Always Keep The Faith! XVIII EPILOG


“Kenapa? Hyunno tidak mau?” tanyanya sambil mengulurkan sepotong kroket daging pada anak kecil yang sangat lucu dan mengegmaskan itu. Kedua pipi pucatnya terlihat sangat gempal (padat berisi/ chubby), bibir chery merahnya merengut lucu, mata setajam musang kelam dan sangat jernih itu berkaca-kaca, “Wae?” tanyanya bingung.

“Minie hyung nakal. Tadi pagi telur Unno dimakan.” Lapornya.

Namja dewasa yang mengenakan sweter berwarna hijau lumut itu tertawa kecil, mengulurkan lengannya untuk mengangkat dan mendudukkan namja cilik tampan itu di atas pangkuannya, sosok luku nan polos yang membuatnya bisa merasakan sedikit kebahagiaan dan ketenangan. “Minie hyung nakal ne?”

Hyunno, namja yang masih mengenakan seragam Tknya itu menggangguk pelan. Bibir semerah cherynya itu masih merengut, membuat pipi gembalnya terlihat seperti bakpao.

“Lalu apa yang Unno lakukan pada Minie hyung, hm?” jari-jemari itu bergetar ketika merasakan betapa lembut dah halusnya helaian hitam Hyunno yang berada di atas pangkuannya, jantungnya berdetak sangat cepat –lebih cepat dari biasanya.

“Unno cubit pantat Minie hyung. Umma sering begitu kalau Minie hyung nakal.” Jawab Hyunno, “Umma biasanya akan mencubit perut Appa dan Hyung kalau mereka nakal.”

Air mata itu turun begitu saja….

Seandainya dirinya tidak egois, seandainya dirinya tidak keras kepala dan mau berbesar hati pasti keadaannya tidak seperti ini.

Mengendap-endap seperti pencuri hanya untuk bertemu dengan cucunya sendiri, menyelinap agar tidak dicurigai seperti seorang penculik hanya untuk bisa bicara dan memberikan hadiah-hadiah kecil pada cucunya sendiri.

Aah…. Benar!

Bila datang sejak awal namanya bukan penyesalan….

Teringat kembali kejadian beberapa tahun lalu yang sejujurnya membuatnya sedikit menyesali keputusannya…

.

“Aku bersedia….”

Ah… Jihun terlambat sudah. Berdiri seorang diri di mulut pintu lembar itu, menatap putra sulungnya yang tengah tertawa bahagia, menatap putra bungsungnya –yang untuk pertama kalinya di matanya terlihat begitu bahagia. Melihat menantunya yang harus diakuinya memang sangat cantik. Terlihat mantan istrinya yang tengah menangis haru, terlihat pula ayahnya yang berdiri menggunakan tongkat kebanggannya dengan wajah angkuh namun gurat kelelahan itu tidak sanggup menutupi rona kebahagiaan pada wajah keriputnya. Kedua besannya yang juga tengah tersenyum lebar penuh suka cita…

… meninggalkan dirinya sendirian, kesepian di mulut pintu yang lebar.

Ah….

Kesepian ini sungguh sangat menyebalkan.

Bagaimana bisa dirinya tidak dilibatkan dalam acara penting itu?

Namja yang merupakan ayah Yunho dan Changmin itu terdiam sebentar sebelum akhirnya menjadari, “Akulah yang sudah menempatkan posisiku sendiri ditempat seperti ini. Aku yang memilih jalannya hingga menjadi seperti ini. Lalu kenapa aku harus menyalahkan orang lain? Kenapa aku harus mencari kambing hitam sebagai pembenaran tindakkanku? Tidak! Tidak! Ini memang salahku! Salahku….”

Perlahan-lahan Jihun berjalan pergi meninggalkan pesta pora yang sedang berlangsung di sana. Sendirian, kesepian tanpa siapa-siapa.

.

.

.

.

.

Tittle                : Always Keep The Faith! XVIII EPILOG

Author              : NaraYuuki

Betta reader      : Hyeri

Genre               : Family/ Romance

Rate                 : -M

Cast                 : All Member DB5K

Disclaimer:       : They are not mine  but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

AKTF

.

.

Mata lelah itu terbuka. Peluh membasahi sekujur tubuhnya. Mata musang lelahnya menatap langit-langit kamar yang pucat dimana sebuah lampu neon menyala redup, seolah sedang menyejek kebodohannya selama ini, seolah sedang menyindirnya dengan makian paling memilukan yang pernah didengarnya, seolah sedang menatapnya dengan tatapan angkuh, dingin, sinis dan penuh belas kasihan.

