Always Keep The Faith! XVII END


Tittle                : Always Keep The Faith! XVII END

Author              : NaraYuuki

Betta reader      : Hyeri

Genre               : Family/ Romance

Rate                 : -M

Cast                 : All Member DB5K

Disclaimer:       : They are not mine  but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

.

.

Yang jelek-jelek jangan ditiru ne😉

.

.

AKTF

.

.

Hari-hari berlalu dengan cepat setelah kejadian dimana Haeri dan Jaeseok mendatangi apartemen Yunho untuk bicara pada putra-putra mereka.

Tidak ada yang berubah….

Yoochun dan Jaejoong masih tinggal di sana, mereka beralasan selama masa-masa ujian mereka bisa belajar bersama dan saling mengajari materi yang sekiranya belum mereka pahami. Junsu sama sekali belum menghubungi ibunya dan enggan menerima telpon dari ibunya dengan alasan masih kesal.

Hari pertama ujian terlewati dengan biasa –kecuali kejadian Jaejoong menjambak rambut yeoja yang terang-terangan berniat memberikan sepucuk surat cinta pada Yunho.

“Surat cinta? Masih musimnya kah?” celetuk Junsu, “Yoochunie, perlukah aku membuatkan surat cinta untukmu?” tanya Junsu.

“Aku tidak membutuhkan benda kekanankan seperti itu.” sahut Yoochun.

Yoochun dan Junsu memang sekamar selama tinggal di apartemen Yunho, bagaimana pun apartemen Yunho hanya terdiri dari tiga kamar saja. Yunho tidak akan mau tidur dengan Yoochun, Yoochun sendiri enggan sekamar dengan Changmin karena namja jangkung itu sering kali mengigau dan meneriakkan hal-hal aneh ketika tidur. Akhir-akhir ini hubungan Yoochun dan Junsu berjalan lebih baik daripada biasanya. Mereka bahkan beberapa kali terlihat pergi bersama, entah kemana hanya mereka yang tahu.

Dua hari yang lalu Jaejoong menerima hadiah pernikahan yang dikirimkan oleh ibu Yunho. Sebuah hanbok indah terbuat dari sutra, dan peralatan makan yang terbuat dari keramik kualitas terbaik yang datang langsung dari daratan Cina.

Semua tidak sabar menanti ujian berakhir. Karena begitu ujian selesai maka Yunho dan Jaejoong akan segera menikah. Apa yang lebih membahagiakan daripada hal itu?

Orang tua Jaejoong dan kakek Yunho sibuk menyiapkan pesta pernikahan mereka, walaupun Yunho dan Jaejoong sudah mengatakan bahwa pernikahan mereka cukup sederhana saja tetapi mereka bisa apa? Para orang tua sudah menuruti apa mau mereka, kini giliran mereka untuk mendengarkan keinginan para orang tua.

.

.

“Aku punya Umma baru yang cantik.” Kata Changmin pada seongkok batu marmer bisu di hadapannya, “Agak bawel tetapi sangat memperhatikanku. Aku menyayanginya lebih dari sayangku padamu –kalau pun aku benar-benar menyayangimu….” Gumamnya.

Hari ini adalah hari terakhir ujian, Changmin memutuskan pergi menemui ummanya –yeoja yang melahirkannya. Seumur hidupnya hanya dendam, kebencian dan ambisi yang ummanya ajarkan pada Changmin, walaupun sedih tetapi Changmin bersyukur karena kepergian ibunya telah mengenalkannya pada sosok-sosok baru yang menawarkan kebahagiaan dan kasih sayang yang belum pernah ibunya berikan sebelumnya.

Changmin tidak menyesali apapun….

“Hei, food monster! Kau tahu ada mitos yang mengatakan ibu hamil tidak boleh berlama-lama berada di pemakaman?”

Changmin melirik namja berpipi chuby itu menggunakan ekor matanya, “Nah… ku harap Umma bahagia di sana. Karena di sini aku pun sedang berusaha meraih kebahagiaanku sendiri.” Ucapnya sebelum melangkah dalam keheningan batu-batu nisan di sekitarnya. Tersenyum cerah ketika melihat sosok cantik itu mengulurkan tangan kepadanya, “Umma… aku lapar.” Rengeknya.

