Pembalasan Bidadari Hitam XIV


Tittle                : Pembalasan Bidadari Hitam XIV

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance/ Family/ Friendship

Rate                 : -M

Cast                 : All member DBSK and others (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan). Seiring bertambahnya Chap castnya pun akan disesuaikan.

Disclaimer:      : They are not mine but this story, Jung Hyunno, Jin Hyeri  & OOC yang lain are mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut. Paragraf/ dialog yang penulisannya menggunakan Blod, Italic ataupun under line berarti itu adalah kejadian dimasa lampau (flash back) TANPA EDIT.

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

Jung Hyunno Pembalasan Bidadari Hitam NaraYuuki

 “Kau sudah cukup dewasa untuk mempunyai yeoja chingu ku rasa.” Ucap Yunho yang siang ini sengaja datang menemui Hyunno di kampusnya. Kebetulan Yunho ada pertemuan dengan relasi bisnisnya didaerah dekat universitas Hyunno sehingga ia sengaja mampir untuk mengajak putranya itu makan siang bersama.

Dengan tenang Hyunno mendengarkan petuah-petuah –saran, masukan serta nasihat dari ayah biologisnya itu sembari menyeruput es kopinya. Dalam beberapa hal Hyunno merasa dirinya mirip sang ayah –walaupun ia berusaha mengingkarinya. “Aku sudah punya.” Ucapnya. Mengambil kentang goreng, mencolekkannya pada saus yang sudah disediakan kemudian memasukkannya kedalam mulutnya, mengunyah perlahan.

“Jin Hyeri?” tebak Yunho dengan wajah datar.

Hyunno hanya mengangguk sekenanya sebagai jawaban.

Yunho menghela napas panjang. “Dengar Hyunno! Bagaimanapun juga kau adalah anakku, darah dagingku yang pasti separuh darah dalam dirimu adalah darahku –darah keluarga Jung. Aku tidak ingin kau melakukan tindakan bodoh sama seperti yang ku lakukan diwaktu muda dulu. Aku tidak mau kau menyesal nantinya.”

“Apakah anda menyesal memiliki anak sepertiku?” Tanya Hyunno.

“Tentu saja tidak! Dasar bodoh!” Yunho sedikit membentak, “Tidakkah kau lihat penderitaan ibumu saat membesarkanmu sendirian bersama mendiang kakekmu? Tidakkah kau ingat penderitaanmu yang lahir dan dibesarkan tanpa sosok ayah? Dengar anakku yang keras kepala sepertiku! Aku tidak ingin kau mencetak Kim Jaejoong dan Jung Hyunno ke-2 apapun yang terjadi! Terutama jika alasanmu hanyalah untuk balas dendam. Kalau kau ingin balas dendam, kita bisa cari cara lain. Kau paham?”

Hyunno diam sejenak. Ayahnya benar soal itu. Hyunno pun tidak mau ada orang yang merasakan penderitaan sama seperti yang ia dan ibunya alami dulu –apa lagi jika Hyunno sampai menghamili Hyeri dan menelantarkan anak mereka seperti yang ayahnya lakukan walaupun kini pria bermarga Jung itu bersusah payah untuk menebus kesalahannya. Hyunno tidak bisa membayangkan bagaimana beratnya hidup sebagai seorang pendosa seperti itu. Terlebih Hyunno pun tidak pernah membayangkan dirinya akan menghamili Hyeri karena selain untuk urusan balas dendam Hyunno sama sekali tidak bergairah pada gadis manis itu.

“Sejujurnya aku tidak berpikiran untuk menghamili Hyeri dan memiliki anak darinya.” Ucap Hyunno polos mendatangkan senyum ironi dari Yunho.

“Kau tidak akan bisa menentukannya, anakku yang bodoh!” timpal Yunho. “Ketika kau mulai merasakan ledakan seksual kau tidak akan pernah bisa menahannya. Entah kau membencinya atau menyukainya. Apa lagi seandainya kau sedang berada dalam pengaruh alkohol, hal yang tidak kau inginkan sekalipun bisa terjadi. Aku mengatakan hal ini karena aku pernah berada dalam usiamu dan mengalami hal yang belum pernah kau alami sebelumnya.”

“Apakah aku juga hasil pengaruh alkohol?”

“Tidak!” jawab Yunho santai. “Aku menghamili ibumu dalam keadaan sadar. Aku tidak ingin ibumu direbut oleh orang lain karena itu aku menghamilinya untuk mengikatnya. Klise memang namun pada saat itu memang itulah yang harus ku lakukan atau aku akan kehilangannya.”

“Anda sudah kehilangannya.” Hyunno meralat.

“Sialnya itu benar!” Yunho mengakui.

“Kalau begitu… apakah anda mencintai ibuku?”