Ya….

Jung Jihun kini haus akan belas kasihan orang… melupakan urat malu dan sifat angkuh yang selama ini melekat pada pribadinya yang keras dan tegas.

“Menyedihkan…. Bahkan aku harus bermimpi dulu untuk bisa bertemu dan memeluk cucuku sendiri. Benar-benar menyedihkkan….” lirihnya pelan dalam kesunyian malam yang semakin tenggelam dalam bersama kerlip bintang yang terlihat dari celah gorden yang menari-nari anggun menutupi jendela kaca.

Sungguh menyedihkan….

.

.

“Apa yang merisaukanmu, Yun?” doe eyes hitam itu menatap wajah keruh namja yang duduk di sampingnya. Sudah lama sekali namja cantik itu tidak melihat wajah Yunho seperti sekarang. Wajah tampan Yunho terlihat sangat tegang, panik dan terlihat sedikit bingung. Jaejoong tahu ada yang tidak beres pada ‘suami’nya.

Dengan tangan kanannya Yunho mengusap wajah Jaejoongnya, orang yang sangat ia butuhkan pada saat-saat seperti sekarang. Saat semuanya begitu membingungkan dan penuh ketegangaan. Bukan karena masalah kakek Sun Woo yang kemarin meminta Yunho mengambil tanggung jawab sebagai Presiden Direktur menggantikan Kakek Sun Woo, melainkan masalah lain. Masalah yang kadang membuat tidur malamnya terganggu.

Masalah ayahnya….

Jung Jihun….

Boo….” Yunho menciumi jemarri lentik yang sering mengusap punggungnya ketika sedang lelah atau resah seperti sekarang ini, “Appa masuk rumah sakit.”

Mata Jaejoong membulat. Walaupun hubungannya dengan ayah mertuanya sama sekali tidak ada kemajuan tetapi Jaejoong berharap akan mendengar kabar yang lebih membahagiakan tentang ayah mertuanya itu bukan kabar mengejutkan –cenderung menyedihkan seperti apa yang baru saja didengarnya dari Yunho.

“Ada tumor di kepalanya dan posisinya sangat membahayakan.” Ucap Yunho, “Sekertaris pribadi Appa yang memberitahuku saat di kantor tadi.”

Jaejoong mengusap lengan Yunho pelan. Jaejoong sendiri cukup kaget dengan berita itu tetapi dalam persoalan ini kekagetannya sama sekali tidak diperlukan. Yunho lebih memerlukan ketegaran dan ketenangan yang dimilikinya bukan kekagetannya karena sekarang suaminya itu butuh tempat bersandar dan Jaejoong tahu bahwa dirinyalah yang akan menjadi tujuan Yunho bila namja tampan bermata musang itu sedang gundah.

“Kau ingin menemui Appa?”

“Bolehkah?” tanya Yunho, terlihat seperti orang linglung.

“Tidak akan ada yang melarangmu bertemu Appamu sendiri, Yun.”

Yunho menatap Jaejoong lembut, memeluknya erat seolah-olah enggan melepaskannya, “Tapi Appa bersikap tidak baik padamu, Boo. Aku tidak suka. Bahkan dia tidak datang ketika pesta pernikahan kita…. Ketika Hyunno lahir pun Appa tidak mau datang untuk melihat cucunya. Aku tidak bisa menerima itu semua, Boo…. Tidak bisa….”

“Tetap saja…. Kau harus pergi, Yun….” Jaejoong mengusap lembut punggung namja yang tengah menghimpit tubuhnya hingga menekan punggungya pada sandaran sofa tempat mereka duduk, “Mungkin saja Appa sangat membutuhkanmu sekarang. Mungkin dengan kehadiranmu hatinya akan luluh…. Kita tidak mau menjadi anak durhaka, bukan?”

“Aku membutuhkanmu bersamaku, Boo.” Lirih Yunho, “Aku tidak yakin bisa mengatasi gejolak kemarahanku bila kau tidak ada bersamaku.”

“Aku akan menemanimu, Yun….” ucap Jaejoong, “Besok kita akan pergi bersama. Changmin dan Hyunno akan ikut bersama kita juga.”

Yunho melepaskan pelukkannya, menatap lekat doe eyes indah yang selalu membuatnya tenang, “Hyunno? Ikut?” tanyanya.

