapan mereka.” Jelas Changmin.

Yunho pilu mendengar kisah hidup seteru yang diselamatkannya. “Bagaimana dengan Junsu?”

“Junsu sebelumnya adalah anak orang miskin yang dijual pada keluarga Park –keluarga Yoochun dan Jaejoong− sebagai budak. Tetapi karena suatu sebab akhirnya Junsu menjadi bagian keluarga inti dan mendapatkan pendidikkan selayaknya keluarga bangsawan.”

“Mungkinkah…”

“Ya, Hyung….” Jawab Changmin. “Kemungkinan Junsu adalah adik kandungmu, Hyung. Nama orang yang menjual Junsu pada keluarga Park adalah Ming Jung Ho, ayah Hyung.”

Yunho memejamkan matanya dengan pedih, membiarkan lelehan bening membasahi wajah tampannya. “Dimana keberadaan Junsu sekarang?”

“Rumah para Gisaeng, tepatnya di penjara bawah tanahnya.” Jawab Changmin.

“Bagaimana dengan para gadis yang diculik?”

Changmin terdiam. Wajahnya nampak ragu-ragu.

“Changmin?”

“Mereka dipaksa menjadi gisaeng, Hyung.”

Seperti tertikam belati, Yunho merasakan nyeri diulu hatinya. “Bagaimana keadaan Jaejoong?”

“Dia tidak mau menyentuh makanan dan obat. Yang dilakukannya hanya menggenggam tangan Yoochun.” Changmin melihat perubahan raut wajah Yunho, “Apa rencana kita, Hyung?”

Yunho menatap Changmin penuh selidik.

“Aku memang kurang –sama sekali tidak menyukai Yoochun dan kelompoknya− tetapi aku lebih membenci kebiadaban yang dilakukan pada rakyat tidak bersalah.”

“Kita lihat nanti.” Ucap Yunho.

❤❤❤❤❤

Brak!

Pintu malang itu terbanting, seorang pelayan jatuh dengan keras membentur lantai kayu. Yunho yang mendengar keributan itu segera mendatangi sumber masalah –Jaejoong yang tidak mau makan dan minum obatnya. Saudara Park Yoochun itu membuat si pelayan katakutan. Yunho yang geram dengan tingkah Jaejoong segera mencengkeram kedua pergelangan tangan Jaejoong dan menyeretnya menuju sudut kamar. Rontaan Jaejoong membuat kimono yang digunakannya tersingkap.

“Dengar! Aku muak dengan segala pemberontakan yang kau lakukan! Kalau kau tidak mau minum obat dan makan segera ambil pedangmu dan bunuhlah dirimu sendiri! Jangan buat aku menyesal sudah menyelamatkanmu!” bentak Yunho.

Jaejoong terdiam, mata indah legamnya menatap penuh kebencian mata setajam musang namun teduh itu. Bola mata bening serupa mata rusa betina itu berkabut, ada luka dendam dan ketakutan didalamnya.

“Aku membutuhkanmu… untuk menyelamatkan Junsu!” Yunho berujar dengan intonasi tinggi.

“Junsu….” Bibir merah penuh itu bergumam lirih.

“Ya. Junsu. Dia masih hidup. Junsu membutuhkanmu. Dia berada di penjara bawah tanah rumah para gisaeng yang sering didatangi oleh para bangsawan atau orang kaya beruang.” Ucap Yunho, kali ini suaranya sedikit lebih rendah. Ditatapnya mata indah yang tengah nanar itu dalam-dalam. Yunho ingat sekarang siapa sebenarnya Jaejoong dan kapan pertama kali mereka bertemu.

❤❤❤❤❤

Jemari mungil itu terulur untuk mengusap air mata yang meleleh dari sepasang mata musang Yunho yang sudah bengkak –sudah sebulan Yunho berpisah dari adiknya namun ia belum bisa melupakan dengung gema suara adiknya yang memanggil-manggil namanya. Yunho bukannya dijual untuk menjadi budak melainkan untuk dijadikan anak oleh sang bangsawan kaya raya yang mengingankan seorang anak akan tetapi tidak mungkin terwujud karena tabib sudah mengatakan bahwa si bangsawan –ayah angkat Yunho− mandul. Yunho disulap menjadi anak bangsawan, tubuhnya bersih tidak lagi penuh debu dan daki, pakaiannya serba mewah dan mahal, Yunho pun dikirim ke sekolah khusus anak-anak bangsawan berada. Ditempat asing tak bersahabat inilah ia menjumpai seorang anak seusia adiknya tengah memergokinya menangis, anak –yang Yunho kira seorang gadis− itu mengusap air matanya secara perlahan dan lembut.

