Sekuel Vengeance I


“Hei Han Youngwoong, sama seperti dulu… aku tidak pernah menyukaimu. Aku membencimu –bisa dikatakan begitu. Tetapi salahkah aku yang jatuh cinta pada saudaramu? Kini saudaramu mencampakan aku seperti aku mencampakanmu dulu. Aku tidak menyukai perasaan ini tetapi jikalau ini karma untukku karena sudah jahat padamu maka akan aku terima….”

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

Tittle                : Sekuel Vengeance I

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance? Familly? Friendship? A Little bit Angst?

Rate                 : T+

Cast                             : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Park Yoochun, Han Youngwoong & Jung Jessica

Disclaimer:      : They are not mine but this story, OOC Hyunno & Hyunbin are mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran. Tanpa Edit jadi mungkin sedikit amburadul ==” Penceritaan ngebut. Saran dan masukkan diterima. Tidak menerima Bash dan Flamer dalam bentuk apapun!

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

PASTIKAN BACA WARNINGNYA!

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

Sekuel Vengeance

Sejak awal caraku melihatmu dan Youngwoong adalah dua hal yang berbeda. Kalian tidak sama walaupun wajah kalian mirip. Dimataku kau lebih dari Youngwoong.” Ucap Yunho. “Ingin tidur denganmu? Ya. Tentu saja aku ingin. Tetapi aku tidak ingin hanya menjadi pengalaman one night stand saja. Aku ingin serius denganmu.”

Jaejoong tersenyum mengejek. “Kau bahkan tidak berani menciumku.”

“Aku sangat ingin melakukannya. Tetapi aku tidak ingin kau membenciku bila aku melakukannya.

“Kau bahkan sudah meniduri adikku!”

“Ya. Dan kau berbeda dengan adikmu.”

“Cium aku!” perintah Jaejoong.

Yunho melamun, begitulah. Pagi-pagi seperti ini ia justru melamun. Mimpi sialan yang semalam mendatanginya mengingatkannya pada sosok yang selama 10 tahun ini coba ia lupakan. Bahkan ketika membuat kopi tadi ia keliru memasukkan garam ke dalam cangkir kopinya, kopi itu berasa asin, pahit dan getir namun Yunho tetap meminumnya. Mungkin rasa yang menyengat lidahnya itu setimpal dengan kesalahan yang sudah ia perbuat dikala remaja dulu. Melirik jam dinding yang tergantung pada dinding pucat dapur mininya, Yunho masih bergeming dikursinya meskipun jam itu menunjukkan bahwa ia  sudah sangat terlambat untuk mengikuti rapat pemegang saham di perusahaan tempat kerjanya. Terserahlah! Toh kalaupun dirinya tidak berangkat rapat itu akan tetap diselenggarakan, ia tinggal bertanya pada rekan kerjanya yang ditunjuk sebagai notulis rapat. Yunho malas melakukan jenis pekerjaan apapun hari ini. Semangatnya luntur semenjak mimpi itu menyambanginya. Biarlah hari ini ia menuruti hasratnya untuk bermalas-malasan di rumah.

Jemarinya membuka lembar demi lembar buku siswanya dulu. Berhenti cukup lama untuk mengamati deratan foto-foto alumni satu angkatannya yang berjejer sedemikian rupa, berhenti untuk memandang foto sosok yang memiliki mata hitam legam sebening mutiara itu. Bibirnya menggumamkan sesuatu tanpa suara sebelum menghisap puntung rokoknya. Yunho bukan perokok berat, ia menghisapnya hanya ketika sedang frustasi atau dihadapkan pada masalah perusahaan yang pelik.

Yunho hendak merobek lembar berisi foto itu ketika dering ringtone ponselnya mengejutkannya. Tanpa melihat ID si pemanggil, Yunho segera menerima telepon itu.