“Setidaknya uri Hyunno harus mengenal kakeknya.” Jawab Jaejoong.

“Kau yakin Boo? Pak tua satu itu sangat keras kepala dan kaku. Kau tahu itu dengan baik, kan?” tanya Yunho, sekali lagi memastikan.

Jaejoong tersenyum, mencium bibir berbentuk hati itu kemudian berujar, “Dia sama sepertimu, Yun… kesepian….” Jaejoong membelai rahang tegas suaminya, “Kita akan pergi bersama… aku tidak menerima bantahan soal ini.”

.

.

Harabojie? Sun Woo Bojie?” tanya balita tampan yang duduk di atas pangkuan sang Hyung. Badannya condong ke belang –kursi penumpang untuk menatap ayah dan ibunya yang duduk tenang di sana.

Jaejoong tersenyum dan mengusap lembut rambut hitam legam yang sangat halus milik putranya –putra bungsunya. Changmin benar-benar menjadi putra sulung Yunho dan Jaejoong. Setelah mereka menikah Yunho akhirnya mengangkat Changmin sebagai anaknya dan hal itu sudah sah dimata hukum mengingat Yunho melalui serangkaian prosedur untuk mendapatkan surat adobsi itu, “Jihun haraboji, Chagy….” jawab Jaejoong.

“Jihun Bojie? Nuguya?” tanyanya. Mata hitam legam yang terbungkus kelopak setajam musang mirip ayahnya itu mengerjap beberapa kali. Kepalanya mendongak menatap hyungnya yang juga tengah menatapnya teduh, “Nuguya hyung?”

Changmin tersenyum lebar. Adiknya itu sangat cerewet bila penasaran pada sesuatu atau apabila jawaban yang diberikan padanya kurang memuaskan –menurut balita berusia kurang dari lima tahun itu.

“Jihun Harabojie?” tanya Changmin.

Hyunno menggangguk penuh semangat.

“Jihun haraboji adalah abojienya Appa.” Ucap Changmin.

Aegya Sun Woo bojie?” tanya Hyunno. Yang Hyunno tahu dirinya adalah cicit Sun Woo bojie, sedangkan ayahnya adalah cucu dari Sun Woo Bojienya.

Ne.” Jawab Changmin.

Appaaaa…. Jihun bojie sakit?” mata polos itu beralih menatap ayahnya yang sejak tadi duduk dengan gelisah sambil terus menggenggam tangan ibunya.

Yunho tersenyum, mengabaikan kegundahan hatinya. Anaknya itu terlalu polos untuk mengerti persoalan yang sedang dialami oleh orang tuanya, “Ne….”

“Unno tidak bisa mengajak Jihun bojie main, ne?” namja kecil itu kelihatan sedikit kecewa.

Jaejoong menjulurkan tangannya, mengentuh lembut wajah gempal putranya, “Nanti kalau Jihun bojie sudah sembuh Unno bisa mengajaknya main.”

Jeongmal Umma?” tanya Hyunno.

Ne, Chagy….”

Hyunno kemudian duduk tenang di atas pangkuan Changminie Hyungnya yang duduk dalam diam di samping supir. Hyunno mulai bergumam akan mengajak Jihun Bojienya bermain apa? Hyunno belum tahu Jihun bojienya itu seperti apa dan apakah Jihun bojie akan suka pada permainan yang akan ditawarkan olehnya hingga Jung muda itu berujar, “Unno akan pinjamkan Kitty pada Jihun bojie nanti.” Kitty adalah boneka gajah berwarna pink yang Hyunno dapat dari Junsuie ‘Ahjumma’nya pada ulang tahunnya yang ke-4.

Yunho, Jaejoong dan Changmin hanya bisa mengulum senyum mendengar celotehan anggota termuda keluarga mereka. Mengabaikan detak jantung yang menggila seiring semakin terlihat jelasnya gedung rumah sakit tempat Jung Jihun dirawat.

.

.

Cukup lama Yunho terdiam di depan pintu pucat itu. menatapnya dalam kebisuan. Luapan emosi memenuhi rongga dadanya yang sempit. Marah, kesal, benci dan sakit hati bertempur sengit dengan perasaan iba, simpati dan rindu membuatnya sesak dan perasa pengap.

