Pain of Love VII


Note: Terima kasih untuk herojaejae karena sudah mengingatkan pemanggilan Yunho yang sebelumnya Yunho Ahjushi menjadi Yunho Harabojie. Ini kesalahan Yuuki karena tidak teliti alasannya ada beberapa Chap yang dibuat Marci sendiri tanpa mengirimkan filenya terlebih dulu ke Yuuki sehingga Yuuki tidak punya file tersebut. Yuuki Cuma mengingat-ingat draff yang pernah kami buat sama-sama. Sekali lagi maaf untuk keteledoran Yuuki ini, dan terima kasih sudah mengingatkan Yuuki atas kesalahan fatal ini. Selamat membaca😀

Tittle                : Pain Of Love VII

Ide Awal           : Marcia Hannie

Writer               : NaraYuuki & Metha Sari

Genre               : Romance/ Drama/ Fammily/ Friendship/ Angst/ Hurt/ Death Chara

Rate                 : T-M (bergantung kebutuhan)

Cast                 : Umma, Appa, Others, OOC

Disclaimer:      : They are not our but Jung Hyunno is mine, NaraYuuki. This Story is our, Marci, Yuuki & Metha

Warning           : Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut. Italic (ditulis miring semua kramanggung/ wawancangnya (dialog dan kalimat pengantarnya) berarti kejadian dimasa lalu).

.

.

Pastikan baca warningnya dulu!

.

.

Pain Of Love NaraYuuki n Metha

.

.

 

Appa! Appa!” teriak Hyunno seperti orang yang baru saja melihat mayat hidup.

“Hyunno ya, ada apa berteriak seperti itu?” Tanya Changmin yang mendengar suara teriakan anaknya.

“Yunho Ahjushi! Yunho Ahjushi, Appa! Cepat kemari!” suara Hyunno kali ini terdengar sangat panik.

Mendengar nama kakaknya disebut Changmin segera menaiki tangga menuju kamar kakaknya, meskiput tulang-tulang tuanya protes ketika dirinya berjalan terlampau cepat namun Changmin tidak peduli. Kesehatan kakaknya yang akhir-akhir ini menurunlah yang membuatnya harus segera bergegas.

Brak!

Sedikit kasar Changmin membuka pintu kamar kakaknya, berjalan tertatih menghampiri ranjang tempat kakaknya biasa berbaring dengan kaki sedikit terpincang-pincang. Sepertinya asam uratnya kambuh lagi.

“Ada apa?” Tanya Changmin.

“Tadi Yunho Ahjushi kejang-kejang, Appa. Sekarang tidak tahu kenapa Yunho Ahjushi tidak menyahut saat ku panggil.” Ucap Hyunno terbata. Suaranya gemetar hebat.

Changmin duduk dibibir ranjang Yunho, jemarinya yang keriput menggenggam tangan kakaknya yang sedikit terasa dingin. “Hyung….” Panggil Changmin.

Yunho tidak menyahut. Hanya matanya yang sejenak melirik Changmin lantas kembali menatap langit-langit kamar dengan tatapan hampa.

Hyung…. Apa yang Hyung rasakan?”

Tidak ada sahutan.

Hyung ingin apa?” Tanya Changmin.

Dengan gelisah Hyunno mengamati interaksi lambat yang terjadi antara ayah dan pamannya.

Boo… Jae…” dengan berbisik sambil terbata Yunho berujar. Suaranya lebih terdengar seperti desisan kering. “Aku melihatnya. Dia memanggilku.” Tambahnya susah payah.

Changmin menutup matanya sesaat, menahan agar air mata tidak turun membasahi wajahnya. Setidaknya Changmin tidak ingin menangis dihadapan anaknya. “Hyunno, telpon ambulance sekarang! Kita harus membawa Ahjushimu ke rumah sakit secepatnya.”

Nnne….” Hyunno segera berlari keluar untuk menelpon ambulance.

Changmin merogoh sapu tangan dari kantung celananya lantas digenggamkan sapu tangan itu pada tangan Yunho yang semakin terasa dingin. “Ini yeoppo hyung buat khusus untukmu, Hyung.”

Mata Yunho nanar ketika merasakan kain lembut dan hangat itu berada dalam genggamannya. Bibirnya bergetar menahan isakan yang mungkin saja bisa keluar kapan saja. Setitik air mata akhirnya pun mengalir membasahi wajah lelahnya.

