Ancestor VII Epilog


Tittle                : Ancestor VII Epilog

Author              : NaraYuuki

Betta Reader     : Hyeri

Genre               : Yang jelas fantasy gagal

Rate                 : -M

Cast                 : All member DBSK (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan), Go Ahra and others

Disclaimer:       : They are not mine but this story,Jung Hyunno, Cho Eunsa, Park Hyunbin,Park Daejin  are mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.Paragraf/ dialog yang penulisannya menggunakan Blod, Italic ataupun under line berarti itu adalah kejadian dimasa lampau (flash back) ataupun pada tempat dan dimensi yang berbeda. TANPA EDIT.

.

.

.

.

.

Baca FF Fantasy Yuuki harus pelan-pelan, biar ga binggung!

FF Fantasy Yuuki tidak terikat dengan kebudayaan manapun jadi silahkan bebaskan imajinasi masing-masing ketika membacanya.

.

.

Ancestor Poster

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

.

.

.

.

.

 “Dia mirip ayahnya, kan?” chery lips pucat itu tersenyum menatap bayi yang baru saja dilahirkannya, bayi yang selama empat bulan ini menghuni rahimnya.

“Akan anda beri nama siapa dia?” yeoja itu bertanya, mata lelahnya menatap teduh dan nanar cucu keduanya yang sangat tampan itu.

Jemari pucat itu membelai wajah terlelap bayinya, “Jung Hyunno….” jawabnya sebelum napasnya tersendat. Dengan sedikit gemetar diserahkannya bayinya pada Junsu, adik iparnya yang juga membantunya selama proses persalinan. Napasnya memberat dan doe eyes kelam itu mulai kehilangan sinar kehidupannya perlahan-lahan, “Ahra ya….”

“Saya di sini.” Yeoja itu menggenggam jemari pucat yang terasa sangat dingin itu erat.

“Yunho…. Katakan kalau aku berterima kasih padanya. Katakan bila aku bahagia menjadi istri dan ibu dari anaknya. Katakan bila aku mencintainya….” pintanya.

Napasnya perlahan-lahan menghilang. Tubuhnya kaku dan mendingin. Dengan panik Ahra meminta para suster untuk memindahkannya ke ruang pengobatan sesegera mungkin. Ruang persalinan mempunyai beberapa bilik, dan salah satu bilik menghubungkannya dengan ruang pengobatan.

Bersamaan dengan kepergian sang ibu, bayi tampan yang baru berusia beberapa menit itu menggeliat gelisah dan menjerit seolah tahu apa yang terjadi pada ibunya, seolah mengerti dan ikut merasakan kesakitan ibunya, seolah melampiaskan kesedihannya melalui tangisan nyaringnya.

.

.

“Kenapa Ahjushi tidak menikah? Kenapa Ahjushi tidak punya anak? Kenapa Ahjushi makan terus?” bocah polos berusia 5 tahun itu memperhatikan pamannya yang sedang sibuk mengunyah tanpa sedikit pun merasa jijik melihat cara makan sang paman yang sangat belepotan menurut kebanyakan orang.

Yah Hyung! Lihat kelakuan beruang kecilmu ini!” omel Changmin. Namja jangkung itu benar-benar terganggu karena ulah keponakannya, “Hei Hyunno ya… kenapa kau tidak pergi sekolah saja seperti Inhwan hyung, hm?” tanyanya, berharap balita tampan berusia hampir lima tahun yang tengah mengenakan kostum anak beruang itu mau pergi meninggalkannya bersama kekasih hatinya, makanan.

“Unno baru pulang sekolah.” Balita menggemaskan itu menjawab.

“Kalau begitu pergilah main bersama Inhwan hyung!” perintah Changmin.

“Inhwan hyung belum pulang sekolah.” Mata bulat indah yang dibingkai kelopak mata tajam khas keluarga Jung itu menatap polos sang paman.

“Terkutuklah Yunho hyung yang mempunyai anak secerewet ini.” Gerutu Changmin.

“Jangan menyumpahi kakakmu sendiri, Magnae!” Yunho memukul kepala Changmin dari belakang, bengabaikan protes yang adik bungsunya itu layangkan padanya.

Appa….” Hyunno, balita kecil itu melompat-lompat kegirangan melihat ayahnya pulang. Pasalnya (sebab) sudah tiga hari dua malam Ayahnya berada di Balai Kota mengurus masalah yang cukup pelik (rumit). Beberapa hari terakhir ada laporan mengenai penyerangan yang terjadi pada para vampire hunter yang bekerja di bank darah dan bank daging.

