Battre de Coeur


 

Kami sama-sama menyayangimu, kami sama-sama peduli padamu, kami sama-sama memperhatikanmu, kami sama-sama sedih ketika kau terluka namun kau tidak pernah melihat kami dengan cara yang sama. Bagimu dia istimewa sedangkan aku hanya sosok buram yang sesekali kau ingat. Itulah kami dimatamu….

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

Tittle                : Battre de Ceour

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance

Rate                 : Bergantung sudut pandang individu yang membaca

Cast                 : Member DBSK and others (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan).

Disclaimer:      : They are not mine but this is mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love). Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut. TANPA EDIT!

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

Battre De Coeur- NaraYuuki Airissa.jpg

❤❤❤❤❤

Riuh tepuk tangan yang berasal dari lapangan basket yang berada di hall belakang gedung sekolah membuat sosok indah yang semula berjalan dengan tergesa menuruni tangga dari lantai 3 menuju lantai 1 itu berhenti mendadak. Kaki jenjangnya melangkah perlahan menuju jendela kaca besar yang tertutup untuk melihat apa penyebab suara riuh itu.

“Jung Yunho. Apa lagi?” Tanya gadis berambut golden brown yang menatap sinis ke arah lapangan sana dimana seorang pemuda berkulit tan tengah dikerumuni oleh rekan-rekannya. “Mereka gadis idiot yang selalu menyerukan nama Jung bodoh itu! Sudahlah, Jae! Kita ada urusan yang lebih penting daripada melihat sekumpulan idiot bermain basket!” tangan kanannya terjulur untuk menarik sosok yang sedang terpekur.

“Jangan terlalu buru-buru Sica! Aku tidak bisa menyamai langkahmu!” keluhnya ketika beberapa kali dirinya nyaris jatuh akibat ditarik sedemikian cepat oleh gadis yang juga memakai seragam sekolah sama dengannya.

“Tidak ada waktu lagi! Lusa adalah pertunjukan kita dan aku sama sekali belum menuangkan apa-apa kedalam lembar paranadaku!” keluh Jessica. “Bagaimana denganmu, Jae?”

Bibir merah penuh itu tersenyum simpul, “Aku sudah menyelesaikan partiturku, Yoochun membantuku menyelesaikannya.”

“Ah! Celakalah aku!” keluh Jessica.

“Lagi pula kita tidak diharuskan mengisi seluruh lembar paranada yang diberikan pada kita, kan? Tugas kita hanya tampil saja, kan?”

“Karena itu….”

“Apa?”

“Sudah lupakan!” Jessica segera mendorong pintu ruang musik menggunakan tangan kirinya sementara tangan kanannya masih sibuk menarik lengan Jaejoong.

Di dalam ruangan penuh alat musik itu seorang guru sudah menyambut mereka dengan wajah masam. “Kalian terlambat!”

“Maaf Seosengnim, tadi kelas kami sedang pelajaran Matematika. Seosengnim tahu sendiri kan kalau perawan tua itu sangat cerewet? Kami nyaris tidak diberi ijin keluar kelas.” Keluh Jessica.

“Yang kau maksud perawan tua itu Ahra seosengnim ya, Sica?” Tanya Jaejoong polos.

Jessica hanya tersenyum, matanya melotot seolah menyatakan bahwa Jaejoong sebaiknya tidak bertanya apa-apa.

Seosengnim itu hanya menghela napas panjang menghadapi tingkah murid-muridnya yang terkadang kelewat ajaib. “Okay, ada perubahan sedikit atas permintaan Kepala Sekolah.” Ucapnya.

“Apa yang tua Bangka itu inginkan, Seosengnim? Aku dan Jae-je sudah berlatih keras selama ini. Awas saja kalau kami gagal tampil nanti, akan ku adukan dia biar dipecat!” seloroh Jessica berapi-api.

“Biarkan Pak Guru menyelesaikan ucapannya, Sica!” ucap Jaejoong.

Guru musik yang berusia dipertengahan 30an itu lagi-lagi hanya bisa menghela napas panjang berusaha menyabarkan hatinya. Yang dihadapinya ini anak-anak orang penting –walaupun mereka muridnya sekalipun tetapi salah sedikit orang tua mereka bisa melakukan hal-hal yang merugikan sekolah.

Mian.” Ucap Jessica pura-pura menyesal.

