Pasteurisasi Asa


Tittle               : Pasteurisasi Asa

Writer             : NaraYuuki

Genre             : Romance/ Family

Rate                : T

Cast                : Jung Yunho & Kim Jaejoong

Disclaimer:    : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning         : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuukimasihbutuhbanyakbelajar.Kesalahanejaandanpemilihan kata harapdimaklumi, Miss Tybertebaran, Penceritaansangat ngebut.

.

.

 

.

.

Kumpulan burung layang-layang terbang berputar-putar disekitar gumpalan awan hitam sebelum akhirnya terbang pergi menjauhi awan yang semakin lama semakin gelap –bahkan beberapa kali terlihat kilat petir walau gemuruh suaranya belum terlalu kuat. Di bawah naungan halte yang saat itu sedang sepi sosok yang sejak tadi duduk termenung sendirian itu menatap hampa langit yang perlahan menggelap sempurna hingga tetes gerimis turun membasahi jalanan beraspal di depannya. Mata indahnya terlihat kosong namun nanar, kedua tangannya memegangi perutnya yang tidak terlihat terlalu buncit namun juga tidak lagi rata, sesekali jemari tangannya mengusap perlahan perut yang tertutup sweter panjang berwarna pastel itu, seolah membangunkan sesuatu yang tertidur didalamnya untuk bangun guna menikmati gerimis yang dingin lagi indah bersamanya.

“Ibu tidak marah pada ayahmu, Chagy. Hanya kadang rasanya sangat lelah bila harus seperti itu setiap hari.” keluhnya, sedikit mengigil ketika angin meniupkan gerimis ke arah halte dan mengenai wajah serta tubuhnya walaupun hanya sesaat saja. “Ibu tidak bisa membaca buku-buku yang Ibu sukai, Ibu tidak bisa menulis cerita-cerita yang sangat Ibu cintai lagi. Sesungguhnya Ibu sangat sedih dengan keadaan yang seperti itu.”

Menarik napas panjang, dieratkannya sisi-sisi sweternya agar lebih melindungi perutnya, bergumam sesuatu sebelum kembali menerawang menatap gerimis yang semakin lebat seolah badai sebentar lagi akan datang.

“Kau tahu, Chagy? Bahagia itu relatif. Dan sekarang Ibu sedang tidak merasa bahagia walaupun Ibu dikelilingi oleh orang-orang yang mencintai Ibu, Ibu tidak merasa bahagia walaupun setiap hari ibu bisa melihat senyum orang yang Ibu cintai.” kembali diusapnya perutnya agar hangat dari tangannya bisa membuat nyaman perutnya yang mulai terjalari hawa dingin. “Jangan marah! Ibu tidak menyalahkan ayahmu. Ibu hanya merasa sedikit stress dan itu membuat Ibu tidak nyaman. Bukan berarti Ibu menyalahkan ayahmu. Ibu tetap mencintainya. Kau tahu? Bila ibu tidak mencintainya, Ibu pasti tidak akan mau menikah dengannya.”

Perlahan linangan air mata membasahi wajah cantiknya yang pucat, entah kulitnya yang asli pucat atau pucat karena hawa dingin yang menyerangnya, yang jelas wajahnya terlihat sangat pucat pun matanya yang terlihat memerah dan sembab.

“Ibu hanya tidak suka ayahmu mengatakan hanya wajah Ibu saja yang cantik, Ibu terluka jika ayahmu mengatakan bahwa hati Ibu sangat buruk seburut kain bekas.” Digigitnya bibir bawahnya perlahan agar isakan itu tidak lolos dari bibirnya yang juga ikut memucat. “Bukankah harusnya ayahmu mencoba memahami kondisi Ibu yang seperti ini? Ibu sakit hati ketika ayahmu mengatakan Ibu terlalu memanfaatkan keadaan sehingga meminta ini itu padanya. Sejujurnya jika Ibu diijinkan pergi sendiri Ibu akan mencari apa yang Ibu mau.”

“Tengah malam ketika kau meminta sup jamur atau sate ikan hangat, Ibu ingin mencarinya sendiri. Ibu tidak ingin merepotkan orang lain. Tetapi keadaan Ibu yang tidak memungkinkan untuk pergi sendiri membuat Ibu meminta pada ayahmu. Ibu tahu ayahmu lelah setelah seharian bekerja tetapi kau yang sangat menginginkannya memaksa Ibu untuk merengek pada ayahmu. Kau tahu sendiri bila ayahmu memang membelikannya untukmu, namun setelah itu… Ibu lelah bila setiap kali menginginkan sesuatu Ibu harus menerima kata-kata keras setelahnya. Sungguh Chagya, andai Ibu mampu dan diijinkan akan lebih baik bila Ibu pergi sendiri. Ibu lelah bila setiap hari menghadapi situasi yang sama.”

