Always Keep The Faith! XVI


Tittle                : Always Keep The Faith! XVI

Author              : NaraYuuki

Betta reader      : Hyeri

Genre               : Family/ Romance

Rate                 : -M

Cast                 : All Member DB5K

Disclaimer:       : They are not mine  but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

AKTFAKTF

.

.

Yang jelek-jelek jangan ditiru ne😉

.

.

.

.

.

Tongkat berkepala naga halus yang terbuat dari kayu jati impor itu mengetuk-ketuk lantai seirama dengan laju pemiliknya yang berjalan perlahan diiringi beberapa bodyguard berbadan kekar yang selalu menemaninya, memastikan majikan mereka selalu aman dari ancaman para saingan bisnisnya.

Kriet!

Pintu berpapan nama Presdir itu terbuka. Langkah angkuhnya membawanya memasuki ruangan besar yang sangat modern namun terkesan klasik karena perabotannya yang kebanyakan terbuat dari kayu-kayu yang dipelitur (dicat menggunakan cat mengkilap sewarna kayu) dengan sangat rapi dan indah. Tanpa dipersilahkan, didudukkannya dirinya di sebuah sofa berwarna coklat pudar namun eksotik yang terdapat di ruangan besar itu. Menunggu sesaat sebelum menyampaikan maksud kedatangannya.

“Aku sudah menentukan tanggalnya bersama calon besanmu.” Suaranya yang terdengar dalam dan tenang itu memenuhi ruangan, “Setidaknya berikanlah hadiah pernikahan atau kartu ucapan selamat pada mereka.”

“Mereka tidak mendapatkan restuku. Kenapa aku harus repot-repot melakukan hal tidak berguna seperti itu?” tanya namja bermata tajam dan dingin itu dari balik meja Presdirnya, enggan beranjak dari kursi kerja hitamnya yang membawa kenyamanan tersendiri untuknya.

“Tanpa restumu mereka akan tetap ku nikahkan.”

“Lakukan saja!”

“Jihun… kesalahanku adalah ketika memaksamu menikahi ibu Yunho hingga membuatmu berselingkuh dan menghasilkan Changmin. Kesalahan itu cukup berhenti padamu dan jangan kau ulangi lagi! Urungkan niatmu untuk menjodohkan Yunho dan putri keluarga Go atau keluarga Hwang sesuai ambisimu itu sebelum aku turun tangan untuk menghentikannya. Kau tahu bagaimana hasilnya bila sesuatu itu dipaksakan, bukan?” Tongkat kayu berkepala naga itu mengetuk-ketuk lantai marmer yang dingin di bawahnya, menimbulkan sebuah irama aneh namun terdengar sedikit merdu. “Kau berurusan dengan keluarga Park…. Bila kau menyakiti putranya, apa kau pikir Park Jaeseok akan diam begitu saja? Dia lebih dari cukup untuk menghancurkanmu. Tetapi karena kau anakku ku rasa Jaeseok akan sedikit berhati-hati dalam bertindak….”

“Apa yang sebenarnya ingin Appa sampaikan padaku sehingga Appa datang sendiri ke sini? Biasanya Appa selalu mengirim kurir atau sekertaris kepercayaan Appa itu bila ada urusan denganku. Katakan! Biar aku bisa segera menyelesaikan pekerjaanku.”

“Sangat tidak sabar…. Tapi kau memang anakku.” Gumamnya, “Aku hanya memperingatkanmu. Kalau kau tidak datang pada acara pernikahan Yunho dan Jaejoong nanti, ku pastikan perusahanmu hancur saat itu juga. Serta…. Sekali kau berani mengusik calon cicitku atau mencelakai Ummanya, aku sendirlah yang akan mengirimmu ke dalam neraka, Anakku….”

“Kenapa Appa membela mereka?”

“Aku melakukan apa yang ku anggap benar untuk membayar masa kecil mereka yang mengerikan.” Jawabnya, “Melihat cucuku menangis di hadapanku karena pertengkaran kedua orang tuanya, melihat cucuku mengerang kesakitan sampai akhirnya kematian menjemputnya… kau pikir aku bisa diam saja setelah semua kepahitan yang cucu-cucuku alami? Aku masih ingat apa yang Hyunbin katakan padaku sebelum kematian mengambil malaikat kecilku itu. ‘Haraboji, Binie mau Appa dan Umma’ katanya. Cucuku yang malang….” Lirihnya.