Hyung akan segera menemuinya, secepatnya. Tapi tidak sekarang.” Ucap Changmin.

❤❤❤❤❤

Hyunno hanya diam menatap mobil itu menjauh dari pelataran rumah utama keluarga Jung, raungan mobil itu yang menderu memecah keheningan malam –menjelang pagi. Kerumunan tetangga yang melihat dari depan gerbang rumah pun sedikit demi sedikit berkurang hingga akhirnya habis, meninggalkan Hyunno sendirian di halaman rumah megah itu. Ayahnya, Changmin ikut naik dalam mobil ambulance itu untuk menemani Ahjushinya. Melirik ke arah rumah pohon yang nyaris ambruk itu, Hyunno kembali teringat pada pesan Yunho Ahjushinya sebelum diangkut oleh ambulance…

Beruang kecil…. Ada sebuah pohon bonsai di belakang rumah Boo Jae. Galilah dibawahnya. Ada harta karun yang tersimpan disana.”

‘Sebentar lagi pagi…” batin Hyunno. Ditatapnya bintang timur yang berkelip redup. Ada angin dingin yang tiba-tiba saja membuat bulu kuduknya meremang. Hyunno berbalik, hendak masuk ke dalam rumah ketika sekali lagi ditatapnya pohon tua tempat rumah pohon lapuk itu . untuk sekejap Hyunno seperti tengah melihat sosok remaja seusianya, berkulit pucat, rambut hitam legam, tengah tersenyum padanya.

Boo Jae?”

“Tuan muda….”

“Hah?” Hyunno tersentak kaget ketika penjaga rumah keluarga Jung menepuk bahunya.

“Anda bisa masuk angin bila tidak segera masuk.”

Hyunno menggangguk pelan. Menatap rumah pohon lapuk itu sekali lagi sebelum masuk ke dalam rumah.

❤❤❤❤❤

Yunho dan karam bergumul dengan panas, pakaian mereka sudah terlepas sehingga keduanya sudah naked dengan sempurna. Yunho mencium karam dengan ganas sementara tangannya memelintir nipple sebelah kanan karam dan tangan satunya mengusap pinggang karam, sedangkan karam meremas rambut Yunho.

“Emmh Yunnh…” desahnya menikmati apa yang dilakukan Yunho pada tubuhnya.

“Kau sangat indah sayang.” ucap Yunho dan kemudian menghisap nipple kiri karam seperti bayi yang menyusu pada ibunya.

“Enng ahhh Yunnh, lebih kuat… hahhhh….” dan Yunho menuruti keinginan Karam dan menghisap nipple karam dengan kuat. Digesekkannnya bagian bawah tubuh mereka, Karam semakin mendesah karena merasakan nikmat atas perlakuan Yunho.

Yunho meraih junior Karam dan menggerakkannya, tubuh Karam serasa dialiri ribuan listrik dan itu membuat tubuhnya mengejang. Yunho yang melihat tunangannya menambah kecepatan gerakan tangannya.

“Ahhh yunhh aku keluar, ahhh YUNHOOOO….” teriak Karam saat mengalami klimaksnya.

Yunho yang melihatnya tersenyum dan membelai rambut Karam dengan penuh saying, membiarkan Karam menetralkan nafasnya yang tersengal pasca klimaksnya yang pertama. Yunho kembali mencium Karam.

“Yun, jadikan aku milikmu seutuhnya malam ini!” pinta Karam dengan raut wajah memelas.

“Apa kau yakin Chagi?”  tanya yunho memastikan dan di jawab anggukan kepala oleh Karam.

Yunho yang melihat jawaban Karam segera mengambil lube yang ada di laci dekat ranjangnya, melumuri jari tangannya.

“Aku akan mempersiapkanmu dulu.”

Setelah itu Yunho memasukkan satu jarinya ke hole Karam, kemudian disusul jari yang satunya dan membuat gerakkan seperti menggunting. Setelah merasa Karam sudah siap, dia memasukkan kepala juniornya dengan perlahan dan melihat karam yang masih nyaman dimasukkannya lagi sisa juniornya dengan sekali hentak.

“AHH APPO!! Hiks… hiks….” teriak Karam kesakitan.