“Kapan kau tidak lapar, huh?” sindir namja berpipi chuby itu, Yoochun.

“Yunho sudah menelpon sejak tadi. Dia dan Junsu sudah menunggu kita di rumah makan langganan kami untuk merayakan berakhirnya ujian akhir kita.” Jemari pucat itu melingkari lengan kanan Changmin, menggunakannya sebagai pegangan untuk menuruni jalanan curam menuju bawah mengingat saat ini mereka sedang berada di punggung bukit hijau yang walaupun udaranya sedikit panas namun suasananya benar-benar sepi dan mampu membuat bulu kuduk meremang (merinding).

Angin berdesir (meniup) perlahan dari kaki bukit, naik perlahan-lahan, menguarkan aroma rerumputan dan wangi khas bunga kosmos kecil yang menghiasi sepanjang kaki bukit sampai tempat mobil terparkir. Suasanya sangat sunyi dan sepi. Tetapi bukankah bagi mereka yang terlelap di dalam perut bukit itu memang membutuhkan kedamaian dari hiruk-pikuk dunia?

Itulah kematian….

.

.

“Sejujurnya aku baru pertama kali bertemu dengan Jung Sun Woo.” Bisik Yoochun pada Changmin.

Changmin melirik Yoochun, “Ini pula pertemuan pertamakku dengannya.” Balasnya tidak kalah lirih. “Dia mirip Appa….”

Namja paruh baya itu tersenyum mendengar bisikan Yoochun dan Changmin, walaupun usianya tidak lagi muda tetapi bukan berarti dirinya tuli. Jemari tangannya yang sudah kisut dan keriput itu menggenggam erat jemari Jaejoong, “Apa kau akan membiarkan kakek tua ini tinggal sendirian, hm?” Tanyanya. “Bagaimana bila seusai kalian menikah kalian tinggal bersama kakek tua ini?”

Jaejoong tersenyum, “Harabojie, aku akan tinggal dimanapun Yunho tinggal.” Jawabnya, “Tetapi… karena saat ini aku sudah memiliki seorang anak, aku pun harus memikirkan bukan hanya Yunho saja melainkan anakku juga.” Dengan tangan kirinya yang bebas namja cantik itu menarik tangan Changmin dan meremaskanya kuat, memberikan sedikit keberaniannya pada namja jangkung itu.

“Changmin?” tanya Sun Woo sedikit kaget.

“Dia anak sulung  kami.” Jawab Yunho.

Sun Woo menghembuskan napas berat, “Nanti begitu sampai di rumah kalian harus berkemas. Lusa akan ada orang yang mengurus barang-barang kalian.” Ucapnya, “Changmin adalah keluarga kita, siapapun ibunya darah keluarga Jung tetap menurun padanya. Kalian bertiga akan pindah ke rumah kakek tua ini.” Bibir kisutnya melengkungkan sebuah senyuman tulus.

“Tapi bisakah aku tetap tinggal di apartemenmu, Yun?” tanya Yoochun, “Entah mengapa aku berpikir aku harus belajar mandiri mulai sekarang.”

“Kau bisa melakukannya asal kau membayar biaya sewa bulanannya.” Sahut Yunho.

“Ku kira kau sudah membelinya.” Gerutu Yoochun, “Bukankah kau seorang Jung…”

“… Yang terusir? Kalau begitu itulah aku….” jawab Yunho, “Lagi pula kau harus pulang. Setelah Boo Jae dan aku menikah kami akan tinggal bersama keluarga kecil kami. Kau harus tetap bersama orang tua kalian. Bukankah kesepakatan yang kau buat dengan ayahmu mengatakan kalau kau akan tinggal bersama kami sampai ujian berakhir? Ujian sudah berakhir sekarang. Maka sudah seharusnya kau kembali ke rumahmu!”