Namja yang memiliki mata setajam milik Yunho itu menatap diam punggung rapuh ayahnya. Satu-satunya manusia yang ingin dihindarinya.

“Jung Sun Woo…. Walaupun banyak yang membenciku tetapi namaku masih cukup mampu untuk menyingkirkan para rekan bisnismu, Anakku.” Namja itu berdiri dari duduknya. Tangan kanannya yang menggenggam kuat kepala naga tongkatnya terlihat begitu serasi. Tongkat berwarna coklat gelap itu berkilat indah seolah dilapisi ribuan kristal kecil, “Jadi menyerahlah sebelum ku paksa kau untuk tunduk! Akan lebih mudah bila kau tidak melakukan perlawanan.” Ucapnya sebelum berjalan menuju pintu keluar.

“Aku tidak akan datang Appa…. Kali ini aku tidak akan menyerah semudah itu.” Jung Jihun, namja itu berujar.

“Dan aku sudah memperingatkanmu sebelumnya. Nasibmu ada dalam genggamanmu sendiri, jadi bila kau memilih jalan yang salah rasakanlah sendiri getirnya! Pada saat itu tidak akan ada pertolongan untukmu, Anakku.” Balas Sun Woo sebelum benar-benar pergi dari sana, menyisakan Jihun yang tengah mengepalkan erat kedua tangannya.

“Aku tidak akan menyerah semudah itu, Appa…. Kau menurunkan sifat keras kepala ini dengan baik…. Bukankah itu ciri khas seorang Jung?”

.

.

Boo… ada yang ingin bertemu denganmu.”

Suara Yunho membuat namja cantik itu menolehkan kepalanya menatap ayah dari bayi yang kini bersemayam di dalam tubuhnya itu, doe eyes kelamnya membulat begitu tahu siapa tamu yang tadi mengganggu acaranya dan Yunho.

Baby….” yeoja itu berjalan mendekati Jaejoong yang kini duduk dengan kaku. Namja cantik itu gelisah ketika yeoja yang sudah melahirkannya itu mendudukkan dirinya di sampinyanya, menggenggam jemari pucatnya kuat-kuat, “Joongie kemarin tanya Joongie anak siapa bukan? Umma di sini untuk menjawabnya. MianUmma tahu sudah sangat terlambat. Tetapi biarkan Umma menjelaskan pada Joongie ne?” diusapnya kepala putranya itu dengan lembut.

Jaejoong diam saja, terlihat sangat kikuk. Doe eyes kelamnya tidak fokus dan menatap Yunho seolah ingin agar namja bermata musang itu membawanya pergi dari sana sesegera mungkin sebelum emosinya meledak.

Haeri, yeoja itu mengeratkan genggamannya pada jemari putranya, menatap lekat wajah cantik sang putra. Dengan tangan yang tersisa dibelainya wajah yang memiliki kulit sangat halus dan kenyal itu perlahan-lahan, “Appa Jongie sekarang tengah berdiri di samping Yunho…. Umma mohon jangan menolaknya… terlalu berat dan lama keslaahpahaman yang terjadi antara Umma dan Appa sehingga keadaan kita sekarang menjadi seperti ini. Tidak ada yang salah karena jalannya memang harus seperti ini. Yang perlu Joongie pahami… inilah yang terbaik untuk kita saat ini.”

Jaejoong menatap ragu-ragu Park Jaeseok yang kini tengah berdiri tenang di samping Yunhonya. Dapat Jaejoong lihat sepasang mata lelah yang terbingkai lensa kaca mata itu nanar menatapnya, ada kerinduan dan kesedihan di dalam sana yang tidak ingin Jaejoong usik. Tidak! Jaejoong tidak akan berani mengusiknya, luka yang terlihat bahkan lebih dalam daripada luka yang dilihatnya di mata Yunho maupun Changmin, bahkan dirinya sendiri.

“Yoochun Hyung sudah menceritakan semuanya pada Joongie, bukan?” tanya Haeri, “Itu benar Chagy. Umma dipaksa menikah dengan Kim Hyunjoong –orang yang Joongie panggil dan anggap sebagai Appa Joongie selama ini untuk menutupi aib keluarga. Saat itu adalah sebuah kutukan bila anak gadis hamil sebelum menikah. Appamu tidak tahu saat itu Umma tengah mengandungmu karena Appamu pun mendapatkan masalah. Sebelumnya kami bertengkar hebat, Appamu mabuk dan….” Haeri menatap nanar wajah putranya yang sudah berlinangan air mata. Haeri tahu, mungkin pengaruh cucunya jugalah yang membuat putranya terlihat sangat rapuh seperti ini padahal Jaejoongie yang dikenalnya sangat kuat dan tegar.

