Revenge IV


 

 

Tittle                : Revenge IV

Writer               : NaraYuuki

Betta Reader     : Hyeri

Genre               : Romance/ Modern Fantasy/ dsb.

Rate                 : M

Cast                 : All member DBSK (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan) and Others. Seiring bertambahnya Chap castnya pun akan disesuaikan.

Disclaimer:       : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut. Paragraf/ dialog yang penulisannya menggunakan Blod, Italic ataupun under line berarti itu adalah kejadian dimasa lampau (flash back), TANPA EDIT.

.

.

.

.

.

 

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

Penceritaan di Chap ini agak cepat karena Yuuki sok sibuk🙂

.

.

R3

.

.

“Bagaimana bila membuatnya menjadi bagian dari kita?”

“Jangan gila, Hyung!”

Jaejoong tersentak kaget dari tidurnya dan langsung terduduk di atas ranjang Yunho. Mata kelamnya mengerjab-ngerjab beberapa saat lamanya sebelum menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan tempatnya berada.

Yunho memelototi Changmin tajam, “Kau membangunkannya!” desisnya marah. Yunho ikut mendudukkan dirinya di samping Jaejoong, mengamati wajah bingung namja cantik miliknya sesaat sebelum meraih Jaejoong ke dalam pelukannya.

“Badanku lemas….” gumam Jaejoong.

“Itu karna Yunho hyung menghisapmu terlalu banyak.” Sahut Changmin. Disodorkannya cairan berwarna merah bening serupa sirup stawberry pada Yunho, “Obat penambah darah yang akan langsung bekerja lima menit setelah meminumnya. Aku akan keluar mencari udara segar sebentar.” Ucapnya yang langsung pergi begitu saja tanpa menunggu komentar Yunho.

“Jae, minumlah dulu.” Yunho hendak melonggarkan pelukannya tetapi Jaejoong justru melingkarkan kedua lengannya di sekitar pinggang Yunho, erat. “Lemasmu akan hilang setelah kau meminumnya.”

Jaejoong menggelengkan kepalanya pelan, mengusap-usapkan wajahnya pada permukaan dada bidang Yunho dengan manja seperti seorang anak kecil.

“Ayah dan saudaramu terlalu memanjakanmu, kan?” gumam Yunho, “Aku memaksamu Jae!” Yunho mendorong Jaejoong dengan tangan kirinya, menahan bahu namja cantik yang kini merengut kesal kepadanya. Tangan kanannya yang sedang memegang gelas berisi minuman penambah darah dari Changmin itu mendekat hingga permukaan gelasnya menempel pada bibir Jaejoong, memaksa namja cantiknya untuk meneguk minuman itu hingga habis.

Bruk!

Jaejoong kembali menghambur memeluk Yunho usai menghabiskan minumannya.

“Rasanya enak?” tanya Yunho ragu. Diletakkannya gelas kosong itu di atas meja di samping tempat tidurnya.

“Manis seperti madu walau ada pahitnya juga.” Sahut Jaejoong, “Yun….”

“Hm?”

“Bagaimana caraku pulang bila ada bekas gigitanmu di leherku?” tanya Jaejoong dengan suara yang terdengar seperti orang mengantuk.

Yunho tersenyum, “Aku akan menghilangkannya.”

“Caranya?”

Bukannya menjawab, Yunho justru mengecup bekas gigitan yang menodai leher jenjang Jaejoong, mengecup kemudian menghisap kuat-kuat bekas luka itu seolah sedang menghisap racun ular dari dalamnya.

“Ugh!” Jaejoong melenguh. Jemarinya mencengkeram kuat punggung kaus Yunho hingga kisut. Rasanya sedikit nyeri dan dingin. Jaejoong melirik kaca lemari yang berada tidak jauh dari ranjang tempatnya dan Yunho berada untuk melihat apa yang sedang Yunho lakukan padanya.

Yunho menjauhkan bibirnya dari permukaan leher Jaejoong sebelum drinya lepas kendali dan kembali menggigit namja cantik itu. Tidak ada lagi bekas gigitan pada leher Jaejoong, hanya ada bekas merah dan basah.

“Nah, sekarang Chunie akan menggorokku karena bekas merah ini!” gerutunya.

“Tidak akan ku biarkan dia melukaimu.” Ucap Yunho, “Aku akan mengantarmu pulang.”

“Luar biasa. Kalau begitu kaulah yang akan digorok oleh Chunie.”

.

.

