Consious a Lofa XVII Epilog


Tittle                : Consious a Lofa XVII Epilog

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Fantassy/ Romance/ Sad dikit?

Rate                 : M

Cast                 : All member DBSK (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan) and Others. Seiring bertambahnya Chap castnya pun akan disesuaikan.

Disclaimer:       : They are not mine but this story, Park Hyunbin & Jung Hyunno are mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut. Paragraf/ dialog yang penulisannya menggunakan Blod, Italic ataupun under line berarti itu adalah kejadian dimasa lampau (flash back) TANPA EDIT.

.

.

.

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

.

.

Consious

.

.

Yunho hanya diam mengamati istrinya yang sedang menatap venus di ufuk timur yang perlahan mulai menjingga. Sekembalinya dari Artesis dua bulan yang lalu istrinya itu memang selalu bangun sebelum subuh untuk menatap fajar yang bersemu malu-malu, tentu saja dengan setia Yunho menemaninya. Setelah kasus kaburnya istrinya ke Artesis tanpa sepengetahuannya, Yunho semakin protektif teerhadap Jaejoong dan anak mereka. Terlebih karena akhir-akhir ini Jaejoong memiliki kebiasaan bermain pedang dan memanah pada sore menjelang untuk membunuh waktu yang menurutnya membosankan. Yunho tentu saja memahami hal itu. Istrinya dulunya adalah seorang jenderal hebat yang berhasil dikalahkannya sebelum menyandang status menjadi ratu. Sangat wajar bila Jaejoong merindukan ketika tangannya menggenggam batang pedang atau melesatkan anak panah. Tetapi sekali lagi sikap protektif pada Jaejoong membuat Yunho benar-benar meletakkan istrinya dibawah pengawasannya langsung.

“Sudah waktunya.” Gumam Jaejoong. Wajahnya yang sedikit memerah akibat tamparan angin menatap Yunho lekat-lekat. “Sudah waktunya Ahra noona melahirkan.”

“Lalu?” tanya Yunho yang membiarkan tangan kanannya dicengkeram kuat oleh jemari istrinya.

“Bisakah kita ke Artesis secepatnya? Aku ingin menemani prosesi melahirkan Ahra noona. Pasti berat rasanya melahirkan tanpa kehadiran suami yang mendukung dan menyemangatinya.”

Yunho tersenyum, “Apa kau juga ingin aku menemanimu saat prosesi kelahiran anak kita, Boo?” tanyanya.

“Kalau anak yang ku kandung ini anak Changmin tentu saja dia yang akan menemaniku!” Jaejoong menghempaskan tangan suaminya yang sebelumnya digenggamnya. Entah kenapa kadang suaminya sangat menyebalkan dan tidak peka. Apakah diotak suaminya itu hanya urusan negara saja yang penting?

Yunho mendekap erat ratunya yang mulai merajuk itu, menghujani puncak kepalanya dengan ciuman yang memang sering diberikannya pada istri cantiknya. Yunho selalu suka bila menggoda istrinya. Itu merupakan hiburan termahal yang dimilikinya sebagai seorang penguasa, “Kita akan pergi. Karena semua keinginan ratuku adalah titah untukku.” Bisiknya sebelum mencium bibir semerah darah milik istrinya.

.

.

Matahari berada tepat di atas puncak kepala ketika suara kuda berpacu dari satu peleton pasukan yang terdiri dari 30 orang itu menderap mengelilingi sebuah kereta yang ditarik oleh lima ekor kuda hitam perkasa, kereta yang memiliki lambang kebesaran Cassiopeia pada setiap permukaan pintu dan jendelanya.

“Aroma musim panas.” Gumam Jaejoong, udara yang terasa panas menyengat dan kadang diiringi hujan tiba-tiba, suara ngengat dan kumbang yang mendengung di siang hari menyadarkan Jaejoong bahwa saat itu benar-benar musim panas –awal musim panas kalau boleh dikatakan.

Sudah satu hari terlewati semenjak keberangkatan mereka kemarin, masih ada setengah perjalanan yang masih harus mereka tempuh. Semenjak meninggalkan gerbang istana, Jaejoong sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya dari jemari kokoh suaminya. Jaejoong tidak tahu kenapa tiba-tiba saja perasaannya sangat gelisah.