“Bukankah anak laki-laki tidak boleh menangis?” mata hitam legam serupa mata rusa betina itu menatap Yunho penuh kepolosan dan ketulusan.

“Aku sedang sedih. Aku kehilangan adikku.” Jawab Yunho muda.

Sosok dengan hanbok sewarna bunga sakura itu menganggukan kepalanya perlahan, “Aku pun akan sedih bila kakakku meninggalkanku.” Sosok itu memeluk Yunho, lengan mungilnya dikalungkan pada leher jenjang Yunho.

Yunho membalas pelukan hangat itu tak kalah erat, “Terima kasih.”

Sosok itu tersenyum, mengambil sesuatu dari kantong kecil berwarna kuning tembaga yang ia bawa dan menyerahkan isinya pada Yunho –Sebuah kalung emas putih berbandul seeokor rusa kecil yang terbuat dari tembaga− sebelum melambaikan tangannya dan berjalan pergi meninggalkan Yunho.

Untuk sesaat Yunho tersihir oleh keindahan kalung itu, setelah tersadar ia segera berlari mencari sosok kecil yang begitu cantik tadi. Yunho melihat si kecil itu hendak memasuki sebuah tandu. Yunho berteriak memanggilnya.

“Siapa namamu?” tanya Yunho sedikit ngos-ngosan.

“Park Jaejoong.”

“Kau tidak sekolah disini?” tanya Yunho sedikit berharap. Alangkah indah hari-harinya bila sikecil nan cantik itu menjadi sahabatnya.

Jaejoong kecil menatap gedung sekolahan, “Tadinya. Tetapi ayah dipindah tugaskan dan saudara baruku sakit parah. Kami harus ke Ibu kota secepatnya untuk obat.”

“Apa kita akan bertemu lagi?”

“Semoga….” Si kecil itu mencium pipi kanan Yunho sebelum memasuki tandu yang akan membawanya pergi.

Yunho hanya mampu menatapnya dalam diam, dalam kehampaan.

❤❤❤❤❤

“Aku akan menyuapimu jika kau tidak mau makan.” Ucap Yunho, perasaan haru dan sayangnya pada sosok kecil –yang ternyata Jaejoong itu− muncul lagi, seperti luapan banjir yang menyapu persawahan petani. “Kau harus cukup sehat untuk membantu Junsu keluar dari penjara sialan itu!” Yunho mulai mengambil nasi dari mangkuk menggunakan tangan telanjang, menambahkan dengan suiran ikan panggang dan sayur tumis sebelum menyuapkannya ke dalam mulut Jaejoong. Yunho menyuapi Jaejoong dalam diam. Mengutuk siapa saja yang menggoreskan luka pada dada kiri Jaejoong.

“Kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Jaejoong disela mengunyah. Mata indahnya terus mengawasi Yunho takut bila Yunho memberinya racun.

“Menurutmu?” tanya Yunho balik.

“Di markas? Aku melihatmu di sana!”

“Kita bertemu bahkan jauh lebih lama dari pada waktu itu.” Jawab Yunho. “Kau…” Yunho menatap dalam mata Jaejoong yang sangat jernih itu. “Kau mungkin adalah salah satu orang yang paling berarti bagiku selain adikku.”

“Kenapa?” tanya Jaejoong penuh selidik.

“Ku rasa aku sudah jatuh hati padamu sejak pertemuan pertama kita, walaupun waktu itu ku kira kau seorang gadis.”

“Kau juga ingin memerkosaku seperti yang dilakukan orang-orang itu?” tanya Jaejoong, matanya berkabut.

“Siapa yang melakukannya padamu?” tanya Yunho, suaranya tinggi penuh amarah.

Jaejoong menggelengkan kepalanya pelan, “Mereka mengira aku seorang perempuan, mereka hendak memerkosaku tetapi aku sudah membunuh mereka.” Jelasnya. “Mereka… orang pertama yang aku bunuh.” Lirihnya.

