Youre Not a Bad Girl VI


BAB VI

Change

❤❤❤

Youre not a bad Girl

❤❤❤

❤❤❤

Tidak lagi sama. Setelah menelan kekecewaan karena ditinggal pergi oleh pujaan hatinya, setelah dipaksa menerima gadis yang dibencinya sebagai tunangannya, terlihat sangat menyedihkan namun itu lah yang terjadi pada hidup Achiel dua tahun belakangan ini.

“Kakak dari mana?” tanya Emir yang baru melihat Achiel pulang.  Achiel memang sering pulang larut semenjak patah hati karena ditinggal pergi gadis yang ia cintai. Emir bisa memaklumi hal itu tetapi karakter Achiel perlahan-lahan mulai berubah. Achiel mulai menutup diri dan jarang bicara pada keluarganya sendiri. Bila tidak mengurung diri didalam kamar, Achiel biasanya menghabiskan waktunya diluar hingga larut.

“Apa kau mulai peduli padaku, Emir?” tanya Achiel terdengar sedikit ketus.

“Tidak juga.” Sahut Emir. “Hanya ingin memberitahumu kalau tadi ada seseorang yang menanyakan keadaanmu.”

“Gadis bodoh itu lagi? Jangan katakan apa-apa soal dia padaku! Aku tidak mau tahu apa yang dia lakukan ataupun apa yang terjadi padanya. Aku tidak peduli bila dia masuk rumah sakit maupun…”

“Aku tidak bilang bila orang yang menanyakan keadaanmu adalah Grace.” Emir memotong ucapan Achiel, “Kak Herschell….”

Achiel bergeming. Nama itu terdengar seperti sesuatu yang sangat sakral untuk telinga Achiel.

“Tadi sore kak Herschell menelpon dan menanyakan keadaanmu. Apa kau sehat? Bagaimana dengan sekolahmu? Apa ibu dan ayah sehat? Serta bagaimana perkembangan hubunganmu dengan tunangan tercintamu.” Emir menyeringai melihat air muka kakaknya mulai mengeras. “Aku menjawab sesuai apa yang ku lihat selama ini. Ah, kak Herschell juga berjanji akan mengirimkan email padaku bila dia tidak sibuk dengan sekolahnya. Kami sempat bertukar alamat email tadi. Ku harap kau tidak cemburu, Kak.”

“Berikan nomor telponnya!”

“Tidak!” Emir menggelengkan kepalanya, “Kak Herschell sepertinya tidak ingin kau menghubunginya karena dia melarangku memberikan nomor telponnya padamu.”

Achiel menatap nyalang pada adiknya yang tersenyum bodoh seolah-olah sedang menertawakan dirinya.

“Karena kak Hersel bilang, dia tidak mau mengganggu hubunganmu dengan Grace.” Emir menutup buku yang berada di atas pangkuannya, berdiri dari duduk malasnya dan tersenyum pada Achiel, “Kak Herschell juga berpesan agar kau jangan terlalu larut dan terpaku pada masa lalu, Kak.” Ucapnya sebelum pergi.

Emir merasa menjadi adik yang jahat karena mengatakan hal seperti itu pada Achiel. Namun Emir berpendapat bila tidak seharusnya kakaknya bersikap seperti itu. Semenjak pertunangan Achiel dengan Grace, Emir merasa keluarganya menjadi keluarga yang tidak bahagia, suram dan muram.

❤❤❤

 “Ayah dan ibu sedang pergi ke luar kota untuk berlibur sekaligus memperbaiki hubungan mereka yang beberapa tahun terakhir ini memburuk karena pertunangan kak Achiel.” Jelas Emir yang sedang memakan serealnya, “Kalau kau mencari kak Achiel, mungkin dia sedang joging atau bermain basket bersama anak-anak kompleks di taman.”

“Kau hanya makan sereal? Apa itu cukup? Mau ku masakkan sesuatu?”

“Jangan menyulitkan dirimu sendiri untuk berperan menjadi kakak ipar idaman untukku karena aku tidak yakin kau akan menikah dengan kak Achiel.” Komentar Emir. Diteguknya segelas penuh jus jeruk sampai habis, “Dari dalam hatiku yang paling dalam aku masih berharap kak Herschelllah yang akan menjadi kakak iparku. Maafkan aku bicara sekasar ini padamu, tetapi ku rasa kau tidak akan bisa mengambil hati kakak dan orang tuaku. Pertunangan bodoh ini ada karena desakan orang tuamu hanya karena keluargaku memiliki sedikit hutang pada mereka. Benar-benar cara yang sangat kotor!”

“Emir…”

“Aku tidak bisa berpura-pura baik pada orang yang ku benci.” Emir tersenyum lebar, “Aku sudah menawarkan perang terbuka padamu, kakak ipar.”

“Kita tidak sedang berperang, Emir.”

“Sayangnya aku sangat membencimu. Kebencian sepihak yang sangat menyebalkan!” Emir tersenyum bodoh.

“Kalau Herschell yang berada disini… bagaimana?”

“Kami akan sangat bahagia.” Jawab Emir, “Menurut pendapatku siapa saja yang menjadi tunangan kak Achiel tidak masalah asalkan bukan kau. Cara yang dipakai olehmu dan keluargamu untuk menjerat kak Achiel sangat tidak terhormat dimataku, karena itulah aku sangat membencimu dan berharap kau enyah dari muka bumi ini!”

