The Classification of Fate


Tittle                : The Classification of Fate

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Incest? Romance? Familly? Angst? Familly?

Rate                 : T

Cast                             : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Park Yoochun, Shim Changmin (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan)

Disclaimer:      : They are not mine but this story and OOC Jung Hyunno & Jung Hyeri are mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran. Tanpa Edit jadi mungkin sedikit amburadul ==” Penceritaan ngebut. Saran dan masukkan diterima. Tidak menerima Bash dan Flamer dalam bentuk apapun!

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

PASTIKAN BACA WARNINGNYA!

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

The Classification of Fate

 “Ingat ya, selama Ibu pergi kalian harus bersikap baik. Tidak boleh memukul teman apalagi melukainya. Terutama Youngwoong! Kau harus menjaga uri Jaejoongie, jangan biarkan adikmu diganggu. Mengerti?”

Kedua anak kembar itu menganggukan kepala mereka serempak. Membiarkan ibu mereka mencium wajah dan kepala mereka secara bergantian sebelum akhirnya pergi meninggalkan mereka ditempat menyebalkan ini. Tempat penitipan anak sekaligus merangkap sebagai PAUD. Pagi-pagi sekali sekitar pukul 7 mereka akan diantar ke tempat penitipan anak, bermain sebentar sebelum ikut pelajaran –Mengenal nama binatang, nama makanan, diajari cara membeli tiket, menukarkan kupon makan siang, disiplin berbaris, antre dan berkenaan dengan kehidupan sehari-hari sebelum pada pukul 4 sore dijemput lagi oleh sang ibu. Ibu mereka adalah wanita karier yang bekerja sebagai seorang teller di bank sedangkan ayah mereka sejak 2 bulan lalu ditugaskan dikantor cabang yang ada di Jepang selama setahun lamanya. Tidak ada pengasuh atau baby sitter sehingga setiap pagi-sore –setiap ibunya bekerja mereka akan dititipkan di tempat penitipan anak sekaligus tempat mereka sekolah, pengecualian untuk akhir pekan dimana seharian mereka akan menghabiskan waktu bermain di rumah.

Youngwoong dan Jaejoong. Kedua anak itu adalah kembar identik. Youngwoong sang kakak lebih tinggi sedikit daripada sang adik, Jaejoong. Youngwoong lebih kasar dan pemberani dibandingkan Jaejoong yang mendiam namun pintar. Youngwoong suka mengganggu teman-temannya sementara Jaejoong lebih sering diganggu –digoda. Wajah keduanya sangat lucu, menggemaskan dan tampan –cenderung cantik. Para penjaga dan guru-guru sangat menyukai mereka.

“Joongie, dengar! Hari ini kau tidak boleh menangis lagi kalau ada yang mengganggumu ya. Hyung akan memukulnya biar dia tidak mengganggumu terus.” Ucap Youngwoong sambil menggandeng tangan adiknya memasuki kelas bermain mereka.

“Tapi ibu melarang kita bertengkar, Hyung.”

“Ibu tidak akan tahu bila kau tidak bilang.” Ucap Youngwoong lagi. “Nanti akan Hyung kenalkan kau pada Yunho. Sahabat Hyung yang sudah TK.”

Jaejoong hanya menganggukkan kepalanya perlahan. Kakaknya tidak bisa dibantah.

❤❤❤

Kegiatan hari ini sama seperti hari-hari sebelumnya. Seusia belajar anak-anak akan diarahkan ke kantin untuk menukar kupon makan siang mereka dengan makanan. Usai makan siang mereka akan tidur siang di ruang istirahat sebelum akhirnya dijemput oleh orang tua masing-masing. Di ruang istirahat para pengasuh akan membacakan dongeng pengantar tidur sambil memutarkan lagu nina bobok.

Youngwoong tidak bisa tidur tanpa selimut motif gajah serta boneka gajah kumalnya yang ia miliki semenjak bayi. Jaejoong tidak akan bisa tidur tanpa memeluk boneka beruang abu-abu kecil pemberian ayahnya pada saat ulang tahunnya yang ke-2. Meskipun kembar identik keduanya memiliki kegemaran yang berbeda.

