KENANGAN YANG BERCOKOL, IJINKAN KU MERINDUMU CINTA


 

 540345_449833995063936_174666514_n

 

 

Kalau ku pikir-pikir kau dan dia pun sama. sama-sama perempuan, sama-sama berambut panjang lurus, sama-sama cantik, sama-sama pintar, sama-sama menempati tempat istimewa dihatiku. Tapi kenapa aku merindukanmu sampai sekarang? Kenapa senyumanmu selalu terbayang walau tahun telah berganti dan takdir sudah menentukan dia yang bersamaku sekarang? Apakah ini yang orang sebut karma? Konyol sekali! Karena sampai detik ini pun aku enggan megakui karma itu ada. Aku lebih suka mengakui kalau semua ini adalah takdir yang memang seharusnya ada, takdir yang harus ku jalani meskipun penuh siksaan.

Bukankah kau pernah berkata bahwa kau tidak pernah menyesali keputusan apa yang sudah kau ambil dimasa lalu, walaupun keputusan itu sangat mempengaruhimu dimasa depan? Itulah yang kini sedang coba ku lakukan. Aku tidak akan pernah menyesali keputusanku untuk melupakanmu, membuangmu jauh dari hidupku dan berpikir bahwa kau tidak pernah ada didunia ini. Dengan begitu aku yakin hidupku akan berjalan dengan sebagaimana mestinya, sesuai dengan rencanaku selama ini.

Ya! Membuangmu dan segala kenangan tentangmu adalah satu-satunya cara yang bisa ku lakukan dan terpikirkan olehku sampai sekarang. Cara yang sialnya tidak membantuku melupakanmu justru membawamu kembali hidup dalam otakku!

Hal yang sangat ku benci. Kau tahu? Aku membencimu! Aku ingin mengutuk dan melayangkan sumpah-serapah paling kotor untukmu agar kau enyah dari otak dan pikiranku!

Aku membencimu! Aku benci diriku sendiri yang membencimu!

Semakin aku membencimu, semakin kuat kenangan tentang dirimu bercokol dalam ingatanku. Membuatku merana dan tersiksa. Sangat tersiksa. Kalau merindukanmu bukan sebuah dosa, ijinkan aku merindukanmu walau sekejap mata agar aku tidak nelangsa rengsa seperti ini!

Sekali saja, ijjinkan aku merindukanmu wahai perempuan yang pernah ku cintai….

Ah, ya…. Sebentar lagi aku akan menikah. Ku kira kau sudah tahu mengingat di kota kecil ini hal-hal seperti itu terlalu cepat menyebar. Ya, kota yang pernah menjadi saksi bisu betapa aku pernah sangat menyayangimu dengan segenap hatiku. Kota yang pernah menjadi saksi ketika aku dengan segala kerendahan hati yang ku punya memohon bahkan menangis demi mengemis belas kasihanmu padaku yang kala itu mencampakanku.

Ya! Kau, perempuan brengsek yang sudah mencampakanku, kau juga yang terus mengganggu hidupku dengan kenangan-kenangan sialan yang selalu mengusik pikiranku. Kau yang ku rindukan dalam dosa ini. Kau yang ku cintai dalam rengsa ini…. Kau, bukan dia.

❤❤❤

Menatap deretan lampu-lampu merkuri yang berdiri membisu di pinggir jalanan yang gelap dan sepi membuatku tersadar. Perasaan seperti apa yang dulu pernah kau rasakan ketika kita masih bersama namun terpisah oleh jarak yang teramat jauh. Aku tidak pernah ingat kau mengeluh, aku tidak pernah ingat kau mempermasalahkan jarak yang membentang ketika aku memutuskan untuk menyusul keluargaku ke Ibu Kota. Aku tidak pernah ingat. Suaramu ditelpon yang selalu ceria, kata-katamu yang manja ketika membalas setiap sms yang ku kirimkan membuatku tidak pernah berpikir sebelumnya.

