Senja Maya


Senja Maya

 

 

 

“Rambutmu lebih panjang daripada saat terakhir kali kita bertemu dulu.” Komentarku ketika kau memilih diam sambil mengaduk-aduk es kelapa mudamu tanpa berniat meminumnya. Kau bergumam kecil sebelum menjawab.

“Aku sengaja memanjangkannya.” Wajahmu memerah tetapi aku yakin itu bukan karena tersipu padaku melainkan karena cuaca pantai yang saat ini sedang sangat terik. Kalau boleh memuji jujur aku menyukai kau yang berambut panjang seperti ini, terlihat lebih anggun dan dewasa dimataku.

Kita sama-sama diam menikmati ombak lautan yang menggila menghantam bibir daratan, menciptakan buih yang tidak begitu istimewa dimataku namun selalu kau anggap hal yang indah buih-buih itu.

“Hampir setengh jam kita berdiam di warung ini. Pemilik warung pasti menggerutu karena kita tidak memesan apa-apa selain dua buah es kelapa muda.” Ucapmu. “Kenapa tidak langsung mengatakan apa yang ingin kau katakana padaku? Aku merasa sedang berselingkuh denganmu.”

Aku hanya bisa tersenyum getir. Itulah kau dan segala kejujuran serta ketidaksabaranmu. Kau yang tidak suka basa-basi itulah yang membuatku pada akhirnya nekat mengajakmu bertemu dengan segala risiko yang harus ku tanggung.

“Kau mau memesan sesuatu? Sate ikan? Kerang rebus? Udang goreng? Kepiting?”

“Aku sedang tidak boleh makan makanan seperti itu.” Jawabmu. Mata indahmu yang selalu ku kagumi itu menatap lautan luas yang hampa dan pucat. “Sungguh mengesalkan!” keluhmu.

Tiba-tiba rasanya sangat aneh. Kau dan aku duduk satu meja dan bercakap-cakap seperti sahabat lama yang sudah lama tidak bersua. Bukankah ini sedikit tidak wajar? Sepertinya kau pun tidak memedulikan ketidakwajaran ini.

Cincin yang melingkar dijari manis tangan kananmu berkilauan terkena bias cahaya matahari yang menyusup disela dedaunan. Aku sedikit kesal melihatnya.

“Tempat ini banyak berubah. Sekarang tumbuhan bakaunya lebih banyak daripada dulu, udaranya sedikit lebih nyaman, tidak sepanas dan segersang dulu.”

Memang benar. “Mungkin untuk menarik wisatawan sehingga perawatan tempat ini dilakukan secara total.” Komentarku.

“Aku tidak bisa lama-lama disini. Kau harus mengatakannya sekarang atau aku akan pergi begitu jemputanku datang.” Kau mengingatkanku bahwa kita memang tidak bisa seleluasa dulu lagi. Akan ada berita kurang baik bila kita terlihat berdua berlama-lama ditempat yang dipilih oleh kebanyakan muda-mudi untuk berkencan.

“Kau bahagia?” tanyaku.

Wajah cantikmu yang memerah karena cuaca terik tampak sedikit kaget mendengar pertanyaanku. Tersenyum ringan kau mengangguk padaku. “Bahagia itu relatif. Aku merasa baik-baik saja dan menikmati hidupku sekarang. Jadi ku rasa aku bahagia dengan kehidupan yang aku miliki terlepas apapun yang sudah terjadi padaku dimasa lampau.” Jawabmu. “Bagaimana denganmu? Kau pasti sangat bahagia. Ku dengar bulan depan kau akan menikah dengan Leili.”

Aku tersenyum kaku. Memang! Dari mana kau mendapatkan berita itu? Kenapa kau bisa mengetahuinya? Karena hal itulah aku mengajakmu bertemu. Untuk memastikan perasaanku padamu juga padanya. Siapa yang lebih berharga untukku, siapa yang bisa lebih mengobarkan perasaanku. Kau atau dia?

Berada satu meja bersamamu, menatap mata indahmu, melihat wajah cantikmu, menikmati senyum manismu sedikit banyak membuat perasaanku tidak tentram. Ada ketidak relaan yang menyergapku, ada keputusasaan yang menghajarku, ada kesedihan benci dan amarah yang mencekikku. Sama seperti namamu, Maya. Kau hanya hidup dalam khayalanku, dalam dunia angan-anganku yang semu. Sosokmu yang ku cintai sepenuh hati dengan tulus tidak akan pernah menjadi milikku. Tidak akan pernah.

Aku mencintaimu tetapi aku tidak bisa memilikimu, tidak bisa hidup bersamamu. Aku mencintaimu tetapi cinta ini menyakitkan karena kita tidak bisa saling memiliki walaupun ku tahu kau pun pernah menyimpan perasaan untukku.

“Jemputanku sudah datang.” Ucapmu membuyarkan lamunanku.

Aku menoleh, kulihat dia yang kini memiliki hatimu berjalan ke arah kita. Tersenyum ramah ketika aku menatap mata coklat beningnya. Tidak seindah matamu tetapi aku tahu bahwa dia adalah orang yang baik, orang yang sanggup membahagiakanmu dimasa depan.

“Sudah waktunya Maya pulang.” Dengan sopan dia berujar. Aku hanya bisa tersenyum dan mempersilahkannya membawamu pergi dariku.

Sebelum beranjak pergi kau mengulurkan tangan padaku, ku sambut taganmu, tangan yang dulu selalu menarikku dari keterpurukan dan kesunyian hatiku yang malang.

“Selamat ya, Ar… Kau berhak bahagia bersama orang yang baik. Aku tahu Leili adalah perempuan yang tepat untuk pasanganmu. Sampai jumpa dilain waktu.”

Menyakitkan melihatmu pergi meninggalkanku bersama pemuda lain. Lebih menyakitkan ketika mengingat bahwa akulah yang membuatmu pergi meninggalkanmu. Aku yang kala itu menduakanmu, aku yang menghianati kesetiaanmu, aku yang merusak kepercayaanmu, aku yang dengan jahat mencampakan hatimu kini menyesali semuanya.

Andaikan waktu itu aku tidak mendua, akankah sekarang aku yang menggandeng tanganmu bukan dia? Andaikan dulu aku tetap setia akankah engkau yang sebulan lagi duduk disampingku di pelaminan? Andaikan kau bukan Maya apakah perasaan ini tetap ada sampai sekarang? Perasaan yang menyiksa nurani perasaan.

Cuaca terik menjelang senja ini menyadarkanku pada kenyataan pahit yang harus tetap kualui apapun yang terjadi nantinya. Aku harus melupakanmu walaupun aku sangat mencintaimu, aku harus tetap bersama dengannya.

Sama seperti senja yang datang sekejap mata sebelum malam panjang menjelang, seperti itu pula dirimu yang singgah sesaat dalam hidupku. Mengajariku arti kepercayaan, kesetiaan dan kenyataan walaupun pahit harus ku terima.

Senja mulai merona Maya. Kau lihat? Senja yang selalu kau sukai itu kini menjadi saksi nelangsa hatiku. Hati yang mencinimu namun akan menjadi milik perempuan lain. Senja esok sudah bukan milikmu lagi, Maya… Senja semu seperti hadirmu dalam hidupku.

 

 

 

 

 

Friday, February 12, 2016

2:41:17 PM

NaraYuuki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s