Semua anak-anak sudah terlelap dalam tidur mereka tanpa menyadari bahaya yang mengancam mereka. Asap mulai memenuhi bangunan gedung 2 lantai itu, dapur terbakar akibat ledakan kompor gas. Para pengasuh dan guru yang berjaga mulai panik membangunkan dan mengefakuasi anak-anak, terlebih akibat banyaknya anak yang jatuh pingsan karena sesak napas dan syok.

Hyung….” Jaejoong berteriak-teriak memanggil kakaknya. Asap hitam sudah memenuhi ruang istirahat. Jaejoong kecil terbatuk-batuk, matanya pedih. Ia menangis karena tidak menemukan sang kakak.

“Jaejoongie!” seorang guru segera meraih tubuh kecil Jaejoong, menggendongnya dan membawanya lari ke luar gedung. Jaejoong terus menangis dan berteriak memanggil nama kakaknya.

Tidak ada yang menyadari bahwa Youngwoong masih terlelap di dalam ruang istirahat dengan damainya.

❤❤❤

20 tahun kemudian…

“Mungkin trauma dimasa kecilnya membuatnya tidak mau pulang. Tetapi bagaimanapun juga kampung halamannya adalah disana ia pasti akan datang juga.”

“Aku ingin bertemu dengannya. Bisa kau atur pertemuan kami?

“Tentu saja….”

Pemuda itu berdiri memandang bangunan ruko lantai 3 yang belum sepenuhnya selesai dibangun itu dari balik kaca mata hitamnya. Bibir merah penuhnya menggumamkan sesuatu. Tangan kanannya memehang erat gagang koper yang dibawanya. Berbalut celana jean dan sepatu but kulit serta kaus putih longgar membuat penampilannya mengagumkan. Rambutnya yang hitam legam menari-nari karena digoda oleh sepoi angin.

Hyung… aku pulang….” Lirihnya. Sekali lagi memandang bangunan yang belum selesai itu lantas berbalik dan berjalan menjauh sambil menarik kopernya. Menusuri trotoar menuju rumahnya –rumah barunya. Orang tuanya masih memilih tinggal di Jepang akibat kesedihan mendalam mereka selama ini yang belum bisa disembuhkan.

❤❤❤

“Kau orang Korea tetapi besar dan sekolah di Jepang? Apa kau tidak mencintai tanah airmu?” tanya pemuda bermata musang itu sedikit ketus saat menginterview calon pegawainya.

Mata bulat indah itu menatap tajam pemuda angkuh di hadapannya. Ingin menghajar orang itu andaikan dirinya sedang tidak mencari pekerjaan di perusahaan tempat orang itu bekerja. Bahkan papan nama di depan orang itu membuatnya sungkan untuk meluapkan emosinya. Direktur. Cih! Andaikan ia tahu bahwa direktur diperusahaan tempatnya melamar pekerja seorang pemuda menyebalkan pastilah ia enggan datang memenuhi panggilan interview.

“Kenapa diam saja Jaejoong sshi? Aku bertanya padamu.”

Jaejoong mengedipkan kelopak matanya, terlihat bulu-bulu matanya yang lentik lagi hitam. Mata bulatnya menatap kedalam mata setajam mata musang itu lekat-lekat. “Keluargaku pindah ke Jepang setelah insiden kebakaran yang menimpa sekolahku dulu, Pak. Kakak kembarku menjadi salah satu korban meninggal dalam kejadian itu sehingga orang tuaku memutuskan untuk menetap di Jepang sampai mereka bisa mengobati kehilangan yang mereka alami.” Tiba-tiba saja Jaejoong berdiri dari duduknya, berdiri dengan angkuh menatap direktur muda itu sambil berkata, “Mengenai dimana aku tinggal dan sekolah itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan mencintai tanah airku atau tidak. Ada hal-hal yang tidak pantas kau tanyakan dalam interview seperti ini apalagi kalau itu menyangkut urusan pribadi. Terima kasih atas waktunya. Aku tidak lagi berminat bekerja disini apalagi menjadi bawahanmu!” ucapnya sebelum pergi begitu saja dari ruang interview, mendatangkan tatapan heran dan bingung dari peserta interview lain dan para penginterview.

Sementara sang penginterview yang berhasil memancing kekesalan Jaejoong itu justru tertawa terbahak-bahak, mendatangkan ekspresi terkejut dan bingung dari para oenginterview lain yang merupakan bawahannya. “Kita membutuhkan orang tegas sepertinya. Aku menyukainya!” ucapnya disela kegiatan tertawanya.

