Suprasegmental III


Tittle                : Suprasegmental III

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance/ Adventure/ fantasy kerajaan/ Incest

Rate                 : -M

Cast                 : Member DBSK (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan).

Disclaimer:       : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love). M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

.

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

EPEP INI KHUSUS BUAT EMAK IFA DAN PARA KUTIL TERSAYANG YUUKI😀

.

.

Suprasegmental untuk para kutil

.

.

Setelah menunggu selama satu bulan lamanya, kemarin surat balasan dari Yang Mulia Raja beserta bala bantuan yakni berupa 10 orang prajurit pilihan –prajurit rahasia yang berada dibawah perintah langsung Yang Mulia Raja akhirnya datang. Ke-10 prajurit itu kini tenaganya dipinjamkan pada Jaejoong. Selain surat balasan atas pengaduan Jaejoong dan para prajurit yang dimintanya, Jaejoong pun mendapatkan sebuah surat pribadi langsung dari Yang Mulia Raja.

“Apa isinya?” tanya Yunho yang sedang mengasah pedangnya dan pedang Jaejoong senja itu di pendopo ditemani gerimis tipis yang membuat udara disekitar mereka terasa lembab dan sedikit dingin.

Jaejoong meletakkan lembar surat itu di hadapan Yunho. “Permintaan maaf karena Tun Putri kabur dengan pria lain. Yang Mulia Raja berjanji akan menghukum mereka bila mereka berhasil ditemukan.” Jawab Jaejoong, “Prajurit pilihan Raja sudah berhasil melacak keberadaan mereka. Ku harap mereka bisa kabur ke Negara tetangga dan tidak usah kembali kemari selamanya.”

Yunho tersenyum, “Kenapa?”

“Kita berdua tahu tabiat Yang Mulia Raja dengan baik. Beliau hendak menghukum pancung Putri dan kekasihnya bila mereka tertangkap, Raja selalu memegang kata-kata yang terlontar dari mulutnya. Walaupun putrinya sendiri beliau pasti akan tetap menjatuhkan hukuman pancung itu. Karenanya aku berharap Tuan Putri dan kekasihnya tidak tertangkap. Mereka berhak bahagia karena mereka saling mencintai walaupun terlihat aku yang menjadi korban disini tetapi pada kenyataannya aku bukanlah korban karena sejak awal aku memang tidak menginginkan pernikahan itu.” Jaejoong menyerahkan sebuah amplop pada Yunho.

“Apa itu?” Yunho meletakkan pedang dan kain yang digunakan untuk mengelap pedang indah itu pada sisi kiri tubuhnya sebelum mengambil amplop dari tangan Jaejoong.

“Ketua prajurit kiriman Raja mengatakan bahwa surat itu berasal dari Putra Mahkota yang ditujukan untukmu.” Ucap Jaejoong, “Aku tahu kau memang berteman baik dengan putra mahkota, tetapi aku tidak menyangka kalian saling mengirim surat tanpa sepengetahuanku.”

“Kami mendiskusikan sesuatu tentu saja.” Yunho membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya.

“Apa yang kalian diskusikan?” tanya Jaejoong.

Yunho tersenyum menggoda pada Jaejoong, “Cara membawamu kawin lari salah satunya.”

“Jung Yunho!”

“Tentu aku masih memikirkan hal itu, Boo.” Yunho mulai membaca surat yang diperuntukkan untuknya itu dengan teliti.

.

Hoi Jung Yunho! Beraninya kau…

Aku tidak akan peduli bila namja yang kau kencani dan menjadi obsesimu itu adalah orang lain, tetapi… beraninya kau! Kim Jaejoong adalah keponakanku! Kau brengsek! Ingatkan aku untuk menghajarmu bila kita bertemu nanti.

Perihal bantuan yang kau minta, untuk saat ini aku belum bisa memberikannya padamu mengingat kemarahan ayahku karena adikku kabur bersama pemuda dari kalangan rakyat jelata. Aku tahu kau pasti bahagia karena Jae tidak harus menikah dengan adikku. Tetapi kau bisa memegang janjiku bahwa ketika emosi ayahku mulai turun, aku akan mengutarakan permohonan bantuanmu. Aku sendiri yang akan menjamin keselamatanmu dan Jaejae manisku. Jadi jangan khawatir! Jagalah dirimu sendiri dan Jaejaeku, aku perintahkan hal itu padamu!

