Ancestor VI (Final)


Tittle                : Ancestor VI

Author              : NaraYuuki

Genre               : Yang jelas fantasy gagal

Rate                 : -M

Cast                 : All member DBSK (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan), Go Ahra and others

Disclaimer:       : They are not mine but this story,Jung Hyunno, Cho Eunsa, Park Hyunbin,Park Daejin  are mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.Paragraf/ dialog yang penulisannya menggunakan Blod, Italic ataupun under line berarti itu adalah kejadian dimasa lampau (flash back) ataupun pada tempat dan dimensi yang berbeda. TANPA EDIT.

.

.

Ancestor Poster

.

.

Baca FF Fantasy Yuuki harus pelan-pelan, biar ga binggung!

FF Fantasy Yuuki tidak terikat dengan kebudayaan manapun jadi silahkan bebaskan imajinasi masing-masing ketika membacanya.

.

.

.

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

.

.

.

.

.

Yeoja itu memukuli bahu Yunho sekuat daya yang dia miliki, memaki dan menghujat anak yang sudah dilahirkan dan dibesarkannya susah payah itu, “Kau boleh melakukan hal seperti itu semaumu tetapi bukan kepadanya Yunho!” jeritnya. Air mata membasahi wajah lelahnya yang sudah menunjukkan beberapa keriput.

“Aku menginginkannya, Umma.” Sahut Yunho tenang, membiarkan ibunya memukulinya bertubi-tubi tanpa berniat membalasnya.

“Tetap tidak boleh!”

“Kenapa?” tanya Yunho.

“Karena bagaimanapun juga dia pernah menjadi seorang Ratu, dia adalah….”

“Sekarang kepala pemerintahan bukan lagi Raja Jung Yunho yang sudah mati dan selalu Umma puja itu, tetapi aku!” ucap Yunho.

“Yunho! Dia tetaplah orang yang sudah menurunkan darahnya pada kita, Yunho….” isak Ahra. Entah bagaimana anak yang dulu dibesarkannya penuh kasih itu kini menjadi seperti ini.

“Aku akan bertanggung jawab. Kalau dia mengandung anakku, maka akan ku nikahi dia.”

“Jung Yunho!” pekik Ahra yang kembali mendaratkan pukulan pada tubuh putra sulungnya.

Umma….”

“Kau boleh menikahi siapapun kecuali dia….” yeoja itu semakin terisak, “Umma mohon….”

Mianhae Umma….”

“Yunho ya…. Darah yang mengalir dalam tubuhmu itu bersumber darinya juga….”

“Aku tahu Umma.”

“Kalau tahu kenapa kau la….”

Yunho mendekap yeoja itu erat sekali, seolah-olah meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja, “Umma…. Semuanya sudah terjadi, jadi ku mohon pengertian Umma…. Aku sangat menginginkannya, hanya dia…. Ku mohon Umma mengerti….”

“Kau menyakitinya, anakku…. Kau menyakitinya dengan perbuatan bejatmu….” tangis Ahra pilu.

.

.

Jaejoong menengadah, menatap kerlip bintang yang kesepian karena bulan baru. Mata bulatnya kosong, bibir merahnya terlihat sedkiti pucat. Baru saja dokter selesai memeriksa kondisi tubuhnya yang tiba-tiba saja menurun –hal yang sebelumnya tidak pernah terjadi padanya semenjak kutukan itu mengikat hidupnya. Jaejoong memilih diam ketika namja tampan itu memasangkan sebuah selimut pucat tebal di atas permukaan bahunya, musim semi ini entah kenapa terasa sedikit dingin untuk Jaejoong. Apakah karena selama kurang lebih 200 tahun ini dirinya berada di tanah para peri sehingga iklim dan cuacanya terasa sedikit berbeda?

“Aku mencium aroma darah dari tubuhmu.” Ucap Jaejoong, “Siapa…?” tanyanya.

“Mereka yang mendebatku karena keinginanku untuk meminangmu.” Jawab Yunho.

“Kau bukan pemimpin yang baik dan bijaksana kalau egois seperti itu.” komentar Jaejoong.

“Benar. Itulah aku.” Sahut Yunho.