Yunho tersenyum bodoh. “Andaikan aku bisa memutar waktu, akan ku kembalikan waktu pada masa itu. Akan ku buat ibumu jatuh cinta padaku, akan ku nikahi ia walaupun usianya saat itu masih terlalu muda untuk menikah agar ketika kau lahir kau mempunyai seorang ayah yang bisa melindungimu dan mendidikmu.” Ucap Yunho tulus. “Agar hatimu tidak terikat oleh dendam.”

Hyunno terdiam. Matanya menatap lekat mata ayahnya yang serupa miliknya lantas menarik simpul senyum. “Buatlah Ibuku jatuh cinta padamu. Ku rasa walaupun dimasa muda anda adalah orang brengsek yang menelantarkan anaknya sendiri tetapi ku rasa anda berhak mendapat kesempatan kedua.”

❤❤❤

Sesuai janjinya untuk mengajak Jaejoong jalan-jalan dengan berjalan kaki mencari kedai kaki lima yang menjual berbagai camilan, sore ini seusai pulang kerja Yunho segera menjemput Jaejoong untuk diajak jalan-jalan. Awalnya Jaejoong menolak karena merasa tubuhnya sedikit kurang sehat namun setelah dibujuk dan diyakinkan oleh Yunho akhirnya ibu dari Hyunno itu mau juga pergi bersama Yunho. Kini keduanya sedang berjalan santai ditepi trotoar sambil bercakap-cakap.

“Hyunno menjalin hubungan dengan Hyeri.” Ucap Yunho. “Ku rasa Hyunno tidak serius terhadap gadis itu, anak kita hanya memanfaatkannya saja. Bagaimana pendapatmu? Haruskah aku ikut campur dalam urusan ini?” tanyanya.

“Ku rasa belum perlu.” Jawab Jaejoong. “Tetapi teruslah mengingatkannya untuk berhati-hati agar jangan sampai ia terjerumus dan kehilangan arah.”

“Dia sedikit keras kepala sepertimu.”

Jaejoong melirik sebal pada Yunho. “Mari kita lihat siapa yang bicara sekarang! Kau atau aku yang menurunkan sifat keras kepala padanya?”

“Aku. Kalau itu membuatmu puas.” Ucap Yunho akhirnya. Yunho tersenyum. Kalimat Jaejoong barusan menunjukkan bahwa Jaejoong mengakui bahwa dirinya adalah ayah Hyunno. “Sebagai seorang ayah –dan orang yang pernah berbuat dosa besar, aku tidak ingin putraku melakukan keslahan sama seperti yang sudah aku lakukan dimasa mudaku. Jadi aku benar-benar menghawatirkannya.”

“Aku tahu putraku tidak akan melakukan hal gegabah apalagi melakukan perbuatan tidak terpuji.” Ucap Jaejoong yakin.

“Hyunno masih remaja, Jae. Emosinya belum begitu stabil.” Ucap Yunho yang berhenti di depan sebuah mesin penjual minuman otomatis. Memasukkan uang koin ke dalam mesin, memilih minuman yang ingin dibelinya dan menekan tombol untuk mengeluarkan minuman yang diinginkannya. Menyerahkan sekaleng pada Jaejoong, Yunho membuka kaleng minumannya dan meneguknya sekali.

“Seharusnya kau mengurangi kopi. Terlalu banyak kafein dalam tubuh tidak baik untuk kesehatanmu.” Ucap Jaejoong.

“Tetapi tubuhku juga memerlukan kafein.” Balas Yunho. “Ku lihat didepan sana berjejer kios pedagang kaki lima. Kau ingin makan apa?” tanyanya.

“Kerang rebus bumbu pedas kelihatannya enak.” Gumam Jaejoong.

“Kurangilah makan pedasmu! Perutmu bisa sakit.” Yunho mengingatkan.

“Lihat siapa yang bicara….”

Yunho tidak berkomentar, menarik tangan Jaejoong agar berjalan lebih cepat. Seratus meter didepan sana berjejer kios-kios pedagang kaki lima. Banyak makanan tradisional dan sederhana yang dijajakkan masing-masing kios dengan harga semiring mungkin. Yunho mengajak Jaejoong memasuki kios yang menyediakan menu kerang rebus. Setelah memilih tempat duduk, Yunho memesan menu kerang rebus super pedas, deobboki, sup kimchi, dua botol mekju dan 2 gelas air es.

“Kau bisa makan ditempat seperti ini?” Tanya Jaejoong.

“Kios pinggir jalan yang belum tentu terjamin kebersihannya? Dengan meja dan kursi plastik yang bisa patah kapan saja?” Tanya Yunho balik. Jaejoong mengangguk pelan. “Bergantung dengan siapa aku datang. Aku tidak akan mau datang ketempat seperti ini bila bukan denganmu.” Jawab Yunho jujur.

Jaejoong mendengus mendengar jawaban Yunho.

