Sekuel Vengeance III (END)


Tittle                : Sekuel Vengeance III (END)

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance? Familly? Friendship? A Little bit Angst?

Rate                 : T+

Cast                             : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Park Yoochun, Han Youngwoong & Jung Jessica

Disclaimer:      : They are not mine but this story, OOC Hyunno & Hyunbin are mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran. Tanpa Edit jadi mungkin sedikit amburadul ==” Penceritaan ngebut. Saran dan masukkan diterima. Tidak menerima Bash dan Flamer dalam bentuk apapun!

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

PASTIKAN BACA WARNINGNYA!

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

“Aku sedikit terkejut ketika sekertarisku mengatakan kau ingin bertemu denganku.” Ucap Yunho yang baru datang. Direktur muda itu segera mendudukkan dirinya di atas kursi di hadapan sosok cantik yang terlihat sedang kebingungan itu.

Jessica meraih gelas air esnya, meminumnya beberapa teguk sebelum menatap mata sahabatnya semasa SMA dulu. “Kau tidak mau memesan sesuatu?” tanyanya.

“Aku kurang suka makanan di kantin kantorku sendiri.” Ucap Yunho.

Jessica mengangguk paham. “Aku akan mengatakan sebuah rahasia besar padamu. Bisakah aku percaya padamu? Bisakah kau menjaga rahasia ini untukku?”

Wajah Yunho berubah menjadi serius. “Rahasia?”

Jessica menghela napas panjang untuk mengusir kegugupannya. Meraih gelas berisi air esnya dan meneguknya sekali lagi. “Kau harus berjanji untuk tetap merahasiakannya!”

“Kau kelihatan sedikit kacau…” ucap Yunho. “Mau ku pesankan air minum lagi?”

“Tidak. Terima kasih.” Tolak Jessica. “Ketika aku masih di Amerika dan bertemu dengan Jaejoongie… aku jatuh cinta padanya. Aku menyatakan perasaanku padanya. Pada saat itu Jaejoongie mengatakan hal yang membuatku sangat syock…” Jessica menelan ludahnya susah payah.

“Apa yang ia katakan padamu?” tanya Yunho, entah mengapa ia menjadi gugup. Perasaannya menjadi tidak nyaman.

“Ia mengatakan…”

❤❤❤

“Apa kau bisa menerima masa laluku? Dimalam kelulusanku aku tidur dengan temanku.”

“Itu… kalau hal seperti itu aku bisa menerimanya. Aku besar di Amerika, hal seperti itu wajar disini.” Ucap Jessica.

Jaejoong menatap Jessica lekat-lekat. “Temanku itu namja.”

Jessica bungkam.

“Temanku seorang namja. Namja yang begitu dicintai almarhum adik kembarku. Namja yang ingin ku benci tetapi aku tidak bisa membencinya karena adikku begitu mencintainya.”

Jessica tidak mengatakan apa-apa. Sibuk dengan pikirannya yang kusut dan buntu.

“Dari hubungan semalam itu aku melahirkan sepasang anak kembar.” Jaejoong tersenyum hangat. “Masihkah kau bisa menerima masa laluku yang seperti itu?”

Jessica menatap wajah yang sangat dikaguminya itu lekat-lekat. “Kenapa… kenapa kau tidak mengugurkannya?”

“Tidak. Manusia –bayi adalah mahluk yang suci. Mereka tidak bersalah. Akulah yang bersalah. Akan ku tanggung semua tanggung jawab yang memang harus ku pikul.” Ucap Jaejoong. “Kalau kau jijik padaku karena masa laluku maka akan ku terima itu. Kalau kau bisa menerima masa laluku dan tetap ingin bersamaku, maka aku akan mencoba menjalin hubungan yang serius denganmu.”

❤❤❤

Yunho diam seribu bahasa usai mendengarkan penjelasan Jessica.

“Aku bohong soal kematian orang tua Jaejoongie –kecuali kematian ayahnya yang memang terinfeksi virus usai memeriksa pasiennya itu benar. Ibunya terkena serangan jantung saat sedang membuat kue pesanan pelanggannya. Si kembar Hyunno dan Hyunbin… akta kelahiran mereka didaftarkan sebagai anak dari orang tua Jaejoongie, adik Jaejoongie. Mereka tidak tahu kenyataan ini dan biarlah seperti itu sampai mereka dewasa.” Ucap Jessica. Matanya lekat menatap wajah Yunho yang terlihat sangat keruh. “Teman yang tidur dimalam kelulusan Jaejoongie adalah kau… iya kan Yunho?”