“Lalu apa pembelaanmu?” tanya Jaejoong yang masih enggan memalingkan wajahnya untuk sekedar menatap wajah tampan namja yang kini sudah duduk di sebelahnya, pemandangan langit malam yang kelam jauh lebih indah sepertinya untuk Jaejoong.

“Tidak ada karena aku memang salah.”

Jaejoong mengehela napas panjang, setidaknya namja bermata musang itu tahu bila dirinya salah. Diliriknya namja yang duduk tenang di sampingnya menggunakan ekor matanya sekilas sebelum kembali menatap serbuk bintang di langit yang gelap, “Wajahmu memar.” Ucapnya, “Siapa yang melakukannya?”

Umma.” Jawab Yunho, “Setiap kali Umma melihatku dia akan langsung memukul, menamparku sebelum menangis sambil memelukku.”

“Kau mengecewakannya… dan mengecewakanku.” Lirih Jaejoong. Jemari pucatnya mencengkeram kuat kimono yang dikenakannya.

“Aku tahu hal itu dengan baik tanpa kau mengatakannya segamblang (jelas) itu padaku, Boo.” Ucap Yunho, “Tetapi aku tidak menyesali satu pun apa yang sudah ku lakukan.”

Jaejoong menatap nanar namja yang duduk di sebelahnya, namja yang menatapnya dengan tatapan terluka dan rindu dendam karena gairah cinta yang terlampau besar, “Jangan kehilangan nalarmu, Yun! Kau pemimpinnya sekarang. Jangan egois dan pikirkanlah rakyatmu juga.”

Yunho menarik jemari pucat Jaejoong, meremasnya kuat-kuat sebelum menciumnya dengan lembut, “Istirahatlah! Ada sesuatu yang masih harus ku selesaikan terlebih dahulu.” Ucapnya. Yunho bangun dan mulai beranjak ketika Jaejoong bersua…

“Lain kali jangan menemuiku ketika seluruh tubuhmu dipenuhi aroma darah dari para korbanmu!” lirih Jaejoong yang masih bisa didengar oleh Yunho. Vampire mampu mendengar suara hingga jarak 10 kilo meter jauhnya dengan baik.

“Tidak akan ada lain kali karena hal ini akan segera berakhir. Secepatnya!” ujar Yunho sebelum benar-benar pergi meninggalkan kamar namja cantik yang sebentar lagi akan benar-benar menjadi miliknya.

Jaejoong kembali diam termenung, menatap langit yang perlahan menjadi buram karena lelehan air mata yang keluar dari sepasang doe eyes kelamnya. Kabar yang baru saja didapatkannya dari dokter yang memeriksanya bukan hanya meruntuhkan ketegaran dan kewarasan yang dipertahankannya hingga sekarang tetapi juga kesedihan yang melingkupinya.

Jaejoong bingung….

Haruskah ia senang? Atau sedih?

Semuanya membaur membuatnya kebingungan. Merana dan meratap dalam kesunyian malam itu. Bahkan dengan jelas Jaejoong bisa mendengar suara jeritan dan isakan yang Ahra keluarkan dari lantai bawah. Yeoja itu menangis sejadi-jadinya sekarang. Jaejoong bisa merasakannya walaupun tidak bisa melihatnya secara langsung. Ikatan itu sudah ada sejak pertama kali Ahra datang kepada keluarga Jung sebagai menantu, ikatan sebagai sahabat, saudara dan rekan itulah yang membuat Jaejoong ikut merasakan kesedihan Ahra yang juga sedang dialaminya sendiri.

Setidaknya… ada juga teman yang mampu merasakan kepedihan ini….

.

.

“Maafkan saya….” yeoja itu terus mengalirkan air matanya bahkan ketika membantu namja cantik itu bersiap –berbenah diri untuk upcara pernikahannya nanti.

“Bukan salahmu Ahra ya….” ucapnya, “Berhentilah menangis!” pintanya pelan.

“Anda pasti sangat menderita….” untuk kesekian kalinya Ahra menghapus air matanya yang terus mengalir tanpa diaba.

“Jangan ragukan itu Ahra ya. Tetapi aku bisa apa?” tanyanya, “Bahkan kematian pun menolakku. Aku hanya bisa menjalani semua ini semampuku. Bila sekali lagi aku ditakdirkan menjadi ‘istri’ seorang Jung maka akan ku lakukan kewajibanku itu sebaik-baiknya.” Imbuhnya (tambahnya) dengan suara bergetar.

