Suprasegmental


Tittle                : Suprasegmental

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance/ Adventure/ fantasy kerajaan/ Incest

Rate                 : -M

Cast                 : Member DBSK (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan).

Disclaimer:       : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love). Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

.

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

EPEP INI KHUSUS BUAT EMAK IFA😀

.

.

Suprasegmental Dari NaraYuuki untuk para Kutil

.

.

“Kau tidak apa-apa?” pemuda yang memakai setelan berwarna biru langit itu bertanya. Mata setajam musangnya yang teduh menatap sosok menawan yang berjalan beberapa langkah di depannya.

“Memang aku kenapa?” pemilik bibir semerah darah itu bertanya, bibirnya melengkungkan senyuman manis tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan, memamerkan mutiara rusa betinanya yang berkilau indah.

“Pertunanganmu dengan tuan putri dibatalkan karena tuan putri kabur dengan prajurit bodoh itu, bukan? Kau baik-baik saja?”

“Ah itu….” gumamnya sambil terus menyunggingkan senyuman, “Aku baik-baik saja, hanya saja Harabojie dan yang lainnya mendesak Yang Mulia Raja untuk memberikan hukuman pada tuan putri dan kekasihnya itu.”

“Kau yakin?”

“Sebenarnya sejak awal aku sudah berencana kabur bila terus dipaksa menikah dengan tuan putri. Coba bayangkan! Bagaimana bila aku harus menikah dengan seorang perempuan yang hinggap kedalam setiap pelukan para pria? Tidak, Yunho! Harga diriku terlalu tinggi untuk menerimanya.”

“Benar-benar seorang Kim sejati.”

Pemuda yang memakai setelan baju berwarna merah muda dengan semburat jingga itu berhenti berjalan, terdiam sebentar sebelum memutar tubuhnya menghadap pemuda yang sedikit lebih tinggi darinya, “Jangan menyebutku seperti itu! aku tidak suka.”

Angin semilir yang berhembus sore itu memberi kehangatan tersendiri, Yunho hanya tersenyum ketika wajah menawan itu terlihat sedikit merengut kesal, “Aku mengerti. Maafkan aku.”

Ayah sama tetapi ibu berbeda. Itulah hubungan antara Yunho dan pemuda menawan di hadapannya itu, Jaejoong. Yunho lahir satu minggu sebelumnya, mewarisi wajah tampan dan marga keluarga Ayahnya yang menduduki posisi sebagai panglima militer tertinggi.

Kim Jaejoong, anak dari istri kedua yang berasal dari keluarga bangsawan yang masih memiliki kekerabatan dengan raja. Kakek Jaejoong dari pihak ibunya adalah paman sang raja yang sampai saat ini menduduki posisi sebagai hakim tertinggi. Sejak lahir Jaejoong diasuh oleh keluarga ibunya dan mewarisi marga Kim ibunya.. ibunya sendiri sudah meninggal ketika Jaejoong berusia 5 tahun karena wabah penyakit yang saat itu menyebar.

Itulah sebabnya walaupun bersaudara tetapi dalam keseharian mereka Yunho dan Jaejoong terlihat seperti bukan saudara, mereka terlihat seperti teman yang sama-sama berasal dari keluarga bangsawan yang saling menjaga etika dan tata krama masing-masing demi kehormatan keluarga. Bahkan diawal pertemuan mereka yang pertama lima tahun yang lalu keduanya merasa sangat asing. Saudara yang terasa bukan saudara, teman yang sebenarnya saudara membuat mereka memutuskan untuk melupakan garis darah mereka dan berdiri sebagai individu masing-masing, Jung Yunho dan Kim Jaejoong yang berasal dari keluarga yang berbeda.

Jaejoong sebelumnya dijodohkan dengan putri sulung Raja dan akan dinikahkan lima purnama lagi, sayangnya sang putri kabur dengan kekasihnya yang hanya merupakan seorang      prajurit biasa. Saat ini sang putri dan kekasihnya sedang dalam pengejaran untuk menerima hukuman karena sudah mempermalukan keluarga istana –hukuman mati.

Yunho pun sempat akan dijodohkan dengan putri bungsu perdana mentri, sayangnya gadis itu ternyata sudah mengandung anak dari hasil hubungan gelapnya dengan salah seorang mentri di kabinet. Yunho bersyukur karena dirinya tidak harus membangkang orang tuanya dengan menolak perjodohan itu karena Yunho sudah jatuh cinta pada orang lain.

