Devil Trapped


Tittle                : Devil Trapped

Writer               : NaraYuuki

Genre               : JUJUR YUUKI GA TAHU T_T (yang tahu monggo kasih tahu Yuuki)

Rate                 : T

Cast                             : Jung Yunho, Kim Jaejoong

Disclaimer:      : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran. Tanpa Edit jadi mungkin sedikit amburadul ==” Penceritaan ngebut. Saran dan masukkan diterima. Tidak menerima Bash dan Flamer dalam bentuk apapun!

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

PASTIKAN BACA WARNINGNYA!

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

Devil Trapped NaraYuuki

Cerita ini sedikit, ah… mungkin juga cukup banyak berkaitan dengan hidupku. Tentang dua orang ilmuan yang tiba-tiba saja menghilang dari pondok penelitian mereka. Cerita ini ku dengar dari para tetua.

Ceritanya bermula 20 tahun yang lalu ketika dua orang ilmuan datang ke tanah suku Patola, dimana penduduknya masih begitu primitif dan menjunjung tingggi tradisi, dimana hutan dan penghuninya masih belum terjamah oleh modernisasi, yang mana penduduknya masih mempercayai dongeng pengantar tidur mereka tentang keberadaan ular monster yang sering mendatangkan mimpi buruk bagi anak-anak.

Dua ilmuan itu bernama Jung Yunho dan Kim Jaejoong. Mereka meneliti kehidupan ular-ular yang hidup di tanah Patola. Mulai dari ular Patola, ular sanca, ular sawa, ular sendok sampai tedung cobra. Tanah lembab hutan hujan memang sangat cocok menjadi habitat hidup binatang melata berdarah dingin itu. Kedua ilmuan itu membawa banyak peralatan untuk meneliti kehidupan para ular, mereka bahkan membangun sebuah pondok sederhana yang selain mereka gunakan sebagai tempat tinggal juga digunakan sebagai tempat menelitian –laboratorium mini. Pondok itu dibangun satu kilo meter didalam hutan dari pemukiman para penduduk setempat. Setiap 2-3 hari sekali mereka keluar dari pondok untuk membeli keperluan makanan, obat-obatan dan pakaian di desa terdekat atau sengaja ke kota.

Selama dua tahun penelitian banyak informasi yang sudah mereka dapatkan yang belum pernah didapatkan oleh ilmuan-ilmuan lain. Selama 2 tahun itu pula keduanya bisa hidup berdampingan dengan penduduk setempat. Tidak jarang mereka ikut diundang jikalau ada acara atau upacara adat. Semua berjalan selaras dan damai hingga suatu ketika seorang penduduk ditemukan tidak bernyawa dipinggir sungai besar dengan keadaan mengenaskan, tubuhnya tercabik-cabik, isi perutnya sebagian keluar, darah membasahi tanah disekitarnya.

“Apakah ada binatang liar seperti harimau dan beruang yang tinggal dihutan?” tanya Yunho ketika menghadiri pemakaman penduduk yang menjadi korban. “Kenapa selama ini kami tidak mengetahuinya?”

“Tidak ada. Ratusan tahun lalu harimau dan beruang sudah diusir pergi dari sini oleh nenek moyang suku Patola.” Jawab kepala suku.

“Apakah ini ada kaitannya dengan ular monster –sang naga melata?” tanya salah seorang penduduk.

“Ular monster?” gumam Jaejoong. Ditatapnya Yunho dengan mata indahnya. Yunho hanya mengangkat bahunya, tidak mengerti apa atau mahluk seperti apa ular monster –naga melata yang dimaksud.

“Itu adalah cerita turun temurun suku kami. Sejak ribuan tahun yang lalu di tanah Patola ini dikabarkan ada sebuah mahluk primitif yang hidup dalam kegelapan. Kami menyebutnya ular monster –naga melata karena konon ia adalah mahluk berbentuk ular dengan ukuran sangat besar.” Cerita sang kepala suku. “Sampai saat ini tidak ada yang pernah melihatnya. Namun kami percaya disuatu tempat dikedalaman hutan, ditanah terlarang ia hidup menyendiri.”

Yunho dan Jaejoong hanya saling pandang. Rasa penasaran dan tertarik mengenai mahluk yang dimaksud segera merasuki jiwa dan pikiran keduanya.