Junsu seperti mendapatkan tamparan keras ketika mendengarkan ucapan Yunho. Dirinya bahkan sama sekali belum bicara pada ibunya semenjak memutuskan untuk kabur dari rumah.

“Kau mengusirku?” tanya Yoochun, “Kau harus memperlakukanku dengan baik atau aku tidak akan memberikan restuku untuk menikahi adikku!” ancamnya lebih kepada sebuah gurauan.

“Oh, aku tetap akan menikahinya.” Sahut Yunho.

“Bisakah kalian diam dan makan saja? Suara kalian membuat perutku kram.”  Ucap Jaejoong. Doe eyes kelamnya melirik Junsu. Dengan tangan yang tadinya digunakan untuk menggenggam tangan Changmin, Jaejoong menepuk bahu Junsu pelan, “Changmin bisa menghabiskan makananmu kalau kau tidak mau memakannya.”

Ani!” sahut Junsu yang langsung menyambar sendok guna memakan makanannya. Junsu tahu, pasti Jaejoong menyadari kegundahan hatinya.

.

.

Terjadi kesibukan mendadak di apartemen sederhana milik Yunho petang itu. lusa adalah hari pernikahan Yunho dan Jaejoong sehingga mereka harus berkemas. Besok Jaejoong dan Yoochun harus pulang ke rumah kedua orang tuanya untuk mengikuti serangkaian prosesi sebelum upacara sakral itu terselenggara. Yunho dan Changmin pun akan tinggal bersama kakek mereka, Jung Sun Woo mulai besok. Tinggal Junsu…. Namja bersuara khas itu belum tahu dirinya akan tetap tinggal di sana atau pulang dan berbaikan dengan ibunya. Junsu masih bingung. Hal itu terlihat jelas pada raut wajahnya selama beberapa waktu ini.

“Bisakah kalian berhenti melakukannya? Atau kalian ingin aku goreng sebagai cemilan tengah malam nanti?” tanya Jaejoong yang menatap sengit pada Yoochun dan Changmin yang sedang melempar-lempar sebuah boneka gajah usang berukuran sedang berwarna abu-abu.

Changmin mendekap boneka itu erat, “Entah kenapa Umma menjadi galak lagi….” gumamnya pelan.

“”Sejujurnya dia lebih mengerikan sebelum hamil.” Bisik Yoochun dengan suara lumayan keras. “Beruntunglah kau yang…”

“Aku bisa mendengarmu, Yoochun!”

Yah! Sudah ku katakan untuk memanggilku Hyung! Aish!” omel Yoochun.

Yunho datang membawakan semangkuk sereal coklat, diletakkannya di atas meja di depan Jaejoong yang sedang duduk. Jaejoong dilarang keras membantu mengepak karena beberapa alasan yang klise –kehamilannya salah satunya dan Jaejoong yang pada dasarnya enggan membantu mengepak karena malas pun hanya duduk bermalas-malasan dan bersikap layaknya boss besar.

“Makanlah Boo….” ucap Yunho sambil mengusap-usap bahu namja cantiknya.

Jaejoong menatap Yunho lembut, berbeda sekali dengan tatapan kesal yang tadi dilayangkan pada Yoochun dan Changmin, “Aku sempat mendengar bel pintu berbunyi tadi, Junsu membukanya tetapi sampai sekarang dia belum kembali. Coba lihat! Mungkin terjadi sesuatu padanya.”

Arra….” Yunho berjalan menuju pintu keluar, mengabaikan suara Jaejoong yang kembali meneriaki Yoochun dan Changmin –kali ini entah karena alasan apa.

Melewati beberapa tas, koper dan kantung-kantung plastik yang tercecer di atas lantai, Yunho terus berjalan. Begitu sampai di dekat rak sepatu yang berada beberapa meter dari mulut pintu, Yunho berdiri terdiam. Di sana… di mulut pintu Yunho melihat Junsu tengah berpelukkan dengan seorang yeoja seusia ibunya. Keduanya sama-sama menangis. Yunho tersenyum. Sepertinya Junsu memiliki cara tersendiri untuk berbaikkan dengan ibunya. Yunho memutuskan kembali pada Jaejoongnya….

