Sekuel Vengeance II


Tittle                : Sekuel Vengeance II

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance? Familly? Friendship? A Little bit Angst?

Rate                 : T+

Cast                             : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Park Yoochun, Han Youngwoong & Jung Jessica

Disclaimer:      : They are not mine but this story, OOC Hyunno & Hyunbin are mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran. Tanpa Edit jadi mungkin sedikit amburadul ==” Penceritaan ngebut. Saran dan masukkan diterima. Tidak menerima Bash dan Flamer dalam bentuk apapun!

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

PASTIKAN BACA WARNINGNYA!

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

“Aku tidak suka mata indahmu terbingkai kaca mata itu, Jae!” ucap Yunho pada udara kosong di depannya. Semenjak pulang dari acara pesta pertunangan Jessica, Yunho sudah menghabiskan lebih dari 5 botol wine yang harga sebotolnya mampu membeli sebuah mobil mewah. Padahal Yunho tidak kuat minum minuman beralkohol tetapi rasa putus asa telah memaksanya untuk melampaui batasnya sendiri. “Aku tidak suka kau bertunangan dengan Jessica walaupun aku tahu ia gadis yang baik, walaupun ia teman baikku. Aku tidak suka. Aku tidak rela!” racaunya.

Jaejoong yang tadi ia lihat adalah Jaejoong yang sama dengan yang dulu ia kenal. Jaejoongnya tidak berubah kecuali sebuah kaca mata yang membingkai mata indahnya, Yunho tidak suka benda itu menghalangi pancaran keindahan mata Jaejoong. Yunho sangat menyukai mata hitam legam indah itu sepenuh hatinya. Yunho tidak rela Jaejoong menjadi milik Jessica. Yunho ingin merebutnya tetapi bagaimana caranya?

Dalam ketidaksadarannya, Yunho terisak keras. Untunglah ia sudah berada di rumahnya sendiri sehingga ia tidak perlu merasa malu pada siapapun. Air mata itu mebasahi wajahnya, Yunho menangis sampai dewi mimpi menariknya untuk terlelap, sejenak melupakan nelangsa yang sedang mengganggu hatinya yang rapuh.

❤❤❤

Yunho memasang senyum kakunya ketika berhadapan dengan sosok yang begitu dirindukannya, begitu didambanya seperti orang gila. Yunho sengaja meminta alamatnya dari Jessica dengan dalih kesehatan lambung yang memang sejak lama sudah ia derita, Yunho ingin berkonsultasi pada Jaejoong.

“Apa yang kau katakan pada Jessica sehingga ia memberikan alamatku padamu?”

“Lambungku bermasalah.” Jawab Yunho.

“Memang. Bukankah kau juga baru pulang dari rumah sakit karena masalah lambung?”

“Jessica tidak tahu soal itu.” Yunho tersenyum.

“Mau apa kau kemari?”

“Aku turut menyesal atas apa yang terjadi pada orang tuamu.” Ucap Yunho tulus. “Dan soal adik-adikmu… kenapa mereka tidak mirip denganmu?”

Jaejoong tersenyum bodoh melihat ekspresi wajah Yunho. “Apakah ketidakmiripan adik-adikku denganku menjadi masalah untukmu?”

“Kita pernah tidur bersama, walaupun hanya semalam tetapi seingatku beberapa kali aku melakukannya denganmu. Adikmu –mendiang saudara kembarmu, aku hanya melakukannya sekali tetapi ia sempat mengandung walaupun akhirnya berakhir seperti itu. Ada kemungkinan kalau adik-adikmu itu sebenarnya bukan adikmu melainkan anakku.”

“Kau mabuk? Atau kau terlalu banyak nonton drama picisan tidak bermutu?”

“Wajah mereka tidak sama sepertimu, terutama mata mereka! Mata mereka tajam sepertiku.”

“Ayahku –ayah tiriku memiliki mata yang tajam. Kalau kau lupa aku mengingatkanmu!”

Yunho menggelengkan kepalanya, “Tidak sama!”

“Jangan merusak hariku! Kalau kau tidak ada urusan lain silakan pergi! Aku ingin tidur.”

“Ini baru pukul 7.30 pagi.”