Aku akan membagi sedikit kabar bahagia untukmu, Jung pabo yang selalu berpikir untuk membawa keponakanku kawin lari. Uri Youngsaeng tengah mengandung 2 bulan. Aku berharap kau tidak menghamili uri Jaejae sebelum status hubungan kalian jelas.

Sahabatmu, Kim Hyunjoong.

.

“Bahkan Youngsaeng hyung hanya seorang simpanan. Bagaimana bisa Putra Mahkota setenang itu menghadapi kehamilannya?” gerutu Jaejoong sambil meremas surat dari Putra Mahkota yang diperuntukkan untuk Yunho yang juga ikut dibacanya.

“Youngsaeng hyung sudah menjadi selir Putra Mahkota, Boo. Bukan lagi seorang simpanan.” Yunho mengoreksi.

“Tetap saja kedudukannya di masyarakat tetaplah seorang simpanan, rendah dan tidak bermartabat.” Ucap Jaejoong dengan nada kesal dan jengkel.

Yunho tersenyum, berusaha memahami perasaan namja cantiknya “Kau adalah satu-satunya untukku, Boo. Andaikan kau mau aku ajak kawin lari.”

“Berhenti mengatakan hal konyol seperti itu, Jung Yunho!”

Arraso. Saat ini kita harus fokus pada pekerjaan dulu, kan?” tanya Yunho.

“Bagaimana soal undangan dari menantu wali kota Bollero?” tanya Jaejoong, “Kita berdua tahu kalau bangsawan yang satu itu sangat licik dan brengsek! Bahkan bawahanku dikantor kehakiman pun memperingatkanku untuk berhati-hati pada pria itu.”

“Aku dan Yoochun yang akan datang memenuhi undangannya. Jangan khawatir!” Yunho mengusap wajah pucat Jaejoong yang memerah akibat bias redup matahari yang hampir terbenam.

“Aku pun mendapat undangan serupa.” Ucap Jaejoong. Dibukanya lembaran laporan yang berada di sampingnya, mengambil sebuah amplop yang terselip pada salah satu halamannya untuk diserahkan pada Yunho, “Orang bernama Lee Hongman itu benar-benar merepotkan. Dia tidak kooperatif (kerja sama) ketika aku dan Changmin menanyainya berkaitan dengan pajak yang harus diberikannya, berbeda dengan para bangsawan lain yang walaupun awalnya alot tetapi mereka tetap bersedia mentaati peraturan pemerintah. Tapi Lee Hongman berbeda, Yun. Caranya bicara dari awal sampai akhir mengisyaratkan bahwa dia orang yang licik, tidak mau kalah dan tunduk pada siapapun seolah-olah dia tidak takut pada apapun termasuk pada hukum.”

“Kita tahu tidak akan mudah bukan, Boo….”

“Rasanya kali ini berbeda, Yun.”

“Kita akan baik-baik saja.” Yunho tersenyum.

“Aku menolak ketika Lee Hongman mengatakan pertemuan yang digagasnya akan diselenggarakan di rumah para gisaeng. Mungkin aku melakukan kesalahan karena kemudian dia mengatakan lebih baik perjamuan itu diadakan di rumahnya agar aku merasa nyaman.”

“Dimataku semua hal yang kau lakukan tidak pernah salah sedikit pun, Boo.”

“Kalau bgitu ubah cara berpikirmu, Jung Yunho!”

“Dan seandainya kau tidak merasa nyaman, kita tidak perlu datang langsung. Maksudku, kita bisa mengutus Yoochun dan Changmin selaku wakil kita untuk datang menggantikan kita.”

“Apa tidak apa-apa? Apa mereka akan baik-baik saja?” tanya Jaejoong yang hanya dibalas senyuman oleh Yunho.