Jaejoong masih setia berdiri di samping Yunho. Tangan kanannya dicengkeram kuat-kuat oleh Yunho, membuat namja yang sudah melahirkan Hyunno itu tahu dan memahami seperti apa kegundahan yang kini dirasakan oleh suaminya.

Sementara Changmin berdiri tepat di belakang ‘orang tua’ barunya dalam diam. Perasaan Changmin pun sama seperti yang Yunho rasakan, bahkan mungkin lebih buruk. Changmin sama sekali belum pernah berbicara empat mata dengan ayah biologisnya, belum pernah menghabiskan waktu berdua bersama ayahnya dan kini harus dihadapkan pada situasi tidak mengenakkan seperti ini. Changmin memilih mendengar celotehan Hyunno daripada nyaris mati berdiri begini.

Changmin baru menyadari bahwa dirinya tidak lagi menggendong Hyunno. Matanya bergerak panik mencari-cari adik bandel namun sangat disayanginya itu. Melihat sekeliling, melirik ke arah ‘Umma’ dan ‘Appa’nya tetapi tidak kunjung mendapati sosok gempal yang sangat mirip anak beruang itu. Changmin benar-benar panik….

Umma…. Dimana Hyunno?!” teriak Changmin dengan panik.

“Huh?” Yunho dan Jaejoong saling berpandangan sebelum akhirnya menatap Changmin yang kini menolah ke sana- kemari.

“Hyunno tidak ada! Ottoke?!” Changmin terlihat ingin menangis. Oh, Changmin sangat menyayangi dongsaeng kecilnya. Bahkan mereka tidur di kamar yang sama.

MWO?!” untuk pertama kali seumur hidupnya Yunho panik karena sesuatu hal, “Mari kita cari! Minta bantuan pada pihak security untuk membantu kita me….” mata musang Yunho menoleh ke arah istrinya ketika namja cantiknya itu menyentuh lengannya.

Jaejoong tersenyum, telunjuk jari kanannya menunjuk pintu pucat yang sejak tadi mereka pandangi dalam diam. Pintu itu terbuka sedikit sehingga mereka bisa melihat apa yang terjadi di dalamnya. Terlihat Hyunno sedang tertawa terbahak-bahak bersama seorang namja dewasa di atas tempat tidur. Beberapa kali namja dewasa itu mengusap dan menggelitikki badan gempal Hyunno.

Yunho dan Changmin terdiam melihatnya. Sejak kapan Hyunno sudah berada di dalam sana?

“Aku mau masuk. Kalau kalian masih ingin berdiri di sini, silahkan saja!” ucap Jaejoong.

.

.

Suasana yang awalnya canggung ketika Yunho, Jaejoong dan Changmin masuk segera mencari karena celotehan Hyunno. Jung Jihun sendiri tidak mau melepaskan cucunya. Namja yang sedang duduk di ranjang itu menemani Hyunno bermain domino –yang selalu dibawanya dalam tas kecilnya berbentuk kepala gajah beserta belali 3 dimensinya. Ada beberapa robot mainan kecil dan beberapa biji kelereng di dalam tas berbentuk lucu itu. Sesekali Hyunno memekik kegirangan atau menepuk-nepuk pungung tangan Jihun pelan ketika namja berstatus kakeknya itu kalah bermain darinya –atau sengaja mengalah mungkin.

“Jadi apa tidak bisa dilakukan operasi?” tanya Yunho pada dokter yang menangani Jihun ketika usai memeriksa keadaan putra Jung Sun Woo itu.

“Operasi bahkan lebih membahayakan daripada membiarkan tumor itu bersarang di sana. Tetapi memang operasi adalah jalan satu-satunya untuk menyingkirkan gumpalan tumor.” Jawab sang dokter, “Saat ini tim kami sedang berunding untuk mencari jalan terbaik mengatasi kemulut ini.”

Beginikah?

Seperti inikah akhir hidup Jung Jihun? Namja yang semasa mudanya sangat arogan dan angkuh itu ditundukkan juga oleh sebuah penyakit, penyakit mematikan….

.

.

“Bisakah kau bawa Hyunno kemari besok?” tanya Jihun.

Jaejoong sedikit terkejut atas permintaan ayah mertuanya namun tidak urung tersenyum juga, mengangguk pelan sebelum membawa Hyunno dalam gendongannya. Namja kecil itu sudah tertidur lelap sekarang karena kelelahan setelah bermain dengan Jihun, “Kami pulang dulu Appa….” ucap Jaejoong yang berjalan keluar dari ruang rawat Jihun bersama Changmin, meninggalkan sumainya yang sepertinya masih ingin bicara sesuatu dengan ayah mertuanya.

