Suprasegmental IV


Tittle                : Suprasegmental IV

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance/ Adventure/ fantasy kerajaan/ Incest

Rate                 : -M

Cast                 : Member DBSK (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan).

Disclaimer:       : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love). M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

.

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

EPEP INI KHUSUS BUAT EMAK IFA DAN PARA KUTIL TERSAYANG YUUKI😀

.

.

Suprasegmental untuk para kutil

.

.

“Ju… Junsu sshi, lakukan sesuatu pada adikmu! Kenapa dia tiba-tiba mengamuk dan menghancurkan kedaiku?!” dengan penuh kepanikan pemilik kedai yang sudah separuh baya itu meminta pada Junsu. Melihat kedai kecilnya hancur karena perkelahian antara ‘sepupu’ Junsu dengan seorang preman yang sering membuat masalah di desa kecil Rotten.

Junsu tesenyum, “Ahjushi tenang saja, semua kerugian yang Ahjushi tanggung hari ini karena perkelahian adikku akan ku ganti penuh!” ucapnya.

Pemilik kedai itu melirik Junsu tidak percaya.

Brak!

Jaejoong berhasil menendang perut lawannya hingga jatuh tersungkur di lantai, wajahnya memar, darah mengucur deras dari lubang hidungnya. Tanpa belas kasihan Jaejoong menginjak dada lawannya sampai terbatuk berdarah, mencondongkkan tubuhnya dan menatap lawannya yang sudah babak belur itu dengan tatapan serius.

“Katakan!” perintahnya, “Katakan apa yang kau dan teman-temanmu sembunyikan! Aku tahu kau bukan hanya bandit brengsek yang suk berbuat onar!”

Namja yang sudah babak belur itu hanya menatapa nyalang pada Jaejoong tanpa gentar.

Jaejoong semakin keras menginjak dada lawannya, pemuda menawan yang kini menjabat sebagai hakim Bollero itu meraih pedangnya, membuka sedikit sarung pedangnya dan memperlihatkan betapa tajamnya mata pedang indah itu, “Aku bisa memenggalmu sekarang juga bila kau tidak mau bicara.” Jaejoong tersenyum sangat manis.

Ada sorot ketakutan yang terlihat dari bola mata bengis sang bandit.

“Nah, Tae Jo sshi… kau mau bekerja sama atau berakhir menjadi bangkai busuk? Pilihan ada ditanganmu! Dan kau tahu? Aku tidak bisa menunggu terlalu lama!”

“Tu… Tuan Lee Hongman memintaku untuk tutup mulut!” dengan suara bergetar Tae Jo berujar.

“Sekarang siapa yang lebih kau takuti? Pedangku atau Lee Hongman?” tanya Jaejoong tanpa meninggalka senyum menawan yang menghiasi wajah cantiknya, “Ku beritahu sebuah rahasia kecil padamu….”

Tae Jo menelan ludahnya sendiri ketika wajah Jaejoong semakin condong pada wajahnya untuk membisikkan sesuatu ke telinga kanannya.

“Kalaupun kau tidak mau membuka mulut dan terpaksa harus mati ditanganku. Pedang ini pun mampu memenggal Lee Hongman dan antek-anteknya dengan mudah karena aku… Aku adalah malaikat pencabut nyawa orang-orang yang jahat!” Jaejoong kembali tersenyum ketika menjauhkan wajahnya dari wajah Tae Jo, mengamati sesaat wajah pucat pasi sang bandit sebelum berujar, “Sekarang pilih atau kau akan mati detik ini juga!” dengan mata berkilat marah dan suara sedikit membentak Jaejoong kembali memaksa Tae Jo.

“A… akan ku katakan!” ucap Tae Jo buru-buru dengan suara bergetar, “Akan ku katakan apa yang ku ketahui tentang tuan Lee Hongman, asalkan kau mengatakan siapa kau sebenarnya.”