Wae Boo? Kau ingin makan sesuatu?” Yunho menatap teduh wajah cantik istrinya yang semenjak tadi dirasakannya mencuri-curi pandang dirinya.

Jaejoong mengangguk pelan.

“Mari kita lihat…” Yunho melirik dan meraih kantung makanan yang berada di sebelahnya menggunakan tangan kirinya, kantung itu sengaja disiapkan untuk berjaga-jaga bila istrinya tiba-tiba lapar mengingat akhir-akhir ini Jaejoongnya sering sekali meminta makanan pada saat-saat yang tidak terduga. “… sepertinya kita masih punya persediaan kue gandum kering dan…”

“Yunie….”

“Hm?”  Yunho menolehkan kepalanya, menatap wajah cantik ratunya.

“Aku ingin memakanmu.”

Boo?” Yunho mengerutkan dahinya, sedikit kurang bisa menangkap maksud kalimat  yang istrinya ucapkan karena terdengar sedikit ambigu.

Jaejoong melepaskan tautan tangannya dari jemari sang suami, kedua tangan pucatnya yang berjari lentik itu mencengkeram rahang kokoh suaminya, mencium bibir berbentuk hati milik suaminya sedikit gusar. Entah kenapa tiba-tiba Jaejoong merasa perasaannya kacau, tiba-tiba merasa sedih dan kehilangan. Dilampiaskannya perasaan gelisahnya itu dengan mencium suaminya. Jaejoong tidak peduli kalau-kalau suaminya akan kehilangan kendali dan balik menyerangnya. Masa bodoh! Jaejoong hanya ingin perasaannya tenang sekarang.

Tiba-tiba kereta yang mereka tumpangi berhenti, membuat tautan bibir kedua penguasa Cassiopeia itu terlepas.

Yunho tersenyum, diusapnya pipi sang istri yang sedikit memerah, “Tunggulah di sini, Boo. Biar aku melihat apa yang terjadi di luar.” Ucapnya sebelum keluar dari kereta.

Sepeninggal Yunho, Jaejoong hanya bisa meremas-remas tangannya sendiri sambil sesekali mengigiti bibir bawahnya. Perasaan gelisah yang entah datang dari mana itu membuatnya sedikit gusar. Jaejoong ingin marah dan menjerit, bahkan kalau diperbolehkan Jaejoong ingin mengangkat pedang dan menebas ratusan boneka jerami sebagai pelampiasannya.

.

.

“Ada apa?” tanya Yunho ketika kapten peletonnya membungkukkan badan ke arahnya, “Yoochun?” Yunho menyipitkan mata setajam musangnya ketika melihat Yoochun sudah berdiri dengan wajah yang sedikit mengkhawatirkan di belakang kapten pasukan pengawalnya.

Yoochun menatap Yunho dengan raut wajah keruhnya, “Aku bersyukur bertemu kalian dalam perjalanan menuju istana sehingga waktu yang diperlukan untuk menyampaikan berita ini tidak terlalu memakan waktu lama.”

Yunho mencium ada yang tidak beres dari penuturan tangan kanannya, “Yoochun?”

“Yang Mulia Ratu? Bisakah aku bicara padanya?” tanya Yoochun.

Segera Yunho membuka pintu keretanya, tersenyum pada istrinya sebelum memanggilnya untuk turun, “Boo… Yoochun ingin bicara padamu.” Yunho mengulurkan tanyannya untuk membantu istrinya turun dari kereta.

“Yoochun Hyung?” tanya Jaejoong. Melihat wajah keruh Yoochun membuat jantung ratu Cassiopeia itu berdetak semakin keras dan cepat. Jemarinya yang lentik mencengkeram kuat-kuat lengan kanan suaminya.

“Ahra sshi….”

Noona?” Jaejoong memotong ucapan Yoochun, “Noonaku kenapa?” tanyanya.

Mianhae…. Ahra sshi meninggal semalam setelah melahirkan bayinya.”

