Youre Not a Bad Girl


BAB II

Herschell Coral Alarice

❤❤❤

❤❤❤

Youre not a bad Girl

❤❤❤

❤❤❤

“Apa kalian lihat gadis yang datang bersama Achiel tadi?”

“Achiel datang bersama pacarnya? Astaga! Aku ingin melihatnya! Apa dia cantik?”

“Dia sangat cantik. Aku iri padanya. Ah… kenapa Tuhan tidak adil? Kenapa dia bisa secantik itu?

Nyut! Sakit. Rasanya seperti ada sebuah duri yang menusuk kulitnya ketika Grace mendengar obrolan-obrolan yang menyebar diantara para siswa perempuan yang menyatakan bahwa Achiel datang ke sekolah bersama seorang gadis cantik yang diduga adalah kekasihnya.

Hari ini team basket Cassiopeia High School akan bertanding melawan team basket dari Haven High School. Dan seperti kehebohan berita pertandingan itu, kehebohan lain pun terdengar. Yakni berita mengenai seorang Achiel Barend yang mengajak kekasihnya datang bersama dirinya. Untuk menyemangatinya mungkin mengingat Achiel adalah salah satu anggota inti team basket sekolahnya. Tetapi karena berita yang masih belum jelas kepastiannya itu ada seseorang yang terluka hatinya −Grace.

Marjerta Grace. Gadis itu terluka, hatinya begitu sakit mendengar semua kabar yang berdengung seantero sekolahnya. Tapi bisa apa Grace? Toh selama ini Achiel sama sekali tidak melihatnya, tidak meliriknya dan sama sekali tidak menganggapnya ada. Bahkan mungkin Achiel tidak menyadari bahwa dirinya memiliki seorang teman sekelas bernama Marjerta Grace. Atau mungkin Grace memang terlalu terobsesi pada pemuda tampan yang membuatnya hampir gila itu.

Grace memilih berdiam diri di dalam kelasnya, enggan ikut bergabung menonton pertandingan basket yang menyedot hampir seluruh perhatian satu sekolahan. Grace ingin menenangkan dirinya dan mengenyahkan sakit hati yang dirasakannya.

*****

“Hei…. Dia siapa?”

“Ah…. Bukankah dia….”

Seorang gadis cantik dengan mata seindah mutiara rusa betina, bibir penuh yang berwarna merah alami dan kulit pucat pualam tampak tengah kebingungan. Berkali-kali gadis cantik yang memakai baju seragam berwarna maroon itu terlihat berhenti untuk membaca papan petunjuk yang terpasang pada setiap bagian atas pintu yang dilewatinya.

“Dimana ya?” gumamnya sedikit kesal. Beberapa kali bibir merahnya terlihat merengut karena papan nama yang dibacanya tidak sesuai dengan yang dicarinya.

“Apa yang kau lakukan disini, Hm? Beraninya kau meninggalkanku tanpa seijinku?!” suara rendah penuh penekanan itu berbisik, membuat sang gadis terlonjak karena kaget.

“Kau mengagetkanku Bear…. Aku sedang mencari Grace….”

“Akan ku antar kau untuk menemuinya nanti. Setelah pertandingan selesai. Ayo kembali ke lapangan! Aku membutuhkanmu untuk menyemangatiku. Kau sumber semangatku, Princeses Herschell….”

*****

“Berhentilah Bicht!”

“Apa kau tidak punya kaca di rumah? Dasar tidak tahu malu!”

“Menjijikkan!”

“Perempuan jalang!”

Keempat siswi itu terlihat sedang menyudutkan Grace yang tengah menangis dalam diamnya. Wajahnya terduduk, bibir bawahnya digigitnya kuat-kuat agar isakan tidak lolos. Grace tidak mau terlihat lemah namun apa boleh buat. Hatinya sangat sakit sekarang.

“Berhentilah menangis jalang! Kau membuatku muak!” bentak Jessica, seorang gadis berambut ikal panjang.

“Oh well…. Untung ayahmu kaya, kalau tidak kau pasti akan dikeluarkan dari sekolah karena sikap tidak tahu malumu itu, Bicht!” sindir Stecy, gadis berambut lurus sebahu yang sedang berkacak pinggang karena kesal.

“Apa yang kalian lakukan di sini?”

Keempat siswi yang sedang membully Grace itu menoleh seketika, di mulut pintu sana seorang yang mereka kenal sebagai Achiel Barend tengah berdiri tenang sambil melipat kedua lengannya di dada, di sampingnya terlihat seorang gadis cantik berwajah sedikit pucat yang bergeming bagai batu.

“Apa yang kalian lakukan padanya?” tanya Achiel.