“Aku sift malam. Pukul 6 aku baru pulang. Setelah mengurus si kembar dan mengantarkan mereka ke sekolah aku berencana ingin tidur tetapi kau datang mengganggu waktu istirahatku!”

“Tidurlah! Aku tidak keberatan menungguimu sampai kau bangun dari tidurmu.” Ucap Yunho.

Jaejoong mendengus kesal. “Terserahmu saja!” Jaejoong kemudian berjalan meninggalkan Yunho di ruang tamu rumahnya sendirian. Terang saja, Jaejoong tidak memiliki pembantu rumah tangga, hanya dua orang baby sitter yang bertugas menjaga si kembar dan kini mereka sedang menunggui si kembar pulang sekolah.

❤❤❤

Yunho menatap sekeliling ruang tamu mini malis itu dengan seksama. Cat tembok warna broken white membuat nuansa ruang tamu menjadi ceria, sebuah pot bunga yang diletakkan disudut ruangan menambah hidup suasana ruangan itu. Yunho tersenyum ketika melihat jejeran foto berbingkai yang diatur sedemikian rupa hingga terlihat bagus dan menarik. Foto Jaejoong semenjak kecil hingga menjadi seorang dokter, foto adik kembarnya dari bayi hingga memasuki bangku sekolah, foto mendiang ibu dan ayahnya –ayah tirinya semuanya terpajang rapi menghiasi dinding. Tetapi tidak ada foto ayah kandung dan adik kembar Jaejoong –mendiang Han Youngwoong.

Rumah ini jelas tidak lebih besar daripada rumah Jaejoong yang dulu –ketika mereka masih SMA. Namun Yunho dapat merasakan suasana hangat memancar dari rumah ini. Menyandarkan punggung dan lehernya pada punggung sofa yang didudukinya, Yunho menatap langit-langit ruangan yang mana tergantung sebuah lampu unik di atas sana. Lama Yunho memandangi lampu itu hingga kedatangan si empunya rumah mengejutkannya. Jaejoong datang membawa baki berisi secangkir kopi dan sepiring kue lapis yang sudah dipotong-potong.

“Aku tahu kau tidak akan pergi dari sini semudah itu! Walaupun aku memanggil petugas keamanan sekalipun kau akan tetap kembali kemari. Apa maumu sebenarnya?”

“Sepuluh tahun lebih aku hidup dalam nelangsa karena kau pergi meninggalkanku tanpa mengatakan apa-apa.” Ucap Yunho. “Boleh aku minum kopinya? Kebetulan aku belum makan sejak semalam.”

“Silakan.”

Tanpa sungkan Yunho mengambil sepotong kue lapis, memakannya hingga habis lantas meminum setengah cangkir kopi susu hangat yang Jaejoong hidangkan.

“Kita tahu bahwa kita tidak terikat hubungan apa-apa. Jadi kenapa kau mengeluh ketika aku meninggalkanmu begitu saja?” tanya Jaejoong.

“Dan kita berdua tahu bahwa aku memiliki perasaan khusus padamu. Aku sudah mengatakannya padamu.” Yunho membela diri. “Mungkin bila aku lebih dulu bertemu denganmu bukan dengan Youngwoong, tidak akan seperti ini hubungan kita.”

“Jangan berandai-andai!”

“Benar.” Yunho mengangguk.

“Lalu? Apalagi?”

Yunho menatap tajam mata indah berbingkai kaca mata itu dalam-dalam, “Aku tidak setuju kau bertunangan dengan Jessica.”

Jaejoong tersenyum bodoh. Duduk bersandar sambil menyilangkan kedua kakinya. “Aku tidak butuh persetujuan darimu. Kau bukan siapa-siapaku!” Jaejoong mengingatkan.

“Sialnya itu benar.” Keluh Yunho.

Hening menyebalkan untuk sesaat. Yunho hanya mampu terdiam memandang sosok yang begitu ingin ia peluk hingga remuk, ingin mencium dan mencumbu sosok yang membuatnya memeram rindu dendam sekian tahun hingga menyiksa jiwanya. Jaejoong sendiri hanya diam, diam yang takzim hingga akhirnya kelopak mata berbingkai kaca mata itu tertutup perlahan-lahan karena rasa lelah dan kantuk yang menyerangnya.

