Revenge XI


Tittle               : Revenge XI

Writer             : NaraYuuki

Genre             : Romance/ Modern Fantasy/ dsb.

Rate                : M

Cast                : All member DBSK, Jin Yihan, Go Ahra (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan) and Others. Seiring bertambahnya Chap castnya pun akan disesuaikan.

Disclaimer:    : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning         : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut, TANPA EDIT.

.

.

R2

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

.

.

.

.

.

“Kenapa aku harus bolos sekolah demi pergi memancing bersama….” dengan malas Yoochun melirik Yunho dan Changmin yang sudah mendapatkan beberapa ikan gurame berukuran besar. “Lagi pula bukankah Appa bilang akhir minggu? Ini masih hari jumat.” keluhnya.

Ahra yang sedang membongkar bekal yang dibawanya hanya bisa tersenyum, memang rencana awalnya adalah akhir pekan namun ada sesuatu yang membuat rencana itu dimajukan. “Akhir minggu nanti ayahmu harus menemui atasannya yang datang dari Jepang karena itu kita pergi lebih awal. Lagi pula ayahmu sudah meminta ijin pada wali kelas kalian untuk mengajak kalian jalan-jalan hari ini. Jadi berhentilah mengeluh, Anakku!”

Yoochun mendengus kesal, “Junsu tidak masalah tapi kenapa harus mengajak dua bersaudara Jung itu, Umma?”

“Joongie tidak mau pergi kalau mereka tidak ikut dengan kita.” jawab Ahra, “Jangan mengeluh Chunie! Bukankah kalian teman sekelas?”

“Hanya sebatas itu! Aku tidak menyukainya, sama sekali tidak.”

Wae?” Ahra menatap lembut putra sulungnya.

“Karena sejak Joongie berhubungan dengan si Jung Yunho itu, dia melupakan kakaknya!” ucap Yoochun.

Ahra tersenyum, “Kau cemburu ne? Adikmu yang dulu selalu manja dan bergantung padamu sekarang sudah menemukan orang lain sebagai sandarannya. Bukankah begitu?”

Ani. Aku tidak cemburu pada si Jung itu Umma. Aku hanya kesal saja!” jawab Yoochun yang langsung menolehkan wajahnya ke arah kanan, enggan menatap wajah tersenyum ibunya.

“Bukankah itu sama saja?”

Ani. Berbeda.”

Ahra hanya tersenyum simpul, “Chunie, bisa kau panggilkan Junsu, Yunho dan adiknya kemari? Umma ingin bicara sesuatu dengan mereka.”

“Bicara apa Umma?”

“Sesuatu yang pasti akan terdengar sangat membosankan untukmu.” jawab Ahra, “Panggilkan mereka dan berikan ini pada Appamu!” Diberikannya termos berukuran sedang yang menyimpan es kopi pada Yoochun. Ahra masih ingat betul bahwa mantan suaminya itu sangat menyukai es kopi.

“Liburan ini kurang menyenangkan.” keluh Yoochun yang tetap berjalan menenteng termos dingin itu.

Ahra mengakui dirinya bukan orang baik, namun Ahra sangat mencintai keluarganya, Ahra sangat mencintai anak-anaknya bahkan Ahra pernah sangat mencintai Jihan yang merupakan ayah dari anak-anaknya. Cinta Ahra terlalu tulus dan dalam pada keluarganya untuk ternoda dendam masa lalu yang sudah ratusan tahun menyiksanya. Ahra ingin mengakhiri semuanya, Ahra akan mengalah dan menekan perasaan marahnya demi kebahagiaan orang-orang yang sangat dikasihinya.

❤ <<<<<❤ >>>>>❤

“Apa maumu?” Yunho menatap tajam Ahra dan Junsu yang duduk tenang di hadapannya dengan wajah sok polos mereka –menurut Yunho.

Berbeda dengan Yunho, Changmin justru menatap bingung Ahra dan Junsu. Berkali-kali pemuda jangkung yang sedang mengunyah kue coklat itu menatap Junsu dan Ahra secara bergantian.

