Pain Of Love V


Tittle                : Pain Of Love V

Writer               : Marcia Hannie & NaraYuuki (untuk saat ini, bisa berganti kapan saja)

Genre               : Romance/ Drama/ Fammily/ Friendship/ Angst/ Hurt/ Death Chara

Rate                 : T-M (bergantung kebutuhan)

Cast                 : Umma, Appa, Others, OOC

Disclaimer:      : They are not mine but Jung Hyunno is mine, NaraYuuki. This Story is our, Marci & Yuuki (untuk saat ini, bisa berganti kapan saja)

Warning           : Kesalaha nejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut. Yuuki& Marci tidak menggunakan POV ini itu (karena binggung ngetiknya) jadi semoga yang baca tidak binggung dengan FF ini. Italic (ditulis miring semua kramanggung/ wawancangnya (dialog dan kalimat pengantarnya) berarti kejadian dimasa lalu).

.

.

Pain Of Love

Pastikan baca warningnya dulu!

.

.

.

.

Ku lihat Yunho harabojie menelan susah payah ludahnya ketika udara kering namun dingin menyentuh kulit tipisnya yang sudah tidak lagi segar. Ku hentikan kursi roda yang ku dorong berhenti tepat di bawah pohon tua tempat rumah pohon yang lapuk dan nyaris ambruk itu, ku biarkan mata lelah Yunho harabojie mengamati sendu penuh haru bangunan yang bahkan lebih tua daripada usiaku. Ku lihat mata lelah itu berkaca-kaca, ada lelehan air mata yang turun membasahi keriput wajahnya, lelehan yang langsung dihapus oleh Yunho harabojie.

“Beruang kecil….” Panggil Yunho harabojie dengan suara paraunya.

Harabojie… aku mulai bosan dipanggil ‘Beruang kecil’ setiap hari. Aku kan sudah besar.” Protesku.

Yunho harabojie menolehkan kepalanya, menatapku. Senyum lelah dihadirkannya untukku membuat air mukanya lebih hidup, “Bagaimana kalau beruang besar saja, hm?”

“Ck…. Beruang besar kan Harabojie.”

“Bukan. Kalau aku bukan lagi beruang besar tetapi beruang renta yang seumur hidup nelangsa menyesali hidup masa muda.”

Ku paksakan senyuman terukir di bibirku. “Tidak ada yang perlu disesali, Harabojie. Semuanya sudah terjadi, bukan?” tanyaku, “Bukankah harusnya sekarang waktu bagi Harabojie untuk menikmati  hari tua dengan tenang?”

“Hm….” Gumamnya. “Bagaimana jadinya andaikan dulu aku tidak menyakiti hati Boo Jae? Bagaimana jadinya sekarang bila dulu aku berdamai dengan perasaanku sendiri? Apakah aku bisa menjalani masa tuaku bersama Boo Jae? Apakah aku dan Boo Jae berkesempatan memiliki anak dan cucu?”

Boo Jae…

Tiap kali nama itu diucapkan oleh Yunho harabojie, lidahku selalu kelu. Aku tidak pernah bertemu secara langsung dengan sosok yang kata Ayah adalah sosok tercantik, terbaik dan orang paling tulus yang pernah ditemuinya seumur hidup tetapi aku mengenalnya dengan baik melalui buku-buku harian peninggalannya yang sempat ku baca.

Wajahku menengadah, menatap bangunan rumah pohon usang yang mungkin dulunya adalah bangunan yang sangat indah. Akan seperti apa rasanya berada di atas sana, duduk didalamnya dimasa mudanya dulu, apa saja kenangan yang sempat hadir ditempat itu? Andaikan punya mesin waktu, aku pasti akan pergi kemasa dimana rumah pohon itu masih berjaya.

“Kalau kau dan Joongie hyung bersama kau tidak akan nelangsa seperti sekarang, Hyung.” Ucap ayah yang berjalan menghampiri kami. “Atau setidaknya kau tidak akan menghabiskan seluruh hidupmu untuk menyesali apa yang sudah kau lakukan pada Joongie hyung.”

“Aku seorang pendosa.” Sahut Yunho harabojie.

“Tentu saja. Kau adalah pendosa tidak termaafkan.”

Telingaku terasa gatal mendengar ayah dan Yunho harabojie saling menyahut kata-kata. Nada bicara mereka terdengar biasa tetapi seperti ada sebuah kemarahan dan dendam yang terkandung didalamnya. Aku tidak tahu apa sebabnya karena tidak ada seorang pun yang memberitahuku alasannya.

“Ku rasa tidak perlu kau ingat-ingat lagi, Hyung.” Nasihat ayah. “Apapun yang terjadi dimasa lalu biarlah tersimpan dalam buku usang kenangan kita. Hyung hanya perlu memikirkan kesehatan Hyung agar ketika Hyunno menikah nanti, Hyung bisa menyaksikannya berdiri dipelaminan.”

Yunho harabojie menatapku. “Kau sudah punya yeoja chingu, Beruang kecil?”

Aku hanya tersenyum malu. Apa-apaan ayah ini? Kenapa menceritakan masalah pribadiku pada Yunho harabojie?

“Namanya Jaenna Park, seorang gadis cantik berdarah Jepang yang memiliki mata indah serupa Joongie Hyung.” Ayah memberitahu.

Jeongmal?” Tanya Yunho harabojie.

Aku mengangguk pelan.

“Boleh kakek tua ini melihat fotonya?”

Ku lirik ayah, meminta persetujuannya terlebih dahulu. Memastikan apakah dampak terhadap Yunho harabojie tidak akan mempengaruhi kesehatannya andaikan ku tunjukkan foto Jaennaku.