“Ada saat dimana ketika lidah Ibu terasa kelu dan enggan makan… pada saat itu Ibu tidak tahan mendengar teguran ayahmu yang terlampau keras bagi hati Ibu. Sedikit saja, Ibu hanya meminta sedikit saja. Kenapa ayahmu tidak mau mengerti kondisi Ibu yang sedang seperti ini?” air mata itu mengalir semakin deras seiring isakan yang keluar dari bibir pucatnya. Beberapa pejalan kaki yang lewat di trotoar dekat halte hanya melirik sekilas padanya tanpa sedikit pun berniat untuk menghibur ataupun menanyakan penyebab ia menangis. Toh dirinya sedang tidak butuh belas kasihan dari siapapun sekarang ini.

Udara dingin beserta gerimis yang sudah menjadi hujan deras membuat pikirannya yang semula panas perlahan-lahan mendingin walaupun tubuhnya harus ikut menggigil. Ingatannya dipaksa kembali berputar pada kejadian beberapa menit bahkan jam yang lalu dimana dirinya sedang bertengkar hebat dengan suaminya –setidaknya dirinya masih menganggap laki-laki itu sebagai suaminya sampai detik ini.

Menyandang status sebagai istri seoarng Jung yang sangat termasyur dimasyarakat menjadi beban tersendiri baginya. Kadang dirinya merasa menjadi boneka yang bisa selalu dibawa-bawa menghadiri acara-acara resmi ataupun pesta pribadi yang menurutnya sedikit membosankan, ingin mengeluh tetapi itu adalah resiko yang harus ditanggungnya begitu menjadi bagian dari keluarga Jung.

Bukan salahnya ketika pada kehamilan pertamanya ini dirinya menginginkan hal-hal merepotkan pada waktu-waktu tidak lazim seperti menginginkan sup jamur pada dini hari, menginginkan jeruk tengah malam, menginginkan ice cream menjelang subuh bahkan menginginkan jagung dan ubi bakar sebagai hidangan sarapan. Dirinya tidak mengerti kenapa menginginkan makanan seperti itu pada waktu yang merepotkan, hal yang cukup membuatnya bertengkar dengan suaminya. Jung Yunho. Bahkan terkadang dirinya merasa sangat membenci suami yang sudah setahun lebih menikahinya itu, membenci aroma parfum dan keringat yang menguar dari tubuh berkulit tan suaminya yang sebelumnya sangat ia sukai. yang lebih ekstrem adalah ketika dirinya mulai suka menggigiti lengan dan paha suaminya serta bermain-main dengan pusar suaminya. Menjengkelkan bagi suaminya namun terasa menyenangkan bagi dirinya, hal yang juga membuat dirinya dan suaminya bertengkar hebat.

Kim Jaejoong namanya, sebelum menikah dengan Jung Yunho dirinya adalah seorang jurnalis dan penulis naskah yang sangat berbakat. Jaejoong bahkan melepaskan kontrak bernilai ratusan juta serta beasiswa ke luar negeri hanya untuk menikah dengan pujaan hatinya. Tetapi cinta tidak selalu menang. Jaejoong merasakan sendiri bahkan bersama dengan orang yang sangat dicintai pun hidup bisa sangat tidak membahagiakan. Jaejoong mulai tertekan dan stress ketika semua hobinya dilarang oleh sang suami, Yunho. Jaejoong dilarang membaca novel, komik dan dilarang menulis lagi dengan alasan untuk kesehatan bayi mereka mengingat Jaejoong sedang hamil muda dan kondisinya yang sering naik turun. Awalnya Jaejoong bisa memahami alasan itu namun semakin lama perasaannya bergejolak, Jaejoong merasa dibelenggu dan hal itu membuatnya tidak bahagia. Puncaknya ia bertengkar dengan suaminya, mogok makan hingga kabur dari rumah.

“Sebentar lagi busnya akan datang. Dengan begitu kita bisa pulang ke rumah Harabojie dan Halmoni yang ada di Jinan.” Jaejoong mengusap perutnya dengan jemari yang bergetar, entah karena dingin ataupun karena lapar, bisa saja karena keduanya. “Kau akan menyukai Jinan. Jangan nakal, hm?” ucapnya sambil meringis ketika merasakan sedikit nyeri pada bagian perut kanannya.

Mengumpulkan keyakinan sekali lagi untuk memantapkan hatinya agar kepergiannya tidak menyisakan luka dan keraguan didalam hatinya. Terutama ketika dari arah kanannnya terlihat kepala bus yang akan dinaikinya untuk membawanya ke Jinan.

“Kadang ketenangan hati dan kebahagiaan memang membutuhkan pengorbanan besar.” gumamnya. Sebelum berdiri dari duduknya masih sempat diusapnya perutnya, kemudian diambilnya koper kecil berwarna merah hati yang teronggok membisu disisi kaki kirinya. Jantungnya berdebar kencang seiring semakin dekatnya bus yang melaju ke arahnya.