Jaejoong tersentak, tubuhnya bergetar hebat nyaris oleng jikalau Yunho tidak segera memeluk dirinya. Mata seindah mutiara rusa betinanya itu langsung mengalirkan air mata kurang ajar. Jaejoong mulai terisak dalam pelukkan Yunho.

“Jasatnya masih disemayamkan. Kami menunggu kedatangan kalian sebelum memakamkannya.” Ucap Yoochun.

Yunho meremas bahu istrinya kuat-kuat, “Jangan tunda lagi! Kita harus bergegas.” Ucapnya, “Boo kajja masuk! Kita harus bergegas.” Dibimbingnya sang istri untuk kembali masuk ke dalam kereta.

Yoochun dan kapten pasukan pengawal segera menaiki kuda mereka untuk kemudian memacu sang kuda dengan kecepatan penuh, mereka harus cepat sampai di kota Artesis.

.

.

Kakak yang sejak dirinya mendapatkan ingatan pertamanya selalu memeluknya, menemaninya tidur, memandikannya, menyuapinya, merawatnya ketika dirinya sakit, menggantikan sosok ibu yang tidak pernah dimilikinya sejak lahir. Kakak yang walaupun sudah menorehkan luka dan kecewa dihatinya namun tetap disayanginya, kakak bahkan rela menjadi janda demi menjaga keselamatannya kini sudah tidak ada. Jaejoong hanya bisa menangis sepanjang sisa perjalanan. Bahkan dalam tidurnya pun air mata itu tidak mau kering, tidak mau meninggalkannya.

Boo….” Yunho tidak tahu harus berbuat apa demi menenangkan istrinya. Diusapnya bahu dan punggung ratunya berulang-ulang, berharap istri cantiknya akan sedikit meredakan tangisannya. Diciumnya puncak kepala ratunya berkali-kali, berharap perasaan istrinya bisa sedikit lebih baik tetapi namja cantik itu masih terus mengeluarkan air matanya. Yunho kembali teringat saat istri cantiknya itu mendatangi istananya untuk pertama kalinya dalam keadaan pasrah, menyerahkan hidupnya untuk dihabisi oleh Yunho. Ekpresi istrinya saat itu kini Yunho lihat lagi, ekpsresi kosong penuh kesedihan dan luka. Yunho tidak mau istrinya terpuruk tetapi Yunho juga tidak tahu apa yang harus diperbuatnya untuk meringankan kesedihan istrinya.

Jaejoong melesakkan wajahnya, menyembunyikan wajah sembabnya pada dada bidang suaminya, jemarinya mencengkeram erat kimono sutera yang tengah dikenakan oleh suaminya. Jaejoong tidak tahu bagaimana cara menghilangkan perasaan marah, sedih dan kehilangan yang menyergapnya kini. Jaejoong takut. Bagaimana nantinya dirinya bila Ahra tidak ada? Walaupun beberapa bulan belakangan ini dirinya dan sang kakak bersitegang dan terlibat kesalahpahaman tetapi bila Ahra menghilang seperti ini… Jaejoong merasa dicurangi, dihianati. Terasa ditikam oleh belati berkarat yang membuat dagingnya membusuk perlahan-lahan sebelum akhirnya dirinya mati.

“Yunie, rasanya sakit sekali…. Tolong usir sakitnya!” lirih Jaejoong dengan suara teredam.

Yunho mengusap kepala istrinya perlahan, meraih wajah cantik yang terlihat sangat sembab dan sendu itu sebelum mencium bibir merah darahnya yang bergetar. Terasa asin dan getir. Yunho tidak tahu harus melakukan apa untuk istrinya tetapi dulu ketika Jaejoong sedang merasa sedih mereka melewatkan malam untuk menyelami firdaus bersama, sejenak melupakan nestapa itu. Tetapi karena sekarang mereka sedang berada di dalam kereta, Yunho hanya bisa mencium dan mencumbu istrinya, berharap yang dilakukannya bisa mengalihkan pikiran istrinya dari kesedihan yang dirasakannya.

.

.