.

.

Jaejoong tampak uring-uringan sekarang. Sikap bringasnya yang biasanya hanya akan ditunjukkannya pada Yunho kini ditunjukkannya pada kedua orang tuanya dan seluruh penghuni kediaman keluarga Park –termasuk pelayan, supir dan para bodyguard. Tadi pagi Yunho mengantarkannya dan Yoochun pulang ke rumah orang tuanya bersama Changmin sebelum keduanya pergi ke rumah Jung Sun Woo, kakek mereka. Junsu juga sudah pulang bersama ibunya pada saat keberangkatannya kemari karena kesalahpahaman keduanya sudah diselesaikan kemarin malam. Bahkan ibu Junsu pun ikut menginap di apartemen Yunho untuk menenangkan Junsu yang terus menangis.

Kini….

Entah kenapa Jaejoong bisa sangat kesal seolah-olah dirinya ingin meledak. Padahal Yunho, Changmin dan Junsu sudah berpamitan padanya. Padahal Yunho sudah menjelaskan bila mereka memang harus terpisah selama sehari sebelum akhirnya bisa bersama-sama, tetapi tetap saja Jaejoong merasa kesal setengah mati –kesal yang tanpa alasan.

“Kau mau aku menelponkan Yunho untukmu?” tanya Yoochun. Agak stress juga melihat adiknya bersikap seperti itu.

Ne. Suruh dia kemari agar aku bisa mematahkan kepala kecilnya yang menyebalkan itu! Dasar beruang!” omel Jaejoong.

“Oh, well…. Kehamilannya benar-benar membuatnya semakin garang. Aku harus memberitahu Junsu soal ini.” Gumam Yoochun. Sedikit kemajuan. Junsu kini menjadi orang pertama yang Yoochun hubungi bila terjadi sesuatu hal pada Jaejoong, karena menurutnya Junsu satu tipe dengan adik cantiknya itu.

.

.

Omo! Omo! Kyaaaaaaaaaa….”

Klik!

Klik!

Klik!

Junsu yang sejak pagi tadi –bahkan sebelum sang calon pengantin bangun sudah datang, bukan untuk membantu melainkan untuk mengambil foto dan merekam. Lihat saja yang dilakukannya kini! Junsu terus memotret segala sudut, mengabaikan tatapan protes yang dilayangkan oleh penata rias yang sedang mengurus sang calon pengantin.

Yah Kim Junsu!” lengkingan kesal itu akhirnya terdengar juga diiringi lemparan bantal sofa yang mengenai wajah Junsu.

“Joongie ya….” keluh Junsu.

“Apa yang kau lakukan dengan kamera menyebalkan itu, huh?” tanya Jaejoong dengan suara sedikit ketus. Jika penata rias tidak sedang merapikan penampilannya sudah dipastikan namja cantik yang kelihatan sangat bersinar dengan setelan jas berwarna putih gading itu akan menerjang Junsu dan membuang jauh-jauh kamera sialan yang dibawanya!

Bukannya menjawab, Junsu malah asyik memotret wajah Jaejoong yang menurutnya terlihat sangat –lebih cantik daripada biasanya.

Sret!

“Yoochunie!” keluh Junsu saat Yoochun tiba-tiba mengambil kameranya.

“Semalam dia mengamuk dan nyaris kabur dar rumah hanya karena ingin bertemu si Jung itu.” ucap Yoochun.

“Si Jung yang kau maksud itu sebentar lagi akan menjadi adik iparmu, Chunie.” Sahut Junsu yang berusaha merebut kembali kameranya.

“Lebih baik kau membantuku di bawah! Ada banyak pekerjaan di sana.” Ajak Yoochun.

“Dengan syarat. Bagaimana kalau minggu depan kita pergi kencan?” Junsu mengajukan penawaran.

“Kau yang atur tempatnya.” Ucap Yoochun sambil berjalan pergi membawa kamera Junsu.

“Chunie….” Junsu berlari kegirangan mengejar Yoochun.