“Hiks…. Anda teralu baik….” walaupun seekuat daya sudah mencoba menahannya tetapi isakan itu keluar juga.

“Berhenti menangis Ahra ya! Kau sangat cengeng akhir-akhir ini…. aku tidak apa-apa. Percayalah.” Jemari pucat itu menggenggam tangan Ahra yang mencengkeram kuat bahu kanannya, “Hanya ku mohon padamu, Ahra ya… tolong temani aku menghadapi kesulitan ini. Ku rasa aku tidak akan mampu menjalaninya sendirian. Kewarasanku bisa hilang bila aku menghadapinya sendiri….”

Satu minggu setelah disetubuhi oleh Jung Yunho, namja cantik itu jatuh sakit. Setelah diperiksa ternyata di dalam tubuhnya telah tumbuh seorang calon Jung kecil. Dan hari ini adalah hari pernikahannya dengan seorang pemimpin tertinggi bahsa vampire. Walaupun hal gila itu sudah ditolak oleh para petinggi kaum vampire tetapi kekuatan dan kemampuan seorang Jung yang melebihi keluarga vampire lainnya tidak mudah untuuk ditaklukkan. Banyak pejabat yang menentang berakhir menjadi abu ditangan Yunho saat mereka menantangnya berduel. Beragam alasan diupayakan untuk mengugurkan niatan Yunho menikahi Jaejoong yang merupakan nenek moyangnya sendiri, namun kekerasan hati Yunho membutakan segalanya, membuatnya membantai kaumnya sendiri hingga keegoisannya mengalahkan kebijaksanaannya.

Hari inilah yang ditunggu-tunggu oleh Yunho selama ini….

“Entah kenapa mereka yang berjodoh denganku selalu seorang leader dari kaumnya….” bisik Jaejoong pada udara kosong di hadapannya.

.

.

Karena sekarang sudah zaman modern, bukan lagi zaman tandun (zaman dahulu) maka pernikahan Jaejoong dan Yunho dilakukan sebagaimana pernikahan pada zaman ini berlangsung. Undangan yang hadir bukan lagi dari kaum Elf, bangsa peri, Troll, Bangsa Carvus dan Gardenia serta ras mistis lainnya. Undangan yang hadir hanya berasal dari kaum vampire dan para bangsa manusia yang teritorinya kini sudah membaur dan abstrak (tidak jelas). Para ras mistis lain memilih membentuk koloni sendiri di dalam dimensi yang mereka ciptakan sendiri, sehingga akan sedikit mengejutkan bila tiba-tiba saja mereka datang ke acara pernikahan Yunho dan Jaejoong mengingat ada manusia di sana. Mereka memilih mengirim pesan ucapan selamat melalui punai –hal yang sudah mereka lakukan sejak zaman tandun dan bertahan sampai sekarang.

Tidak ada prosesi istimewa, hanyalah upacara pernikahan biasa seperti halnya yang dilakukan oleh manusia kebanyakan. Pencatatan di kantor catatan sipil kemudian pesta resepsi –karena hal terpenting ritual perkawinan bangsa vampire sudah terlebih dahulu Yunho lakukan sebelumnya. Lagipula akan mengejutkan bila pada manusia mellihat prosesi kaum vampire yang sesungguhnya mengingat selama ini kaum vampire membaur dengan sangat baik. Pesta terus berlanjut hingga tiga hari tiga malam. Sang pengantin yang lelah memilih untuk tidak menghadiri pesta panjang dan meriah itu. Jaejoong memilih berdiam di dalam kamar dan keluar sesekali bila ada tamu penting yang datang ke pesta itu, selebihnya namja cantik itu memilih beristirahat atau sekedar tidur.

.

.

“Ahra ya….” mata kelam itu menatap langit biru yang dihiasi awan-awan putih yang berarak perlahan. Asap lurus yang semula tipis namun semakin menebal dan perlahan pudar yang berasal dari sebuah benda bernama pesawat jet itu pun ikut menghiasi warna biru langit. Hal yang dulu tidak pernah dibayangkan olehnya.

Yeoja bernama Ahra itu tersentak dari lamunannya dan menoleh ke arah samping, “Apakah anda membutuhkan sesuatu? Anda ingin memakan sesuatu?” tanyanya.

