Pembalasan Bidadari Hitam XVIII


Tittle                : Pembalasan Bidadari Hitam XVIII

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance/ Family

Rate                 : M

Cast                 : All member DBSK and others (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan). Seiring bertambahnya Chap castnya pun akan disesuaikan.

Disclaimer:      : They are not mine but this story and Hyunno are mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut. Paragraf/ dialog yang penulisannya menggunakan Blod, Italic ataupun under line berarti itu adalah kejadian dimasa lampau (flash back) TANPA EDIT.

.

.

.

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

.

.

.

Cara memberi pelajaran Jung Yunho dan anak ingusannya yang bernama Hyunno itu hanya bisa dilakukan dengan satu cara. Melukai Jaejoong.”

Cara memberi pelajaran Jung Yunho dan anak ingusannya yang bernama Hyunno itu hanya bisa dilakukan dengan satu cara. Melukai Jaejoong.”

.

.

.

Jaejoong melilitkan sebuah syal berwarna brown pada leher jenjang Hyunno membuat pemuda itu terlihat begitu mengagumkan dengan cara yang berbeda. Menjelang musim gugur udara memang terasa kering dan dingin. Jaejoong tidak ingin putranya flu karena itu sebelum pergi ia memastikan Hyunno mempersiapkan dirinya sendiri dengan baik.

“Apa aku terlihat tampan, Umma?” tanya Hyunno. “Tentu saja lebih tampan dari Jung besar yang sedang berusaha mencuri hati Umma.” Godanya.

“Belajarnya memanggil ayahmu dengan sebutan yang lebih baik.” Ucap Jaejoong.

“Sudah ku lakukan Umma. Aku hanya suka menggodanya. Appa seperti anak kecil yang ketakutan kehilangan permennya bila bicara tentang Umma.”

Jaejoong tersenyum. “Dia menurunkan sifat itu dengan baik padamu, anakku!” dicubitnya hidung Hyunno. “Kajja, kau bisa mengajak Hyeri kencan sekarang!”

Hyunno hanya tersenyum. Ia tidak berani mengatakan pada ibunya bahwa dirinya sudah tinggal serumah dengan Hyeri. “Appa kurang menyukai Hyeri. Bahkan Yihan ahjushi terang-terangan mengutaran rasa tidak sukanya padaku.”

Dengan penuh kasih Jaejoong membelai kepala putranya, “Para orang tua itu suatu saat akan mengerti bahwa tidak selamanya kebencian dan ego mereka benar.”

“Semoga begitu…” gumam Hyunno. Mata sipitnya menatap sebuah mobil mewah berwarna hitam yang berjalan menuju halaman depan rumahnya –rumah yang ditempati oleh Jaejoong− yang Hyunno ketahui sebagai mobil ayahnya. “Jemputan Umma sudah datang. Ku rasa Beruang besar itu akan pingsan melihat betapa menawannya ibuku.”

❤❤❤

Gadis itu mondar-mandir didepan televisi yang sedang menayangkan acara komedi dengan wajah diliputi kegelisahan. Sesekali digigitinya kuku indahnya yang dilapisi oleh kutek berwarna ungu. Kakinya dihentakkan ke atas lantai ketika pemilik nomor telpon yang dihubunginya tidak kunjung menerima telponnya.

“Hyunno… ku mohon angkat telponku! Ini sangat penting.” Gumamnya. Matanya berkaca-kaca, hendak menangis. Hyeri sedang panik sekarang, ia berharap Hyunno ada disini bersamanya untuk meredakan perasaan tidak nyaman yang ia rasakan. Hyeri hanya berharap semuanya akan baik-baik saja. Hyeri tidak akan sanggup kehilangan Hyunno demi alasan apapun, tidak setelah apa yang mereka miliki sekarang.

❤❤❤

Jaejoong berdiri di depan pintu rumah makan itu cukup lama. Mengatasi sesak dalam dadanya ketika teringat masa kecilnya dulu dimana dirinya, sang ayah dan ibunya sering menghabiskan sore mereka di kedai yang tidak lebih luas daripada rumahnya. Ada lesakan rasa sedih dan haru yang mencoba keluar melalui sudut-sudut matanya hingga pada akhirnya sebuah usapan lembut dibahunya membawanya kembali dari masa lalu.

