Consious a Lofa


Tittle                : Consious a Lofa

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Mau bantu Yuuki menentukan?

Rate                 : M-Preg

Cast                 : All member DBSK (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan) and Others. Seiring bertambahnya Chap castnya pun akan disesuaikan.

Disclaimer:       : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.Paragraf/ dialog yang penulisannya menggunakan Blod, Italic ataupun under line berarti itu adalah kejadian dimasa lampau (flash back) TANPA EDIT.

.

.

Consious a Lofa

.

. 

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

.

.

.

.

.

“Berjanjilah pada Umma, anakku! Berjanjilah bahwa kau akan membinasakannya.”

“Aku berjanji Umma.”

.

.

“Tidak Joongie, Appa tidak bisa kehilanganmu karena pertempuran bodoh ini.”

Appa, aku seorang kesatria. Aku anak Appa. Ku mohon biarkan aku membantu Appa, biarkan aku berada disisi Appa saat pertempuran itu terjadi.”

“Joongie, Appa akan lebih tenang bila kau berada di camp pengungsian bersama kakakmu.” Namja yang sudah memakai baju perang emas kebesarannya itu menepuk pelan bahu putranya.

“Aku namja Appa. Jangan perlakukan aku selayaknya seorang yeoja.” Namja berambut panjang sewarna arang itu mencengkeram kuat-kuat pedangnya. Kata-kata ayahnya sedikit banyak menyinggung harga dirinya sebagai seorang namja.

Appa tahu. Karena itulah Appa ingin Joongie berada di camp pengungsian, agar apabila Appa mati dalam pertempuran Joongie bisa mengambil alih tongkat kepemimpinan menggantikan Appa.”

Appa tidak akan mati!”

Ummamu melahirkanmu dengan mengorbankan nyawanya sendiri. Appa tidak akan membiarkan Joongie turun ke medan pertempuran karena Joongie adalah harta paling berharga yang Appa miliki.”

Appa tidak akan mati jadi berhenti berkata seperti itu!”

“Sekarang pergilah menuju camp pengungsi dan lindungi rakyat kita, Joongie! Ini adalah tugas pertama Joongie sebagai seorang pemimpin.” Kilau belati perak yang diberikannya pada sang putra berkilau terang seolah-olah ingin menyaingi kilau baju perang emasnya.

Ani!”

“Terima ini, Joongie!”

Appa!”

“Kau adalah anak kebanggaan Appa.” Dipeluknya remaja yang masih berusia 17 tahun itu erat sebelum melangkah pergi meninggalkan putranya yang sudah beruraian air mata.

“Ini sama sekali tidak adil! Aku juga ingin bertarung, Appa….” dicengkeramnya kuat-kuat belati perak harta berharga sukunya, sepasang mata hitam pekat serupa mata rusa betina yang tengah marah itu menatap nyalang pintu di hadapannya, pintu yang sudah tertutup untuknya.

.

.

Tangan pucat yeoja itu mengusap-usap wajah dingin sang namja yang sudah memejamkan kedua matanya erat. Pakaian kebanggaan yang terbuat dari emas itu koyak dibeberapa bagian, darah menyiprat, mengotori pakaian indah itu, mengurangi kilaunya.

“Choi Siwon, akhirnya kau mati juga. Ini adalah harga yang pantas untuk penghianat sepertimu.” Yeoja itu hendak mencakar wajah sang namja namun tangannya terlebih dahulu dicekal kuat-kuat.

Umma, dia sudah mati. Jangan rusak jasadnya. Biar rakyatnya bisa memakamkannya dengan layak.” Namja tampan dengan baju besi dan rambut panjang yang diikat itu mencoba menjelaskan.

“Tidak, Anakku. Orang sepertinya tidak pantas dikubur dengan layak. Dia adalah pendosa! Kau tahu, anakku? Dia adalah pendosa!” yeoja itu memekik, “Bukan hanya karena dia menikahi seorang namja dan punya anak dari namja menyedihkan itu. Lebih dari itu, Anakku… yang dia nikahi adalah adiknya sendiri. Dia adalah pendosa, Anakku! Dia pendosa yang pantas dibakar oleeh api neraka jahanam.”

Umma….”

“Anakku…. Dimana mereka?”

“Siapa yang Umma maksud?”

“Anak-anak namja brengsek ini. Dimana mereka?” yeoja itu menjerit kesetanan, mengguncang-guncang bahu kokoh putranya yang tampak kebingungan.

“Bukankah Umma bilang asal pempimpin kota Artesis mati itu sudah cukup? Kenapa Umma menginginkan anak-anaknya juga?”