“Kau sudah menyiapkan semuanya?” tanya Jaejoong yang kembali berjalan, meninggalkan Yunho yang masih sedikit termenung.

“Huh? Apa yang harus ku siapkan?” Yunho tersentak kaget dari lamunannya dan berjalan sedikit cepat untuk mensejajarkan langkah kakinya dengan Jaejoong.

“Bekal.” Jawab Jaejoong, “Bukankah ujian akhir sudah dihapuskan dan diganti dengan tugas selama setengah tahun untuk melihat pantas tidaknya kita sebagai calon pegawai pemerintahan?”

“Ah, kurasa Ummaku sudah menyiapkan semuanya untukku.” Jawab Yunho.

Memang sebagai syarat kelulusan mereka sebagai murid sekolah tinggi negara yang tidak semua orang bisa memasukinya, mereka harus menjalankan tugas akhir berupa praktik langsung dilapangan untuk menentukan pantas tidaknya mereka diangkat sebagai pejabat pemerintah. Walaupun mendaftar pekerjaan dengan jabatan yang berbeda tetapi Yunho dan Jaejoong kebetulan mendapatkan tempat magang yang sama, sebuah daerah di selatan yang dikelilingi pegunungan dan rawa bernama Bollero. Bila Yunho akan menjabat sebagai kepala keamanan kepolisian Bollero, Jaejoong akan menjabat sebagai salah satu hakim di sana. Keduanya akan tinggal disebuah rumah yang khusus disiapkan untuk para murid sekolah tinggi negara yang sedang melakukan magang, rumah itu diurus oleh beberapa pelayan, prajurit dan kereta kuda untuk menunjang tugas mereka selama di sana. Mereka juga akan menerima gaji sebagai mana mestinya sesuai dengan pangkat pejabat setingkat kedudukan yang mereka isi.

“Aku iri….” gumam Jaejoong, “Tapi para pelayan sudah menyiapkan bekal untukku sejak beberapa hari yang lalu.”

Yunho hanya bisa mengulum senyumnya, pemuda menawan di hadapannya ini memang sering kali bersikap kekanakan mengingat Jaejoong memang satu-satunya cucu yang dimiliki oleh sang hakim tertinggi yang dibesarkan penuh dengan kemanjaan dan kasih sayang.

“Aku akan menunggumu di depan penginapan Big East besok pagi. Jangan sampai terlambat atau aku akan pergi tanpamu.” Ucap Jaejoong yang segera mengambil jalan menikung ke arah kanan, meninggalkan Yunho yang hanya menatapnya dalam diam.

“Bisakah aku bertahan selama setengah tahun itu bersama, Boo?” gumam Yunho penuh kegetiran sebelum melangkahkan kakinya ke arah jalan yang lurus di depannya.

.

.

Kabut belum lagi terkikis oleh cahaya matahari yang mulai menghangat ketika Yunho berdiri menunggu di depan sebuah penginapan berpapan nama Big East bersama beberapa orang pengawal pribadinya menunggu kedatangan Jaejoong. Pemuda berparas menawan yang kemarin memperingatkan dirinya justru terlambat datang.

Mianhae Yunho ya….” Jaejoong berlari-lari kecil mendekati Yunho diikuti lima orang pengawalnya yang masing-masing membawa bungkusan besar di tangan mereka.

“Apa yang membuatmu datang terlamat, Jae?” tanya Yunho yang walaupun sedikit kesal namun tetap mengulum senyum ketika melihat napas Jaejoong terengah.

Harabojie menceramahiku sebelum membiarkanku pergi.” Jawab Jaejoong, “Taruh barang-barangku di atas kereta!” perintah Jaejoong.pada para pengawalnya.

“Apa yang Harabojiemu katakan?”

“Katanya aku harus menjaga kehormatan diri dan keluarga, tidak boleh masuk ke rumah para gisaeng, tidak boleh terlibat dalam korupsi, kolusi dan nepotisme, tidak boleh berbuat onar dan yang paling penting tidak boleh kalah darimu.”

“Benar-benar Hakim Kim….” gumam Yunho. “Kajja! Ku rasa keretanya siap berangkat sekarang. Perjalanan kita memakan waktu lima hari empat malam lamanya, kita harus bergegas.”

Jaejoong memerintahkan para pelayannya untuk pulang sebelum dirinya menaiki kereta yang akan membawanya ke Bollero, “Kirim surat atau kurir bila sesuatu terjadi di rumah.” Ucapnya yang langsung meraih tangan Yunho yang terjulur padanya, membantunya menaiki kereta.