“Kita bisa mendatangi tempat lain bila kau mau.”

“Tidak. Tidak… aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.” Perlahan Jaejoong berjalan mendekati daun pintu, mendorongnya perlahan-lahan. Untuk beberapa saat berdiri membatu sembari menghirup aroma khas yang ada di rumah makan keluarga itu, menikmati sensasi kerinduan yang dengan kejamnya menusuk-nusuk kenangan yang sudah ia kubur dalam-dalam.

Yunho yang sejak tadi berada disamping Jaejoong membimbing ibu Hyunno itu untuk duduk disalah satu kursi yang masih kosong. Menanti hingga Jaejoong merasa tenang untuk memilih makanan dalam list menu. “Aku tahu rumah makan yang suasananya seperti disini, Jae.”

“Tidak. Tidak… aku tetap ingin makan disini.” Meraih list menu yang memang selalu berada di atas meja, Jaejoong mulai membaca dengan teliti menu apa yang akan dipilihnya sebagai makan malam. “Kau ingin apa, Yun?”

“Pilihkan untukku!” pinta Yunho.

“Bagaimana bila sup kimchi, daging kecap dan nasi goreng kimchi?”

“Tentu saja….” Yunho tersenyum tulus. “Terima kasih…”

“Hm?”

“Terima kasih karena mau memberiku kesempatan untuk menebus kesalahanku.”

“Gunakanlah dengan baik kalau begitu.”

❤❤❤

“Apa yang membuatmu gelisah?” tanya Hyunno. Makan malam ini terasa aneh baginya. Gadis dihadapannya yang biasanya selalu berceloteh ceria itu terlihat agak berbeda. Wajahnya terlihat sedikit pucat seolah-olah sedang mencemaskan sesuatu. “Tidak enak badan? Perlu ke dokter?”

Hyeri menggelengkan kepalanya perlahan, mamaksakan sebuah senyuman tersungging dibibirnya. “Aniyo. Gwaechana….”

“Kau tidak suka makanannya? Mau aku pesankan dari restoran Cina dekat sini? Atau pizza?” tanya Hyunno lagi. Sepertinya putra Jung Yunho itu benar-benar mengkhawatirkan keadaan Hyeri.

Hyeri tersenyum, kali ini bukan senyum yang terkesan dipaksakan melainkan senyum tulus namun menyimpan sebuah kesedihan tidak terungkap. “Berjanjilah untuk selalu percaya padaku apapun yang terjadi!” dengan sedikit gemetar Hyeri menggenggan erat jemari Hyunno yang berada di atas meja. Gadis manis itu seperti seorang buronan yang ketakutan –takut pada sesuatu yang tidak ingin ia percayai.

“Mau ku seduhkan teh herbal? Atau air madu?”

Hyeri menggelengkan kepalanya, entah kenapa lidahnya terasa sangat kelu. Banyak hal yang ingin ia katakan pada Hyunno namun rasa-rasanya ada sebuah batu yang mengganjal ditenggorokannya sehingga semua kata-kata yang ingin ia lontarkan tidak bisa keluar dari mulutnya. “Malam ini saja berikan waktumu sampai pagi nanti untukku.” Pinta Hyeri. Wajahnya terlihat sendu.

“Aku akan memanggil dokter untuk memeriksamu. Wajahmu terlihat sangat pucat, aku takut kau sakit.” Ucap Hyunno.

“Aku tidak apa-apa, sungguh.” Ucap Hyeri berusaha meyakinkan. “Hanya sedikit lelah setelah tadi siang jalan-jalan di mall. Sudah lama aku tidak olah raga, ku rasa akhir pekan nanti kita harus jogging bersama.” Ajaknya, berusaha mengalihkan topik pembicaraan sebelumnya agar Hyunno tidak terus menghawatirkannya.

Jogging?”

“Ya.”

“Oke….”

“A…” Hyeri hendak buka suara ketika dering handphone Hyunno berteriak-teriak dengan lantang, tanda sebuah telpon masuk.