Jaejoong masih memasang wajah tersenyumnya, “Tentu akan ku katakan padamu, setelah masalah tentang Lee Hongman selesai. Akan ku katakan apa saja yang ingin kau ketahui tentangku. Tapi untuk sekarang, mari kita dengarkan apa saja informasi yang kau tahu soal Lee Hongman, sang menantu wali kota Bollero.” Jaejoong mengulurkan tangannya pada Tae Jo dan membantu namja yang sudah babak belur itu untuk bangun, “Maaf. Aku tidak punya banyak waktu, jadi bisakah kita bicara sambil berjalan menuju gudang yang kau bicarakan dengan penduduk desa tadi?”

Agak ragu namun Tae Jo tetap menganggukkan kepala juga.

“Tahanlah sebentar sakitmu! Begitu masalah di desa ini selesai, kau akan ku bawa ke ibu kota untuk berobat. Jangan khawatir, aku yang akan menanggung biaya pengobatanmu asal kau mau bekerja sama denganku.” Ucap Jaejoong yang berjalan beriringan dengan Tae Jo menuju arah Junsu yang tersenyum lebar pada mereka –pada Jaejoong lebih tepatnya.

“Sepertinya kau dan sepupumu itu bukan orang biasa. Kalian pasti berasal dari keluarga bangsawan juga.” Komentar Tae Jo yang berjalan sambil memegangi dadanya yang terasa nyeri.

Jaejoong hanya tersenyum, namja cantik itu membungkuk dalam-dalam pada pemilik kedai, “Ahjushijeongmal mianhae karena sudah menghancurkan kedai Ahjushi. Aku terlalu bersemangat bermain dan menyapa teman lamaku.” Jaejoong tersenyum lebar dan menepuk-nepuk bahu Tae Jo yang tengah menatap ngeri sekaligus kaget pada dirinya.

Paman pemilik kedai itu hanya menatap Jaejoong, Tae Jo dan Junsu secara bergantian dengan wajah bingung dan cemasnya tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pun.

Junsu meraih tangan kanan sang pemilik kedai, meletakkan sebuah kantung kecil berwarna merah hati di atas telapak tangan sang pemilik kedai, “Jumlahnya seratus keping koin emas. Bukankan ini lebih dari cukup untuk mengganti semua kerugian yang ditimbulkan oleh sepupuku, Ahjushi?” tanya Junsu.

“Haaah?!” Ahjushi itu menatap Junsu dan Jaejoong bergantian sebelum menatap kantung emas di tangannya lama-lama.

Kajja Hyung! Kita tidak punya banyak waktu!” ucap Jaejoong yang langsung berjalan menuju pintu keluar diikuti Tae Jo kemudian Junsu dan para prajurit pengawal yang sudah menunggu mereka di luar kedai. “Jadi… dimana keberadaan gudang yang kau maksud tadi Tae Jo sshi?” tanya Jaejoong.

“Di… di pinggir sungai, gubug yang berada di ujung utara desa ini!” ucap Tae Joo yang terus melirik ke arah Junsu dan para prajurit yang berjalan di sekelilingnya dengan tatapan takut bercampur waspada.

“Ada apa di sana?” tanya Junsu yang hanya mendapatkan lirikan sebal dari Tae Jo, “Yah! Jawab aku!” perintahnya.

“Tae Jo sshi, jawablah pertanyaan sepupuku!! Ada apa di sana?”

Tae Jo melirik Jaejoong, menelan ludahnya susah payah. “Di sana… Di sana tu… tuan Lee Hongman menyimpan informasi penting yang ingin dijualnya kepada pihak luar.” Ucapnya dengan suara sangat lirih.

Seketika Jaejoong berhenti melangkah, “Informasi penting yang ingin dijualnya kepada pihak luar?” gumamnya pelan. Di tatapnya Tae Jo dengan mutiara rusa betinanya yang sudah membulat sempurna, ada kemarahan didalam mata yang sangat Yunho kagumi itu.