Yunho mendekap tubuh Jaejoong, memeluknya erat tanpa memedulikan keluhan Jaejoong yang mengatakan bahwa dadanya sedikit sesak. “Maafkan aku. Aku tidak tahu kau pernah mengalami pelecehan seperti itu.”

“Saat umurku 14.”

‘Andaikan saat itu kau berada disisiku….” Tiba-tiba Yunho merasakan sebuah penyesalan hebat melandanya. “Maafkan aku…”

“Mereka tidak benar-benar memerkosaku, hanya meraba tubuhku. Sebelum sempat mengoyak hanbokku mereka ku bunuh. Sejak saat itu aku menjadi pembunuh.”

“Tidak. Kau bukan pembunuh. Bagiku kau bukan pembunuh.” Yunho memeluk Jaejoong erat. Ini terasa tidak adil. Yunho tidak rela Jaejoong disentuh oleh orang lain walaupun dirinya sendiri adalah orang yang mungkin saja paling bernafsu untuk menjamah Jaejoong.

“Kau pernah memerkosa orang?”

Yunho mengusap wajah pucat Jaejoong perlahan. “Aku… tidak pernah memerkosa orang. Tetapi aku pernah tidur dengan beberapa gisaeng untuk melepaskan hasrat. Bagaimanapun juga aku seorang lelaki dewasa.”

“Aku juga pernah tidur dengan seorang gisaeng. Dan aku menyesal melakukannya. Aku tidak suka mereka.”

Yunho tersenyum bahagia, ternyata masih ada kepolosan yang tersisa dalam diri Jaejoong. “Kalau begitu kita impas. Jangan lakukan lagi! Aku pun tidak akan melakukannya lagi. Kalau kau ingin ditemnai tidur, aku yang akan menemanimu.”

Jaejoong menggelengkan kepalanya perlahan. “Yoochun yang biasanya menemaniku. Bila mimpi buruk itu mengganggu tidurku, dia akan menemaniku. Yoochun biasanya akan mengusap keningku dan menggenggam tanganku erat sambil bercerita tentang dunia yang sempurna. Kau tahu… dunia sempurna itu tidak ada.”

“Memang tidak ada.”

“Tetapi Junsu selalu percaya pada apa yang Yoochun katakan.”

“Kita akan menyelamatkan Junsu.” Ucap Yunho. “Aku tahu dimana letak penjara bawah tanahnya. Kita hanya perlu datang ke rumah para gisaeng.”

“Mereka akan mengenaliku!”

Yunho menggelengkan kepalanya perlahan sebelum tersenyum, “Seperti saat pertama bertemu, seperti itulah yang akan mereka lihat…”

❤❤❤❤❤

Ish! Aku masih kurang yakin soal ini!” gerutu Changmin yang masih duduk gelisah di atas kudanya. “Hyung? Apa kau sudah gila?”

Yunho tidak menyahut, tangannya terjulur ke atas untuk membantu Jaejoong –yang disulap menjadi gisaeng jadi-jadian− untuk turun. “Kita sudah membicarakan soal ini sebelumnya, Changmin! Pintu penjara bawah tanah itu ada di salah satu ruang kamar yang biasanya disewakan pada pejabat hidung belang. Aku sudah memesannya susah payah dengan harga mahal.”

“Tetapi Hyung, kalau Hyung memesan kamar Hyung harus memesan seorang gisaeng juga!” ucap Changmin tidak sabar.

“Aku sudah mendapatkan gisaengku! Kau, pesanlah untuk dirimu sendiri!” Yunho menggenggam lengan Jaejoong, “Dan perintahkan anak buahmu yang sudah menyamar untuk bersiaga!”

Aish! Kalau aku sampai terbunuh karena hal ini aku akan menghantui Hyung seumur hidup!” rutuk Changmin.

❤❤❤❤❤

Di salam ruangan yang sudah Yunho sewa, baik Changmin maupun Jaejoong –yang menyamar menjadi gisaeng− mencari-cari letak pintu rahasia menuju penjara bawah tanah berada. Sementara Yunho berjaga di depan pintu dengan sikap waspada. Dan gisaeng yang disewa Changmin hanya melongo melihat kelakuan tamunya.