Sejenak Ahra menatap mantan suami dan kedua anaknya yang sedang berteriak-teriak kegirangan karena ikan hasil tangkapan mereka sangat besar sebelum beralih menatap Yunho dan Changmin dengan wajah seriusnya. “Aku bisa mencabut kutukan kalian. Kalian bisa menjadi manusia normal lagi.”

Brruuuuuuuussshhhhhhh!

Bila Changmin memuncratkan kue coklat yang nyaris ditelannya, Yunho hanya melotot tidak percaya sedangkan Junsu mulai gelisah menunggu ucapan Ahra selanjutnya.

“Hanya saja ada konsekuensi yang harus ku tanggung bila kutukan itu ku cabut dari kalian.” Ahra menatap Yunho, Changmin dan Junsu bergantian dengan wajah tenang namun penuh keseriusan.

“Apa? Apa?!” tanya Changmin tidak sabar. Beratus tahun dirinya menyelidiki cara agar bisa menjadi manusia normal tanpa terikat lagi dengan minuman kental merah –darah yang menurutnya kini beraroma busuk.

“Kau akan mati bila mencabut kutukan kami?” tanya Yunho dengan suara datar namun matanya seolah-olah melihat sesuatu yang mengerikan.

Junsu memalingkan wajahnya, matanya mulai nanar.

“Tidak.” jawab Ahra. “Aku hanya akan menua, lebih cepat dari yang kalian duga.”

“Tunggu! Jelaskan lebih rinci padaku agar aku tidak gila karena penasaran!” ucap Changmin tidak sabar.

“Aku memang akan mati –sedikit lebih cepat daripada kalian seandainya aku mencabut kutukanku dari kalian. Hanya saja aku tidak akan langsung mati, aku akan menua, berubah menjadi orang yang sangat tua sebelum akhirnya aku mati.” Ahra mulai menjelaskan, “Kalau kalian benar-benar ingin menjadi manusia biasa aku bisa melakukan hal itu untuk kalian. Tapi aku juga minta imbalan dari kalian.”

“Apa?” tanya Yunho dengan ekspresi sangat datar, tidak mau tertipu lagi dengan kata-kata berbisa perempuan yang dulu sekali pernah sangat dekat dengannya.

“Rekayasa kematianku.” jawab Ahra.

Nonna!” Junsu memekik.

“Yang Yihan Oppa, Chunie dan Joongie tahu minggu depan aku akan kembali ke Amerika. Aku ingin kalian merekayasa kematianku sementara aku sendiri sembunyi dari mereka di tempat salah seorang dari kalian.”

Yunho dan Changmin saling melirik.

“Kalian bisa membuat taksi yang ku tumpangi kecelakaan atau terjun ke jurang. Lakukan apa saja untuk melenyapkan jejak Go Ahra dari dunia ini. Setelah itu, akan ku cabut kutukanku atas kalian.”

“Kenapa kami harus percaya padamu?” tanya Yunho dingin, “Kenapa kau tidak mencabut kutukan kami dulu sebelum menjalankan rencana gilamu itu?!”

“Karena rencana gilaku itu hanya akan bisa terlaksana jika kalian bukan manusia biasa. Dibutuhkan kecepatan tinggi dan tenaga yang sangat kuat untuk melakukannya.” Ahra menatap Yunho, “Kalau kau keberatan kau tidak harus melakukannya. Tetapi aku tidak menjamin kau bisa terus bersama Jaejoongieku dalam sosokmu yang sekarang –peminum darah.”

Yunho mendesis, menunjukkan taringnya yang runcing.

Ahra memasang senyumnya ketika melihat Jaejoong tersenyum riang sambil menenteng ikan besar hasil pancingannya sedang berjalan ke arahnya, “Pikirkan baik-baik!” ucap Ahra pada Yunho, Changmin dan Junsu. “Ikan tangkapanmu besar sekali, Chagy.” puji Ahra.

“Joongie mengalahkan Appa dan Chunie, Umma.” ucap Jaejoong bangga. “Joongie mau dibuatkan sup ikan dari ikan hasil tangkapan Joongie ini.” dengan penuh semangat Jaejoong menyerahkan ikan hasil tangkapannya pada Ahra.

Umma akan membersihkan ikan ini dulu. Mintalah Yunho menemanimu membuat bumbu dan api untuk memasak.”

Jaejoong mengangguk pelan.

