Pembalasan Bidadari Hitam II


 

“Appa….” remaja cantik itu menundukkan kepalanya dalm, tidak berani melihat gurat kecewa yang menghiasi wajah ayahnya, “Maafkan Joongie, Appa. Joongie sudah membuat Appa kecewa. Mianhae….”

“Ani, itu buka salah Joongie.” Mata lelah namja dewasa itu menatap sendu putra kesayangannya yang masa depannya kini terancam, “Tapi yakinkah Joongie bahwa Appa aegya adalah namja itu?”

Sang remaja menunduk lemah, “Mian Appa….”

“Bukan salah Joongie…. Uljimma!” dipeluknya sang putra erat seolah-olah takut akan hilang lagi dari pengawasannya.

.

.

.

.

.

Tittle                : Pembalasan Bidadari Hitam II

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance/ Family

Rate                 : M

Cast                 : All member DBSK and others (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan). Seiring bertambahnya Chap castnya pun akan disesuaikan.

Disclaimer:       : They are not mine but this story and Hyunno are mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut. Paragraf/ dialog yang penulisannya menggunakan Blod, Italic ataupun under line berarti itu adalah kejadian dimasa lampau (flash back) TANPA EDIT.

.

.

Pembalasan Bidadari Hitam

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

.

.

.

.

.

Dua tahun berlalu sejak kepindahan Hyunno dan sang Umma….

“Dia pintar seperti ayahnya.” Ucap Junsu, “Usianya baru 16 tahun dan dia sudah memahami ilmu bisnis selayaknya orang dewasa. Kau mengajarinya dengan baik, Chun.”

Namja tampan berpipi sedikit gempal (chubby) itu hanya diam. Matanya menatap namja remaja tampan yang hari ini merayakan kelulusannya, “Dia semakin mirip ayahnya. Aku takut ‘mereka’ akan menyadari keberadaannya. Terlebih dalam pelelangan saham perusahaan Orion nanti ‘mereka’ juga akan datang.”

“Itu artinya semuanya akan segera dimulai?” tanya Junsu.

“Ya. Dan ku harap hal itu tidak membebani anak itu.” jawab Yoochun.

Junsu mengangguk pelan, “Dia masih terlalu muda untuk terlibat dalam urusan orang dewasa.”

“Sayangnya dia harus tetap ikut terlibat untuk mengambil apa yang memang sudah menjadi haknya.” Sahut Yoochun. Namja itu tersenyum begitu melihat remaja tampan yang sejak tadi diperhatikannya berlari kecil ke arahnya.

Yah! Kau semakin tinggi saja, Little Bear!” puji Junsu.

“182. Aku lebih tinggi dari Dolpino Ahjumma sekarang.” Remaja tampan itu tersenyum hingga membuat mata kecilnya terlihat seperti bulan sabit yang indah dan menawan, “Kajja! Aku sudah tidak sabar ingin menemui Umma.”

“Yakin?” Yoochun menunjuk keruman yeoja yang memakai seragam sama seperti remaja tampan yang kini berdiri di hadapannya, “Ku rasa mereka masih ingin mengambil foto kenang-kenangan bersamamu.”

“Mereka lebih tua dariku Ahjushi. Kalau mereka secantik Ummaku, aku tidak keberatan berkencan dengan mereka. Sayang Ummaku lebih seksi daripada mereka.” Remaja itu tersenyum dan segera masuk ke dalam mobil, “Kajja! Umma sudah menungguku!”

“Dasar anak Umma!” sindir Junsu.

.

.

Buket bunga besar yang dibawanya tidak mengurangi semangatnya untuk berlarian di sepanjang bangsal yang siang itu cukup ramai. Tidak sekali dua kali suster atau dokter yang berpapasan dengannya menegurnya karena kelakuannya yang terlihat seperti seorang bocah berumur lima tahun yang sedang mencari-cari ibunya. Senyumnya melebar begitu menemukan sosok yang paling ingin ditemuinya.

Ummaaa….” lengkingan suaranya membuat beberapa pasien yang sedang berbincang di depan ruang perawatan mereka pun sontak menoleh ke arahnya. “Umma….”

