Suprasegmental II


Tittle                : Suprasegmental II

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance/ Adventure/ fantasy kerajaan/ Incest

Rate                 : -M

Cast                 : Member DBSK (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan).

Disclaimer:       : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love). M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

.

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

EPEP INI KHUSUS BUAT EMAK IFA DAN PARA KUTIL TERSAYANG YUUKI😀

.

.

Suprasegmental Dari NaraYuuki untuk para Kutil

.

.

“Kau indah….” puji Yunho.

Jaejoong membalikkan tubuhnya, menatap Yunho yang memasang wajah terkejutnya, “Malam ini saja.”

“Huh?”

“Malam ini saja… kau boleh menyentuhku!”

Yunho tersenyum, jemari kokohnya membelai wajah basah Jaejoong perlahan, mata setajam musangnya yang berwarna kecoklatan menatap teduh penuh kerinduan pada sepasang mutiara rusa betina yang indah itu. Tentu saja tidak akan dilewatkannya apa yang sudah namja menawan di hadapannya itu tawarkan kepadanya. Telapak tangan Yunho perlahan-lahan mengusap punggung Jaejoong, mengusapnya ke bawah hingga sampai pada pinggang ramping cucu Hakim Agung itu, meremasnya perlahan sebelum memberikan dorongan kecil agar tubuh Jaejoong lebih mendekat pada tubuhnya.

“Kau yang memberiku ijin melakukannya, jadi jangan menyesal nanti… Boo!” Yunho mengingatkan.

Jaejoong melingkarkan kedua lengannya pada leher Yunho ketat seolah-olah enggan terlepas darinya, “Dan jangan memanggilku dengan panggilan seperti itu! Secantik dan semenggairahkan apapun aku dimatamu, aku tetap seorang namja.” Tanpa menunggu komentar Yunho, Jaejoong menempelkan bibir merah penuhnya pada bibir Yunho, menunggu sesaat sebelum terbuai ketika Yunho mulai menghisap bibirnya, mula-mula lembut hingga sedikit menuntut.

Ketika tubuh dan sentuhan mereka menjadi semakin intim, Yunho semakin kehilangan kendali dirinya, melepaskan tautan bibir mereka, Yunho menyapukan bibir berbentuk hatinya untuk menyentuh seluruh permukan wajah, dagu dan leher jenjang Jaejoong, “Ku rasa aku sudah tidak bisa menahannya lagi, Boo….” bisik Yunho disela kegiatannya mengukirkan jejak cintanya di atas permukaan kulit bahu Jaejoong.

“Lakukan!” ucap Jaejoong dengan suara tertahan.

Yunho mulai mengusap dan meraih salah satu kaki Jaejoong untuk diangkat dan dilingkarkan pada pinggangnya sendiri ketika suara terkutuk itu membuatnya terpaksa menjatuhkan gairahnya kedasar jurang kenestapaan yang memuakkan.

“Maaf Tuan, makan malam sudah siap!” suara lembut dan terdengar sangat sopan itu terdengar.

Yunho mendesis marah, merapalkan sumpah serapah tanpa bersuara hingga hanya bibirnya yang terlihat komat-kamit.

Jaejoong yang bisa melihat raut marah dan kesal pada wajah tampan Yunho hanya bisa tersenyum kecil, mengecup perlahan bibir berbentuk hati itu untuk menenangkannya, “Aku tidak akan lari darimu.” Jaejoong mulai menjauhkan dirinya dari tubuh Yunho.

“Aku benci menunda kegiatan penting ini!” Yunho mengumpat, hanya didepan Jaejoonglah Yunho menjadi dirinya sendiri tanpa harus repot-repot menjaga martabatnya sebagai anak bangsawan beradab.

“Aku sudah bilang malam ini kau boleh menyentuhku, tidak harus sekarang. Seusai makan malam pun tidak masalah. Kau boleh melakukannya semampumu malam ini! Asal ingat kalau besok kita harus bekerja.” Komentar Jaejoong yang langsung naik meninggalkan kolam pemandian air panas, meninggalkan Yunho yang masih berusaha menurunkan amarahnya.

.

.

Makan malam dihidangkan di kamar Jaejoong karena memang rumah utama tidak digunakan sebagai tempat makan, biasanya siswa magang terdahulu akan makan di pendopo ataupun dapur tetapi Jaejoong menolak melakukannya dan menyuruh pelayan menghidangkan makanan malam di kamarnya mengingat dari semua ruangan di rumah utama kamaryalah yang paling luas.

“Besok pindahkan barang-barang Yunho kemari! Mulai besok kami akan tidur satu kamar.” Perintah Jaejoong.

Bukan hanya Yunho yang dibuat kaget oleh perintah Jaejoong itu, para pelayan yang  menunggui mereka makan pun hanya mampu melempar pandangan bingung satu sama lain.

“Jae?” tanya Yunho.

“Kita membutuhkan ruang kerja yang luas! Ruang kerja yang berada di rumah ini sangat sempit, aku kurang menyukainya.” Komentar Jaejoong yang dengan tenang melahap makanannnya. “Kita bisa menggunakan kamarmu sebagai ruang kerja kita berdua mengingat kita harus sering berdiskusi. Kau ingat bukan kalau kau adalah kepala polisi dan aku hakim kota ini? Kita dituntut memecahkan banyak kasus pelanggaran yang sudah terjadi di kota ini, karena itu kita butuh ruang kerja yang lebih luas untuk kita berdua.”

Yunho mengangguk pelan, menyetujui usul Jaejoong yang memang sedikit lebih masuk akal dibanding pemikirannya.

