Youre Not a Bad Girl III


BAB III

Achiel Barend

❤❤❤

❤❤❤

Youre not a bad Girl

❤❤❤

❤❤❤

“Kita sudah membahasnya sejak tadi, oke? Jangan dibahas lagi karena aku muak!” suara Acheil meninggi, tangannya terkepal menahan luapan emosi yang tiba-tiba saja memeluknya. Mendengar Herschell terus mendengungkan nama yang sangat dibencinya. Grace.

Achiel bukannya tidak tahu siapa itu Grace. Selain teman sekelasnya, Achiel juga tahu bahwa Grace adalah gadis yang hampir setiap hari selalu mencuri-curi pandang padanya, Grace adalah gadis yang sering meletakkan surat cinta atau hadiah-hadiah yang menurut Achiel tidak begitu penting ke dalam lokernya. Achiel tahu Grace itu siapa dan bagaimana seharusnya bersikap pada gadis itu. Achiel pun tahu pasti bahwa dirinya tidak menyukai gadiis yang merupakan sepupu Herschellnya itu.

“Kau tidak menyukai Grace, ya?” tanya Herschell.

Achiel menghela napas panjang, sepertinya akan sangat sulit untuk menjelaskan semuanya pada Herschell, “Aku tidak mau berurusan dengannya, hanya itu.”

“Tapi setidaknya kau bisa menolongnya bila siswa lain berbuat kasar padanya, kan?”

Achiel menggelengkan kepalanya pelan, “Ada batasan yang tidak bisa ku masuki. Mengertilah, hm…. Aku bukan seorang pahlawan kesiangan.”

Herschell mengerucutkan bibirnya kesal, “Kau harus tetap membantunya bila Grace mengalami kesulitan! Dia sepupuku.”

“Sepupu yang merepotkan.” Achiel berkomentar. “Bisakah kita tidak membahasnya lagi? Jangan rusak kebahagiaanku yang sudah berhasil menekuk Haven hanya karena sepupumu. Please….”

Herschell menatap wajah tampan Achiel yang terlihat sedikit kesal. Gadis cantik yang memiliki mata seindah mutiara rusa betina itu terdiam beberapa saat untuk mencoba memahami apa yang tenagh dirasakan oleh kekasihnya.

“Dengar, dia boleh saja sepupumu tetapi dia tidak bisa membuatku bersikap baik padanya hanya karena dia sepupumu. Tidak! Aku tidak bisa berpura-pura menyukai sepupumu itu padahal aku sama sekali tidak menyukainya.”

“Mungkinkah… orang yang membuat Grace dibully seperti itu adalah kau?” tanya Herschell.

“Kenapa kau berpikiran seperti itu? Kenapa harus aku?” tanya Achiel.

Herschell menggelengkan kepalanya pelan, “Caranya memandangmu sedikit berbeda dari caranya menatap teman laki-lakinya yang lain.”

“Dia punya teman?”

“Hei! Grace tidak hanya bergaul dengan para murid Cassiopeia yang sangat arogan!”

“Aku salah satunya?”

“Oh Bear….”

Achiel berdiri dari duduknya, “Kita bisa bertengkar bila aku harus mendengar nama sepupumu disebut lagi dalam pembicaraan kita.”

“Kalau begitu lebih baik kau mengantarku pulang.” Herschell meraih tas sekolahnya.

“Dengarkan aku, aku minta maaf bila bersikap seperti ini tapi aku tidak bisa….”

“Aku mengerti.” Herschell berjalan mendahului Achiel.

“Aku akan mengantarmu pulang!” Achiel mencekal lengan Herschell, “Aku tidak menerima bantahan.”

❤❤❤

Achiel berjalan menuruni tangga sembari menggangam erat tangan Herschell yang memilih bungkam semenjak pembicaraan mereka mengenai Grace.

“Kau mau kemana, Chiel?” tanya ayah Achiel.

“Mengantarkan Hers pulang.” Jawab Achiel singkat.

Pria berkaca mata itu menatap sendu putranya dan Herchell secara bergantian. “Sebaiknya kalian putuskan hubungan kalian sekarang juga sebelum semuanya terlambat!” ucapnya.

“Apa? Apa yang Ayah katakan?” mata Achiel membulat kaget. Bukankah selama ini ayahnya sangat merestui hubungannya dengan Herschell? Kenapa tiba-tiba saja memintanya untuk memutuskan hubungannya dengan Herschell?

Herschell yang sejak pertengkaran kecilnya dengan Achiel memilih untuk diam dan menundukkan kepalanya pun langsung mengangkat kepalanya, kaget mendengar apa yang dikatakan oleh ayah Achiel.

“Kau sudah punya tunangan. Jadi putuskanlah hubunganmu dengan Herschell sekarang!”

“Apa maksud Ayah? Tunangan apa?” tanya Achiel bingung. Kilat kemarahan memancar dari sepasang mata tajamnya.

“Kau sudah punya tunangan. Mulai sekarang kau harus memikirkan tunanganmu dan berhentilah bermain-main dengan Herschell!