“Mereka lebih tangguh daripada yang terlihat. Tenanglah Boo….” Yunho mengusap helaian rambut Jaejoong yang tergerai perlahan-lahan, “Lagi pula bukankah kita harus menyelediki sesuatu terkait laporan yang diberikan oleh bangsawan Bong?”

Jaejoong meraih jemari Yunho, menggenggamnya kuat-kuat. “Kalau terjadi sesuatu padamu aku betjanji akan mengerahkan seluruh kekuatanku untuk….”

Yunho mencium sekilas bibir merah merekah Jaejoongnya, tersenyum tulus seolah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, “Akulah yang seharusnya  berkata seperti itu, Boo. Bila terjadi sesuatu padamu, akan ku binasakan mereka dengan tanganku sendiri!”

“Jangan menyentuhku sehangat ini atau aku akan menyerangmu saat ini juga, Jung Yunho!” Jaejoong mengingatkan.

“Suatu kehormatan bagiku bila kau menyerangku Boo.” Yunho masih memasang senyum menawan yang membuatnya terlihat semakin tampan, “Aku akan berpasrah diri seandainya kau yang menyerangku.”

Jaejoong mendorong tubuh Yunho yang condong ke arahnya ketika mendengar langkah kaki pengawal yang menjaga mereka di rumah mendekat untuk menyalakan obor dan lampion sebagai penerangan.

“Ck…. Mengganggu saja.” Gerutu Yunho. “Kenapa prajurit raja tidak berjaga di sini saja, Boo?”

“Mereka tinggal di gedung kehakiman dan kepolisian atas perintah Yang Mulia raja sendiri. Mereka tidak akan berani melanggar perintah itu.” jawab Jaejoong.

“Tuan, makan malam sudah siap.” Ucap seorang dayang yang baru datang, “Anda berdua ingin makan sekarang atau nanti?” tanyanya.

“Sekarang.” Jawab Yunho. “Hidangkanlah sekarang karena nanti kami punya urusan yang harus kami selesaikan.” Senyum tidak luntur dari bibir Yunho walaupun Jaejoong memberikan delikan padanya.

.

.

Sejak semalam hujan turun dengan sangat deras tanpa menunjukkan tanda-tanda akan berhenti, aroma tanah menyeruak naik menggoda indera penciuman, kabut pekat turun dan awan mendung masih mengantung pada garis langit sejauh mata memandang. Ketika Jaejoong menggeser jendela kamarnya, udara dingin itu segera memeluk tubuhnya erat seolah hendak meremukkan tulangnya. Jaejoong hendak menjulurkan tangannya ke luar jendela agar air hujan menjilatinya ketika tangannya dicengkeram kuat oleh Yunho.

“Jangan coba-coba, Boo!” Yunho memperingatkan, “Aku tidak mau kau jatuh sakit.”

“Kau terdengar seperti kakekku, Yun.” Gerutu Jaejoong. dibiarkannya Yunho menyampirkan selimut pada bahunya.

“Aku akan meminta pelayan menyiapkan bubur dan sup gingseng untuk menambah staminamu.”

“Jangan perlakukan aku seperti orang lemah!” omel Jaejoong ketika Yunhoo berjalan menuju arah pintu.

“Kau orang yang sangat penting untukku, kau terlalu berharga untuk ku biarkan sakit.” Yunho menggeser pintu kamar Jaejoong yang menjadi kamar mereka kemudian pergi begitu saja meninggalkan sosok cantik itu di dalam kamar sendirian.

“Dia memperlakukanku seperti perempuan.” Keluh Jaejoong. mata selegam mutiara rusa betina itu menengadah ke atas langit dimana sumber hujan berasal. “Tidak akan selalu setenang ini, kan? Badai sebentar lagi pasti datang. Badai yang bisa menghancurkan segalanya. Badai yang menakutkan….” gumamnya.

.

.

“Kenapa caramu melihat kami seperti itu Junsu sshi?” tanya Jaejoong ketika baru menginjakkan kaki di ruang kerjanya yang berada di gedung kehakiman. Junsu terus menatap ke arahnya dan yunho –lebih kepada dirinya dengan pandangan mata berbinar-binar.