Direktur Jung, rapat dibatalkan. Manager perencana dan pelaksana mengalami kecelakaan. Sekarang sedang kritis. Kami akan langsung menuju rumah sakit. Alamatnya akan segera ku kirimkan melalui pesan singkat.”

“Oh… bukan kabar yang penting.” Batin Yunho. Tapi meskipun begitu ia harus tetap pergi untuk melihat keadaan bawahannya. Dengan sedikit enggan Yunho menandaskan puntung rokoknya dalam asbak kaca.  Meminum segelas air putih sebelum memutuskan untuk mandi.

❤❤❤

Yah perawat Oh, jangan berlari dibangsal! Kau melanggar peraturan!” teriak seorang perawat senior ketika melihat rekan kerjanya berlarian disepanjang bangsal rumah sakit yang hari itu memang tidak –belum begitu ramai dikarenakan belum memasuki jam besuk.

“Maafkan aku Kepala Perawat! Aku harus mencari si kembar yang kabur sebelum atasan kita menggorok leherku!”

“Astaga anak itu….”

❤❤❤

Yunho sedang menanyakan ruang rawat bawahannya di kantor pada bagian informasi ketika ia merasa celananya ditarik-tarik oleh sesuatu. Yunho menoleh dan melihat seorang anak kecil berkulit pucat sedang menengadah, menatapnya dengan mata kecilnya yang polos itu. Yunho tersenyum melihat wajah tampan anak yang kira-kira berusia 8-9 tahunan itu. Anak kecil adalah sosok polos yang bersih.

“Kau sedang mencari ibumu ya?” tanya Yunho.

Anak kecil itu menggelengkan kepalanya pelan. “Apa Ahjushi melihat kakakku? Katanya dia mau ke toilet tapi sampai sekarang belum kembali. Padahal dia janji padaku akan menemaniku jalan-jalan ke taman naik kursi roda.”

“Siapa nama kakakmu, hm?”

“Hyu….”

Yah! Kim Hyunbin! Seorang suster datang menghampiri anak yang sepertinya familiar bagi Yunho itu, menggendong anak itu dan membawanya pergi dengan tergesa. “Kalau dokter tahu kau kabur, bukan hanya kau yang dimarahi. Jangan diulanginya lagi, arrachi?!”

Yunho tersenyum simpul, anak kecil selalu membawa kebahagiaan tersendiri bagi para orang dewasa, begitu pula baginya yang semenjak SMA memutuskan hidup sendiri. Yunho kembali bertanya pada bagian informasi mengenai ruang rawat bawahannya. Setelah mendapatkan informasi dan mengucapkan terima kasih, Yunho segera saja menuju ruang yang dimaksud oleh perawat yang bertugas menjaga bagian informasi.

Yunho agak kesulitan menemukan ruangan yang dimaksud mengingat rumah sakit itu sangat besar dan luas, terdiri dari 5 lantai dengan lorong dan bangsal-bangsal yang panjang, banyak belokan yang menyesatkan jikalau tidak jeli membaca papan petunjuk arah yang tergantung pada langit-langit.

Kenapa tidak menghubungiku sejak tadi, hah?”

Merasa mengenal suara itu Yunho segera menolehkan kepalanya, ada beberapa orang berjas putih bersih sedang berlari tergesa, dibelakangnya beberapa suster mengikuti dengan wajah tegang. Yunho memandangi gerombolan itu untuk sesaat sebelum akhirnya kembali berjalan. Menemukan petugas keamanan akhirnya Yunho memutuskan untuk bertanya dimana letak ruangan yang sedang ditujunya.