“Begini, setelah kalian tampil membawakan instrument yang telah kita sepakati sebelumnya kalian juga harus tampil bersama Junsu.” Pak guru itu menatap sosok ceria yang sedang membuka-buka tumpukan partitur di rak kecil yang berada di sudut ruangan.

“Maksudnya kami harus mengiringi bebek gendut itu bernyanyi?” Tanya Jessica yang diangguki oleh sang guru.

“Aku tidak gendut, Sica! Tanya saja Joongie! Aku sudah diet dan berhasil turun 8 kilo.” Junsu menimpali.

“Tapi apakah waktunya cukup, Seosengnim? Pertunjukan itu lusa.” Tanya Jaejoong. Wajahnya dipenuhi gurat keragu-raguan.

“Kepala sekolah dan semua guru mempercayai kemampuan kalian. Kalian pasti bisa menyuguhkan pertunjukan yang luar biasa.” Ucap sang guru meyakinkan.

Mengabaikan Jessica dan Junsu yang berteriak saling ejek, Jaejoong dan sang guru memilih untuk berdiskusi lagu apa sebaiknya yang akan mereka mainkan nanti. Bila Jaejoong dan Jessica akan melakukan duet piyano dan biola memainkan Moonlight Sonata, maka Jaejoong dan sang guru berpikir keras sekiranya lagu apa yang cocok dinyanyikan oleh karakter suara Junsu tetapi cocok juga diiringi oleh denting piano dan gesekan biola.

On Rainy Days yang sempat dipopulerkan oleh boy band BEAST beberapa tahun lalu.” Celetuk Jaejoong. “Bagaimana Seosengnim?”

“Bagus Jae sayang.” Sahut Jessica, “Tapi sebelum kita mulai latihan biar ku cubit dulu pantat bebek gendut itu!”

❤❤❤❤❤

Lusa… bila hari ini berakhir maka hanya tinggal sehari lagi sebelum hari pertunjukkan. Jaejoong, Jessica dan Junsu latihan keras hingga malam menjelang. Mereka berulang-ulang memperbaiki kesalahan selama latihan sebelumnya. Terlalu serius hingga mereka tidak mengetahui  bahwa sekarang langit sudah dihiasi kerlip bintang, lampu-lampu penerangan pun sudah dinyalakan semenjak tadi.

“Maafkan aku Seosengnim kalau mengganggu latihan.” Yoochun, kakak kembar Jaejoong tiba-tiba masuk ke dalam ruang musik. “Tapi ku rasa mereka harus pulang sekarang. Ini sudah hampir pukul 10 malam. Ayah Jessica yang berada di depan gerbang mengancam akan meledakkan sekolahan bila putrinya tidak kunjung pulang, bahkan kakak Junsu sudah bersiap menelpon pers untuk meliput kejadian pemaksaan terhadap siswa di sekolah ini. Memang berlebihan tapi itu yang ku dengar tadi.”

Seosengnim hanya menghela napas panjang. Sedikit melupakan bahwa ayah Jessica adalah mentri keamanan Korea sementara kakak perempuan Junsu adalah artis papan atas Korea dengan bayaran selangit. Akhirnya setelah memberikan pengarahan sedikit Seosengnim menyuruh agar ke-4 muridnya bergegas pulang. Tentu saja sambil mengingatkan agar terus latihan selama di rumah.

❤❤❤❤❤

“Yunho… kau mau kemana? Satu menit lagi bel masuk akan berbunyi. Kalau kau tidak ada di kelas Ahra Seosengnim akan mengerekmu di tiang bendera.” Boa, yeoja berbadan mungil itu berujar, wajahnya panik.

“Aku harus ke UKS segera, Boa. Atau aku akan pingsan segera.” Yunho, pemuda bermata sipit itu berujar.

“UKS? Kau sakit?” Tanya Boa panik.

Yunho memaksakan sebuah senyum pucatnya, “Sejak semakam perutku sedikit bermasalah. Aku ingin minta obat.” Jelasnya.

“Mau ku temani?”

“Tidak usah.” Jawab Yunho, “Nanti bila Ahra Seosengnim mencariku katakana saja aku sedang berada di UKS karena perutku bermasalah. Arraso?”