Namja cantik itu mengusap perutnya yang mulai membesar, “Semenjak bayi ini berada di dalam tubuhku, aku merasa berbeda Ahra ya….” ucapnya.

“Berbeda?” ibu dari Jung Yunho, Jung Yoochun dan Jung Changmin itu mengerutkan keningnya yang sudah dipenuhi oleh keriput.

“Aku merasakan hal-hal yang sudah berabad-abad tidak ku rasakan lagi.” Ucap Jaejoong pelan. Menikmati sensasi aneh yang kembali dirasakannya sejak dirinya mengetahui kehamilan keduanya ini, kehamilan yang berjarak ratusan abad sejak kehamilan pertamanya.

“Anda sakit?” yeoja itu sedikit panik

Jaejoong tersenyum, “Aku tumbuh Ahra…. Sama seperti vampire berusia 17 tahun lainnya, aku tumbuh lagi…. Ku rasa ada hikmah dibalik kehamilanku kali ini. Itu artinya mungkin saja ketika saatnya nanti aku pun akan menua sebelum akhirnya mati.” Ucapnya lebih kepada sebuah harapan untuk dirinya sendiri.

Yeoja itu terdiam, mencoba mencerna apa yang namja cantik itu katakan padanya.

“Ahra ya…. Anak ini akan seperti apa nantinya?” tanya Jaejoong, “Seperti apapun dia nanti ku harap kaum kita akan menerimanya dan tidak mengucilkannya. Jangan sampai kesalahan yang orang tuanya lakukan berimbas padanya. Aku akan gila bila hal itu terjadi pada anakku, Ahra ya….”

“Kita tidak akan membiarkan hal itu sampai menimpanya. Tidak akan!” ucap Ahra penuh keyakinan.

“Apa kau menyesal Ahra ya?” Jaejoong menatap Jaejoong, “Aku yang seperti ini justru menjadi menantumu, ibu dari calon cucumu. Aku akan mengerti bila kau merasa kecewa pada keadaan kita sekarang.”

Air mata itu leleh (mengalir perlahan) membasahi wajah lelah yeoja itu. Jemari kisutnya menggenggam erat jemari pucat yang kini terasa semakin kurus itu, menciumnya sebelum membelainya perlahan, “Yang saya sesalkan adalah tindakan Yunho yang melukai anda.” Jawab Ahra, “Tetapi dari dalam lubuk hati, saya merasa sangat bersyukur karena anda kembali menjadi seorang istri. Saya bahagia untuk anda tetapi kesedihan ini pun sama besarnya dengan kebahagiaan yang saya rasakan.”

“Tidak apa-apa… karena aku pun juga merasakannya Ahra ya….”

.

.

Dengan penuh kasih Yunho menyuapi namja cantik itu, namja yang selalu dinginkannya melebihi hal apapun di dunia ini namja yang kini menjadi miliknya dan tidak akan ada seorang pun yang bisa mendebatnya lagi perihal ini termasuk hukum sekalipun. “Wajahmu pucat. Kau harus banyak makan, Boo.” Ucapnya sambil terus melesakkan sendok berisi bubur ke dalam mulut namja cantiknya..

“Aku makan terlalu banyak. Lihatlah! Badanku menjadi sebesar ini.” Sahut Jaejoong.

“Dimataku kau tetap menawan.” Ucap Yunho. Baginya Jaejoong yang dulu maupun Jaejoong yang kini tengah mengandung anakknya tetap terlihat sama, tidak ada yang berubah kecuali berat badan Jaejoong yang semakin bertambah setiap harinya diusia kehamilannya yang menginjak bulan ke-4 ini. Tinggal menunggu hari hingga anak mereka akan terlahir ke dunia, dan Yunho sungguh sangat menantikan hari membahagiakan itu segera datang.

“Sudah.” Tolak Jaejoong ketika lagi-lagi Yunho memaksa memasukkan sesendok bubur ke dalam mulutnya.

“Kau baru makan beberapa suap.” Keluh Yunho.

“Aku sudah kenyang. Mengertilah….” pinta Jaejoong. Perutnya sudah sangat penuh, bila Yunho terus memaksanya menelan makanan Jaejoong yakin perutnya akan meledak.