Roda kereta berderak ceepat dan keras ketika para kuda pilihan itu mulai menarik kereta dibawah kendali dua orang kusir di depan. Suara langkah kuda yang berpacu mengiringi suara derak roda kereta, ada beberapa prajurit khusus yang akan mengawal kereta sampai ke Bollero mengingat dua orang yang berada di dalam kereta itu adalah keturunan keluarga bangsawan yang mungkin kelak akan menjadi pejabat pemerintahan yang hebat.

“Aku mencium aroma gingseng merah.” Gumam Jaejoong.

Umma menyiapkan satu kotak penuh gingseng merah.” Jawab Yunho, “Aku akan membaginya denganmu nanti.”

“Bolehkah aku tidur sebentar? Harabojie terus memberikan wejangan padaku sejak kemarin. Ku rasa aku hanya tidur 2 jam saja malam tadi.”

Yunho tersenyum ketika melihat berkali-kali Jaejoong menguap, “Tidurlah! Gunakan bahuku sebagai sandaran karena kau tidak akan bisa tidur berbaring di dalam kereta ini.”

Jaejoong mengangguk pelan, menggeser duduknya hingga tubuhnya menempel pada tubuh Yunho, merebahkan kepalanya dan menggunakan bahu Yunho sebagai sandaran sebelum menutup kedua mutiara rusa betinanya yang indah, “Yun….” gumamnya.

“Hm?” sahut Yunho.

“Apa kau sudah dengar soal Putra Mahkota?”

“Putra Mahkota yang memiliki simpanan seorang namja?” tanya Yunho.

“Kau sudah tahu rupanya.” Ucap Jaejoong tanpa membuka matanya, “Bagaimana menurutmu? Hubungan seperti itu….”

“Kenapa dengan hubungan seperti itu?” tanya Yunho yang langsung memotong ucapan Jaejoong.

“Aku benci!”

Yunho terdiam, kepalanya menoleh menatap wajah menawan yang terlihat sedikit lelah dan mengantuk itu.

“Aku tidak suka hubungan seperti itu!”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak mau menjadi simpanan. Aku tidak mau menjadi nomor dua.”

“Maksudmu kau tidak keberatan hubungan antara Putra Mahkota dan namja itu?”

“Kenapa harus? Mereka yang menjalani jadi kenapa aku harus keberatan? Aku hanya tidak suka Putra Mahkota menjadikannya simpanan. Kalau Putra Mahkota benar-benar menginginkan namja itu harusnya dia tidak menjadikannya yang kedua.” Ucap Jaejoong, “Aku tidak mau sepert Umma karena itu aku tidak mau menjadi yang kedua! Aku ingin menjadi yang pertama dan satu-satunya.”

“Akan kau dapatkan.”

“Memang harus ku dapatkan!”

Tidak ada pembicaraan lagi anatara Jaejoong dan Yunho. Jaejoong sudah benar-benar terlelap dalam tidurnya sekarang hingga tidak menyadari lengan kokoh Yunho melingkari pinggangnya, menjaganya agar tidak terjatuh maupun terantuk akibat guncangan kereta. Yunho sendiri menatap keluar kereta, melihat pepohonan yang terlihat seperti bergerak mundur dengan cepat.

“Seandainnya aku memilihmu…. Beranikah aku menjadikanmu yang pertama dan satu-satunya, Boo? Aku menginginkanmu tetapi aku pun masih menghormati Appa dan kakekmu.” Batin Yunho dalam kegelisahan hatinya.

.

.

Matahari sangat terik ketika Yunho dan Jaejoong sampai ditempat magang mereka. Kantor kepolisian yang merangkap sebagai kantor kehakiman. Tidak buruk, sungguh tidak buruk bangunan yang menjadi kantor dua lembaga pemerintahan itu. Hanya saja…

“Tidakkah ini terlalu kumuh? Bagaimana menurutmu, Yun?” tanya Jaejoong.

Yunho mendelik tajam ketika salah seorang sipir yang menyambut mereka di depan pintu gerbang bangunan itu menatap tidak suka pada Jaejoong, “Tunjukkan etikamu pada atasan barumu!” bentaknya yang langsung mendatangkan bungkukkan hormat dari sang sipir. “Kita bisa membersihkannya, Jae!” Yunho menjawab pertanyaan Jaejoong tadi.