Yunho memasang wajah sumpringahnya, mengangkat putranya, memeluk serta menciumi wajah gempalnya (chubby). “Hai jagoan. Bagaimana kalau kita menjenguk Umma, hm?” tanyanya.

Umma…. Umma….” girang Hyunno.

Changmin meletakkan pisau dan garpu yang semula digunakan untuk mengiris paha rusa panggangnya. Keluarga Jung adalah keluarga vampire bangsawan yang sudah ada sejak zaman tandun, mereka beradab (punya sopan santun) berkenaan dengan makanan walaupun mereka adalah vampire. Memasak makanan mereka walaupun setengah matang, tidak minum darah bulat-bulat dan mencampurnya dengan air, jus, kopi, teh bahkan susu. Mereka berlaku seperti bangsawan manusia kebanyakan –kalau boleh dikatakan bahkan keluarga Jung memiliki adab diatas para bangsawan manusia. Kecuali bila tindakan Yunho beberapa tahun lalu dihitung, tetapi sepertinya semua orang kini melupakan kejadian dimana Yunho memaksa menikahi nenek moyangnya sendiri. Yang orang-orang (vampire) itu ingat hanyalah Kim Jaejoong adalah istri Jung Yunho, ibu dari Jung Hyunno. Tidak ada pembahasan lain soal hal ini.

Kembali kepersoalan awal, Changmin menatap kakak sulungnya yang menurutnya lebih manusiawi dan semakin terliihat berkharisma semenjak kehadiran Hyunno. Keponakkannya itulah yang menjadi alasan perubahan mendasar yang terjadi pada kakak sulungnya. Jung Yunho yang dulu arogan, egois, keras kepala dan kaku menjadi sosok yang jauh lebih baik. Yunho lebih sabar dan tidak menggunakan kekerasan ketika menggambil keputusan, Yunho mendengarkan pendapat para pejabat tinggi sebelum menyaring dan menentukan langkah selanjutnya, Yunho lebih sabar dan bijaksana ketika menyikapi sebuah masalah –kasus yang terjadi pada vampire hunter contohnya. Dan yang lebih terlihat jelas adalah cara Yunho menyayangi orang-orang disekitarnya. Semua itu dimulai sejak namja tampan bermata musang itu memiliki Hyunno.

“Kau ingin ikut Magnae?” tanya Yunho sambil membawa Hyunno dalam dekapannya. Balita tampan itu mengalungkan lengannya yang gemuk dan pendek pada leher ayahnya.

“Tidak… tidak ku rasa. Paha rusa ini belum habis.” Jawab Changmin sambil melirik paha rusa panggang yang bahkan belum habis seperempatnya, “Setidaknya beritahu aku dimana Yoochun hyung berada agar aku bisa mencarinya jika urusanku di sini sudah selesai.”

“Yoochun sedang menjemput Inhwan.”

“Ah….” Changmin mengangguk-anggukkan kepalanya, teringat lagi pembicaraannya bersama keponakannya beberapa menit yang lalu. Karena hari ini Junsu sedang pergi ke rumah sakit anak menghadiri seminar yang diselenggarakan oleh manusia sebagai tamu kehormatan maka Yoochunlah yang menggantikan tugas Junsu menjemput anak mereka dari sekolah, “Arra…. Pergilah Hyung! Sampaikan salamku pada Umma dan cepat suruh Umma pulang!”

Bye Ahjushiii….” Hyunno melampaikan tangan kanannya yang berisi sementara tangan kirinya masih dilingkarkan pada leher ayahnya.

Bye Beruang Kecil….” sahut Changmin. Hatinya berdenyut sakit mengingat tragedi mengerikan yang menyertai kelahiran sang keponakan, kematian Jaejoong….

.

.

Ahra berada di panti jompo, bukan! Bukan karena dirinya menjadi salah satu penghuni di sana, Ahra hanya membantu meringankan pekerjaan para sukarelawan yang bekerja di sana mengurus para manusia dan vampire yang sudah berusia sangat senja. Bahkan kebanyakan penghuninya hanya tinggal tulang berlapis kulit saja dengan tulang pipi yang sangat cekung dan menonjol. Ahra membantu menyuapi dan memandikan mereka yang sedang menunggu malaikat kematian menjemput mereka. Melakukannya sama seperti yang sering dilakukannya dulu… pada sosok cantik yang menjadi menantunya. Menantu yang tidak pernah diharapkannya tetapi sangat ia hormati dan sayangi melebihi sayangnya pada anak-anaknya sendiri.

Yeoja yang tidak lagi muda itu tersenyum menatap bunga-bunga dan tanaman hias yang berada di halaman panti jompo bergoyang ke kiri dan ke kanan akibat siraman air segar yang datang dari selang besar berwarna biru tua itu. Sama seperti manusia dan vampire yang bisa sangat kehausan, tanaman pun bisa merasakan haus jikalau terik matahari terus menerpanya sepanjang waktu.

