Youre Not a Bad Girl IV


BAB IV

Plan

❤❤❤

❤❤❤

Youre not a bad Girl

❤❤❤

❤❤❤

“Sayang, sudah satu minggu kau tidak berangkat sekolah, kau tidak merindukan teman-temanmu, hm? Bukankah mereka selalu menelponmu seminggu ini?” Xierra membelai kepala anaknya penuh sayang. Sedih, sangat sedih melihat keadaan putri yang sangat disayanginya seperti ini.

Herschell sudah satu minggu tidak keluar kamar, tidak mau bicara pada siapa pun, tidak mau makan. Gadis cantik itu hanya menangis sepanjang hari, baik dalam keadaan terjaga maupun terlelap. Air matalah yang keluar dari sepasang mata kelamnya. Sepasang mata indah yang biasanya selalu bersinar penuh kebahagiaan itu kini meredup, menyisakan pijar perih, sedih dan luka. Bibir penuh yang biasanya terlihat kemerahan itu kini sedikit memucat, kulit pualamnya yang memang pucat kini semakin memucat.

“Sayang, ayo makan! Ibu sudah memasak makanan kesukaanmu.” Bujuk Xierra. “Ibu mohon jangan seperti ini…. Melihatmu seperti ini membuat ibu merasa sakit.” Diusapnya wajah pucat Herschell perlahan-lahan.

Lind yang melihat interaksi antara anak dan istrinya hanya bisa mengehela napas panjang. Ini lebih rumit daripada mengurus tugas-tugas politiknya. Bagaimanapun juga masalah yang sekarang dihadapinya adalah masalah tentang keluarganya sendiri, tentang kebahagiaan putri semata wayangnya, kebahagiaan putrinya tidak akan pernah mampu ia tukar dengan jabatan menjadi presiden sekali pun.

“Sayang…. Ayah akan mengirimmu ke luar negri sesuai keinginanmu. Dengan syarat, kau harus lulus SMA dulu.” Akhirnya setelah memikirkan selama satu minggu lamanya, Lind mengambil keputusan berat itu juga.

“Lind!” bentak Xierra, “Kau gila?!”

“Aku akan lebih gila bila melihat kalian menangis seperti ini sepanjang hari! Aku lebih memilih mengirim putri kita ke Amerika asal dia bisa bahagia!” ucap Lind menghadapi kemarahan istrinya. “Bila aku membiarkanya berada di sini lebih lama lagi sama halnya aku membiarkan putriku menjadi pasien rumah sakit jiwa.”

❤❤❤

Tidak jauh berbeda dengan keadaan Herschell, Achiel pun mengalami hal yang sama. Terpuruk, terpukul dan depresi. Pemuda tampan itu memang tidak mengurung dirinya di kamar, hanya saja Achiel kini selalu pulang tengah malam dan tidak lagi berangkat sekolah. Achiel memilih menghabiskan waktunya untuk nongkrong di club malam dan ditempat-tempat yang akan membuatnya melupakan kepedihan hatinya.

Achiel bahkan kadang pulang dalam keadaan mabuk, bila ada yang mencoba menasihatinya, pemuda tampan itu akan mengamuk, membanting barang apapun yang bisa dijangkaunya. Namun walaupun begitu dalam tidurnya, Achiel selalu menangis. Bagaimana pun juga Achiel  masih pelajar SMA. Beban seperti ini jelas terlalu berat untuk seorang remaja sepertinya. Tentu saja hal ini membuat orang tuanya khawatir pada perkembangan Achiel.

“Tidak bisakah batalkan pertunangan itu? Aku tidak mau anakku menderita! Lagi pula bukankah rasanya terlalu terburu-buru bila Achiel harus bertunangan dengan gadis aneh itu? Aku lebih suka anakku bersama Herschell.” Dona, perempuan yang sudah melahirkan Achiel itu menatap kesal suaminya yang dianggapnya menjadi penyebab kekacauan ini.

“Aku tidak bisa melakukannya, ini semua sudah sesuai perjanjian yang disepakati….” Jawab Hassan, ayah Achiel.