“Ya….” Ucap Yunho tanpa menatap wajah Jessica. Pikirannya melayang kemana-mana.

“Sejujurnya aku tidak mempermasalahkan soal itu. Hanya saja melihatmu masih berusaha mendekati tunanganku membuatku sedikit was-was.”

Yunho menatap mata Jessica. Ada kesedihan dan kekhawatiran didalam bola mata coklat bening itu.

“Kemarin aku melihatmu mencium paksa tunanganku –walaupun ia berhasil membuat wajahmu memar seperti itu tetapi rasanya hatiku tetap tidak rela melihatnya. Kim Jaejoong adalah tunanganku. Sebulan lagi kami akan menikah. Demi persahabatan kita dimasa lalu aku mohon padamu untuk tidak mengusik hidup tunanganku lagi!”

“Sica aku….”

“Mari anggap kejadian kemarin tidak pernah terjadi.” Jessica tersenyum, bangkit dari duduknya. “Aku harus segera pergi mengurus undangan pernikahan kami. Aku masih ada janji dengan pihak percetakan. Lain kali aku akan mentlaktirmu makan siang. Sampai jumpa.”

Hati Yunho terasa sakit dan nyeri melihat senyum Jessica. Senyum yang terlihat ceria namun menyemat luka dan ketakutan.

❤❤❤

Dulu dengan Youngwoong, Yunho nyaris memiliki seorang anak jikalau adik kembar Jaejoong itu tidak memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Yunho sudah berniat bertanggung jawab meskipun ia sama sekali tidak menyukai Youngwoong. Lain halnya dengan Jaejoong. Sejak semula Yunho memberikan perasaan khusus pada Jaejoong sehingga ketika ia mengetahui kenyataan bahwa adik-adik Jaejoong yang bernama Kim Hyunno dan Kim Hyunbin adalah darah dagingnya sendiri Yunho merasa bingung. Bingung pada apa yang harus dilakukannya. Kenyataan bahwa Jaejoong akan menikahi Jessica sebulan lagi sudah nyaris mencekik leher Yunho, belum lagi perasaan bersalah yang menggrogoti hati Yunho dikarenakan membiarkan Jaejoong membesarkan anak-anaknya –anak mereka seorang diri sepeninggal orang tuanya. Yunho tidak bisa membiarkan Jaejoong menikahi Jessica namun ia sendiri tidak tahu harus berbuat apa untuk menggagalkan rencana pernikahan itu. Haruskah ia menculik Jaejoong dan membawanya kabur? Atau haruskah ia mengancam Jaejoong dan Jessica untuk membatalkan pesta pernikahan itu?

“Maafkan aku Sica… sepertinya aku tidak bisa membiarkan Jaejoongku menikah denganmu.” Gumam Yunho.

“Direktur…”

Yunho menatap wajah sekertarisnya. “Ada apa?” tanyanya.

“Rapat akan segera dimulai. Anda harus segera pergi ke ruang rapat sekarang juga.”

“Batalkan rapat hari ini! Ada sesuatu yang harus ku urus terlebih dahulu. Ini jauh lebih penting daripada rapat!”

“Tapi… ayah anda –Presdir?”

“Biar aku yang mengurus si tua itu. Dia akan senang ketika mendapatkan cucu –dua sekaligus.” Ucap Yunho yang langsung melesat pergi meninggalkan sekertarisnya yang kebingungan.

❤❤❤

Jessica tersenyum puas ketika melihat jas pengantin rancangannya sangat cocok dikenakan oleh Jaejoong, Jaejoongnya! Jessica tidak akan membiarkan siapapun mengusik kebahagiaannya menjelang pesta pernikahannya. Jaejoong adalah miliknya!

“Aku memang jenius!” Jessica memuji dirinya sendiri.

Jaejoong tersenyum, mengusap kepala Jessica lembut. “Sudah? Aku harus segera ke rumah sakit. Satu jam lagi aku harus masuk ruang operasi.” Ucapnya.

“Tentu saja belum! Aku masih harus menyiapkan sepatu untuk masing-masing jasmu Joongie ya.” Rengek Jessica manja. “Tapi karena aku adalah calon istri yang pengertian maka ku perbolehkan calon suamiku mengurus pasiennya dulu.”

Rencananya, ketika mereka mengikat janji suci pakaian yang akan mereka kenakan berwarna broken white, sedangkan untuk resepsi mereka akan mengenakan pakaian berwarna maroon dan hitam. Konsep pernikahan yang dipilih oleh Jessica adalah abad pertengahan sehingga Jessica mengerahkan segenap kemampuannya untuk membuat jas yang akan Jaejoong kenakan nanti selayaknya jas yang dipakai oleh para pangeran dan bangsawan pada abad pertengahan.