❤❤❤

Diapartement tempatnya tinggal sendirian –untuk sementara sampai orang tuanya mau pulang lagi ke Negara mereka, ia sedang sibuk membereskan barang-barangnya ketika bel pintu apartement yang sekarang menjadi rumahnya –untuk sementara ditekan berkali-kali dengan tidak sabar. Sambil menggerutu dilangkahkannya kakinya menuju pintu, tanpa melihat siapa tamunya ia langsung membuka pintu. Matanya membulat melihat siapa yang bertamu.

“Aku tahu alamatmu dari surat lamaran yang kau buat.” Pemuda bermata musang itu masuk begitu saja ke dalam apartement Jaejoong tanpa dipersilahkan, “Kau baru beres-beres?” tanyanya.

“Mau apa kau?” tanya Jaejoong ketus. “Aku sudah tidak berminat lagi bekerja di perusahaanmu. Jadi pergilah sebelum aku memanggil petugas keamanan!”

Pemuda yang memakai setelan jas mahal itu menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat pada Jaejoong sebelum mendudukkan dirinya di atas sofa berwarna hitam yang masih belum tertata dengan rapi. Membiarkan Jaejoong membuka dan membaca amplop itu sedangkan dirinya sendiri mengambil sebuah frame foto, tersenyum penuh kegetiran ketika menatap potret kebahagiaan yang terbingkai didalam frame itu. “Kau punya saudara kembar?”

“Kakakku –almarhum.” Jawab Jaejoong singkat. “Kau sedang mabuk?” tanya Jaejoong sambil mengacung-acungkan selembar kertas putih didepan wajah pemuda berjas mahal itu dengan wajah kesal.

“Kembar identik ya?” gumam pemuda itu tanpa memedulikan raut wajah kesal Jaejoong. “Aku tidak punya saudara. Sebenarnya punya tapi adikku dipisahkan dariku saat kami masih kecil.” Ucapnya tanpa diminta.

Jaejoong menarik napas panjang. Tangannya hampir meraih sapu untuk mengusir direktur sinting itu dari rumahnya jikalau pemuda itu tidak mengeluarkan suara.

“Kau akan menjadi sekertarisku. Aku tidak suka punta sekertaris perempuan karena mereka biasanya genit dan menggunakan riasan terlalu tebal, hal itu tidak baik untuk mataku.” Ucapnya. “Besok pagi ku tunggu kau pukul 7. Jangan sampai terlambat atau aku akan menghukummu!” ancamnya.

“Yah! Kau pikir aku budakmu?” mata bulat Jaejoong melotot tajam.

“Matamu sangat indah….” Pujinya. “Namaku Jung Yunho kalau kau ingin tahu.”

“Sama sekali tidak ingin tahu!” pekik Jaejoong kesal.

“Kau tahu? Aku suka tipe orang sepertimu. Mau berkencan denganku?”

Jaejoong meraih bantal sofa dan melemparnya tepat mengenai wajah Yunho. “Kau sinting?”

Yunho berdiri, membenahi jas mahalnya yang sedikit kisut dan berjalan mendekati Jaejoong. “Aku serius dengan ucapanku. Aku akan menyuruh orang untuk membantumu beres-beres.” Yunho tersenyum, mencium pipi kanan Jaejoong kemudian berlari terbirit-birit menjauh dari Jaejoong.

“Dasar orang mesum sialan!” teriak Jaejoong penuh kekesalan.

❤❤❤

Menjelang pukul 10 pagi Jaejoong datang memasuki gedung perkantoran tempatnya beberapa hari lalu menjalani interview dengan seorang direktur sinting. Kemarin Yunho memintanya datang pukul 7 tetapi Jaejoong sengaja datang sangat terlambat untuk membalas pelecehan yang dilakukan Yunho padanya kemarin –mencium pipinya. Plus untuk membayar karena dengan konyolnya Yunho mengirim sepuluh orang untuk membantunya bebenah padahal mereka tidak saling kenal –tidak saling kenal!

“Kenapa terlambat sekali?”

Jaejoong terlonjak kaget ketika orang yang dihindarinya tiba-tiba sudah muncul disampingnya.

“Kalau begitu mulai besok aku akan menjemputmu sehingga kau tidak akan terlambat lagi.”