“Sebaiknya kalian menginap dulu di sini!” usul sang kepala suku, “Malam ini malam bulan baru. Konon dalam dongeng sang naga melata akan muncul untuk melepaskan dahaganya.”

“Dia akan minum di sungai?” tanya Jaejoong.

“Dia akan memangsa manusia yang tersesat didalam hutan untuk diminum darahnya sampai habis.” Jawab sang kepala suku.

“Mirip vampire?” gumam Jaejoong.

❤❤❤

Arang api unggun yang dinyalakan mulai padam, asap tipis masih mengepul. Kerlip bintang dilangit terlihat menggoda bagaikan seerbuk gula diatas kue donat hangat. Suara nyanyian malam dari para binatang nocturnal yang biasanya semarak memecah keheningan, hari ini sama sekali tidak terdengar. Bahkan jangkrik pun seolah sedang bersembunyi ditempat persembunyiannya yang nyaman. Dalam keheningan yang takzim namun tidak normal itu, sesuatu berjalan diam-diam, mengendap-endap mendekati pemukiman penduduk. Warna kulitnya yang segelap malam membuatnya tersamarkan diantara gelapnya bayangan pepohonan. Langkahnya pelan, kerisik ketika ia bergesekan dengan dedaunan hutan yang dingin pun terdengar begitu lembut seperti bisikan dewi hutan yang menentramkan namun menyimpan bahaya yang tidak terelakan. Desis aneh yang ia keluarkan seolah mengancam mahluk lain yang coba mendekatinya. Ia terus mendekati pemukiman, mata merahnya menyala dalam kegelapan. Ekornya bergerak mencambuk-cambuk permukaan tanah, tetapi tidak ada yang terbangun akibat suara yang ditimbulkannya seolah-olah ia mempunyai sihir. Sihir untuk menidurkan siapapun yang diinginkannya.

❤❤❤

“Astaga!”

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Siapa pelaku keji yang melakukannya?”

Yunho dan Jaejoong yang awalnya masih terlelap di rumah kepala suku bergegas pergi keluar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat penduduk terdengar begitu panik dan gaduh. Banyak warga yang bergerombol dihalaman depan rumah salah seorang warga.

“Apa yang terjadi?” tanya Yunho.

“Sapi dan kerbau Rasus mati.” Jawab salah seorang warga.

Yunho segera berlari menuju kandang yang ada di belakang rumah untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Matanya membulat tidak percaya ketika melihat 10 ekor sapi dewasa dan 5 ekorkerbau dewasa mati kering. Tubuh hewan ternak itu hanya tinggal tulang dan kulit saja. Padahal setahu Yunho hewan ternak Rasus adalah yang paling gemuk diantara penduduk desa. Yunho merinding melihatnya.

“Hutan akan sedikit berbahaya mulai sekarang. Berhati-hatilah! Jangan lupa bawa senjata dalam keadaan apapun untuk berjaga-jaga!” sang kepala suku menepuk-nepuk bahu Yunho sebelum pergi meninggalkan kandang tersebut diikuti oleh beberapa tetua yang kesemuanya memasang wajah cemas.

“Apakah ini ada hubungannya dengan ular monster –naga melata itu?” tanya Jaejoong yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping Yunho.

“Kita adalah ilmuan. Tugas kita mencari tahu sebenarnya binatang apa yang sudah menyebabkan kekacauan disini!” timpal Yunho sambil melemparkan senyum manis pada Jaejoong.

❤❤❤

 

“Hei Yun, mari kita makan dulu. Ini sudah larut. Kita butuh tidur juga.” Ucap Jaejoong.

Yunho yang sedang sibuk dengan kertas-kertas hasil penelitian mereka selama ini bergumam sekenanya, memasukkan kertas-kertas itu ke tempatnya semula sebelum berjalan menghampiri Jaejoong. “Apa menu kita malam ini?” tanyanya yang langsung duduk di atas kursi kayu.

“Sup kimchi dan telur mata sapi.” Jawab Jaejoong. “Bahan makanan kita sudah habis, besok aku akan pergi ke desa untuk berbelanja.”

“Akan ku temani.” Yunho menerima semangkuk nasi panas yang diulurkan oleh Jaejoong. “Ada yang aneh disekitar sini, suara burung berkicau, suara jangkrik, suara katak bahkan suara ngengat pun tidak trsengar sama sekali sejak beberapa hari yang lalu.”