Jantung Jaejoong terasa tertohok ketika melihat buntalan yang berada di dalam gendongan Junsu. Seorang bayi perempuan yang sangat cantik dan bersih namun juga sangat rapuh. Jemari tangan kanan Jaejoong terjulur hendak menyentuhnya sementara jemari tangan kirinya semakin erat mencengkeram lengan suaminya. Air mata itu semakin deras mengalir ketika Jaejoong tidak bisa menyentuh bayi itu, Jaejoong memilih mendekap suaminya sekali lagi dan terisak keras didalam perlindungan suaminya.

“Bawa pergi dulu, Junsu!” pinta Yunho.

Tanpa menunggu lagi Junsu membawa bayi perempuan yang sedang terlelap itu keluar dari kamar Jaejoong yang berada di gedung balai kota, kamar yang menjadi kamar Yunho juga tiap kali mereka berkunjung ke Cassiopeia.

Boo, aku tahu ini berat. Tetapi Boo Jae harus kuat, hm?” Yunho mengusap-usap punggung istrinya lembut, “Boo Jae adalah seorang ratu sekarang. Ratu harus kuat, harus lebih kuat daripada seorang jenderal perang karena ratu memiliki posisi yang sama dengan raja.” Bisiknya lembut.

“Yun….”

“Ini memang menyakitkan. Tetapi mari kita lalui kesakitan ini bersama-sama, Boo.”

.

.

Jaejoong tersentak mundur, berpengangan erat pada tubuh suaminya ketika melihat jasat pucat kakaknya yang disemayamkan di dalam sebuah peti mati berlapis emas, tubuhnya ditutupi oleh selimut bunga beraneka warna yang menguarkan aroma khas, aroma kematian. Digigitnya bibirnya kuat-kuat ketika isakan demi isakkan lolos menyelinap bersama dengan derasnya air mata yang sudah membasahi wajah cantiknya. Mungkin sekarang orang yang paling berduka dan nelangsa di seluruh penjuru dunia adalah sang ratu Cassiopeia.

Noonna….” bibir Jaejoong bergetar ketika memanggil kakaknya. Dengan sangat perlahan sambil terus berpegang pada tubuh suaminya, Jaejoong berjalan mendekati peti mati itu untuk melihat wajah pucat kakaknya. Yeoja itu terlihat lebih cantik daripada biasanya walaupun wajahnya pucat. Raut wajahnya sangat cerah dan nampak bahagia. Mungkin Ahra pergi dengan tenang dalam suasana hati bahagia usai melahirkan putrinya, “Nonna….” panggil Jaejoong sekali lagi.

Yunho memeluk tubuh istrinya dari belakang begitu merasakan sebentar lagi istrinya akan meledak.

Noona bangun! Noona…. Noona bangun!” bentak Jaejoong dengan suara parau dan seraknya, “Choi Ahra bangun! Ku perintahkan kau bangun sekarang!” tubuh Jaejoong merosot dan terduduk di atas permukaan lantai marmer yang dingin.

Yunho ikut berjongkok menenangkan istrinya.

“Ku mohon bangunlah noona! Jebbal! Buatkan sup gingseng untukku lagi!” rancau Jaejoong, “Tidakkah kau kasihan pada anakmu? Tidakkah kau kasihan padaku? Ku mohon bangun! Bangunlah Noona!” Jaejoong memukul-mukul permukaan peti yang berada di hadapannya, berharap kakaknya akan bangun bila tidurnya terganggu.

Boo.” Yunho semakin mengertkan pelukkannya letika istrinya mulai meronta, memaki dan mengeluarkan sumpah serapahnya.

.

.

Tidak ada lagi air mata yang mengalir dari sepasang mutiara rusa betina yang tampak sangat sembab dan memerah itu. tidak ada isakkan yang keluar dari bibir semerah darahnya. Hanya ada tatapan datar penuh kesedihan dan luka yang tergambar jelas pada wajahnya ketika peti mati itu mulai diguyur oleh tanah merah, ketika nisan kayu sementara bertuliskan nama Choi Ahra tertancap di ujungnya, bersanding dengan nisan marmer berukirkan tinta emas di atas permukaannya yang berbunyi Kim Kibum, nama ibu mereka.

