Youre Not a Bad Girl 8


BAB VIII

Go Home

❤❤❤❤❤❤

 Youre not a bad Girl (2)

“Aku akan berangkat duluan, Kak….” Ucap Emir yang sudah satu minggu menetap di rumah Achiel bergegas berangkat ke kantor. Emir mulai bekerja di perusahaan orang tua mereka yang kini berada dibawah kepemimpinan Achiel.

Sudah satu bulan pasca kepulangan Emir. Setelah 3 hari menetap di kampong halaman ibunya guna mengunjungi orang tuanya, pemuda jangkung itu memilih menetap di rumah kakaknya. Rumah Achiel besar dan memiliki banyak kamar, jadi tidak masalah bukan? Hanya saja Emir sedikit tidak betah mendengar pertengkaran yang kerap terjadi antara Achiel dan Grace, well…. Sebenarnya hanya Achiel yang marah-marah, Grace hanya diam saja diperlakukan seperti itu oleh suaminya.

“Emir, kau tidak makan dulu?” tanya Grace.

“Tidak. Aku mau makan di kantin kantor saja.” Jawab Emir menutup pintu.

Grace diam. Oh…. Bahkan adik iparnya pun ikut bersikap dingin padanya.

“Bersikaplah biasa saja!”

“Chiel….”

Achiel berjalan melewati Grace begitu saja, tak memperdulikan tatapan nelangsa dari perempuan yang berstatus sah sebagai istrinya.

❤❤❤❤❤❤

“Achiel… tolonglah! Ayah benar-benar menginginkan seorang cucu….” Mohon Grace dengan mata berkaca-kaca.

“Baiklah! Akan ku panggilkan orang yang bisa menghamilimu!”

“Achiel!” jerit Grace.

“Jangan memaksaku bertindak kasar padamu Marjerta Grace!” bentak Achiel kesal. Dengan menahan emosi yang merajainya, Achiel berjalan menuju pintu. Udara segar mungkin akan membuatnya lebih baik.

Klek! Pintu terbuka.

Achiel membatu. Untuk sepersekian detik seluruh organ tubuhnya berhenti menjalankan fungsinya. Adiknya baru pulang dari kantor. Okay, tidak ada yang special dengan itu. Hanya saja…. Hanya saja sosok perempuan yang tengah menggandeng lengan kiri sang adik itulah yang membuat Achiel sukses mendapatkan sengatan listrik tegangan tinggi entah dari mana.

“Hai Chel…. Apa kabar? Grace di rumah? Aku ingin menemuinya…. Bolehkah aku masuk?” Tanya perempuan cantik yang mengenakan kemeja berwarna soft pink dan rok rentra selutut berwarna hitam, oh jangan lupakan rambut yang diikat asal-asalan! Membuat perempuan itu terlihat semakin cantik dan menawan.

Achiel masih terdiam, tersihir oleh sepasang mata kelam indah yang sangat dirindukannya.

“Chiel….”

“Hers….” Serta-merta Achiel mendekap erat perempuan cantik itu, sangat erat. Amarahnya luruh entah kemana.

“Lepaskan aku, Chiel! Kau sudah menikah! Ingat itu!” Herschell Coral Alarice. Perempuan yang sangat dicintai Achiel itu melepaskan pelukan Achiel sedikit memaksa.

“Kak Hers langsung masuk saja!” Emir menarik Herschell masuk meninggalkan Achiel yang masih diam terpaku.

❤❤❤❤❤❤

Di sana. Tepat di tengah ruangan seorang perempuan tengah terduduk, wajahnya sembab, wajahnya pucat. Sisa air mata masih membekas diwajahnya membuat riasan wajahnya sedikit berantakan.

“Kau sedang apa Grace?”

Go AhraMarjerta Grace mendongakkan wajahnya, menatap sepasang mata kelam indahitu lekat. Sepasang mata yang sangat dirindukannya namun juga enggan dilihatnya saat ini.

“Hers….” Gumam Grace.

“Aku pulang….” Bibir merah penuh itu melengkung dengan indahnya.

Grace berdiri dari duduknya dan memeluk erat tubuh sang sepupu yang selama enam tahun ini tidak pernah ditemuinya. “Kapan kau pulang?” tanya Grace.