“Jaejoong menoleh menatap pelayan yang berdiri di dekat pintu kamarnya, “Dan ruang kerja yang sudah ada bisa digunakan sebagai ruang makan untuk kami. Kalian tidak keberatan melakukan sedikit perubahan, bukan?” tanyanya.

“Tidak Tuan. Melayani anda adalah tugas kami.” Ucap keempat pelayan itu sembari menundukkan kepala mereka dalam-dalam.

Jaejoong kembali memakan makanannya, mengabaikan sepasang mata musang milik Yunho yang menatapnya penuh gairah dan kerinduan, “Ku harap besok makanan dan kereta sudah siap pada pukul enam pagi, mungkin bisa lebih sedikit tetapi jangan terlalu siang.” Pintanya yang langsung diangguki oleh keempat pelayan yang berada di sana.

.

.

Usai makan malam Yunho bergegas kembali ke kamarnya untuk mengambil sesuatu yang kemudian bergegas kembali lagi ke kamar Jaejoong membawa sebuah bungkusan panjang nan ramping. Bungkusan yang dililit oleh kain sutra bermotif bunga lili api berwarna merah darah nan indah itu diletakan di hadapan Jaejoong yang sedang membaca salah satu dari laporan yang diantarkan oleh Changmin sore tadi.

Jaejoong menatap Yunho dan bungkusan itu secara bergantian. Alisnya berkerut menunjukkan ekspresi ketidakpahamannya atas maksud Yunho.

“Bukalah!” Yunho tersenyum, diambilnya laporan tebal yang berada di atas pangkuan Jaejoong untuk dipindahkan ke atas meja yang berada di samping mereka.

Jaejoong meraih bungkusan itu, satu per satu dibukanya tali simpul yang melilit kain sutra pembungkusnya. “Katana?” Jaejoong menatap Yunho sedikit heran ketika kain sutra  itu terjatuh, menyisakan sebuah pedang panjang yang indah di tangannya.

“Kita berdua tahu resiko dari tugas yang kita emban….”

“Terbunuh?” tanya Jaejoong memotong pernyataan Yunho.

Yunho mengangguk pelan, “Akan ada saat dimana aku tidak bisa berada disampingmu, jadi ku rasa kau harus mempersiapkan dirimu untuk menjaga dirimu sendiri.” Ucap Yunho, “Walaupun kemungkinannnya kecil mengingat kau adalah kerabat Yang Mulia Raja. Tapi aku ingin tetap mengantisipasi kemungkinan yang kecil itu.”

Jaejoong mengeluarkan pedang yang berbentuk menyerupai katana milik para samurai negri sakura itu dari sarungnya perlahan-lahan, menatap kilauan permukaannya yang indah namun tajam dan mematikan. Menatap lekat-lekat ukiran yang terletak di pangkal dekat gagangnya. “Dangsineul yeong wonhi boho (Melindungimu selamanya).” gumam Jaejoong yang langsung menyarungkan kembali pedang itu.

“Aku akan melindungimu selamanya apapun yang terjadi.” Yunho berkomentar.

Jaejoong segera melempar pedang itu hingga sudut kamarnya sebelum menerjang Yunho, membuat namja tampan bermata setajam musang itu terjengkang dan terlentang di atas lantai.

“Kau sudah tidak sabar ya?” tanya Yunho yang hanya bisa mengulum senyum ketika Jaejoong menduduki perutnya dan mulai mengecupi permukaan lehernya, “Sabarlah, Boo! Walaupun aku sendiri pun sudah tidak bisa menahannya lagi tapi kita harus menunggu pelayan agar mereka tidur dulu.”

Tidak memedulikan ucapan Yunho, Jaejoong mulai melepas tali simpul baju yang dikenakan oleh Yunho, “Sekarang atau tidak sama sekali, Jung Yunho!”

Arra….” lirih Yunho yang meraih wajah Jaejoong menggunakan kedua telapak tangan kokohnya, mencium bibir merah merekah itu dalam dan lama-lama seolah dirinya sudah menahan hasrat itu selama puluhan tahun.

.

.

Jaejoong terkulai, membiarkan Yunho ambruk diatas tubuhnya walaupun sejujurnya hal itu membuatnya sedikit kesulitan bernapas. Ini salah, dosa. Yunho adalah saudara tirinya dan mereka berdua sama-sama namja. Sangat berdosa, menjijikkan dan hina! Tetapi…

“Aku mencintaimu!” bisik Yunho. Berangsur-angsur lengser ke sisi kanan tubuh Jaejoong, berbaring miring di sana dengan tenang dan mengamati wajah lelah namja menawan yang membuat hatinya lumpuh dan buta itu. Jemarinya terjulur membelai permukaan berkeringat wajah Jaejoong membuat siempunya menolehkan kepala untuk melihatnya.

“Cinta yang salah.” Gumam Jaejoong.

“Memang aku peduli?” Yunho menarik tubuh Jaejoong ke dalam pelukannya, menciumi wajah dan puncak kepala namja cantik itu, mengabaikan rambut panjang mereka yang tergerai berantakan.

“Kau adalah penegak hukum!” Jaejoong mengingatkan.

“Dan kau adalah hukumku! Aku sudah menahan diriku untuk tidak membawamu kawin lari jadi biarkan aku menjadi diriku sendiri selama ditugaskan di kota ini bersamamu.”

“Tidak ada yang bisa menghentikanmu!” Jaejoong bergumam, kedua kelopak matanya tertutup menikmati sentuhan yangg diberikan Yunho padanya.