Yunho tersenyum. Ini kali pertama ia melihat Jaejoong duduk sambil tertidur. Wajah menawan itu terlihat sangat lelah dan letih. Yunho ingin sekali menggantikan posisi sofa itu sebagai sandaran Jaejoong, Yunho ingin mendekap dan memeluk sosok yang kelelahan itu dalam pelukannya, Yunho ingin menyeka wajah letih itu dengan kasih sayang yang ia miliki, seandainya Jaejoong mengijinkannya.

Melihat posisi tidur yang sepertinya kurang nyaman, Yunho akhirnya berjalan menghampiri Jaejoong, menata bantal sofa untuk alas kepala lantas menselonjorkan posisi tidur Jaejoong agar menjadi lebih nyaman. Setelah memastikan tidur Jaejoong tidak terusik, Yunho kembali ketempatnya semula namun sebelum itu ia mencuri satu ciuman dari bibir merah penuh yang begitu didambanya.

❤❤❤

Jaejoong terbangun tengah hari lewat. Suara tawa si kembar membuatnya tersadar dari mimpinya. Jaejoong segera mendudukkan dirinya, mengumpulkan kesadarannya lantas berjalan ke luar rumah untuk melihat apa yang sudah membuat kedua anak kembar itu tertawa begitu girang.

Yunho!

Jaejoong melihat si kembar sedang berlarian di halaman depan rumah mereka, membawa pistol air dan mengejar Yunho. Sesekali Hyunno maupun Hyunbin –nama si kembar, menembakkan pistol air yang mereka bawa pada Yunho, membuat baju pria berkulit tan itu basah pada beberapa tempat. Jaejoong mengawasi mereka dalam diam.

“Mereka sudah makan siang?” tanya Jaejoong pada salah seorang baby sitter yang lewat di sebelahnya sambil menenteng keranjang jemuran kering berisi seragam dan baju si kembar.

“Belum Jaejoong sshi.” Jawab sang baby sitter, lantas melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda.

Jaejoong berjalan menghampiri adiknya, menangkap Hyunbin yang menjerit-jerit ke girangan lantas meraih ujung kaus Hyunno dan mencekalnya. Mendekap keduanya yang masih kegirangan dan tertawa senang.

“Sudah waktunya makan siang dan tidur siang.” Ucap Jaejoong. Mata berbingkai kaca mata indahnya teduh menatap wajah-wajah polos kedua adiknya. “Kalian bisa main dengan paman Yunho setelah tidur siang. Arrachi?”

Neee….” Sahut ke dua anak kembar itu bersamaan.

“Serahkan mainan kalian pada Im ahjumma lalu minta pada Kang ahjuma untuk menggantikan baju kalian!” perintah Jaejoong sambil mengusap kedua kepala adiknya secara bergantian. “Kajja! Hyung tunggu di ruang makan!”

Kedua anak kembar itu lantas berlari menghampiri pengasuh mereka yang sedang duduk menjaga keranjang berisi mainan, menyerahkan kedua pistol air mereka lantas berlari memasuki rumah dengan girang.

“Mereka anak-anak yang manis.” Ucap Yunho yang berjalan mendekati Jaejoong.

Jaejoong melirik pria yang bajunya basah dibeberapa tempat itu dengan tatapan dingin. “Ukuran bajumu sepertinya lebih besar dariku. Aku punya beberapa baju yang berukuran cukup besar untuk kau pakai. Akan ku carikan. Masuk dan ikutlah makan siang bersama kami.”

Yunho tersenyum sumpringah. “Walaupun kau cap aku sebagai orang tidak tahu malu, aku jelas tidak akan menolak ajakan makan siang ini.” Ucapnya yang hanya dibalas dengusan oleh Jaejoong.

❤❤❤

Kebahagiaan Yunho bisa makan siang bersama dengan Jaejoong dan adik-adiknya sirna begitu saja karena kedatangan Jessica yang secara resmi merupakan tunangan sah Jaejoong. Tanpa sungkan Jessica mencium kedua pipi Jaejoong beserta si kembar, lantas menyalami Yunho dan ikut bergabung dimeja makan.

“Yunho minta alamatmu, katanya ia ingin konsultasi soal penyakitnya.” Ucap Jessica.