Takut-takut Tae Jo mengangguk pelan, “Aku pernah melihat sebuah gambar di tempat itu….” ucapnya.

“Gambar apa?” tanya Jaejoong yang tidak sabar, berbeda sekali dengan sikap tenangnya tadi.

“Mirip peta, tetapi kata salah seorang temanku yang menjaga tempat itu gambar itu adalah gambar benteng pertahanan negara yang berada disisi paling luar.” Ucap Tae Jo.

MWO?!” pekik Junsu, “Brengsek! Tua bangka brengsek itu berencana ump…!”

Jaejoong membekap mulut Junsu, “Kalau begitu cepat antarkan kami ke sana!” pinta Jaejoong.

Tae Jo mengangguk cepat-cepat kemudian kembali berjalan dimuka sebagai penunjuk arah.

❤ <<<<<❤ <<<<<❤

Sebuah bangunan –lebih tepatnya gubuk yang nyaris ambruk− itu berdiri sekitar seratus meter di hadapan Jaejoong beserta orang-orang yang menyertainya, bangunan itu terpisah dari bangunan rumah-rumah penduduk lainnya seolah-olah bangunan itu memang sengaja dibangun terpisah agar orang lain tidak tahu apa fungsi bangunan itu.

“Kenapa hanya sebuah gudang yang nyaris ambruk  perlu penjagaan ketat seperti itu?” tanya Junsu lebih kepada dirinya sendiri.

“Karena didalamnya ada rahasia negara yang sangat penting.” Jaejoong menatap nyalang ke sepuluh penjaga yang berlalu-lalang di sekitar gubuk kecil yang hanya berukuran sepuluh meter itu. “Tae Jo sshi, apakah hanya mereka saja? Atau di dalam gubug itu masih ada lagi?”

“Setahuku hanya ada mereka saja.” Jawab Tae Jo, “Tidak ada penduduk yang berani mendekat karena mereka menyebarkan kabar bahwa di gubuk itu sering terjadi pertemuan antara para penjahat yang tinggal di Bollero.”

“Tentu saja para penduduk tidak akan berani mendekat bila mendengar kabar seperti itu.” komentar Junsu.

Jaejoong mengenggam erat-erat gagang pedangnya, berharap Yunho ada di sini bersamanya untuk membantunya. Tetapi Jaejoong pun merasa bahwa dirinya tidak boleh cengeng. Dirinya harus terus maju berjuang dan berusaha semampunya walaupun Yunho tidak berada disampingnya sekarang. Keadilan harus ditegakkan!

Jaejoong berbalik menatap wajah prajurit yang mengawalnya satu persatu dengan raut muka serius sebelum tersenyum pada mereka, “Kalian berjalanlah memutar! Kita akan menyerang dengan taktik kejutan. Biar aku, Junsu hyung dan Tae Jo sshi yang menjadi umpan sementara kalian yang menjadi eksekutornya.” Ucap Jaejoong, “Bagi yang memegang busur dan anak panah tolong tingkatkan kewaspadaan kalian untuk menjamin nyawa Tae Jo sshi! Bagaimanapun juga Tae Jo sshi tetaplah warga sipil yang tidak ada sangkut-pautnya dengan misi kita ini. Mengerti?”

Ye!” jawab para prajurit dengan suara pelan karena tidak ingin menarik perhatian warga maupun para penjaga gubuk di depan sana.

“Sekarang!” ucap Jaejoong yang dijawab oleh para prajurit pengawalnya dengan melakukan tindakan berpencar, mengendap-endap dan menyebar kesisi kanan dan kiri menuju pinggiran dibalik rerimbunan pepohonan yang tumbuh menjulang tinggi di pinggiran sungai dan pinggiran desa.

Jaejoong melirik dan menatap Tae Jo sesaat.

Wae?” tanya Tae Jo yang wajahnya dipenuhi lebam kebiru-biruan, beberapa lukanya masih mengeluarkan bercak darah.