“Sial! Hong Kwan Bo, anak perdana menteri yang terkenal mata keranjang berjalan kemari.” Maki Yunho.

Changmin yang mendengarnya segera melompat ke sisi gisaengnya dan merangkul bahu wanita berdandan menor itu –walaupun wajah Changmin nampak sangat menderita ketika melakukannya−.

Yunho segera duduk dibalik meja, menarik Jaejoong untuk duduk diatas pangkuannya. “Aku tahu kau bisa melakukannya! Kita harus pura-pura! Pria brengsek yang menuju kemari adalah orang yang berbahaya.” Ucapnya sembari menuangkan arak ke dalam mangkuk –sebagai alibi−.

Sraak!

Bersamaan dengan pintu dibuka, Jaejoong membimbing lengan Yunho untuk memeluk pinggangnya sementara dirinya bergelatut pada leher Yunho untuk menyembunyikan wajahnya.

Yunho merinding merasakan napas dan bibir Jaejoong yang menempel pada kulit lehernya, namun Yunho pun tidak bisa menolak ketika lengannya melingkar sempurna pada pinggang Jaejoong. “Ku rasa kau mengganggu urusanku, Tuan Hong Kwan Bo!” ucap Yunho. Bibirnya ia biarkan mengecup bahu kanan Jaejoong yang sedikit tersingkap. Yunho dapat merasakan tubuh Jaejoong mengejang ketika ia melakukannya.

“Maafkan atas kelancanganku, Jenderal Jung! Sekilas aku melihatmu dan Changmin sshi mendatangi surga dunia ini. Sedikit jarang melihatmu ditempat seperti ini.” Ucap Hong Kwan Bo yang masih berdiri di mulut pintu.

“Beberapa kali aku mentlaktir bawahanku disini, kalau kau mau tahu. Tetapi kekacauan akhir-akhir ini memaksaku untuk sedikit menahan diri dari bersenang-senang.” Ucap Yunho. “Katakan keperluanmu! Ku rasa aku sudah tidak sabar!”

Hong Kwan Bo tertawa, “Pastilah gisaengmu sangat cantik hingga wajahmu terlihat begitu bernafsu! Baiklah! Nikmati malammu Jenderal! Mungkin lain kali aku bisa mengundangmu minum bersama.”

“Ya!” sahut Yunho pendek. Yunho belum menurunkan Jaejoong dari pangkuannya walaupun pintu bilik sudah tertutup lagi. Yunho melotot melihat Changmin dan Gisaengnya terlelap dipojok ruangan. “Kapan anak itu minum? Kenapa bisa mabuk seperti itu?” gerutunya.

“Yunh….”

“Hm?”

Jaejoong mengangkat kepalanya, menatap Yunho lekat-lekat.

“Apa kau juga mabuk, Jae?” tanya Yunho kesal. Rencana rapinya berantakan kalau Changmin dan Jaejoong mabuk.

“Aku… ingin…” bisik Jaejoong dengan suara parau.

“Apa? Kau ingin apa?” tanya Yunho tak sabar. Yunho mati-matian menahan gejolak kelelakiannya melihat wajah memohon Jaejoong.

“Tubuhku panas… aku ingin… aku butuh pelepasan!”

Setan brengsek! Maki Yunho dalam hati. Persetan dengan tugas ataupun Junsu, Yunho tidak bisa menahan godaan yang Jaejoong berikan padanya. Yunho mencintai Jaejoong sudah sejak lama, kini ketika orang yang dikasihinya menginginkan dirinya mana bisa Yunho menolak.

“Bagaimana dengan rencana kita?” kewarasan masih belum meninggalkan Yunho walaupun hasrat gairahnya sudah hampir meledakan kepalanya.

“Aku tidak bisa menahannya! Aku butuh pelepasan sekarang!” desak Jaejoong. Wajahnya semakin diliputi oleh gairah, bagaikan orang mabuk.

Ampuni aku Tuhan! Bisik hati kecil Yunho. Perlahan-lahan Yunho membaringkan Jaejoong di atas lantai kayu yang dilapisi karpet beludru berwarna hijau, memandang mata yang menghanyutkannya kedalam lautan gairah berlama-lama sebelum meraup dan mengulum bibir merah merekah itu dengan rakus. Menelusuri tubuh indah yang berbaring pasrah dibawah tubuhnya.

