Sample Script Another Girl


 

Tittle                      : Another Girl

Writer                    : NaraYuuki

Genre                     : Romance/ Family/ Friendship

Warning                : This is DBSK Fanfiction (GS) dengan penyesuaian nama dan marga karakter dalam cerita ini agar bisa dipublikasikan secara umum dan dibaca secara umum pula tanpa berniat memprovokasi maupun menyebarkan sara. THIS IS ONLY A FAN FICTION. MISS TY BERTEBARAN. TANPA EDIT.

 

Sinopsis                 :

 

Cover - Depan Another Girl NaraYuuki

Tidak! Tidak!

Aku tidak bisa membenci kalian karena aku tidak mau terluka akibat perasaan sepihak itu.

Aku hanya masih butuh waktu untuk menyembuhkan hatiku.

Suatu hari nanti…

Aku akan menawarkan persahabatan tulus pada kalian, Kawan!

Jika aku boleh memanggil kalian kawan…

Biarkan aku berterima kasih atas pelajaran hidup yang berharga ini.

*****

Mutiara hitam rusa betina itu berbinar indah menatap pemandangan di sekelilingnya yang sangat unik dan belum pernah dijumpainya sebelumnya. Kaki jenjangnya terus melangkah diiringi suara kendaraan bermotor yang memadati jalanan sore itu. Kemarin begitu selesai mengurus administrasi di kampus barunya, Jaenna segera merapikan barang-barang yang dibawanya dari rumahnya. Mulai sekarang Jaenna akan tinggal di salah satu kamar flat yang berada di sekitar kampusnya untuk memudahkannya sebagai mahasiswa baru, atau setidaknya itulah pendapatnya.

“Di kota ini… akankah bisa ku sembuhkan luka hatiku? Atau aku justru semakin terlarut dalam persoalan hidup yang semakin rumit?” batinnya.

Langit yang terlihat berbeda, udara yang terasa berbeda, orang-orang yang berbeda, lingkungan yang berbeda. Semua benar-benar berbeda. Di kota baru ini Jaenna benar-benar sendirian tanpa siapapun yang dikenalnya. Betapa hidup ini kadang menyusahkan.

“Awas! Minggir!”

Jaenna tersentak kaget begitu melihat seorang namja mengenakan jas putih bersih tengah berlari ke arahnya, segera saja yeoja cantik berkulit sedikit pucat itu menyingkir, membiarkan namja asing itu berlalu begitu saja.

Ah… Jaenna jadi merindukan Yihan Oppanya. Sahabat yang dikenalnya melalui situs jejaring sosial itu benar-benar menjadi sahabatnya, teman bagi Jaenna ketika gadis itu membutuhkan sosok yang mau mendengarkan semua keluh kesahnya.

“Begitu sampai flat, aku akan menelpon Oppa.” Jaenna menyuarakan niat yang tiba-tiba muncul.

Eoh, maaf…. Apakah kau melihat seorang laki-laki tampan lewat sini?”

Jaenna terkejut ketika seorang yeoja menanyainya. Yeoja itu berpenampilan mencolok dengan sepatu hak setinggi 15 centimeter, rok mini yang membungkus setengah pahanya dan kemeja berwarna pink yang sedikit menonjolkan kemolekkannya.

“Orangnya tinggi, bermata sipit, bibirnya berbentuk heartlips dan memakai jas putih seperti dokter. Ah, dia memang seorang dokter jadi wajar bila memakai jas putih. Kau melihatnya?”

Jaenna menunjuk arah namja asing yang dilihatnya tadi sedikit kikuk dan ragu.

“Ah, Khamsahamnida.” Yeoja itu segera berjalan cepat meninggalkan Jaenna dengan keterkejutannya.

“Lebih baik aku segera kembali ke flat sebelum aku dikira pasien rumah sakit jiwa.” Gumam Jaenna.

****

Kamar flat sederhana yang berisi ruang tamu kecil, ranjang, meja dan kursi belajar, rak buku kecil, dapur yang tidak terlalu luas dan sebuah kamar mandi menjadi tempat hidup Jaenna untuk 2 tahun kedepan. Semoga saja. Jaenna berharap semuanya akan berjalan lancar terutama proses pembuatan tesisnya agar dirinya bisa lulus tepat waktu mengingat usianya yang kini tidak lagi muda. 24 tahun usia seorang gadis. Bagi sebagian orang usia 24 sudah lebih dari matang. Bahkan teman-temannya semasa SMA dulu hampir semuanya sudah memiliki anak. Entah apa yang terjadi pada Jaenna sehingga Tuhan tidak kunjung mempertemukannya dengan orang yang cukup pantas mendampinginya.

Mendalami dunia sastra adalah impian Jaenna, dan kini adalah awal dari segala jalan menuju impian itu. Impian yang harus ditebusnya dengan meninggalkan kota kelahirannya, meninggalkan orang tua dan sahabat yang sangat disayanginya. Tetapi Jaenna tidak menyesal sudah mengambil pilihan itu. Baginya selalu ada akhir yang pantas untuk sebuah perjuangan panjang.

