Pembalasan Bidadari Hitam XVI


Tittle                : Pembalasan Bidadari Hitam XVI

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance/ Family/ Friendship

Rate                 : -M

Cast                 : All member DBSK and others (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan). Seiring bertambahnya Chap castnya pun akan disesuaikan.

Disclaimer:      : They are not mine but this story, Jung Hyunno, Jin Hyeri  & OOC yang lain are mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut. Paragraf/ dialog yang penulisannya menggunakan Blod, Italic ataupun under line berarti itu adalah kejadian dimasa lampau (flash back) TANPA EDIT.

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

Jaejoong yang merasa Yunho mulai bicara ngelantur tanpa segan menginjak kaki Yunho dan berjalan mendahuli ayah Hyunno yang sedang mengaduh kesakitan itu.

Jaejoong yang merasa Yunho mulai bicara ngelantur tanpa segan menginjak kaki Yunho dan berjalan mendahuli ayah Hyunno yang sedang mengaduh kesakitan itu.

“Gadis itu minggat dari rumah dan Hyunno menampungnya?” tanya Yunho pada Changmin yang baru saja memberitahunya perihal yang terjadi pada Hyeri dan ayahnya –Yihan dan bagaimana Hyunno dengan suka rela menampung Hyeri di apartement pemberian kakeknya –Jung Woo Sung.

“Soal ini sebaiknya jangan sampai Jaejoong hyung tahu dulu, Hyung.” Pesan Changmin. “Aku tidak tahu apa yang Hyunno rencanakan, ini diluar pembicaraan yang pernah kami lakukan dulu mengenai Hyunno yang akan mendekati Hyeri untuk menuntut balas pada Jin Yihan. Tetapi sepertinya Hyunno mulai kehilangan arah. Bisa saja keponakanku itu jatuh hati pada Hyeri.”

Yunho memijit pelipisnya yang berkedut sakit. Menjadi seorang ayah tidaklah mudah, Yunho baru tahu hal itu. Anaknya hanya –baru satu tetapi sudah membuat ulah seperti ini. “Dengar! Rahasiakan ini dari tua Bangka Jung dan Jessica. Kapan mereka pulang?”

“Entahlah, Hyung. Ku dengar Appa mulai dipusingkan oleh Jessica Nunna gara-gara ia mulai berkencan dengan salah seorang pengusaha berumur di Hongkong.” Jawab Changmin.

“Apa kau tahu kabar mengenai Yoochun dan Junsu? Mereka bagai ditelan bumi.”

“Mereka sibuk dengan pabrik pengolahan ikan yang ada di Busan. Terakhir ku dengar mereka memenangkan tender sebagai pemasok produk yang akan diekspor ke Jepang dan Negara asia Barat lainnya.”

Yunho menganggukan kepalanya perlahan.

Hyung… aku mendapat informasi dari orang yang bisa dipercaya bahwa Jin Yihan mulai mencari orang yang mau bekerja sebagai pembunuh bayaran. Tetapi aku belum tahu siapa yang diincarnya.”

Yunho menatap serius wajah Changmin yang perlahan mengeruh. “Kau tahu siapa? Tentu saja Hyunno! Si brengsek itu mengincar anakku! Bedebah sialan!” umpat Yunho. “Dengar! Perintahkan orang-orang kita untuk 24 jam berada didekat Hyunno! Jika ada orang mencurigakan mendekatinya, lakukan tindakan yang diperlukan tetapi jangan sampai membunuhnya!”

“Aku sudah melakukannya tanpa Hyung minta karena aku tahu resiko yang dihadapi Hyunno begitu terjun dalam dunia orang dewasa yang penuh kebusukkan ini.” Ucap Changmin. “Aku takut bila yang menjadi incarannya adalah Jaejoong hyung mengingat saat ini Yoochun dan Junsu sedang tidak berada didekatnya.”