Boa hanya menganggukkan kepalanya pelan. Dengan terpaksa menyingkir dari mulut pintu dimana sebelumnya dirinya menghalangi langkah Yunho yang hendak keluar.

Yunho mengusap kepala Boa pelan. “Gomawo.” Ucapnya yang langsung berjalan cepat meninggalkan ruang kelasnya –meninggalkan Boa yang memegangi kepalanya sambil tersenyum malu-malu.

❤❤❤❤❤

Yunho duduk tenang di atas permukaan tanah berdebu, tersembunyi diantara semak-semak dan lumut kumuh yang memuakkan. Namun Yunho rela melakukan semua itu demi mendengar alunan merdu yang berasal dari dalam ruang musik –tembok di belakangnyalah penghalang sialan yang membuatnya tidak bisa melihat wajah pujaan hatinya ketika sedang memainkan alat musik. Bisa saja Yunho mengintip dari jendela tetapi bila nekat melakukan hal itu bisa dipastikan Yunho akan terkena hukuman karena pura-pura sakit.

Dasi dorawa neol chatna bwaaaa…”

Yunho tersenyum bodoh mendengar lengkingan suara Junsu. Yunho membayangkan bila pujaan hatinyalah yang menyanyikan lagu itu, pasti sangat indah. Bukan berarti suara Junsu tidak indah hanya saja bagi Yunho pujaan hatinyalah yang memiliki keindahaan tiada bandingannya.

Sreet!

Yah Jung Yunho! Sampai kapan kau mau bersembunyi di situ seperti penguntit, hah?” Jessica mendelik, wajah ketusnya mengejutkan Yunho hingga nyaris membuat pemuda berkulit tan itu terjengkang. Wajah Yunho yang kelihatan panik itu membuat Junsu dan Jaejoong tertawa kecil.

“Kalau kau memang ingin mendengar kami berlatih, kau tinggal masuk saja, Yunho. Kenapa harus bersembunyi seperti itu. Hari ini kan hari bebas. Semua orang sedang sibuk menyiapkan persiapan untuk besok.” Celoteh Junsu yang hanya mendapat cengiran dari Yunho.

❤❤❤❤❤

Mata Yunho bergerak menelusuri tiap sudut ruang musik dimana lebih banyak dipenuhi oleh alat-alat musik dan tumpukan kertas bertuliskan not-not yang tidak Yunho mengerti. Debaran jantungnya seolah sedang berusaha melompat keluar, membuatnya tidak nyaman. Apa lagi di dalam ruangan itu dirinya hanya berdu saja bersama orang yang sangat ia kagumi –pujaan hatinya. Jessica dan Junsu sedang pergi mencari snack dan minuman namun sedari tadi tidak kunjung kembali.

“Jarang sekali aku melihatmu tanpa Boa yang biasanya selalu berada didekatmu.” Jaejoong membuka percakapan.

“Kadang keberadaannya membuatku tidak nyaman.” Ucap Yunho jujur. Siapa juga yang nyaman diikuti setiap saat oleh yeoja yang bukan siapa-siapanya –kecuali teman kelas biasa. Membuat Yunho tidak leluasa mendekati orang yang disukainya.

“Eh? Ku kira Boa adalah yeoja chingumu, Yun.” Mata indah itu membulat, tanpa sadar membuat bibir berbentuk hati Yunho tersenyum tipis.

Chingu iya, kalau yeoja chingu bukan. Ada orang lain yang ku sukai.”

Nuguya?”

“Hei Jung Yunho! Wali kelasmu mencarimu sejak tadi!” ucap Jessica yang masuk membawa beberapa bungkus roti dan air mineral dingin. “Apa kau tidak dengar panggilan dari microfon yang berdengung sejak tadi?”

Yah sepupu, bisakah kau kurangi sikap ketusmu itu?” Tanya Yunho yang langsung beranjak pergi.

“Aku baru sadar kalau parasit yang biasa mengikutinya tidak terlihat sejak tadi.” Gumam Jessica yang berjalan menghampiri Jaejoong dan memberikan bungkus roti serta air mineral yang ia bawa.

❤❤❤❤❤

Hari untuk melakukan pertunjukan pun akhirnya tiba juga –pertunjukkan untuk menyambut ulang tahun sekolah yang memang biasa diselenggarakan tiap tahunnya. Bila dua tahun lalu diadakan bazaar untuk memperingati hari jadi sekolahan dan pesta olah raga untuk tahun lalu maka tahun ini giliran bidang senilah yang diusung sebagai tema ulang tahun sekolahan.

