Youre Not a Bad Girl V


BAB V

Gone

❤❤❤

❤❤❤

Youre not a bad Girl

❤❤❤

❤❤❤

Senyum itu menggembang sempurna, mata seindah mutiara rusa betina itu kembali memancarkan sinarnya walaupun pancarannya berbeda dari biasanya. Harschell sudah kembali ke sekolahnya. Tentu saja! Mengingat ini adalah hari terakhir ujiannya. Dengan penuh semangat gadis cantik itu menghabiskan harinya bersama teman-teman sekolahnya. Tidak ada yang istimewa. Semuanya terasa datar, hambar dan sedikit menyesakkan. Namun sebisa mungkin Herschell berusaha menikmatinya, menikmati hari-hari terakhirnya di sekolah sebelum pergi ke Amerika.

“Kak Hers….”

“Emir…. Kenapa kau bisa ada di sekolah? bukankah murid kelas 1 dan 2 diliburkan?”

“Tentu saja untuk bertemu denganmu, Kak….” Jawab adik Achiel itu tanpa meninggalkan senyumannya.

Herschell tersenyum, “Apakah dia baik-baik saja?”

“Begitulah…. Setidaknya Beruang Liarmu itu tidak mengamuk lagi dan bisa sedikit lebih tenang.” Canda Emir.

“Beruang liar yang tidak akan pernah menjadi milikku….” gumam Herschell. “Kau harus mengawasinya! Jangan biarkan dia sendirian. Dia bisa terpuruk lagi bila dibiarkan sendirian.”

“Kalau Kakak begitu menghawatirkannya kenapa Kakak tidak menemuinya sendiri?” tanya Emir, “Ku rasa Beruang itu akan senang bila pawangnya menjenguknya.”

“Apakah boleh?” tanya Herschell.

“Kenapa bertanya? Tentu saja boleh….” Jawab Emir. “Kak, keluargaku sekarang berantakan. Kak Achiel menjadi pemurung dan jarang berinteraksi. Ibu yang menentang perjodohan itu menjadi sedikit depresi dan sering bertengkar dengan ayah. Aku jadi tidak kerasan tinggal lama-lama di rumah, Kak….” Emir mengulum senyum getirnya.

Mengengar hal itu rasanya Herschell dirajam oleh belati tidak kasat mata yang meremukkan hatinya.

“Kak, bila ada waktu tolong temuilah kak Achiel. Bicaralah padanya agar dia tidak terus terpuruk seperti itu….” Pinta Emir.

“Hari ini tidak bisa Emir. Aku harus bertemu dengan Grace.” Sesal Herschell. “Bagaimana bila besok?”

Emir mengangguk pelan. “Kapan pun Kakak mau.”

❤❤❤

Pedar cahaya dari lampion yang menggantung di langit-langit café menambah kesan yang menenangkan. Akan memberikan nuasa romantis bila menghabiskan waktu di café bernama Neoselphiva itu bersama pasangan dengan mengadakan candle light dinner atau sekedar menghabiskan waktu bersama dalam perbincangan hangat. Sayangnya Herschell tidak datang bersama Beruang besarnya. Oh, sepertinya Herschell melupakan sesuatu, pemuda tampan itu bukan lagi miliknya. Lagi pula Herschell datang atas undangan Grace, sepupunya.

“Hers, maafkan aku. Ku mohon maafkan aku….” Ucap Grace. Digenggamnya jemari Herschell kuat-kuat.

“Maaf? Kenapa?” tanya Herschell.

“Soal Achiel….” Ucap Grace dengan suara pelannyya.

“Ah…. Achiel? Tidak apa-apa. Tidak ada yang perlu dimaafkan.” Herschell berkomentar.

Grace diam.

Herschell pun terdiam.

“Aku tahu aku sangat jahat. Tapi… aku mohon lepaskan Achiel, Hers! Aku sangat mencintainya…. Kau tahu hal itu kan, Hers? Tolong….” Air mata meleleh membasahi wajah Grace.

“Apakah selama ini aku bersikap seolah-olah aku akan membatalkan pertunanganmu dengan Achiel?” tanya Herschell.

Grace diam, ditatapnya sepasang mata kelam serupa mata rusa betina milik sang sepupu yang selalu berhasil membuatnya iri.