“Eum, Jaejoong sshi, kalau boleh aku ingin sekali memelukmu.” Ucap Junsu.

Yah, Junsu!” Yoochun menyenggol lengan Junsu keras-keras, berharap rekannya itu sadar apa yang barusan dikatakannya.

“Mau bagaimana lagi Yoochunie, Jaejoong sshi sangat cantik dan manis.” Ucap Junsu sambil menahan gemasnya.

Jaejoong memelototi Yunho. “Semua ini salahmu karena menyuruhku berpakaian seperti ini!” kesalnya.

Yunho hanya tersenyum, “Peluklah dia! Kasihan Junsu. Aku tidak keberatan bila kau memeluknya karena Junsu satu tipe denganmu, Boo.” Bisiknya.

Usai menginjak kaki Yunho kuat-kuat, Jaejoong berjalan perlahan menghampiri Junsu kemudian memeluk anggota kepolisian yang ditugaskan Yunho untuk menjaganya itu erat.

Yunho yang melihat ekspresi terkejut Junsu pun hanya bisa tersenyum simpul. Jaejoong, Jaejoongnya memang benar-benar menawan. Kali ini Jaejoong memakai setelan mirip seorang pendekar pada umumnya, berwarna jingga dengan perpaduan rompi warna hitam, rambut hitam legamnya yang panjang lagi lurus itu diikat sedikit ke belakang membuat poni dan anak-anak rambutnya tergerai bebas. Sangat wajar bila Junsu gemas melihat penampilan Jaejoong karena Hakim tertinggi Bollero itu kini terlihat sangat cantik dan menawan. Yunho sendiri pun memakai pakaian serupa seperti Jaejoong hanya saja Yunho memilih warna biru air. Hari ini keduanya akan menyelidiki sesuatu sehingga berpenampilan lain dari biasanya.

“Yoochun, Changmin… Kalian harus hati-hati dan tetap waspada ketika berada di kediaman Lee Bongman!” Yunho mengingatkan. Hari ini adalah hari dimana seharusnya Yunho dan Jaejoong memenuhi undangan dari menantu Wali Kota Bollero yang terkenal akan kebengisannya itu, sayangnya Yunho dan Jaejoong harus menyelidiki sesuatu sehingga Yoochun dan Changmin selaku wakil merekalah yang diutus untuk menggantikan keduanya menghadiri acara di kediaman bangsawan Lee.

Ne.” Sahut Yoochun.

Ye, kepala polisi Jung!” jawab Changmin penuh semangat.

“Junsu, kau akan menemani Jaejoong. Kita akan berpisah begitu memasuki hutan. Pastikan kau menjaganya dengan baik!” pinta Yunho.

Junsu mengangguk penuh semangat, “Tentu saja!”

“Apakah perlengkapannya sudah siap?” tanya Yunho.

“Sudah siap.” Jawab Yoochun, “Walaupun sepertinya hujan tidak akan berhenti tetapi sebaiknya anda dan Jaejoong sshi menunggu kabut sedikit memudar agar nanti tidak tersesat di hutan.” Ucapnya memberi saran.

“Prajurit khusus pun sudah membagi tugas sehingga sebagian akan mengawal Hakim Kim.” Jelas Changmin, “Bagaimana pun juga beberapa anggota kepolisian akan ikut dalam misi ini mengingat tingkat bahayanya.”

Bukan perompak maupun penjahat biasa. Yang akan kami selidiki adalah seorang bangsawan kikir yang memiliki kedudukan cukup terhormat dimata masyarakat. Bangsawan yang kemungkinan menjadi momok paling menakutkan dikota ini.” Batin Jaejoong, jemari lentiknya mencengkeram kuat pedangnya. Walaupun benci kekerasan tetapi semalam setelah mendiskusikan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi dengan Yunho, Jaejoong siap bila tangannya harus digunakannya untuk menebas leher para pendosa.