Jaejoong mencubit hidung Jesssica perlahan. “Kalau begitu aku langsung ke rumah sakit ya.”

Jessica mengangguk pelan, tidak lupa mencium pipi tunangannya mesra.

❤❤❤

“Bisakah kau berhenti menggangguku?” sentak Jaejoong ketika Yunho terus mengekorinya kemanapun ia melangkah. Tidak tahukah Yunho bahwa Jaejoong harus segera masuk ruang operasi? Ada pasien yang harus segera Jaejoong tangani.

“Aku harus bicara hal penting padamu, Jae!” ucap Yunho ngotot. Ditariknya tangan Jaejoong erat agar namja yang memiliki tempat istimewa dihatinya dulu sampai sekarang itu berhenti sejenak untuk bicara dengannya.

“Nyawa pasienku jauh lebih penting daripada apa yang ingin kau bicarakan padaku!” Jaejoong menatap garang Yunho. Tangannya yang satu melambai memanggil satpam yang kebetulan lewat didekat mereka.

“Ada yang bisa dibantu, Dok?” tanya sang satpam ramah.

“Orang ini terus menggangguku sejak tadi, tolong urus dia! Aku harus segera masuk ruang operasi.” Perintah Jaejoong yang tanpa menunggu jawaban si satpam segera berlari kecil menuju ruang operasi.

“Jae!” panggil Yunho. Yunho hendak mengejarnya namun sang satpam berbadan besar itu menghalangi langkah kakinya.

“Anda bisa menunggu dokter Kim selesai bila memang ingin bicara dengannya, Pak.” Ucap si satpam. “Hari ini dokter Kim sedang sibuk.”

Yunho menatap kesal si satpam, mengumpat kesal sebelum berjalan pergi –berlawanan dengan arah Jaejoong pergi sebelumnya.

❤❤❤

Di dalam mobil yang melaju memecah kemacetan kota Seoul siang itu, Yunho menangis dalam diamnya. Air mata brengsek itu mengalir begitu saja tanpa ia minta ketika bayangan tentang adik kembar Jaejoong –yang menurut Jessica adalah darah dagingnya sendiri. Yunho kesal, marah pada dirinya sendiri. Berkali-kali direktur muda itu memukul-mukul stir mobilnya sebagai pelampiasan.

Mengerem mendadak dikarenakan traffic light berwarna merah, Yunho melirik ke luar jendela kaca mobilnya. Mata setajam musangnya tertambat pada sebuah toko mainan. Tersenyum ketika melihat mobil-mobilan besar berwarna merah terang. Yunho jadi ingin membelinya untuk adik-adik Jaejoong –anaknya. Mungkin itu salah satu cara untuk mendekatkan dirinya dengan mereka. Tanpa pikir panjang Yunho segera membelokkan mobilnya memasuki halaman toko mainan itu.

❤❤❤

Pukul 5 sore Jaejoong pulang. Dokter muda itu dikejutkan dengan kehardiran Yunho di ruang bermain rumahnya sedang bermain mobil-mobilan dengan adik-adiknya. Menghela napas panjang agar dirinya tidak terpancing amarah karena melihat Yunho, Jaejoong lantas memasang senyum menawan ketika adik-adiknya berlari menghampiri dirinya.

Hyung!” seru si kembar bersamaan.

Jaejoong memeluk meraka satu per satu. “Sudah mandi?” tanyanya.

“Yunho hyung memandikan kami tadi.” Jawab Hyunbin, si polos yang lebih pendiam daripada kakak kembarnya.

Jaejoong melirik sekilas Yunho.

“Yunho hyung membawakan kami banyak mainan.” Ucap Hyunno.

“Mobil-mobilan!” seru Hyunbin.

“Robot-robotan!” kali ini Hyunno yang bicara.

“Sepeda untuk ke sekolah juga.”

“Benarkah?” tanya Jaejoong, “Kalian sudah mengucapkan terima kasih pada Yunho hyung?”

“Sudah!” jawab si kembar bersamaan.

“Kalau begitu Hyung mandi dulu ya, setelah itu kita makan bersama.” Ucap Jaejoong.

“Yunho hyung ikut makan dengan kita?” tanya Hyunno.

“Tentu saja.” Jaejoong menatap tajam Yunho. “Ada yang harus kami bicarakan.”