Blam!

Suara pintu tertutup itu diiringi helaan napas dalam dan panjang oleh Yunho, “Kau menyedihkan?”

“Itukah yang kau pikirkan terhadap ayahmu ini?”

“Sekarang kau mengaku ayah padahal dulu kau membuangku? Luar biasa….”

Jihun tersenyum getir, “Ini cara Tuhan membalas perbuatanku pada kalian –kau dan Changmin.”

“Benar.” Sahut Yunho.

“Hyunno mirip sepertimu ketika masih kecil dulu.”

“Aku Appanya.”

“Kau mendidikknya dengan baik. Dia anak yang periang, berbeda denganmu dulu yang selalu muram.”

Yunho mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan amarahnya. “Apa yang bisa Appa harapkan? Aku dibesarkan tanpa kasih sayang ayah dan ibuku. Ku rasa sangat wajar bila aku menjadi anak yang murung.”

“Dan Jaejoong melengkapimu dengan baik….” sahut Jihun pelan. “Dia kelihatan matang dan dewasa sekarang.”

“Menjadi ibu membuatnya terlihat seperti itu.”

Appa, apakah dia baik-baik saja?”

Harabojie sedang berlibur ke Hongkong.”

“Jangan beritahu dia tentang ini!” pinta Jihun, “Seumur hidupku tidak pernah sekalipun aku membuatnya bangga. Jangan katakan hal ini padanya.”

“Aku tidak janji.”

“Kau harus!” desak Jihun, “Pulanglah! Besarkan cucuku dengan baik! Jangan sampai kau menjdi ayah sepertiku.”

“Tidak akan…. Tidak akan pernah.” Sahut Yunho.

.

.

Yunho segera beranjak menuju ruang kerjanya setelah menyapa Yoochun dan Junsu yang datang ke rumah mereka. Obrolannya bersama ayahnya tadi terngiang-ngiang di dalam tempurung otaknya. Perasaan marah itu bertabrakan dengan perasaan bersalah yang berkobar. Yunho butuh mendinginkan kepalanya sejenak.

Jaejoong yang melihat gelagat suaminya hanya membiarkan, saat ini Yunho pasti ingin sendirian untuk memikirkan hubungannya dengan Jung Jihun dan satu-satunya cara mendukungnya adalah dengan memberikan waktu bagi Yunho untuk merenung.

“Tadi Umma dan Appa menelponku, menanyakan keadaanmu dan Hyunno.” Ucap Yoochun memecah lamunan Jaejoong.

“Oh….” Jaejoong membiarkan Junsu mengambil Hyunno dari gendongangannya, beberapa menit sebelum mereka sampai di rumah Hyunno sudah bangun dan merengek ingin susu, “Kapan mereka pulang?”

“Satu bulan lagi mungkin. Appa bilang mereka butuh waktu lama untuk merayakan bulan madu mereka mengingat dulu mereka tidak bisa melakukannya.” Jawab Yoochun.

“Oh, astaga!” Jaejoong mengeluh. Ayah dan ibunya –Jaeseok dan Haeri sedang jalan-jalan ke Zurich sejak dua minggu yang lalu tetapi dirinya sama sekali tidak menyangkan orang dewasa seperti mereka bisa bersikap kekanakan seperti itu juga.

“Lalu kenapa kalian datang kemari? Bukankah kemarin kalian sudah datang ke sini juga? Mengacaukan suasana saja….” gerutu Changmin yang sudah mengunyah keripik kentang rasa kimchinya. Heran dengan kebiasaan aneh pasangan paling menyebalkan menurutnya, Yoochun dan Junsu.

“Kau akan mengerti ketika sudah menikah nanti dan istrimu tengah hamil muda, Nak.” Jawab Yoochun.

Yah!” Changmin memekik kesal sambil melemparkan keripik kentangnya pada Yoochun.

“Joongie, lihat kelakuan anakmu!”

Jaejoong tidak memedulikan keluhan Yoochun karena memang pada dasarnya mereka, Changmin dan Yoochun akan selalu bertengkar bila berada di tempat yang sama. Jaejoong mendekati Junsu dan mengusap kepala Hyunno yang berada di atas pangkuan Junsu, keduanya sedang bermain menggunakan jemari mereka yang ditautkan, “Aku akan masak untuk makan malam. Bila Hyunno rewel kau tahu dimana harus mencariku.”