Begitulah mulanya hingga setahun belakangan ini Yunho dan Jaejoong menjadi atasan dan bawahan sekaligus merangkap menjadi sahabat. Bahkan Yunho sering kali menginap dirumah Jaejoong jikalau sedang adu mulut dengan kakeknya.

❤❤❤

“Jaejoong sshi, mianhae…. Direktur mabuk dan mengamuk di tempat karoke. Ketika aku ingin mengantarnya pulang ke rumahnya, Direktur malah berteriak-teriak memanggil namamu.” Park Yoochun. Manager pemasaran itu terlihat susah payah ketika memapah Yunho yang sedang dalam keadaan teler.

Jaejoong menghela napas panjang. Tadi pagi Yunho bertengkar dengan Komisaris direktur –kakeknya mengenai tender yang sedang perusahaan mereka tangani. Selalu saja seperti ini. Tiap kali ada masalah diperusahaan Yunho akan mabuk hingga berujung pada minggatnya sang direktur dari rumah keluarganya dan tinggal beberapa hari di rumah Jaejoong. Pernah Jaejoong mengeluh pada Yunho perihal rumahnya yang dijadikan tempat singgah. Dan sejak saat itu, urusan iuran listrik, isi dapur bahkan iuran keamanan Jaejoong ditanggung oleh Yunho.

“Terima kasih. Sekarang kau boleh pulang Yoochun sshi. Kau terlihat lelah.” Ucap Jaejoong. “Biar aku yang mengurus beruang besar ini.”

Ne. Maaf merepotkanmu.” Usai berkata seperti itu Yoochun segera pergi mengingat hari ini sudah sangat larut.

Jaejoong menggerutu ketika menyeret tubuh besar Yunho masuk ke dalam apartementnya, memapahnya lantas menidurkannya di atas sofa ruang tamunya. Dengan sedikit mengeluh Jaejoong melepas sepatu dan kaus kaki Yunho serta melepas jas dan dasinya, tidak lupa Jaejoong pun membuka kancing kemeja Yunho.

“Segeralah menikah agar ada yang mengurusmu! Dasar beruang gendut!” omel Jaejoong.

“Kau menolak lamaranku minggu lalu, Boo.” Rancu Yunho dengan mata terpejam.

“Dasar gila!” Jaejoong berjalan meninggalkan Yunho untuk mengambil selimut dan membuatkan air madu agar direktur muda itu tidak mengeluh pusing esok hari.

❤❤❤

“Kau sedang membuat sup kimchi untukku ya, Boo?” dengan manja Yunho bergelayut pada Jaejoong yang sedang sibuk memasak. Mengekorti kemanapun Jaejoong melangkah –bahkan kamar kecil sekalipun.

“Ya. Jadi berhenti menggangguku, Jung!” omel Jaejoong. Rasanya risih ketika Yunho –yang sejenis dengannya memeluknya dari belakang begitu intim.

“Kakek menyuruhku membuat sebuah mega proyek, ketika aku berhasil melakukannya ia akan memberikan restunya untukku menikahimu.”

“Uhuk!” Jaejoong yang sedang mencicipi masakannya tersedak mendengar ucapan Yunho. Seketika pemuda yang lebih muda beberapa tahun dari Yunho itu berbalik, menatap Yunho dengan mata bulat indahnya yang melotot karena kaget. “Kau gila?”

“Aku sudah bilang sejak awal bahwa aku menyukaimu, kau tipeku. Kau yang kurang peka, ketika aku menyatakan keinginanku untuk menikahimu kau pikir aku hanya bercanda bahkan mabuk.”

“Yah Jung Yunho! Kita berdua namja! NAMJA! Kau…” mata Jaejoong membulat sempurna –nyaris keluar ketika Yunho menghisap bibir merah penuhnya dengan rakus.

“Aku tahu kau juga menyukaiku. Jangan malu mengakuinya.” Yunho tersenyum menggoda. “Aku pasti akan segera mewujudkan tantangan kakek agar bisa segera meminangmu.” Janjinya pada Jaejoong dan dirinya sendiri.