“Kita akan mulai kerja besok, kan? Sebelum itu aku ingin bertemu dengan semua petugas kantor kehakiman di sini! Bisa kau panggilkan mereka?” tanya Jaejoong pada sang sipir.

“Kenapa tidak masukk saja?” usul Yunho.

“Kotor! Aku tidak mau masuk ke dalam sana! Aku bisa menulis surat pada Raja tentang betapa tidak terurusnya tempat ini, bila kau berkeras memaksaku masuk! Kau lupa? Aku masih kerabat dekat Raja.” Jaejoong menatap Yunho serius, seserius keinginannya untuk merobohkan gedung itu.. “Tunggu apa lagi? Cepat panggilkan!”

Sang sipir segera berlari masuk meninggalkan Yunho, Jaejoong dan para prajurit yang menyertai keduanya.

“Kau bisa langsung dibenci bawahanmu bila sikapmu seperti itu, Jae.” Ucap Yunho.

“Aku tidak akan berpura-pura munafik. Aku akan menunjukkan seperti apa diriku yang sebenarnya pada orang lain entah mereka suka atau tidak terhadapku! Dan karena aku tidak suka tempat kumuh dan kotor ini maka aku mengatakannya!” sahut Jaejoong.

“Kau mirip hakim Kim bila berkata seperti itu.”

“Karena aku cucunya!” mata bulat indah Jaejoong menatap beberapa rombongan orang yang berlari berbondong-bondong dari dalam gedung itu menuju arahnya dan Yunho. Pakaian yang amburadul, wajah yang kuyu dan lusuh membuat Jaejoong tersinggung. Tersinggung karena dirinya ditempatkan diantara orang-orang yang sepertinya hanya bisa makan gaji buta saja. Jaejoong bertekad selama dirinya menjabat sebagai hakim Bollero, tidak ada satu pun pegawai dibawah kuasanya yang akan dibiarkannya menganggur.

“Selamat datang Tuan….” ucap salah seorang namja paruh baya berperut buncit.

Jaejoong menatap sekumpulan orang itu dengan tatapan jijik dan meremehkan, “Apa kalian minum-minum di tempat kerja?!” bentaknya membuat nyali segerombolan orang itu menciut, “Siapa yang menjabat sebagai wakil hakim Bollero? Majulah ke depan!”

Seorang pemuda seusia Jaejoong namun sedikit lebih tinggi darinya maju dan membungkukkan badannya, memberi hormat pada Jaejoong.

“Siapa namamu?” tanya Jaejoong.

“Shim Changmin.” Jawabnya.

“Changmin sshi, aku ingin kau menyuruh orang untuk membersihkan dan merenovasi tempat ini! Aku ingin semuanya selesai dalam waktu satu minggu!” perrintah Jaejoong.

“Ta… tapi….”

Jaejoong mendelik menatap Changmin, “Kau menolak perintahku?!”

“Tidak.. Tentu saja tidak, Tuan. Hanya saja….” Changmin melirik sekumpulan orang yang berdiri di belakangnya.

“Selama aku menduduki posisi Hakim tertinggi di Bollero, perintahku adalah mutlak! Aku tidak mau ada bantahan sedikit pun! Aku tidak mau ada aroma alkohol yang tercium selama jam kerja berlangsung. Pun dengan para petugas kepolisian yang berada di gedung yang sama denganku! Ada waktu tersendiri untuk mabuk dan bersenang-senang, tetapi bukan pada saat jam kerja. Kalian mengerti?!”

Ne!” sahut semua pegawai kantor kehakiman dan kepolisian dengan sedikit malas-malasan.

“Aku, tidak akan ragu memecat kalian semua bila kalian tidak bekerja dengan benar!” ucap Jaejoong, “Dan Changmin sshi, aku ingin kau mengantarkan data kantor kehakiman Bollero selama satu tahun terakhir ke rumah dinasku nanti sore. Kau mengerti?”

Ne, Tuan.” Jawab Changmin.

Jaejoong menatap papan nama yang tergantung di atap pintu gerbang yang nyaris roboh itu seekali lagi, “Dan ku harap kalian bisa berpakaian lebih rapi dan sopan besok, atau serahkan surat pengunduran diri kalian padaku!” ditunjuknya beberapa orang yang menurutnya berpakaian kurang layak, “Aku menunggumu di kereta.” Ucapnya pada Yunho sebelum berjalan menuju kereta diikuti beberapa prajuritnya.