Grace tertegun mendengar apa yang diucapkan oleh Emir. Jelas Emir dan Achiel sangat berbeda. Achiel mungkin sangat membenci dirinya tetapi Achiel tidak pernah berbicara blak-blakan seperti yang Emir lakukan padanya barusan.

“Tunanganmu membuatku kehilangan selera makanku, Kak.” Ucap Emir ketika melihat Achiel muncul dari balik pintu ruang makan.

“Usir saja!” sahut Achiel.

“Kita akan dapat masalah bila dia mengadu ada ayahnya, Kak.” Emir mencibir, “Akan ku tinggalkan kalian agar bisa bicara. Aku akan duduk manis di ruang keluarga sambil menunggu telpon dari Kak Herschell.” Emir tersenyum ketika melihat delikan yang diberikan oleh kakaknya.

“Hers menelpon kemari?” tanya Grace.

“Ya. Kenapa?” tanya Emir. Dapat ia lihat kegelisahan yang tiba-tiba tergambar jelas pada wajah Grace, “Tenang saja. Bukan kak Achiel yang ditelpon oleh kak Herschell. Yah, sepertinya kak Herschel menganggap aku jauh lebih baik daripada kak Achiel.” Emir tersenyum mengejek pada Achiel sebelum berjalan pergi meninggalkan ruang makan.

“Sejak kapan Hers sering menelpon kemari?” Grace menatap Achiel dengan mata nanarnya. Pikirannya kalut. Bila Herschell masih menelpon Achiel berarti mereka berdua masih berhubungan sampai sekarang.

“Entahlah. Yang ditelpon hanya Emir jadi tanyakan sendiri pada Emir.” Jawab Achiel tak acuh, “Lagi pula kenapa bila Herschell menelpon kemari? Dia punya tempat istimewa di rumah ini jadi sangat wajar bila dia menelpon.”

“Bukankah seharusnya tempat istimewa di rumah ini menjadi milikku?” gumam Grace dengan suara lirih.

“Ya, jadi milikmu saat kau merebut paksa dari sepupumu yang sangat peduli padamu.” Komentar Achiel, “Ku rasa akan lebih baik bila kau bukan sepupunya. Kau tidak terlalu berharga bila dibandingkan dengan pengorbanan yang dia lakukan untukmu. Pengorbanan brengsek yang sia-sia!”

Grace terduduk di salah satu kursi. Entah kenapa rasanya terlalu berat untuk memasuki keluarga Achiel. Tidak masalah bila Emir menunjukkan terang-terangan sikap benci dan tidak suka pada dirinya, tidak masalah bila ibu Achiel bersikap dingin padany, tidak apa-apa bila ayah Achiel tidak pernah berbicara padanya ketika dirinya datang, namun semuanya terasa berat bila menyangkut Achiel.

Penolakan Achiel, sikap dinginnya, cara bicaranya yang ketus dan sedikit kasar walaupun tidak sefrontal yang dilakukan Emir padanya tetapi itu cukup untuk melukai hati Grace. Semasa SMA Grace sangat memuja Achiel, kini setelah dirinya bisa memiliki pemuda impiannya bahkan bertunangan dengannya jangankan untuk bahagia, mendapatkan perlakuan sedikit lebih ramah saja Grace tidak pernah mendapatkannya.

“Bila Hers yang berada diposisiku, akankah kau dan Emir akan bersikap seperti ini padanya?”

“Kau sudah tahu jawabannya, kan?” Achiel menatap bosan gadis yang sejak dua tahun lalu dipaksa menjadi tunangannya itu, “Tentu saja tidak.” Ucapnya kemudian.

Grace hanya mengangguk pelan. Tidak. Tentu saja, semua sudah jelas sejak awal. Dirinya tidak diterima dengan tangan terbuka oleh keluarga Achiel dan Achiel sendiri karena bagi mereka Herschelllah yang seharusnya berada diposisinya sekarang.

“Jangan pernah berandai-andai karena kau dan Herschell berbeda! Kau tidak akan bisa menjadi seperti dia!”

“Aku tahu.” Sahut Grace, “Malam nanti ayahku mengundangmu dan orang tuamu makan malam bersama.”

“Tidak bisa!” tolak Achiel.

“Kali ini apa alasannya? Hers lagi?”

“Jangan menjadikan Herschell sebagai kambing hitam untukmu! Apa matamu buta? Orang tuaku tidak ada di rumah sampai minggu depan. Aku sendiri akan mengerjakan tugas kuliahku bersama dengan kelompokku.” Achiel menanggapi, “Statusmu mungkin memang tunanganku. Tetapi bagiku kau tidak lebih daripada orang asing yang memaksa masuk ke dalam kehidupan tenangku. Kaulah yang mengacaukan hidup dan kebahagiaanku! Kau dan ayah yang selalu memanjakanmu itu!”

Grace mengepalkan kedua tangannya, ada perasaan marah ketika ayahnya dibawa-bawa dalam urusan mereka.

“Pulanglah! Kedatanganmu kemari hanya membuat rumahku yang suram bertambah muram!”

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

 

4 thoughts on “Youre Not a Bad Girl VI

  1. Grace egois..
    udah tau Achiel gak suka dia malah nekat..
    sampe ngerebut apa yang dimiliki sepupu yang sangat peduli sama dia..
    lanjut dong..
    penasaran nih,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s