Tanpa Yunho sadari sejak tadi Hong Kwan Bo melihat aksinya. Pria itu tidak percaya pada motif kedatangan Yunho ke rumah para Gisaeng tetapi melihat betapa bernafsunya sang Jenderal, pria itu merutuk juga. “Sial! Gisaeng itu sunguh cantik! Aku harus mendapatkannya!” ucapnya sebelum berjalan meninggalkan bilik Yunho.

Mengabaikan Changmin dan sang gisaeng yang terlelap bahkan sampai mendengkur, Yunho memuaskan hasratnya yang diterima dengan baik oleh Jaejoong. Yunho menciumi tubuh indah pasangannya, mengagumi dalam hati betapa ia sangat menyesal tidak segera menemukan Jaejoong lebih awal. Jaejoong, Jaejoongnya, miliknya! Tidak ada seorang pun yang boleh merasakan dekapan Jaejoong selain dirinya mulai sekarang! Jaejoong sangat halus, lembut, rapuh dan kuat pada saat yang bersamaan. Mereka bersatu dalam indahnya cinta –atau setidaknya seperti itulah anggapan Yunho.

Srak! Duk!

Meja tempat makanan dan arak diletakkan bergeser ketika kaki Yunho membenturnya, Yunho menoleh, ada yang aneh dengan lantai di bawah meja itu.

“Jangan tak acuh padaku!” Jaejoong menjambak rambut Yunho, mencium heart lips Yunho dengan kasar. Jaejoong pernah tidur dengan gisaeng, ia tidak merasa puas. Namun ketika Yunho merasuki tubuhnya, jiwa dan nalarnya seakan meleleh merasakan begitu kuatnya hentakan yang Yunho berikan pada dirinya.

“Aku mencintaimu, Jae… dengan segenap jiwa yang ku punya. Aku mencintaimu….” Bisik Yunho.

❤❤❤❤❤

“Apakah sakit?” tanya Yunho yang mengenakan kembali pakaiannya. Jaejoong dengan keras kepala tidak mau dibantu memakai pakaiannya kembali.

“Tidak. Aku baik-baik saja.” Jaejoong kemudian menendang meja tidak berdosa itu hingga membentur tembok sisi Changmin. Membuat Changmin dan Gisaengnya kaget dan terbangun dengan liur disekitar bibir mereka.

Dengan hati-hati Yunho menyibak karpet yang menutupi lantai. Tepat seperti dugaannya, lantai di bawah meja itu berbentuk seperti pintu lengkap dengan engselnya. Yunho membukanya perlahan-lahan. Ada sebuah terowongan dan anak tangga menuju bawah tanah.

“I… itu….” Gagap Changmin.

“Pintunya.” Ucap Yunho santai.

“Aku akan turun ke bawah!”

Yunho mencengkeram erat lengan Jaejoong. “Kau disini bersama Changmin! Aku yang akan ke bawah.”

“Aku tidak bisa bersama orang bermulut besar sepertinya!”

Yah!” suara Changmin melengking.

“Tunggu disini bersama Changmin! Aku tidak mau dibantah kali ini!” ucap Yunho penuh penekanan. “Aku tidak mau kehilanganmu lagi, Jae. Ku mohon mengertilah!”

Changmin yang tidak mengerti arti kata-kata yang terlontar dari mulut Yunho hanya mampu menatap sepupunya dan Jaejoong secara bergantian. Ingin sekali Changmin bertanya tetapi melihat wajah serius Yunho membuatnya menelan pertanyaannya sendiri.

“Aku akan segera kembali bersama Junsu. Aku janji!” ucap Yunho sebelum dengan perlahan-lahan menapaki anak tangga menuju ruang −penjara− bawah tanah.

❤❤❤❤❤

Aroma kencing dan tahi tikus menyeruak memenuhi udara lembab dalam ruang bawah sempit itu, Yunho berjalan dengan sangat hati-hati, sedikit was-was ada perangkap atau jebakan yang sengaja dipasang disana. Penerangan yang sangat buruk, hanya sebuah lampu minyak di depan sana –sebuah kurungan dari jeruji besi− berada. Tempat Junsu berada. Yunho berjalan semakin cepat namun dalam kewaspadaan yang tinggi menuju kurungan yang memenjarakan Junsu −adiknya−. Yunho menghentikan langkahnya beberapa meter dari pintu kurungan besi, wajahnya tertampar melihat kurungan yang tidak seberapa itu dijejali oleh banyak wanita, gadis dan anak-anak. Wajah-wajah mereka nampak ketakutan melihat Yunho.