“Mohon maafkan dia. Dia dibesarkan dengan tingkat kedisiplinan yang sangat tinggi mengingat dia adalah kerabat Yang Mulia Raja.” Ucap Yunho menatap tajam beberapa orang yang mulai mencibir kelakuan Jaejoong tadi, “Dan aku yang akan menduduki kepala Kepolisian Bollero mungkin jauh lebih parah darinya. Karena itu ku harap kalian bisa menyiapkan diri kalian sebaik mungkin.” Ucapnya lagi.

“Tuan….” seorang pemuda yang memakai setelan berwarna jingga membungkuk pada Yunho, “Namaku adalah Park Yoochun, aku adalah wakil kepala polisi terdahulu.”

“Senang bertemu denganmu. Dan siapa temanmu itu?” tanya Yunho menunjuk seorang pemuda lainnya di samping Yoochun.

“Kim Junsu imnida.” Ucapnya mengenalkan dirinya sendiri.

Yunho mengangguk kecil pada Junsu sebelum kembali menatap Yoochun. “Sama seperti yang dikatakan Jaejoong tadi, aku pun ingin melihat arsip kepolisian selama setahun belakang ini. Bisa kau antarkan ke rumah dinas kami sore nanti? Kau bisa datang bersama Changmin, Yoochun?”

“Tentu saja Tuan.” Jawab Yoochun.

“Tempat ini perlu direnovasi dan dibersihkan. Bantulah Changmin mengurusnya.” Perintah Yunho, “Sangat mudah merombak sebuah instansi tetapi susah merombak karakter manusia-manusia didalamnya. Kalau kalian ingin mengundurkan diri, silahkan saja. Tetapi kalau kalian ingin tetap bekerja di sini, kalian tidak boleh main-main!”

Ye!” sahut semua orang di sana.

Sekali lagi Yunho mengangguk sebelum berjalan pergi menuju kereta, menyusul Jaejoong yang sudah menunggunya.

“Aku akan menyukai atasan baru kita kali ini.” Gumam Yoochun yang diangguki oleh Junsu.

“Biar para tua bangka itu bisa bekerja lebih baik dan tidak makan gaji buta!” sahut Changmin yang menunjukkan seringainya.

.

.

Tidak terlalu besar memang, tetapi rumah Dinas yang disediakan untuk Yunho dan Jaejoong cukup bersih dan nyaman ditinggali. Rumah itu memiliki pekarangan dan halaman yang cukup luas dan kandang kuda untuk tempat beristirahat kuda-kuda mereka serta menyimpan kereta kuda mereka. Rumah utama hanya digunakan sebagai ruang kerja dan tempat tidur bagi Yunho serta Jaejoong. Untuk menerima tamu tersedia pendopo kecil di sisi sebelah depan yang dikelilingi oleh pohon bunga sakura dan beberapa tanaman bunga lainnya. Bangunan dapur serta tempat tidur bagi pelayan dan prajurit yang menjaga mereka ada di samping rumah utama. Di sisi bagian belakang rumah utama ada sebuah kolam pemandian air panas yang terhubung langsung dengan rumah utama. Sisanya, rumah dinas itu terlihat seperti rumah-rumah pada umumnya.

“Ku harap kau betah tinggal satu atap bersamaku.” Ucap Yunho yang sedang menikmati teh sorenya sambil menunggu kedatang orang yang tadi siang dimintanya membawakan laporan.

“Asal kau tidak membawa para gisaeng masuk kemari atau mangadakan pesta minuman keras di sini, aku tidak keberatan.” Sahut Jaejoong yang sejak tadi menatap bangunan rumah utama, cemas kalau-kalau para pelayan itu tidak bisa mengurus barang-barangnya dengan baik..

“Berhentilah merisaukan hal yang tidak penting!”

“Berhentilah peduli padaku kalau begitu!”

“Tidak bisa.” Sahut Yunho, “Kau tahu alasannya dengan baik, bukan?”

Jaejoong hendak membuka suara ketika seorang prajurit penjaga datang ke pendopo tempat mereka berada, di belakangnya mengikuti orang yang diketahuinya bernama Changmin dan dua orang asing yang dilihatnya di tempat magangnya tadi siang. Ketiga orang itu membawa bertumpuk-tumpuk buku tebal di tangan mereka.

“Namanya Park Yoochun, wakil kepala polisi.” Yunho menunjuk Yoochun, “Dan yang berjalan di sebelahnya itu Kim Junsu. Ku rasa mereka berteman.”