“Sabar ne, setelah ini sakitnya pasti hilang.”

Setelah Karam siap, Yunho menggerakka tubuhnya dari pelan hingga pada kecepatan yang membuatnya ingin segera mencapai klimaks. Mereka kembali berciuman dengan mesra tanpa menyadari sepasang mata bulat menyaksikan mereka denga pandangan yang terluka dan air mata yang mengalir dari matanya yang indah.

Hankyung yang memang tahu jika Jaejoong berada di rumah pohon segera menyusulnya, dia ingin menyuruh putra cantiknya itu masuk agar tidak sakit terkena angin malam. Saat sampai di rumah pohon dengan senyum lembut dihampirinya Jaejoong yang sepertinya tertidur.

“Joongie bangun sayang, ayo masuk ke dalam.” ujarnya membangunkan Jaejoong.

Setelah beberapa kali mencoba dan tidak mendapat jawaban dibaliknya tubuh Jaejoong, alangkah terkejutnya dia saat mendapati putra kesayangannya sekarang telah berlumuran darah. Bahkan Hankyung baru sadar jika darah itu juga menggenangi lantai yang ada disekitar putranya.

“Joongie bangun chagi, appa mohon” dipeluknya tubuh Jaejoong yang terasa dingin dan pucat.

Tanpa pikir panjang, dibawanya Jaejoong turun dari rumah pohon dan bergegas membawa Jaejoong ke mobil, setelah memastikan putranya aman dimobil dan dengan tergesa-gesa Hankyung kembali kerumah dan mengambil kunci mobil. Saat keluar dari kamar dirinya berpapasan dengan Heechul.

“Gege, kenapa terburu-buru? Apa terjadi sesuatu?” tanya Heechul heran pada suaminya.

“Terjadi sesuatu pada Joongie dan aku menemukannya dalam keadaan penuh darah, aku akan mengantarnya kerumah sakit” setelah itu Hankyung bergegas karena percuma jika mengajak Heechul, istrinya itu tidak akan pernah ikut jika itu berhubungan dengan Jaejoong.

Heechul terdiam. Salah satu putranya berdarah? Ada sesatu dalam hatinya yang seolah-olah tercabut secara paksa, sakit dan nyeri.

Hankyung menunggu dengan sabar saat dokter memeriksa keadaan Jaejoong, setelah beberapa saat dokter keluar dari ruang rawat Jaejoong.

“Uisa, bagaimana keadaan putra saya?” tanya Hankyung dengan raut wajah cemas.

“Mari ikut ke ruangan saya Hankyung Sshi”

Hankyung akhirnya mengikuti dokter yang bernama Sungmin itu keruangannya, pikirannya saat ini sungguh kalut. Dia sungguh cemas dengan keadaan putranya yang sepertinya mengalami sesuatu yang serius.

“Uisa, sebenarnya bagaimana dengan keadaan Jaejoong?”

“Hankyung Sshi sepertinya putra anda menderita esophagus” jawab dokter itu.

“Mwo, esophagus?”

“Ne… dan keadaannya sekarang sangat parah, Jaejoong Sshi sudah dapat di pastikan akan segera kehilangan suaranya.”

“Anda tidak berbohongkan dokter?” Hankyung memastikan apa yang dikatakan dokter itu tidaklah benar.

“Mian Hankyung Sshi, tapi penyakit esophagus atau kanker saluran tenggorokan yang menyerang putra anda sudah stadium akhir.” jelas dokter Sungmin.

Setelah itu Hankyung kembali ke ruang rawat Jaejoong, digenggamnya jemari tangan Jaejoong. Dunia Hankyung seakan runtuh menyaksikan penderitaan yang di alami putranya, apakah tidak cukup semua yang terjadi pada putranya selama ini. Dibenci oleh Heechul, Karam serta kehilangan orang yang dicintainya, dan sekarang putranya harus berjuang melawan penyakit yang membuatnya kehilangan suaranya.

Hankyung menangis, dia tidak kuat dan tidak sanggup melihat keadaan Jaejoong. Selama ini dia berjuang  menjaga putranya, berusaha memberi rasa aman saat putranya menangis ketika di benci oleh ummanya sendiri. Dia merasa gagal sebagai seorang suami dan appa. Dia bahkan tidak pernah tahu jika Jaejoongnya harus mengalami penderitaan yang lebih berat lagi., Hankyung tidak akan pernah sanggup jika harus kehilangan putra kesayangannya yang selalu ingin dia bahagiakan itu.