Mian Tae Jo sshi karena telah melibatkanmu. Tapi tenanglah karena aku menjamin keselamatanmu!” ucap Jaejoong. “Mari, kita segera akhiri misi kita ini Junsu Hyung!”

Ne!” sahut Junsu.

❤ <<<<<❤ <<<<<❤

Yah! Berhenti di sana!”

“Siapa kalian?! Berhenti!”

“Apa mau kalian? Jangan mendekat kemari!”

Kalimat lantang dengan intonasi keras dan tidak bersahabat dilontarkan oleh beberapa penjaga gubug yang mendapati Jaejoong, Junsu dan Tae Jo berjalan mendekat ke arah gubug. Beberapa diantaranya bahkan sudah mencaput pedang tajam mereka dari sarungnya, membuat Jaejoong terpaksa menarik Tae Jo untuk berada di belakang punggungnya.

“Pakai ini untuk mempertahankan dirimu!” Junsu melempar sebilah belati pada Tae Jo.

Tlang!

Jaejoong menangkis pedang yang diayunkan pada dirinya dengan pedang miliknya yang masih tersarung! Tanpa aba-aba, cucu Hakim agung itu segera menendang perut orang yang sudah mengayunkan pedang padanya hingga jatuh tersungkur dan muntah darah.

“Walaupun aku terlihat lemah, tapi bahkan Appa mengakui kalau tenagaku jauh lebih kuat daripada tenaga Yunho.” Gumam Jaejoong. Begitu melihat dua orang lainnya menyongsong dirinya dengan pedang teracung, keponakan keayangan raja itu segera menarik pedangnya keluar dari sarungnya, “Tae Jo sshi, berlindunglah ditempat yang aman!” ucapnya sebelum menangkis serangan.

Tidak jauh berbeda dengan Jaejoong, Junsu pun sedang berusaha menumbangkan para penjaga gubug yang mengepungnya, “Aish! Akan sangat membantu bila Chunie di sini!” gerutunya yang langsung menebas salah satu penjaga yang hendak menikamnya dari samping kanan.

Slash!

Jleb!

Jleb!

Panah-panah yang dilesatkan oleh prajurit penjaga yang tadi berjalan mengendap-endap diantara pepohonan yang berada di sisi sungai berhasil mengenai 3 penjaga gubuk yang mengepung Junsu.

Gomawo.” Teriak Junsu. Mata Junsu membulat tiba-tiba ketika melihat salah satu dari penjaga gubuk itu berrjalan mengendap-endap di belakang Jaejoong dengan pedang teraung siap menepas punggung hakim Bollero itu. Junsu ingin berteriak tetapi suaranya tercekat, kakinya lunglai hingga dirinya terjatuh. Junsu membatu ketika melihat pedang panjang lagi tajam itu mengayun untuk menyayat punggung Jaejoong.

Jleb!

Air mata mengalir begitu saja dari mata kanan Junsu.

Jaejoong menoleh ke belakang, membiarkan prajurit penjaganya mengambil alih tugasnya untuk melumpuhkan para penjaga gubug yang tersisa. Tentu saja mereka tidak dibunuh karena mereka masih harus ditanyai sebelum menentukan hukuman apa yang pantas untuk mereka.

“Tae Jo… sshi?” tanya Jaejoong ketika melihat tangan Tae Jo gemetaran, belati yang diberikan oleh Junsu pada Tae Joong sudah menancap dan menembus dada kiri salah seorang penjaga gubuk yang tadinya hendak menikam Jaejoong dari belakang.

“A… apa aku membunuhnya?” tanya Tae Jo dengan suara gagap, meskipun dianggap sebagai seorang bandit, perampok ataupun penjahat tetapi Tae Jo belum pernah membuhun orang sampai sekarang.

Jaejoong tersenyum, “Kau tidak membunuhnya. Kau hanya memberikan kesempatan padaku untuk hidup lebih lama.” Ucap Jaejoong.

Bruk!