“Biarkan harabojiemu melihatnya.” Ucap ayah pada akhirnya.

Sedikit ragu ku keluarkan handphoneku, ku berikan pada Yunho harabojie agar ia bisa melihat sosok Jaenna yang fotonya ku jadikan wallpaper.

Tangan Yunho harabojie bergetar, mata lelahnya nanar dan memerah. “BooBoo Jae….” Lirihnya diiringi isakan pilu.

Ayah merampas handphone itu dan diberikan kepadaku. “Bawa harabojiemu masuk. Sudah saatnya dia minum obat.”

Ku anggukkan kepalaku pelan, mendorong kursi roda Yunho harabojie menuju rumah secepat yang ku mampu seiring isakannya yang kian bertambah keras. Sempat ku tengok ayah yang menengadah menatap langit sambil mengusap matanya menggunakan sapu tangan kumal yang tidak pernah dibuangnya sejak dulu, sapu tangan pemberian Boo Jae.

Kata ayah, Jaenna memiliki mata indah mirip Boo Jae, kulitnya pucat seperti Boo Jae, bibirnya merah penuh seperti Boo Jae, hanya saja rambut Jaenna ikal tidak seperti Boo Jae yang memiliki rambut lurus. Wajar bukan bila Yunho harabojie menangis melihat kemiripan mereka?

“Beruang kecil….” Lirih Yunho harabojie.

“Ya Harabojie?”

“Bahagiakanlah yeoja chingumu! Jangan sekali-kali kau menyakitinya karena penyesalah selalu berada dikahir cerita.” Ucap Yunho harabojie, “Karena bila penyesalan berada diawal cerita tidak akan ada orang yang akan belajar dari kesalahan yang diperbuatnya.”

“Ya, Harabojie….” Sahutku.

Tidak ada yang mengatakannya padaku tetapi aku mengetahui satu hal yang menjadi rahasia keluarga Jung. Karena kesalahan Yunho harabojie pada Boo Jae, Seunghyun dan Yoochun harabojie tidak pernah lagi menginjakan kakinya di rumah keluarga Jung ini sampai kematian menjemput mereka. Kesalahan yang belum ku ketahui apa. Mungkin suatu hari nanti Yunho harabojie ataupun ayah mau mengatakannya padaku.

“Beruang kecil….”

Ne?”

“Subuh tadi aku bermimpi.”

“Mimpi apa, Harabojie?”

Boo Jae menggandeng tanganku dan mengajakku berjalan-jalan kesebuah taman indah, ada sebuah jembatan disana. Ketika kami ingin menyeberangi jembatan itu ada seseorang yang memanggil namaku. Lalu aku terbangun….”

Aku terdiam…

Kadang-kadang mimpi merupakan sebuah tanda…

Entah tanda apa….

❤❤❤❤❤

Langkah-langkah ringan itu menyusuri bangsal, menikung ke kiri sebelum akhirnya berhenti di depan ruang berpapan nama “Music Room” dan menggeser pintu dengan penuh semangat. Kedatangannya disambut hangat oleh 3 orang rekannya yang tersenyum kepadanya.

“Joongie….” Seunghyun mengacak rambut hitam lembut itu gemas.

“Darimana saja kau? Dasar!” Yoochun berkacak pinggang namun senyum tidak luntur menghiasi wajah chubynya.

“Joongie Hyung! Bekalmu masih? Aku sangat lapar.” Tanya Changmin.

Pemilik tangan pucat itu mengulurkan empat buat sapu tangan sutra berwarna merah maroon, “Ku harap kalian tidak menolaknya seperti yang Yunie lakukan tadi. Aku merajutnya susah payah satu minggu ini.”

“Beruang brengsek itu akan menyesali perbuatannya!” ketus Seunghyun yang mengambil satu sapu tangan berajut namanya.

“Dia akan menyesal telah menolak benda berharga ini.” Sahut Yoochun yang juga mengambil satu sapu tangan berajut namanya.

“Biar aku yang menyimpan bagian Yunho hyung, suatu saat ketika dia menginginkannya akan ku berikan padanya.” Ucap Changmin.

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

Hallo… lama ya epep ini tidak dilanjutkan dan jamuran. Ada yang masih ingat? Karena sekarang hanya Yuuki yang melanjutkan jadi akan ada beberapa perubahan dan penyesuaian sesuai karakter dan kemampuan menulis Yuuki. Marci sibuk di real jadi kalau nunggu Marci kemungkinan epep ini lanjutnya akan sangat lama jadi Yuuki lanjutkan sendiri.

Pendek dan ngawur ya chap ini?

2 Chap sebelumnya Yuuki tidak dilibatkan dalam penulisannya dan tidak memiliki file aslinya jadi susah untuk mendapatkan fellnya. Tapi Yuuki usahakan akan tetap melanjutkannya. Pelan-pelan saja ya karena Yuuki juga digempur kesehatan yang angot-angotan pasca operasi.

Terima kasih.

Tetap jaga kesehatan.

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

Wednesday, August 26, 2015

8:34:48 AM

NaraYuuki

7 thoughts on “Pain Of Love V

  1. aaaaa thank you udah dilanjutin.. Aku suka bnget ff ini & nunggu2 bngt !! penasaran kelanjutan’a gmana & gmana yunppa ampe trpuruk bgitu.. pngen’a sh ada bagian flashback pas yunppa ditinggalin jaejae heheheee
    Semangaattt yaa yuuki..!!

  2. sebenernya q bener2 penasaran ma ff ini,,
    cuma q pikir gak bakal lanjut lagi yuuki
    soalnya lauama banget gak update
    please lanjut ampe end y and kalo bisa jngan lama updatenya gomawo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s