The Prince and His Heirs I


Tittle                : The Prince and His Heirs I

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Fantasy/ Romance/ Family/ Friendship/ Advencure

Rate                 : -M

Cast                 : All member DBSK and others (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan). Seiring bertambahnya Chap castnya pun akan disesuaikan.

Disclaimer:      : They are not mine but this story, Hyunno, Hyeri  & OOC yang lain are mine, NaraYuuki

Warning           : This is Fan Fiction (GS) Gender Swicth for the uke. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut. Paragraf/ dialog yang penulisannya menggunakan Blod, Italic ataupun under line berarti itu adalah kejadian dimasa lampau (flash back) TANPA EDIT.

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

The Prince and His Heirs III

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

 “Bawa dia pergi ke tempat aman! Kemana pun yang penting bawa dia jauh dari sini! Besarkan dia dengan baik dan jauhkan dia dari segala bahaya yang mengintainya. Kau mengerti?!”

Perempuan cantik berambut panjang yang mengenakan baju zirah berwarna maroon keemasan itu terlihat panik ketika menerima buntalan berisi bayi yang tengah terlelap. “Ta… tapi….”

“Aku percayakan dia padamu….”

“Yang Mulia….”

“Cepat pergi!”

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

The Prince and His Heirs II

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

Senja sudah lama berlaru namun remaja itu masih berjalan diiringi Gobi, sang harimau peliharaannya yang selalu setia padanya. Setelah penyerangan yang terjadi pada desanya beberapa hari yang lalu sang ibu mengusirnya –memaksanya untuk pergi meningglkan rumah untuk pergi ke kota Thor yang berada di benua Cassiopeia dimana orang-orang seperti mereka –mahluk sebangsa mereka hidup damai tanpa campur tangan pihak lain. Ibunya berpesan padanya untuk menemui seseorang bernama Mesa agar dirinya mendengar kisah tentang siapa sebenarnya dirinya dan takdir apa yang kelak akan terjadi padanya.

Angin dingin gurun sangat tidak bersahabat terlebih ombak yang mengamuk, menghantam permukaan pasir membuat udara terasa lembab dan sesak. Tempat ajaib ini adalah sebuah gurun yang bersinggungan langsung dengan samudra, dimana siang terasa sangat panas dan terik sedangkan udara dingin ketika malam menjelang terasa menusuk-nusuk sampai kedalam sumsum tulang. Walaupun begitu remaja itu tetap berjalan. Ia tidak tahu apakah para penyerang desanya mengejarnya atau tidak namun dirinya sudah sangat kelelahan sekarang. Berbekal beberapa keping uang pemberian ibunya serta perkamen-perkamen yang tidak ia mengerti apa artinya dan benda aneh berbentuk liontin yang sengaja ia kalungkan pada Gobi peliharannya agar tidak menarik perhatian bandit-bandit ia terus berjalan tak kenal siang ataupun malam. Entah seberapa jauh kota Thor itu namun keingintahuannya terhadap siapa dirinya sama sekali tidak menyurutkan langkah kakinya walaupun dirinya sudah sangat letih.

“Sebentar lagi kita sampai di desa Atacama, Gobi. Kita bisa mencari penginapan untuk berisitirahan.” Ucapnya yang dibalas dengusan oleh sang harimau.

Beberapa kilo meter didepannya terlihat samar-samar kerlip cahaya, disanalah desa Atacama berada. Desa terdekat dari desanya yang bisa ditempuh selama 8-10 hari perjalanan dengan cara jalan kaki. Ia tidak berharap menemukan kuda atau unta karena didesanya hampir semua penduduknya adalah orang-orang miskin, sangat jarang yang memiliki binatang ternak. Ada beberapa yang memiliki domba itu pun hanya orang-orang tertentu saja.

“Aku janji akan membelikanmu daging domba segar begitu kita sampai di Atacama.” Ucapnya penuh semangat.