“Jauh-jauh hari aku sudah memerintahkan orang-orangku untuk mengawasi Jaejoong tanpa merusak kenyamanannya.” Yunho menatap Changmin. “Dengar! Hyunno lebih percaya padamu daripada aku karena itu kau harus menasihatinya agar jangan sampai terlibat terlalu jauh dengan anak si Jin itu! Aku tidak mau dia menyesal nantinya.”

❤❤❤

Malam itu Hyunno membiarkan gadis manis itu terlelap di atas pangkuannya sambil memeluk perutnya erat. Hyunno sedang memikirkan sesuatu, mata bulat indahnya yang terbingkai kelopak mata setajam dan serupa milik Yunho itu menatap jejak air mata yang membekas diatas permukaan pipi Hyeri. Hyunno menyibakkan rambut kusut gadis itu, mengamati wajah damainya dalam keheningan yang aneh.

Membuat Hyeri bergantung padanya merupakan cara terbaik untuk mengikat gadis itu agar berpihak padanya. Hyunno mulai menyusun siasat busuk lagi brengsek yang bisa ia gunakan sebagai senjata untuk membalas dendam pada Jin Yihan yang merupakan ayah Hyeri. Sejujurnya Hyunno tidak membenci Hyeri tetapi dengan sangat terpaksa ia harus memanfaatkan perasaan gadis itu yang terlampau mencintai dan percaya padanya.

Perlahan Hyunno mengusap-usap permukaan pipi Hyeri, membuat gadis manis itu membuka matanya yang sembab. Bibirnya merengut kesal karena tidurnya diganggu. “Tidur disofa akan membuat badanmu pegal esok hari. Pindahlah ke kamar tidur.”

“Tidak mau….” Jawab Hyeri dengan suara serak.

“Selesai mengecek laporan dan proposal yang dikirim oleh Changmin ahjushi melalui email tadi sore, aku akan langsung menyusulmu.” Ucap Hyunno.

“Janji?” tanya Hyeri.

Hyunno mengangguk pelan.

Hyeri bangun dari tidurnya, menyeret langkah kakinya menuju kamar Hyunno –yang entah sejak kapan menjadi kamarnya juga. Hyunno hanya mengawasinya dalam diam.

❤❤❤

“Aku senang kau menelponku pagi-pagi buta walaupun hanya untuk menyuruhku mengantarmu membeli ubi manis dipasar.” Ucap Yunho ketika berjalan mengekori Jaejoong yang sedang memilih-milih ubi manis, banyak penjual ubi berjajar tetapi ketika Jaejoong berbelanja ia akan memilih kualitas terbaik.

“Semalam aku bermimpi Hyunno minta kue yang terbuat dari ubi manis.” Jawab Jaejoong. Matanya fokus meneliti deretan ubi-ubi manis yang bejajar rapi disepanjang jalan yang dilaluinya.

Yunho diam saja. Toh dirinya cukup senang mengingat ini kali pertama Jaejoong menelpon dirinya terlebih dahulu walaupun hanya untuk dijadikan supir saja.

“Apa yang sedang terjadi sebenarnya?” tanya Jaejoong, kakinya melangkah berbelok ketika ia melihat seorang penjual ubi manis dengan ukuran sedang –tidak terlalu besar tidak pula terlalu kecil.

“Apa maksudmu?” tanya Yunho balik.

Jaejoong tersenyum pada si penjual, “Ahjumma, aku ingin membeli 3 kilo ubi manismu. Bolehkah aku memilihnya sendiri?”

“Tentu saja Agashi.” Jawab si penjual.

Jaejoong tidak berkomentar, jemarinya terjulur untuk mencubit pinggang Yunho yang berusaha menahan tawanya. Kemudian Jaejoong mulai memilih ubi yang hendak dibelinya. “Aku tahu kalau kau menyuruh orang untuk mengawasiku. Kenapa?”

Yunho mengambil sebuah ubi dan diperlihatkan pada Jaejoong.

“Itu kurang bagus. Rasanya kurang manis.” Komentar Jaejoong.

