Nawa


 

Nawa- NaraYuuki

 

 

 

Nawa tidak pernah tahu kenapa dirinya diberi nama Nawa. Menurut orang tuanya, kakeknyalah yang memberinya nama Nawa karena Nawa adalah cucu yang ke-9. Dalam Bilangan Jawa, Nawa berarti songo atau sembilan. Dan karena kakek Nawa merupakan keturunan Jawa murni sehingga Nawa bernama Nawa.

Tidak ada yang sepesial dengan namanya, Nawa merasa biasa-biasa saja walaupun kadang beberapa temannya sering meledeknya karena namanya terdengar sedikit aneh. Nawa kini duduk dibangku kelas 3 SMA. Sama seperti teman sekelasnya yang lain, Nawa pun sibuk mengikuti pelajaran tambahan, les ini itu untuk menyambut Ujian Nasional. Nawa sebelumnya tidak pernah memedulikan orang lain disekitarnya, karena itu dirinya jarang sekali mempunyai teman dekat, teman sekelasnya pun hanya bicara padanya ketika mereka sama-sama berada satu tim dalam sebuah tugas kelompok. Tetapi akhir-akhir ini Nawa sering memperhatikan teman lesnya yang bernama Sapta.

Sapta bukanlah orang hebat yang bisa menarik perhatian orang lain tetapi entah kenapa Nawa sering memperhatikannya. Yang Nawa tahu, Sapta berarti pitu atau tujuh.Nawa menerka-nerka, mungkinkah Sapta adalah cucu ke-7 di keluarga besarnya atau anak ke-7? Tidak ada yang istimewa dari Sapta. Remaja yang berasal dari sekolah khusus anak laki-laki itu berperawakan sedang, tingginya kurang lebih sama dengan Nawa, 165 cm. Sapta memakai kaca mata cukup tebal, walaupun rambutnya tidak klimis tetapi untuk ukuran remaja putra, Nawa yakin bahwa Sapta bukanlah tipe yang mudah menarik lawan jenisnya, bahkan teman-teman satu lesnya pun seolah tidak menyadari keberadaan Sapta, tetapi sekali lagi entah mengapa Nawa merasa ada yang berbeda dari Sapta.

“Kau lihat apa, Na?” tanya Maya, teman satu sekolah Nawa yang kebetulan mengikuti les ditempat yang sama.

“Sapta….” Nawa menunjuk Sapta yang asyik menyimak penjelasan guru di depan sana.

“Kenapa dengan si cupu itu?” suara Maya terdengar sedikit meremehkan, “Dia cowok aneh jadi jangan dekat-dekat dia!”

“Aneh bagaimana?” Nawa menautkan alisnya bingung.

Maya mendekatkan wajahnya ke arah telinga kanan Nawa dan berbisik, “Kata teman satu kelasnya, si Sapta itu anak pungut di keluarganya. Hobinya bicara sendiri seperti orang gila.”

“Eh?”  Nawa bersuara cukup keras hingga guru yang sedang menjelaskan di depan mendelik kepadanya dengan wajah garang.

“Makanya jangan berurusan dengan si Sapta itu! Nanti dikira gila lagi! Ihhhh….” sambung Maya yang tidak ditanggapi oleh Nawa.

***

Nawa berjalan sendirian menuju halte terdekat dari tempatnya les, tidak ada teman menemaninya, Maya pun memilih pergi bersama pacarnya daripada menemani Nawa berjalan menuju halte.

Menendang-nendang kerikil untuk membunuh waktu Nawa terus berjalan perlahan.

Benarkah? Ahahahahaha….”

Nawa tersentak ketika mendengar suara yang berasal dari halte, mata kecoklatannya melihat jelas sosok Sapta yang tertawa riang, sendirian tanpa teman. Nawa menelan ludah dan merinding melihatnya. Benarkah Sapta sedikit tidak waras seperti yang diceritakan oleh Maya padanya tadi? Tetapi ada yang berbeda dari Sapta sekarang. Remaja itu tidak lagi memakai kaca mata tebalnya, wajahnya tidak sekeruh seperti ketika mereka masih di tempat les, wajah Sapta terlihat sumpringah.

“Sapta?” Nawa memberanikan diri menyapa.

“Eh, Nawa…. Mau pulang?”

Nama hanya menggangguk pelan, berjalan beberapa langkah sebelum meyakinkan dirinya sendiri duduk cukup dekat dengan Sapta. “Bicara pada siapa?” tanyanya.

“Nenek yang menceritakan cucunya.” jawab Sapta.

“Huh? Nenek? Mana?” Nawa celingukan mencari sosok nenek yang dibicarakan oleh Sapta.

“Baru saja pergi.” Sapta tersenyum, Nawa baru menyadari bahwa teman lesnya itu memiliki sepasang lesung pipit yang mempermanis senyumnya.

Nawa hanya mengangguk bingung.

“Beberapa hari terakhir ketika aku menunggu bus di halte ini aku bertemu seorang cowok keren sedang menunggu seseorang.” Sapta membuka percakapan.