Jaejoong nyaris terjengkang ketika Junsu menubruk dan memeluknya dari samping, “Aku hampir mati melihat pedang mengerikan itu hendak menyayatmu.” Ucapnya dengan wajah pucat pasinya, “Bila terjadi sesuatu padamu aku tidak akan berani menunjukkan wajahku pada Kepala polisi Jung lagi!”

Jaejoong hanya mengulum senyum, diusapnya bahu Junsu perlahan-lahan, “Kita mash dalam misi, Hyung. Mari kita masuk dan mengambil apa yang bisa kita jadikan bukti di dalam gubuk!” ajaknya.

❤ <<<<<❤ <<<<<❤

Usai mengamankan barang bukti yang berada di dalam gubug, Jaejoong memerintahkan untuk merobohkan gubuk reot itu. Hal tersebut tentu saja membuat penduduk desa Rotten yang melihatnya bertanya-tanya apa sebenarnya yang dilakukan oleh Jaejoong dan orang-orangnya? Siapa sebenarnya Jaejoong dan para pengikutnya? Kenapa Jaejoong dan pengikutnya mengingat ke-9 penjaga gubug yang sebelumnya sangat ditakuti oleh penduduk? Mengapa salah satu penjaga gubuk itu ada yang mati? Sehingga mau tidak mau akhirnya Jaejoong mengatakan siapa sebenarnya dirinya pada para penduduk desa Rotten.

“Aku adalah Hakim baru provinsi Bollero yang diutus untuk memberantas semua penjahat yang meresahkan warga. Dan karena para penjaga gubug itu menghalangi kami menjalankan tugas sehingga kami terpaksa menindak tegas mereka.” Jaejoong tersenyum ketika mendengar pujian yang diperuntukkan untuknya sang hakim muda dari para penduduk, “Sekarang tidak ada lagi yang akan mengacau di sini. Kalaupun ada penduduk atau orang asing yang bersikap mencurigakan, silahkan katakan padaku maka aku akan segera menindak tegas mereka!”

Jaejoong kemudian meminta bantuan penduduk untuk menguburkan jasad salah seorang penjaga gubug yang mati dengan pemakaman yang layak sebelum pamit pergi dan meminta maaf untuk semua kekacauan yang sudah dirinya timbulkan selama berada di desa indah itu. Bahkan Jaejoong mendapatkan bekal gratis dari ahjushi pemilik kedai yang kedainya nyaris hancur akibat perkelahiannya dengan Tae Jo beberapa saat sebelumnya.

Ditengah gerimis, Jaejoong kembali harus berhadapan dengan medan hutan yang licin dan susah untuk sampai ke kediamannya di pusat kota Bollero. Kali ini Jaejoong tidak hanya ditemani oleh Junsu dan para prajurit pengawalnya saja. Jaejoong pun ditemani oleh kesembilan tawanan penjahat dan Tae Jo yang ingin ikut dengannya.

“Yun… aku berhasil menyelesaikan tugasku dengan baik walau ada yang menjadi korban. Apa kau baik-baik saja?” batin Jaejoong. Mutiara rusa betinanya yang indah lagi legam yang menatap jejeran batang pohon yang kisut dan basah akibat gerimis itu memburam sebelum kegelapan sempurna menyergapnya. Jaejoong pingsan ditengah hujan yang dihujani gerimis dari langit, membuat Junsu, Tae Jo dan para prajurit penjaganya sedikit panik.

❤ <<<<<❤ <<<<<❤

Mengendap-endap Yunho mempimpin beberapa orang anak buahnya menyelinap memasuki sebuah gudang yang berada di pinggir hutan dekat perbatasan dengan provinsi Chaser, provinsi yang terisolasi yang biasanya digunakan sebagai pengasingan bagi para tahanan negara mengingat provinsi itu masih dipenuhi oleh banyak tumbuhan beracun dan binatang liar yang berkeliaran.

“Apa yang berada dalam peti-peti itu?” gumam Yunho, “Apa mereka mencoba menyelendupkan sesuatu yang merugikan negara?”