“Menggabungkan kamar kita? Kau yakin?” tanya Yunho, “Kalau boleh jujur aku tidak yakin. Aku tidak yakin bisa menahan diriku bila berada satu kamar denganmu.”

“Tidak ada pilihan lain. Kita memang membutuhkan ruang kerja yang lebih luas agar sewaktu-waktu bila kita perlu mengadakan rapat di rumah, kita tidak perlu repot mencari tempat.” Ucap Jaejoong, “Jadi jangan coba-coba melakukan hal yang mencurigakan atau akan ku depak kau keluar!”

“Aku akan jadi anak baik agar bisa selalu bersamamu.” Bisik Yunho pelan sebelum mengulum bibir merah darah itu, sekali lagi mengajak Jaejoong menyelami surga mereka berdua.

.

.

Kabut masih sangat tebal menutup sinar matahari ketika Yunho sudah duduk diam di pendopo untuk menunggu Jaejoong. Bukan karena bangun kesiangan atau terlalu lama berbenah diri sehingga namja berparas rupawan itu belum juga muncul di pendopo. Jaejoong hanya sedang mengarahkan para pelayan bagaimana seharusnya menata kamar untuknya dan Yunho, bagaimana membenahi kamar Yunho yang mulai hari ini akan dipakai untuk ruang kerja mereka serta bagaimana seharusnya mendekorasi ruang yang semula diperuntukkan sebagai ruang kerja untuk diubah menjadi ruang makan.

Yunho tersenyum memikirkannya, bagaimana bisa Jaejoong yang seorang namja bisa begitu teliti untuk hal-hal sesepele itu?

“Aku harap mereka mengerti intruksiku.” Gumam Jaejoong yang berjalan perlahan menghampiri Yunho ditemani seorang pengawal.

“Siap berangkat?” Yunho tersenyum melihat sebuah pedang tersemat pada ikat pinggang yang Jaejoong kenakan. Yunho beranjak dari duduknya, berjalan pelan menuju kereta yang sudah siap sejak tadi, membukakan pintu kereta untuk Jaejoong.

“Pinggangku sedikit nyeri.” Keluh Jaejoong yang perlahan-lahan menaiki kereta kuda.

Yunho memegangi punggung Jaejoong ketika namja menawan itu kesulitan menaiki kereta kuda, usai memastikan Jaejoong duduk nyaman di dalam kereta, Yunho sendiri masuk ke dalam kereta.

Derak roda kereta kuda terdengar begitu nyaring ditengah gempuran kabut yang tebal, bahkan dibeberapa titik kabut terlihat lebih tebal dari yang lain namun di jalan-jalan utama beberapa petani dan pedagang sudah mulai terlihat hilir mudik. Para petani terlihat membawa keranjang berisi sayuran dan buah-buahan pada punggung mereka untuk dijual. Para pedagang mulai membuka lapak-lapak mereka dan membersihkan sekitar tempat mereka berjualan dari sampah-sampah yang berserakan.

Jaejoong tersenyum melihat seorang yeoja yang menggendong anak balitanya tengah mendorong gerobak berisi berkantung-kantung karung –yang Jaejoong yakini berisi beras dan gandum, gerobak itu ditarik oleh seorang laki-laki yang Jaejoong duga sebagai suami dari sang yeoja.

“Apakah menarik? Kau ingin sepertinya juga?” tanya Yunho yang ikut melihat apa yang sebelumnya namja canti itu lihat dari balik jendela.

“Aku ingin punya anak, bukankah itu sangat manusiawi?” tanya Jaejoong balik, dipandanginya wajah tersenyum Yunho yang kali ini menatapnya juga.

“Kalau kau menginginkannya, aku bisa mnegusahakan sesuatu untukmu, Boo.”

Jaejoong mentap tajam Yunho, “Kau mau mengajakku kawin lari lagi seperti ketika kau berusia delapan belas tahun dulu?” tanya Jaejoong, “Lupakan!”

“Tidak! Ada cara lain yang lebih bermartabat untuk memilikimu walaupun kawin lari tetap menjadi pilihan seandainya tidak ada jalan lain lagi.” Komentar Yunho.

“Mari lupakan hal itu sejenak dan kita selesaikan tugas kita di sini.”

Yunho mengusap wajah Jaejoong perlahan dan memberikan kecupan singkat di atas permukaan bibir semerah darah penuh itu lembut.

.

.

Matahari sudah setinggi mata tombak ketika kereta berhenti digedung yang menjadi tempat magang Yunho dan Jaejoong –kantor kepolisian yang merangkap sebagai kantor kehakiman juga.

Jaejoong mencibir ketika banyak tumpukan papan, kayu dan tali tambang teronggok berserakan di dekat pintu gerbang. Terlihat pula Changmin, Yoochun dan Junsu sedang memberikan intruksi pada beberapa orang yang sedang memanggul beberapa kayu panjang dan besar yang Jaejoong yakini akan digunakan sebagai tiang penyangga, entah tiang apa.

“Mereka bekerja sesuai intuksimu kemarin. Sepertinya hari ini juga renovasi akan dilakukan.” Gumam Yunho.

“Kau tidak memimpin apél pagi?” tanya Jaejoong.

“Sebentar lagi, biarkan anggotaku menyelesaikan pekerjaan mereka dulu.” Dengan dagunya Yunho menunjuk Yoochun dan Junsu bergantian. “Aku mulai memikirkan sesuatu…”

“Apa?”

“Sepertinya salah satu dari Yoochun atau Junsu akan ku tugaskan untuk mengawalmu.”