Yunho jarang sekali, bahkan belum pernah mengantarkan orang yang dikencaninya pulang usai melakukan kegiatan mereka, bisa kegiatan apa saja. Tetapi pengecualian untuk Jaejoong. Yunho ingin memastikan Jaejoong sampai di rumahnya dengan selamat. Yunho sendiri tidak tahu kenapa dirinya bisa sangat peduli pada namja cantik yang kadang agak ketus itu. Mungkin awalnya karena wajah Jaejoong serupa dengan Youngwoong, perempuan yang pernah mengisi dan sangat berarti untuk Yunho. Namun akhir-akhir ini Yunho yakin kalau bukan hanya itu saja yang melatarbelakangi ketertarikan Yunho pada Jaejoong mengingat ada aroma dari yeoja yang sangat dibenci Yunho menguar dari dalam tubuh Jaejoong. Terlepas dari apapun alasannya, sekarang Jaejoong adalah milik Yunho dan Yunho tidak akan membiarkan apa yang sudah menjadi miliknya terlepas dari genggamannya.

“Kau pasti anak orang kaya sampai kau bisa mengendarai mobil pribadi ke rumah kami.” Yoochun berkacak pinggang di depan pintu rumahnya –rumah dinas Appanya. Tatapannya sengit dan sedikit curiga ketika melihat Yunho mengantar pulang saudaranya.

“Aku menjadi anak orang kaya untuk namja Chinguku. Jaejoong.” sahut Yunho.

Yoochun mendengus sebal, “Kau adalah namja chingu Joongie? Ya, aku tahu. Joongie sudah mengatakannya padaku tadi sebelum pergi. Jadi jangan mengatakan apa yang sudah ku tahu! Itu memuakkan.”

“Bagus.” Ucap Yunho.

“Kalia berdua sangat menyebalkan!” Jaejoong menatap tajam Yunho dan Yoochun bergantian sebelum masuk ke dalam rumah, rasanya jengah juga melihat saudara dan namja chingunya saling melempar tatapan tajam seperti yang kini Yunho dan Yoochun lakukan.

“Dan tahukah kau Jung Yunho? Sekali kau mendeklarkan dirimu sebagai miliknya, Joongie tidak akan melepaskanmu. Yah, saudaraku itu sangat posesif jadi berhati-hatilah!”

“Aku akan sangat menikmatinya kalau begitu.” Ucap Yunho yang berjalan mengikuti Jaejoong, mengabaikan tatapan tajam yang Yoochun berikan padanya.

.

.

Jaejoong hendak menutup pintu kamarnya ketika tiba-tiba saja Yunho masuk dan mendudukkan dirinya di atas ranjang Jaejoong tanpa permisi, mendatangkan tatapan tajam penuh selidik dari namja cantik pemilik mata seindah mutiara rusa betina itu, “Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kau harusnya pulang?”

“Aku hanya ingin melihat seperti apa kamar kekasihku.” Jawab Yunho asal. Diedarkannya mata setajam musang miliknya itu untuk melihat isi kamar Jaejoong yang ternyata dipenuhi berbagai macam hiasan berbentuk gajah, kucing yang paling terkenal di dunia –hello kitty dan sebuah lukisan abstrak aneh berwarna agak kelam di sudut ruangan dekat rak buku kecil.

“Lukisan itu di kirim Umma bulan lalu ketika aku masih di Jepang.” Ucap Jaejoong yang melihat kemana arah pandang Yunho berpusat.

“Saudaramu memiliki lukisan seperti itu juga?”

“Chunie? Ani. Umma memberikan sebuah bola yang ditandatangani oleh pemain basket idola Chunie. Aku lupa namanya karena aku tidak peduli.” Jawab Jaejoong, “Chunie bahkan memaksa Appa membelikannya lemari kaca untuk menyimpan bola itu.”

“Kau iri?”

Jaejoong melepas syalnya, “Semua hal dalam diri Chunie membuatku iri.” Jaejoong meraba bagian bawah dada sebelah kirinya dimana jantungnya berdetak, “Banyak hal yang tidak bisa ku lakukan karena ini.”

Yunho bisa melihat ada genangan air mata yang menggantung di mata indah Jaejoongnya.

“Pulanglah! Aku ingin istirahat. Bila kau ingin bicara padaku kita bisa melakukannya esok hari karena aku juga punya banyak pertanyaan untukmu.” Jaejoong berjalan ke arah ranjang, mengabaikan Yunho yang terus menatapnya, namja cantik itu merebahkan dirinya di tempat tidurnya, “Ah… sebagai bayaran atas apa yang kau lakukan padaku tadi, besok kau harus menjemputku! Kau mengerti?!”

Yunho mencodongkan tubuhnya pada Jaejoong, mencium bibir merah darah itu sesaat sebelum mengelus wajah pucat Jaejoong, “Tidurlah! Aku akan meminta Changmin membuatkan kapsul penambah darah untukmu.” Bisiknya seperti alunan pengantar tidur untuk Jaejoong.