Mulai dari pembacaan puisi, balas pantun, pameran lukisan, pertunjukan band sekolah, permainan drama, pantomim, pertunjukan lawak dan seni tari baik tradisional maupun modern. Tetapi sebelum semua kegiatan dalam jadwal itu dilakukan, terlebih dahulu pembukaan acara dilakukan dengan memperdengarkan duet piano dan biola klasik yang akan dimainkan oleh Jaejoong dan Jessica disusul kemudian keduanya akan berkolaborasi dengan Junsu yang akan menyanyikan sebuah lagu. Acara yang sudah pasti akan sangat meriah.

❤❤❤❤❤

“Aku lebih memilih melihat Jae memakai gaun daripada setelan jas monoton seperti itu.” Gerutu Jessica ketika dirinya sedang dirias mengingat sepuluh menit lagi pertunjukan pembuka akan dimulai. Suara para host –pembawa acara sudah berdengung-dengung sejak beberapa menit yang lalu.

“Bagaimana pun juga aku ini namja, Sica.” Ucap Jaejoong.

“Aku berani bertaruh bahwa siapapun yang ingat pernah melihatmu menyamar tahun sebagai pelayan di bazaar kelas kita 2 tahun lalu akan berpendapat sama sepertiku. Kau sangat yeoppo dan seksi dengan baju perempuan yang dimodifikasi, Jae Sayang.” Jessica bersikeras.

“2 tahun lalu saat kita masih kelas 1? Jadi pelayan super cantik yang menjaga stand kelas 1-2 itu Joongie? Astaga!” Junsu menimpali. “Apa kau menerima banyak surat cinta?”

“Bahkan sampai sekarang selalu ada surat cinta di dalam loker Jae-je.” Sahut Jessica.

Jaejoong hanya tersenyum. Apa boleh buat? Bagi sahabat-sahabatnya dirinya yang tampan –cantik selalu dianggap lebih pantas mengenakan gaun daripada setelan jas.

❤❤❤❤❤

Suara denting piano yang mengalun seirama gesekan lembut biola menyihir hampir semua orang yang berada di aula sekolah yang sudah disulap menjadi mini teater, panggung di depan sana yang mana terdapat seorang putri anggun dan seorang pangeran –putri cantik membuat seluruh perhatian audience tidak bisa lepas menatap keindahan yang berpadu dalam harmoni.

“Seperti biasa, dia selalu memukau….” Gumam Yunho. Mata tajamnya tidak pernah lepas dari sosok si pemain piano yang menurutnya merupakan artis acara ini.

“Ya, Jessica memang cantik sekali. Sepupumu itu benar-benar mengagumkan.” Sahut Boa yang duduk di samping Yunho. “Suara Junsu juga seperti biasa, sangat bagus.” Boa melirik ke arah pemuda berpipi gempal yang sedang meneriakkan nama Junsu berulang-ulang –Yoochun.

❤❤❤❤❤

Acara pembuka oleh Junsu, Jessica dan Jaejoong usai. Acara berganti acara lain. Jessica memaksa Jaejoong dan Junsu berfoto bersamanya di back stage sebagai kenang-kenangan, bahkan gadis berambut golden brown itu memarahi orang lain yang juga ingin berfoto dengan Jaejoong.

“Jae….” Yunho menarik tangan Jaejoong dari belakang, memaksa remaja androgini itu menatapnya. “Jam makan siang nanti temui aku dipinggir lapangan basket yang berada di halaman belakang gedung sekolah ya.”

“Untuk?” Tanya Jaejoong bingung.

“Ada sesuatu yang ingin ku sampaikan padamu.”

“Soal?”

“Datang saja… aku….”

“Kenapa kau menjuri Jae-je dariku? Aku butuh Jae-je untuk berfoto!” omel Jessica yang langsung menyeret Jaejoong pergi bersamanya. Meninggalkan Yunho yang memasang wajah sedikit kecewa. Yunho berharap bisa sedikit lebih lama bicara dengan Jaejoong.