“Kalau aku mau aku bisa melakukannya dengan mudah, Grace. Tapi aku tidak melakukannya….” Herschell berujar. “Kalau kau memang sangat mencintai Achiel, bahagiakan dia. Jangan biarkan dia terluka seperti sekarang.” Susah payah Herschell menelan ludahnya.

Grace mengangguk pelan. Dirinya benar-benar menjadi peran antagonis sekarang. Tapi biarlah dia egois kali ini saja demi cintanya pada Achiel walaupun harus mengorbankan kebahagiaan sepupunya sendiri.

“Kalau tidak ada yang ingin kau bicarakan lagi, lebih baik aku pulang….”

“Hers…. Kau akan datang ke acara pertunanganku dengan Achiel  lusa, kan?”

“Dimana otakmu Grace? Kalau kau meminta hal itu padaku, sama saja kau memintaku menjeburkan diriku sendiri ke dalam neraka penuh penderitaan!” tanpa menyuarakan isi hatinya, Herschell hanya mampu mengulum senyumnya. “Aku harus pulang, Ibu sudah menungguku. Hari ini kami mau belanja baju….” Ucapnya.

“Aku mengerti….” Grace tersenyum, belanja baju untuk ke pestanya? Tidak masalah. Itu yang Grace pikirkan, “Sampaikan salamku pada tante Xierra.”

“Tentu.” Sahut Herschell sebelum pergi meninggalkan Grace.

❤❤❤

Bohong bila Herschell tidak bersedih dan sakit hati. Tapi bisa apa dia? Gadis cantik itu hanya bisa memeram bara sekamnya sendiri. Herschell tidak mau menjadi lemah dengan terus menangisi keadaannya. Tidak! Tidak akan lagi. Cukup dirinya saja yang menderita, Herschell tidak akan menyeret kedua orang tuanya dalam lingkaran sakit hatinya. Tidak! Karena itu sebisa mungkin Herschell tidak akan menangis dan menyembunyikan kesedihannya dari hadapan kedua orang tuanya.

Berpura-pura tegar tidaklah buruk! Itulah yang Herschell pikirkan.

Siang ini sedikit mendung. Herschell sudah selesai berkemas. Herschell akan terbang ke Amerika nanti malam untuk mengikuti ujian masuk disalah satu universitas pilihan orang tuanya. Besok memang hari pertunangan Achiel dan Grace, tentu saja Herschell tidak akan menghadiri acara itu.

“Sayang, kau mau kemana?” tanya Xierra saat melihat putrinya sudah menyandang tasnya.

“Menemui Beruang Besar, Bu….” Jawab Herschell.

“Kau pergi sendiri? Tidak mau diantar supir?”

“Hers lebih suka menyetir sendiri, Bu.” Herschell tersenyum.

“Baiklah kalau begitu. Hati-hati dijalan, oke?”

Herschell mengangguk pelan, mencium kedua pipi ibunya sebelum berjalan menuju garasi rumahnya. Ini hari terakhirnya disini karena itu hari ini saja Herschell ingin merebut Achiel dari Grace, toh setelah hari ini Herschell tidak akan lagi bisa memiliki pemuda tampan itu lagi.

❤❤❤

 “Kau tidak bisa memaksaku Tuan Hassan Barend! Aku tidak akan pernah sudi datang ke acara itu! Tidak akan pernah! Lebih baik aku mati! Aku tidak sudi gadis itu menjadi calon menantuku! Tidak!” bentak Dona.

“Sayangku, tenanglah….” Hassan berusaha menenangkan istrinya yang tengah mengamuk.

Herschell menutup matanya, menulikan telinganya ketika mendengar pertengkaran dari arah ruang keluarga ketika dirinya berjalan menaiki tangga menuju kamar Achiel.

“Nona Herschell….” Sapa salah seorang pembantu rumah Achiel ketika melihat Herschell berada anak tangga teratas.

Herschell hanya tersenyum, “Emir dimana?”

“Tuan muda Emir sedang pergi ke rumah tuan Lion.”

“Lion ya?” Herschell mengangguk paham. “Aku hanya ingin bicara dengan Achiel sebentar, tidak perlu mengantarkan minuman dan cemilan untukku. Kalau aku haus aku akan mengambilnya sendiri.”

“Baik nona….”

Sepeninggal pembantu Achiel, Herschell segera masuk ke dalam kamar yang sangat tidak asing baginya tanpa perlu bersusah payah menggetuk pintu dulu.