Melalui lensa kaca matanya, Jaejoong menatap tajam sekilas pada Yunho yang sepertinya merasa kurang nyaman sejak kehadiran Jessica. “Ya, ku rasa itu semua disebabkan oleh asam lambungnya yang tinggi serta pola hidup yang kurang sehat. Minum kopi pagi hari ketika perut dalam keadaan kosong contohnya.” Komentar Jaejoong.

Yunho berdeham (pura-pura batuk), meraih gelas jusnya, meminumnya beberapa teguk sebelum berkomentar, “Jaejoong tipe dokter yang galak dan cerewet.”

“Itu karena Joongieku sangat perhatian pada semua pasiennya.” Bela Jessica.

“Kau datang tanpa pemberitahuan, apa ini semacam kejutan?” tanya Jaejoong. Matanya menatap hangat pada Jessica, mengabaikan tatapan sendu yang Yunho lemparkan padanya.

“Hanya kebetulan mampir. Aku baru saja berkonsultasi dengan WO yang mengurus pesta pernikahan kita.” Jawab Jessica.

“Kalian akan menikah?” tanya Yunho menyela.

Jessica menatap malas teman SMAnya itu, “Kami sudah bertunangan Jung Yunho, tentu saja kami akan menikah.”

“Tapi ku kira kalian akan menikah beberapa tahun lagi.” Ucap Yunho, ada nada ketidakrelaan dalam kata-katanya.

“Untuk apa menunggu lama-lama? Kami akan menikah 2 bulan lagi.” Jessica tersenyum sumpringah. “Tapi jangan beritahukan hal ini pada yang lain dulu ya.” Pintanya.

Yunho menatap Jaejoong dengan pandangan syok seolah-olah minta penjelasan. Namun Jaejoong hanya diam saja tanpa memedulikan Yunho.

“Karena Joongie tidak mungkin mengurus soal pernikahan –ia terlalu sibuk tentu saja, karenanya aku yang mengurus pernikahan kami. Mulai dari mencari tempat, dekorasi, undangan, catering bahkan designer yang merancang baju kami nantinya.” Cerita Jessica.

Designernya adalah kau sendiri, kan?” Jaejoong mengusap kepala Jessica perlahan.

“Tentu saja!”

Melihat rona bahagia dan antusiasme Jessica menyambut pernikahannya dengan Jaejoong membuat hati Yunho nyeri. Yunho kira mereka akan menikah beberapa tahun lagi sehingga dirinya bisa meyakinkan Jaejoong untuk membatalkan pertunangannya dengan Jessica tetapi… Yunho seperti dipaksa menelan pil pahit seukuran bola pingpong yang mengganjal tenggorokannya. Yunho dipaksa menerima kenyataan bahwa harapannya adalah semu belaka.

“Ah, mengenai libur panjang nasional selama 5 hari nanti…” suara Jessica membuyarkan lamunan Yunho, “Aku akan mengajak Hyunno dan Hyunbin ke Jeju. Mereka akan menjadi model tamu istimewaku untuk desain baju anak-anak rancanganku menjelang musim gugur.”

“Ya, dan mereka sudah setuju ikut denganmu karena kau menjanjikan mereka akan membelikan Gundam yang bisa bicara pada mereka.” Sahut Jaejoong.

Jessica terus berceloteh, sesekali Jaejoong menyahutinya. Keduanya asyik berbicara, melupakan keberadaan Yunho yang masih duduk membatu di sana.

❤❤❤

Yunho menyulut rokoknya, menghisapnya dalam-dalam sebelum mengepulkan asapnya ke udara. Sudah pukul 2 dini hari dan Yunho masih setia berada di tempat parkir rumah sakit. Duduk di kap mobilnya ditemani sekaleng kopi yang ia beli di mesin penjual otomatis. Satu minggu ini seperti itulah rutinitas yang ia lakukan. Kadang pagi-pagi buta Yunho sudah berada di tempat parkir itu, melakukan hal yang sama selama berjam-jam sampai rasa bosan memaksanya untuk pergi. Yunho seperti orang gila yang sedang putus asa. Ah, ya… Yunho memang sudah putus asa.

“Bila aku melihatmu melakukan hal yang sama esok hari akan ku suruh petugas keamanan mengamankanmu!”

Yunho membuang puntung rokoknya, berdiri dan menatap orang yang menegurnya. Tersenyum sumpringah. “Aku menjemputmu.”