“Kepala Polisi Jung….” bisik salah seorang prajurit ketika melihat beberapa orang berjalan ke arah mereka.

“Kita sudah sampai sejauh ini. Bila kita sampai ketahuan sedang menyelidiki mereka, maka kita harus membungkam mereka semua.” Ucap Yunho, “Bila kita tidak bisa melumpuhkan mereka secara baik-baik, ku bebaskan kalian untuk membunuh mereka ditempat! Jangan ada seorang pun yang lolos atau semua usaha kita akan sia-sia!”

Ye!” sahut kesemua prajurit yang mendampingi Yunho.

“Ingat pesanku, jangan sampai mati!” ucap Yunho. Tangan kanannya sudah mencengkeram kuat-kuat gagang pedang yang kemarin diasahnya. “Boo, bila aku mati dalam misi ini ku harap kau bisa bahagia dan tegar menjalani sisa hidupmu!” batinnya.

“Hoi! Siapa di sana!” teriak salah seorang dari orang-orang yang berjalan dari arah gudang.

“Kalian berpencarlah!” bisik Yunho pada anggotanya, para anggota kepolisian itu segera berpencar dan mencari tempat persembunyian strategis untuk menyergap target mereka, menyisakan Yunho sendirian di sana di balik pohon yang berada di samping gudang.

Yah! Siapa di sana?!” sekali lagi suara bengis dan lantang itu terdengar.

Yunho mencengkeram erat gagang pedangnya, memang selama ini dirinya dibekali bela diri dari ahlinya tetapi saat-saat seperti ini tetap membuatnya merasa gugup. Menghela napas panjang, Yunho membayangkan wajat tersenyum Jaejoong yang selalu menampakkan semburat merah pada wajah cantiknya –walaupun kadang Jaejoong merajuk bila Yunho mengatakan dirinya cantik.

Boo, bila aku mati dalam misi ini tetaplah hidup untuk menegakkan keadilan yang selama ini kita junjung tinggi!” batin Yunho sebelum menunjukkan dirinya pada para penjaga gudang.

Yah! Siapa kau?!” bentak salah seorang penjaga.

Yunho tersenyum, mengeluarkan pedangnya dari sarung pedang kemudian berlari menerjang penjaga gudang itu, menendang perut, menyikut dada, menangkis pedang dengan pedang, Yunho melakukannya dengan sangat cepat dan gesit.

Suara pedang beradu, pekikan dan semua kegaduhan yang terjadi di samping gudang membuat para penjaga gudang yang semula tidak menyadari adanya penyusup akhirnya berbondong-bondong melihat apa yang sedang terjadi. Pada saat itulah beberapa anggota kepolisian menyusup masuk ke dalam gudang untuk melihat isi peti-peti yang mereka lihat awal tadi sesampainya mereka di tempat itu. Beberapa anggora polisi yang lain membantu Yunho bertarung melawan para [enjaga gudang.

“Kepala Polisi Jung, awas!”

Yunho menoleh, ketika sebuah belati terlempar padanya dan sempat menggores wajahnya, membuat sebuah luka pada bagian kulit bawah mata sebelah kirinya. Darah segar mengalir dari luka itu namun Yunho tidak memedulikannya, kepala polisi Bollero itu terus bertarung sampai akhirnya semua penjaga gudang itu berhasil dibekuk.

❤ <<<<<❤ <<<<<❤

“Kami menemukan, senjata dan obat-obatan ilegal yang kami duga didatangkan dari Tiongkok.” Ucap salah seorang anggota polisi pada Yunho yang sedang mengobati luka pada wajahnya.

“Apa mereka sudah mau bicara?” tanya Yunho yang menatap para penjaga gudang yang kini sudah terikat layaknya tawanan perang. Tidak ada korban jiwa dalam pertempuran tadi.

“Belum mau, mereka belum mau bicara.”