Junsu mengangguk pelan, “Arraso….” ucapnya sambil menatap kepergian Jaejoong.

Sejak satu minggu yang lalu tepatnya, setiap sore Junsu dan Yoochun akan selalu mendatangi rumah keluarga Jung itu. Bukan untuk mengacau atau merecoki mereka seperti tuduhan Changmin melainkan untuk memberikan waktu pada Junsu agar bisa bermain dengan Hyunno.

Semenjak hamil Junsu memang ingin selalu bermain dengan namja gempal menggemaskan itu. menciumi wajahnya bahkan terkadang Junsu ikut tidur bersama Hyunno.

Hampir setengah tahun yang lalu Junsu berhasil menyandang status sebagai ‘istri’ Park Yoochun. Setelah dengan setia berada disisi Yoochun, menemaninya dalam suka dan duka akhirnya Junsu merasakannya juga –hal yang juga terjadi pada Jaejoong. Yah, sedikit banyak Junsu memang belajar dari Jaejoong. Ketika masuk kuliah dan banyak yeoja yang mengeremuni Yoochun ibarat lalat kelaparan, Junsu beraksi menyingkirkan yeojayeoja itu, mengklaim Yoochun sebagai miliknya hingga akhirnya namja bermarga Park itu menyerah pada Junsu. Mereka akhirnya menikah walaupun Park Jaeseok sempat mengeluh karena ingin punya menantu perempuan tetapi toh pada akhirnya ayah dua anak itu menyetujuinya juga.

Inilah yang terjadi…

Junsu tengah asyik bermain bersama Hyunno, mengabaikan suaminya dan Changmin yang tengah sibuk dengan kegiatan mereka sendiri –bertengkar.

.

.

“Yun….” Jaejoong membelai lembut wajah lelah suaminya yang tengah terlelap. Ada gurat kesedihan yang sama sekali tidak bisa disamarkan dari wajah tampan itu. Jaejoong menyadari bila ini adalah salah satu dari saat-saat berat dalam hidup mereka yang walaupun enggan harus tetap dilalui suka ataupun tidak. Dan Jaejoong akan memastikan bahwa dirinya akan menjadi yang pertama, sebagai tumpuan Yunho.

Perlahan-lahan kelopak mata sipit yang membungkus bola mata setajam musang itu terbuka. Menatap nanar doe eyes hitam kelam, “Boo….”

“Aku tahu kau ingin istirahat, tapi kau harus makan dulu.” Jemari pucatnya membelai rahang Yunho pelan, “Kau demam? Badanmu sedikit panas.”

Yunho tidak menyahut. Tangan kanannya terjulur untuk menarik lengan Jaejoong agar jatuh ke dalam pelukkannya sebelum tangan itu melilit pinggang ramping Jaejoong erat.

“Yun….” Jaejoong mengeluh. Dadanya yang bertubrukkan dengan dada sang suami terasa sedikit nyeri, “Aku memintamu untuk makan makanan yang sudah ku masak, bukan untuk memakanku Beruang Besar!”

“Kau lebih enak dibandingkan makanan apapun di dunia ini, Boo.” Yunho mencium bibir merah istrinya, memenjarakan tubuh Jaejoong agar semakin menempel pada tubuhnya, memeluknya erat.

“Katakan….” pinta Jaejoong yang kini sudah tengkurap di atas tubuh Yunho. Membiarkan suaminya itu menciumi ujung kepalanya.

“Aku bermimpi, Boo…. Mimpi yang mengerikan.” Adu Yunho. “Peluk aku, Boo! Peluk aku! Aku benar-benar takut….”

Jaejoong menyandarkan kepalanya di dada Yunho dengan nyaman. Jemari tangan kanannya membelai lengan kiri suaminya yang sejak beberapa bulan lalu bertambah tambun (gemuk). “Aku selalu bersamamu, Bear. Kalaupun aku ingin meninggalkanmu pasti sudah ku lakukan sejak dulu.”

“Aku membutuhkanmu seperti aku membutuhkan udara, Boo –bahkan lebih…. Aku bisa gila tanpamu.”

Jaejoong menengadah, menatap mata nanar Yunho. Namja cantik itu merangkak perlahan sehingga kini wajahnya sejejar dengan wajah suaminya. Jaejoong membelai wajah Yunho sejenak sebelum mengundang suaminya itu menyelami manisnya bibir mereka dalam ciuman penuh cinta. Sejenak melupakan kemelut yang menghinggapi hati mereka.