“Jung Yunho!” Jaejoong membentak, membuat Changmin, Yoochun dan Junsu yang semula tidak menyadarinya menoleh dan berjalan pelan menghampirinya.

“Hakim Kim….” sapa Changmin yang langsung membungkukkan badannya ketika sampai di hadapan Jaejoong.

“Apa pegawai kantor kehakiman yang lain sudah berangkat?” tanya Jaejoong.

“E… mungkin sebentar lagi.” Jawab Changmin sedikit ragu.

“Kalau begitu hukum semua pegawai kantor kehakiman dan kantor kepolisian yang datang setelah aku dan Kepala Polisi Jung Yunho! Siapapun! Terlambat satu menit, pukul kakinya satu kali, terlambat dua menit pukul kakinya dua kali, terlambat 3 menit pukul kakinya 3 kali dan seterusnya!” perintah Jaejoong, “Kalau mereka menolak atau melakukan protes berikan surat pemecatan pada mereka!”

Changmin mengangguk cepat.

“Yoochun sshi, sebaiknya segera kumpulkan para pegawai kepolisian yang sudah hadir untuk melakukan apél pagi!’ saran Jaejoong yang lebih menyerupai sebuah perintah. “Di Ibu Kota bahkan semenjak subuh para penegak hukum sudah mulai bekerja, dan di kota ini? Yun, haruskah kita merombak formasinya?” Jaejoong menoleh, menatap Yunho.

“Kita lihat dulu perkembangannya baru memutuskan perlu tidaknya merombak formasi pegawai.” Ucap Yunho. “Yoochun… lakukan perintah Jaejoong.”

Yoochun membungkuk hormat pada Yunho dan Jaejoong sebelum berlari sedikit tergesa ke dalam bangunan yang sedang mulai direnovasi.

“Junsu, bisa aku meminta bantuanmu secara pribadi?” tanya Yunho.

“Saya merasa terhormat bila bisa membantu anda, Kepala Polisi Jung.” Sahut Junsu.

“Mulai hari ini secara pribadi aku memintamu untuk mendampingi Jaejoong menjalankan tugasnya. Sertailah dia kemanapun dia pergi.” Ucap Yunho, “Aku tahu Changmin memang bisa diandalkan tetapi akan lebih baik bila ada lebih dari satu orang yang mendampinginya.”

“Yunho!” mutiara rusa betina Jaejoong membelalak tajam menatap Yunho.

“Kau mau kan Junsu?” tidak memedulikan Jaejoong, Yunho melanjutkan kalimatnya yang terpotong.

“Tentu saja! Sebuah kehormatan bisa menjadi pengawal pribadi Hakim Kim.” Ucap Junsu sambil tersenyum sumpringah.

“Kau adalah orang penting, cucu Hakim Agung sekaligus kerabat Yang Mulia Raja. Pengawalan terhadapmu harus yang terbaik, Jae.” Yunho mencoba menjelaskan ketika dirasanya tatapan mata Jaejoong terlihat semakin menajam. Tentu saja Yunho mengatakan alasan yang masuk akal. Jaejoong adalah cucu Hakim Agung –bisa dikatakan Jaejoong adalah cucu kesayangan sang Hakim Agung. Selain itu Jaejoong adalah kerabat Yang Mulia Raja, bahkan sang raja sangat menyayangi Jaejoong seperti anaknya sendiri. Tetapi dilain pihak Yunho pun ingin Jaejoong terlindungi. Yunho tidak bisa membayangkan apa yang bisa dilakukannya bila sesuatu terjadi pada Jaejoongnya.

“Kau bahkan putra….” Jaejoong terdiam, “Panglima Tertinggi Militer? Aku pun putranya juga.” Tambahnya dengan suara sangat lirih hingga dirinya sendiri yang bisa mendengarnya.

.

.

Apél pagi hanya dihadiri oleh 10 orang saja, 7 orang dari kepolisian dan 3 lainnya dari kehakiman. Hal ini sangat membuat bukan hanya Jaejoong tetapi Yunho pun murka. Para pegawai kantor kepolian dan kehakiman baru datang di saat para perja yang dipanggil untuk merenofasi gedung kantor sudah mulai membenahi dan menggangti tiang serta papan yang keropos termakan usia, sekitar setengah sembilan pagi.

“Apa yang membuat kalian semua begitu terlambat?” tanya Jaejoong yang berdiri di tengah pintu gerbang menghalangi para pegawai yang lain untuk masuk, ditunjukkannya senyum menawannya, senyum yang biasanya bisa membuat teman-teman sekelasnya tersipu meskipun mereka semua laki-laki, “Aku senang kalian sudah datang dengan pakaian yang rapi dan aroma parfum yang wangi. Tetapi sayang sekali…”

Belum lagi ucapan Jaejoong selesai, Yunho dan ke sembilan orang yang lain yang tadi pagi mengikuti kegiatan Apél pagi datang sembari membawa pentungan (kayu pemukul) berukuran cukup besar dan panjang di tangan mereka masing-masing.

“… kalian harus didisiplinkan!” Jaejoong masih tersenyum walaupun api kemarahan terlihat jelas dari sorot matanya. “Ahjumma, Ahjushi, Haraboji, Halmonie… lihat-lihat! Para pegawai kantor kehakiman dan kepolisian yang malas ini akan mendapatkan pelajaran karena tidak pecus melayani rakyat dengan baik!” Jaejoong berteriak lantang menarik perhatian orang-orang yang berlalu-lalang di jalanan dengan senyum masih menghiasi wajah menawannya.