❤❤❤❤❤

Jaejoong sudah berganti baju, bukan lagi kostum saat dirinya tampil di atas panggung, bukan pula seragam olah raganya. Pemuda berkulit pucat itu sudah memakai celana panjang berwarna hitam dengan atasan sebuah kaus berwarna abu-abu cerah. Jaejoong berjalan pelan menuju lapangan basket yang berada di halaman belakang sekolah sambil menenteng sebuah bungkus plastik berisi 2 botol air mineral, 2 bungkus roti dan beberapa buah pastel. Jaejoong tidak tahu akan memakan waktu berapa lama Yunho bicara padanya sehingga untuk berjaga-jaga seandainya dirinya lapar, Jaejoong membawa cukup banyak makanan untuknya dan mungkin saja untuk Yunho.

Mendekati lapangan basket, Jaejoong melihat sekerumunan orang seperti tengah meributkan sesuatu. Penasaran atas apa yang terjadi akhirnya Jaejoong berjalan menghampirinya. Ternyata di tengah kerumunan itu ada Yunho yang sedang berdiri berhadapan dengan wajah serius.

“Jangan bercanda Boa!” geram Yunho. Seketika wajahnya mengeras dan keruh.

Boa menggelengkan kepalanya pelan. “Aku menyukaimu, Yunho ya. Ku mohon… sebelum kita lulus dari SMA aku ingin mengatakan bahwa aku benar-benar menyukaimu. Bukan sebagai teman biasa.” Ucap Boa. “Maukah kau menjadi namja chinguku?”

Yunho mengalihkan pandangannya dari Boa, menatap mata hitam legam itu dalam-dalam. “Mian Boa… ada orang lain yang sudah memiliki hatiku bahkan sebelum ku minta.” Ucap Yunho.

“Tidak bisakah kau mempertimngkannya lagi, Yun?” Tanya Boa. Ada kesedihan dalam matanya..

Mian….”

Boa menunduk sedih untuk beberapa saat ketika Yunho berjalan menuju arah Jaejoong. Namun belum juga sampai di hadapan Jaejoong, Boa menarik tangan Yunho, menarik kerah bajunya hingga pemuda jangkung itu sedikit membungkuk, lantas mengecup bibir berbentuk hati itu.

Yunho yang syok segera mendorong Boa, dengan tatapan marah dipandangnya gadis yang mengaku sebagai sahabatnya itu tajam. ”Apa maumu?!” bentaknya. “Apa kau tidak malu melakukan tindakan seperti itu?” marahnya.

“Yun….”

“Aku tidak mau orang yang ku sukai salah paham padaku gara-gara kau menciumku didepan umum seperti ini. Kau kira aku ini apa?”

“Yun… mian… aku…”

Menggabaikan Boa, Yunho kembali berjalan ke arah Jaejoong. Mata tajamnya lekat memaku mata hitam legam indah itu hingga akhirnya mereka berdiri saling berhadapan. Kasak-kusuk disekitar mereka mulai berdengung menyatakan kebingungan mereka.

“Aku tidak bermaksud mencium Boa, Jae. Karena orang yang ku harap menciumku adalah kau.” Ucap Yunho tenang penuh keseriusan.

Mata bulat Jaejoong membulat kaget. Pipi pucatnya bersemu merah. Jaejoong gelisah ketika semua orang menatap dirinya dan Yunho, tatapan yang tentu saja sangat berbeda dengan tatapan yang didapatkannya ketika memainkan Moonlight Sonata bersama Jessica dipanggung tadi pagi.

“Aku menyukaimu, Jae. Ani, aku mencintaimu. Bukan cinta monyet seperti kebanyakan remaja seusia kita rasakan. Aku benar-benar mencintaimu dan ingin menikahimu. Apakah kau mau menjadi calon pengantin masa depanku?” Tanya Yunho yang tidak hanya menyatakan perasaannya pada Jaejoong tetapi terdengar seperti sedang melamar Jaejoong.

Jaejoong bingung sekarang. Lebih bingung daripada harus mengisi not-not pada lembar paranada.

“Terima saja, Jae!”

“Jangan sia-siakan kesempatan ini!”

Sorak sorai bergemuruh dari orang disekelilingnya membuat Jaejoong semakin kebingungan. Terlebih wajah Yunho yang diliputi keseriusan itu membuat sahabat Jessica itu semakin bertambah bingung. Jawaban apa yang harus ia berikan pada Yunho?

“Jae….” Panggil Yunho dengan suara lembut.