“Aku membencimu! Bagaimana bisa kau melakukan hal sekejam itu pada putramu sendiri? Manusia tidak berperasaan!” Dona pergi meninggalkan suaminya dengan air mata yang berlinang.

Hassan terdiam. Sebenarnya bisa saja Hassan membatalkan pertunangan antara Achiel dan Grace, tapi bila ia melakukan hal itu ayah mertuanya, akan mengalami kesulitan karena perjanjian hutang yang sudah dibuatnya dengan orang tua Grace. Jalan satu-satunya menghindari hal itu hanyalah menikahkan Achiel dan Grace. Salahkan orang tua Grace yang terlalu mencintai putrinya. Salahkan Grace yang sangat mencintai Achiel!

❤❤❤

Air mata bening itu mengalir dari sepasang mata setajam musang yang tengah menatap sebuah foto yang terbingkai indah dalam fas foto berwarna coklat kehitaman. Gadis cantik yang dengan tulus dicintainya dengan segenap hati dan perasaan itu terelihat begitu bahagia didalam foto, senyumannya membuat wajah cantiknya semakin terlihat indah. Namun dengan teganya takdir berlaku kejam pada mereka. Takdir dengan kurang ajarnya berani memisahkan mereka.

“Kak Achiel, Tante Xierra mencarimu.”

Teriakan Emir, adiknya membuat Achiel tersadar dari lamunannya. Dengan sedikit kasar dihapusnya air mata yang membasahi wajah tampannya sebelum dibukanya pintu kamarnya.

“Ibu….” sahut Achiel begitu melihat Xierra.

“Akhirnya kau mau membuka pintu kamarmu juga, Kak.” Gumam Emir sebelum pergi meninggalkan Xierra dan Achiel berdua.

“Boleh Ibu masuk?” tanya Xierra.

Achiel menganguk pelan, mempersilahkan perempuan cantik itu masuk ke dalam kamarnya yang sedikit berantakan karena perbuatannya sendiri.

“Keadaanmu tidak jauh berbeda dari Hers.” Gumam Xierra.

“Apakah dia baik-baik saja?” tanya Achiel, “Dia tidak pernah membalas pesan dan mengangkat telpon dariku, Bu.” Adu Achiel.

“Setidaknya Hers sudah mau kembali ke sekolah mengingat sebentar lagi kalian harus menghadapi ujian akhir.” Jawab Xierra, “Tetapi percayalah bahwa keadaannya tidak jauh lebih baik darimu.”

“Maafkan aku, Bu. Hers seperti itu karena aku.” Sesal Achiel.

“Kau tidak salah sama sekali, anakku.” Xierra mengusap wajah kuyu Achiel perlahan-lahan “Bisakah kau melakukan sesuatu untuk Hers, Achiel?”

Achiel segera mengangguk. “Apapun untuk Hers pasti akan ku lakukan, Bu.”

Xierra tersenyum, ada kilat kemarahan didalam bola matanya, “Bertahanlah! Perjuangkanlah kebahagiaanmu dan Hers! Apapun jalan yang harus kalian tempuh, jangan menyerah! Walaupun berat sekalipun jangan sekali-kali berpikir untuk menyerah!” tanpa sadar air mata mengalir membasahi wajah ibu Herschell itu.

Achiel menggenggam erat kedua tangan perempuan yang tengah menangis dihadapannya itu erat, “Aku bersumpah akan membalas semua sakit hati yang Hers alami, Bu. Setiap tetes air mata yang Hers keluarkan akan mereka bayar dengan ribuan tetes air mata penyesalan.”

Xierra tersenyum, “Kalau begitu bangkitlah, anakku! Jangan seperti ini! Kalau kau terus terpuruk, kau tidak akan bisa mewujudkan keinginanmu itu.”

Achiel menggangguk pelan, walau masih samar namun pemuda tampan itu tersenyum, senyum penuh luka dan dendam.

❤❤❤

 

One thought on “Youre Not a Bad Girl IV

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s