“Mungkin karena sebentar lagi peralihan musim.” Sahut Jaejoong sekenanya.

“Kita sudah berada disini selama 2 tahun lebih. Perubahan musim tidak membuat para binatang eggan bersuara.” Komentar Yunho.

Jaejoong yang sedang menuang black tea ke dalam mug hanya mengangkat bahunya tak acuh. “Apa kau berpikir ini ada kaitannya dengan ular monster itu?”

“Entahlah… keberadaannya belum bisa dilacak. Entah hewan itu nyata atau hanya dongeng belaka tetapi kejadian beberapa minggu terakhir cukup membuat resah. Matinya binatang ternak penduduk desa secara tidak wajar benar-benar membuat penasaran.”

Jaejoong mengangguk setuju.

“Terlebih ketika kita secara tidak sengaja menemukan gerombolan serigala yang mati mengenaskan sama seperti binatang ternak penduduk. Siapapun pelakunya pasti sesuatu –binatang yang sangat besar dan kuat.”

“Apa yang akan kita lakukan seandainya ular monster itu benar-benar ada dan muncul disini?” tanya Jaejoong sedikit resah.

“Kita akan minta bantuan untuk menangkapnya agar tidak meresahkan penduduk dan membahayakan ekosistem hutan.”

❤❤❤

Malam itu tanah Patola diguyur hujan lebat, gemuruh suara angin dan petir terdengar saling bersahutan menimbulkan irama mencekam tersendiri. Yunho dan Jaejoong sudah sering menghadapi badai ditanah Patola namun kali ini –malam ini suasananya sedikit berbeda. Keduanya tidak bisa terlelap meskipun jam dinding yang tergantung pada dinding kamar mereka sudah menunjukkan nyaris tengah malam. Yunho dan Jaejoong masih terjaga di atas tempat tidur masing-masing dengan pikiran yang kalut. Entah apa pula yang ada dibenak mereka.

Krosak! Krosak!

Brak! Bruk!

Dengan mata tegang, Yunho dan Jaejoong saling pandang dengan waspada. Keringat dingin merembes membasahi seragam tidur mereka. Jantung mereka memacu cepat tanpa diminta.

“Yun…”

“Ambil pistolmu, Jae!” perintah Yunho. Jaejoong adalah putra seorang pengusaha kaya raya, sejak kecil ia hobi menembak dan beberapa kali menjuarai kejuaraan menembak.

Sedikit panik dan tergesa Jaejoong membuka laci yang berada diantara tempat tidurnya dan tempat tidur Yunho, mengambil sebuah pistol dari dalamnya dan segera mengisinya dengan peluru. Sementara Yunho sendiri sudah mengambil senapan laras panjangnya yang sengaja ia gantung pada dinding di atas tempat tidurnya.

“Apakah perampok?” tanya Jaejoong.

“Akan dengan mudah kita melumpuhkan seandainya yang datang berkunjung adalah perampok. Aku takut yang mengunjungi kita malam ini bukanlah manusia.” Ucap Yunho dengan wajah sedikit pucat.

Jaejoong menelan ludah susah payah.

“Aku akan berjalan didepanmu, Jae! Jika kemungkinan kita gagal menghadapi tamu kita, segeralah lari!” Yunho berjalan mendahului Jaejoong, sedikit ragu namun pada akhirnya ia membuka pintu yang menghubungkann kamar mereka dengan laboratorium sederhana mereka.

Klek!

Untuk sepersekian detik Yunho dan Jaejoong membatu diambang pintu kamar melihat sosok itu. Tamu mereka sedang menggulung tubuh besar lagi panjangnya. Matanya yang merah menatap tajam keduanya, lidah bercabangnya menjulur berkali-kali seolah-olah sedang memperingatkan dua ilmuan itu pada bahaya yang kini tepat berada dihadapan mereka. Kulit bersisiknya yang segelap malam membuatnya terlihat seperti iblis.

Dor! Dor!

“Yunho!” jerit Jaejoong menyadarkan Yunho. Sama seperti yang tengah Jaejoong lakukan, Yunho pun mengarahkan moncong senapan laras panjangnya pada mahluk mengerikan itu, lantas menarik pelatuknya.