Hendak melangkah menuju sisi trotoar agar memudahkannya ketika hendak memasuki bus namun tubuhnya tertahan, lengannya terasa sedikit perih dan kebas.

“Apa yang akan kau lakukan dengan koper itu, Boo? Mau kau bawa kemana anak kita?”

Mata bulat indah yang kata orang-orang serupa mata rusa betina yang sangat bening lagi legam itu membulat ketika melihat sosok yang membuatnya sakit hati namun masih sangat dicintainya sepenuh hati, suaminya, Jung Yunho.Laki-laki bermata setajam mata musang yang sedang berburu itu menatap tajam Jaejoong yang masih tampak sedikit syock.

“Bukan seperti ini cara menyelesaikan masalah, Boo!” ucap Yunho dengan suara rendah namun penuh penekanan, “Kita bisa bicara baik-baik, kan? Jangan berbuat nekat! Kau sedang mengandung anak kita!”

Menulikan telinganya, Jaejoong hanya menatap nanar bus yang berhenti tepat di tepi jalan, melihat orang-orang yang turun dari bus sebelum bus itu kembali melaju tanpa dirinya yang belum sempat naik. Jaejoong meronta, berusaha melepaskan cekalan kuat suaminya. Padahal biasanya Jaejoong sangat kuat namun kini dirinya sama sekali tidak berkutik ketika dicekal sedemikian rupa oleh Yunho, Jaejoong bahkan semakin tidak berkutik ketika tubunya yang terasa sangat dingin itu didekap erat oleh Yunho, membuat mereka menjadi tontonan orang-orang yang lewat.

“Jangan seperti ini, Boo. Aku sangat menyayangimu dan anak kita, aku mencintai kalian.” ucap Yunho. “Aku menegurmu, aku bersikap galak padamu hanya untuk membuatmu menjadi lebih baik. Apakah aku salah? Kalau ada kata-kataku yang menyinggungmu tolong maafkan aku, maafkan suamimu yang hilaf ini!”

Jaejoong terdiam, matanya menerawang hampa, kedua matanya terasa panas dan perih. “Lihat Chagy? Ibu lagi kan yang menjadi sumber permasalahannya?” batinnya nelangsa.

“Lihat! Tubuhmu sangat dingin! Wajahmu sangat pucat.”

Jaejoong masih diam saja ketika Yunho menciumi sekujur wajahnya. Jaejoong tidak menolak ketika Yunho menariknya menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari halte, menembus gerimis yang sedikit mulai reda. Suara gesekan roda koper dan badan trotoar tidak juga menyadarkan Jaejoong pada apa yang sedang terjadi sekarang.

Selalu seperti ini!

Ketika dirinya bertengkar dengan Yunho, ketika dirinya sedang merajuk, Yunho selalu bisa memutarbalikkan keadaan dimana seharusnya Jaejoong yang marah tetapi justru Yunho yang balik marah. Jaejoong seolah tidak memiliki daya sebagai seorang ‘istri’, seolah dunianya hanya dikendalikan oleh Yunho selaku kepala keluarga.

“Apakah posisi istri memang seperti ini? Apakah yeoja atau namja lain yang menjadi istri pun merasakan apa yang aku rasakan?” batin Jaejoong.

Mungkin Jaejoong labil karena kondisinya yang sedang mengandung, mungkin Yunho marah karena kondisinya yang lelah. Tetapi satu hal yang Jaejoong selalu dapati bahwa suaminya akan memeluknya, merapalkan permintaan maaf usai membuatnya merasakan sakit hati –walaupun dirinya enggan mengakui.

Kadang dalam ketermanguannya Jaejoong berpikir, dirinya beruntung memiliki Yunho sebagai suami atau sial karenanya?

Mungkin Jaejoong harus menyadari sesuatu, bahwa dalam pernikahan pedih, bahagia, suka cita selalu berjalan beriringan.

 

 

END

 

 

Tuesday, May 19, 2015

7:05:14 AM

NaraYuuki.

9 thoughts on “Pasteurisasi Asa

  1. Muahahahahaha😀
    Sebenarnya ini epep untuk program penggalangan dana kemarin tapi ga jadi karena yang kepilih yang satunya.
    Kebetulan Yuuki dapat tema kehidupan rumah tangga.
    Malah mirip curhatan ya? #mikir

  2. bener juga sih orang hamil emang kadang agak nyebelin l
    sensitif mungkin yaw
    baca cerita ini kaya ngerasain yg bener2 nyata
    sederhana bgt tp real hahaha
    menunggu karya lain dariimu yuuki
    Bogoshipooooooooooo!!!!!!!!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s