❤❤❤

            Mata bulat indahnya yang dibingkai kelopak setajam mata musang itu menatap waspada kumpulan orang-orang yang bergerombol, berdiri waspada dengan parang dan senjata tajam lainnya ditangan mereka sambil membawa obor. Salah seorang warga desa maju ke depan untuk bicara padanya.

“Siapa namamu, Nak?” Tanya pria berkulit pucat itu, seperti bukan kulit yang dimiliki oleh penduduk Atacama yang biasanya berkulit hitam.

Matanya menatap waspada para penduduk desa, menelan ludah ketika melihat parang-parang tajam itu diacungkan ke atas. “Hyunno.”

“Siapa nama ibumu?”

“Nisa’.”

“Kemana tujuanmu?”

“Kota Thor yang berada di benua Cassiopeian.”

“Oh astaga, Anakku!” pria itu bernapas lega. “Aku sudah lama menunggumu. Sejak dua minggu yang lalu surat yang ibumu kirimkan padaku sampai. Aku diminta mendampingimu untuk menemui Mesa. Kau bisa memanggilku Micky.” Pria berpipi gempal itu tersenyum, menarik tubuh Hyunno untuk dipeluk erat.

“Anda kenal ibuku?” Tanya Hyunno curiga.

“Kami teman seperjuangan ketika masih muda dulu. Tentu saja sekarang berbeda. Kami sudah sedikit tua.” Pria bernama Micky itu tersenyum, “Kau pasti lelah? Aku sudah menyiapkan barak persembunyian untukmu.”

“Barak persembunyian? Untukku?” Tanya Hyunno keheranan.

Wajah Micky berubah keruh, “Aku harus memastikan kau selamat sampai tujuanmu bahkan dengan mempertaruhkan nyawaku sendiri. Aku tidak tahu kapan orang-orang itu akan sampai disini. Untuk itu aku sudah menyiapkan barak persembunyian khusus untukmu.” Jelas Micky. “Ada prajurit khusus Atacama yang pandai bela diri akan menjaga barak itu sampai fajar nanti. Kita akan berangkat begitu langit di timur menjingga. Kau paham?”

“Tapi…”

“Aku juga sudah menyiapkan dua ekor kuda terbaik Atacama untuk kita tunggangi serta bekal yang…”

“Bagaimana dengan Gobi?”

Micky menatap harimau itu sesaat, matanya berbinar seolah menahan rindu bertahun-tahun pada hewan bertaring itu sebelum menarik simpul senyum. “Harimaumu itu bahkan bisa menang telak jika harus bertanding dengan kuda beraksa.” Jawabnya. “Ayo jangan buang waktu lagi! Kau harus beristirahat segera!”

❤❤❤

Barak persembunyian yang dimaksud oleh Micky bukanlah sebuah ruang bawah tanah penuh senjata seperti yang Hyunno pikirkan sebelumnya. Barak persembunyian itu hanyalah sebuah gudang jerami yang dipenuhi tumpukan jerami sebagai makanan binatang ternak penduduk desa Atacama. Hanya saja di dalam gudang itu terdapat beberapa pria berbadan kekar berjaga dengan sikap waspada sambil memegang senjata masing-masing.

Hyunno berbaring pada salah satu tumpukan jerami yang tidak terlalu tinggi, disampingnya Gobi sang harimau pun ikut berbaring bahkan sesekali menguap. Menggunakan tumpuan tangannya sendiri sebagai bantal, Hyunno menatap langit-langit gudang jerami itu dengan pikiran kalut. Hyunno memikirkan nasib ibu yang ia tinggalkan. Hyunno memikirkan bagaimana keadaan teman-teman sepermainannya sepeninggalnya. Hyunno terlalu asyik memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu terjadi tanpa menyadari seseorang sedang berjalan kearahnya sambil membawa tumpukan kain kumal.

“Kau harus mengganti bajumu!” suara lembut sedikit mendayu itu mengagetkan Hyunno.