“Aku tidak mau!” tolak Achiel. “Tunangan apa? Aku tidak merasa punya tunangan. Dan Ayah pun tahu bahwa hubunganku dan Hers bukan main-main.”

Bear….” Herschell berbisik, mengeratkan tautan tangannya dengan Achiel.

“Aku tidak mau bertunangan dengan orang yang tidak ku kenal! Aku tidak mau! Aku tidak suka hidupku diantur seperti itu!” Achiel melontarkan penolakannya.

“Kau sudah mengenalnya. Dia satu sekolahan denganmu. Namanya Marjerta Grace.”

Baik Achiel maupun Herschell sama-sama terkejut mendengar nama itu. Nama yang secara tidak langsung sangat dibenci oleh Achiel. Nama yang membuat mereka berdua terlibat pertengkaran kecil beberapa menit yang lalu.

Achiel tidak menyahut. Ditariknya tangan Herschell untuk segera pergi dari rumahnya. Entah apa yang Tuhan rencanakan kali ini? Tapi sepertinya takdir benar-benar sedang mempermainkan Achiel dan Herschell sekarang.

❤❤❤

Sepanjang perjalanan menuju rumah Herschell sama sekali tidak ada yang mau buka suara. Achiel memilih fokus menyetir, Herschell sendiri pun memilih untuk diam dengan segala pikiran yang berkecamuk didalam otaknya.

Sepupunya, Grace dan Achiel bertunangan? Sejak kapan? Kenapa dirinya tidak tahu hal ini? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang berkelebatan didalam otak Herschell.

Begitu mobil yang mereka tumpangi berhenti, Herschell langsung turun begitu saja tanpa mengatakan sepatah kata pun. Dengan cepat berjalan menuju pintu rumahnya dan masuk ke dalam begitu saja tanpa memedulikan panggilan Achiel.

Achiel hanya bisa menghela napas panjang. Ini terlalu rumit. Dengan langkah gontai pemuda tampan bermata setajam mata musang namun sangat meneduhkan itu berjalan perlahan mengejar kekasih hatinya, gadis yang sangat berarti bagi dirinya. Sumpah demi apapun, Achiel tidak pernah membayangkan bila dirinya harus berpisah dari Herschell.

Achiel tersentak kaget. Begitu masuk ke dalam rumah Herschell, dirinya mendengar sebuah teriakan histeris yang sangat memilukan. Teriakan dari seorang perempuan yang sudah dianggapnya sebagai ibu, Xierra, ibu Herschell.

“Tidak! Aku tidak akan datang!” bentak Xierra. Perempuan paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu terlihat sangat kacau, napasnya terengah, keduanya tangannya mengepal erat menahan amarah. “Bagaimana bisa dia melakukan ini pada Hers? Herschell adalah keponakannya sendiri. Dia bahkan tahu kalau Herschell dan Achiel….”

“Ibu… Ibu tenanglah! Aku tidak apa-apa, sungguh.” Herschell menghambur dan mendekap erat tubuh ibunya yang bergetar hebat.

“Sayangku….” Xierra menatap putri cantiknya nanar. Mata indah itu, mata seindah mutiara rusa betina milik putri semata wayangnya itu menyiratkan sebuah luka, “Kau sudah pulang?”

Herschell berusaha mengulum senyum dihadapan kedua orang tuanya.“Ayah, apakah tawaran Ayah yang ingin mengirimku melanjutkan sekolah di luar negri masih berlaku?” tanya Herschell, “Aku tidak keberatan bila Ayah ingin mengirimku belajar ke luar negri.”

“Hers?!” bukan hanya Xierra dan Lind, ayah Herschell yang memekik tertahan atas ucapan yang putri mereka lontarkan, Achiel yang ikut mendengarkannya pun hanya bisa membatu.

“Sayang….” Xierra tergagap. Ditatapnya sang suami yang juga memasang wajah bingungnya.

“Grace benar-benar akan bertunangan dengan Achiel, kan?” Tanya Herschell.

“Kau tidak akan pergi kemana-mana, kan? Jangan mengatakan hal yang bisa membuat orang lain terkena serangan jantung.” Achiel menatap gadis cantik pujaan hatinya dengan mata berkilat penuh emosi.

Herschell tersenyum ketika menatap pemuda tampan yang sejujurnya sangat berarti untuk dirinya, tetapi kebahagiaan kecil mereka dalam sekejab mata musnah meninggalkan luka yang menyakitkan. “Kau sudah dengar dari ayahmu, bukan? Kau akan bertunangan dengan sepupuku, Chiel. Nantinya kita akan menjadi saudara. Jadi, seperti yang ayahmu minta… lebih baik kita akhiri saja hubungan kita!”

“Tidak! Jangan mengatakan hal seperti itu!” Achiel menatap marah Herschell. Pemuda jangkung nan tampan itu berjalan cepat menghampiri Herschell kemudian dipeluknya gadis cantik itu erat. “Aku tidak bisa kehilanganmu, tidak bisa….” Lirihnya.