“Aku bawa kendaraan sendiri.”

“Aku tetap menjemputmu. Aku sudah menyuruh orang untuk menderek mobilmu sampai rumahmu.”

“Kau gila?”

“Ya. Kau yang menyebabkan aku gila, Jae.” Seloroh Yunho. Yunho berjalan menuju sisi pintu penumpang mobil dan membukanya. “Masuk atau aku akan menculikmu. Kau tahu? Aku sudah mulai kehilangan kewarasanku sejak kau bertunangan dengan Jessica.”

Jaejoong menatap tajam Yunho, ada api kemarahan dalam bola mata indahnya yang terbingkai lensa kaca mata. Namun begitu Jaejoong tetap masuk ke dalam mobil mewah Yunho juga. Apa boleh buat? Jaejoong kelelahan. Mobilnya menghilang dari tempatnya parkir semula.

Yunho tersenyum, menutup pintu mobil lantas berjalan kesisi yang lain, masuk mobil, menyalakan mesin dan mulai menjalankan mobilnya. “Aku akan mengajakmu ke apartementku dulu.”

“Aku tidak mau!” tolak Jaejoong.

“Hanya untuk mengambil dokumen yang ku butuhkan. Usai mengantarmu aku akan langsung ke kantor.”

“Ini bahkan belum fajar.”

“Sendirian di rumah membuatku frustasi karena teringat padamu terus menerus. Aku butuh pengalihan.” Jawab Yunho. “Kerja adalah salah satu pilihannya.”

Jaejoong diam saja, matanya mengamati deretan lampu merkuri yang berjejer dipinggir jalan, pucat dan muram. Jaejoong tidak tahu bagaimana perasaannya pada Yunho sekarang, apakah masih ada dendam atas apa yang menimpa saudara kembarnya? Apakah ada belas kasihan dalam dirinya untuk Yunho? Jaejoong tidak tahu. Ia bisa menerima keberadaan Yunho disekitarnya selama tidak mengusik kehidupannya lebih daripada yang seharusnya.

Terlalu sibuk dengan pikirannya yang berlompatan tidak tentu, Jaejoong sama sekali tidak menyadari bahwa mobil Yunho yang ia tumpangi sudah berbelok memasuki kompleks apartemen mewah. Melaju perlahan menuju tempat parkir sebelum akhirnya benar-benar berhenti.

“Kita sudah sampai.” Ucap Yunho yang sepertinya sama sekali tidak didengar oleh Jaejoong. “Jae, kita sudah sampai….” Kali ini Yunho menepuk bahu Jaejoong perlahan.

Jaejoong menoleh menatap Yunho dengan mata bening lelahnya, “Lalu apa yang kau tunggu? Cepat ambil apa yang mau kau ambil!”

“Aku tidak bisa membiarkanmu menunggu disini sendirian. Setidaknya ada secangkir teh hangat yang bisa menghangatkan tubuhmu.”

“Tidak. Aku menunggu disini saja.” Tolak Jaejoong.

“Kau bisa masuk angin. Kau ini dokter, banyak pasien yang bergantung padamu. Kalau kau sakit siapa yang akan mengurus pasien-pasienmu?” bujuk Yunho. “Aku janji tidak akan lama.”

Jaejoong menghela napas panjang. Membuka pintu mobil lalu berjalan keluar. Lelah badannya. Jaejoong ingin segera bertemu tempat tidurnya agar bisa berbaring diatasnya guna melepas lelah. Berjalan perlahan mengikuti langkah kaki Yunho.

❤❤❤

Yunho tersenyum melihat Jaejoong yang terlelap diatas sofa ruang tamunya. Teh hangat yang ia suguhkan masih mengepulkan asap, masih utuh, Jaejoong sama sekali belum menyentuhnya. Yunho meletakkan tumpukan map berisi dokumennya di atas meja, berjalan perlahan menghampiri Jaejoong, berjongkok dihadapannya dan mengamati wajah lelah sosok yang menjerat hatinya itu lekat-lekat. Perlahan-lahan Yunho melepas kaca mata Jaejoong, mengamati bulu lentik yang menghiasi mata terpejam  itu.