Umma bisa didepak dari rumah sakit ini bila kelakuanmu seperti itu.” sosok cantik yang tengah duduk tenang di atas kursi rodanya itu tersenyum bahagia meliihat keceriaan yang putranya tunjukkan.

Buket bunga yang dibawanya segera diberikan pada sang Umma, “Untuk Ummaku yang paling cantik di dunia ini. Aku mencintaimu Umma….”

Umma tahu.”

Remaja yang masih menggunakan seragam kelulusannya itu mendorong pelan kursi roda yang diduduki oleh ibunya. Dua minggu yang lalu ibunya baru menjalani operasi pengangkatan tumor karena ada tumor jinak yang bersemayam pada perutnya.

“Hyunno ya….” sosok cantik itu memanggil nama sang remaja tampan.

Ne? Umma memerlukan sesuatu?”

“Apa yang kau dan Yoochun Ahjushimu rencanakan?”

Remaja tampan itu tersenyum, membelokkan kursi roda yang sedang didorongnya ke sebelah kiri karena di sanalah ruang rawat ibunya berada, ruang VVIP.  “Hanya ingin memberikan salam pada Appa.” Jawabnya, “Sangat tidak adil kalau kami tidak pernah bertemu sama sekali. Aku ingin tahu apakah Appa akan terkejut begitu melihatku atau tidak. Bagaimana menurut Umma?”

“Hyunno….”

“Aku anak Umma, aku akan membahagiakan Umma….” sahutnya, “Aku akan melindungi Umma mulai sekarang.”

Umma tidak selemah itu Hyunno ya….”

“Aku tetap ingin melindungi Umma.” Remaja tampan itu membuka pintu bernomor 548 perlahan kemudian mendorong kursi roda yang diduduki Ummanya ke dalam. “Umma sudah tahu kan kalau aku sudah diterima di universitas Seoul?”

“Junsu Ahjumma sudah memberitahu Umma.” Si cantik itu berdiri dari duduknya, menerima uluran tangan putranya, membiarkan remaja tampan itu memapahnya menuju ranjang rawatnya, “Kau mau mengambil jurusan apa?” tanyanya ketika dirinya sudah duduk tenang di atas ranjang rawatnya.

Management bisnis.” Jawab Hyunno, “Tapi aku juga ingin mempelajari hukum Umma. Kemungkinan aku akan mengambil 2 jurusan diwaktu bersamaan.”

“Hyunno….”

“Aku mampu Umma.” Remaja tampan itu tersenyum, “Aku tidak akan melakukannya bila aku tidak mampu. Dan karena aku yakin aku mampu maka akan aku lakukan Umma. Walaupun seandainya aku tidak mampu pun aku akan tetap melakukannya, demi Umma. Ku lakukan semua ini demi Umma.”

“Jangan memaksakan dirimu! Umma tidak suka bila kau melakukannya.”

Ani, aku menikmatinya Umma. Sungguh….” Hyunno menerima buket bunga yang Ummanya ulurkan padanya, berjalan menghampiri meja untuk meletakkan buket bunga itu ke dalam vas bunga yang sudah kosong.

“Usiamu masih 16 tahun Hyunno ya, nikmatilah masa remajamu dan jangan pikirkan soal bisnis. Yoochun Ahjusi dan Junsu Ahjumma ada untuk mengurus bisnis itu.”

Gwaechana Umma. Percayalah pada anakmu ini, ne….”

Umma hanya ingin kau tumbuh selayaknya anak remaja lainnya, Hyunno ya. Anak-anak seusiamu biasanya menghabiskan waktu di game center, tetapi kau…”

“Tidak apa-apa Umma…. Inilah pilihanku. Dan aku sangat menikmatinya. Percaya padaku, Umma….”

.

.

“Hyunno baru saja pergi bersama Yoochun, Jae….” ucap Junsu ketika melihat namja cantik itu terbangun dari tidurnya.

“Kenapa kau biarkan anakku melakukan hal berbahaya seperti itu, Ahjumma?” mata selegam mutiara rusa betina itu menatap Junsu, ada gurat lelah penuh kekhawatiran dan kesedihan yang tersimpan di dalamnya, membuat siapapun yang melihatnya akan merasa iba. Tapi sosok cantik itu enggan di kasihani. Jaejoong tidak suka bila orang lain mengasihaninya.