.

.

“Changmin. Apa dulu Umma mencintai kita?” tanya Yunho ketika melihat adiknya itu mengendus-endus makanan yang tadi siang dibawa oleh Jaejoong ke rumah mereka.

Eoh? Molla. Mungkin saja, Hyung. Aku lupa. Lima ratus tahun lamanya memikirkan cara mematahkan kutukan sialan ini, berusaha meneliti berbagai macam obat membuatku melupakan orang tua kita, bahkan seperti apa wajah mereka pun aku tidak ingat.” Jawab Changmin yang mulai menjilat kimchi buatan Jaejoong.

Kruyuuuuuuukkkkkkk!

Changmin menatap kakaknya yang tengah mendelik padanya, “Hyung?” gagapnya.

“Apa itu bunyi perutmu, Jung Changmin?”

Changmin menelan ludahnya susah payah. Bagaimana bisa dirinya yang selama lima ratus tahun ini tidak pernah merasakan lapar, tiba-tiba karena menjilat masakan buatan Jaejoong langsung berimbas pada perutnya yang berbunyi minta diisi?

“Apa kau merasa lapar?”

Changmin mengangguk pelan, “Tiba-tiba sangat lapar, Hyung.” Jawab Changmin yang langsung melahap makanan di depannya, “Bukankah ini sangat mencurigakan, Hyung?”

Yunho menatap Changmin yang sedang melahap makanannya dengan sangat rakus tanpa berniat memberikan komentar.

“Kau… sejak bertemu Jaejoong, kau jadi tidak bisa mengendalikan dirimu sendiri. Bahkan berkali-kali ku rasakan kau nyaris kehilangan kendali atas dirimu.” Ucap Changmin disela kegiatan mengunyahnya, “… dan aku merasakan kelaparan setelah lima ratus tahun. Aku harus menyelidiki siapa Park Jaejoong sebenarnya terlepas dari kesamaan wajahnya dengan Youngwoong.”

“Lakukan saja!” sahut Yunho, “Tetapi setelah kau menghabiskan makanan itu buatkan tablet penambah darah untuk Jaejoongku.”

“Eh?” Changmin menatap kakaknya, “Jangan katakan kalau kau akan terus menghisap darahnya, Hyung! Kau bisa membunuhnya lebih cepat daripada penyakitnya sendiri!”

“Lakukan saja perintahku, Changmin!”

.

.

Jung Yunho, hm? Kau yakin dia orang yang sama?”

Yakin sekali.”

Yeoja itu melingkari bibir gelasnya menggunakan jari telunjuknya yang lentik bercat merah darah,Baiklah! Kau bisa memulai rencana semula. Membunuhnya!”

.

.

TBC

.

.

Halo, Hyeri imnida, bagapsumnida. Karena Kiki sedang pergi kemah jadi saya diminta untuk mempostkan FF ini. Kiki juga menyampaikan permintaan maaf karena belum bisa membalas feed back yang masuk satu per satu.

Selamat membaca🙂

.

.

Wednesday, August 06, 2014

3:35:44 PM

NaraYuuki

26 thoughts on “Revenge IV

  1. Ping-balik: Revenge IV | Fanfiction YunJae

  2. hmmmmm, semakin
    mencurigakan ya. disisi lain,
    senang bangets liat sikap
    posesif jae ke yunnie. really
    adore it!

    double post, tadi lupa ganti nama ^_^

  3. Hoo… sebenar.ny siapakah umma?? Apakah dia?? And siapa yang ngomong berdua di bawah itu?? ‘-‘)a
    Ga mau umma jae meninggal eonni.. *^*
    Btw… :: kaus Yunho hingga “kisut”. Rasanya.. :: itu emang kisut eoh?? Ato ‘kusut’ ??

  4. orang yg ngomong terakhir itu bikin penasaran bgt
    banyak rahasia di ff ini
    hahaha namanya juga baru chap2 awal
    lebih baik menunggu kelanjutannya

  5. bukannya lumrah kalo kamu lapar cwhang, malah aneh kalo ngak lapar itu bukan km kekekeke….
    uchun galak amat sie, yun2 cari penangkalnya cepet a.k.a sui jumma hahahaha…
    jae ama yun tenang bgt kayak bakal ada badai yg bakal dateng…serem…

  6. . minnie-oppa bisa tahan lapar 500thn…??? o.O kkk mustahil… :v
    . kyknya yunppa jetagihan darah jaemma, trus sapa nyang mw bunuh2an…??? -_-

  7. oooo eon yuki lgi kemahhh
    umma mlah nempel gtu ma appa bukannya takut
    akhirnya changmin jd foodmonster lagi hha
    siapa yeoja yg di line trakhir??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s