Seorang gadis yang memiliki mata keemasan dengan kulit pucat sepertinya dan Micky sudah berdiri dihadapan Hyunno. Hyunno menatapnya keheranan.

“Kau harus mengganti bajumu agar menyerupai penduduk desa Atacama. Kata paman Micky, ia melihat gerombolan bandit sedang menuju kemari.” Ucapnya. “Jelas mereka mengejarmu.”

Hyunno mengerutkan keningnya bingung. Untuk apa dirinya menyamar? Bagaimanapun juga orang awam pun akan tahu bahwa dirinya bukanlah salah seorang penduduk Atacama. Terlebih… untuk apa gerombolan bandit itu mengejar dirinya?

“Jangan melamun, Anak Muda! Cepat ganti bajumu!” perintah seorang pria berbadan tegap, botak dengan kulit gelap mengkilapnya. “Sembunyikan juga peliharaanmu itu.”

Dengan wajah bingung Hyunno menerima kain –baju dari gadis seusianya yang belum ia ketahui siapa namanya. Berjalan ke pojok yang lebih gelap dan tertutup dari pandangan orang-orang lantas mengganti bajunya.

“Diakah Thunder yang sering paman Micky ceritakan?” gumam sang gadis sambil mengamati harimau milik Hyunno itu dengan seksama.

“Anak muda itu memanggilnya Gobi.” Ucap pria botak tadi.

“Nama anak muda itu Hyunno, Paman Sandor.” Gadis itu tersenyum hangat. “Kita akan terlibat hal yang luar biasa, bukan?”

“Bersembunyilah, Hyeri! Disini bukan tempatmu!”

Gadis manis itu merengutkan bibirnya lantas berjalan menuju pintu masuk dan menghilang dari gudang jerami.

❤❤❤

Pria botak berkulit gelap bernama Sandor itu melilitkan serban (surban/ sorban) untuk menutupi kepala dan wajah Hyunno ketika mendengar keributan dari luar. Suara orang memaki, berkata kasar dan berteriak-teriak terdengar sangat memekakkan telinga. Hyunno merinding mendengar suara-suara itu seolah-olah malaikat kematian sedang mengintainya.

“Dengar! Ajaklah harimaumu itu bersembunyi di sudut ruangan dinatara tumpukan jerami yang tinggi agar mereka tidak bisa menemukanmu!” bikik Sandor. “Kami akan melakukan sesuatu pada para bandit sialan itu! Jangan keluar jika tuan Micky belum menyuruhmu keluar! Kau mengerti?”

Hyunno mengangguk paham.

“Dan jangan berisik!”

Sedikit mengendap-endap Hyunno mengajak Gobi berjalan menuju sudut ruangan dimana beberepa tumpukan jerami menjulang sampai langit-langit gudang. Bersembunyi –berdiam diri disana sambil mendengarkan suara-suara desisan aneh yang tidak ia tahu berasal dari mana.

❤❤❤

Diluar gudang tempat persembunyian Hyunno gerombolan rutilans –manusia yang memiliki kaki dan moncong menyerupai serigala sudah mengepung desa Atacama. Anak-anak dan para perempuan gemetar dan ketakutan. Para laki-laki berhadapan dengan gerombolan rutilans dipimpin oleh Micky terlihat sama sekali tidak gentar.

“Tidak ada binatang buruan kalian di desa kami!” ucap Micky tenang, “Kecuali kalian berniat membantai hewan ternak kami, maka kami tidak akan diam!” matanya menatap nyalang pada pimpinan rutilans berbadan gempal yang memegang parang dikedua tangannya.

“Kenapa prajurit legendaris sepertimu ada didesa miskin seperti ini?” Tanya pimpinan rutilans, air liur menetes dari moncong bergigi tajamnya.