“Berbaris!” perintah Yunho dengan suara sangat lantang dan sedikit membentak. “Kalian yang terlambat akan mendapat pukulan di kaki kalian sesuai dengan menit yang kalian lewati! Pukul kaki mereka sebanyak 200 kali!”

Ye!” sahut Yoochun, Changmin, Junsu dan kelima orang lainnya.

“Aku akan menulis surat untuk Yang Mulia Raja, beliau harus diberitahu soal ini. Aku akan memintanya mengirimkan pasukan tambahan kemari. Ku beri kau kuasa untuk mendisiplinkan anggotaku juga, Yun.” Ucap Jaejoong sebelum berjalan masuk, meninggalkan kekacauan yang terjadi di depan pintu gerbang, membiarkan para rakyat tahu bahwa Hakim tertinggi dan Kepala Polisi kota Bollero yang baru tidak akan segan-segan menindak pegawai pemerintahan yang menyepelekan waktu dan pekerjaan.

.

.

Jaejoong menatap ke-20 anggota kantor kehakiman yang sekarang dipimpinnya, minus Changmin. Beberapa detik yang lalu Jaejoong memberikan kuas dan kertas pada kedua puluh orang itu untuk menuliskan surat pengunduran diri mereka. Namun sampai saat ini belum ada satu surat pun yang diterimanya.

“Aku sudah mengirim surat untuk Yang Mulia Raja melalui merpati pos, kalian bisa mengundurkan diri bila merasa caraku memimpin tidak sesuai dengan kalian. Aku tidak akan merasa rugi karena aku sudah meminta pada Yang Mulia Raja untuk mengirim orang kemari, orang yang lebih bermanfaat dan tepat waktu tentu saja.” Jaejoong masih belum meninggalkan senyum sumpringah yang terlihat jelas pada wajahnya, “Hanya saja ketahuilah! Aku dan Kepala Polisi Jung diberi hak untuk menjatuhkan hukuman mati pada siapa saja yang merugikan negara. Melalaikan tugas dengan datang sangat terlambat ke kantor adalah salah satu contohnya. Ya, kan Changmin sshi?”

Ne, Hakim Kim.” Sahut Changmin yang berdiri tenang di samping Jaejoong.

“Saat ini mungkin kaki kalian yang bengkak dan lecet, tetapi esok hari… siapa yang tahu? Mungkin kepala kalian tidak akan pada tempatnya seperti sekarang.” Ucapan Jaejoong terdengar sangat dingin dan penuh penekanan.

Tidak ada yang bersuara. Semuanya menundukkan kepala, saling melirik panik satu sama lainnya namun tidak berani mendongak untuk menatap wajah menawan Jaejoong.

“Kalau kalian masih ingin bekerja disini, maka setelah istirahat makan siang nanti serahkan padaku data mengenai siapa saja pegawai dan bangsawan yang melakukan korupsi! Dan berikan aku semua bukti yang kalian punya. Jika ada salah satu saja dari kalian yang ketahuan menerima suap atau berusaha menutup-nutupi kejahatan yang keluarga kalian perbuat, maka jangan salahkan aku bila kalian dan keluarga kalian berakhir ditiang gantungan!” Jaejoong menatap sengit ke-20 anggotanya, “Sekarang kerjakan tugas kalian!” senyuman yang sangat menawan itu bertolak belakang dengan sorot benci dan marah yang terlihat pada sepasang mutiara rusa betinanya.

Dengan tertatih ke-20 anggota kantor kehakiman itu berdiri dari duduk berimpuh mereka, berjalan kesakitan menuju meja masing-masing dan mulai memeriksa semua dokumen yang mereka punya untuk memberikan data yang atasan baru mereka minta, Kim Jaejoong.

“Changmin sshi, apa yang Yunho lakukan pada bawahannya sebagai hukuman?”

“Ah, Kepala Polisi Jung membiarkan mereka berdiri berbaris di depan pintu gerbang dengan menenteng ember air di tangan mereka.” Jawab Changmin.

“Terlalu mudah….” gumam Jaejoong.

“Tidak, Hakim Kim. Karena Kepala Polisi Jung mempersilahkan rakyat yang kebetulan lewat untuk melempari mereka dengan sayuran atau buah-buahan busuk.”

“Cukup ringan untuk ukuran seorang Jung Yunho.” Ucap Jaejoong, “Kau belum mengenalnya dengan baik, Changmin sshi. Bila sedang marah, Yunho bahkan lebih menakutkan dibandingkan seekor beruang yang sedang kelaparan.”

.

.

“Apa ini?’ tanya Yunho saat tiba-tiba Jaejoong meletakkan bertumpuk-tumpuk data di atas meja kerjanya.

“Dugaan korupsi yang dilakukan oleh pegawai pemerintah dan para bangsawan. Serta data penerimaan pajak yang baru ku buat.” Jaejoong melirik sekitar 30 polisi yang tengah terduduk kelelahan di lantai, “Kau apakan mereka?”

“Sedikit pendisiplinan.” Sahut Yunho, “Aku butuh tambahan anggota polisi agar ketika malam tiba aku bisa menugaskan beberapa untuk berjaga. Sepertinya selama ini mereka hanya bekerja dari menjelang siang sampai sore saja, pada malam hari tempat ini kosong tanpa penjagaan. Karena itu…”

“Karena itu aku mengirim surat pada Yang Mulia Raja lewat merpati post. Kita kekurangan orang disini!”

“Jangan memaksakan dirimu!”