Yunho membuang kain yang digunakannya untuk membersihkan lukanya sebelum berdiri dari duduknya, “Kita bawa mereka ke kantor polisi dan penjarakan mereka. Dengan cara apapun buat mereka bicara!”

Ye!”

“Bawa juga peti-peti itu sebagai barang bukti!” perintah Yunho, “Boo… apa kau baik-baik saja? Kenapa rasanya perasaanku tidak tenang? Ku mohon kau baik-baik saja disana bersama Junsu.” Gumam Yunho.

❤ <<<<<❤ <<<<<❤

Menjelang tengah malam rombongan Yunho baru sampai di gedung kepolisian yang merangkap sebagai gedung kehakiman pula. Kedatangan Yunho langsung disambut oleh Yoochun dan Changmin.

“Wah, anda membawa banyak tawanan dan barang sitaan Kepala Polisi Jung.” Ucap Changmin. Matanya tidak bisa berpaling dari tawanan yang digiring menuju sel penjara dan beberapa peti yang diangkut menuju ruang kerja Yunho.

“Dimana Jaejoong?” tanya Yunho.

“Sore tadi Jaejoong sshi kembali dalam keadaan pingsan.” Jawab Yoochun.

Mwo?!” mata Yunho membulat.

“Tapi Junsu sudah memanggilkan tabib untuknya.” Kali ini Changmin yang berkomentar, “Jaejoong juga membawa tawanan dan bukti penting terkait kejahatan yang dilakukan oleh Lee Hongman.” Tambahnya.

Yunho mengangguk pelan.

“Aku akan menyiapkan kereta untuk mengantar anda pulang Kepala Polisi Jung.” Ucap Yoochun.

“Tidak perlu.” Ucap Yunho, “Cukup kuda saja. Kuda lebih cepat daripada kereta. Tolong siapkan kuda untukku.”

Ne.” Yoochun bergegas pergi menyiapkan kuda untuk Yunho.

“Aku tahu kau juga lelah, Changmin. Tapi tolong jaga tempat ini! Aku takut tempat ini diserbu begitu pihak bersalah tahu bahwa anak buah dan bukti kejahatannya berada ditangan kita.”

Ne.” Changmin mengangguk, “Em… Kepala polisi Jung….” panggilnya.

“Ya?” tanya Yunho.

Changmin tersenyum tulus, “Chukae….”

Yunho hanya mengangguk pelan. Ini adalah tugasnya sebagai penegak keadilan untuk menegakkan hukum sebenar-benarnya sehingga ucapan selamat yang Changmin berikan hanya dianggapnya sebagai pengingat bahwa selain persoalan ini masih ada kasus-kasus lain yang harus ditanganinnya selama bertugas di Bollero.

❤ <<<<<❤ <<<<<❤

Yunho membiarkan penjaga rumahnya mengurus kuda yang ditungganginya, berjalan tergesa melewati pendopo agar segera sampai di kamarnya –juga kamar Jaejoong. Yunho ingin segera tahu apa yang sebenarnya terjadi pada namja yang sangat dikasihinya itu sehingga Jaejoong pingsan dalam menjalankan tugasnya. Seingatnya sesulit apapun keadaan atau medan yang dilaluinya, Jaejoong tidak akan tumbang begitu mudah apalagi sampai pingsan.

Yunho sempat berhenti sesaat di depan pendopo begitu melihat seseorang yang tertidur dalam keadaan duduk bersandar pada tiang pendopo di samping Junsu. Yunho belum pernah melihat orang itu. Orang itu jelas bukan anggota kepolisiannya ataupun bawahan Jaejoong.

“Namanya Tae Joo sshi. Dia bandit yang membantuku menguak rahasia yang tersimpan di desa Rotten.”

Boo?!” Yunho segera berlari dan memeluk Jaejoong yang berjalan ke arahnya. “Kau tidak apa-apa?” tanyanya.

Jaejoong melepaskan pelukan Yunho, “Kau tidak baik-baik saja.” Diusapnya permukaan kulit wajah Yunho yang berada di bawah mata kirinya, “Kau terluka….”

