Mbah Ompong


Mbah Ompong

 

Mbah Ompong

 

“Sudahlah, NangWong wadon bukan cuma dia saja. Jangan sedih seperti itu.” hibur Mbah Ompong. Tentu saja nama aslinya bukan Mbah Ompong. Nama Aslinya Kasiem, punya 7 orang anak, 16 cucu dan 12 cicit tetapi masih sangar dan garang apalagi ketika berusaha membantu persoalan rumah tangga anak ke-2nya, lebih tepatnya bukan membantu tetapi mengkompori dan memperkeruh kondisi. Dengar saja apa yang dikatakannya! “Wong wadon bukan cuma dia saja.” bukankah itu sama saja memperkeruh keadaan? Akan lebih bijaksana seandainya Mbah Ompong mengatakan, “Wong wadon memang suka memakai emosi daripada otak, sabarkan hatimu tenangkan pikiranmu!” Sifat sangar, garang dan menang sendiri itu pun menurun pada ke-7 anaknya.

Konon dulu ketika masih muda Mbah Ompong sedikit sundal. Ke-7 anaknya berasal dari 4 benih laki-laki berbeda. Anak pertama berasal dari benih ayah yang sekarang tinggal di Sumatra, anak ke-2 berasal dari benih ayah yang sekarang sudah almarhum, anak ke-3 sampai anak ke-6 memiliki ayah yang minggat ke Sumatra tanpa bertanggungjawab sedikitpun pada hasil perbuatannya, sedangkan anak ke-7 konon berasal dari perselingkuhan yang membuat si laki-laki korban Mbah Ompong mati gantung diri.

Mbah Ompong sering pergi ke pasar, entah untuk berbelanja atau sekedar jalan-jalan. Sering kali ketika merasa ternak ayamnya terlalu banyak Mbah Ompong membawanya ke pasar untuk dijual. Para penjual sering mengeluh dan marah-marah karena Mbah Ompong sering menawarkan ayamnya dengan harga selangit sehingga kadang kala Mbah Ompong membawa pulang kembali ayamnya dan mengeluh bila ayamnya mati karena sakit.

Kembali kepersoalan awal. Mbah Ompong yang memperkeruh persoalan rumah tangga anaknya.

“Sudahlah, NangWong wadon bukan cuma dia saja.” ucap Mbah Ompong sekali lagi.

Mbah Yem jangan ngomong seperti itu!” ucap salah satu tetangga yang juga berada satu lokasi dengan Mbah Ompong –rumah anak ke-2nya yang sempat menjadi arena perang dunia kesekian beberapa menit yang lalu hingga membuat tetangga berdatangan untuk melihatnya. “Harusnya Mbah Yem ngadem-adem bukannya manas-manasi seperti itu! Orang tua kok seperti itu.” tambahnya.

“Eh, Painah! Bocah masih bau kencur tapi sok tua?!” Mbah Ompong tersulut emosinya.

“Bukannya begitu, Mbah. Orang Kang Tukijo dan Mbak Tukinem harusnya didamaikan tapi Mbah Yem ngomongnya kok ‘ wong wadon bukan cuma dia saja’ itu sama saja Mbah Yem mendukung Kang Tukijo poligami. Tidak bijaksana bila orang tua seperti Mbah Yem ngomong seperti itu ketika rumah tangga anak Mbah Yem bermasalah seperti ini.” ucap Painah panjang lebar sok bijaksana.

“Eeeehhh, dasar semprul! Asem koe yo! Urusi saja mertuamu itu! Dia masih hutang tiga ratus ribu di warungku! Dasar kere!”

“Lho? Kok jadi bawa-bawa mertua saya, Mbah?” tanya Painah bingung. “Masalah hutang mertua saya ya tagih sendiri! Orang tua diingatkan kok begitu.”

Tukijo dan Tukiyem yang awalnya bertanding adu mulut itu pun hanya bisa saling pandang dan memilih pergi meninggalkan rumah mereka sendiri, membiarkan Mbah Ompong dan Painah adu mulut dan menjadi tontonan para tetangga.

Itulah sepenggal kisah Mbah Ompong yang tidak pantut dijadikan contoh oleh anak cucunya….

 

 

 

Thursday, October 22, 2015

8:47:55 AM

NaraYuuki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s