Karam memasuki rumahnya dengan senyum terkembang di wajahnya, dihampirinya sang umma yang sudah menunggu kepulangannya.

“Dari mana saja kau semalam?” tanya Heechul pada Karam.

“Mian Umma, tapi semalam aku baru saja menghabiskan malam yang panas bersama Yunho.”

“Dasar anak nakal, seharusnya kau memberitahu umma sehingga umma tidak perlu khawatir padamu. Ah sepertinya pernikahan kalian harus segera dipercepat.” ucap Heechul.

“Wae?”

“Tentu saja umma tidak ingin kau hamil diluar nikah.” jawab Heechul yakin.

“Ahhh dimana Jaejoong Umma?”

“Ahhh anak itu sedang berada dirumah sakit, Appamu bilang keadaannya tidak baik-baik saja.”

“Hah baguslah, setidaknya dia tidak akan mengganggu hubunganku dan Yunho.”

“Hahaha tenang saja, Umma tidak akan membiarkan hidupnya tenang jika dia mengganggu kalian.”

Brakkkkk!

Suara pintu yang dibanting mengejutkan mereka berdua, saat mereka sedang mengobrol tanpa disadari mereka jika Hankyung mendengar semua  perkataan mereka, Hankyung juga tidak sendiri karena dibelakangnya sudah ada Changmin yang datang saat Hankyung membuka pintu.

“Appa/ Gege!” seru mereka serempak.

“Kalian benar-benar manusia yang tidak punya hati dan perasaan!”

“Apa maksudmu Gege?”

“Cih, saat putraku sedang melawan penyakitnya di rumah sakit dan kalian malah ingin membuat putraku semakin menderita.” Hankyung mengepalkan tangannya menahan emosi.

“Maksud Appa? Ada apa dengannya Appa?” Karam menampakkan wajah seolah-olah dia cemas begitu juga dengan Heechul.

“Kalian adalah iblis yang berwujud manusia, dan kau, Kim Heechul!” tunjuk Hankyung pada Heechul, “Kemana perasaanmu sebagai seorang ibu, kenapa kau selalu membuat Joongie menderita, selalu menyalahkan Joongie atas perbuatan yang tidak pernah dilakukannya. Kau menyayangi Karam tapi kau membenci putraku!”

“Hankyung ah, Karam juga putramu.” sela Heechul.

“Ne kau benar, Karam juga putraku tapi KENAPA KAU MEMPERLAKUKAN JAEJOONG SEOLAH DIA BUKAN PUTRA KITA?” teriak Hankyung, “Sekarang Jaejoong sedang mempertaruhkan nyawanya di rumah sakit, dia harus berjuang melawan kanker yang ternyata sudah stadium akhir dan kau sama sekali tidak tahu dan tidak peduli padanya. Aku sudah cukup bersabar selama ini, aku yang selalu melindunginya dari rasa sakit saat kau tidak menganggapnya. Putramu bukan hanya Karam tapi Jaejoong! Kalau kau masih bersikap seperti ini lebih baik kita berpisah saja!” Setelah mengatakan itu Hankyung pergi dan melewati Changmin begitu saja, sedangkan Changmin langsung tersadar saat melihat kepergiaan Hankyung. Dia segera berlari meninggalkan rumah keluarga Kim menuju ke rumahnya.

Dia harus segera memberitahukan ini pada dua saudaranya, Jaejoong yeoop hyungnya di rumah sakit dan Yunho juga harus tahu masalah ini. Air matanya jatuh begitu saja membayangkan Jaejoong yang sedang terbaring tak berdaya dengan alat-alat medis.

             ‘Hyung, aku mohon bertahanlah’ ucapnya dalam hati

“MWO, Joongie di rumah sakit?” teriakan itu terdengar dari kediaman Jung, sesaat setelah Changmin memberitahu keadaan Jaejoong pada keluarganya yang saat itu memang sedang berkumpul di ruang keluarga.

“Ne Seunghyun Hyung, tadi aku mendengar sendiri ahjussi mengatakan itu pada Heechul ahjumma dan Karam.”