“Tidurlah! Kau pasti benar-benar kelelahan….” Bisik Yunho lirih. Dikecupnya kening Jaejoong sebelum beranjak menuju kamarnya untuk mengambil sesuatu.

❤❤❤

Jam dinding menunjukkan pukul 10 pagi. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela kaca bergorden tipis mulai mengusik tidur lelap Jaejoong. Rasa sejuk dari pendingin ruangan segera menyadarkannya dari mimpi aneh yang dialaminya. Jaejoong membuka mata indahnya, menatap sekeliling dengan alis berkerut. Jaejoong tidak mengenali ruangan tempatnya berada sekarang. Menoleh ke samping kanan, Jaejoong menemukan sebuah memo yang diletakkan di bawah kaca matanya. Jaejoong mengambil kertas memo itu dan membacanya.

Kau tidur sangat lelap. Aku tidak tega membangunkanmu. Kunci rumah dan mobilku ada didalam laci, kau bisa memakainya bila mau. Kulkasku penuh bahan makanan kalau kau lapar. Yunho.

“Ini tidak seperti yang ku harapkan.” Gumam Jaejoong. “Selama ini aku berusaha menghindarinya tetapi semakin keras aku menghindar jarak itu semakin bertambah dekat. Mengesalkan.”

Jaejoong beranjak dari tempat tidur, berjalan mengelilingi kamar yang ia ketahui adalah kamar Yunho. Memeriksa pintu yang ada di dalam kamar tersebut untuk mencari toilet. Jaejoong butuh mandi sebelum pulang ke rumahnya sendiri yang sama sepinya dengan rumah Yunho –kedua adiknya beserta baby sitter mereka sedang berlibur bersama Jessica.

Memasuki kamar mandi, aroma maskulinlah yang menyeruak menggelitik indera penciuman Jaejoong, sangat berbeda dengan aroma kamar mandinya yang didominasi oleh wangi sabun dan sampo khas anak-anak. Jaejoong segera melepas pakaiannya dan menyalakan shower. Membiarkan air dingin membasahi sekujur tubuhnya, merilekskan otot-ototnya yang terasa tegang dan kaku.

❤❤❤

Jessica menghambur memeluk Jaejoong, mencium pipinya dengan mesra. 5 hari lebih tidak bertemu dengan tunangannya membuatnya benar-benar merasakan kerinduan yang mendalam. Perempuan berambut panjang itu tanpa malu mengutarakan perasaan rindunya pada sang tunangan walaupun saat itu mereka tidak sedang sendirian.

“Apa si kembar kelelahan setelah pulang dari Jeju?” tanya Jessica yang langsung mendudukkan dirinya di kursi yang berada di samping Jaejoong. Mereka sedang berada di sebuah café untuk makan siang bersama.

“Tidak. Seperti biasa, mereka sibuk bermain tanpa memedulikan rasa lelah.” Jawab Jaejoong. “Aku memesankanmu salad dan jus sayur.”

Jessica mengangguk paham. Ia sedang diet demi menyambut pesta pernikahannya.

“Jangan terlalu berlebihan. Tanpa diet pun kau pasti akan menawan nanti.”

“Aku ingin memberikan yang terbaik untukmu di acara pesta pernikahan kita nanti.” Seloroh Jessica. “Eh… itu Yunho, kan?”

Jaejoong mengalihkan perhatiannya ke arah pintu masuk dimana disana berdiri sosok yang ia kenal namun tidak ia harapkan perjumpaan dengannya. “Mungkin ada janji dengan rekan kerjanya atau kantornya memang berada didekat sini.” Komentar Jaejoong tidak acuh.

“Hei Jung Yunho!” Jessica melambaikan tangan kanannya pada Yunho. Yunho yang melihatnya segera tersenyum dan balas melambaikan tangannya sebelum seorang perempuan menghampirinya dan mengajaknya memasuki ruang VIP di café tersebut. “Eh? Dia sudah punya yeoja chingu ya?” gumam Jessica.

“Dia pria dewasa yang normal. Wajar kalau dia punya pasangan, kan?” dengan ringan Jaejoong berkata seperti itu tetapi hatinya terasa sedikit nyeri.

❤❤❤

“Perempuan tadi adalah bawahanku di kantor.”