“Mereka terlihat seperti sepasang suami istri dimataku.” Ucap Jaejoong.

“Begitukah?” tanya Yunho yang sama sekali tidak mendapat jawaban dari Jaejoong.

“Terima kasih sudah mengantar mereka, tapi bisakah kau meminta pelayan menyiapkan 3 cangkir teh lagi untuk mereka, dan ambilkan sebuah meja untukku!” pinta Jaejoong pada prajurit penjaganya sebelum orang itu berjalan menuju rumah dapur.

“Duduklah Yoochun, Changmin, Junsu.” Perintah Yunho, “Maaf sudah merepotkan kalian!”

Tanpa diperintah dua kali, ketiga orang yang namanya disebut oleh Yunho itu segera meletakkan tumpukkn buku di atas lantai pendopo sebelum mendudukkan diri mereka sendiri.

“Jadi katakan padaku, kenapa posisi hakim dan kepala kepolisian Bollero bisa kosong pada waktu bersamaan?!” perintah Jaejoong.

“Hakim Shim pensiun karena sudah terlalu tua.” Jawab Yoochun.

“Hakim Shim?” Jaejoong segera menatap Changmin.

“Ayah saya.” Ucap Changmin.

“Oh….” Jaejoong mengangguk paham, “Kepala polisi sebelumnya?”

“Kepala polisi Im, meninggal dalam tugas.” Yoochun menundukkan kepalanya sesaat, “Dia dibunuh saat melakukan pengejaran pada kawanan perampok di daerah tenggara.”

“Perampok itu? Sudah ditangkap?” tanya Jaejoong yang langsung menatap Yunho.

“Sudah dihukum pancung.” Kali ini Junsu yang menjawab.

Jaejoong mendesah penuh kelegaan.

“Tindak kejahatan yang sering terjadi di kota ini?” tanya Yunho yang entah sejak kapan sudah membuka-buka salah satu dari buku tebal yang dibawa oleh Yoochun, Junsu dan Changmin tadi.

Jaejoong ikut melakukan apa yang Yunho lakukan, mengambil salah satu tumpukan buku yang berada di dekat Changmin, membuka-buka dan mengamatinya dengan seksama.

“Penjambretan, pencurian, perampokan, pemerasan, penipuan, serta….”

Brak!

Bukan hanya Yoochun yang melonjak kaget saat dirinya sedang menjawab pertanyaan Yunho, kedua rekannya pun ikut tersentak kaget ketika tiba-tiba Jaejoong membanting buku yang dibacanya.

“Pajak untuk para petani 40% dari hasil panen? Apa kalian gila?!” bentak Jaejoong. “Pajak untuk petani harusnya hanya 5% dari hasil panen mereka, 10% untuk para pedagang dan 30% untuk para pemilik penginapan besar, pejabat tinggi pemerintahan serta para bangsawan. Apa-apaan ini?”

“Jae….” Yunho mengusap punggung Jaejoong lembut. Namja berparas indah itu sangat berjiwa sosial dan menjunjung tinggi kejujuran.

“Para bangsawan dan pegawai pajak yang mengurus soal pengambilan pajak itu, Tuan.” Ucap Changmin mencoba menjelaskan, “Kami tidak bisa melakukan apa-apa karena mereka berlindung dibalik kekuasaan mereka.”

“Tidak lagi!” ucap Jaejoong keras kepala, “Jung Yunho! Kau harus membantuku menangkap para lintah darah ini! Tindak kejahatan ini termasuk dalam korupsi! Pelakunya harus dihukum cambuk 100 kali dan didenda sebanyak 10 peti emas! Kau tidak takut kan Yunho?”

Yunho tersenyum penuh arti, “Kenapa harus takut bila penguasa militer di Negara kita ini berada dibelakang punggung kita, hm? Tentu saja aku akan membantumu membasmi para lintah darat itu! Kalau perlu kita gantung mereka di alun-alun kota.”

Jaejoong terlihat puas mendengar penuturan Yunho, “Kalau begitu aku bisa lega.”

Yoochun, Junsu dan Changmin hanya bisa saling berpandangan satu sama lain. Sepertinya atasan baru mereka benar-benar sedikit mengerikan.

.

.