“Ti… tidak ada.” Dengan gugup Stecy mengajak teman-temannya untuk meninggalkan kelas kosong yang mereka gunakan sebagai tempat untuk membully Grace.

“Grace….” Mata hitam legam yang sangat indah itu membulat melihat sepupunya terduduk di atas lantai di sudut ruang kelas kosong itu dengan keadaan menyedihkan, pakaiannya acak-acakan, rambutnya amburadul dan wajahnya terlihat sangat sembab.

“Hers… Herschell….” lirih Grace.

“Grace?” Herschell segera berlari menghampiri sepupunya, memeluknya erat. “Astaga! Apa yang terjadi? Apa yang sudah mereka lakukan padamu?” tanya Herschell.

“Hers….” Grace terisak keras, dicengkeramnya baju seragam Herschell yang tengah memeluknya kuat-kuat, ditumpahkannya kesedihannya pada sepupu tersayangnya.

Achiel menatap datar pemandangan mengharukan di hadapannya itu. Achiel merasa seharusnya Grace bisa membela dirinya sendiri dan tidak boleh membiarkan dirinya terus-menerus dijadikan bulan-bulanan oleh orang lain. Itu terlihat memuakkan dimata Achiel.

“Aku tidak apa-apa, Hers. Sungguh.” Dengan dibantu oleh Herschell, Grace bangun. Ditatapnya sosok pemuda yang masih berdiri di mulut pintu. Pemuda yang memiliki tatapan tajam namun meneduhkan yang mampu menggetarkan hati Grace. Berlebihan memang namun itulah yang Grace rasakan pada Achiel.

Herschell tersenyum, ditariknya lengan Grace menuju arah Achiel, “Kalian satu sekolahan, kan? Seharusnya kalian sudah tahu sama lain.” Ucap Herschell. “Grace, dia adalah Achiel Barend. Beruang besarku.” Herschel mengenalkan Grace pada Ahra.

Mata Grace terbelalak kaget. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa sepupunya yang sangat cantik dan baik itu menjadi kekasih pemuda yang sangat ia cintai? Bagaimana bisa sepupunya itu mengenal Achiel? Bagaimana bisa ini terjadi padanya? Grace merasa Takdir benar-benar sedang mempermainkannya.

“Kami teman sekelas.” Ucap Achiel.

“Eh? Teman sekelas?” Herschell menatap Achiel dan Grace bergantian, “Tapi kalian bersikap seperti orang yang tidak saling mengenal.”

“Aku tidak perlu berpura-pura bersikap ramah pada orang yang tidak terlalu ku sukai, kan?” tanya Achiel.

Bear?” Herschell menautkan kedua alisnya.

Achiel mengusap kepala Herschell pelan, “Aku akan ganti baju dulu. Kalau urusanmu dengan sepupumu sudah selesai, tunggu aku diparkiran.” Ucapnya sebelum pergi.

Herschell menatap Grace, mata indahnya seolah-olah berkilat, meminta Grace menjelaskan apa yang belum diketahui dan dipahaminya.

“Kami belum pernah bertegur sapa.” Grace memaksakan sebuah senyuman.

“Apa? Astaga! Kalian satu kelas, kan?” tanya Herschell.

“Ya. Kau tahu Achiel, kan? Dia hebat berbeda denganku….”

“Tidak, harusnya Beruangku tidak boleh bersikap seperti itu padamu.”

“Sudahlah, Hers…. Ku rasa Achiel tidak tahu kalau kita sepupu.”

“Akan ku pastikan mulai besok dia bersikap ramah padamu!” ucap Herschell, “Ah, dimana orang itu?” tanyanya.

“Orang itu?” Grace menatap bingung sepupunya.

“Orang yang membuatmu rela diperlakukan tidak adil seperti ini.” Herschell merangkul bahu Grace, “Dimana dia?”

Grace tersenyum, tidak mungkin mengatakan bahwa orang itu adalah Achiel. Akan sulit bagi Grace bila Herschell mengetahui kenyataan itu.

“Hei! Kenapa melamun, hm?”

“Dia tidak berangkat sekolah ku rasa.” Jawab Grace, “Kita bahas nanti lagi, oke? Aku akan pulang.”

“Dengan keadaan seperti ini?”

“Tidak apa-apa, sudah biasa.”

“Kau sudah dijemput? Akan ku antar sampai mobil kalau begitu.”

Grace mengangguk pelan. Kenyataan bahwa kekasih Achiel adalah Herschell merupakan pukulan terberat bagi Grace. Tidak ada yang bisa Grace pikirkan lagi selain pulang ke rumah untuk menangis selama yang dia inginkan.

*****

One thought on “Youre Not a Bad Girl

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s