Jaejoong nyaris terlonjak kaget ketika tiba-tiba saja Yunho berdiri di sampingnya saat dirinya hendak membuka pintu mobilnya. Menutup mata untuk menetralkan debaran detak jantungnya yang memacu cepat akibat kaget, Jaejoong lantas menatap tajam Yunho dengan pandangan sengit dan kesal. “Apapun hubunganmu dengan perempuan tadi sama sekali tidak ada urusannya denganku!”

“Aku hanya tidak ingin kau salah paham padaku.”

Jaejoong tertawa bodoh. “Untuk apa aku salah paham padamu? Kau ini aneh sekali!” ucapnya tak acuh. “Sekarang menyingkirlah karena aku harus bergegas.”

Yunho mencekal pergelangan tangan Jaejoong, menghadapkan Jaejoong padanya kemudian mencium paksa bibir merah penuh itu dengan rakus. Jaejoong meronta namun Yunho terus memaksanya, menyudutkannya hingga punggung Jaejoong membentur mobil.

“Apa yang kau lakukan?” dengan brutal Jaejoong menonjok wajah Yunho. Amarah tercetak celas pada mata indah berbingkai kaca matanya.

“Hargailah perasaanku sedikit!” gumam Yunho.

Dengan kesal Jaejoong masuk dalam mobilnya dan segera pergi dari tempat brengsek yang membuatnya malu dan marah.

Tertatih, Yunho bangun dari ketersungkurannya, berjalan perlahan menuju mobilnya sendiri sebelum pergi mengikuti jejak Jaejoong tanpa menyadari ada sepasang mata yang mengalirkan cairan bening usai melihat apa yang sudah Yunho lakukan pada Jaejoong.

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

TBC

❤❤❤

❤❤❤

Sebelumnya Yuuki minta maaf karena Chap 3 yang seharusnya menjadi Chap end belum bisa Yuuki selesaikan walaupun sangat ingin Yuuki selesaikan bersamaan dengan 2 chap ini tetapi apa boleh buat, keterbatasan Yuuki🙂  Yuuki agak sok sibuk di real karena selain ditunjuk menjadi pembimbing & penguji karya tulis ilmiah Yuuki juga harus mengurus surat pindah serta persidangan karena sebuah masalah. Selain itu Yuuki mau menyampaikan penyesalan Yuuki dari hati yang terdalam karena Yuuki harus hiatus untuk beberapa bulan sehingga hutang epep yang lalu terpaksa dipending. Tenang saja, semua draffnya sudah Yuuki selesaikan tinggal edit. Tetapi proses editing itu bahkan jauh lebih sulit daripada membuat draff itu sendiri (menurut Yuuki sih). Yuuki juga harus istirahat untuk persiapan operasi mata kiri Yuuki, kegiatan didepan layar computer & laptop harus mulai dikurangi. Mohon doanya agar semuanya berjalan lancar biar Yuuki bisa segera membayar semua hutang epep Yuuki ya🙂

Tetap jaga kesehatan….

Sampai jumpa dipertemuan selanjutnya😀 V

❤❤❤

Saturday, April 02, 2016

8:40:45 AM

NaraYuuki

8 thoughts on “Sekuel Vengeance II

  1. semoga kk cepet sembuh yah dan jangan terlalu memaksakan diri untuk kesenangan orang lain para reders kk pasti pada ngerti dan aku suka ff ini bikin penasaran🙂
    dan aku berharap egala urusan kk cept lesai yah 😀

  2. yuuki semangat tetap nunggu karyanya yuuki kok
    jaga kesehatan yuuki juga
    semoga semua rencana dan kegiatan yuuki lancar semua
    jangan terlalu mekmasakan diri
    waiting YUUKi

  3. semngat yuuki….semoga cepet sembuh….gak apa kok yg penting yuuki bisa selesaikan semua urusan baik yg real atau maya….hehehe……wah jngan jessi yg ngeliat yunjae kiss…..yun kerjas kepala banget…..biarkan jae bahagia…dah rusak adiknya malah sekarang mau hancurin jae…..napa gak yun aja yg bunuh diri

  4. Cepat sembuh ya. Kurangi dulu interaksi dengan laptop dan hp nya chingu mata sensitif soalnya. Terimakasih tetap menulis walau kurang fit, semoga semua urusan yuuki lancar.
    AKTF Yuuki.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s