“Baru saja.” jawab Herschell, “Emir yang menjemputku. Katanya dia harus mengambil sesuatu jadi kami mampir ke rumahmu sebentar. Tidak apa-apa, kan?”

“Tidak….” Jawab Grace, “Kau sudah makan? Mau makan bersamaku?”

“Aku dan Emir sudah makan tadi.”

“Dimana Emir?” tanya Grace.

“Kau pasti melamun sampai tidak melihat Emir yang tadi lewat didekatmu. Dia sedang pergi ke kamarnya.” Herschell tersenyum, “Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat. Kau sakit?” tanyanya. Ada sebuah perasaan tidak nyaman ketima melihat wajah Grace sembab seperti itu.

“Aku tidak apa-apa….” Grace menarik tangan Herschell ke sofa dekat mereka, “Ceritakan padaku! Apa yang kau lakukan selama di Amerika hingga kau tidak pulang sekalipun.”

“Tidak ada yang special….”

“Kau sudah bertemu Achiel?” tanya Grace.

“Ya. Di depan pintu, tadi.” Jawab Herschell, “Sepertinya dia mau pergi….”

“Ya, tentu saja…. Ah…. Kau mau minum apa Hers? Biar kubuatkan….”

“Tidak perlu. Emir sudah datang.” Herschell melihat Emir yang bejalan ke arah mereka. “Aku harus segera pulang, ibu pasti akan marah kalau aku terlambat sampai rumah.”

“Ayo Kak Hers….” Emir menarik lengan Herschell, melupakan keberadaan Grace. Atau pemuda jangkung itu memang sengaja?

“Lain kali kita harus pergi belanja sama-sama….” Herschell tersenyum.

“Tentu saja….” sahut Grace.

❤❤❤❤❤❤

Emir membuka pintu mobil berwarna hitam itu untuk Herschell, “Koper dan semua barangmu sudah ada dibagasi, Kak Hers….”

“Emir…. Kau sengaja melakukan ini padaku?” tanya Herschell.

“Sama sekali tidak. Aku hanya mengikuti arus saja, Kak.” Jawab Emir sembari tersenyum, “Ayo masuklah! Tante Xierra sudah menunggumu. Lion juga sudah menungguku, kami janji akan bertanding main game sampai pagi.”

“Baik-baik….” Herschell mengangguk, kemudian masuk ke dalam mobil.

“Hati-hati okay….” Pesan Emir.

“Sampaikan salamku untuk Lion….” pinta Herschell sebelum menutup kembali pintu mobil.

“Siap….” Jawab Emir. Senyum mengembang dibibir Emir begitu mobil hitam itu berjalan meninggalkan kediaman kakaknya dalam kesunyian.

“Kakak ipar…. Aku sangat menyayangimu, jadi aku akan membuatmu merasakan kebahagiaan seperti di neraka. Nikmati saja Marjerta Grace! Ini balasan enam tahun kau membuat kacau keluargaku….” gumam Changmin sambil menatap rumah kokoh sang kakak. “Saatnya mengalahkan Lion….” Emir masuk ke dalam mobil silvernya, bergegas pergi untuk menemui partner gilanya.

❤❤❤❤❤❤

Di dalam mobil hitam yang melaju membelah pusat kota Herschell terdiam, sama sekali tidak bicara. Hanya fokus membaca sebuah novel tebal dan sesekali melihat pemandangan jalanan dari balik kaca hitam mobil.

“Pemilu tahun ini Ayah akan mencalonkan diri sebagai wakil presiden. Kau sudah tahu?” tanya Achiel.

Achiel?

Yeah.

Mobil hitam itu adalah mobil Achiel. Tadi Achiel sengaja membatalkan rencananya untuk mencari udara segar dan memilih untuk menunggu Herschell agar bisa bicara dengan perempuan cantik yang dicintainya itu. Beruntunglah Emir adiknya yang mengiriminya sms dan memintanya untuk mengantarkan Herschell pulang.

Achiel tidak mungkin menolak, bukan? pemuda bermata musang itu memindahkan semua barang-barang milik Herschell yang berada di mobil Emir ke mobilnya. Kesempatan ini akan dimanfaatkan dengan baik oleh Achiel.