❤❤❤

Tidak mudah bagi Yunho mewujudkan tantangan yang kakeknya berikan. Barulah 5 tahun kemudian ia berhasil membangun sebuah kompleks apartement super mewah dilengkapi fasilitas super komplit seperti pusat perbelanjaan, restoran, distro, gedung pertemuan, ball room bahkan hotel berbintang lima dalam satu kompleks. Minggu lalu peresmian sudah dilakukan oleh Yunho sendiri. Sekarang adalah saat yang paling Yunho tunggu-tunggu, restu kakeknya.

Pria tua itu menatap sebal pada cucu semata wayangnya, satu-satunya penerusnnya. “Kau orang paling gila yang ku kenal! Sialnya kau ku besarkan dengan tanganku sendiri, bahkan aku yang menggantikan popokmu ketika kau masih bayi dulu.”

Yunho hanya tersenyum lebar mendengar gerutuan kakeknya.

“Kapan kau ingin aku mendatangi orang tua Jaejoong di Jepang untuk melamarnya?”

“Hari ini juga, Kek.”

“Dasar cucu tidak tahu diuntung! Kau pikir melamar anak orang sama seperti mengajukan proposal tender?” omel Kakeknya. “Setidaknya kau harus menyiapkan buah tangan untuk calon mertuamu, bodoh!”

Yunho tersenyum, “Aku sudah menyiapkan semuanya, Kek. Kakek tinggal berangkat ke Jepang saja. Semuanya sudah diatur oleh orangku yang sebelumnya ku kirim ke Jepang untuk menyiapkan lamaran.”

“Dasar anak kurang ajar!”

“Aku mau menikah secepatnya. Minggu depan kalau bisa.”

Yah! Kau ingin membuat tua Bangka ini mati serangan jantung? Kau pikir bisa menyiapkan pernikahan selama seminggu? Kau pikir berapa ribu orang rekan bisnis yang harus diundang, hah?” pria tua itu menatap garang pada Yunho yang hanya ditanggapi cengiran jenaka.

“Satu bulan cukup, Kek?”

“Itu lebih baik!” sahut Jung senior itu sedikit lega. “Dan Yunho, apakah Jaejoong bisa hamil?”

Yunho tersenyum, “Sebenarnya Kek, karena aku sudah tidak tahan –tidak sanggup menahan semuanya sehingga saat ini didalam perut Jaejoong sedang tumbuh Jung kecil. Usianya baru lima minggu.”

MWO?!”

❤❤❤

Semua terjadi begitu cepat. Prosesi melamar Jaejoong pada orang tuanya yang masih tinggal di Jepang sampai acara pernikahan mereka. Terkesan tergesa-gesa dan kilat namun Yunho tidak mempermasalahkan hal itu. Baginya semakin cepat dirinya bisa hidup bersama Jaejoong, semakin baik semuanya. Usai menikah keduanya pindah ke rumah keluarga Jung dimana setiap harinya kakek Yunho mengeluh pada sikap cucunya semenjak bayi sampai sekarang pada Jaejoong yang hanya bisa tersenyum geli melihat sikap keduanya yang kadang seperti anak-anak.

Tidak ada rahasia dalam pernikahan Yunho dan Jaejoong. Yunho tahu seluk beluk hidup Jaejoong begitu pun sebaliknya. Namun ada satu hal yang tidak pernah Yunho katakan pada siapapun termasuk Jaejoong. Perihal rahasia terbesar, terkelam, terdalam dalam hidupnya.

❤❤❤

26 tahun sebelumnya…

Semua anak-anak sudah terlelap dalam tidur mereka tanpa menyadari bahaya yang mengancam mereka. Asap mulai memenuhi bangunan gedung 2 lantai itu, dapur terbakar akibat ledakan kompor gas. Para pengasuh dan guru yang berjaga mulai panik membangunkan dan mengefakuasi anak-anak, terlebih akibat banyaknya anak yang jatuh pingsan karena sesak napas dan syok.

Hyung….” Jaejoong berteriak-teriak memanggil kakaknya. Asap hitam sudah memenuhi ruang istirahat. Jaejoong kecil terbatuk-batuk, matanya pedih. Ia menangis karena tidak menemukan sang kakak.

“Jaejoongie!” seorang guru segera meraih tubuh kecil Jaejoong, menggendongnya dan membawanya lari ke luar gedung. Jaejoong terus menangis dan berteriak memanggil nama kakaknya.