Namja yang sepuluh tahun lebih tua dibandingkan Jaejoong itu meletakkan irisan apel yang sudah dikupasnya di atas meja, “Hyunno sendiri yang menginginkannya Jae. Aku dan Chunie hanya mengarahkan dan membantunya semampu kami.”

Jaejoong, namja yang memiliki paras rupawan dan lebih caantik dibandingkan perempuan itu mendudukkan dirinya, bersandar pada kepala ranjang rawatnya, “Dulu dia sangat menyukai basket dan ingin masuk sekolah atlet. Aku berjanji dia akan masuk ke sekolah impiannya ketika keadaan sudah memungkinkan, tetapi sekarang…. Aku bahkan tidak mengenali putra yang sudah ku lahirkan.”

“Keadaan memungkinkan seperti apa yang kau maksud, Jae?” tanya Junsu yang menyocorkan irisan apel pada Jaejoong, “Kau tidak mau? Tanyanya lagi ketika namja cantik itu bergeming (diam saja).

“Entahlah, Ahujumma… aku juga tidak tahu keadaan memungkinkan seperti apa yang ku maksud kala itu. Tetapi aku tidak suka Hyunno bertindak terlalu nekad seperti ini. Dia hanya anak remaja yang….”

“Jae…. Mereka tidak akan bisa melukai uri Hyunno.” Junsu menggenggam tangan kanan Jaejoong erat, “Bagaimanapun juga dalam diri Hyunno mengalir garis darah mereka juga.”

Jaejoong menggelengkan kepalanya kuat-kuat, “Begitu aku keluar dari rumah sakit ini, aku akan menghentikan putraku! Aku akan membawanya pergi jauh dari sini untuk memulai kehidupan baru yang lebih baik.”

.

.

Yah! Jung Yunho! Kemana saja kau, hah?”

Remaja tampan yang mengenakan setelan jas berwarna hitam itu tersentak kaget ketika seorang yeoja menarik lengan kanannya sedikit kasar. Apa-apaan ahjumma ini? Tidak tahukah ahjumma ini kalau dirinya sedag tersesat ketika mencari ball room. “Maaf Ahjumma, anda salah orang. Namaku bukan Jung Yunho.”

Mwo?! Ahjumma? Yah!” yeoja itu memekik kesal. Namja yang dicarinya sejak tadi itu tiba-tiba memanggilnya Ahjumma? Mereka seumuran! Oh astaga!

“Ahra, apa yang kau lakukan?” suara rendah dan dalam itu berhasil menarik perhatian dua orang yang sedang terlibat kesalahpahaman itu.

Eoh? Yunho? Lalu dia….” yeoja itu menatap bingung remaja yang masih dicekalnya.

“Hyunno kau di sini?” panggil Yoochun.

Mian Ahjushi, Ahjumma ini menarik-narikku seperti sapi.” Remaja tampan itu melepas paksa cekalan sang yeoja kemudian berjalan menghampiri Yoochun sebelum menghilang dari hadapan ketiga orang yang menatap mereka dengan tatapan aneh.

“Yunho! Dia….” yeoja bernama Ahra itu menatap namja bermata musang yang sejak kedatangannya beberapa detik yang lalu selalu memasang wajah dinginnya.

“Anakmu?” tanya Jessica, yeoja berambut pirang yang mengeratkan pegangannya pada lengan kokoh sang namja.

Mwo?” Pekik Ahra.

“Mungkin ketika Choi tua itu membawanya pergi, dia sedang mengandung benihku.” Mata musang itu memancarkan sebuah binar aneh, binar yang terlihat sangat berbahaya.

.

.

TBC

.

.

.

.

Saturday, June 21, 2014

2:25:50 PM

NaraYuuki

8 thoughts on “Pembalasan Bidadari Hitam II

  1. yayyy,, bc chp 2 ny

    nado Hyunno ya, Rin jg mencintaimu #digorokYuuki

    okok, huft ini pdhl blm tegang tp Rin udh tegang, ishhh

  2. nah kan, aq tambah curiga, sebenar’a apa yg terjadi sampe daddy ma mommy ga bisa bersama??
    trs kenapa hyunno begitu membenci sosok appa’a yg belum pernah ditemui’a slama ini??
    sebener’a kenapa??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s