“Ada informasi bahwa Jin Yihan menyewa pembunuh bayaran. Aku hanya berjaga-jaga saja, bersikap waspada. Bukan hanya kau, aku pun menyuruh orang untuk mengawasi Hyunno. Aku tidak mau sesuatu hal buruk menimpa kalian berdua.”

“Kenapa? Bukankah semuanya sudah selesai? Apa kematian orang tuaku dan orang tuanya belum cukup?” tanya Jaejoong yang sibuk memasukkan ubi pilihannya ke dalam kantung plastik.

“Tidak sesederhana itu. Sama seperti Hyunno yang tidak terima pada apa yang terjadi dengan keluarga kalian dan ingin menuntut balas, Yihan pun mungkin saja berpikiran seperti itu. Terlebih sekarang putrinya sedang dekat dengan Hyunno.” Komentar Yunho. “Lagi pula kebencian dan dendam tidak mudah untuk dihapuskan meskipun mulut sudah mengatakan maaf tetapi hati belum tentu bisa memaafkan.”

Jaejoong melirik Yunho sekilas sebelum menyerahkan kantung plastik berisi ubi-ubi pilihannya untuk ditimbang oleh si penjual. “Akan banyak pihak yang terluka karena dendam.”

“Kau paling mengerti soal itu.” Yunho menampik tangan Jaejoong yang mengulurkan uang pada si penjual. “Biar aku saja.” Ucapnya sambil mengeluarkan dompet, mengambil uang untuk dibayarkan pada bibi penjual.

“Kau tidak harus melakukannya.” Jaejoong tersenyum pada si penjual sebelum berjalan pergi meninggalkan kiosnya.

“Sebuah keharusan dan kewajiban bila diperuntukkan untuk anakku dan kau.” Sahut Yunho. Matanya menatap garang pada ahjushi-ahjushi pengangkut barang yang mencuri-curi pandang pada Jaejoong. “Haruskah aku membungkusmu dengan plastik atau kardus agar orang-orang pasar ini tidak menatap lapar padamu?” ketusnya.

Jaejoong tidak menyahut, hanya melirik malas pada Yunho. “Aku butuh telur.”

“Kenapa tidak beli di supermarket saja?” tanya Yunho mulai tidak sabar.

“Walaupun aku berbelanja di supermarket, kau pasti akan bersikap seperi ini ketika ada orang yang menatapku.” Komentar Jaejoong santai.

“Aku tidak suka melihatnya!”

“Mereka punya mata, Jung Yunho! Jangan berlebihan!”

“Kalau begitu biarkan aku mencongkel mata mereka agar mereka tidak bisa menatapmu seperti itu! Awas saja kalau otak mereka membayangkan yang tidak-tidak!” geram Yunho, “Pria tua seperti mereka biasanya memiliki kadar kemesuman yang tinggi.”

“Kau pun mesum! Dan ingatlah bahwa kau sendiri pun sudah tua!”

“Aku masih cukup muda untuk memberikan adik pada Hyunno.” Gurau Yunho.

Jaejoong yang merasa Yunho mulai bicara ngelantur tanpa segan menginjak kaki Yunho dan berjalan mendahuli ayah Hyunno yang sedang mengaduh kesakitan itu.

❤❤❤

“Kau… semakin hari semakin mirip dengan ayahmu.” Komentar Yihan sambil meminum kopinya.

Hyunno yang siang itu sengaja mengajak Yihan bertemu disebuah rumah makan hanya tersenyum tipis sembari menyeruput jus pesanannya sambil memakan kue coklat. “Banyak yang bilang seperti itu, Ahjushi. Tetapi aku mengajak Ahjushi bertemu bukan karena ingin membicarakan hal itu. Mengenai Hyeri…” Hyunno memberikan jeda untuk melihat reaksi yang Yihan perlihatkan. Tersenyum puas ketika wajah sahabat –musuh ayahnya itu memasang wajah tegang. “Hyeri kemarin menemuiku sambil menangis, Ahjushi. Dia datang ke rumahku tanpa alas kaki ataupun baju hangat. Dia belum bercerita alasannya pergi dari rumah tetapi aku menduga mungkin Hyeri minggat karena bertengkar dengan Ahjushi.”