Tidak ada yang menyadari bahwa Youngwoong masih terlelap di dalam ruang istirahat dengan damainya. Mendengar suara sang adik memanggil Youngwoong akhirnya terbangun dari mimpi indahnya. Anak kecil berusia 4 tahun itu panik mendapati dirinya digempur asap pekat yang menyesakkan dada. Youngwoong menangis sendirian didalam ruangan istirahat, berteriak memanggil nama adik dan ibunya berulang-ulang.

“Youngwoong a….” seorang anak berusia 8 tahun, bermata musang namun memiliki tubuh kecil sebesar Youngwoong itu datang menembus asap tebal. “Kajja, aku akan membantumu keluar dari sini.”

“Yunho?”

“Jangan menangis… kajja! Kita harus bergegas.”

Bergandengan tangan keduanya berlari meninggalkan ruang istirahat itu. Ketika nyaris sampai pada pintu keluar sebuah ledakan besar terjadi membuat Yunho kecil jatuh tersungkur. Youngwoong panik melihat pahlawannya bersimbah darah seperti itu.

“Yunho ya…”

“Youngwoong, berjanjilah padaku! Kalau aku mati kau harus menggantikan posisiku menjadi cucu kakekku, menjadi Jung Yunho.”

“Yunho ya….” Youngwoong menangis melihat sahabat rahasianya yang ingin ia kenalkan pada Jaejoong itu tampak lemah.

Yunho mengulurkan sebuah liontin pada Youngwoong. “Kajja lari!”

Siro!”

“Mintalah bantuan pada orang dewasa untuk membantuku. Aku tidak bisa berjalan lagi. Kajja!” Yunho tersenyum.

Youngwoong mengangguk pelan lantas berlari sambil memeluk liontin pemberian Yunho. Sebuah ledakan terjadi lagi, api berkobar semakin panas. Youngwonong tidak menyadari pakaiannya sudah terbakar. Ketika sampai pada pintu keluar Youngwoong langsung pingsan begitu saja. Dan ketika sadar sekujur tubuhnya sudah dibebat oleh perban, wajah-wajah yang tidak ia kenal menatapnya dengan cemas dan khawatir.

“Yunho ya… kau tidak apa-apa? Tenanglah, Nak! Kakek disini bersamamu.”

Saat itu Youngwoong tahu bahwa dirinya telah menjadi Jung Yunho, menggantikan Yunho yang sudah meninggal dalam kebakaran itu, menggantikan Yunho yang dianggap Youngwoong oleh keluarganya.

Selama ini Yunho –Youngwoong mengamati Jaejoong dari kejauhan, mencari informasi tentang keluarganya yang pindah ke Jepang hingga perasaan penuh dosa itu menghinggapinya. Yunho –Youngwoong jatuh cinta pada Jaejoong, adiknya sendiri. Walaupun sudah menahannya tetapi pada akhirnya Yunho –Youngwoong menyerah pada hasutan dosa itu. Sampai akhirnya mereka dipertemukan kembali secara tidak sengaja ketika Jaejoong melamar pekerjaan sebagai pegawai diperusahaan yang Yunho –Youngwoong pimpin.

❤❤❤

“Apa yang kau lamunkan?” tanya Jaejoong?

Yunho tersenyum, memeluk Jaejoong dan mencium kening ‘istrinya’ mesra. “Kalau aku berdosa karena mencintaimu maka biarlah Tuhan menghukumku.” Bisik Yunho mendatangkan wajah penasaran Jaejoong.

Jung Changmin beserta si kembar Jung Hyunno dan Jung Hyeri sedang bermain dengan kakek buyut mereka, Jung senior –kakek Yunho di taman belakang rumah besar itu mengabaikan kemesraan yang Yunho dan Jaejoong ciptakan dalam dunia mereka sendiri.

❤❤❤

❤❤❤

END

❤❤❤

❤❤❤

Epep iseng disela kegiatan menunggu giliran periksa. Semoga sedikit menghibur🙂❤

Tetap jaga kesehatan😉

❤❤❤

❤❤❤

Wednesday, February 17, 2016

11:24:35 AM

NaraYuuki

7 thoughts on “The Classification of Fate

  1. astagaaa aku nggak bisa nebak jalan ceritanya. kyaaaaa!! seru banget. jadi ceritanya incest wkwkw…
    thanks unnie ceritanya kereen banget!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s