Refleksi kaca di hadapannya membuat Jaejoong dapat melihat senyuman yang terukir pada wajahnya yang sedang dipoles dengan bedak agar tidak terlihat pucat, setidaknya sedikit demi sedikit Junsu bisa menyentuh hati Yoochun. Kencan… awal yang sangat bagus bukan?

Usai mengoleskan pelembab bibir tipis pada bibir merah chery itu, sang penata rias beserta asistennya pergi keluar dari kamar Jaejoong, membiarkan calon pengantin itu menenangkan dirinya. Acara sakral berupa pemberkatan dan upacara pernikahan memang dilakukan di rumah keluarga Park sekaligus pencatatan oleh pihak kantor catatan sipil, sementara acara resepsinya akan diselenggarakan petang nanti disebuah ball room megah salah satu hotel bintang lima terbaik di Seoul.

Jaejoong menatap refleksi dirinya, walaupun benci mengakui tetapi dirinya yang sekarang memang terlihat cantik. Ah… andai kata laknat itu dihilangkan dari kamus bahasa umat manusia. Jaejoong jadi berpikir…

Karena wajahnyakah hingga Yunho tidak lagi menginginkan yeoja?

Karena wajahnyakah hingga Yunho mau mencumbunya? Menikahinya?

Karena wajahnyakah hingga kini dirinya mengandung anak namja bermata Jung itu?

Tidak!

Bila Jaejoong berpikiran seperti itu artinya dirinya ragu pada Yunho. Tidak! Tidak! Setelah semua yang Yunho korbankan untuk tetap bersamanya? Jaejoong merasa sangat pengecut bila terus menganggap pikiran itu benar. Yunho mencintainya begitu pula dirinya, cinta dibalik topeng persahabatan mereka yang sangat intim.

Chagy….” panggil Haeri yang sudah berdiri di ambang pintu. Jaejoong menoleh melihat ibunya, “Ada yang ingin bicara padamu….”

Jaejoong bisa melihat yeoja yang berdiri di belakang tubuh ibunya, Son Ga In…. Entah apa yang akan dilakukan calon ibu mertuanya tetapi begitu ibunya meninggalkan mereka berdua sendirian hal itu membuat Jaejoong merasa tidak nyaman.

Gain berjalan ke arah Jaejoong, meraih jemari namja cantik itu dan mengenggamnya erat, “Joongie… mantan suamiku mungkin adalah orang paling kaku di seluruh dunia, tetapi maukah kau melakukan sesuatu untukku?”

Sedikit ragu tetapi Jaejoong menggangguk pelan sebagai jawabannya.

“Bahagiakan Yunho….” ucap Gain. Diusapnya wajah Jaejoong perlahan dan tersenyum, “Omo! Kau tidak bisa menikah seperti ini!”

Ucapan Gain yang demikian membuat Jaejoong tersentak. Apakah ibu dari calon suaminya ini juga berniat menghalangi pernikahannya? Tidak cukupkah Ayah Yunho saja yang tidak memberikan restu padanya?

Gain mengambil sesuatu dari dalam tas, “Kalung yang turun temurun diberikan pada menantu keluarga Jung.” Ucap Gain dengan suara berbisik, “Sekarang benda ini menjadi milikmu.” Dipakaikannya kalung emas putih dengan liontin sebuah batu ember berwarna merah yang didalamnya tertanam lima buat berlian kecil membentuk rasi bintang Cassiopeia.

Jaejoong menatap tidak percaya pada yeoja itu, prasangka buruk yang beberapa saat lalu menghinggapi hatinya kini ditendangnya jauh-jauh.

Aigoo! Si Jung Jihun brengsek itu pasti akan menyesal karena menolak menantu sepertimu.” Gain memeluk Jaejoong erat, “Sangat cantik….”

Jaejoong menyumpah dalam hatinya. Cantik? Dia tampan! Pengecualian bila dirinya disandingkan dengan Yunho, dengan segenap kerelaan yang ia punya pasti Jaejoong rela dipanggil cantik oleh namja yang sebentar lagi akan menikahinya itu, calon suaminya.