“Khusus kalian bertiga, Yoochun, Junsu dan Changmin. Aku bebaskan kalian, aku beri ijin kalian untuk mencabut nyawa mereka yang bersalah dengan catatan kondisi yang mendesak dan membahayakan khalayak (masyarakat).” Ucap Yunho.

Ye!” sahut Yoochun, Junsu dan Changmin bersamaan. Ketiganya langsung menyibukan diri dengn urusan masing-masing, menyiapkan senjata salah satu contohnya.

“Berjanjilah kau akan baik-baik saja, Boo!” pinta Yunho.

“Aku berjanji.”

.

.

Tanah yang lembek dan becek, gerimis yang masih turun, kabut tipis yang masih terlihat sejauh mata memandang terasa sangat ironi bila membayangkan kehangatan dan kenyamanan yang disuguhkan oleh bangsawan Lee dalam undangannya. Tetapi tempat yang menyesakkan dan lembab itulah yang dipilih oleh Yunho dan Jaejoong untuk misinya kali ini, misi menantang bahaya.

“Jaga dirimu baik-baik, jangan sampai terluka!” bisik Yunho saat mengeratkan pelukannya pada Jaejoong tanpa risih ditatap sedemikian rupa oleh bawahan mereka. Yunho ingin memeluk tubuh hangat itu lebih lama lagi, ingin menyesap manisnya bibir merah delima itu sebelum berpisah tetapi tekanan perasaannya yang menggebu itu harus diakhiri sekarang atau semuanya akan sia-sia.

Jaejoong melepaskan pelukan Yunho sedikit paksa, “Aku akan baik-baik saja, aku berjanji padamu.” Ucapnya sebelum berbalik menatap para anak buah yang akan menyertainya melakukan penyelidikan, tentu saja Junsu termasuk di dalamnya, “Semoga jalan yang kita lalui nanti tidak sesulit kelihatannya. Mari berangkat!”

Yunho hanya menatap sendu bahu Jaejoong yang mulai memudar ditelan kabut pucat hutan yang lembab dan menyesakkan. Ada perasaan tidak rela menyeruak ke dalam hatinya yang berteriak histeris ingin agar Jaejoong tetap bersamanya mengigat ini adalah kali pertama mereka berpisah –dipisahkan oleh tugas dan bahaya.

“Satu hal yang ingin ku sampaikan pada kalian, jangan sampai mati!” ucap Yunho sebelum bergerak ke arah berlawanan dengan jalan yang diambil oleh Jaejoong dan rombongannya tadi. “Aku bersumpah, bila kau terluka dalam misi ini, akan ku hancurkan, akan ku bunuh siapa saja yang sudah berani melukaimu, Boo.” Batin Yunho.

.

.

“Jaejoong sshi, harap berhati-hatilah! Jalanannya sedikit landai (miring) dan licin. Akar-akar pepohonan yang mencuat ke atas permukaan tanah bisa membuat kita terantuk (tersandung).” Junsu yang memimpin perjalanan mengingatkan, mengingat jalanan yang harus mereka lalui memang landai dan licin akibat gerimis yang terus mengguyur. Hal itu masih diperparah dengan akar-akar pepohonan licin berlumut yang mencuat di atas permukaan tanah, mempersulit medan yang memang sudah sangat sulit.

Jaejoong yang baru pertama kali berjalan melewati jalanan hutan sedikit tertatih mengimbangi pergerakan Junsu yang gesit. Beberapa kali Jaejoong terpleset dan nyaris terjungkal jikalau para bawahannya tidak siaga untuk membantunya. Tetes gerimis membasahi rambut dan sekujur tubuhnya tetapi Jaejoong tetap memerintahkan untuk melanjutkan perjalanan menuju desa Miduhyo, desa yang berada dimuara sungai Rotten, sungai yang mengaliri sepanjang wilayah provinsi Bollero. Ada hal yang harus diselidiki di desa yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai nelayan itu, sesuatu yang berkaitan dengan kejahatan terbesar namun juga tidak pernah terungkap di Bollero.

“Junsu sshi, lebih baik kita istirahat sebentar.” Usul salah seorang anak buah yang berjalan di samping Jaejoong, “Hakim Kim sepertinya kelelahan. Wajahnya sangat pucat.” Ucapnya penuh kekhawatiran.