❤❤❤

Akhir-akhir ini Yunho sering merokok padahal ia tidak merasa sebagai seorang perokok berat, mungkin dikarenakan belakangan ini pikirannya kalut seperti benang kusut yang sulit terurai. Menatap pemandangan malam kota Seoul yang tengah diguyur hujan dari balik jendela kaca sambil menikmati rokoknya memberikan sensasi tersendiri bagi Yunho. Yunho lebih memilih rokok sebagai pelariannya daripada minuman keras ataupun rumah bordil. Melirik jam dinding yang membisu di atas sana Yunho, meraih cangkir kopinya. Mengabaikan berkas-berkas yang harus diperiksa dan ditandatanganinya. Entahlah… Yunho malas melakukan apapun, hanya ingin berdiam diri ditemani sebungkus rokok dan secangkir kopi.

“Kalau boleh berandai-andai… akan seperti apa jadinya hidupku jikalau kau tidak meninggalkanku malam itu, Jae?” lirihnya pada udara hampa disekitarnya.

Yunho menandaskan puntung rokoknya, menyandarkan punggungnya pada punggung sofa, menyilangkan kakinya di atas meja, menengadah menatap langit-langit yang pucat –mengingatkannya pada kulit Jaejoong yang pucat namun indah, kulit yang pernah ia ukir dengan jejak-jejak cinta diatas permukan lembut lagi kenyalnya.

“Sialan!” Yunho mengumpat, “Kau benar-benar brengsek! Membuatku ingin membunuhmu!” Yunho menutup kedua kelopak mata musangnya dengan nelangsa. Membiarkan air mata kurang ajar itu merembes mengalir membasahi wajah tampannya. Untuk sekali ini Yunho ingin menyerah pada perasaannya yang sedang melemah.

❤❤❤

Terlalu sering mengabaikan makan, menggantinya dengan kopi dan rokok membuat Yunho terpaksa dilarikan ke rumah sakit karena masalah pada lambungnya. Tadi, ia merintih kesakitan sebelum pingsan pada saat sedang memimpin rapat. Beruntung bawahannya segera melarikannya ke rumah sakit agar segera mendapatkan pertolongan.

“Aku menginap di sini semalam.” Ucap Jaejoong yang tengah sibuk membolak-balikkan halaman sebuah buku tebal. “Ini café milik keluarga Yoochun.” Tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku, Jaejoong menunjuk arah kasir, Yunho mengikuti petunjuk Jaejoong. Dibalik meja kasir sudah berdiri Park Yoochun dengan senyum khasnya, tangannya melambai menyalami Yunho.

“Kalian seperti sepasang kekasih.” Komentar Yunho.

“Aku sudah memesan camilan dan minuman untuk kita berdua tetapi akan diantar nanti tepat pukul 9 karena sebelumnya kita berjanji untuk bertemu pukul 9.”

“Kau yang menyuruh bukan kita yang berjanji.”

“… soal aku dan Yoochun yang mirip sepasang kekasih… kalaupun aku mau mengencani seorang namja aku akan mencari namja yang jauh lebih hebat daripada diriku sendiri.” Ucap Jaejoong.

Yunho membuka matanya perlahan. Potongan kenangan masa lalu menyebalkan itu muncul sebagai refleksi mimpi –mimpi indah yang berwujud dan dirasa buruk bagi Yunho. Matanya melirik suster yang sedang memeriksa keadaannya, selang infuse yang tergantung, serta ruangan pucat membosankan yang ia yakini dapat membunuhnya perlahan-lahan.

“Sudah bangun, Tuan? Sebentar lagi dokter akan datang untuk memeriksa perkembangan kondisi anda.” Suster itu tersenyum ramah.

Yunho diam saja. Wajahnya ia palingkan pada kaca jendela yang berembun, di luar sedang gerimis rupanya.

“Asam lambungnya tinggi? Bukankah dokter jaga UGD mengatakan ia mengalami tukak lambung yang mengarah pada peptik?” tanya sang dokter yang baru masuk ruang rawat Yunho. “Mana hasil labnya?”

“Belum keluar, Dok.” Jawab sang suster sambil menyerahkan rekap medis Yunho pada sang dokter.

“Tuan Jung… Yunho? Tuan Jung Yunho?”