Yihan mengamati wajah tenang Hyunno –yang kelewat tenang untuk anak remaja seusianya. “Hyeri ke rumahmu? Dia menginap di rumahmu?” tanya Yihan.

“Bukan rumah yang dulu ku tinggali dengan ibuku, Ahjushi. Aku sudah pindah ke sebuah apartement pemberian kakekku.” Jawab Hyunno.

“Kau tinggal sendiri?”

“Sejak kemarin tidak lagi sendiri karena Hyeri tinggal bersamaku.”

Rahang Yihan mengeras. “Kalian tinggal berdua?”

“Tidak juga.” Jawab Hyunno. “Aku hanya menampung Hyeri untuk sementara sampai ia mau pulang lagi ke rumah. Aku sudah berusaha menasihatinya untuk pulang tapi dia tidak mau. Aku tidak tahu alasannya apa dan kenapa dia minggat dari rumah sehingga aku kesulitan menemukan alasan untuk membujuknya. Karena itu aku mengajak Ahjushi bertemu. Mungkin Ahjushi mau mengatakan padaku alasan Hyeri minggat dari rumah.”

“Aku melihat sosok berbahaya Yunho muda dalam dirimu, Nak.” Ucap Yihan tajam penuh penekanan. “Sejujurnya aku tidak suka anakku bergaul denganmu. Kami sedikit bertengkar hingga dia minggat dari rumah. Aku tidak menyangka dia justru datang menemuimu dan kalian tinggal bersama?”

Hyunno tersenyum ketika melihat wajah Yihan mulai memerah, amarah mulai menguasai pria dewasa itu. Hyunno senang bisa bermain-main dengannya. Memotong kue coklatnya dengan sendok kemudian memakannya dengan perlahan. Hyunno suka melihat ekspresi tegang yang musuhnya perlihatkan. “Hyeri gadis baik. Tidak mungkin aku tidak membantunya saat ia dalam kesulitan.”

“Berikan alamatmu! Aku akan menjemputnya hari ini juga!”

“Tidak sesederhana itu, Ahjushi. Kalau Ahjushi menjemputnya paksa tidak ada jaminan Hyeri tidak akan kabur lagi.” Ucap Hyunno. “Biarkan untuk sementara ia tinggal bersamaku, aku akan terus membujuknya untuk pulang.”

Yihan mendengus kesal.

“Maafkan aku, Ahjushi. Aku harus segera pergi. Ibuku hari ini ingin bertemu denganku. Permisi….” Sekali lagi Hyunno tersenyum, senyum mengejek sebelum meninggalkan Yihan yang masih memasang wajah masamnya.

❤❤❤

Hyunno sedikit terkejut ketika melihat Hyeri berada di ruang makan rumahnya –rumah yang ia tinggali bersama ibunya sebelum memutuskan pindah ke apartement. Changmin dan Yunho pun ada disana, tengah duduk manis sambil membicarakan Jessica ahjummanya. Hyunno tersenyum bahagia ketika melihat ibunya terlihat sehat dan bahagia. Sosok yang paling dicintainya itu sedang menyiapkan makanan.

“Kemarilah! Ibumu sudah menyiapkan kue untukmu.” Ucap Yunho.

Hyunno berjalan mendekati meja makan. “Kau kemari?” tanyanya pada Hyeri.

“Aku datang ketika Joongie umma sedang membuat kue dari ubi manis. Sekalian aku belajar memasak.” Jawab Hyeri.

❤❤❤

Yihan meletakkan sebuah amplop tebal di atas meja dengan sedikit gusar. “Apapun caranya, singkirkan orang itu! Lenyapkan dia dari muka bumi ini! Dan ingat, jangan sampai meninggalkan jejak!”

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

Wednesday, March 16, 2016

10:36:21 AM

Narayuuki

2 thoughts on “Pembalasan Bidadari Hitam XVI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s