“Asal kau tahu, kulitku memang pucat sejak lahir.” Jaejoong melirik anak buah yang dipinjamkan oleh Raja padanya itu dengan tatapan sedikit mengintimidasi. “Dan ku yakinkan padamu bahwa aku tidak apa-apa.”

“Kita bisa beristirahat di kedai teh yang paling terkenal di desa Miduhyo sekaligus mengumpulkan informasi.” Ucap Junsu, “Sekitar lima belas menit lagi kita akan sampai.”

“Junsu sshi….” panggil Jaejoong, “Jangan lupa penyamaran yang sudah kita sepakati nanti!”

Ne. Jaejoong sshi adalah sepupuku yang berasal dari Provinsi Ballon di Utara dan datang kemari untuk belajar sebelum mengikuti tes masuk anggota kepolisian negara.” Sahut Junsu mendatangkan senyum pucat dari Jaejoong.

Samar-samar mulai terlihat kepulan asap dari atap-atap yang terbuat dari jerami, genting dari tanah liat maupun dari papan dan dedaunan kering. Terlihat sangat indah dimata Jaejoong karena bagaimanapun juga selama ini dirinya dibesarkan di ibu kota negara, dikawasan istana mengingat dirinya masihlah kerabat raja.

“Kelihatannya sudah dekat.” Gumam Jaejoong.

“Sekitar sepuluh menit lagi.” Jawab Junsu, “Tapi masalahnya sepuluh menit itu akan terasa sangat melelahkan.”

“Kenapa?” tanya Jaejoong.

Junsu menunjuk jalanan setapak yang menuju ke bawah, “Kita harus berjalan di pinggir sungai untuk sampai ke desa Mihduyo karena jalanan berhenti sampai di sini. Bila kita lurus terus, kita akan berakhir di pinggir jurang.” Junsu menerangkan.

“Kalau begitu ayo kita turun!” ajak Jaejoong.

“Sangat licin.” Gumam Junsu yang kemudian menatap cemas Jaejoong.

“Aku tidak apa-apa, ada kalian bersamaku. Aku tidak akan terluka. Aku janji.” Ucapnya tanpa keraguan.

“Mohon berhati-hati!” Junsu mengingatkan. Namja bersuara unik itu perlahan-lahan menuruni jalanan yang sedikit agak curam itu, berpegang pada dahan pepohonan yang bisa diraihnya agar tidak tergelincir dan jatuh.

Walaupun jalanan curam itu tidak lebih dari dua puluh meter tetapi kecuraman dan licin akibat gerimis membuat usaha menuruninya terasa sedikit berat dan melelahkan. Beberapa kali Jaejoong nyaris terjungkal jika Junsu dan yang lainnya tidak menahan tubuhnya.

“Terima kasih.” Ucap Jaejoong.

“Anda adalah orang berharga yang harus dijaga dan dilindungi.” Junsu tersenyum ketika mengatakan hal itu.

“Kau pun orang berharga, Junsu sshi.” Sahut Jaejoong.

Begitu sampai di tepi sungai, rombongan yang Junsu pimpin itu segera menjumpai beberapa nelayan yang sedang menjaring, memancing atau sekedar merakit (menaiki rakit) sambil memunguti ganggang air yang bisa mereka gunakan untuk membuat benang dari seratnya bila sudah dikeringkan.

“Penduduk di sini biasanya memintal dan merajut sendiri baju serta selimut mereka.” Ucap Junsu ketika melihat ekspresi terkejut pada wajah Jaejoong.

“Luar biasa.” Puji Jaejoong. “Warna airnya sangat jernih serupa warna daun gadung, aliran airnya pun sangat tenang…”

“Namun dalam.” Sambung Junsu, “Sungai Rotten ini adalah sungai terluas dan terpanjang diantara sungai-sungai lain yang melewati wilayah negara kita, Jaejoong sshi.”

Hyung!”

Junsu mengerutkan keningnya mendengar panggilan Jaejoong untuknya.