Apakah kau merasakan kesepian? Apakah kau merasa iri ketika orang lain bisa selalu bersama sementara kita dipisahkan oleh jarak memuakkan ketika aku harus pindah mengikuti orang tuaku ke Ibu Kota? Apakah kau juga merasakan nelangsa dan lara?

Lalu apa peduli ku sekarang? Bukankah kau tidak lagi menungguku? Bukankah kau tidak lagi tersenyum untukku? Bukankah air matamu bukan untukku lagi? Lalu kenapa aku harus memikirkan perasaanmu dulu?

Dulu ketika kita masih bersama…. Dulu ketika jarak memisahkan kita. Sial! Memikirkan wajahmu yang sendu membuat dadaku terhantam, rasanya nyeri dan perih seperti ketika teriris pisau saat mengupas buah. Andai jarak tidak memisahkan kita, akankah kita tetap bersama sampai sekarang? Andaikan jarak tidak memisahkan kita, akankah kau yang akan menjadi pengantinku? Brengsek! Kenapa aku harus berandai-andai seperti ini? Kenapa perasaan itu semakin kuat? Perasaan rindu padamu….

❤❤❤

Kalau boleh jujur aku sendiri tidak menyangka bahwa waktu bisa secepat ini berjalan tanpa ku sadari. Besok! Besok adalah waktu yang paling penting dalam hidupku yang kalau bisa aku enggan menghadapinya. Jika boleh aku ingin berlari sejauh mungkin agar tidak usah melewati esok hari. Kenapa tidak langsung lusa saja yang datang?

“Calon pengantin kok murung begitu? Besok kamu menikah lho, Far….” Mbak Lusi, kakakku yang nomor 2 berujar dengan wajah sumpringah, “Tuh temanmu yang namanya Fajar datang bersama anak dan istrinya. Temui dulu, gih!”

Fajar? Fajar datang bersama anak dan istrinya? Untuk apa? Bukankah hari pernikahanku baru akan terlaksana esok?

Dengan malas aku berjalan ke luar rumah dimana di halaman depan rumahku sudah dipasang tenda dari kain terpal. Diantara deretan kursi-kursi yang mulai berjejer dengan rapi ku lihat sosok Faris duduk sendirian sedang ngobrol dengan kakak laki-lakiku. Ku paksakan langkahku menuju arahnya.

“Hei, calon pengantin!” seloroh Fajar.

Aku diam saja, tetap berjalan ke arahnya. Mas Andre terlihat menepuk bahu kanan Fajar sebelum pergi meninggalkannya untuk membantu kesibukan yang lain. Aku duduk malas di depan Fajar. “Pestanya kan besok, kenapa datang sekarang? Apa tanggal diundangan yang ku kirim salah?”

“Besok mertuaku operasi.” Jawab Fajar, “Bagaimanapun juga aku tetap harus ada di rumah sakit.”

Aku mengangguk paham. Ku lihat adikku yang namanya sama dengan calon istriku –Lia datang membawa baki berisi 3 gelas minuman dingin beserta kue kering. Usai meletakkan minuman dan kue kering itu Lia pergi tanpa berkomentar apa-apa.

“Tegang menjelang hari pernikahan memang biasa apalagi kalau bisa kita menikah sekali saja seumur hidup.” Komentar Fajar. Lihat! Siapa yang sok bijak sekarang? Si tukang pembuat onar itu dulu kelihatan lebih dewasa. Apakah faktor menyandang status sebagai suami dan ayah yang membuatnya seperti ini?

“Eh? Ada apa?” Tanya Fajar tiba-tiba menatapku dengan wajah paniknya.

“A…”

“Tia ingin jajan es dung-dung.”

Deg. Jantungku seolah membeku mendengar suara yang sepertinya sangat familiar berasal dari belakang tubuhku. Aku sangat penasaran siapa pemilik suara yang berhasil membuat darahku berdesir tidak nyaman begini namun aku takut, sangat takut. Bagaimana kalau dugaanku salah? Bagaimana bila itu bukan kau? Bagaimana bila perasaan itu kembali lagi menjelang hari pernikahanku esok?