Gelap. Kamar itu terasa gelap. Lampu sama sekali tidak menyala, gorden yang tertutup rapat membentengi sinar matari yang akan masuk ke dalam kamar itu.

Dengan langkah pelan Herschell menghampiri penghuni kamar yang tengah melamun bagaikan patung tidak bernyawa itu, duduk di samping pemuda tampan yang tampak begitu terpuruk dengan hati-hati, takut mengganggu.

“Mau menertawakanku?” suara rendah berat itu terdengar sedikit serak.

“Ya. Aku sengaja datang untuk menertawakanmu.” Sahut Herschell, “Kau tahu? Melihatmu seperti ini mengingatkanku pada seekor anak beruang yang kehilangan induknya.”

“Kau indukku.” Achiel menyandarkan kepalanya pada bahu kanan Herschell, memeluk erat perut gadis cantik itu seolah-olah takut kehilangannya.

“Hm….” gumam Herschell. Mata selegam mutiara rusa betina itu menerawang hampa menatap warna hijau yang mendominasi kamar itu, warna kesukaan Achiel.

“Jangan mencampakanku! Aku bisa mati bila kau mencampakanku.” Ucap Achiel.

“Bukankah sekarang yang terlihat adalah kau yang mencampakanku?? Tanya Herschell.

“Begitukah? Kalau begitu aku yang jahat ya?”

“Hm… mungkin.”

Hening sesaat. Debaran jantung itu terdengar bagai irama tambur perang yang dipukul-pukul sekuat tenaga untuk menyemangati mereka yang hendak berlaga dimedan perang, sayangnya tidak ada yang berperang disini. Keheningan yang tercipta antara Herschell dan Achiel lebih kepada perasaan mereka yang tidak mampu mengutarakan apa yang mereka rasakan sekarang. Mereka masih remaja, bisa dibilang begitu dengan usia yang masih terlalu muda tentu saja urusan seperti ini sudah biasa dihadapi oleh remaja lain seusia mereka. Sayangnya kasus yang menimpa keduanya sedikit lebih rumit dari yang remaja lainnya alami.

Achiel dipaksa bertunangan dengan gadis yang tidak disukainya, sialnya gadis itu adalah sepupu Herschell sendiri. Kalau boleh memilih pasti Achiel memilih menolak. Tetapi sepertinya ayahnya sudah menulikan telinga dan mematikan perasaannya hingga pertunangan sialan itu terus berjalan.

“Bagaimana dengan kita?” setelah keheningan beberapa saat yang melingkupi mereka akhirnya Achiel buka suara.

“Kita?” tanya Herschell.

“Kita….”

“Jalan yang dulu kita lewati bersama kini mencabang. Kau akan berjalan disisi yang berlainan denganku bersama dengan Grace, sedangkan aku akan berjalan disisi yang satu lagi sendirian sampai aku menemukan seseorang untuk mendampingiku.”

“Kau milikku! Tentu saja aku yang akan mendampingimu. Memang kau pikir siapa lagi yang bisa mendampingimu selain aku?”

Herschell menggelengkan kepalanya pelan. “Ku rasa tidak akan seprti itu.”

“Kau milikku! Itu harga mati!”

“Berbahagialah….”

“Aku tidak akan bisa bahagia bila kau tidak bersamaku. Kau sumber kebahagiaanku.”

“Itu kedengaran tidak terlalu baik, Bear….” lirih Heerschell.

“Aku sempat berpikir untuk bunuh diri.”

“Jangan lakukan hal itu! Jangan membuatku kecewa!”

“Tentu saja tidak. Aku tidak akan bunuh diri dan mati konyol hanya gara-gara hal seperti ini! Aku akan terus hidup untuk membalas sakit hatiku!” ada kilat kemarahan dalam sepasang bola mata tajam Achiel.

“Hari ini mari kita lupakan hal ini sebentar. Aku membawakanmu sebuah hadiah.”

Achiel melepaskan pelukannya pada Herschell, duduk dengan tegak dan menatap gadis cantik yang tengah berusa mengambil sesuatu dari dalam tasnya.

“Taraaa….” Herschell tersenyum ketika menunjukkan sebuah gantungan kunci berbentuk beruang berwarna coklat pada Achiel, “Saat berbelanja bersama Ibu kemarin aku tidak sengaja melihatnya dan teringat padamu, Bear.”

Achiel menerima gantungan kunci itu, terasa lembut seperti menyentuh bulu kucing saat telapak tangannya menggenggam gantungan itu, “Beruang?”