“Kalau kau lupa sejarah hidupku akan ku ingatkan kau bahwa desa yang kau bilang miskin ini adalah tanah kelahiranku!” Micky mencabut pedang panjangnya dengan cepat kemudian diarahkan pada kepala pimpinan rutilans membuat rutilansrutilans yang lain mendesis bengis. “Apa yang membuatmu kemari, anjing hutan brengsek?! Kau tahu aku tinggal disini dan tetap berani menunjukkan moncong menjijikanmu kemari? Kau cari mati?”

Pimpinan rutilans itu mendengus, napas baunya bahkan menguar membuat beberapa orang yang berada di belakang Micky muntah-muntah. “Apa kau tidak tahu atau pura-pura tidak tahu? Sang pewaris tahta yang 17 tahun menghilang sudah muncul lagi. 100 peti emas bila kami bisa mendapatkannya.”

Micky menekan ujung pedangnya hingga menggores leher pimpinan rutilans, darah berwara hijau merembes dari kulit tebal itu. “Maju selangkah ku tebas lehermu!” ancamnya.

“Aku mencium aromanya dari arah sini!” bela pimpinan rutilans.

“Lalu kenapa kau kemari? Banyak desa kecil tersebar disekitar sini, kenapa kau memilih desaku?” Tanya Micky. “Apa karena pernah menjadi salah satu dari prajurit pilihan?”

“Kau masih menjadi prajurit pilihan sampai sekarang!” desis pimpinan Rutilans.

Secepat kilat Micky menebas kepala rutilans yang melompat untuk menerkamnya, membuat rumbongan bandit busuk itu melolong seperti anjing hutan. Mereka menggeram menunjukkan gigi-gigi taring mereka.

“Aku yang sudah berumur ini masih bisa menghabisi kalian sendirian!” ucap Micky dengan mata berkilat. “Pergi atau mati?!”

“Kau akan menyesal bila tidak bekerja sama dengan kami!” ucap pimpinan rutilans dengan mata merah penuh kebencian.

“Aku akan menyesal bila tidak mengusir kalian dari sini! Perlu ku ingatkan sudah lebih dari 15 tahun aku puasa –tidak menumpahkan darah. Jangan membangunkan amarahku yang sudah belasan tahun tidur!” ucap Micky, matanya berubah memerah, muncul taring dari sela kedua bibirnya membuat rombongan rutilans itu mundur dengan sendirinya. “Wahai penduduk Artacama, mala mini kita akan begadang menjaga desa kita! Jika para gerombolan anjing ini masih berkeliaran disekitar desa, jangan ragu untuk menebas kepala mereka!”

Para rutilans itu mundur beberapa langkah lagi, menunduk bertopang pada kedua tangan dan kakinya lantas berhamburan pergi menyebar kesegala penjuru seperti anjing-anjing yang berlarian akibat dipukuli oleh majikannya.

Micky bernapas lega. Wajahnya menengadah menatap serbuk bintang dilangit yang muram. “Ketika anak panah mengarah kearah utara maka para prajurit akan kembali berkumpul bersama jenderal mereka untuk menumpas angkara murka yang bersemayam didunia ini.” Gumamnya pada dirinya sendiri.

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

TBC

❤❤❤

❤❤❤

Ada yang bisa menebak?

Lanjutannya setelah Pain Of Love, Pembalasan BIdadari Hitam, Hamkke Gangje Chagya,& Suprasegmental End ya🙂

Pain Of Love nunggu laptop Metha sembuh dari tukang reparasi ya.

Pembalasan Bidadari Hitam, ntar kalau penyakit malas ngedit Yuuki sembuh ya.

Hamkke Gangje Chagya, nunggu Metha ga sibuk juga🙂

Suprasegmental, Nunggu Yuuki kelarin 5 novel fantasy yang mau Yuuki lahap dulu ya😀

Hohohoho #kabur

Selamat Tahun Baru walaupun telat😀

Tetap jaga kesehatan😀❤

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

Wednesday, December 23, 2015

9:58:33 AM

NaraYuuki

 

4 thoughts on “The Prince and His Heirs I

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s