Yunho meraih jemari lentik Jaejoong dan menciuminya, “Aku tidak apa-apa. Hanya luka kecil.” Ucapnya sambil tersenyum.

“Kau terlihat lelah. Mandi dan segeralah istirahat, aku akan meminta pelayan memanaskan makanan untukmu.”

Yunho mencekal pergelangan tangan Jaejoong pelan. “Kau pingsan?”

Gwaechana.”

Boo….” Yunho menatap mata bulat indah itu dalam-dalam, “Katakan… kenapa kau pingsan? Apa kau kelelahan? Apa tugasnya terlalu berat? Apa….”

“Ada anakmu di dalam sini!” Jaejoong menarik tangan Yunho dan meletakkannya di atas permukaan perut ratanya. “Jangan tanya apa-apa lagi karena aku pun juga bingung mendengar penjelasan tabib tadi sore.”

Boo….”

“Mandilah dulu! Aku akan meminta pelayan menyiapkan makanan untukmu. Kita akan bicara saat kau makan nanti.” ucap Jaejoong yang baru berjalan menuju bangunan dapur perlahan-lahan, meninggalkan Yunho yang masih membatu di tempatnya.

“Anak? Anakku?” gumam Yunho. Ada binar kebahagiaan yang terlihat dalam bola matanya, senyum terkembang pada wajah tampannya ketika melihat punggung Jaejoong yang berjalan menjauhinya. “Terkutuklah aku! Appa, Hakim Kim… maafkan aku. Aku tahu dosaku tidak terampuni. Tapi sungguh…. Aku sangat mencintainya. Yang Mulia Raja… ku mohon bantu aku….”

❤ <<<<<❤ <<<<<❤

Brak!

Meja kayu itu dipukul kuat-kuat oleh pemiliknya hingga cangkir teh yang berada di atasnya bergetar dan tumpah.

“Jung Yunho, Kim Jaejoong…. Kalian harus mati karena sudah menghalangi jalanku!”

❤ <<<<<❤ <<<<<❤

❤ <<<<<❤ <<<<<❤

❤ <<<<<❤ <<<<<❤

❤ <<<<<❤ <<<<<❤

❤ <<<<<❤ <<<<<❤

TBC

.

.

Mian ne kalau banyak Miss Ty, Yuuki belum sempat edit. Lagi naik turun kondisinya soalnya. But it’s okay, ini bentuk tanggung jawab Yuuki… tapi mian belum sempat balas feedback di Chap kemarin. New Reader selamat datang, selamat membaca tulisan Yuuki yang tidak seberapa ini. Tolong jangan merusuh di rumah orang ya🙂 Hargai reader lain juga😀 Terima kasih❤

Gomawo yang sudah baca🙂 Jaga kesehatan ya🙂

.

.

Tuesday, November 25, 2014

10:35:59 AM

NaraYuuki

15 thoughts on “Suprasegmental IV

  1. jae hamil hihihihi chukae yunjae
    gak nyangka saat yg berat seperti ini jae bisa juga hamil hehehe
    semoga masalah selanjutany gak sesulit yg dibayangkan

    yuuki jjang
    jaga kesehatan
    aku menunggu lanjutannya!!!!!!!!!

  2. Kyaaaaa…… umma hamil senengnya
    ><

    tapi umma dalam bahaya ini ,,siapa nih yang mau balas dendam ,,semoga appa sama kakek umma ngrestuin yunjae yah ,,,

  3. . akhirnya update juga >_<
    . q pikir epep ni g bakal m-preg(mengingat jamannya) t'xata… chukkae yunppa dpt kebahagiaan plus masalah… :3
    . ditunggu updatenya… ^_^

  4. lama bgt akhirnya ff ni dilanjutt.. thanks yuuki
    jae hamil pasti makin bkn yunho khawatir
    bkin momen yun ngelindungin jae ya hhehe
    smg lanjutanny bs cepet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s