“Beruangku.” Herschell tersenyum, “Mau jalan-jalan bersamaku?”

“Kemana?” tanya Achiel.

“Lapangan basket?”

Mata Achiel membentuk lengkungan bulan sabit saat bibir berbentuk hatinya tersenyum, “Kau tidak pernah menang dariku, Sweet heart.” Ucap Achiel, “Harus ku akui kau sangat payah saat melempar bola kedalam keranjang.”

“Kita lihat saja!”

❤❤❤

Ada lapangan basket kecil di belakang rumah Achiel yang biasa digunakan Achiel dan Emir bermain basket pada sore hari ataupun akhir pekan, tentu saja sebelum kasus pertunangan Achiel dengan Grace merusak segalanya. Kali ini bukan Emir yang menjadi lawan main Achiel melainkan Herschell.

Rambut hitam panjang Herschell yang biasanya dibiarkan tergerai kini diikat asal pada puncak kepalanya, gadis catik bermata indah itu pun sudah berganti kostum memakai kaus kedodoran dan celana olah raga kebesaran milik Achiel.

“Ayo kak Hers! Kalahkan kak Achiel!” Emir menyemangati.

Herschell terengah, keringat sudah membasahi sekujur tubuhnya tetapi tidak sekali pun dirinya bisa merebut bola dari tangan Achiel.

“Menyerah?” tanya Achiel yang masih mendrible si kulit jingga itu penuh semangat.

Herschell menggelengkan kepalanya pelan, “Aku… belum… kalah!” ucapnya dengan napas terengah.

“Emir, ambilkan air putih!” pinta Achiel.

Tanpa diminta dua kali, Emir segera berlari masuk rumah untuk mengambil pesanan kakaknya.

“Dadamu sakit?” tanya Achiel yang sudah melupakan bolanya dan menatap Herschell khawatir. Riwayat penyakit sesak napas yang Herschell derita sedikit banyak mempengaruhi kekhawatiran Achiel.

“Aku tidak apa-apa.” Herschell mendudukkan dirinya, menyandarkan dirinya pada kaki ring basket. “Kau senang hari ini?”

“Huh?” Achiel mengerutkan dahinya.

“Bermain basket dan tertawa lepas seperti itu. Apakah kau senang?”

Achiel mengulum senyumnya, mengusap kepala Herschell pelan, “Kau sengaja melakukan semua ini untukku?”

“Kau berhak bahagia begitu pula aku.” Herschell membiarkan Achiel mengusap wajahnya, membiarkan pemuda tampan itu menyalurkan sayangnya pada dirinya untuk terakhir kalinya, “Bisakah kau memelukku?”

“Apapun yang kau minta.” Achiel mendekap tubuh Herschell erat tanpa menyadari bahwa air mata sudah meleleh membasahi wajah cantik Herschell.

Herschell hanya tersenyum ketika melihat Emir bergeming beberapa meter darinya dan Achiel. Tidak apa-apa seperti ini karena pada akhirnya mereka tidak akan pernah bisa bersama lagi.

❤❤❤

Herschell terduduk di atas kursi tunggu dengan gelisah, dipeluknya sebuah boneka beruang berukuran besar hadiah dari Achiel pada ulang tahun hari jadi mereka yang pertama. Boneka beruang itu pulalah yang membuat Herschell memberikan nama panggilan “Beruang Besar” untuk Achiel.

“Sudah siap?” tanya Lind yang sejak tadi diam menatap putri semata wayangnya yang sebentar lagi akan meninggalkannya.

Herschell mengangguk pelan dan tersenyum melihat ibunya yang mulai terisak.

“Kabari kami begitu sampai disana. Jaga kesehatan dan jangan sampai telat makan.” Lind mengingatkan sebelum memeluk putrinya. “Ayah menyayangimu.”

“Aku juga menyayangi Ayah dan Ibu….”

Bila perpisahan ini adalah jalan terbaik walaupun harus mengalami kesakitan mendalam, Herschell rela menempuhnya. Bahkan keralaan untuk melepaskan cintanya.

❤❤❤

 

One thought on “Youre Not a Bad Girl V

  1. grace gadis jahat. dia mendapatkan orang yg dicintainya. tp orang yg dicintainnya tidak pernah menerima hatinya. dan grace tdk bisa mendapatkan hatinya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s