❤❤❤

Jaejoong diam saja ketika Yunho menyuapi adik-adiknya secara bergantian. Jaejoong masih belum tahu apa motif Yunho bersikap seperti itu. Jaejoong memang curiga pada Yunho tetapi ia tidak bisa menduga alasan dibalik tindakan Yunho.

“Kau cocok jadi baby sitter.” Celetuk Jaejoong. “Kau mau berhenti jadi direktur dan jadi baby sitter? Tanyanya terdengar tidak ramah.

“Berapa gaji yang kau tawarkan padaku?” tanya Yunho balik.

Jaejoong mendengus kesal. “Temui aku di halaman samping rumah! Kita perlu bicara!”

“Sejak tadi siang aku memang berniat mengajakmu bicara tetapi kau yang menolakku. Sekarang biakan aku menyelesaikan pekerjaanku dulu.” Ucap Yunho.

“Terserahmu saja.” Jaejoong beranjak dari meja makan. Ada perasaan kesal ketika melihat Yunho terlihat terlalu akrab dengan adik-adiknya.

❤❤❤

Jaejoong baru akan buka suara ketika Yunho mendahuluinya mengeluarkan kata-kata yang sedikit membuatnya terkejut.

“Jessica menemuiku.” Yunho mendudukkan dirinya di kursi yang berada di samping kursi yang sedang Jaejoong duduki.

Jaejoong tidak berkomentar. Menurutnya dua orang teman lama bertemu untuk membicarakan kenangan ketika mereka masih sama-sama sekolah dulu bukanlah hal yang aneh.

“Dia mengatakan hal yang tidak terduga.” Lanjut Yunho. “Hal yang membuatku ingin melakukan segala cara yang ku bisa untuk membatalkan pernikahan kalian.”

Jaejoong mendelik menatap Yunho.

“Aku tidak bisa membiarkan anak-anakku diasuh oleh orang lain, Jae.” Ucap Yunho kemudian, mendatangkan raut wajah terkejut Jaejoong. “Kalau kau memang ingin menikahi Jessica, lakukan! Aku akan mencoba merelakanmu menikahinya. Tetapi biarkan aku yang mengasuh anak-anak kita.”

“Apa yang sedang kau bicarakan?” tanya Jaejoong dengan raut wajah yang sukar diartikan.

“Hyunno dan Hyunbin adalah darah daging kita.” Yunho menatap mata indah berbingkai kaca mata itu lekat-lekat. “Jessica mendatangiku dan mengatakan semuanya. Mungkin dia ketakutan karena aku berusaha mendekatimu.”

Jaejoong terdiam. Tidak mampu membalas kata-kata yang Yunho ucapkan.

“Aku… bagaimanapun juga ingin bertanggung jawab atas hidup anak-anakku, Jae. Aku yang dimatamu brengsek ini pernah –masih sangat mendambamu menjadi bagian dalam hidupku walaupun aku tahu kau hanya menganggapku penjahat yang menyebabkan Youngwoong menderita.” Ucap Yunho. “Aku ingin menebusnya. Aku ingin kesempatan…”

“Kau tidak bisa….” Gumam Jaejoong. “Hyunno dan Hyunbin didaftarakan sebagai adik-adikku oleh orang tuaku. Mereka anak bungsu keluarga Kim. Jangan mengusik kebahagiaan kecil yang susah payah kami bangun!”

“Kau tidak mengerti, Jae….”

“Kau yang tidak mengerti!” bentak Jaejoong seraya berdiri dari duduknya. “Kau tidak tahu bagaimana rasanya menjadi gunjingan orang, bagaimana orang-orang menatapmu aneh! Coba bayangkan bila kau berada diposisiku! Seorang namja yang melahirkan anak!” mata indahnya berkabut.

Yunho ikut berdiri. Menatap penuh rasa bersalah dan iba pada Jaejoong. Yunho ingin mendekap sosok indah itu namun ia terlalu takut, takut pada kemarahan Jaejoong lebih dari ini.

“Dan kau bilang kau ingin mengasuh mereka?” Jaejoong tersenyum meremehkan, air mata mengalir dari sepasang mata indahnya.

“Jae….” Panggil Yunho dengan suara lembut.

“Kau pikir siapa kau bisa seenaknya seperti itu, hah?” pekiknya. “Aku tidak akan menyerahkan mereka padamu walupun kau menodongkan pistol padaku!” bentaknya lebih keras.