“Jangan memaksakan dirimu!” ucap Yunho. Ditatapnya punggung yang setengahnya terbenam di dalam kolam air panas itu, menikmati indahnya permukaan kulit berwarna pucat yang tertempa sinar dari obor yang menerangi sekitar kolam. Sejak mendiskusikan dan merencanakan pekerjaan yang esok hari akan mereka kerjakan hingga petang datang, akhirnya Yunho berhasil meyakinkan Jaejoong untuk membiarkan Yoochun, Junsu dan Changmin pulang ke rumah mereka agar mereka bisa beristirahat untuk esok hari. Jaejoong sendiri tidak menolak ketika Yunho mengajaknya berendam di dalam kolam air panas sebelum makan malam dihidangkan.

Tanpa menatap wajah Yunho, Jaejoong mengulurkan sebuah handuk kecil.

Yunho pun sepertinya mengerti apa yang Jaejoong ingin dirinya lakukan. Mengambil handuk kecil yang sudah basah itu, Yunho menempatkan dirinya di belakang tubuh Jaejoong kemudian mulai mengusap bahu dan punggung namja yang menempati posisi istimewa dalam hatinya, mencegah dirinya sendiri lepas kendali ketika mereka sedang dalam keadaan seperti ini.

“Kau indah….” puji Yunho.

Jaejoong membalikkan tubuhnya, menatap Yunho yang memasang wajah terkejutnya, “Malam ini saja.”

“Huh?”

“Malam ini saja… kau boleh menyentuhku!”

.

.

TBC

.

.

Holla para kutil! #plak! Pan ada yang bilang tuh NaraYuuki & para kutil (mereka yang sering ngobrol & dekat dengan Yuuki dijuluki kutil -_- ). Ya sudahlah. Yang iri biarlah iri. Yuuki mah jadi sendiri saja. Yuuki ya begini orangnya, agak frontal kalau menyangkut DBSK & YunJae (apalagi kalau ada yang menjelekkan mereka), yang tidak suka ya silahkan menjauh yang mau menerima Yuuki yang seperti ini adanya hayo jadi teman. Udah gitu saja😀

Yang nunggu Revenge & Pembalasan Bidadari Hitam sabar ye. Ini adalah Req dari Mak Ifa, Emak ane. Dan sebagai anak yang baik bin berbakti pada Emaknye ane buatin nich epep biar ane kagak dikutuk jadi orang berotak picik🙂 muahahahahah >_< Peace ye Mak😀 V Ane mau pict Umma yang pontok sebagai bayaran🙂

Iye-iye, yang minta sekuel The Scent Of Love itu ntar ane ketik dah sekuelnya (lha semua isi feedbacknya nodong sekuel sampai kebawa mimpi, ane merinding… mana yang ngisi kotak komen lebih dari 30 orang #terharu). Sabar! Tangan ane 2, ane juga sok sibuk belakangan ini dan baru sembuh dari sakit jadi sabar ye! Ane popo atu-atu dah ntar❤

Epep ini ga akan panjang kok. (3 Chap doank mungkin😀 ) Sekali lagi yang nunggu revenge & Pembalasan Bidadari Hitam mohon sabar ya.

I beg you😉

.

.

Thursday, August 21, 2014

4:35:08 PM

NaraYuuki

32 thoughts on “Suprasegmental

  1. prtamanya sya kira cma beruang gendut yg punya perasaan k’pawang gajah ternyata mereka saling berbagi perasaan, nasib dan kehangatan#plakk
    apa akan ada bahaya yang mengintai yunjae saat mereka menjalanan tugas?

  2. yeeyyyy akhirnya muncul uga hohoho joongie celem dech tpi emak tetep cinta pan enak nunna yg baik #poppojoongie ech :v
    yuuki Chan makasih yaas udah dibuatin
    Dan berhubung yunjae itu elite n hanya satu2nya makanya kita ini juga harus elite uga yarpun jadi kutil elit #plak tpi gag apa dech seterah mereka Mau ngatain apa yg penting kita makan gag minta mereka n kita ini berdiri biatas kaki kita ndiri…. seperti arti tattonya uri saeng cinta mengalahkan ato menahklukan segalanya soooo I dont care alias no reken apa kata you😀
    yuhuuuu tumben panjang emak nulis comentnya mana gag penting lagi
    selama kita jalan dijalan yg benar pasti ada aja Aral melintang
    jadikan sebuah cibiran sebagai penyemangat untuk meraih mimpi :v
    lanjuuut lanjuuuut sekali lagi gomawo #poppoyuukiampekpingsan :*

  3. Loh bukannya appa dan umma itu masih saudara dari ayah yang sama tapi diakhir kok umma minta sentuhan appa ? Berarti masih termasuk incest yah ?
    Okey lanjut yuuki.