.

.

Dering telpon pagi itu menjadi sesuatu yang menyedihkan dan menyakitkan. Sebuah berita disampaikan bahkan ketika para manusia masih menikmati tidurnya. Tepat pukul tiga dini hari telpon yang memebrikan berita bahwa Jung Jihun baru saja menghembuskan napas terakhirnya terdengar di rumah keluarga Jung.

Yunho membantu di samping meja, tempat telpon rumah diletakkan. Changmin diam menunduk namun air mata terus mengalir membasahi wajahnya. Tanpa sungkan Jaejoong menangis, terisak lirih sambil memeluk tubuh Yunho yang sudah membatu seperti patung, tidak memedulikan bila air matanya membasahi piyama yang dikenakan oleh suaminya itu. Jaejoong hanya ingin mengkekspresikan kesedihannya.

Boo… tolong telpon harabojie, katakan kabar ini padanya.” Pinta Yunho. Kedua mata musangnya menatap lurus ke depan tanpa fokus, “Umma juga….”

Rasanya seperti mimpi. Padahal baru kemarin mereka menjenguk Jung Jihun, padahal baru kemarin ayah Jung Yunho itu tertawa dan bermain bersama satu-satunya cucu yang ia punya, Hyunno. Tetapi kini namja yang pernah memperistri Son Ga In itu kini telah berpulang ke tempat dirinya berasal, sisi Tuhan.

.

.

Namja yang belum genap lima tahun itu menatap bingung orang-orang di sekitarnya. Appa dan Hyungnya nampak menyalami orang-orang yang datang dengan wajah-wajah murung mereka. Sun Woo harabojie terlihat sangat lesu dengan wajah sembab sedang duduk di atas kursi roda ikut menyalami orang-orang yang kebanyakan memakai baju hitam itu. Ummanya sedang sibuk menenangkan Gain halmonie yang sejak tadi menangis bahkan nyaris pingsan.

Hyunno hanya bisa mengamati dalam kebingungannya, tidak berani bertanya pada Jaeseok harabojie yang tengah menggendingnya −tadi pagi harabojienya yang katanya sedang berlibur itu sudah berdiri muram bersama Haeri halmonie di rumahnya. Hyunno tidak mengerti kenapa orang-orang ini memenuhi rumah yang katanya adalah rumah Jihun harabojienya dengan wajah kusut seperti itu. Hyunno bingung kenapa harabojienya tidur di dalam kotak persegi panjang yang dihiasi oleh bunga-bunga berwarna-warni, Hyunno bingung karena kebisingan ini tidak mampu membuat Jihun harabojienya bangun dari tidurnya.

“Harusnya bojie tidur di kasur.”  Gumam Hyunno.

Haeri yang mendengar gumaman cucunya hanya bisa tersenyum getir sambil mengusap keoala namja cilik yang sangat mirip Yunho itu. sepertinya Yunho dan Jaejoong memang belum sempat menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Hyunno.

“Jihun harabojie akan pergi ke surga, karena itu harabojie tidur di sana.” Ucap Junsu.

“Surga?” tanya Hyunno.

Junsu mengangguk pelan, “Ne.”

“Apa itu surga?” bocah tampan itu memiringkan kepalanya.

“Tempat paling membahagiakan…. Ada banyak hal menyenangkan di sana.” Jawab Yoochun.

“Unno mau ke surga, Ahjushi….”

“Nanti ne…. Ketika waktunya sudah tiba.” Yoochun mengusap kepala keponakkannya sayang.

.

.

Peti mati itu sudah ditutupi gundukkan tanah merah, bersama dengan isak tangis yang mengiringinya. Serpihan bunga sudah di taburkan di atasnya sebagai penghargaan pada ia yang dulunya bernyawa….

Kematian… kenapa selalu terasa menyakitkan?

.

.