“Cowok?” tanya Nawa yang mulai merasa tertarik.

Sapta mengangguk pelan, “Umurnya sekitar 20 tahunan. Orangnya tinggi, kulitnya putih bersih, bibirnya tipis dan orangnya sangat tampan. Kalau teman-teman les kita yang perempuan melihatnya ku rasa mereka akan histeris.”

Nawa mengulum senyum. “Kau tidak tanya namanya? Mungkin dia pacar dari salah satu teman les kita.”

Sapta menggelengkan kepalanya pelan, “Namanya Astha dan dia tidak menunggu pacarnya.” ucap Sapta tenang, “Dia menunggu adiknya.”

“Oh….”

“Nama adiknya Nawa.” Sapta tersenyum ketika menatap wajah Nawa.

“Eh? Nawa?” tanya Nawa bingung, seingatnya dirinyalah satu-satunya orang yang memiliki nama Nawa di tempat lesnya tetapi Nawa tidak ingat bahwa dirinya mempunyai seorang kakak laki-laki. Atau ada anak baru yang belum dikenalnya yang juga memiliki nama Nawa?

“Dia menunggumu, Nawa.”

Nawa mengerutkan keningnya bingung, mungkin benar apa yang Maya katakan padanya bahwa Sapta sedikit gila dan kurang waras.

“Dia berdiri di sebelahku sekarang.”

“Jangan bercanda, Sapta!” pinta Nawa yang mulai merinding.

“Aku serius. Kak Astha sudah datang untuk menjemputmu.”

Nawa berdiri dari duduknya, “Tidak lucu Sapta!” Nawa mulai marah.

Sapta tersenyum, memberikan sebuah koran kumal pada Nawa. “Koran satu bulan yang lalu. Bacalah dan kau akan mengerti Nawa.”

Sedikit ragu Nawa mengambil koran itu dan membacanya.

‘Kecelakaan antara mobil pribadi dan mobil pick up menewaskan satu keluarga yang mengendarai mobil pribadi, sementara supir dan kernet mobil pick up dalam ke adaan kritis segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Kecelakaan diduga disebabkan oleh pengendara mobil pick up yang mengantuk.”

Tubuh Nawa lemas ketika melihat fotonya terpampang di samping berita kecelakaan tersebut bersama kedua orang tuanya serta sebuah foto yang kini dikenalnya sebagai kak Astha, kakak laki-lakinya.

Nama menatap Sapta dengan mata nanarnya, di samping teman lesnya itu ia dapat melihat sosok yang semula transparan lama kelamaan menjadi jelas, wajah tersenyum yang sangat dikenalnya, wajah kakak laki-lakinya, Astha.

“Jadi selama ini….”

“Itu adalah ilusi yang kau ciptakan sendiri, Nawa.”

“Lalu Maya? Apakah dia juga ilusi? Dia bisa melihat dan berbicara padaku.”

“Maya? Tidak pernah ada teman les kita yang bernama Maya. Itu pun pastilah hanya ilusimu saja, Nawa.” ucap Sapta, “Selama ini kau hanyalah sosok roh yang belum ikhlas pergi ke alam sana dengan cara tragis seperti itu sehingga kau masih merasa sebagai Nawa sebelum kecelakaan itu terjadi.”

Nawa menatap sosok pucat Astha yang tersenyum padanya, “Kakak datang menjemputku?” tanyanya yang hanya mendapat anggukan singkat dari Astha.

“Terlalu lama kau pergi bermain, Papa dan Mama sudah lama menunggumu.” Tangan pucat Astha terjulur menunjuk sebuah mobil yang sangat dikenal oleh Nawa, mobil yang kini pastilah sudah ringsek menjadi rongsokan.

Nawa tersenyum ketika sosok Papa dan Mamanya melambaikan tangan dari dalam mobil itu, “Pulang ke rumah baru kita ya?” gumamnya, “Sapta… terima kasih.” Nawa segera berlari kecil menuju mobil itu, mendudukkan dirinya di dalam mobil itu dan melambaikan tangannya pada Sapta.

“Aku sudah membantu kakak, jadi tugasku sekarang sudah selesai.”

Astha menepuk bahu Sapta, “Terima kasih….” ucapnya.

Sapta hanya mengamati mobil yang mulai melaju itu, mengamatinya hingga mobil itu memudar dan menghilang dari pandangannya. Sapta memang sudah memiliki kelebihan melihat roh semenjak kecil karena itulah dirinya sering dianggap sinting oleh teman-temannya karena sering bicara sendiri. Pengalaman kali ini akan Sapta simpan sebagai kenangan yang berharga, Sapta pun tidak akan pernah melupakan Nawa, gadis cantik teman lesnya yang pernah ditaksirnya dulu. Untuk yang satu itu Sapta tidak perlu mengatakannya pada Nawa walaupun dirinya mempunyai kesempatan. Menatap langit biru Sapta tersenyum.

“Semoga kau tenang di alam sana, Nawa….” •

 

 

 

 

 

 

Saturday, May 30, 2015

8:44:48 AM

NaraYuuki

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s