Jaejoong menatap remaja yang sedikit lebih tinggi darinya itu dengan mata indahnya. “Aku menerimamu ketika nanti lagu yang dimainkan saat penutupan acara sekolah kita adalah Battre de Coeur gubahan Scarlet Lorux, tetapi ketika lagu penutupannya adalah instrument Reason milik Nami Tamaki maka artinya aku menolakmu.” Ucapnya sambil memberikan kantung berisi makanan pada Yunho lantas pergi.

Yunho diam sejenak. “Battre de Coeur? Reason? Aku bahkan tidak pernah mendengar lagu itu. Bagaimana aku bisa tahu jawabanmu, Jae?” pekiknya.

Jaejoong hanya tersenyum mendengar teriakan Yunho tanpa berniat menghentikan langkah kakinya. Jaejoong hanya ingin memberikan pelajaran pada Yunho karena sudah membiarkan bibirnya dijajah oleh perempuan lain.

❤❤❤❤❤

“Yunho menembakmu didepan umum?” Tanya Yoochun, kakak kembar Jaejoong yang merangkap sebagai namja chingu Junsu. “Pantas saja tadi dia menyeret Jessica dan Junsu bersamanya untuk mendengarkan lagu penutup acara yang akan dimainkan oleh Changmin.” Changmin adalah adik Jaejoong dan Yoochun yang baru duduk di kelas 1.

Pemilik mata indah itu hanya tersenyum, menatap damai langit yang mulai menjingga dan redup. Beberapa lampu merkuri yang berada disepanjang jalan dekat sekolah sudah mulai menyala. “Hanya ingin memberikan sedikit pelajaran pada si Jung yang sok tampan itu.” Gumam Jaejoong. “Tapi dia memang tampan!” jerit Jaejoong dalam hati.

“Semua yang terlibat dalam acara pasti tahu lagu penutup yang akan dimainkan oleh Changmin. Kau ini benar-benar usil.” Timpal Yoochun.

❤❤❤❤❤

“Kalau kau benar-benar menyukai Jae-je harusnya kau mulai belajar soal musik klasik, pabo!” sungut Jessica yang kesal, matanya melirik Yunho tajam.

“Aku benar-benar tidak tahu lagu apa yang sedang dia mainkan.” Keluh Yunho yang tidak melihat –merasakan delikan sepupunya. Yunho frustasi karena tidak mengetahui lagu apa yang sedang Changmin mainkan di atas panggung sana menggunakan biola kecilnya.

“Lagu yang indah….” Gumam Junsu.”

“Lagu apa yang sedang dia mainkan?” Yunho menatap Jessica dan Junsu secara bergantian.

“Battre de Coeur.” Gumam Junsu, “Apa lagi?”

“Battre de Coeur?” Yunho menatap Jessica meminta kepastian.

“Battre de Coeur gubahan Scarlet Lorux. Dasar bodoh!” sungut Jessica.

Wajah Yunho sumpringah seketika. “Ingatkan aku untuk mentlaktir kalian.” Ucapnya sebelum bergegas pergi. Yunho harus segera menemui Jaejoong.

❤❤❤❤❤

“Apa kau yakin Jessica dan Junsu akan tahu lagu yang sedang Changmin mainkan?” Tanya Yoochun yang berjalan beriringan dengan Jaejoong sambil meminum banana milknya.

“Tentu saja. Aku pernah memainkannya dihadapan mereka berdua. Mereka jelas tahu bahwa lagu itu…”

“Battre de Coeur!” pekik Yunho yang lari menyongsong ke arah Jaejoong dan Yoochun berada. “Changmin memainkan Battre de Coeur!” wajahnya berkeringat dan lelah namun terlihat sangat sumpringah dan bahagia.

Jaejoong hanya tersenyum dan mengulurkan sebotol air mineral dingin pada Yunho. Membiarkan Yoochun pergi sendiri. “Selamat karena kau sudah berhasil.” Ucapnya.

Yunho tidak menyahut. Napasnya kembang kempis namun tetap saja menarik Jaejoong ke dalam pelukannya. “Aku janji akan belajar musik klasik untukmu.”

“Kau tidak harus melakukannya.”

“Aku ingin!” Yunho melepaskan pelukannya, menatap lekat-lekat Jaejoong tanpa melepaskan tangannya yang menggenggam erat jemari tangan Jaejoong.