Tanpa memikirkan apa yang akan Jaejoong lakukan, Yunho serta merta mendekap tubuh bergetar itu. Bersama-sama dalam keheningan sebelum merosot dan terduduk di atas lantai yang dingin. Mengangis bersama dalam keheningan sehingga mereka tidak menyadari sosok Jessica yang sedari tadi menggigit bibir bawahnya guna menahan isakan yang meronta-ronta ingin keluar dari bibrinya.`

❤❤❤

Hari-hari berikutnya Yunho sering mengunjungi rumah Jaejoong bahkan menginap disana walaupun Jaejoong kerap kali mengusirnya. Yunho hanya ingin lebih dekat dengan adik-adik Jaejoong –yang ternyata adalah darah dagingnya sendiri− bukannya bermaksud untuk tidak memedulikan perasaan Jessica sebagai tunangan Jaejoong tetapi perasaannya sebagai seorang ayah yang ingin bertanggung jawab atas anak-anaknya telah membuat Yunho sedikit menutup mata pada kenyataan bahwa dua minggu lagi Jaejoong dan Jessica akan menikah.

“Tidak bisakah kau membatalkan pernikahan itu?” tanya Yunho ketika tengah malam ia menemani Jaejoong yang sedang memakan serealnya.

Jaejoong yang semula hendak menyendokkan sereal ke dalam mulutnya mengurungkan niatnya itu, menghela napas panjang kemudian menatap Yunho tajam menusuk namun penuh rasa iba, “Kau pikir pernikahan itu apa? Mainan? Atau drama picisan seperti yang sering ditonton oleh pengasuh si kembar, hm?” tanyanya.

Yunho meletakkan cangkir kopi yang tadinya ia minum. Semenjak sering mengunjungi rumah Jaejoong, ia tanpa sadar mulai menghentikan kebiasaan merokoknya ketika sedang frustasi. “Apa kau mencintai Jessica?” mata Yunho lekat-lekat melihat perubahan ekspresi Jaejoong. “Apa kau sedikit saja menyimpan perasaan cinta pada Jessica?” tanyanya lagi.

Jaejoong menyendokkan sereal ke dalam mulutnya, menguyahnya perlahan sebelum menjawab pertanyaan yang Yunho ajukan. “Apakah itu penting sekarang? Toh kami akan tetap menikah walaupun seandainya kami tidak saling mencintai. Cinta bisa datang seiring berjalannya waktu. Yang terpenting kami saling memahami kondisi masing-masing. Itu sudah cukup untukku.”

“Itu bukan pernikahan tetapi sebuah perjanjian.” Komentar Yunho. “Kau hanya akan menyiksa Jessica bila kalian tetap menikah.”

“Seolah kau tahu segalanya!” sanggah Jaejoong.

“Jessica gadis yang baik –kita berdua tahu hal itu− jangan menyakitinya dengan membuatnya merasa kau benar-benar mencintainya!”

“Aku menyayanginya…”

“Sayang dan cinta berbeda, Jae.” Potong Yunho, “Kau tahu itu dengan baik.”

Jaejoong tidak berkomentar, memilih menghabiskan serealnya.

“Kau terlalu keras kepala! Dan sialnya aku benar-benar tidak bisa membiarkanmu menikahi Jessica.”

“Terserahmu saja.” Ucap Jaejoong tak acuh sebelum meminum susu hangatnya hingga habis.

“Apa kau mencintaiku?”

“Uhuk!”

Yunho mengambil tisu –yang memang selalu tersedia diatas meja makan Jaejoong− untuk menyeka cipratan susu yang mengotori sekitar mulut Jaejoong. “Aku hanya bertanya…” ucapnya.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Jaejoong.

“Mungkin kalau kau pun mencintaiku sama seperi aku yang begitu menginginkanmu dalam banyak arti akan lebih mudah bagiku untuk membatalkan pernikahanmu dengan Jessica. Itu yang setidaknya ku pikirkan.”

Jaejoong terseyum bodoh. “Kau ingin ku kenalkan pada rekan kerjaku yang menangani bidang penyakit Jiwa?”

“Terima kasih. Aku lebih senang bila kau sendiri yang menanganiku.”

“Cih!”

“Mari hentikan pembicaraan ini. Ku rasa kau butuh istirahat. Ada lingkaran hitam dibawah matamu dan aku tidak menyukainya.” Ucap Yunho.