“Lalu bagaimana keadaan Joongie, Minnie ah?” tanya Kibum khawatir.

“Joo… Joongie yeoopo hyungie terkena kanker stadium akhir Umma… hiks… hiks….” akhirnya pertahanan Changmin runtuh saat mengatakan keadaan Jaejoong.

Seluruh keluarga Jung kaget, panik, cemas, khawatir bercampur menjadi satu. Siwon mengepalkan tangannya saat merasakan sesak di dadanya. Bahkan Kibum langsung menjerit dan menangis mendengar keadaan yang menimpa orang yang sudah dianggapnya anaknya sendiri. Yoochun dan Seunghyun yang memang sudah tahu juga tidak menyangka, jika kanker Jaejoong sudah stadium akhir.

“Hiks… hiks… Joongie ah… hiks… hiks, Yeobo ottoke? Joongieku… hiks… hiks…” Kibum menangis sejadinya dipelukan Siwon.

“Tenang Bummie, Joongie pasti akan baik-baik saja. Dia anak yang kuat ne.” Siwon mencoba menenangkan Kibum yang sengungukan, “Minnie apa kau tahu dimana Joongie dirawat?”

“Mian Appa, Minnie tidak tahu.” Changmin menundukkan kepalanya menyesal.

“Arra, Appa akan bertanya dengan Hankyung dulu.” setelah itu Siwon menelpon Hankyung dan setelah tahu mereka bergegas menyusul pergi ke rumah sakit yang dimaksud.

“Ah, Yunho ah… apa kau ingin ikut menjenguk Joongie?” Tanya Siwon saat menyadari Yunho yang sedari tadi diam. Yunho hendak menjawab saat handphonenya bergetar dan ternyata itu e-mail dari Karam.

“Mian Appa, aku ada janji menemani Karam berbelanja hari ini.” raut wajah Yunho menunjukkan penyesalan.

“Cih, jadi kau lebih memilih jalang itu dari pada Baby Joongie” ucap Seunghyun sarkatis.

“Sudah Hyung, kita tinggalkan saja dia. Suatu saat dia akan menyesal dengan keputusannya menyakiti uri Joongie” ucap Yoochun dingin dan berjalan keluar rumah diikuti anggota keluarga yang lain.

Sedangkan Yunho hanya mampu terdiam mendengar ucapan kedua saudaranya, hatinya sakit saat tahu keadaan Jaejoong. Tapi, dia juga tidak mungkin mengingkari janji dengan tunangannya.

“Mian…” ucapnya entah pada siapa.

Rumah itu tidak terawat sama sekali, rumput-rumput liar tumbuh tinggi, aroma dedaunan busuk menyeruak tajam, tembok yang sudah retak bahkan berlubang, kaca yang pecah dan buram, tirai yang dibiarkan menggantung penuh debu dan kotoran. Hyunno membayangkan rumah yang kini dimasukinya itu sudah ditinggalkan pemiliknya puluhan tahun lamanya. Melewati halaman samping dimana kubangan yang diyakini Hyunno dulu berfungsi sebagai kolam renang itu penuh sampah dedaunan yang membusuk, lumut di sisi tembok tumbuh subur lagi menjijikkan. Jatung Hyunno berdebar hebat, antara takut dan penasaran. Memasuki halaman belakang, mata Hyunno mencari-cari pohon bonsai namun tidak ada sama sekali sesuatu menyerupai bonsai yang kerdil dan…

Tunggu dulu! Bila rumah itu sudah tidak ditempati puluhan tahun maka bisa dipastikan pohon bonsai yang Yunho Ahjushi maksud sudah tidak lagi kerdil karena tidak terawat dengan baik. Ada sebuah pohon cemara dengan batang dan dahan unik yang Hyunno lihat. Mungkin dulunya pohon itu adalah sebuah bonsai. Dengaan sedikit keragu-raguan Hyunno meminta penjaga rumah dan tukang kebun keluarga Jung untuk menggali dibawah pohon itu. Hyunno tidak mungkin berani menggalinya sendiri.

“Tuan Muda, ada sebuah kotak kayu dibawah sini.” Teriak si penja rumah.

“Tolong angkat, Ahjushi.” Pinta Hyunno.