“Ada hati yang terluka saat kau bersamaku, Yun.” Ucap Jaejoong. Walaupun hatinya juga menjerit ketika melihat Yunho bersama Boa namun Jaejoong tidak nyaman bila ada orang yang terluka karena dirinya.

“Aku berteman dengan Boa sudah lama. Dia mungkin akan membenciku tapi itu hanya sebentar. Dia akan memaafkanku dan kami bisa kembali berteman.” Jawab Yunho yang menggandeng tangan Jaejoong. Mereka berjalan beriringan sepanjang bangsal yang mulai sepi. “Aku akan mengantarmu pulang ke rumas sekaligus memperkenalkan diriku pada orang tuamu.”

Jaejoong hanya mengangguk singkat. “Kebetulan Yoochun juga akan berkencan dengan Junsu dan Changmin akan menginap di rumah temannya.”

“Kalau aku boleh tahu, apa arti Battre de Coeur?” Tanya Yunho.

“Debaran jantung. Secara keseluruhan lagu itu menceritakan perasaan cinta yang sangat dalam, terlalu dalam hingga menyakitkan ketika si pencinta tidak bisa memiliki orang yang dikasihinya.” Jawab Jaejoong.

Sekali lagi, Yunho mencium punggung tangan Jaejoong yang digenggamnya. Berjalan beriringan bersama ditengah pedar lampu temaram yang menghiasi halaman depan gedung sekolah. Yah, walaupun terasa sedikit konyol dan aneh namun keduanya merasa sedang berjalan-jalan romantis berdua tanpa gangguan meskipun Yunho masih mempunyai sebuah PR…

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

END

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

Hallo, apa kabar? Lama tidak bersua ya?🙂 semoga sehat selalu ya jangan seperti Yuuki😀

FF ini terinspirasi dari novel berjudul Partitur Dua Musim dan lagu Black Tinkerbell punya Chocolate. Maklum ya kalau Gaje.

Bila ada reader Yuuki di Wattpad yang kebetulan baca tulisan ini, mian Yuuki belum bisa update yang di Wattpad walaupun yang di WP udah diupdate sejak kemarin-kemarin. Alasannya Yuuki lupa password akun Wattpad Yuuki. Yuuki catat sih tapi terselip dimana Yuuki lupa. Ini masih berusaha dicari. Harap sabar ya.

Oh ya, Yuuki sudah menyelesaikan draff epep Pembalasan Bidadari Hitam, Suprasegmental dan Pain Of Love. Mau mana dulu yang dikelarin? Satu-satu dulu ya. Yuuki harus jaga kesehatan soalnya sebentar lagi mau operasi tahap ke-2. Mohon doanya juga ya🙂 Yuuki tidak tahu kapan bisa post lagi tapi Yuuki jamin semua epep buatan Yuuki akan END kok walaupun lama🙂

Tetap jaga kesehatan ❤❤❤🙂🙂

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

 

Friday, November 20, 2015

8:55:28 AM

NaraYuuki

6 thoughts on “Battre de Coeur

  1. Yuki sakit apa sampai harus melakukan operasi tahap ke-2?
    Semoga operasinya berjalan lancar dan Yuki segera sembuh…
    Pantas saja fanfik di wattpad ga ada yg di update ternyata Yuki lupa passwordnya hehe…
    Yuki kelarin Pembalasan Bidadari Hitam dulu kalo boleh…
    kasihan Yunho dibenci anaknya juga Jaejoong yg nganggap Yunho brengsek, padahal Dia ngelakuin itu semua buat ngelindungi Jaejoong.

  2. hallo yukki.. salam kenal..
    aku masih baru di dunia ff, tapi aku suka semua cerita yukki..
    ditunggu yaa cerita2 yg lainnya..
    oya aku suka banget sama cerita yukki yg “pembalasan bidadari hitam”, jadi kalau bisa yg itu aja yg di tamatin duluan yukki.. hehe..
    “pembalasan bidadari hitam”

  3. yuuki mian baru baca, sudah lama terima imel notif tapi baru punya kesempatan baca sekarang.

    yuuki sudah sehat? alhamdulillah. jgn memaksakan diri buat nulis kalau gak sehat ya.

    aku lgs browsing lagu ini. sekarang lagi donlot ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s