Dapat Jaejoong lihat sinar penuh kekhawatiran dalam kedua bola mata Yunho, kekhawatiran untuknya, “Lama-lama kau terlihat seperti kakekku!”

“Junsu akan mengantarmu pulang dulu.” Ucap Yunho.

“Bagaimana denganmu?”

“Aku akan pulang sedikit terlambat karena harus membagi pekerjaan. Mulai sekarang harus ada yang berjaga disini sampai malam untuk mengantisipasi seandainya ada masyarakat yang mengalami kesulitan. Aku berencana membagi-bagi tugas jadi aku akan pulang sedikit terlambat.”

Jaejoong mengangguk paham.

“Kepala Polisi Jung, keretanya sudah datang menjemput.” Lapor Yoochun yang datang untuk menyampaikan berita pada atasannya.

“Pulanglah Jae.” Pinta Yunho.

“Aku pulang dengan kuda saja.” Ucap Jaejoong, “Kau lebih membutuhkan kereta daripada aku.”

“Jae….”

Jaejoong menatap tajam Yunho sebelum beralih menatap Yoochun, “Tolong siapkan kuda untukku!” pintanya.

Yoochun yang bingung hanya menatap atasannya dan Jaejoong bergantian.

“Lakukan apa yang dia minta.” Ucap Yunho.

Yoochun membungkuk sesaat sebelum beranjak pergi lagi.

“Berjanjilah kau akan baik-baik saja sampai rumah!” pinta Yunho.

Jaejoong mendengus kesal.

Yunho beranjak dari duduknya, “Aku akan mengantarmu sampai pintu gerbang. Pinggangmu masih sakit, kan?” tanyanya.

“Kita berdua tahu siapa penyebabnya.” Cibir Jaejoong.

Yunho ingin sekali mengenggam jemari itu, ingin menyentuh kulit yang kenyal lagi halus itu berlama-lama seandainya hanya ada mereka berdua disana. Ah, menahan diri dan perasaan seperti ini sungguh sangat tidak menyenangkan dan menyesakkan.

.

.

Sebuah kuda berwarna kecoklatan yang sangat gagah dan sehat sudah disediakan untuk Jaejoong serta dua kuda lainnya untuk Junsu dan Changmin. Junsu memang diminta secara pribadi oleh Yunho untuk mengawasi Jaejoong mulai pagi tadi, sementara Changmin yang kebetulan belum pulang mendengar bila atasannya akan pulang dengan menaiki kuda memutuskan untuk mengawalnya sampai rumah.

“Apa yang terjadi pada Hakim Kim?” tanya Yoochun ketika melihat Yunho membantu Jaejoong menaiki kudanya.

“Pinggangnya agak sakit karena terkilir kemarin.” Jawab Yunho. “Gunakan pedangu bila ada orang yang berniat jahat menghadang jalanmu! Jangan ragu untuk menebas kepala mereka!” pesannya pada Jaejoong.

“Aku tahu apa yang harus aku lakukan! Berhenti bersikap seolah kau adalah ayahku!” kesal Jaejoong, dihentakkannya tali kekang kuda yang dinaikinya membuat kuda itu berjalan perlahan meninggalkan gedung kantor kehakiman yang merangkap sebagai kantor kepolisian juga diikuti oleh Junsu dan Changmin.

“Anda sangat dekat dengan Hakim Kim….” komentar Yunho.

“Dia sahabatku yang paling mengenalku, bahkan lebih dari saudaraku sendiri.” Ucap Yunho. “Kajja kita selesaikan pekerjaan kita agar bisa pulang cepat juga.” Ajaknya.

.

.

Duduk sendirian di pendopo menunggu kedatangan kereta yang membawa Yunho pulang membuat Jaejoong merasa kesal. Bintang dan bulan sabit merah pun sudah menyindirnya sejak tadi. Dengan kasar Jaejoong menutup kamus hukum yang dibacanya sejak kepulangannya untuk menghabiskan waktu luangnya.

“Tuan, makan malam sudah siap sejak tadi. Makanannya akan dingin bila anda tidak segera memakannya.” Ucap pelayannya.

“Aku akan menunggu Yunho. Istirahatlah bila kalian lelah.” Jaejoong bangun dari duduknya, berjalan perlahan meninggalkan pendopo menuju rumah utama yang terasa sangat menyebalkan tanpa kehadiran Yunho disana.

.

.

Kira-kira pukul sebelas malam Yunho baru pulang. Seorang pelayan yang masih terjaga mengatakan padanya bahwa karena menunggunya Jaejoong belum memakan makan malamnya sama sekali. Karena itu usai mandi Yunho langsung berjalan menuju kamar Jaejoong yang mulai malam ini menjadi kamarnya juga.

Perlahan-lahan Yunho menggeser pintu, menatap lembut namja yang tengah tertidur dalam damainya. Tersenyum ketika melihat kimono tidur yang Jaejoong kenakan memperlihatkan kulit bahu, dada dan pahanya. Sepertinya Yunho harus membicarakan kebiasaan Jaejoong yang lebih senang tidur mengenakan kimono esok pagi. Yunho tidak mau para pelayan melihat keadaan Jaejoong yang mengairahkan seperti ini, itu tidak baik untuk mereka.

Yunho mendudukkan dirinya di samping tubuh Jaejoong, jemarinya terjulur untuk membelai wajah damai itu perlahan-lahan, merasakan kelembutan kulit Jaejoong yang membuatnya betah menyentuhnya berlama-lama.