Jaejoong tidak mengenal ibunya, ia tahu wajah ibunya hanya dari lukisan yang berada di dalam kamar kakaknya. Bagi Jaejoong, ketika dirinya mengingat-ingat semua hal tentang ibu yang dilihatnya hanyaah sosok kakaknya. Melirik ke arah kanan sekitar sepuluh meter, dapat Jaejoong lihat baju perang emas yang berkilat tertempa sinar matahari, makan ayahnya. Kini Jaejoong baru menyadari bahwa dirinya sudah sebatang kara di dunia ini.

Boo….”

Ah, tidak! Masih ada suaminya, adik iparnya, Yoochun, Junsu, para penduduk Artesis, rakyatnya dan calon anaknya. Jaejoong melirik buntalan yang berada dalam gendongan Junsu. Anak malang itu adalah keponakannya. Kini dirinyalah yang harus mengambil alih dan membesarkan keponakannya yang belum sempat diberi nama itu.

.

.

“Bolehkah aku merawat anak Ahra Noona?” tanya Jaejoong ketika dirinya disuapi oleh Yunho. Sudah tiga hari berlalu semenjak pemakaman Ahra, ratu Cassiopeia itu enggan membuka mulutnya untuk makan bila tidak disuapi oleh suaminya.

“Tidak!” jawab Yunho.

“Yun….” Jaejoong menolak ketika sesendok penuh bubur itu berada di depan mulutnya.

Yunho memaksa istrinya memakan bubur itu dengan tatapan tajamnya, “Tidak! Bila Boo Jae berkeras merawatnya aku yakin setiap hari kau akan menangis karena teringat Ahra sshi. Itu tidak baik untuk kesehatanmu dan anak kita, Boo.” Ucap Yunho beralasan, “Aku tidak mau melihatmu terpuruk. Apa kau ingin aku mati perlahan-lahan karena melihatmu terus bersedih?”

“Yun….” Jaejoong menggeleng cepat-cepat, mencengkeram kimono yang suaminya pakai. Kata mati terdengar sangat menakutkan dan mengerikan untuk telinga Jaejoong sekarang. Padahal dulu sebagai jenderal Artesis dirinya siap mati kapan pun. Sekarang tidak! Jaejoong tidak mau mati! Jaejoong tidak mau kehilangan siapapun lagi!

“Biar aku Joongie, biar aku dan Chunie yang merawat Hyunbin untukmu.” Ucap Junsu.

“Hyunbin?” tanya Yunho.

“Park Hyunbin, anak Park Yoochun dan Kim Junsu. Bagus bukan?” tanya Junsu dengan wajah berbinar.

“Hyun… Bin?” gumam Jaejoong.

“Kami akan membesarkannya dengan baik. Jangan khawatir.” Yoochun meyakinkan.

Yah, ku harap anak itu nantinya tidak akan seaneh kalian!” ucap Changmin yang langsung mendapatkan pelototan tajam dari Junsu dan Yoochun.

“Bolehkah? Bolehkah kami merawat Hyunbin? Aku tidak bisa hamil sepertimu jadi biarkan Hyunbin menjadi anak kami.” Pinta Junsu.

Jaejoong menatap nanar buntalan mingul dalam dekapan Junsu lekat-lekat, “Tentu Hyung. Ahra noona pasti tidak akan keberatan juga. Tetapi… bolehkah aku memeluk dan menimang keponakkanku sebentar?”

Junsu mengangguk, berjalan menghampiri Jaejoong dan menyerahkan bayi cantik bernama Park Hyunbin itu pada Jaejoong.

“Hyunbinie…. Aku berjanji tidak akan membiarkanmu merasakan penderitaan yang dulu aku dan ibumu alami. Aku akan memastikan Junsuie Umma dan Yoochunie Appamu yang baru memberikan cinta kasih yang melimpah padamu. Aku berjanji….”

.

.

“Berjanjilah pada Umma, anakku! Berjanjilah bahwa kau akan membinasakannya.”

“Aku berjanji Umma.”

.

.