“Kau sekarang adalah ‘hyung’ ku.” Ucap Jaejoong.

“Ah….” Junsu mengangguk paham. “Mari kita ke kedai teh dulu untuk sedikit menghangatkan tubuh kita.”

.

.

Mengendap-endap Yunho mempimpin beberapa orang anak buahnya menyelinap memasuki sebuah gudang yang berada di pinggir hutan dekat perbatasan dengan provinsi Chaser, provinsi yang terisolasi yang biasanya digunakan sebagai pengasingan bagi para tahanan negara mengingat provinsi itu masih dipenuhi oleh banyak tumbuhan beracun dan binatang liar yang berkeliaran.

“Apa yang berada dalam peti-peti itu?” gumam Yunho, “Apa mereka mencoba menyelendupkan sesuatu yang merugikan negara?”

“Kepala Polisi Jung….” bisik salah seorang prajurit ketika melihat beberapa orang berjalan ke arah mereka.

“Kita sudah sampai sejauh ini. Bila kita sampai ketahuan sedang menyelidiki mereka, maka kita harus membungkam mereka semua.” Ucap Yunho, “Bila kita tidak bisa melumpuhkan mereka secara baik-baik, ku bebaskan kalian untuk membunuh mereka ditempat! Jangan ada seorang pun yang lolos atau semua usaha kita akan sia-sia!”

Ye!” sahut kesemua prajurit yang mendampingi Yunho.

“Ingat pesanku, jangan sampai mati!” ucap Yunho. Tangan kanannya sudah mencengkeram kuat-kuat gagang pedang yang kemarin diasahnya. “Boo, bila aku mati dalam misi ini ku harap kau bisa bahagia dan tegar menjalani sisa hidupmu!”

.

.

Pyaarrrr….

Cangkir teh yang baru saja hendak diminum oleh Jaejoong terlepas dari cengkeraman jemari lentiknya yang tiba-tiba saja bergemetaran.

“Maaf, sepupuku memang sedikit kikuk.” Junsu tersenyum pada orang-orang yang menatap ke arah meja mereka akibat terkejut. “Agashi, bisa minta secangkir teh lagi? Aku akan mengangti biaya cangkir yang sudah sepupuku pecahkan. Terima kasih.” Ucapnya pada pelayan kedai teh.

Napas Jaejoong tersendat, wajahnya kelihatan semakin pucat, mata indahnya menatap gelisah lantai tanah di bawahnya, “Yunho….” gumamnya bersamaan dengan ketakutan yang tiba-tiba saja menyergapnya, meremangkan bulu kuduknya.

“Jaejoongie….” Junsu mengenggam kuat-kuat jemari Jaejoong yang bergetar, “Semua orang melihatmu. Apa kau menginginkan sesuatu? Katakan pada Hyung!”

Jaejoong menatap gelisah orang-orang disekitarnya sebelum memfokuskan mata indahnya untuk menatap Junsu, “Tangkap penjahatnya! Seret mereka ke tiang gantungan!” bisik Jaejoong.

“Dengan senang hati akan Hyung berikan apa maumu.” Ucap Junsu.

.

.

Harabojie, Appa, Yang Mulia Raja… aku sangat menghormati kalian, aku menjunjung tinggi hukum dan keadilan yang selama ini kalian perjuangkan. Tetapi… bagiku ada hal lain juga yang harus aku perjuangkan. Yunho sangat berarti untukku. Maafkan aku seandainya aku menodai kedilan hukum yang selama ini kalian jaga.

.

.

“Kepala Polisi Jung, awas!”

.

.

TBC

.

.

Maaf, pengetikannya sempat terhenti beberapa hari karena insiden Yuuki keracunan makanan dan harus bed rest🙂 Semoga chap ini tidak mengecewakan. Mian belum bisa balas feed back yang kalian kirim🙂 Jaga kesehatan. Yang mau Mid semangat belajar ya.

.

.