“Baik, aku tidak akan memaksamu lagi.” Perubahan yang paling ketara (terlihat) semenjak Yunho resmi menyandang status sebagai suami Jaejoong sekaligus calon ayah bagi anak mereka adalah kesabaran namja bermata musang itu yang tiada putus-putusnya ketika melayani Jaejoong. Menemani dan membujuk agar namja cantiknya mau makan walaupun sesuap saja.

“Aku ingin berendam.” Ucap Jaejoong.

“Hari sudah larut. Kau bisa berendam besok pagi.” Jawab Yunho. Aneh memang bila harus berendam sekarang. Ini sudah memasuki awal musim gugur dan malam bisa menjadi sangat dingin walaupun untuk bangsa berdarah dingin seperti mereka.

“Aku ingin sekarang.” Jaejoong bersikeras. Ada dorongan dalam dirinya yang membuatnya ingin berendam.

“Dengarkan kata-kataku Jung Jaejoong!!” ucap Yunho dengan nada tinggi –tidak, Yunho tidak membentak Jaejoong. Hanya mengatakkan kalimat itu dengan nada sedikit lebih tinggi. Yunho hanya ingin Jaejoong dan anak mereka tidak sakit, karena bagaimanapun vampire yang tengah mengandung menjadi gampang sakit –walaupun ringan karena imun mereka yang tiba-tiba turun.

Meski awalnya Jaejoong tersentak kaget akibat nada suara Yunho yang tiba-tiba meninggi tetapi namja cantik itu mencoba mengerti, “Yunho, anakku ingin berendam malam ini….” ucapnya dengan nada lembut, tidak ada kemarahan walau secuil saja dari caranya bicara.

“Dia anakku juga. Berhentilah bersikap seperti itu!” protes Yunho, kesal bila Jaejoong menyebut anak mereka dengan ‘anakku’ saja.

Namja cantik tersenyum pasi, “Aku tetap ingin berendam….”

Kali ini Yunho menghela napas panjang, kembali menunjukkan kesabarannya, “Akan ku siapkan air panas untukmu….” Yunho beranjak dari duduknya, meninggalkan namja cantik yang masih setia mengusap perut besarnya itu sendirian.

“Kau tahu? Ayahmu bisa sangat menakutkan ketika menginginkan sesuatu. Tetapi bila sudah mendapatkan apa yang diinginkannya, ayahmu akan menjaga dan merawatnya penuh dengan cinta dan kasih.” Ucap Jaejoong, “Anakku, Umma tidak berharap lebih… jadilah anak yang bertanggung jawab dan memiliki hati yang teguh. Hal itu sudah sangat membahagiakan Umma….”

.

.

Sentuhannya lembut, tidak menuntut dan tergesa sama seperti pertama kali mereka melakukannya. Jaejoong tidak lagi melawan karena memuaskan Yunho adalah tugas serta kewajibannya. Yunho berhak mendapatkan kepuasan dari dirinya karena bagaimanapun juga kini Jaejoong adalah istri sah Jung Yunho.

Tidak banyak.

Ya, tidak banyak darah yang dihisap Yunho dari dalam tubuh istrinya diacara penyatuan mereka kali ini mengingat Yunho tahu bahwa dirinya tidak boleh melampaui batasan. Istrinya sebentar lagi akan melahirkan anak mereka dan Yunho tidak mau sesuatu terjadi pada istri dan calon anak mereka hanya karena keegoisan dan hasratnya yang menggebu. Yunho akan menahannya, setidaknya sampai anaknya lahir.

Air tempat mereka berendam masih terasa panas ketika Jaejoong terengah karena kelelahan. Tubuhnya terkulai di atas pangkuan suaminya. Matanya nanar ketika Yunho mendekapnya, menciumi kening dan kepalanya. Jaejoong ketakutan sekarang. Bagaimana bila Jung Yunho suaminya kini nantinya akan meninggalkannya juga sama seperti Jung Yunho mendiang suaminya dulu. Bagaimana bila ketika anaknya sudah besar nanti anaknya pun akan mendahuluinya menuju tanah keabadian.

Jaejoong takut sekarang.

“Tidak…. Kalaupun aku pergi, aku akan membawamu turut serta bersamaku. Tidak akan ku biarkan kau merasakan kesedihan berkepanjangan itu lagi, Boo…. Tidak akan….” bisik Yunho seakan mengerti kegundahan istrinya.