“Ya. Kemarin Ibu mengatakannya lewat email.” Jawab Herschell.

“Apa yang akan kau lakukan besok?” tanya Achiel.

“Eum, istirahat dirumah mungkin. Ah tidak…. Aku akan jalan-jalan keluar kota mungkin.”

“Untuk?”

“Mengunjungi ibumu….”

“Aku akan mengantarmu.” Ucap Achiel.

“Tidak!” tolak Herschell.

“Kenapa?” Achiel melirik Herschell menggunakan ekor matanya.

“Kau sudah menikah….”

“Tidak ada masalah dengan hal itu.”

“Jelas ada. Aku tidak mau diantar oleh suami sepupuku sendiri.” Komentar Herschell. “Akan sangat bahaya bila ada gossip tidak mengenakan yang beredar karena hal itu.

“Bisakah kita tidak membicarakan perempuan brengsek itu?!” tanya Achiel dengan suara meninggi.

Herschell menatap Achiel terheran-heran, sedikit kaget karena pemuda itu membentaknya. Well…. Waktu ternyata sudah mengubah pemuda yang pernah menjadi Beruang Besar kesayangannya.

“Kau membentakku….” Lirih Herschell terdengar sedih.

“Tidak…. Aku tidak membentakmu.”

Yeah. Kau membentakku.”

Boo…. Kau tahu aku tidak suka membicarakan perempuan itu ketika kita sedang bersama seperti ini. Tapi kenapa kau selalu membuatku kesal?”

“Dia istrimu…. Juga sepupuku.”

“Lupakan! Tidak peduli dia istriku atau siapa yang jelas aku tidak menginginkannya. Kau mau aku menceraikannya? Akan ku lakukan sekarang juga! Toh kakek sialan yang membuatku terjebak dalam situasi brengsek ini juga sudah mati.” Ucap Achiel penuh kekesalan.

“Bila kau lakukan itu aku akan membunuhmu!”

“Lakukan saja! Sebelum kau melakukannya akan ku kirim tua sialan itu −pamanmu ke neraka, akan ku siksa sepupumu itu sampai mati.” Balas Achiel.

Bear!”

“Aku merindukan panggilan itu darimu….” Achiel tersenyum. Untuk pertama kalinya selama beberapa tahun terakhir ini ia tersenyum bahagia dengan tulus seperti sekarang.

.❤❤❤❤❤❤

Dengan sedikit kasar –tidak sabar Herschell menutup pintu mobil, melangkah masuk ke dalam rumah yang sudah enam tahun tidak ditinggalinya. Rindu…. Dadanya dipenuhi kerinduan pada tempatnya dibesarkan, rindu terhadap sang ibu yang kadang-kadang kelewat cerewet, rindu terhadap sang ayah yang selalu memanjakannya, rindu terhadap kamarnya tentu saja.

“Ayah… Ibu….”

Tap…. Tap…. Tap….

“Astaga! Hers sayang! Ibu merindukanmu, Nak….” Xierra menghambur memeluk putri semata wayangnya yang sangat cantik itu erat. Melepas kerinduan yang selama enam tahun ini ditahannya.

“Istriku, biarkan aku memeluk anakku juga!” protes Lind.

Herschell tersenyum melihat sang ayah, setelah melepas pelukan ibunya yang kelewat erat itu, Herschell berjalan menghampiri pria paruh baya yang berjasa membuatnya lahir ke dunia ini.

“Lihat ini! Anakku semakin cantik saja….” Lind mengusap kepala Herschell yang tengah memeluknya.

“Aku merindukan Ayah….” Lirih Herschell, menumpahkan air mata harunya di dada sang Appa.

Lind tersenyum, “Ayah juga merindukanmu, Sayangku….”

“Astaga! Achiel….” Xierra menghampiri Achiel yang baru masuk dengan menyeret dua buah koper dan beberapa bungkus barang milik Herschell.

“Aku akan istirahat dulu, Ayah… Ibu…. Terima kasih, Bear. Kau bisa pulang sekarang.” Herschell berjalan pergi menaiki tangga menuju kamarnya.