❤❤❤

Seminggu menjelang pernikahannya, Jaejoong mulai merasakan keraguan menggrogoti hati kecil dan nuraninya. Benarkah ini pilihannya? Benarkah ia sanggup menjalani pernikahan dengan Jessica? Jaejoong sangat menyayangi Jessica. Jessica gadis yang baik. Tetapi apakah itu cukup? Ketika mereka berciuman Jaejoong tidak merasakan apa-apa, tidak ada hasrat dan gairah lebih pada Jessica. Bagaimana bila dirinya tidak cukup pantas untuk membahagiakan Jessica? Bagaimana kalau akhirnya pernikahan mereka berakhir buruk? Jaejoong menghela napas panjang ketika pintu ruang kerjanya diketuk beberapa kali.

“Masuk!” sahutnya.

“Aku tahu kau sangat sibuk, tetapi aku ingin kau mencicipi hasil karya seniku!” dengan senyum cerianya Jessica berjalan sambil memamerkan rantang yang ia bawa pada Jaejoong.

“Kau memasak?” Jaejoong tidak bisa menyembunyikan senyumannya. Jessica adalah salah satu perempuan yang anti dengan urusan dapur –setahunya.

“Jangan meremehkanku! Sudah setengah tahun ini aku ikut les memasak demi menjadi istri yang baik.” Sungut Jessica. “Habiskan!” ucapnya sambil meletakkan rantang 5 lapis itu di atas meja kerja Jaejoong.

“Tidak mau memakannya bersamaku?” tanya Jaejoong.

“Aku harus segera pulang! Tahu sendiri Umma melarangku bepergian menjelang pernikaha kita.” Jessica sedikit merengut. “Telpon aku begitu kau selesai bekerja!” pintanya yang diangguki oleh Jaejoong. Jessica mencium pipi kanan Jaejoong sebelum pergi meninggalkan ruangan kerja Jaejoong.

Jaejoong membongkar isi rantang yang Jessica bawakan untuk dirinya. Tersenyum hampa ketika melihat beraneka macam masakan tertata rapi didalamnya. Jessica pasti sudah bekerja sangat keras memasak untuk dirinya. Jaejoong kemudian melirik sebuah figura foto yang memang sengaja ia letakan di atas meja kerjanya, foto adik-adiknya yang mau tidak mau harus ia akui mulai menunjukkan tanda-tanda mirip dengan Yunho. Jaejoong tidak mau mengakui apalagi mengiyakan tetapi wajah Hyunno cenderung menurun Yunho, dengan mata sipit dan bibir berbentuk hati yang tipis.

Beberapa kali Jaejoong menghela napas panjang. Seminggu menjelang hari pernikahannya dengan Jessica, Yunho sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya. Pria itu seolah menghilang ditelan bumi. Jaejoong toh tidak peduli –pura-pura tidak peduli− keberadaan Yunho tetapi terbesit keraguan dan ketakutan dalam hati kecilnya. Yunho sedang putus asa, orang yang putus asa bisa nekat dan melakukan tindakan diluar batas.

❤❤❤

Jas broken white itu membuat sosok Jaejoong terlihat bersinar, wajah adrogininya memberikan efek luar biasa pada orang-orang yang menatapnya. Saat ini Jaejoong sedang berada diruang rias, bersiap-siap untuk berjalan menuju altar suci yang akan merubah seluruh hidupnya, para perias sudah meninggalkannya sendirian. Jaejoong mengamati cermin besar dihadapannya. Benarkah ini yang terbaik untuk dirinya? Untuk semuanya?

“Kau indah seperti biasa….”

Jaejoong terlonjak kaget ketika mendapati pantulan sosok Yunho dalam cermin. Segera saja ia memutar tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Yunho.

Yunho berjalan mendekati Jaejoong. Tangannya terjulur untuk mengusap wajah menawan itu perlahan. “Aku mencintaimu….” Lirih Yunho dengan mata nanar. “Barusan aku memohon pada Jessica agar membatalkan pernikahan kalian tetapi ia menolak. Cintanya padamu sama besar seperti cintaku padamu. Aku bisa apa?”

Jaejoong diam saja ketika Yunho mulai terisak, memeluknya erat.

“Tolonglah….” Pinta Yunho.

Mian….”

Yunho menatap wajah itu lekat-lekat, mencium bibir merah penuh itu dengan rakus seolah enggan kehilangan seinci pun rasanya. Lantas pergi begitu saja dengan bahu membungkuk rendah.

Jaejoong menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Ia sudah memutuskan semuanya dan tidak akan mundur begitu saja. Menghela napas panjang, Jaejoong berjalan menuju pintu keluar. Sudah nyaris waktunya. Waktu untuk mengubah hidupnya dengan pilihan yang sudah ia pilih.