“Gain sshi…. Sudah waktunya.” Namja berkaca mata yang memakai setelan jas hitam mewah itu tersenyum pada dua orang yang sedang berpelukkan itu –salah satunya adalah putranya. “Joongie harus segera dipertemukan dengan calon suaminya sebelum salah satu dari mereka mengamuk dan menghancurkan rumahku.”

Gain mengghapus air mata harunya, “Kajja Jaeseok sshi…. Aku sudah tidak sabar melihatnya.”

Jaeseok berjalan menghampiri putranya, menarik tangan putranya agar berdiri, menatapnya beberapa saat sebelum tersenyum lebar penuh kebanggaan, “Putraku sangat cantik….” pujinya.

“Tampan, Appa!” kesal Jaejoong. Tidak ada yang boleh memanggilnya cantik kecuali Yunho.

“Nah, kajja….” ajak Jaeseok.

Sambil mengapit lengan sang ayah, Jaejoong melangkah keluar dari kamarnya. Di belakangnya Gain tampak mengikuti sambil menahan tangis harunya.

Pesta sebentar lagi dimulai…

Meskipun tanpa restu dan kehadiran Jung Jihun….

Pesta itu tetap beerjalan sebagaimana mestinya sesuai rencana.

Di sana, di tengah-tengah altar sana terlihat Yunho tersenyum penuh kebahagiaan pada Jaejoong. Hari membahagiakan yang akan mengikat kesucian cinta mereka….

Selamanya….

.

.

“Aku bersedia….”

.

.

END

.

.

Haloooo… Hyeri di sini. Lagi-lagi dititipi Kiki aka Yuuki aka NaraYuuki untuk post dan edit FF ini. Saya mengalami kesulitan ketika mengedit jadi maaf kalau hasil editannya berantakan. Kiki menitip salam untuk semua yang baca FF ini serta permintaan maafnya yang belum bisa membalas pertanyaan & review. Kiki meninggalkan note di bawah jadi silahkan dibaca.

.

.

Note Yuuki:

Lee Haeri (ibu Jae)

Kim Hyo Jin (Ibu Junsu)

Son Ga In (ibu Yunho)

Park Hyo Jin (ibu Changmin)

Jung Jihun (Ayah Yunho)

Park Jaeseok (Ayah Yoochun)

Jung Sun Woo.

Semuanya merupakkan nama artis baik aktor/ penyanyi/ model. Marga aslinya Yuuki lupa tetapi beberapa diantara nama-nama diatas sudah memaki nama aslinya.

Penyelesaian masalah dengan Jung Jihun ada di Epilog nanti jadi yang bertanya-tanya bagaimana dengan Jihun, belum kelar masalahnya kok sudah end, jawabannya ada di epilog nanti.

Gomawo yang sudah membaca dan mengisi kotak review Yuuki. Mian belum bisa balas.

Jaga kesehatan selalu ne ^_~

Phhhssstttt: Untuk memudahkan mencari FF di WP Yuuki ketik saja judulnya di kotak pencarian. Dengan cara seperti ini yang akan muncul adalah judul dan kutipannya, bukan 1 chap penuh seperti bila mengklik kategorinya.

.

.

Thursday, May 22, 2014

4:50:12 PM

NaraYuuki

12 thoughts on “Always Keep The Faith! XVII END

  1. Ping-balik: Always Keep The Faith! XVII END | Fanfiction YunJae

  2. aaaa tamat :’)
    tinggal jung appa aja
    aku tunggu eon epilog nya
    semoga gg macem2 yg berlebihan jung appa nya
    dan semoga menyesal krn udh nolak jaema
    hahahaha :p

  3. tamatnya gag elit bru aja Mau deg2 an ech malah end hohohoho
    ok yuuki a ditunggu ne epilognya yang jleb yua hehehe bogoshipo

  4. ini udah cerita yg bahagia
    hah lega bgt happy ending yg bener2 happy
    aku menunggu karya2mu selanjutnya yuuki

    Yuuki Jjang
    SEMANGAT!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s