“Apakah tidak sedikit aneh bila menyiram bunga disiang hari seperti ini?” tanya Ahra.

“Sebenarnya iya, tetapi mau bagaimana lagi? Bukankah hanya pada saat-saat seperti ini aku baru bisa melakukannya?”

Ahra tersenyum, menatap sosok berkilauan itu dengan perasaan lega dan gembira, “Ah… entah kenapa cucuku begitu cepat tumbuh besar.” Keluhnya, “Apakah aku benar-benar sudah terlihat sangat tua?”

Sosok yang sedang menyiram bunga dan tanaman hias itu hanya tersenyum menanggapi ucapan Ahra.

Bagi mereka yang rindukan menua, satu detik saja berlalu terasa sangat berharga….

.

.

Bruk!

Lengan gemuk namun pendek itu melingkari erat salah satu kaki jenjang sosok yang tengah sibuk dengan selang airnya itu, membuatnya melemparkan selang yang masih menyemburkan air segar itu begitu saja hingga beberapa orang yang berada di dekatnya basah kuyup –termasuk Yunho dan Ahra yang masih duduk di atas kursi di bawah pohon beringin yang sangat rindang.

Mian Yun….” sesalnya, mengabaikan rengekan manja balita kecil yang masih bergelayut pada kaki kanannya.

“Oh, gwaechana Boo. Aku bahkan rela bila kau melemparku ke dasar samudra sekali pun karena air tidak akan membuatku mati.” Sahut Yunho.

Umma….” balita berusia hampir lima tahun itu kembali merengek, menarik simpati dan perhatian ibunya.

Ahra menatap cucunya lekat-lekat. Badanya yang sedikit berisi, kulit putih pucatnya, mata setajam musang yang memang selalu dimiliki oleh keturunan Jung, hidung yang sama persis dengan milik Yunho dan bibir merah merekahnya yang mungil namun kadang sangat cerewet itu membuat Ahra tersenyum lebar. Cucunya sangat menggemaskan. Ahra bersumpah bila Inhwan bahkan tidak selucu itu ketika seusia Hyunno. Bahkan lihat! Cucunya itu memakai kostum anak beruang yang benar-benar membuatnya sangat lucu.

“Hyunno, kemari Chagy…. Halmonie ingin menciummu.” Ucap Ahra memanggil cucunya.

Balita kecil itu menggelengkan kepalanya pelan, “Umma….”

Jemari pucat itu mengusap lembut kepala Hyunno, chery lipsnya melengkung indah, doe eyesnya berbinar serupa mutiara hitam ketika tertempa sinar matahari.

Kim Jaejoong….

Ya, Kim Jaejoong. Istri Jung Yunho. Ibu dari Jung Hyunno itu tengah berusaha menenangkan putranya yang tengah merajuk.

Proses mati suri….

Itu adalah proses penglepasan energi beracun yang mengendap dalam tubuh Jaejoong semenjak zaman tandur –tepat ketika kemampuannya dicabut paksa oleh Jung Yunho, suaminya terdahulu, bersamaan dengan kutukan yang mengiringi langkahnya. Kutukan yang sebenarnya berasal dari energi negatif beracun akibat pencabutan paksa kemampuannya oleh Yunho. Proses regenerasi (pembaruan/ penggantian) energi itu berlangsung selama 5 hari lamanya sampai pada saatnya energi yang baru terkumpul dan detak waktu Jaejoong kembali berjalan sebagaimana mestinya. Jaejoong tidak benar-benar mati kala melahirkan Hyunno. Jantungnya masih berdetak walau sangat pelan dan tipis, Jaejoong masih bernapas meskipun lamat-lamat (tidak terlihat). Proses mengandung dan melahirkan Hyunno membuat endapan energi negatif yang sangat beracun itu menguap dengan sendirinya –beruntung energi itu tidak terserap ke dalam tubuh Hyunno. Proses mengkhawatirkan namun memberikan akhir yang bahagia itu membuat Jaejoong kembali ke tengah-tengah keluarga kecilnya. Dan kini diusia ke-23 tahunnya (usianya yang baru) namja cantik itu terlihat semakin matang dan mempesona.

Umma gendong!” rengek Hyunno. Kedua tangan gemuk dan pendeknya terjulur ke arah sang Umma.

Yunho yang melihat putranya mulai berulah –menunjukkan kenakalan dan kemanjaannya itu segera berdiri dari duduknya, berjalan menghampiri kedua sosok yang sangat dicintainya. “Hei jagoan kecil! Umma sedang membawa adik sekarang…. Hyunno digendong Appa, ne?” bujuk Yunho.