“Eung….” Jaejoong mengerang dalam tidurnya, merasa terganggu sebelum kelopak mata yang sebelumnya membungkus mutiara rusa betina itu terbuka perlahan.

“Aku membangunkanmu?” tanya Yunho, bibir berbentuk hatinya menarik simpul senyuman yang membuat wajahnya terlihat sangat tampan walaupun gurat kelelahan itu nyata disana.

Jaejoong segera menarik Yunho ke dalam pelukannya, mengabaikan sesak yang menghimpit dadanya ketika tubuh Yunho berbaring di atas tubuhnya.

“Kau mencemaskanku?”

“Diam dan cium aku!”

Yunho menumpukan berat tubuhnya pada kedua kaki dan lengan kirinya, lengan kanannya ia gunakan untuk menarik tengkuk Jaejoong agar wajah mereka bisa semakin dekat, “Kau tidak akan pernah tahu betapa aku mencintaimu, Boo….” bisiknya sebelum mencium lembut bibir merah Jaejoong. “Kau harus makan dulu!” kali ini Yunho menarik tubuh Jaejoong untuk duduk.

“Kau lelah? Makanannya pasti sudah dingin sekarang.”

“Akan terasa hangat bila aku memakannya bersamamu.”

“Berapa lama kita bisa seperti ini, Yun?” tanya Jaejoong. Dibiarkannya Yunho menarik lengannya untuk berdiri, dibiarkannya Yunho yang merapikan kimono tidurnya sambil sesekali mencium leher dan jemari tangannya.

“Selama kita bisa….” bisik Yunho yang kemudian menarik Jaejoong ke dalam pelukkannya. Yunho sendiri pun tidak tahu berapa lama dirinya bisa bertahan dengan situasi seperti ini.. bukan berarti Yunho tidak punya rencana. Yunho sudah memikirkan berbagai cara dan kemungkinan yang bisa diambilnya untuk jalan keluar permasalahannya dengan Jaejoong. dalam pemikiran Yunho hanya ada satu orang yang bisa membantu mereka.

Yang Mulia Raja….

.

.

TBC

.

.

Thoughts on “Suprasegmental”

Hope: Hehehehe… Harus ada🙂

Anyjae: Lama ga buat Incest kan Yuuki😀

Meyfa: Saeguk itu apa? #miankepo -_- Ne, bisa dikatakan begitu🙂

Azkhana: Menurut ane Umma malah Daebbak Mak😀  Muahahahhahahahahahaha >_< Kutil elite ya Mak?😀

Ratnaezleeem : Ne😀

T3Jj kim : Perang apa hayo? #jitak

Rani : Saeguk? Yuuki ga ngerti artinya. Jujur deh #wajahpolos

Renyekalovedbsk: Ini sudah lanjut😀

Diennha: Ngadepin apa? #bingung

Nina: Perasaan keduanya mirip di AKTF, ga perlu ngomong tapi sudah tahu apa isi pikiran masing-masing😀  Heheheh Kutil #ngakakgulingguling  >_<

Karin Cassiopeia : Yah bocah! NC melulu, masih dibawah umur Tahu #jitak!

Ayumi:  Pembalasan Bidadari Hitam & Scent Of Love sudah, kan? Judul ya? Kalau ga tahu artinya boleh kok tanya ke Yuuki😀

MyBaby WonKyu : Sabar Tante #sodorin Kyu😀

Dewifebrianayasmin: Sudah?

Hardianty : Revenge sudah Yuuki update kan?😉

Hanasukie: Fighting!

Yuuqy: Sudah ne🙂

Yunorisweat: Muahahahahhahahahahahaha >_<

Kim Hyewon : Remuk hatimu? Wae? #sokdramatis. Seguk itu apa lagi? #bingung. Kalau yang kayak gini Yuuki pernah buat beberapa one shoot cuma beberapa diantaranta GS. Jangan tanya judul karena Yuuki lupa. Kebnatakan FF sich #pundung.

Kutil? Hehehehe…. Di salah satu grup Author YunJae (Grup FB) ada yang menyebut “Narayuuki & kutil-kutilnya.” Yang dimaksud kutil orang yang dekat dan sering ngobrol dengan Yuuki disosmed. Karena itu FF ini Yuuki dedikasikan untuk Para Kutil Elit Yuuki #ngakakgelundungan ane gara-gara kutil😀

lee huang ziol : Umma malu-malu macan😀 Ini sudah ne🙂

Meybi : Yuuki juga ga tahu :3

hime yume : Apa sich yang ga buat YunJae😀

miss cho: Ne😉

reanelisabeth:  Terlalu unik ne?😀

wiwindah:  Kutil yang Elit dan berkelas #kibasponi😀

Rizky Nurbayani : Sudah ne😀

Yulkorita: Dari banyak pihak? Hehehehe…. Bisul? Muahahahaha #ngakakgelundungan >_< Dsudah nich.

Nadia:  Sepertinya begitu🙂

Echasefry:  Appa? Yakin?

Rahmadina: Semoga ga tahu ya🙂 #dikecek

.

.