“Aku akan membantumu NooAhjuma.” Junsu segera bangun dari duduknya dan berjalan tergesa menyusul Ahra yang sudah berjalan beberapa langkah mendahuluinya.

“Aku bisa menyiapkan piring sajinya.” Changmin meringis.

“Piring saji? Ikannya bahkan belum dimasak.” Jaejoong menimpali. Mutiara rusa betinanya yang sangat bening lagi indah itu menatap Yunho seolah-olah meminta penjelasan apa yang sebenarnya tengah mereka bicarakan dengan ibunya sebelum dirinya datang ‘mengganggu’ diskusi singkat mereka.

“Tidak apa-apa, Boo.” ucap Yunho yang mengerti arti tatapan namja chingunya. “Ibumu hanya berpesan padaku untuk menjagamu jika dia sudah kembali ke Amerika nanti. Ibumu juga meminta Junsu untuk tetap menjadi sahabat baik Yoochun serta mengingatkan Changmin agar tidak selalu merengek meminta makan padamu.” sedikit berbohong namun Yunho yakin kekasih cantiknya itu akan percaya pada apa yang diucapkannya.

Jaejoong mengerucutkan bibirnya kesal namun tetap mempercayai apa yang dikatakan oleh Yunho.

“Kau lelah? Mau istirahat?” tanya Yunho.

Jaejoong tersenyum selagi menggelengkan kepalanya pelan, “Sebenarnya aku dan Chunie berharap Umma dan Appa bisa rujuk kembali. Tapi sepertinya hal itu tidak akan pernah terjadi mengingat Umma sangat mencintai kariernya di Amerika.”

Yunho menarik Jaejoong kedalam pelukannya, “Tidak semua hal yang kau lihat itu adalah sebuah kenyataan, Boo. Siapa yang bilang ibumu tidak mencintaimu dan Yoochun? Dari caranya bicara padaku, Junsu dan Changmin tadi menandakan bahwa sebenarnya dia sangat mencintai kau, Yoochun dan ayah kalian. Hanya saja mungkin ibumu tidak bisa mengekspresikan rasa cintanya dengan baik.”

“Begitukah?”

“Tentu saja.”

“Tapi rasanya tetap menyedihkan Yunie….”

“Aku mengerti, Boo. Mungkin memang berat tapi kau akan terbiasa nantinya.” ucap Yunho, “Hei, jangan murung begitu! Bukankah kita datang ke tempat ini untuk bersenang-senang?”

Jaejoong mengangguk penuh semangat, “Hari ini akan ku tendang perasaan sedih itu! Akan ku nikmati hari ini dan hari-hari berikutnya sampai hari keberangkatan Umma.” ucapnya penuh semangat.

Sedikit bersalah karena sudah berbohong pada Jaejoong namun Yunho tidak urung tersenyum juga. Yunho memang tidak tahu alasan dibalik rencana gila Ahra itu. Namun jika yang menjadi alasan kegilaan Ahra adalah Jaejoong dan Yoochun, maka Yunho bisa sedikit memahaminya.

“Cinta itu terkadang mengerikan.” gumam Yunho yang diyakininya bisa didengar baik oleh Changmin, Junsu dan Ahra.

❤ <<<<<❤ >>>>>❤

❤ <<<<<❤ >>>>>❤

❤ <<<<<❤ >>>>>❤

TBC

❤ <<<<<❤ >>>>>❤

❤ <<<<<❤ >>>>>❤

❤ <<<<<❤ >>>>>❤

Mian lama postnya, mian juga belum bisa membalas komentar di chap sebelumnya. Yuuki agak bingung bagi waktunya. Ngetik pun sudah susah waktunya.

Jaga kesehatan ya.

.

.

.

.

.

Tuesday, March 31, 2015

2:29:24 PM

NaraYuuki

6 thoughts on “Revenge XI

  1. rencana gila memang, tp kl itu bisa membat semua dendam itu sirna dan berganti dg kebahagiaan apa salah’a??
    lg pula ratusan tahun it bukan waktu yg sebentar untuk trs memendam dendam,,
    sudah waktu’a untuk mreka meraih kebahagiaan walau harga yg hrs dibayar cukup mahal..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s