“Maafkan aku Umma…. Aku tidak bisa menepati janjiku untuk membinasakan mereka. Aku mencintainya. Aku mencintai anak dari laki-laki yang Umma benci namun Umma cintai dan puja itu. aku mencintainya dan tidak mampu menyakitinya Umma. Maafkan aku. Umma tidak keberatankan bila ia yang berasal dari keturunan lelaki itu melahirkan cucu untuk Umma? Umma…. Dia telah melahirkan cucu untukmu. Dia yang didalam tubuhnya mengalir darah laki-laki itu, Choi Siwon. Laki-laki yang Umma cintai seumur hidup Umma. Laki-laki yang ingin Umma hancurkan namun juga sangat Umma dambakan. Tidak apa-apakan Umma bila aku mencintai anak dari laki-laki itu? Tidak apa-apa bukan bila aku sangat mencintai Choi Jaejoong? Tidak apa-apakan bila darah mereka mengalir dalam diri Jung Hyunno, cucumu? Umma akan berbahagia untuk kami, kan? Karena sama seperti Umma, aku pun sangat mencintai keturunan Choi itu hingga rasanya aku memilih mati bila dia hilang dariku. Maafkan anakmu ini Umma. maafkan anakmu yang tidak mampu menepati janjiku….”

.

.

“Hyunno…. Banyak hal yang terjadi selama Ummamu mengandungmu. Maukah kau mendengar ceritanya?” tanya namja jangkung itu yang tengah memangku keponakan tampannya yang baru berusia lima tahun.

Ne, Minie Jushi.” Jawab namja kecil berwajah gempal (chuby) itu sambil menganggukkan kepalanya pelan. Matanya menekuri (memandang ke bawah) menatap ukiran indah dari belati yang dihadiahkan padanya ketika usianya baru satu tahun, belati kepemimpinan Artesis yang legendaris. Belati yang sering dimainkannya sambil duduk di atas singgasana Cassiopeia yang nantinya akan menjadi miliknya juga suatu hari nanti.

“Tetapi sebelumnya Ahjushi akan menceritakan betapa hebatnya Appa dan Ummamu ketika sedang memegang pedang.”

Bocah tampan itu mendongak menatap wajah pamannya, tersenyum lebar membuat lengkungan indah pada bibir merah darahnya yang serupa milik ibunya, membuat mata bulan sabit serupa milik ayahnya. Menyamankan duduknya di atas pangkuan pamannya.

Ummamu dulu adalah jenderal kuat kota Artesis sebelum Appamu menaklukkan kota itu dan…”

.

.

“Mohon bunuh aku!” mata segelap mutiara rusa betina itu berkilat tertempa sinar obor ketika perlahan-lahan mengangkat wajahnya untuk menatap pemimpin tertinggi Cassiopeia.

“Kenapa aku harus melakukannya?” tanya Yunho, “Kau malu karena aku sudah mengalahkanmu dan merebut kotamu?”

Namja yang tengah menahan sakitnya itu menggelengkan kepalanya pelan.

“Lalu kenapa kau ingin aku membunuhmu?” tanya Yunho lagi.

“Karena tidak ada lagi tempatku untuk pulang… karena tidak ada lagi yang bisa ku percayai bahkan diriku sendiri.” Lirih Jaejoong.

Yunho masih menatap sendu sosok yang wajahnya sudah memucat itu, Yunho tahu namja di hadapannya ini sedang menahan sakit. Kakinya terlihat gemetar dan beberapa kali nyaris jatuh, “Panggilkan tabib, dokter dan siapa saja yang bisa menyembuhkannya! Panggilkan juga Junsu! Suruh mereka ke kamarku!”

“Arra…. Walaupun aku tidak tahu apa yang akan kau lakukan padanya.” Gumam Yoochun sebelum pergi meninggalkan Yunho bersama tamunya.

“Mohon bunuh aku….”

“Daripada harus membunuhmu… bagaimana bila aku menjadikanmu milikku?” tanya Yunho.

.

.

“Kau adalah milikku dan aku adalah tempatmu untuk pulang. Aku tidak akan membiarkanmu pergi dari jangkauannku. Karena aku mencintaimu…. Karena cintaku akan membuatmu terlindungi dari kesakitan itu. Karena kau milikku dan aku milikmu. Karena ini kisah cinta kita….”