“Anakku, ketika kau hendak membinasakan pohon dosa, kau harus membunuh akar hingga tunas-tunasnya juga, bukan hanya batangnya saja. Kau mengerti?”

“Tapi Umma….”

Jleb!

Mata setajam musang yang tengah berburu itu membulat ketika melihat sebuah ujung pedang menembus jantung ibunya dari belakang, membuat dada kiri ibunya bersimbah darah. Nyawanya seakan tercabut ketika dengan mata kepalanya sendiri dilihatnya tubuh sang ibu jatuh menimpa jasad pemimpin kota Artesis, Choi Siwon.

Dengan pandangan nyalang dilihatnya seorang pemuda yang memegang pedang bersimbah darah dengan tangan gemetar. Darah itu… darah yang menempel di atas permukaan pedang itu adalah darah ibunya. Dan siapapun yang sudah berani melukai ibunya harus mati.

Srak!

Plek!

Pedang hitam besarnya terayun dengan sangat cepat dan kuat hingga si pemilik kepala tidak sadar bahwa kepalanya sudah terlepas dari badannya. Darah memuncrat dari urat daging yang dipaksa terpisah oleh pedang itu. Menimbulkan genangan berwarna merah pekat di atas permukaan tanah yang kering.

“Jangan panggil namaku Jung Yunho bila aku tidak bisa membinasakan seluruh penghuni kota Artesis! Kalian semua harus menanggung apa yang sudah kalian lakukan pada ibuku.” Diangkatnya jasad ibunya dalam kepedihan dan kemarahan yang sangat besar. Langkah jenjangnya membawanya meninggalkan area medan pertempuran itu untuk kembali ke rumah. Mata tajamnya itu menyimpan kebencian dan dendam yang terlampau menakutkan untuk dijabarkan dengan kata-kata.

.

.

Perlahan-lahan baju emas itu diangkat dari tubuh yang sudah tidak bertuan, menunjukkan lekuk sempurna seorang pemimpin sejati. Isak tangis mengiringi ketika tubuhnya dibersihkan, dimandikan dengan air bunga tujuh rupa sebelum disemayamkan bersama mendiang istrinya yang sudah lebih dahulu pergi setelah berjuang melahirkan anak ke-2 mereka.

Appa…. Hiks…. Hiks…. Appa…. Appa….” putri sulungnya meraung-raung dan menjerit ketika jasad ayahnya dimasukkan ke dalam peti mati kaca sebelum dikuburkan satu liang bersama ibunya. Kehilangan ini terlalu mendadak dan dirinya belum siap, tidak akan pernah siap untuk ditinggalkan sang ayah begitu saja.

Berbeda dengan sang kakak yang sejak tadi terus menjerit dan merapalkan sumpah serapah bagi siapa saja yang sudah membuat ayahnya seperti itu, namja berkulit pucat itu hanya diam saja. Mata hitam legamnya menatap dalam-dalam jasad sang ayah yang sudah digotong untuk dimasukkan ke dalam liang kuburan. Air mata memang mengalir deras dari matanya namun dirinya tidak terisak ataupun menjerit sama seperti yang kakaknya lakukan. Diam dalam kebisuan dan kehampaan dunianya sendiri karena kini dirinyalah yang memegang jabatan sebagai pemimpin menggantikan sang ayah.

“Negara Cassiopeia harus membayar ini semua.” Batinnya.

.

.

Umma….” namja jangkung itu menjerit histeris saat tubuh sang ibu mulai ditimbun oleh tanah merah. Meronta ketika beberapa pengawal mencekal tubuhnya agar tidak menerobos untuk menghajar orang-orang yang dengan lancang berani mengotori tubuh ibunya.

“Changmin, kalau kau ingin membalas sakit hati karena kehilanganmu ini… bantulah aku meluluh lantahkan kota Artesis beserta seluruh isinya.”

Hyung….”

Dengan air mata yang bercucuran, namja jangkung itu menatap sang kakak dengan pandangan nanar. Ini pasti salah! Apa yang terjadi pada kakaknya? Mata kakaknya yang biasanya penuh dengan pancaran kasih itu kini terlihat mengerikan, tatapan mata penuh kebencian dan dendam.

“Dua tahun. Dalam kurun waktu selama itu kita persiapkan pasukan terkuat untuk menggempur kota Artesis. Kita luluh-lantahkan sarang para pendosa itu agar arwah Umma tenang di alam baka.”

Hyung?”

“Jung Changmin, kau bukan lagi bocah ingusan. Usiamu sudah 17 tahun. Kau harus mulai belajar menggunakan senjata untuk melakukan misi kita.”