.

.

Minggu kedua bulan september, tepat pada angka 9…. Sosok cantik itu merintih kesakitan, keringat membanjiri sekujur tubuhnya. Kontraksi terus-menerus terjadi padanya hingga rasa lelah dan sakit itu nyaris meruntuhkan pertahannya.

“Ahra ya….” lirihnya pelan.

Yeoja itu meraih jemari pucat berkeringat itu, “Saya di sini.” Ucapnya.

Chery lips itu terlihat sangat pucat. “Aku sudah sampai pada batasku… Ahra ya….” lirihnya.

“Anda tidak boleh menyerah! Jebbal!” yeoja itu menggenggam kuat-kuat jemari pucat yang dulu pernah menimang dirinya, “Anda harus kuat!” Ahra kembali menumpahkan air matanya yang selama empat bulan itu terus membasahi wajah lelahnya. Yeoja itu tidak tahan melihat gurat kesakitan yang tergambar jelas pada wajah cantik itu. Ahra tidak kuat melihatnya.

“Yunho….” Chery lips itu bergetar.

“Yunho?” tanya Ahra.

“Panggilkan dia….” pinta Jaejoong dengan napas tersendat-sendat (patah-patah/ berhenti kemudian bernapas kembali).

Sedikit ragu tetapi akhirnya Ahra melepaskan genggaman tangan itu juga dan berlari keluar ruang persalinan untuk memanggil putra sulungnya. Air mata karena ketakutan kehilangan sosok yang teramat disayanginya.

Sialnya Yunho sedang ada di balai kota, sedang melakukan pertemuan penting dengan para pejabat tinggi lainnya.

Dengan panik Ahra meminta Yoochun, Changmin dan semua orang untuk bergegas menyuruh Yunho pulang. Tidak peduli apapun yang terjadi Ahra meminta pada kedua anak dan orang-orang suruhannya untuk membawa Yunho pulang meskipun terpaksa mengikat Yunho sekalipun.

Ahra ingin anaknya segera pulang agar Yunho tidak menyimpan penyesalan jikalau sesuatu yang buruk menimpa anak dan istrinya.

Semoga….

Semoga Jaejoong dan calon cucunya baik-baik saja.

Itulah doa Ahra….

.

.

Yunho kembali disaat tangis pertama bayi terdengar dari dalam ruang persalinan rumahnya –ruangan yang memang disediakan bagi para menantu keluarga Jung untuk melahirkan. Semua keturunan keluarga Jung dilahirkan di rumah induk mereka tanpa terkecuali. Tetapi Yunho harus menunggu beberapa saat sampai akhirnya dirinya diijinkan masuk oleh dokter yang membantu persalinan anaknya.

Yunho bergegas masuk ke dalam untuk melihat anak dan istrinya. Napasnya sedikit terengah akibat berlari dari tempat mobilnya terparkir hingga ruang bersalin yang berada di ujung paling belakang rumah induk keluraga Jung. Kecemasan benar-benar memenuhu wajah tampan nan tegasnya.

“Anakku?” tanya Yunho yang mencoba mengatur napasnya yang memburu.

“Bayi laki-laki yang sangat sehat dan tampan, Hyung.” Junsu menyerahkan bayi merah yang sudah dimandikan dan dibalut kain hangat itu pada Yunho.

Mata musang tajam itu nanar menatap sosok mungil yang berada di dalam dekapannya itu. Anaknya. Buah cintanya dengan orang yang paling dicintainya. Mahluk mungil yang ditunggunya dengan sabar dan kasih sayang. Yunho menangis dan menciumi wajah merah bayi kecil itu.

Matanya masih tertutup –sesekali membuka dan mengatup. Sekilas Yunho melihat refleksi dirinya pada bayi kecil itu. Walaupun belum jelas tetapi kulit bayinya sedikit pucat, Yunho menduga anaknya akan mewarisi kulit pucat istrinya. Tetapi entahlah…. Anak itu baru berusia beberapa menit, masih banyak waktu untuk melihat perkembangannya, seperti apa rupa anaknya nanti.

“Jaejoongie?” tanya Yunho seperti teringat sesuatu −istrinya. Ditatapnya sosok mungil yang tiba-tiba menggeliat resah dalam gendongannya dengan tatapan penuh haru dan kebahagiaan yang membuncah. Yunho tidak bisa menemukan istrinya di dalam ruangan itu padahal seharusnya Jaejoong masih di sana, tersenyum padanya.