Dengan malas Yunho Menolehkan kepalannya, ia malas berurusan dengan dokter apalagi dokter yang sekarang berdiri di dekatnya, membuat matanya terbelalak dan jantungnya berlompatan hendak keluar dari tempatnya berada. Yunho tergagap, ingin menyebut nama dokter itu namun suaranya tak mau keluar.

“Untuk sementara anda tidak boleh minum kopi dulu, Pak! Kurangi makanan yang terlalu asam dan pedas.” Perintah si dokter, “Kalau anda menuruti saranku dan minum obat tepat waktu, anda akan segera sembuh.”

Yunho hanya bergeming (diam saja) ketika sang dokter berlalu dari ruang perawatannya diikuti oleh para suster.

❤❤❤

“Suster, kenapa dokter Kim yang awalnya menanganiku digantikan oleh dokter Han?” tanya Yunho ketika suster melepas peralatan medis yang sebelumnya menempel pada tubuhnya. Yunho sudah dirawat di rumah sakit selama 5 hari dan hari ini adalah hari terakhirnya.

Sang suster hanya tersenyum simpul, “Dokter Kim adalah salah satu dokter yang bertugas menangani penyakit dalam, ada pasien lain yang terkena penyakit lebih serius daripada tukak lambung yang anda alami Tuan Jung. Karena itu kepala bagian mengganti dokter yang menangani anda.” Jawab sang suster.

Yunho menggumamkan sesuatu sebelum bicara lebih lanjut. “Bisakah aku mendapatkan kontak dokter Kim?”

“Itu adalah informasi rahasia, Tuan Jung.” Sang suster berujar. “Anda tidak bisa mendapatkannya melalui pihak rumah sakit karena itu adalah informasi rahasia. Tetapi bila anda ingin mengetahui kontak dokter Kim, anda bisa menemuinya dan meminta langsung padanya.”

Yunho berdecak kecewa.

Usai membereskan sampah medis di kamar Yunho, sang suster akhirnya pergi meninggalkan ruang rawat Yunho.

“Ketika aku sudah menemukanmu entah mengapa kau sulit untuk ku pegang. Seperti belut yang gesit dan licin….” Gumam Yunho putus asa.

❤❤❤

Keluar dari rumah sakit Yunho langsung pergi ke kantor untuk memeriksa keadaan kantornya sekaligus untuk mengecek ada tidak berkas atau laporan yang harus ia tanda tangani. Rapat-rapat yang sedianya bisa terselenggara lebih awal terpaksa dicancel karena Yunho masuk rumah sakit. Sekertarisnya pastilah bekerja keras untuk hal itu. Yunho berjanji akan memberikan sedikit bonus pada sekertaris dan bawahannya yang sudah bekerja dengan giat dan tekun.

“Kenapa langsung ke kantor? Istirahat saja dulu di rumah!”

“Harusnya kau memikirkan kesehatanmu bukan kantor!”

“Urusan kantor bisa dipending tetapi urusan kesehatan tidak bisa dipending, Direktur Jung!”

“Sebaiknya cuti saja dulu sampai kondisimu benar-benar stabil, Yunho!”

Itu adalah beberapa komentar yang dikeluarkan oleh rekan kerja dan bawahan Yunho dikantor begitu melihat kedatangan direktur muda itu. Bahkan ayahnya –presiden direktur, menyuruhnya untuk pulang dan beristirahat sampai kondisinya benar-benar fit. Namun Yunho menanggapinya dengan enteng. Istirahat di rumah sama saja cari mati! Yunho akan teringat pada Jaejoong dan berandai-andai hubungan mereka bisa lebih baik –Yunho masih berharap Jaejoong kembali kesisinya walaupun Jaejoong membawa bara api dendam untuk membakarnya, akan Yunho terima dengan tangan terbuka asalkan Jaejoong bersamanya.