.

.

The End of Conscious a Lofa.

.

.

Belum pernah tersebut tetapi pada dasarnya Chunie Jushi & Junsuie Jumma sudah menikah.

Berakhir seperti ini.

Terima kasih untuk yang sudah like, reblog, share, memfav, follow, merivew, membaca dan mengikuti FF ini dari awal. Yuuki tidak bisa memberikan apa-apa kecuali ucapan terima kasih. Many Gomawo….

Yang menunggu lanjutan Revenge & Pembalasan Bidadari Hitam (kalaupun ada), mohon bersabar. Agak lama tetapi Yuuki akan berusaha melunasinya begitu Yuuki sempat.

Well, sekali lagi terima kasih. Apapun yang kalian masukkan ke dalam kotak review itu sangat berarti untuk Yuuki.

Jeongmal Gomawo.

.

.

Sunday, August 03, 2014

11:14:49 AM

NaraYuuki

21 thoughts on “Consious a Lofa XVII Epilog

  1. astaga nyesek juga bacany walopun yang meninggal ahra
    ahh tapi yunjae akhirnya bahagia itu yang sudah ditakdirkan
    akhir yang dramatis tapi tetap happy untuk pasangan yunjae

    menunggu karya yuuki selanjutnya
    yuuki ff mu gak pernah mengecewakan

    Semangat Berkarya!!!!!!!!!!!!!

  2. Kasihan juga, Ahra meninggal. Tapi yg penting Hyunbin punya orang tua yg menyayanginya walaupun hanya orang tua angkat. Yg terpenting Yunho dan Jaejoong hidup bahagia selamanya. Slalu Elis tunggu ff Yuuki yang chapter maupun oneshoot.

  3. epilognya sedih iia😦
    walau gg terlalu suka sm ahra, tp tetep aja bikin sedih
    kukira waktu mereka perjalanan yg ada apa2 itu yunppa eon
    untung aja bukan hehe
    kukira hyunbin bakalan diasuh jaema, ternyata suie sm chunnie iia

  4. Kalau ahra yg mati aku rapopo dech. Asal umma dan appa baik2 saja🙂
    Tp kasihan babynya ya😥 untungnya jumma dan jussi mengadopsinya #iri
    Squel eonni … hyuno baby jd raja #plakplok V hehehe.
    Semua baik2 dan bahagia hanya minie oppa yg ga dikasih pasangan. Oppa nyok nikah ama aku aja #cubitsendiri
    Dituggu epep lainnya eonni. Aku ga bosen sama tulisan eonni dan aku fans akut tulisan eonni #dapettandatangan :3

  5. epilog chap #prokprok
    huaaa~ eonni sedihhh…ksian ahra ny n hyunbin. untungg yoosu yg jd ortu ny hmm
    jaema jgn sedih2 trus ntr yunpa jg ikutan sdh..
    tpuktngan buat yunjae yg happy end hehe
    n last word epilogny m.nyntuh bnget eonni..

  6. menyesakkan…ahra yg malang, selama hidupnya dia berkorban untuk orang lain#peluk ahra
    baru kali ini kasian sama ahra keekekek…
    ooohhh yoosu udah nikah toh ngak nyangka ck,abisnya dingin2 aja mereka be2 g ada tnda2nya mereka pasangan di ff ini

    aku…aku…aku yg nunggu lanjutan pembalasan bidadari item n ff km yg laen
    hehehehe….

  7. endingny lmyn sedih..kasian ma ahra..seumur hidupny digunakan utk melindungi n mebahagiakan org lain..
    aq kaget loh tiba2 dicritain kl yoosu udah merit..tp gpp deh..demi menyingkat cerita. kan disini fokusnya yunjae

  8. huft, kirain bakalan sad karna udh diwanti2 di ending cerita sebelum’a..
    tau’a cuma menggambarkan kesedihan karna kehilangan sosok yg begitu disayang..
    emg sih, judul’a sad juga, tp ga sesedih kl mommy n daddy pisah..
    hmm, tak kuduga yoosu diem2 udh merit..
    knp ga ngundang2 eoh??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s