Baru saja Jaejoong hendak memutar handle pintu, pintu bercat putih itu terbuka. Sosok Jessica yang juga tengah memakai gaun pengantinnya berdiri dimulut pintu, mendatangkan kerut kebingungan Jaejoong.

“Aku tidak tahan untuk segera melihatmu.” Ucap Jessica. “Sesuai dugaanku, jas rancanganku benar-benar cocok untukmu.”

“Kita akan segera bertemu di altar, tidak bisakah kau menunggu sedikit lebih lama?” tanya Jaejoong.

Jessica tersenyum lalu menggelengkan kepalanya pelan. “Aku tidak sabar melihat penampilan suamiku! Suatu kebanggaan tersendiri bagiku melihat suamiku memakai jas hasil karyaku.”

“Kalau ada yang melihatmu mendatangiku, kau pasti kena omel.” Ucap Jaejoong. “Aku harus ke altar duluan.”

“Masa bodoh. Aku ingin menemuimu dan disinilah aku sekarang.” Ucap Jessica.

Pabbo!” Jaejoong menyentil kening Jessica pelan.

Tiba-tiba saja Jessica memeluk Jaejoong erat. “Saranghae… jeongmal saranghae…” lirihnya. Begitu melepaskan pelukannya, Jessica segera mencuri ciuman dari bibir Jaejoong kemudian mendorong calon suaminya itu, “Kajja! Cepat ke altar agar aku segera menjadi nyonya Kim!”

Jaejoong tersenyum. Mengusap kepala Jessica lembut sebelum berjalan perlahan menuju tempat ia dan Jessica akan mengucap janji suci pernikahan. Jantungnya berdebar tidak keruan, perasaan tidak nyaman itu menggelayuti setiap langkah yang diambilnya.

Jeongmal saranghae….” Lirih Jessica nanar menatap punggung Jaejoong yang semakin jauh darinya.

❤❤❤

Jaejoong berdiri diam ditempat dimana seharusnya ia berada. Menatap dekorasi indah yang memang menjadi impian Jessica. Sudah lebih dari satu jam lamanya pria yang mengenakan setelan jas broken white itu berdiri diam disana, mengabaikan suasana sunyi lagi hampa disekitarnya. Semua tamu undangan sudah pulang menyisakan dirinya sendiri bersama keheningan diamorf yang tidak ia mengerti. Berkali-kali menghela napas panjang, pria berkaca mata yang saat ini tidak mengenakan kaca matanya itu mencoba mengurai benang kusut otaknya mencari jawaban sebagai pembenaran atas tindakan nekat Jessica.

Pesta pernikahan ini adalah impian Jessica. Konsep, dekorasi, gaun yang mereka kenakan semuanya adalah impian Jessica. Namun Jessica pergi meninggalkannya disaat-saat terakhir. Jessica tidak datang ketika seharusnya mereka mengucapkan janji suci. Jessica pergi meninggalkan pesta pernikahan impiannya dan hanya meninggalkan sebuah memo.

Jeongmal saranghae Jaejoongie….

Mian…

Jaejoong berbalik menatap deretan kursi tamu yang kosong melompong –kecuali satu kursi yang masih diduduki oleh sosok yang begitu ia kenal. Seketika Jaejoong memiliki pikiran jahat. “Kau tidak menghasut Jessica, kan?” tanyanya.

“Tidak. Tentu saja tidak. Aku bukan orang picik seperti itu. Aku hanya memohon padanya untuk memberiku kesempatan membesarkan anak-anak kita.”

“Kau bercanda?”

“Jessica mencintaimu. Cintanya sama besarnya seperti cintaku padamu tetapi ia memilih untuk melepaskanmu demi kebaikan kalian sendiri.” Ucap Yunho. Mata setajam mata musangnya itu menatap dalam sosok Jaejoong yang terlihat menawan dimatanya. “Memaksakan pernikahan ini sama halnya berjalan menuju jurang kenestapaan. Jessica tahu kalau pernikahan kalian tidak akan berakhir bahagia.”

“Omong kosong!”

Yunho tersenyum putus asa. “Kau keras kepala, aku tahu dengan baik hal itu jadi membicarakan soal perasaan denganmu sama artinya buang-buang waktu karena kau tidak akan pernah menanggapi hal cengeng semacam itu. Tetapi bagiku, adalah sebuah kebahagiaan tersendiri diatas ironi batalnya pernikahanmu.”

“Dimana Jessica sekarang?”

“Orang tuanya saja tidak tahu kemana ia pergi apalagi aku?” ucap Yunho. “Kau kesal karena dicampakan?” tanyanya.