Jaenna kembali melihat-lihat koran, mencari info tentang lowongan pekerjaan. Kuliah diakhir pekan pada hari sabtu dan minggu menyisakan empat hari kosong. Jaenna ingin mencari pekerjaan sampingan yang bisa menambah pemasukkannya. Uang tabungannya sudah menipis untuk menyewa flat dan membeli buku-buku pelajarannya. Resiko yang harus diambilnya ketika memilih kuliah di kota orang lain adalah biaya yang sedikit membengkak namun Jaenna pun tidak menyesal ketika menolak tawaran ayahnya untuk tetap kuliah di kota kelahirannya toh di sana banyak universitas dengan kualitas yang bagus. Tetapi karena Jaenna mencari sebuah pengalaman, gadis cantik berambut lurus sebahu itu memilih meninggalkan semua kenyamanannya demi mewujudkan mimpinya.

“Guru les? Astaga! Haruskah?” Jaenna menggerutu, “Aku ingin mencoba bekerja sebagai pelayan. Pekerjaan itu terlihat keren disetiap drama-drama yang ditayangkan di televisi.”

Hari kedua di kota baru Jaenna lewati dengan kebingungan. Benar kata Yihan, mencari pekerjaan itu susah. Dan karena terlalu serius membaca kolom lowongan pekerjaan di koran, Jaenna tertidur sambil beralaskan koran.

*****

“Oh astaga!” Jaenna tiba-tiba terbangun dari tidurnya menyadari keadaannya sekarang. Di kota baru ini dirinya sendirian, melakukan pekerjaan apapun juga sendirian. Tidak akan ada lagi suara ibunya yang membangunkannya ketika dirinya bangun kesiangan, tidak akan lagi ada ibunya yang selalu menyediakan makan pagi begitu dirinya bangun tidur. Semuanya harus dilakukannya sendirian.

“Ahh… aku lelah!” keluh Jaenna yang memaksa dirinya untuk segera bangun. Banyak hal yang harus dikerjakan hari ini. Membersihkan flatnya salah satunya, berbelanja bahan makanan untuk dirinya sendiri serta pergi ke toko buku untuk membeli buku-buku referensi yang akan digunakannya selama masa perkuliahan.

Hidup sendirian tanpa orang tua dan teman memang tidak mengenakkan, tetapi bila sudah terbiasa hal itu justru akan melatih kemandirian, dan itu yang sedang Jaenna terapkan pada dirinya sendiri sekarang. Hidup mandiri….

*****

“Kebencian itu terjadi secara sepihak. Kita bisa membenci orang lain tetapi belum tentu orang itu tahu kebencian kita padanya, belum tentu orang itu membenci kita….” Jaenna menatap nanar layar handphonenya yang digunakannya untuk membuka sebuah blog, “Benar. Mereka belum tentu membenciku tetapi aku membenci mereka. Kebencian ini memang sepihak. Tetapi bagaimana caranya agar kebencian ini hilang? Hidup dengan menanggung kebencian seperti ini sangatlah menyesakkan.”

Mata sehitam mutiara rusa betina itu menatap bulir hujan yang tiba-tiba turun ditengah perjalanannya menuju flat usai berkunjung ke toko buku. Terlalu mencintai buku hingga membuat yeoja cantik yang pada akhir tahun nanti genap berusia 24 tahun itu lupa waktu bahkan lupa bila tadi perutnya belum diisi sama sekali.

“Hujan seperti ini membuatku merana….” keluh Jaenna.

Duduk sendirian di halte ditemani suara hujan deras membuat gadis cantik itu semakin remuk redam. Entah bagaimana caranya hujan selalu mengingatkannya pada kenangan masa lalunya yang bisa dibilang tidak begitu indah namun sayang untuk dilupakan begitu saja. Hujan… hujan selalu mengingatkannya pada sosok namja itu, namja yang sudah memporak-porandakan hatinya, namja yang sudah menghianatinya, namja yang sebentar lagi akan menikahi yeoja lain, namja yang pernah menumbuhkan pohon di hatinya namun juga meancapkan belati berkarat tak kasat mata yang membuat hatinya tercabik-cabik, berdarah dan terluka parah. Terlalu parah hingga sekarang luka itu masih terasa sakit.

Aish!”

Jaenna tersentak dari lamunannya begitu mendengar suara yang sepertinya pernah didengarnya di suatu tempaat, entah dimana. Ditolehkannya kepalanya ke arah kanan, di sana sudah berdiri seorang namja berjas putih tengah membersihkan noda yang terciprat pada permukaan celana hitam dan jas putih panjangnya. Jaenna mengamatinya dalam diam.