Sirro!” teriak Hyunno nyaring.

Dengan perutnya yang sudah membesar dikehamilannya yang ke-2 bulan, namja cantik itu memaksa menggendong putranya. Junsu pernah mengatakan, ‘Mungkin Hyunno hanya cemburu pada adiknya sehingga sering membuat ulah. Itu hal wajar dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Hyung.’ Dan memang tingkah Hyunno semakin manja dan nakal semenjak balita kecil itu diberitahu bahwa di dalam perut ibunya ada adiknya.

“”Boo, biar aku….” ucap Yunho saat melihat istrinya dengan perut besarnya berjalan menggendong Hyunno menuju kursi tempat Ahra duduk sambil mengamati mereka.

“Beruang Kecil Halmonie nakal eoh….” Ahra segera mencubit pipi gempal cucunya begitu menantunya mendudukkan diri mereka di sampingnya.

Hyunno merengek sebentar kemudian mengusap-usapkan wajahnya pada dada sang Umma.

Yunho duduk di sebelah kanan istrinya, mengusap kepala putranya penuh sayang, “Mungkin uri Hyunno mengantuk.” Ucapnya. Diambilnya tubuh Hyunno untuk dipangkunya. Yunho sempat mengusap perut besar istrinya sebelum menimang Hyunno.

“Unno mau permen darah.” Gumam Hyunno sebelum jatuh terlelap dalam buaian hangat ayahnya. Permen darah adalah permen yang terbuat dari beragam sari buah berwarna merah yang memiliki rasa semanis madu. Karena warna merah terangnya maka disebut permen darah.

“Akan Appa belikan nanti.” Janji Yunho.

Jemari pucat itu menggenggam erat tangan kisut Ahra dan jemari kokoh suaminya. Bibir merahnya mereka, kepalanya disandarkannya pada bahu suaminya yang juga tengah mencium puncak kepalanya.

Bila dulu aku merindukan malaikat kematian untuk membawaku pergi… sekarang aku ingin malaikat kematianku menungguku sedikit lebih lama lagi. Setidaknya sampai anak-anakku besar dan mereka menemukan kebahagiaan mereka sendiri….. Setidaknya sampai aku dan Yunho cukup mengecap manisnya pernikahan kami…. Itulah harapanku kini.”

.

.

Berakhir sudah

.

.

Hallooo Hyeri di sini. Saya mendapat amanah dari Kiki untuk mempost dan mengedit Epilog Ancestor ini. Kenapa? Kiki sedang sibuk menghadiri serangkaian seminar sebelum diwisuda bulan depan jadi saya hanya bantu Kiki saja. Kiki juga menyampaikan maaf karena tidak bisa membalas review sampai sekarang. Ucapan terima kasih juga Kiki sampaikan untuk siapa saja yang membaca FF ini terutama mereka yang sudah mengikuti dan mendukung dari awal.

Jika editan saya kurang berkenan mohon maaf karena saya hanya berusaha membantu Kiki.

.

.

.

Wednesday, May 21, 2014

8:45:13 AM

NaraYuuki

 

17 thoughts on “Ancestor VII Epilog

  1. Ping-balik: Ancestor VII Epilog | Fanfiction YunJae

  2. aahhh ternyata cuma mati suri
    biar kutukan yg dlu lepas semua
    bagus deh😀
    jadi yunppa sm unno gg bakalan ditinggal :3
    ehh malah skrg unno dpt adik hahaha
    tammaaattt~~

  3. Syukurlah umma enggak mati. Sempat kepikiran kalau yunpa menghidupkan umma lagi dengan cara menjadikannya vampire #plak_tepokjidat_nyadar umma sendiri sdh vampire. Cukup terbayar kesedihanku di chapt kemaren krn kirain umma berakhir mati :”(.
    Gumawo eon akhirnya happy ending :3

  4. Akhirnya muncul epilog-nya🙂
    Waah, Hyunno mau punya adek? Aduh, dia cerewet sekali~
    Suka dialog Hyunno ke Chwang😀
    Hey! Apa yg Hyunno tanyakan ke Chwang gak ada yg salah, Chwang belum nikah juga? Azzz~
    Ditunggu ff yg lainnya ya🙂

  5. A beautiful ending !!! Ak pikir sad ending dimana jaema meninggal T_T. Ternyata… happy ever after ^^. D tunggu karya berikutnya.

  6. owh, ternyata hanya mati suri, seengga’a itu membuatku tenang, hyunno, ga jadi kesepian,,
    dy tetap mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tua’a..
    yeay, hepi ending seperti biasa.. \(^,^)/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s