“Tidak pantas Hyung bicara seperti itu sekarang.” Changmin, namja jangkung itu berujar marah. Bagaimana bisa kakaknya mengatakan hal sekeji itu ketika ibu mereka tengah dimakamkan? Apakah kakaknya sudah kehilangan kewarasannya akibat pertempuran kemarin yang membuat mereka kehilangan nyaris setengah prajurit mereka?

“Kau tidak mengerti, Dongsaeng.” Yunho melirik tajam adiknya menggunakan ekor matanya, “Meluluh-lantahkan kota Artesis berserta semua penghuninya adalah keinginan Umma. Harapan terakhir Umma sebelum penduduk kota laknat itu menusuk jantung Umma.”

Changmin menelan ludahnya, air matanya perlahan-lahan mengering. Yang tersisa dalam dirinya sekarang adalah ketakutannya pada kakaknya sendiri.

.

.

“Aku akan mengajarimu bermain pedang, Joongie.”

“Aku sudah bisa Hyunjoong Hyung.” Namja yang masih menggunakan pakaian kebesarannya sebagai seorang putra mendiang pemimpin berwarna kemerahan dengan hiasan ornamen dari benang emas yang disulam timbul itu tengah menatap kuncup-kuncup teratai.

“Kalau begitu aku akan mengajarimu memanah.”

“Aku pun sudah bisa melakukannya, Hyung.”

Namja berambut coklat keemasan itu tersenyum, “Kalau begitu aku bisa membantumu mengasah kemampuanmu untuk berjaga-jaga seandainya perang kembali pecah.”

“Kenapa Hyung mau melakukannya?” mata hitam legam itu menatap Hyunjoong penuh curiga dibalik kepolosan yang diperlihatkannya, “Apa karena sekarang Hyung sudah diangkat sebagai pemimpin menggantikan Appaku?”

“Aku hanya pemimpin sementara Jaejoongie.” Jawab Hyunjoong. “Ketika usiamu 20 tahun kau yang akan menduduki kursi kepemimpinan.”

“Tidak bila Hyung bisa memperistri Ahra noona.”

“Itu tidak mungkin karena Ahra mencintai Lee Jun Hyuk.”

“Dan kita tahu bahwa Jun Hyuk hyung meninggal dalam perang bodoh itu.” bibir semerah darah itu tersenyum mengejek, “Begitu Hyung menikahi Ahra noona selamanya Hyung akan memimpin kota ini. Atau… Hyung harus membunuhku untuk mendapatkannya. Dua pilihan yang sama mudahnya untukmu kan Hyung?”

“Aku tidak mungkin membunuhmu Jaejoongie…. Karena aku mencintaimu.”

“Aku tidak butuh cintamu, Hyung. Karena sekarang mataku tidak bisa membedakan mana yang tulus atau mana yang mencoba memanfaatkanku.” Dilemparkannya batu ke dalam kolam teratai sebelum berbalik pergi bersama angin kering yang berhembus di seluruh daratan Big East.

.

.

TBC

.

.

Saturday, May 31, 2014

9:38:16 PM

NaraYuuki

17 thoughts on “Consious a Lofa

  1. Wah … appa jd berubah😥 semoga masih belum terlalu dalam yunpa menyimpan dendam. Ditunggu lanjutannya eonni🙂 seru… cinta segitiga kayanya. Puk2 hyunjong nasibnya selalu ditolak umma😀

  2. Ping-balik: Consious a Lofa | Fanfiction YunJae

  3. waahh yunppa berubah jahat krn eomma nya dibunuh iia
    jung eomma cemburu kah? krn siwon menikah sm adiknya sendiri
    yunjae saling berperang
    otte??

  4. omo… ottoke, appa sama umma sama2 menyimpan dendam satu sama lain. apa kebencian mereka akan luntur?? apa umma dan app bisa saling cinta???
    aigo.. penasaran tingkat akut ini..
    yosh.. di tunggu next chap yuuki.

  5. annyeong~
    kim hyewon imnida…
    maaf baru nyapa padahal dah dari dulu nongol, sekali lg maaf yah#bow90erajat
    Q selalu suka cerita yuuki apapun gendre nya apalagi kalo yg kolosal n punya kekuatan2 gitu hehehe.. cara penggambarn yuuki juga bagus ko ngak aneh kayak yg yuuki bilang..
    segitu dulu yah salam kenalnya…
    selanjutnya mohon lanjutkan semangat menulisnya ^.^
    Azza… next chap selalu diriku nanti kekekekek….
    fightingggggg!

  6. ahahahaha ada yg baru ada yang baru asek asek joss

    kenapa yunjae musuhan?????????????
    penasaran kelanjutannya!!!!!!!!!
    ditunggu ditunggu!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s