“Dia tidak akan menyakiti kalian.”

Yunho menoleh kaget. Jaejoong sudah berdiri di belakangnya dengan angkuh meskipun masih menggenakan hanbok gisaengnya.

“Jae? Sudah ku katakan…”

“Mereka akan ketakutan bila melihatmu, Jenderal Jung!” ucap Jaejoong. Sembari mengeluarkan katananya yang entah ia dapatkan darimana, Jaejoong berjalan menuju kurungan, membiarkan Yunho berada di belakang tubuhnya. Sekali ayun, Jaejoong mematahkan rantai besi berkarat beserta gembok yang mengunci kurungan. “Kalian keluarlah sekarang! Sebelum tikus-tikus brengsek peliharaan pemerintah datang menggigit kalian lagi. Segera keluar!”

Para perempuan dan anak-anak yang nyata menyiratkan luka batin mendalam dikedalaman mata mereka menatap nanar Jaejoong –mengucapkan terima kasih melalui tatapan terluka mereka sebelum berjalan berbondong-bondong menaiki tangga menuju atas dengan tahi-hati.

“Jae…” Yunho menarik tangan Jaejoong agar adik Park Yoochun itu menatapnya.

“Kita bicara usai mereka semua berhasil pergi dari sini!” ucap Jaejoong yang langsung meloloskan diri dari Yunho untuk bergabung bersama keluarganya –penduduk yang tinggal bersamanya membentuk koloni tak tersentuh oleh pemerintahan sebelum penyerangan terjadi.

Yunho diam memperhatikan kepergian Jaejoong hingga sosok indah itu menghilang dari pandangannya.  Lantas ikut mengikuti rombongan pesakitan itu ketika orang terakhir sudah mulai menaiki tangga, meninggalkan kurungan pengab berbau pesing lagi anyir dalam kelembaban yang menyisa sebatang kara.

❤❤❤❤❤

Changmin –yang sudah bangun dari tidurnya− membantu para pesakitan untuk masuk ke kereta kuda yang sudah bawahannya siapkan. Dengan hati-hati dan waspada Changmin memerintahkan pasukan terbaiknya untuk mengawal para pesakitan ke barak persembunyian yang berada di ruang bawah tanah rumah Yunho.

“Sudah semua?” tanya Yunho.

Changmin mengangguk singkat. Keringat membasahi sekujur tubuhnya. Menggunakan dagunya Changmin menunjuk dua sosok manusia yang berdiri disamping seekor kuda berwarna putih bersih –Jaejoong yang sudah berganti pakaian sedang memeluk Junsu yang lemas dan babak belur. “Tidak ingin bergabung dengan mereka, Hyung?”

Yunho menggelengkan kepalanya pelan. “Junsu lebih menyayangi mereka –Yoochun dan Junsu− daripada kakak yang mencampakannya.” Ucapnya Yunho. “Lihat?! Junsu lebih nyaman berada dalam pelukan Jaejoong.”

“Dia −Junsu− tidak mau naik kereta kuda dengan yang lain. Dia lebih memilih naik kuda dengan Jaejoong.”

“Biarkan saja.” Ucap Yunho. Yunho diam saja ketika melihat Jaejoong membantu Junsu naik ke punggung kuda dengan susah payah. “Jae?” Yunho sedikit berteriak ketika memanggil nama itu.

“Junsu harus segera mendapatkan obat!” jawab Jaejoong yang langsung melompat ke atas pungggung kuda kemudian menyentak tali kekangnya, membuat sang kuda meringik sebelum melesat menembus kegelapan malam.

“Ikuti mereka!”

Ye!” ucap Changmin yang langsung melompat ke punggung kudanya untuk mengejar Jaejoong dan Junsu.

“Aku tidak akan melepaskan kalian lagi.”

❤❤❤❤❤

“Malam yang panjang. Istirahatlah!” Yunho mengusap bahu Jaejoong perlahan.