Saturday, October 04, 2014

10:40:36 AM

NaraYuuki

24 thoughts on “Suprasegmental III

  1. Hiks hiks andwe

    Knpa tbc d situ aq jd kepikiran yunpa

    Huah…sebenery yunpa bagaimana caramu supaya dptin jaema tanpankawin lari

    Yg penting yunpa ma jaema harus.selamat dlm misi ini…huah deg degan

  2. kak yuuki sakit, tp sekarang udah sehat lg kan kak?
    yunho kenapa? yunho jangan mati dong, nanti jaejoong sama siapa
    semoga yunjae berhasil dalam misi mereka
    makasih kak udah update

  3. eh disini malah jaema yg suka nyerang yunppa iia
    yunppa seneng tuh pasti haha
    aaa yunppa waeyo?
    gg bakalan kenapa2 kan?😦
    jaema punya ikutan batin iia :’)

    cepet sembuh eonnie😀

  4. kau meremas jantungku hikssss…..
    jgn biarin yun mati dung…ya jebalyo~~~ huaaaaaaaaaaaa~~~~

    yuukichan, cepat sembuh ya…
    happy ied adha!!

  5. GwS yaa naraa..
    Woow.. intuisinya jae kuat bgt.. hehehe
    Apa yg terjadi sm yunie?? Dia kn kpala kpolisian g segampang itu mati kan?? Jangan dong.. masa jae jadi janda sbelum nikah siih.. gag relaaa…
    Knp tbc disini siiih,, bikin penasarann..
    Naraaqu tunggu update muuu…😀

  6. astaga apa yg terjadi pada yunho??
    hufft tbc datang di wktu yg tdk tepat

    yuuki kenapa bisa keracunan???
    sekarang sudah baikan???
    jaga kesehatan yuuki dan lebih teliti lagi saat memilih makanan
    get well soon yuuki

  7. Deg deg gan ,menegangkan
    semoga yun ga sampai mati lah yak😥,mereka kan belum sempet kawin lari🙂
    yuuki keracunan makanan ?koq bisa? makanan hajatan kah? Cepet sehat yuuki ~
    selamat idul adha

  8. firasat kah..?? jaejoong sadar sesuatu trjd pd yunho.. semoga yunho baik2 saja.
    yuuki kok bs keracunan makan.?? next time becareful ne..hati2 kl makan..aq jd inget kmrn makan mknan kadaluarsa..gara2 lapar tgh malem..klwr cari snack di minimarket trnyt udah kadaluarsa..padahal tuh snack udah trlanjur nyemplung ke perut..untung baru 1 bungkus..g tanggung2 kadaluarsanya udah 3 bln..ckckkk..syukur alhamdulillah saya g kenapa2.bwt tmen2..ati2 kl beli makanan dicek kadaluarsanya dl ya…heheee..mian saya jd nyampah di kotak review nih..hehee *bow #just sharing

  9. Semakin memuaskan hasilnya. Kata2nya ga bikin bingung dan jeleh sendiri.
    Penceritaannya ga muter2 bikin keder hehehe …
    Harapannya disini yunjae bisa bersatu ga dipisahkan oleh adat dan aturan pemerintah :V
    Yunpa hati2 ya, tuh jaejae yeppo sampe kesiram teh gara2 mengkhawatirkan yunnie gendutnya 😕
    Ditunggu lanjutannya eonni. Semoga yuuki eooni selalu sehat dan dilindungin Allah SWT. Amin🙂

  10. waa~ telat. telat bangen aku reply nyaaa u.u
    eonni smpt keracunan makanan..tp udh smbuh kan.. aku malah keracunan kabut asap eon*gk nanya*
    mereka menjalankan misi apa eon, aku blm ‘ngeh’ nih
    huaa~ itu itu yunpa knpa?? jaema punya firasat buruk sma yunpa
    jgn buat yunjae pisah eon hhe

  11. eh, yuuki sempet keracunan??
    koq bisa??
    ati2 bebs, jaman skrg makanan makin aneh2 aja..
    omo, apa yg terjadi pada daddy bearku??
    kenapa mommy tiba2 punya firasat buruk bertepatan dg suara peringatan itu??
    trs apa yg mreka selidiki sebenar’a??
    kejahatan tentang apa??
    koq kek’a bahaya banget ya??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s