“Aku kesal karena semuanya berjalan sesuai harapanmu!” usai bicara seperti itu Jaejoong berjalan begitu saja melewati Yunho, terus melangkah meninggalkan tempat yang seharusnya menjadi tempat bersejarah baginya. Baru saja membuka pintu Jaejoong dikejutkan oleh ibu Jessica –ibu mertuanya jikalau ia dan Jessica jadi menikah hari ini.

“Anak itu benar-benar bodoh!” ucapnya sambil terisak. “Maafkan kecerobohan anak itu, Jae.”

“Gwaechana Umma.” Jaejoong berusaha menghibur.

“Kalau anak bodoh itu berhasil ditemukan aku akan memarahinya.”

Jaejoong hanya tersenyum. Ia tahu sekarang rasanya dicampakan seperti apa. Perasaannya seperti diaduk-aduk. Seperti itukah perasaan Yunho ketika ia meninggalkan Yunho begitu saja malam itu?

❤❤❤

5 tahun kemudian…

Jaejoong tersenyum ketika melihat sebuah foto. Mau tidak mau Jaejoong harus mengakui bahwa dirinya merindukan sosok yang sudah membuatnya menjadi objek iba banyak orang. Jessica terlihat sangat bahagia ketika menggendong sosok mungil itu. Tubuhnya lebih gemuk daripada terakhir kali mereka bertemu dihari pernikahan mereka yang sayangnya menjadi hari naas bagi Jaejoong. Jessica kabur ke Perancis, mengencani bule Perancis hingga akhirnya menikah dan melahirkan seorang putri cantik.

“Joongie, bagaimana kalau Jihyunku dijodohkan dengan salah satu si kembar?”

“Kau terlalu sering berhubungan dengan Sica.” Ucap Yunho yang melirik kegiatan Jaejoong. “Hyunno dan Hyunbin sudah remaja harusnya kau lebih memperhatikan mereka!”

Jaejoong hanya mencibir.

5 tahun belakangan ini hubungannya dengan Yunho sedikit rumit. Mereka tinggal serumah –dirumah orang tua Yunho− atas permintaan orang tua Yunho yang ingin dekat dengan cucu-cucu mereka. Yunho dan Jaejoong mendaftarkan pernikahan mereka –yang Jaejoong yakini terjadi karena dirinya mabuk berat sehingga mengiyakan ketika Yunho mengajaknya menikah. Perlahan-lahan Yunho dan Jaejoong menjelaskan posisi mereka yang sebenarnya pada si kembar, walaupun awalnya baik Hyunno dan Hyunbin tidak percaya namun pada akhirnya mereka memanggil Yunho dan Jaejoong dengan sebutan Appa dan Umma. Tidak ada yang istimewa. Jaejoong tetaplah seorang dokter yang mengabdi merawat orang-orang yang membutuhkannya, Yunho pun tetap bekerja seperti biasanya. Yang berbeda hanyalah keiklhasan hati untuk menerima nasib yang kini berjalan disamping mereka.

❤❤❤

Youngie… jangan membenciku. Maafkan aku karena sepertinya aku pun jatuh cinta pada Jung Yunhomu… doakan kedua keponakanmu agar menjadi anak yang lebih baik dari orang tua mereka. Aku mencintaimu Youngie tetapi aku pun mencintai Yunho. Ku mohon jangan membenciku….

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

END

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

Monday, May 30, 2016

6:25:49 PM

NaraYuuki

8 thoughts on “Sekuel Vengeance III (END)

  1. Annyeong yuuki-eonn
    Dah lama bgtt ya g update..gmna kbr nya kak?? Sehat kann
    Seneng bgtt deh klnjutan sekuel vengeance nya di postt… tiap hari aku suka buka blog nya kak.yuuki lohhh… takut ada yg ktinggln info ff baru… hehe😊😊
    Kak.yuuki ko ending nya ga dpt feel nya yaa?? Tumben bggtt, trus agak ngegantung crita nya…
    tp kslruhan ok lah cma…itu aja komen aku…
    Maaf yaa klo nyinggung prasaan nya kak.yuuki
    always keep writing kaaa !!!

  2. akkhirrnya update yess
    endingnya nyesek yaa walopun yunjae tetep bersatu
    tp puasss bgt kerenn!!!
    semangat yuuki sehat selalu
    menunggu karya lainnya!!!

  3. wah..jd bener si kembar anaknya yunjae..btw Sica nikah dan pny anak juga ya.. yah setidaknya mereka bisa menjalani hidup bersama..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s