“Direktur, ada undangan dari direktur Tan –Big East Company. Putri bungsunya akan bertunangan akhir pekan nanti. Undangannya saya letakkan di atas meja kerja anda.” Ucap sang sekertaris. Yunho tidak pernah memiliki sekertaris muda yang berpenampilan seksi lagi hobi bersolek. Yunho lebih suka sekertaris yang sudah menikah ataupun berkeluarga karena menurutnya orang yang sudah berkeluarga lebih dapat bertanggung jawab dan mengatur waktu dengan baik.

“Putri Bungsunya? Jung Suyeon –Jessica?” gumam Yunho. “Akhirnya dia menemukan namja yang berhasil menjinakkannya juga.” Yunho kemudian berjalan memasuki ruang kerjanya yang sejak 5 hari lalu terpaksa ia tinggalkan.

Tidak ada yang berubah kecuali tumpukan berkas yang menggunung di atas meja kerjanya. Ruangannya masih bersih dan wangi sama seperti terakhir ia tinggalkan. Yunho berjalan perlahan menghampiri meja kerjanya, mengusap permukaannya yang terasa lembut namun keras itu sebelum duduk di atas kursi kerjanya yang empuk. Yunho kemudian mengambil undangan berwarna merah maroon berpita emas yang terlihat sangat mewah untuk sebuah undangan pertunangan itu kemudian membacanya. Mata setajam musangnya yang terbingkai kelopak mata sipit itu terbelalak, napasnya memberat, keringat mulai merembes membasahi pori-pori kulitnya. Bukan… penyakitnya tidak kambuh lagi. Bukan itu yang membuat Yunho bereaksi seperti itu melainkan nama yang tercantum dalam undangan pertunangan yang sedang ia peganglah yang menjadi alasannya. Di samping nama Jung Suyeon tercetak dengan rapi nama orang yang membuat hatinya kacau, Kim Jaejoong. Dengan kasar Yunho segera melempar undangan itu. Yunho linglung dan bingung seolah-olah otak dan pikirannya dicabut paksa dari tubuhnya.

Jaejoong… Kim Jaejoongnya akan bertunangan dengan Suyeon –Jessica, teman SMAnya sebelum ia pindah ke SMA Jaejoong karena kesalahan yang sudah ia perbuat pada saudara kembar Jaejoong? Yunho menggebrak meja kerjanya kasar sebelum menjambak rambutnya sendiri.

Tunggu dulu! Kim Jaejoong… yang memiliki nama itu bukan hanya seorang saja. Yunho harus memastikannya dengan mata kepalanya sendiri siapa sosok Kim Jaejoong yang akan bertunangan dengan Jessica, akhir pekan nanti…

❤❤❤

Akhirnya Yunho datang juga kesebuah private garden party, pesta pertunangan teman semasa SMAnya dulu dengan sosok yang namanya membuat Yunho gusar meskipun belum tentu siempunya nama sama dengan sosok yang Yunho maksud.

Yunho bisa melihat wajah bahagia Jessica yang memakai gaun berwarna salem sebatas lutut, membuatnya terlihat cantik dan anggun. Tetapi tetap, dimata Yunho sosok Jessica tetaplah Jessica yang super cerewet dan menyebalkan. Jikalau teringat kejahilan yang pernah dirinya dan Jessica lakukan dulu –mengunci teman sekelas mereka di perpustakaan misalnya membuat Yunho tersenyum geli.

Yah Jung! Kau datang juga?” Jessica berjalan menghampiri Yunho dan menyalaminya selayaknya teman lama yang sudah tidak bertemu bertahun-tahun, mereka memang sudah tidak bertemu semenjak Yunho pindah sekolah.

“Kau tidak berubah! Masih sebrutal dulu…” gurau Yunho.

Yah! Jangan katakan itu pada calon suamiku, arraso?! Kalau kau berani buka mulut soal masa remaja kita akan ku cincang kau!” Jessica tertawa pelan. “Aku sedikit terkejut ketika Appaku menuliskan namamu dalam daftar nama undangan. Kau benar-benar seorang direktur ya sekarang?”