“Jessica tidak akan mau diajak ketempat seperti ini. Changmin pengecualian tapi tua Bangka –ayahku dan Ahra tidak akan mau menginjakkan kaki ditempat seperti ini. Jangan tersinggung tetapi pola pikir mereka yang agak kolot dan didikan sejak kecillah yang menjadi penyebabnya.”

Ketika pesanan mereka diantarkan, Jaejoong dan Yunho memilih diam sejenak sebelum kembali berbicara. Jaejoong mengambil kerang rebus pedas, menuangkannya ke dalam mangkuk kecil miliknya dan milik Yunho, membuka botol mekju dan menuangkannya ke dalam gelas kecil. Mulai menikmati camilan sorenya.

“Hm… bumbunya sedap. Meresap….” Ucap Jaejoong setelah mencicipi kerang rebus pedasnya.

“Makanlah sebanyak yang kau inginkan. Kalau habis akan ku pesankan lagi.”

Jaejoong tidak menyahut dan memilih memakan kembali kerang rebusnya dengan lahap. “Kenapa kau tidak menikah? Seingatkan banyak perempuan mengejarmu saat kau muda dulu.”

“Sekarang pun masih.” Ucap Yunho sedikit menyombongkan diri. “Kenapa aku tidak menikah? Tentu saja karena aku sudah punya tunangan. Aku akan menikahinya ketika ia siap menjadi pendampingku, hidup denganku sampai aku tua. Selama ini aku menunggunya dengan harapan ia akan membuka sedikit hatinya untukku.”

Jaejoong diam, meraih gelas mekjunya kemudian menegaknya hingga habis. Jaejoong merasa dirinya sudah salah dengan mengajukan pertanyaan itu pada Yunho, harusnya ia bisa memilih pertanyaan lain yang jauh lebih ringan dan aman.

“Kau masih menerima kiriman bunga?” Tanya Yunho yang menyadari penyebab kebisuan Jaejoong.

“Tidak. Sudah tidak lagi –kecuali bunga yang dikirim atas namamu dan Hyunno.” Jawab Jaejoong. “Kau tidak serius dengan perkataanmu waktu itu, kan?” Tanya Jaejoong penasaran.

“Menurutmu?” Tanya Yunho balik. “Tentu saja aku melakukannya. Aku meminta mereka yang mengirimi bunga dan surat cinta untuk berhenti melakukan hal yang sia-sia. Aku mengatakan pada mereka bahwa kau adalah ibu dari anakku.” Jelas Yunho.

Jaejoong tidak berkomentar. Jemarinya dengan lincah mengambil tusuk gigi, menusukkannya pada sepotong deobbogi dan memakannya –mencicipinya. “Wah… luar biasa sedap.” Pujinya.

“Besok aku diundang bermain golf oleh rekan bisnisku. Maukah kau ikut denganku?” Tanya Yunho.

“Kenapa aku harus ikut denganmu?” Tanya Jaejoong, alisnya bertautan bingung.

“Tidak ada yang menemaniku. Lagi pula aku ingin memakan bekal masakanmu lagi, dulu waktu Changmin masih SD dan piknik bersama teman-temannya kau membuatkan bekal untuknya, rasanya enak. Aku ingin memakannya lagi.” Jawab Yunho jujur.

“Akan ku pertimbangkan.” Ucap Jaejoong. Yunho tersenyum mendengarnya.

❤❤❤

Hyunno melihat gadis manis itu sudah duduk dengan wajah merengut di atas sofa ruang tamu apartemen sederhananya. Hyunno merasa bersalah karena mengingkari janji yang ia buat sendiri. Berjalan perlahan ia menghampiri Hyeri yang memasang wajah kusutnya kemudian mendudukkan dirinya di samping Hyeri. Hyunno berusaha tersenyum dan mengusap kepala gadis yang satu tahun lebih tua darinya itu perlahan.

“Maafkan aku…” ucapnya menyesal. “Tadi ayahku mampir ke kampus dan mengajakku makan siang bersama. Aku ingin menolaknya tetapi kau tahu sendiri bahwa kami jarang menghabiskan waktu berdua. Tidak masalah bila kau marah padaku karena aku memang salah.”

Hyeri melirik Hyunno tajam lantas menghambur memeluk remaja tampan itu, menyembunyikan wajahnya dibalik dada Hyunno –ia menangis dalam diam.

Hyunno menyesal. Ini pertama kalinya ia mengecewakan orang lain dan ia yakin bahwa kedepannya nanti ia akan lebih sering mengecewakan dan membuat Hyeri menangis.

Mianhae jeongmal….” Bisik Hyunno.

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

Friday, February 12, 2016

8:21:04 AM

NaraYuuki

3 thoughts on “Pembalasan Bidadari Hitam XIV

  1. manisnya interaksi yunho sama hyunno
    walopun agak kasar n sdikit ga sopan yg dibicarakan hahaha
    tp malah kesannya manis bgt
    semoga yunjae dan anaknya bahagia
    lanjutkan YUuki
    semangat!!!!!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s