“Hujan menyebalkan!” rutuk namja bermata kecil namun tajam itu.

“Ya. Hujan yang menyebalkan.” Gumam Jaenna pelan.

“Apa kau juga terjebak oleh hujan ini?”

Eoh?” kembali Jaenna tersentak kaget, sepertinya dirinya terlalu sering melamun akhir-akhir ini sehingga pikirannya menjadi tidak fokus.

“Hujan kadang mengacaukan semuanya.” Namja itu mendudukkan dirinya di kursi sebelah kanan Jaenna, “Namaku Jung Yunho.” Namja itu mengulurkan tangannya pada Jaenna.

Sedikit ragu namun Jaenna tetap menyambut uluran tangan itu, “Kim Jaenna.” Ucapnya, bisa dirasakannya tangan namja itu terasa sagat dingin dan kuat saat menggenggam tangannya.

“Kau mahasiswa baru?” tanya Yunho ketika melihat setumpuk buku yang diletakkan Jaenna diantara mereka, “Sastra? Kau menyukai sastra?”

Jaenna menggangguk pelan.

“Siapa sastrawan yang menginspirasimu?”

“Rendra.” Jawab Jaenna.

“Woah, sang maestro.” Yunho mengangguk-anggukkan kepalanya, “Kau pasti berasal dari luar kota, kan?”

Lagi, Jaenna mengganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

“Ah, lulus SMA ya…. Masa muda memang sangat menyenangkan.” Yunho menyandarkan punggungnya pada punggung kursi, menyamankan duduknya, “Apa teman-teman SMAmu tidak ikut kuliah di sini bersamamu?”

Jaenna mengerutkan keningnya, “Teman-teman SMAku sudah memiliki anak.”

Mwo? Bagaimana bisa?” Yunho tidak ragu menunjukkan wajah terkejutnya.

“Aku lulus SMA lima tahun yang lalu dan kebanyakan teman-teman SMAku sudah menikah.” Jaenna menjelaskan.

“Ah, maaf… wajahmu menunjukkan kau masih pantas memakai seragam SMA.” Yunho tersenyum. “Dan sepertinya hujan akan bertahan sampai sore.” Ucapnya sambil mengutak-atik handphonenya.

Jaenna diam saja, enggan menyahut omongan Yunho. Situasi yang sama dengan orang yang berbeda. Tuhan sepertinya sedang menyindirnya sekarang.

Dulu ditengah hujan seperti ini ‘dia’ menggenggam tangan Jaenna erat, menyalurkan kehangatan diantara gempuran udara dingin. Kini Jaenna duduk diam bersama namja asing yang sama-sama mencari perlindungan dari hujan yang entah kapan akan berhenti ini.

Sebuah mobil tiba-tiba berhenti di dekat halte.

Yunho berdiri dari duduknya, “Mau ku antar sampai tempat tinggalmu?” tanyanya menawarkan.

“Huh?”

Namja jangkung berwajah tampan itu tersenyum, membuat matanya terlihat seperti bulan sabit yang indah, ditunjuknya mobil yang berhenti di dekat halte tempat mereka berteduh, “Jemputanku. Kalau kau mau aku bisa….”

“Aku lebih suka menunggu hujan reda di sini sendirian.” Jawab Jaenna. Bagaimana bisa dirinya ikut namja asing yang baru dikenalnya beberapa menit yang lalu itu sementara yang menjemput namja bernama Yunho itu adalah seorang perempuan cantik. Sudah tentu perempuan itu kekasih Yunho, kan? Karena itulah Jaenna menolak walaupun sebenarnya dirinya sangat ingin segera berada di dalam flat kecilnya bergelung di dalam selimut yang hangat.

“Baiklah. Selamat menunggu.” Yunho segera berlari menerjang hujan menuju mobil yang terparkir di dekat halte.

Jaenna hanya bisa mengawasi semuanya, hingga akhirnya mobil itu berjalan perlahan dan menghilang di dalam rintikkan hujan yang semakin deras mengguyur.

“Ah… aku iri.” Gumam Jaenna. “Aku juga ingin punya seseorang yang bisa menemaniku yang selalu kesepian dan sendirian ini.”

Dalam penantiannya, Jaenna memikirkan banyak hal. Mungkin beginilah seharusnya hidupnya berjalan. Sendirian…. Sendirian yang mengajarkannya ketegaran hidup. Ditemani rintik hujan gadis cantik itu melewatkan hari itu sendirian.

Sendirian tanpa seorang pun menemaninya.

 .

.

.

.

.

I beg you! Please baca warningnya dulu karena nantinya Yuuki tidak mau disalahkan.

Resiko ditanggung sendiri!

Kalau masih berani silahkan cek link ini: 

http://nulisbuku.com/books/view_book/6282/another-girl

5 thoughts on “Sample Script Another Girl

  1. Ping-balik: LINK FF CHAPTER, NaraYuuki | NaraYuuki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s