Junsu menggelengkan kepalanya pelan.

“Junsu?” tanya Yunho dengan raut bingung.

Junsu menggelengkan kepalanya pelan, “Kami sudah berusaha, Hyung…. Jaejoong Hyung menunggumu sebelum akhirnya Hyunno lahir dan napasnya menghilang. Maafkan aku….” sesal istri Park Yoochun itu dengan mata yang sudah basah oleh air mata.

Yunho terdiam. Nyawanya seolah tercabut paksa dari raganya mendengar penuturan Junsu. Bayinya, anaknya yang ditunggunya lahir tanpa kehadiran seorang ibu? Apakah ini karma? Apakah ini kutukan?

Yunho menangis dalam diamnya. Mencoba mencerna sesuatu….

“Hyunno?”

“Jung Hyunno. Nama anak kalian. Nama itu dipilih oleh Jaejoong Hyung sendiri.” Ucap Junsu, “Jaejoong Hyung ada di ruang pengobatan bersama Umma.”

“Hyunno….”  Yunho terisak. Air matanya jatuh membasahi wajah anaknya yang terus saja menggeliat resah. Inikah harga yang harus didapatkan Yunho untuk memiliki Jaejoong walaupun hanya sesaat? Kalau iya, bukankah hal ini jauh lebih mahal daripada apa yang didapatkannya?

Vampire yang meninggal karena melahirkan tidak akan menjadi debu… seolah-olah jasat tidak bertuan, tubuh Jaejoong menjadi cindera mata terakhir yang Yunho dapatkan dari istri cantiknya itu.

Kini….

Yunholah yang akan merasakan kehilangan, kesepian, kepedihan dan luka berkepanjangan itu menggantikan Jaejoongnya….

Sendirian…

Ditemani bayi kecilnya yang terus bergerak resah, merindukan ibunya….

.

.

END

.

.

Mian, Yuuki diburu kegiatan di real yang terlalu padat akhir-akhir ini. Mian kalau hasilnya mengecewakan. Seperti kata Yuuki sebelumnya (entah sosmed yang mana) kalau FF ini tidak akan lebih panjang dari Dark Moon.

Epilog?

Semoga bisa Yuuki post sebelum bulan ini berakhir.

Terima kasih bagi siapa saja yang sudah mengikuti FF ini dari awal. Terima kasih banyak #bow

Semoga kita semua diberi kesehatan….

Sampai jumpa lain kesempatan.

.

.

Monday, May 19, 2014

9:47:59 AM

NaraYuuki

13 thoughts on “Ancestor VI (Final)

  1. aaa aku kira ff ini bakalan panjang eon
    ternyata eonnie bikinnya pendek
    tp gpp :’) saya suka ini

    aaaa andwae ㅠㅠㅠㅠㅠ
    beneran jaema meninggalkah eon?
    andwaeyoo😦
    semoga ada keajaiban
    kasihan unno yg baru aja lahir
    yunppa juga yg udah berubah😦

  2. Awal baca antara seneng sedih sama marah, eh begitu baca endingnya cuma bisa mangap!
    Berakhir dengan lahirnya Hyunno dan meninggalnya Jae? Oke.
    Ada epilog kan kak? Setidaknya ada harapan utk melihat Hyunno tumbuh :’)

  3. Ping-balik: Ancestor VI (Final) | Fanfiction YunJae

  4. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAWWWWWWWW
    gak mau jaejoongie joongie boojae hikz hikz
    harapan jaejoong emang terkabul tapi nyesek bacanya
    ditunggu epilognya semoga ada kebahagian setelah ini

  5. ending yg bgus.menurutq cukup adil..yunho mendapatkan apa yg diinginkan..termasuk dgn konsekuensinya..
    baca ending ni efef aq jd keinget film city of angel.😦

  6. sad ending??
    aigo, kasian hyunno, dy ga bakal merasakan kasih sayang seorang ibu..😦
    daddy, semoga kau tetap menyayangi dan menjaga hyunno seperti saat dy ada di dalam kandungan mommy..
    jangan bikin mommy bersedih dan ga tenang di sana ya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s