  4. Seru … bacanya dah ky nonton drakor kerajaan :3
    Eon tuh yunjae pacarankan😉 kalau ga masa yunpa disuruh gosok punggu umma terus apa tuh kynya ajakkan perangkan hehehe … 😜
    Ditunggu lanjutannya eon … lanjutan habis dr kolam maksudnya #kaburkekamaryunjae 😀

  5. huwwwwaaaa ff baru ff baru lg asek asek josss
    yang ini agak kaya drama2 saeguk yaw posternya pas bgt hihihihi
    hubungan dan perasaan yunjae disini masih banyak tanda tanya.

    gak peduli mau disebut apa para pengikut yuuki yang penting aku bisa baca ff yunjae yg emang makin lama makin jadi minoriti soalnya udah banyak couple2 aneh yg tiru2 hehehe peace
    yuuki lanjutkan berkarya jangan dengerin orang lain lakukan selama tidak merugikan orang lain

  6. aish yuuki cerita na bikin geregetan…ane suka sifat na umma kitty di sini. bikin ane makin cintrong aje ma umma kitty #popoummakitty. ditunggu lanjutan na ya…

  7. incest iia eon
    dan yunppa kyk nya menyembunyikan perasaannya sm jaema
    tp jaema tau tuh hihihihi
    itu bilang klo cuma boleh mlm ini aja
    kenapa hanya mlm ini aja? kasihan yunppa hahahaha

    kutil? mwoyaa -__-
    biar lah eon mereka
    iia plg mereka iri

  8. yuuki kl bikin ff pasti judul2nya unik..kadang aq bingung artinya apa..hehee
    yg pembalasan bidadari hitam n scent of love dilanjut ya..
    aq sabar nungguin kok :’)

  9. woooah yunjaeyoosumin super daebak! aku pengennya pemerintahan di negara indonesia tercintah ini ya kayak mereka2 itu.
    pasti deh para koruptor dan calon2 koruptor langsung punah hilang tak berbekas dan indonesia pun akan jaya! #esmosi

  10. Omo ^ penasaran ni ama ceritanya eoni ?? Tapi masih tetep eoni?? Untuk yang revenge udah pnasaran si umma gmana ntar ?
    Gomawo yuki eonni ff nya, ^^ *bow

  11. incest aku suka
    jae udah tau perasaan yun ya..
    tapi bagaimana perasaan jae?
    senang disini mereka hidup bareng n saling membantu di jalan kebenaran
    keren hih
    hwaiting yuuki

  12. wuahhhh…scene akhir sesuatu bgt deh kekekeek…
    sekuat apapun appa nahan kalo eomma yg ngajak langsuk luluh tuh pasti, lupa deh ama yg lain heheheheh….jae luluh ama yun tapi yun juga lemah ama jae, psangan yg unyu2…masalah ff ini simpel tp menyusahkan, yuuki jgn buat ffnya sedih bgt ye bisa remuk hati aku bacanya..
    ini ff seguk pertama yuuki bukan?berasa belum baca yg kayk gini soalnya
    ehhh…kutil?nugu?nan?ngak papa deh jd kutil cuantik mah…keunde, yuukichan namain kita kutil sie? wae?wae?karna susah diilangin ya hahahahaha….
    jangan lupa lanjutan semua ff yg belum end ye#popo

  13. Aigo!!!!
    Ternyata bersambut tangan eoh?
    Aish jaema malu” jiji eoh?

    Couple perfect dlm segala hal…

    Lanjut yuuki…keren ceritanya.

  14. ff baru lagi eon~
    ahh~ aku suka banget kalo genre ny ky gni..apalagi incest, ky ada aura tersendiri hoho
    apakah nanti cinta yunjae bkalan terhalangi sma haraboji ny jaema eon?

    kutil? masa bodo -.- mungkin dia bisul#plak haha

    d.tunggu eon ^^

  15. apa mommy ada rasa juga ke daddy??
    tumben nyerahin diri gitu..
    aigo, daddy yg kuat ye nahan godaan.. kkkkk
    suka sama sikap tegas mommy, juga daddy yg terkesan melindungi mommy tp tetep posesive juga..
    kasian yoosumin, mreka bakal kewalahan kek’a dpt atasan kek mommy ma daddy..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s