Umma?” gumam Hyunno, sedikit heran mengingat ibunya jarang menghubunginya dijam-jam seperti ini. Terlebih setahunya sang ibu sedang berkencan dengan ayahnya. “Bukankah seharusnya Umma dan Appa sedang berkencan?”

“Siapa tahu acaranya ditunda.” Hyeri berpendapat.

“Mungkin…” Hyunno kemudian segera menerima telpon itu sambil berdiri dan sedikit menjauh dari meja makan. “Umm…”

“Ada apa?” tanya Hyeri yang menyadari perubahan ekspresi yang Hyunno tunjukkan.

Tlak!

Handphone yang semula menempel pada telinga kanan Hyunno dengan sukses hancur membentur lantai. Wajah pemuda tampan itu pucat seketika, tubuhnya terlihat gemetar dan membatu. Untuk sesaat jiwa Hyunno seolah meninggalkan raganya. Dengan kondisi linglung Hyunno segera melesat pergi, sekuat tenaga tanpa lupa menyambar kunci mobilnya yang kebetulan tergeletak di atas meja.

Hyeri yang melihat gelagat aneh Hyunno segera mengikuti langkah pemuda yang sangat dicintainya itu. “Ada apa? Apa yang terjadi?”

“Harus… segera… ke rumah sakit….” Gumam Hyunno sambil terus berjalan cepat meninggalkan unitnya. Air mata mulai menetes membasahi pipinya.

“Hyunno?!”

“Tetaplah di rumah! Aku akan segera mengabarimu.” Janji Hyunno yang langsung menaiki lift. Dan beruntungnya ia karena saat itu lift sedang kosong sehingga bisa langsung menuju lantai dasar tanpa harus berhenti disetiap lantai.

Hyeri berdiri mematung memandang lift yang sudah tertutup rapat. Jemari tangan kanannya meraba dadanya sendiri, disitu ada rasa nyeri sangat hebat yang menyerangnya. Hyeri berusaha menahannya namun isakan itu lolos dari bibirnya yang sebelumnya terkatup rapat. Gadis itu segera berlari kembali menuju unit Hyunno sebelum orang-orang bertanya macam-macam padanya.

❤❤❤

Sementara Hyunno memacu mobilnya dengan kecepatan sangat ngebut, beberapa kali Hyunno bahkan nyaris menabark pengendara sepeda dan pengendara mobil lainnya. Pikirannya kalut, hatinya tidak tentram. Hyunno bersumpah akan menembakkan peluru pada orang yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi kepada ibunya sekarang. Masih terdengar jelas dengung suara sang ibu yang terisak putus asa penuh ketakutan, menceritakan serangkaian peristiwa yang manamembuat separuh jiwa Hyunno seolah tercabut paksa dari raganya.

Tanpa memedulikan laju lalu lintas disekitarnya, dengan kecepatan sama tingginya Hyunno menikung memasuki pelataran sebuah gedung rumah sakit. Membuka pintu mobil dengan tergesa –lalu membantingnya− sebelum berlari kesetanan menuju mejainformasi, bertanya tentang pasien yang baru saja masuk kemudian melanjutkan larinya dengan kebingungan dan panik. Beberapa kali Hyunno diteriaki oleh suster dan cleaning service yang sedang bersih-bersih dikoridor, Hyunno tidak peduli –tidak mau peduli− diotaknya hanya ibunya. Ibunya yang ketakutan seorang diri. Langkahnya melemah ketika di depan sana ia melihat ibunya –yang bajunya berlumuran darah− tengah dipeluk oleh sang paman, Changmin.

Melihat kedatangan putra semata wayangnya, Jaejoong segera melepas pelukan Changmin dan menghambur memeluk Hyunno, menangis tersedu seolah menemukan sandaran yang akan lebih menguatkan dirinya.

Hyunno menatap Changmin dengan sepasang mata musang terluka.

“Ayahmu masih berada di ruang operasi.” Ucap Changmin hati-hati. “Dokter masih berusaha mengeluarkan peluru yang bersarang nyaris didekat jantungnya.”