“Letakkan barang-barang Hers di sini saja biar pelayan yang membawanya ke atas. Kau ingin bicara dengannya, kan?” tanya Xierra penuh pengertian, “Pergilah! Kejarlah Hers….”

Achiel tersenyum, usai mencium pipi wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibu sendiri itu Achiel lantas berlari kecil menaiki anak tangga menuju lantai dua.

❤❤❤❤❤❤

Herschell melangkah masuk menuju kamarnya. Ruangan itu masih sama seperti saat terakhir kali ia tempati. Tidak ada yang berubah. Bahkan ranjang bermotif hello kitty miliknya pun masih ada. Aroma vanilla tetap menguar dari kamarnya, membuat Herschell benar-benar merasa nyaman.

Grep!

Sepasang lengan kekar melingkari pinggang Herschell. Oh, jangan lupakan kecupan-kecupan ringan yang mendarat di atas permukaan leher indah yang terekpos karena rambutnya yang diikat asal-asalan itu. Membuat tubuh Herschell teraliri listrik yang entah datang dari mana.

“Achiell….” Lirih Herschell, “Jangan lakukan ini, ku mohon….”

“Aku merindukanmu, Boo….” Bisik Achiel sebelum menciumi pipi kanan Herschell.

“Achiel! Kau sudah menikah!” ucap Jaejoong dengan suara sedikit lantang agar Achiel menguasai dirinya sendiri.

Achiel menghentikan apa yang dilakukannya pada Herschell, memutar tubuh Herschell agar perempuan cantik itu bisa menatapnya. Ada raut kemarahan dan kekecewaan didalam mata setajam musang itu, namun sinar terluka dan kesepian pun terlihat jelas disana.

Melihat hal itu sepasang mata indah itu mengeluarkan cairan bening yang sangat Achiel benci. “Ku mohon….” Lirih Herschell.

Achiel merengkuh pinggang ramping Herschell hingga tubuh perempuan itu menempel ketat pada tubuh Achiel. Segera saja Achiel menciumi bibir merah penuh yang sangat dirindukannya –didambakannya dan diimpikannya. Puasa menahan hasrat selama enam tahun lamanya membuat dirinya hampir gila.

Bruk!

Tubuh Herschell terjatuh di atas kasur empuk miliknya sendiri setelah Achiel dengan sedikit kasar menghempaskan diri mereka. Achiel yang berada di atas tubuh Herschell masih menciumi bibir merah merekah itu, menyalurkan kerinduan, kesedihan, kepedihan dan penderitaan yang sangat dalam.

“Ugh….” Rintih Herschell saat Achiel mendaratkan ciuman-ciuman ringan pada leher dan dadanya.

Achiel terus mencium leher Herschell, meninggalkan tanda kepemilikan di atas permukaan sehalus pualam itu, tangannya beralih membuka kancing kemeja Herschell dan….

Herschell berhasil mendorong Achiel. Membuat pemuda tampan itu terjatuh dari atas tubuhnya, “Jangan lakukan itu, Bear! Jangan lakukan lagi! Ku mohon padamu….” Lirih Herschell, “Aku tidak mau melukai Grace lebih dari ini.”

Achiel menatap sendu ke arah perempuan yang tengah menahan tangisnya itu, bangkit dari atas ranjang dan berdiri di samping Herschell yang berusaha merapikan penampilannya.

“Kau….” Achiel menarik napas panjang, “Perempuan brengsek itu sudah menghancurkan hidup kita, Boo. Hidup ayah dan ibuku, hidup ayah dan ibumu. Tapi kau masih berusaha melindunginya?”

“Dia sepupuku, Bear.”

“Aku mengerti. Karena dia sepupumu akan ku siksa dia sampai mati!” Achiel beranjak pergi dengan kemarahan yang memuncak. Penolakan dari perempuan yang sangat dicintainya benar-benar membuat hatinya sakit.

Tidak.

Achiel tidak dendam dan tidak marah pada Herschellnya. Achiel marah pada Grace, pada takdir mereka. Achiel marah pada dirinya sendiri.

“Maafkan aku, Bear…. Maafkan aku….”

❤❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤❤

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s