“Semua aset yang dimiliki oleh tuan Jung Jihun akan diberikan pada Jung Hyunno selaku cucunya. Sampai usia Hyunno cukup −18 tahun menurut hukum, aset-aset itu akan dikelola oleh orang tua Jung Hyunno dalam hal ini Jung Yunho dan Park Jaejoong. Aset-aset itu berupa rumah, 50 hektar tanah perkebunan di Jinan, Villa di pulau Jeju, Pabrik di Busan serta 60% saham di perusahaan Orion. Untuk Jung Changmin, tuan Jihun sudah menyiapkan asuransi pendidikkan sampai jenjang S3. Untuk Jung Yunho dan Park Jaejoong, tuan Jihun memberikan restu. Tuan Jihun juga meminta kalian berdua membesarkan cucunya dengan baik. Untuk nyonya Son Gain, Tuan Jihun sudah menyisihkan uang tunjangan untuk anda.”

Tiga hari setelah upacara pemakaman Jung Jihun, surat wasiatnya dibacakan. Diluar dugaan semua orang ternyata hampir seluruh hartanya diserahkan pada Hyunno. Cucu yang hanya sekali dilihatnya –menurut kebanyakkan orang.

“Tuan Jihun sering meluangkan waktu untuk melihat tuan muda Hyunno selama sekolah.” Pembelaan itu terlontar dari pengacara yang mengurus wasiat Jung Jihun.

“Pada akhirnya dia melakukan sesuatu yang benar.” Komentar Sun Woo.

“Restu?” gumam Jaejoong. Kata itulah yang selama ini ditunggunya dari Jihun. Walaupun diucapkan melalui lidah orang lain tetapi setidaknya disaat-saat terakhirnya ayah mertuanya itu memberikan mereka restu. Jaejoong mendekap erat Yunho yang ikut tersenyum.

Changmin yang sebenarnya tidak menuntut apa-apa pun hanya mampu mengucapkan terima kasih sambil memeluk dongsaeng kecilnya, Hyunno. Karena bagi Changmin, kebahagiaan dan kedamaian hati jauh lebih penting daripada harta benda yang bisa lenyap kapan saja.

“Percayalah….

Bahkan di dasar jurang terdalam pun ada sepercik cahaya….

Percayalah….

Diujung penantian panjang ada sebuah kebahagiaan….

Percayalah apa yang hendak kau percayai….

Begitulah hidup….

Kepercayaan akan membawa ‘mereka’ kembali bersama suatu saat nanti….

Walaupun ditempat yang berbeda….”

.

.

AKTF Berakhir sudah.

.

.

Sampai jumpa di FF selanjutnya.

Jaga kesehatan dan selamat liburan.

.

.

Saturday, May 03, 2014

10:43:27 AM

NaraYuuki

11 thoughts on “Always Keep The Faith! XVIII EPILOG

  1. happy ending yayyyy
    jihun appa kasihan juga sihhhh
    tpi kjam sih dlunya
    aigoooo hyunno bner2 polos
    smuaaaaa bahagiaaa
    gomawo eon udah bkin ff keren ini

  2. aaaa sedih juga bacanya eon😥
    walau jung appa org nya arogan kyk gitu, tp ttep aja sedih ㅠㅠㅠㅠ
    dan unno membuat sisi lembut jung appa semakin besar :’)
    dan tammaaattttt
    wooaaaaa hahaha

  3. Huaa … air mata tak diundang ini ngalir dengan sendirinya. Akhir cerita yg sangat menyedihkan sekaligus bahagia. Akhirnya restu itu didapat umpa walau akhirnya mereka kehilangan abojie jung jihun. Seandainya abojie jung lebih cepat membuang sifat arogannya pasti bkn hanya sehari dia bisa bermain dengan unno baby.
    Ini subuh aja belum tp aku sdh mewek ngek hehehe … gumawo yuuki eonni sdh menulis cerita yg bagus ini :3

  4. happy ending yang mengharukan
    tapi selalu bahagia semoga yunjae juga merasakan kebahagiannya
    kisah yang KEREN!!!

    yuuki ditunggu karya2mu yang keren lagi
    SEMANGAT!!!!!!!!

  5. akhir yg bahagia…
    kasian appanya appa harus melihat cucunya sendiri secara diam2.
    walau ga dapat warisan.. umpa udah dapet harta yg paling berharga dan jg restu dari appanya appa..

    keep writing yuuki,ditunggu karya2 yuuki selanjutnya..🙂

  6. entahlah, ini ff bener2 bikin aq kehilangan kata2..😥
    penyesalan emg slalu datang terlambat, tp ga ada kata terlambat jika kita ingin memperbaiki semua kesalahan yang ada,,
    jika niat kita tulus untuk melakukannya, maka penyesalan merupakan kunci dari kebahagiaan yang sebenar’a.. :’)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s