“Tidak.” Tolak Jaejoong. “Dulu ketika aku sakit mereka menungguiku hingga aku sembuh. Sekarang aku yang akan menjaga dan merawat mereka sampai sembuh.”

“Aku sudah membayar tabib untuk merawat mereka.”

“Hm…”

“Jangan keras kepala! Kau juga sakit!”

Jaejoong menatap Yunho dalam-dalam sebelum kembali menatap Yoochun dan Junsu yang terlelap. “Ya, kau benar. Aku akan tidur disini kalau begitu.”

“Jae…”

“Apa? Ku mohon…”

Jaejoong hanya tersenyum. Senyum yang aneh. Senyum yang hanya pernah ia perlihatkan pada Yunho seorang.

❤❤❤❤❤

Lima tahun kemudian

Denyut kehidupan ditempat yang dulunya sempat menjadi abu itu perlahan-lahan meronakan warna kehidupan. Tunas-tunas muda mulai tumbuh subur, warna-warni bunga mulai mewarnai yang dulu kelabu. Tawa anak-anak terdengar menyemarakkan tanah yang sempat mati itu walaupun luka dimata para orang dewasa nyata membekas dengan kuat.

Derak kuda hitam itu memenuhi pematang yang berukuran cukup lebar untuk dilewati kereta kuda. Suara yang menarik perhatian para anak-anak untuk bersorak sorai penuh keceriaan menyambut datangnya pahlawan mereka.

“Ahjushi… bawa gula-gula?” tanya salah seorang anak.

Sosok pria dewasa itu tersenyum lebar kemudian menurunkan karung yang dibawanya di atas tanah, membuka ikatannya. “Panggil teman-temanmu! Pastikan semuanya mendapatkan jatah.”

Riuh anak-anak mulai berebut membongkar isi karung kumal yang ternyata penuh gula-gula manis aneka warna.

Meninggalkan keriuhan anak-anak yang sedang berebut gula-gula, pria dewasa itu berjalan menuju salah satu rumah, tersenyum ketika melihat bocah berusia 10 bulan sedang berjalan tertatih-tatih mengejar kucing berwarna abu-abu gelap.

“Hei jagoan!”

Baita itu memekik senang lantang berlari –walaupun terjatuh-jatuh− menuju si pria.

“Aku masih tidak percaya adik iparku adalah seorang Jenderal!” gerutu Yoochun yang keluar dari arah dalam rumah.

“Mana Jaejoong? Junsu?” tanya Yunho yang sedang memeluk erat si balita −putranya−.

“Jaejoong? Mungkin sedang menghajar bandit yang mencoba merampok salah satu rumah semalam, Junsu menemaninya agar Jaejoong tidak lepas kendali.” Jawab Yoochun. “Ah, itu mereka…”

“Bandit brengsek itu sudah dibawa ke kantor polisi oleh Changmin. Si pohon kelapa itu takut Joongie akan memotong kepala bandit sialan itu.” Terang Junsu. “Dan Jung Yunho, jangan selalu membawakan gula-gula! Itu merusak gigi anak-anak!” omelnya.

Yunho hanya tersenyum. Baik Yunho maupun Changmin tidak ada yang buka suara mengenai kenyataan bahwa Junsu adalah adik kandung Yunho yang dijual oleh ayah mereka. Junsu lebih nyaman berada disisi Yoochun dan Jaejoong. Cukup melihatnya bahagia itu lebih darii segala-galanya bagi Yunho.

“Kalau kau mencari Joongie, dia sedang berada di sungai bersama para gadis.” Junsu tersenyum. “Tapi itu tadi, sekarang dia dimana aku pun kurang tahu.”

Yunho hendak buka suara ketika balita dalam gendongannya bergerak-gerak gelisah, tangannya menggapai-gapai ke arah luar. Yunho kewalahan menghadapi polah si kecil. “Kau bisa mengenali Ibumu ya?” gumam Yunho tidak mampu menyembunyikan senyumnya.

“Aku dengar dari anak-anak bahwa kau sudah pulang.” Ucap Jaejoong sembari menurunkan keranjang berisi sayuran segar yang baru saja ia petik dan diberikan pada Junsu.

“Hm…” sahut Yunho sejenanya. “Wajahmu…?” Yunho melihat bekas memar di bawah mata kiri Jaejoong.