“Eh? Tia sedang pilek kan? Tidak boleh minum es dulu ya. Sini ikut ayah. Ayah punya kue lho!” Fajar terlihat mengulurkan tangannya, ku dengar suara rengekan anak kecil dari samping tubuhku. Perlahan-lahan dapat dengan jelas ku lihat sosokmu yang sedang menggendong anak kecil duduk di samping Fajar. “Namanya Julli. Sepupuku.”

Kau tersenyum canggung padaku, begitu pula aku. Perasaan brengsek ini semakin membuatku tidak nyaman. Mbak Lusi salah, bukan istri Fajar yang datang bersamanya tetapi kau, sepupunya yang datang bersamanya.

“Istriku tidak bisa meninggalkan mertuaku jadi aku mengajak Julli. Lagi pula Tia juga nyaman bila ada didekat Julli.” Fajar menjelaskan. Tangannya terjulur mengambil kue kering dalam toples untuk diberikan pada putrinya.

“Kau sehat?” tanyaku, ku abaikan tatapan bingung Fajar yang diarahkan padaku.

“Sehat.” Jawabmu kalem. Wajahmu terlihat datar dan biasa-biasa saja.

“Kau tahu kalau aku akan menikah dengan Lia?”

“Ya. Teman-teman memberi tahuku melalui jejaring sosial.” Jawabmu santai. Ada nada suara dingin dan kaku dari caramu bicara.

“Kalian sudah saling kenal?” Tanya Fajar.

“Ka…”

“Kami adalah teman waktu SMP, istrinya juga.” Jawabmu memotong apa yang ingin ku katakana. “Makanya waktu Mas mengajakku kemari aku sudah tahu kalau teman yang Mas maksud adalah Farish.”

“Oh, jadi waktu SMP kalian satu sekolahan? Tapi kenapa kau tidak masuk ke SMA yang sama dengan kami, hm?” Tanya Fajar.

“Kenapa harus sama? Dimanapun sekolahnya yang terpenting niat belajarnya, kan?” tanyamu.

Aku tidak bisa lagi berkonsentrasi. Obrolan ringan yang kita –kau, aku dan Fajar lakukan sedikit membuatku teringat masa lalu indah yang pernah kita lalui bersama, teringat bagaimana senyum indahmu yang kau hadirkan dulu untukku, teringat bagaimana pahit dan pedihnya ketika kau meminta berpisah karena aku kala itu menduakanmu bersama Lia –calon istriku sekarang.

Dari obrolan ringan yang disertai senda gurau itu aku mengetahui bahwa kau kini sudah terikat, ada yang sudah mengisi hatimu. Kau terlihat bahagia ketika menceritakan tentang dia, matamu berbinar-binar, senyum merekah dibibirmu yang kemerahan. Ada kemarahan yang ku rasakan. Sedikit tidak rela ketika senyum indahmu itu ada karena laki-laki lain.

Ketika kau mengulurkan tangan hendak berpamitan, tubuhku mengejang kaku. Aku ingin mencegahmu pergi, aku ingin menahanmu karena aku ingin melihat indahnya senyummu lebih lama lagi.

Kau berlalu seperti angin. Langkahmu ringan selembut bulu. Aku hanya bisa menatapmu dalam diam. Ada perasaan tidak rela ketika kau pergi seperti itu.

Bagaimanapun juga kenyataan membawaku kembali pada nalarku, bahwa apapun yang terjadi besok aku akan tetap menikahi Lia. Aku tetap mencintaimu tetapi aku tidak bisa bersamamu. Namun dalam keputusasaan perasaanku ini ijinkanku untuk terus merindumu, Cinta….

 

 

 

 

Friday, February 12, 2016

2:40:39 PM

NaraYuuki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s