Sunday, September 07, 2014

9:10:23 AM

NaraYuuki

30 thoughts on “Suprasegmental II

  1. Ha ha ha ha ha ha ha kasihan sekali para anggota kehakiman dan kepolisian itu. Makanya jangan macam-macam kalau ada appa dan umma. Gak perduli rencana appa bagaimana ?! POKOKNYA yunjae harus BERSATU titik gak pakai koma

  2. Eonni … harapanku yunjae bersatu ya, please🙂
    Komplik pembangkang yg menolak sikap keras kepemimpinan umma belom ada nih eonni, apakah akan eonni masukan org ke3 diantara yunjae?
    Sikap tegas umma mampu menjinakkan beruang besarnya, seru :3
    Disini keren juga yunpa ga jd org yg paling berkuasa (raja) tetap menarik. Walau kesannya sedikit lunak cara menghukum pasukannya😀
    Lanjut lagi eonni full yunjae moment(enci)🙂

  3. huft lap kringet…
    jae umma galak banget,ngeri aku klo byngin beneran ada pemerintahan yh tlat 1 mnit dpt 1 pkulan nah klo tlat 1 jam 30 pukulan??? kakinya jd merah delima piyapiyo #kutilnyapingsan kkkkkk

  4. jaejoong manja angkuh n arogan bgt tapi saya suka.
    yunho yg perhatian dan mencintai jae… saling mencintai tapi harus disembunyikan dari sekitar nya memang menyakitkan..
    ahh semoga yang mulia raja bisa menyatukan yunjae
    next

  5. jj yanv tegas keras Dan menggemaskan :v omooooo my uri jj pan emang daebak #tabokjidatuchun yeiiii makin seruuu n bikin ati was was akan kedisiplinan yg dibuat jj heeemmmm kapan yumjae menikah Dan punya baby yg unyu2 #plak
    yuuki gomawo permintaan emak dah dikabulkan
    kita pan mang kutil elite hahaha ditunggu ne kelanjutannya kalo dah gag sibuk ok gomawo #poppoyuukiampektepar

  6. ~>__<~
    Yang mulia raja????nugu????nugu????
    Selirx raja namja sich jdi mungkin bz bantu…tpi status yunpa n jaema gmn??
    Hhhhhhuuuuwwwweeee.. pasti terhambat gara" tu…
    AAAAANNNNDDDWWWEEE!!!!π_π

    Yuuki-ah lanjut ne…ziol penasaran bgt kelanjutannya…^(oo)^
    Gomawo ne yuuki-ah…
    Fighting!!!!!└(^o^)┘

  7. cuma yang mulia raja yg bisa membantu yunjae..??
    eh..?? brarti selama ni raja tau dong ttg hubungan yunho n jaejoong..??
    jaejoong kpn hamilnya.?? wkwkkk #abaikan
    saeguk tuh maksudnya drama periode sejarah/kerajaan yuuki..kyk yg lg dimaenin yunpa skrg ini (night watchman)

  8. ternyata eh ternyata jae bukan aja tau yun suka tapi juga suka, setiddaknya bukan cinta yang bertepuk sebelah tanganlah ya walaupun mereka saudara sih humm
    ironis…
    tenang aja appa, aku akan bantu kalian dengan membuat petisi seluruh mahasiswa sukkyunkwan agar raja bantu kalian..(biasanyakan gitu ye rja takut ama mahasiswa)
    yun appa, selama jaema suka jgn nyerah ye figthing!
    jae umma, selama appa suka jgn ragu untuk bertahan ye figthing!
    yuuki cingu, selama ada para kutil mu jgn pernah berpikir berhenti menulis..arachi?#pukpukyuuki

  9. Sebenernya mereka udah jadian kah?
    Mereka mesra banget dah udah kaya suami istri eh” suami suami mungkin..
    Semoga mereka di kasih jalan yang mudah untuk bersatu
    cara mereka memimpin bener” keren,disiplin dan menghargai waktu.. Rasain tuh lah orang” yang seenaknya sendiri
    Ga sabar nungguin jae umma hamiL , semoga😉

  10. Berarti Yunho dan Jaejoong uda pacaran lama ya???
    Apapun genre ff nya, kalo Yuuki yg nulis pasti penggambaran hubungan antara Jaejoong dan Yunho unik.
    Yuuki, berikan flashback bagaimana dua orang itu bisa pacaran dong….

  11. . seneng beud baca yunppa kecewa g bisa nc’an… kkk :v
    . serius ni masalahnya mpe cuma raja nyang bisa nolong, pi low nara-san authornya pasti bersatu…😉

  12. aduhh…ngeri ngebayangin jaema tegas n sangar kyk gtu..tp wajarlah marah kalo bawahan ny jg gk becus._.
    kyk yunjae bkalan sulit nih bersatu#sotoy
    tp biar sesulit apapun, pasti yuuki eonni bisa buat mrka bersatu dalam ff tentunya hoho

  13. hemzz kawin lari sepertinya solusi yang rumit hehehe
    berharap yunjae selalu bersama sampai akhir
    hehehee saeguk itu drama sejarah korea yuuki
    semoga yang mulia raja juga mendukung mereka untuk bersatu harus
    hahahaha menunggu lanjutannya
    yuuki jjang!!!!!!

  14. ternyata dlu yunppa pernah mengajak kawin lari jaema? jinjja daebak appa
    hahaha
    gg main2 iia perasaan yunppa :3
    yunppa mau minta pertolongan yang mulia raja iia
    semoga bisa

  15. duh, mommy bisa modus juga ternyata, kirain cuma daddy aja yg slama ini slalu modus.. :p
    pake alesan butuh ruang kerja yg lebih luas lg..
    hmm, tp itu emg bagus sih bwt kelanjutan hubungan kalian..
    ga kusangka ternyata mommy dan daddyku penegak hukum yg tegas ne, makin cinta dech sama kalian,,
    semoga semua penjahat itu bisa ditangkap dan dpt hukuman yg setimpal..
    ah, semoga kalian juga menemukan cara untuk bersatu tanpa menyakiti banyak pihak.. ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s