Masih dalam keadaan dipeluk sang ibu, Hyunno lunglai. Jatuh ke lantai. Pemuda tampan itu meraung histeris menumpahkan kesedihan, ketakutan dan dendam yang kian berkobar dalam jiwanya.

❤❤❤

“Kata Appa, dulu tempat ini adalah saksi ketika Appa mengutarakan perasaannya pada Umma ketika mereka masih SMA. Di tempat ini pulalah Appa melamar Umma. Di tempat ini Umma memberitahu Appa untuk pertama kalinya bahwa mereka akan segera menjadi orang tua.” Ucap Jaejoong. Yunho menyimaknya dengan baik. “Tentu saja dulu bangunannya tidak sebesar sekarang.”

“Tempat yang sangat penuh kenangan untukmu?”

Makan malam penuh kesederhanaan itu berlangsung sangat menyenangkan, penuh kehangatan dan kesedihan dalam waktu bersamaan. Yunho senang melihat senyum terkembang diwajah menawan Jaejoong pun sebaliknya, Jaejoong merasa hatinya ringan dan damai ketika menceritakan soal orang tuanya dan bagaimana dulu dirinya dan sang ayah merawat Hyunno dibawah garis kemiskinan. Terlalu larut mengenang masa lalu membuat keduanya tidak memedulikan pelanggan yang keluar masuk pintu rumah makan, termasuk tiga orang berjas yang berjalan menghampiri mereka.

Yunho merogoh sesuatu dari dalam saku jasnya, menyodorkannya pada Jaejoong yang menatap bingung kotak berwarna maroon dan Yunho secara bergantian.

“Menikahlah denganku, Jae!” pinta Yunho. “Aku sudah terlalu tua untuk melontarkan kata-kata rayuan padamu. Aku hanya ingin hidup bersamamu, melindungi dan menjagamu dari kesakitan yang pernah kau rasakan dulu karenaku.”

“Yun…”

Mata Yunho terbelalak ketika salah satu dari orang berjas itu mengarahkan moncong pistolnya ke arah Jaejoong. Dengan kalap Yunho menyentak meja hingga terlempar ke samping membuat pengunjung laninnya kaget dan panik. Yunho lantas menarik Jaejoong dan memeluknya bersaman dengan suara letupan pistol dan jeritan para pengunjung lain serta pegawai rumah makan itu. Suara kursi terpelanting dan sesuatu yang pecah memenuhi rumah makan itu sebelum hening sesaat. Lalu tiba-tiba sangat ramai. Orang-orang berhamburan keluar, berteriak-teriak meminta tolong, ada pula yang berinisiatif segera menelepon polisi untuk melaporkan kejadian yang baru saja terjadi.

Jaejoong yang sebelumnya serasa pingsan karena disergap ketakutan membuka matanya perlahan-lahan. Tubuhnya terasa berat, tubuhnya ditindih oleh sosok yang sangat ia kenali, seekor beruang besar.

“Yun.” Jaejoong mengguncang-guncangkan tubuh Yunho, “Jung Yunho!” perlahan-lahan Jaejoong menggeser tubuh Yunho dari atas tubuhnya. Tidak ada perlawanan, tubuh Yunho jatuh begitu saja membentur lantai. Jaejoong terbelalak ketika menyadari baju yang ia kenakan basah oleh sesuatu berwarna merah pekat berbau karat, lebih terbelalak lagi ketika melihat jas Yunho berlubang pada bagian punggung sebelah kiri, dari lubang itu merembes cairan yang Jaejoong kenal sebagai darah. Jaejoong menjerit histeris, berteriak meminta tolong.

❤❤❤

Jung Woo Sung, Jung Jessica, Ahra, Changmin, bahkan Yoochun dan Junsu dengan wajah keruh berdiri dan duduk dengan gelisah didepan salah satu ruangan VVIP rumah sakit. Disekitar mereka beberapa orang berjas −bodyguard− dan satpam rumah sakit terlihat bersiaga penuh untuk mengantisipasi teroris kalau bisa dikatakan seperti itu mengingat betapa berlebihannya keamanan disekitar ruang rawat Jung Yunho. Setelah hampir 4 jam operasi pengangkatan peluru yang bersarang nyaris dijantungnya itu, Yunho dinyatakan koma oleh pihak rumah sakit.