“Kelak kau akan menjadi suami sepupuku, Chiel.” Herschell susah payah menahan gejolak hatinya yang ingin menangis dan menjerit saat itu juga. “Aku tidak yakin aku rela melepaskanmu untuknya, jadi kita berpisah saja. Agar aku tidak semakin terluka dan kau bisa menjalani hidupmu tanpaku. Pulanglah….” Perlahan-lahan dilepaskannya pelukan Achiel pada dirinya.

“Hers….” Mata Achiel berkaca-kaca ketika gadis yang sangat dicintainya tersenyum sambil menggelengkan kepala untuknya.

“Biarlah berakhir seperti ini….” Herschell tersenyum pada Achiel walaupun air mata mulai turun dari sepasang mutiara rusa betinanya membasahi wajah cantiknya. Herschell kemudian berlari menuju kamarnya sebelum pertahanannya runtuh. Sakit. Ini terlalu menyakitkan. Kebahagiaan yang tadi pagi dirasakannya harus berakhir seperti ini. Kalau ini sebuah mimpi buruk, Herschell ingin segera bangun dari mimpi buruk ini agar setelah bangun nanti dirinya bisa memeluk Beruang besar kesayangannya dan mengadu tentang mimpi buruknya. Sayangnya…. Ini adalah kenyataan…. Dan Herschell harus menerima semuanya.

Xierra tertunduk di atas sofa, air mata mengaliri wajah cantik perempuan paruh baya yang mewariskan kecantikannya pada Herschell itu. Sakit. Ibu mana yang tidak sedih bila melihat putri semata wayangnya menderita seperti itu? Kalau bisa, Xierra pasti memilih menggantikan putrinya untuk melewati kesakitan ini.

“Achiel, pulanglah!” pinta Lind.

“Ayah, sungguh…. Aku tidak tahu-menahu soal ini.” Ucap Achiel putus asa. Orang tua Herschell adalah orang tuanya juga sehingga Achiel sudah terbiasa memanggil Lind dan Xierra dengan panggilan Ayah dan ibu.

“Aku mengerti, Chiel….” Sahut Lind. “Pulang dan istirahatlah! Kabar ini pun pasti sangat mengejutkan untukmu, kan?”

“Ayah, tidakkah ada sesuatu yang bisa ku lakukan untuk mencegahnya?” tanya Achiel dengan air muka keruhnya.

Lind mengambil sebuah undangan dan diberikan pada Achiel, “Bahkan undangan pertunanganmu dengan Grace pun sudah disebarkan. Ini memang terlalu mendadak. Tetapi hal ini sepertinya sudah direncanakan dengan baik. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan.”

“Kalau begitu ijinkan aku membawa Herschell kabur, Ayah!” pinta Achiel.

“Tidak.” Tolak Lind. “Kau akan menyulitkan posisiku dan orang tuamu bila kau melakukan hal bodoh seperti itu. Lagi pula kalian mau kabur kemana? Setelah kabur kalian akan makan dengan apa? Kalian bahkan belum lulus SMA.”

Achieel menundukkan kepalanya dalam.

“Pulanglah…. Biar Herschell kami yang menenangkan. Akan lebih baik kalau kalian berdua berusaha melupakan apa yang pernah terjadi diantara kalian, karena hal itu hanya akan menyakiti kalian. Nantinya kalian akan menjadi saudara, tidak boleh menyimpan perasaan apapun selain perasaan terhadap sesama saudara.” Lind menasihati, “Pulanglah….”

❤❤❤

Menghapus perasaannya terhadap Herschell yang sangat dicintainya? Achiel mengutuk semua orang yang menyebabkannya berada dalam situasi seperti ini. Pemuda tampan nan jangkung itu bersumpah pada dirinya sendiri bahwa semua orang yang menyebabkan Herschell dan dirinya menderita seperti ini akan mendapatkan hukuman darinya, dengan tangannya sendiri. Perasaannya pada Herschell bukanlah perasaan main-main. Ini bukan cinta monyet atau sejenisnya. Achiel benar-benar tulus menyayangi Herschell dan berharap kelak disisa hidupnya mereka bisa terus bersama-sama membangun keluarga kecil mereka sendiri. Tetapi… mimpi buruk yang datang mendadak ini telah memporak-porandakan mimpinya.

Andaikan boleh memilih, Achiel memilih tidak memenangkan pertandingan basket tadi pagi bila harus dibayar dengan hal menyakitkan seperti ini. Tidak! Achiel benar-benar memilih kalah asal bisa tetap bersama Herschell tercintanya.

Shit!” umpat Achiel. Dengan kesal dipukulnya stir mobilnya berkali-kali.

Dendam, amarah, rasa benci, sakit, pedih, perih, dan luka yang perlahan-lahan menggores perasaan Achiel membuat pemuda tampan itu memutuskan untuk merencanakan pembalasan atas semua sakit hati yang harus ditanggungnya. Semua orang yang sudah membuat air mata Herschell jatuh dihadapannya akan dihancurkannya!

❤❤❤

One thought on “Youre Not a Bad Girl III

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s