“Yah, sedikit olah raga. Untung si mulut lebar −Changmin− berhasil mencegahku memenggal kepalanya dan membawa bandit mata keranjang sialan itu ke polisi! Kau harus memastikan penjahat kelas teri itu membusuk di penjara atau aku akan mencarinya untuk mencabut nyawanya!” ucap Jaejoong sedikit mengancam.

“Kau bosnya.” Jawab Yunho sembari memberikan balita dalam gendongannya pada Jaejoong. Tanpa diminta balita tampan nan menggemaskan itu mengusap-usapkan wajahnya pada dada Jaejoong. “Hyunno –balita itu− sepertinya lapar.”

“Dia −Hyunno− sama mesumnya seperti ayahnya!” sindir Yoochun sambil melirik Yunho.

“Ah, aku lupa! Ada obat yang harus kau minum.” Yunho melemparkan sebuah kantung kulit kecil pada Yoochun yang sukses ditangkap. Semenjak insiden 5 tahun lalu, Yoochun memang tidak lagi se-fit dulu. Harus ada obat yang minimal sebulan sekali ia minum agar kondisinya tidak turun. Insiden yang menyisakan luka pada setiap mata yang mengalaminya.

“Terima kasih.” Ucap Yoochun.

“Kita harus bicara, Jae.”

“Tentu saja.” Sahut Jaejoong.

❤❤❤❤❤

Dipinggir sawah yang padinya mulai menguning, di bawah pohon rindang yang menghantarkan rasa nyaman, disela hembusan sepoi angin yang membawa kesejukan, di atas rumput hijau yang menentramkan Yunho, Jaejoong dan putra mereka −Hyunno− duduk dengan nyaman, kecuali Hyunno yang terlelap dipangkuan sang ayah.

“Hanya sebulan. Aku ingin kau menemaniku ke tanah kelahiranku, Jae. Bertemu dengan ayah dan ibu yang membesarkanku. Bagaimanapun juga Hyunno adalah cucu satu-satunya yang mereka nantikan kedatangannya.” Ucap Yunho dengan suara sedikit memelas.

“Sudah ku bilang padamu, aku tidak bisa meninggalkan Yoochun, Junsu dan keluargaku disini.” Jawab Jaejoong penuh dilemma.

“Bukankah aku sudah menjanjikan keamanan bagi mereka? Changmin dan para prajurit khusus akan menetap disini selama kita pergi.” Yunho meyakinkan. “Kumohon….”

Jaejoong menatap Yunho tanpa berkedip untuk beberapa saat lamanya. Sama seperti sebelumnya, mata indah itu selalu berhasil menghipnotis Yunho untuk terus memandanginya –selayaknya candu.

“Aku takut… bertemu dengan orang tuamu.”

“Apakah kenangan itu mengganggumu?” Yunho meremas tangan kanan Jaejoong erat.

Jaejoong menundukkan kepalanya sebentar sebelum tersenyum pada Yunho. “Memang menggangguku. Tetapi aku akan mati penasaran bila tidak bertemu mertuaku.” Ucapnya. “Kapan kita berangkat? Tetapi kau harus bersumpah padaku bahwa tempat ini harus dijaga sepeninggal kita!”

“Aku berjanji!” sahut Yunho. “Lusa kita akan berangkat. Aku akan menyiapkan kereta kuda dan bekal untuk perjalanan kita nanti.”

❤❤❤❤❤

Ada sebuah ledakan emosi yang membeludak ketika menyaksikan pemandangan langka itu. Ketika Jaejoong yang sedang menggendong Hyunno menaiki kereta kuda hingga kereta itu perlahan-lahan meninggalkan pematang. Iringan doa dan suara-suara yang meneriakkan nama mereka memenuhi pematang berlumpur itu. Yunho merasa sangat bersalah, ia seolah mencuri sebuah permata berharga dari mereka. Namun begitu dalam hati Yunho berjanji akan mengembalikan si permata kembali pada mereka dengan selamat karena bagaimana pun juga sang jenderal harus menyadari bahwa ‘istrinya’ adalah Diamond bagi orang-orang terlupakan seperti mereka….

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

 

Saturday, October 29, 2016

10:06:59 AM

NaraYuuki

3 thoughts on “Diamond from Desert Rose

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s