Yunho hanya tersenyum simpul mendengar celoteh Jessica. “Aku tidak melihat tunanganmu.”

“Ah, dia bukan dari kalangan bisnis. Dia adalah masyarakat medis. Kau tahu, dia lebih sibuk daripada semestinya.” Ucap Jessica. Kepalanya menoleh mencari-cari sosok tunangannya yang baru disadarinya menghilang entah kemana. “Mungkin dia sedang mengurus adik-adiknya yang masih kecil. Dia sudah tidak punya orang tua. Ayahnya seorang dokter gigi, ada pasien yang menderita HIV namun saat datang untuk berobat ia tidak mengatakan perihal virus berbahaya yang bersemayam dalam dirinya. Ayahnya terkontaminasi virus itu dan pada akhirnya meninggal. Sedangkan ibunya meninggal setelah melahirkan adik-adiknya.” Wajah Jessica berubah sedikit sendu.

“Dia pasti orang yang hebat! Bisa mengasuh adiknya sendiri. Dia juga pasti orang yang luar biasa karena bisa menjinakkan rubah sepertimu.”

Yah!” Jessica meninju pelan bahu kiri Yunho. “Itu dia….”

Yunho segera menolehkan kepalanya mengikuti arah pandang Jessica. Tubuhnya membatu melihat sosok yang sedang menggandeng sepasang anak kembar –salah satunya pernah Yunho lihat di rumah sakit ketika sedang menjenguk bawahannya. Jantungnya berpacu cepat seolah ada hal menakutkan yang sedang mengejarnya meminta pertanggungjawaban.

“Kami bertemu ketika berada di rumah sakit Amerika. Saat itu dia masih dokter magang sementara aku sedang menjenguk temanku yang mengalami kecelakaan. Sekarang dia sudah bekerja disalah satu rumah sakit disini, dia juga sedang mengambil program S3 disalah satu universitas. Benar-benar orang yang sibuk, kan? Kami bahkan jarang berkencan.” Gerutu Jessica, ada nada bahagia dalam setiap kata-kata yang ia lontarkan.

Telinga Yunho menuli, ia tidak bisa mendengar apa yang Jessica katakan. Matanya terpaku menatap sosok yang berjalan menuju arahnya –arah Jessica lebih tepatnya. Jantungnya seakan meledak ketika sosok itu melewatinya begitu saja seolah-olah dirinya adalah manusia transparan.

“Dari mana saja? Aku mencarimu sejak tadi.” Nada suara Jessica berubah sedikit manja.

“Hyunno kebelet pipis tadi.”

Jessica mengusap wajah kedua anak kembar itu dan tersenyum sumpringah, “Kalian tidak mau mengambil ice cream? Mintalah pada ahjumma di sana ya….”

Kedua anak kembar itu segera berlari menuju meja yang diatasnya terdapat banyak cup berisi ice cream aneka rasa.

“Ku kenalkan pada temanku….” Jessica menggandeng lengan kanan tunangannya, mendekati Yunho. “Namanya Jung Yunho, teman SMAku dulu sekaligus partner kriminalku. Yunho… ini dia tunanganku, Kim Jaejoong….”

❤❤❤

❤❤❤

TBC

❤❤❤

❤❤❤

Yuuki ngawur soal istilah medis di atas ya. Entah benar atau ga😀 V. Kalau Yuuki salah menggunakan istilah medisnya monggo yang tahu boleh mengoreksi🙂

Tetap jaga kesehatan❤

❤❤❤

Thursday, March 24, 2016

6:57:59 PM

NaraYuuki

2 thoughts on “Sekuel Vengeance I

  1. yessss Yuuki kembali dengan sekuel yang ditunggu tunggu
    ga nyangka lanjutan ceritanya bakal kaya gini
    tapi bikin penasaran bgt
    lanjutkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s