Jantung Hyunno berdebar lebih kencang daripada biasanya ketika melihat kotak kayu itu berhasil diangkat. Kotak kayu usang penuh tanah itu seperti menyimpan separuh rahasia kidup Yunho Ahjushinya. Gemboknya sudah berkarat dan terlepas dari penguncinya. Ketika Hyunno hendak membuka tutup kotak itu…

BRUK!

Sebuah dentuman keras disertai suara runtuhnya sesuatu mengejutkan bukan hanya Hyunno melainkan 2 orang pekerjanya juga. Hyunno menoleh ke arah sumber suara. Matanya terbelalak ketika dilihatnya rumah pohon kesayangan Yunho Ahjushinya sudah tidak berada di tempatnya semula. Hyunno bergegas lari untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi, mengabaikan panggilan kedua pekerjanya.

❤❤❤❤❤

Jantungnya berpacu cepat ketika melihat ongkokan kayu berada di bawah pohon yang sebelumnya merupakan rumah pohon –tua dan lapuk. Matanya nanar. Firasatnya tiba-tiba tidak enak, Hyunno memikirkan kondisi Yunho ahjushinya, terlebih sampai sekarang ayahnya sama sekali belum memberikan kabar padanya.

Ahjushi….” Tiba-tiba saja air mata mengalir membasahi wajah Hyunno. Dirinya ketakutan, entah takut pada apa dirinya sendiri pun tidak tahu. Hyunno hanya merasa mulai hari ini semuanya akan berbeda.

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

TBC

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

Terima kasih untuk yang sudah memberikan apresiasi pada FF ini dengan mengisi kotak Review. Mian belum balas satu per satu. Mulai Chap ini Yuuki akan melanjutkan epep ini bersama Metha. Yang bertanya-tanya kenapa epep ini lanjutnya lama karena ide awalnya memang dari Marci, Yuuki tidak mungkin melanjutkan epep ini tanpa persetujuan si empunya ide. Nah karena beberapa waktu lalu Marci menghubungi Yuuki dan mengatakan tidak bisa lagi melanjutkan epep ini dan menyerakan tanggung jawab ke Yuuki alhasil Yuuki melanjutkan epep ini bersama Metha Chagy😀

Yang jawab soal sakit yang merupakan true story itu memang benar tetapi bukan hanya itu saja kok😀 Well, terima kasih sudah mengikuti epep ini. Jangan bosan ya.

Sampai jumpa Chap depan.

Tetap jaga kesehatan.

Hasil Vote banyak yang pilih Pain Of Love. Jadi Yuuki End-kan epep ini dulu ya😀 Ga sampai 5 Chap lagi kok🙂

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

Monday, November 23, 2015

9:24:31 AM

Yuuki & Metha

7 thoughts on “Pain of Love VII

  1. Yuki hasil vote dimanakah yg banyak pilih Pain Of Love????
    Jika hasil vote di blog ini pada komen Consious a Lofa (Cetak) dan Battre de Coeur digabungkan bukankah yg banyak Pembalasan Bidadari Hitam…??
    Kalo dipisah pada Battre de Coeur yg banyak masih tetap Pembalasan Bidadari Hitam. Sedangkan pada komen Consious a Lofa (Cetak) seimbang 4:4 dengan mengabaikan satu komen lg dikirim oleh Rani yg sebelumnya udah komen.

    Maaf jika Yuki ngerasa tersinggung, rn cuma bingung kenapa Yuki bilang Pain Of Love yg paling banyak….

  2. hiks… hiks…. hiks… #lapingus
    tragis nasib jaemma….😦
    akhirnya hankyung “melawan” chullie…
    semoga kebusukan karam, segera terbongkar hingga membuat yunppa menyesal & chullie syok..😛
    ditunggu lanjutannya… semoga cepat update😀

  3. si Heechul sama Karam jahat banget..
    Hankyung oppa pisah aja sama Heechul kalo masih gitu aja..
    apakah Yunho akan meninggal?
    lanjut dong..
    penasaran nih..

  4. Kanpa bisa hdup jae kya gtu banget.. ksian banget sih bacanya.. yunho jahat banget … pantes dia mendapatkan rasa penyesalan seumur hidup.. dia udah nyakitin jae sebgtunya sih.. heehee jga jahat banget.. knapa anak sndri di perlakukan bgitu.. huwehh joongi-ah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s