Malam itu… ditengah guyuran hutan serta suara angin yang menderu dan jeritan petir yang bersahut-sahutan, terdengar pula suara peluru dilesakkan, terdengar pula suara desisan mengancam serta teriakan ketakutan sebelum hening yang khidmat.

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

Sudah hampir dua minggu para penduduk tidak melihat keberadaan Yunho dan Jaejoong, padahal biasanya 3-5 hari sekali mereka akan pergi ke desa untuk membeli keperluan mereka sehari-hari mulai dari sayur, daging, telur sampai peralatan mandi dan obat-obatan tradisional –jamu atau ramuan obat masyarakat setempat. Untuk itulah kepala suku mengajak beberapa warga terutama laki-laki dewasa untuk melihat keadaan pondok yang dua ilmuan itu tempati. Hari agak siang ketika mereka berangkat menembus rerimbunan pohon hutan, namun teriknya surya tidak bisa mereka rasakan dikarenakan atap hutan yang menaungi mereka sangat lebat.

Pondok itu tampak dingin dan tidak bersahabat bila dilihat dari kejauhan. Beberapa kali sang kepala suku mengetuk pintu pondok namun tidak ada sahutan. Ia memerintahkan dua orang warga untuk mendobrak pintu. Setelah pintu berhasil terbuka –secara paksa− barulah mereka mulai menyadari apa yang telah terjadi. Pondok itu dalam keadaan berantakan, meja dan kursi kayu tergeletak di atas lantai dalam kondisi tidak wajar, kertas dan berkas-berkas berserakan di lantai. Komputer dan sebuah benda menyerupai televisi kecil hancur. Lemari kayu tempat menyimpan tabung-tabung penelitian roboh, isinya tercecer dilantai. Jendela kaca pecah, gorden yang menutupinya robek sebagian. Terdapat bercak ceceran darah pada lantai dan dinding yang sudah menghitam dan kering.

Dengan hati-hati sang kepala suku beserta beberapa warga yang ikut bersamanya memeriksa isi pondok. Aneh! Mereka tidak menemukan mayat. Biilik kamar yang masih tertutup rapat segera dibuka untuk melihat siapa tahu dua ilmuan itu masih hidup namun terluka parah dan sekarang berada didalam kamar untuk beristirahat –itu harapan semu mereka− tetapi kenyataannya kamar itu kosong ketika mereka memasukinya. Hanya ada sebuah buntalan putih diatas salah satu tempat tidur. Kepala suku memeriksanya, seorang bayi sedang terlelap dalam bungkus kain sutra putih gading. Diangkatanya bayi itu. Wajah bayi itu mengingatkannya pada dua ilmuan yang menghilang entah kemana. Pada paha sebelah kanannya terdapat tanda lahir menyerupai lekuk ular.

Hening…

Angin yang masuh dari celah fentilasi mengibarkan jas putih yang biasa Jaejoong dan Yunho pakai.

“Kita akan kembali ke desa bersama anak ini. Sampai Jung Yunho dan Kim Jaejoong ditemukan tidak ada satupun warga yang boleh mendekati pondok ini sendirian tanpa senjata!” ucap sang kepala suku.

❤❤❤

Semenjak hari itu terdengar suara desisan aneh disekitar pondok yang terbengkalai itu. Kadang-kadang sekelebatan terlihat mahluk –binatang berkulit hitam bermata merah melata disekitar pondok. Sosok yang sampai sekarang tidak diketahui mahluk apa itu….

“Dan aku diberi nama Jung Yunho. Aku diangkat cucu oleh Kepala suku Patola. Setiap kali sosok itu mendekati desa aku akan merasakan kehadirannya. Desisan aneh itu selalu terdengar olehku. Beberapa kali kami –aku dan penduduk desa hampir berhasil menangkapnya. Sayangnya ia terlalu gesit bila malam hari. Namun aku yakin suatu saat mahluk itu pasti akan tertangkap.”

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

Friday, April 15, 2016

7:15:29 PM

NaraYuuki

3 thoughts on “Devil Trapped

  1. Ini beneran selesai? Masih terlalu banyak teka teki. Dari apa tujuan makhluk itu, terus kenapa kalau Yun sama Jae emang dimakan tapi gak ada mayatnya? Terus bayi itu berasal darimana? Apa anak Yun sama Jae? Atau ini kayak siklus hidupnya YunJae? Ah, molla -_-
    Berharap ini ada sequelnya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s