Blam!

Suara pintu tertutup mengagetkan semua orang yang ada di sana. Sosok Hyunno bagaikan seekor anak rumah yang berada dalam pesakitan, kesedihan dan rasa putus asa tergambar jelas pada raut wajahnya yang pucat dan sembab. Sejak Yunho keluar dari ruang operasi, Hyunno memang menemani ibunya di dalam menjaga Yunho.

“Hyu…” Junsu ingin sekali memeluk Hyunno namun Yoochun mencegahnya. Hyunno yang sekarang tidak sama dengan Hyunno tadi pagi. Hyunno yang sekarang terlihat penuh duka, luka, putus asa dan diselimuti oleh dendam. Jessicalah yang pada akhirnya menghambur dan memeluk keponakan semata wayangnya itu erat, menangis keras didada bidang putra kembarannya –Yunho.

Sedikit kasar Hyunno melepaskan pelukan Jessica.

“Hyunno….” Kali ini Woo Sung yang bersuara.

“Dia harus membayar setiap tetes air mata yang mengalir dari mata Umma! Dia harus membayar setiap tetes darah yang mengalir dari dalam diri Appaku!” Hyunno menatap tajam kakeknya sendiri dengan tatapan terluka, sedih dan terpuruk namun dendam sudah lebih berkuasa atas mata sayu itu. Hyunno kemudian berjalan pergi tanpa mangatakan apa-apa.

“Oh, anak yang malang!” Ahra menangis sembari memeluk lengan suaminya.

“Changmin, ikuti Hyunno! Jangan biarkan anak itu bertindak gegabah! Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri bila Joongie harus kehilangan putranya.” Ucap Woo Sung dingin namun matanya melukiskan banyak hal.

Tanpa diperintah 2 kali, Changmin segera mengajak beberapa orang untuk mengikuti Hyunno.

“Ku rasa aku perlu bantuanmu untuk menutup mulut wartawan yang haus akan berita picisan, Yoochun!” ucap Woo Sung lagi. “Sebisa mungkin bungkam mulut mereka tentang insiden ini!”

Yoochun mengangguk singkat, menepuk lengan Junsu untuk ikut bersamanya.

“Titip Joongie.” Pinta Junsu sebelum mensejajari langkah Yoochun.

Appa?” Jessica menatap ayahnya dengan mata sembabnya.

“Aku sendiri yang akan turun tangan menangani masalah ini!” ucap Woo Sung.

Yeobo….”

❤❤❤

“Yun… bukalah matamu.” Isak Jaejoong. “Akan ku pertimbangkan untuk hidup bersamamu jika kau bangun nanti. Segeralah bangun….” Jemari pucat itu menggenggam erat jemari lemas Yunho seiring kadiograf yang terus bernyanyi dengan lancangnya.

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

TBC

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

Thursday, October 20, 2016

9:46:50 AM

NaraYuuki

5 thoughts on “Pembalasan Bidadari Hitam XVIII

  1. Aaaa…. Akhr na yuuki muncul jg. Kangen nch sm crita na yuuki. Yuuki kemn aj, sehat kah? Ap lgi sibuk dgn dunia real?? Smg sehat trs ya yuuki n ttp smngt yaa…. 😄😄😄😄

  2. tidakkkkkk appa bear napa pake koma…..belum bikin adik buat hyunno #plak…..kayaknya hyeri tau dech siapa dalang nya???? w pikir hyeri hamil apa jngan2 hamil #TIDAKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKK……★★★★

  3. Ya ampun YiHan nekat,😎😎😎😎😎
    Keluarga Jung tidak akan terima apabila terjadi apa2 dengan Beruang Madu😈😈😈😈😈Astaga Beruang Junior mulai ngamuk👿👿👿👿👿👿

  4. Akhirrrnyaaa yuuki combek yeahh!!!
    Hyeri hamil ya?? Kasian dia klo hamil bneran saat Hyunno dlm dendam yg makin besar.
    Semoga yun cepet sadar. Jangan biarjn hyunno dlm bahaya Appa.
    Menanti lanjutannya
    Semanga yuuki!! Sehat selalu yaaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s