Jaejoong merasakan sakit ketika melihat mata nanar ibunya dan ayah tirinya –yang ternyata adalah ayah kandungnya sendiri. Jaejoong sakit setiap kali melihat mata yang menyimpan pilu dan nelangsa terlalu dalam. Namun Jaejoong juga marah karena dirinya ditipu dan dibohongi. Bukankah tidak adil? Delapan belas tahun hidupnya dan dirinya tidak tahu apa-apa selama ini? Bahkan jati dirinya sendiri…. Memang ironis.

“Haruskah Umma mengulangi semuanya? Apa yang sudah Yoochun hyung sampaikan pada Joongie?” tanya yeoja itu.

Jaejoong sudah terisak, air mata semakin membasahi wajahnya. Bahkan Jaejoong sempat menjerit dan memekik ketika Haeri memeluknya, menciumi sekujur wajah dan kepalanya penuh sayang. Yeoja itu pun ikut menangis. Merasa bersalah dan berdosa pada putranya. Namun Haeri berani bersumpah semua itu dilakukannya agar Jaejoongnya tidak terluka seperti dirinya, tetapi sayangnya luka yang didapat Jaejoong justru lebih besar darinya dan Haeri menyesal karena menyembunyikan kenyataan itu selama ini.

“Bolehkah sekarang Appa memelukmu?” tanya Jaeseok yang entah sejak kapan sudah berdiri di hadapan anak dan istrinya. Melihat orang yang disayanginya terluka membuatnya ingin menyeka dan membalut luka-luka itu walaupun dirinya sendiri tidak tahu harus berbuat apa.

Begitu gesit dan cepat hingga membuat Jaeseok tidak sadar bahwa kini sosok yang sangat dirindukannya tengah berada di dalam dekapannya dan memeluk erat dirinya. Beginikah rasanya memeluk anak sendiri? Anak yang selama ini bisa dilihat dan diperhatikannya namun tidak pernah bisa didekapnya? Sungguh… bukan hanya melegakan tetapi rasanya juga sangat membahagiakan dan menenangkan. ingin sekali Jaeseok merasakan perasaan seperti ini setiap hari, setiap detik….

Jaejoong pun yang awalnya merasa aneh kini justru merasa sangat nyaman. Rasanya hangat seperti ketika tengah memeluk Yunhonya, tetapi kali ini rasanya berbeda. Pelukan seorang ayah…. Bahkan perasaan nyaman saat dipeluk oleh Kim Hyunjoong yang dikira ayahnya pun tidak semelegakan ini. Setiap kali namja bermarga Kim itu memeluknya akan menimbulkan perasaan nyaman namun kikuk, sedangkan sekarang Jaejoong merasa sangat nyaman dan lega, nyaman yang membahagiakan dan hangat, “Pelukan Appa…. Seperti inikah rasanya?” gumamnya.

“Yoochunie….” gumam Haeri ketika melihat 3 pemuda yang baru bergabung dengan mereka. Salah satunya adalah putra suaminya yang berarti putranya juga, kakak Jaejoong yang bernama Park Yoochun. Yang satu lagi diketahui Haeri sebagai Kim Junsu, sahabat baik Yoochun karena beberapa kali Haeri melihat Junsu bercengkerama di rumahnya bersama Yoochun. Dan yang terakhir…. Haeri menatap bingung namja jangkung itu tetapi akhirnya tersenyum juga, pasti namja itu adik Yunho karena kemarin Haeri sempat mendengar bahwa Yunho tinggal bersama adiknya bernama Changmin. Yang mengherankan, kenapa Yoochun ada di rumah Yunho? Padahal Haeri dan Jaeseok menduga putranya itu kabur ke apartement mereka untuk meredakan emosinya.

Ini… sangat tidak disangka-sangka….

.

.

Meninggalkan Jaeseok dan Yoochun untuk menyelesaikan masalah ayah anak yang terjadi diantara mereka, suasana hangat terlihat di dapur kecil apartemen Yunho.

Di sana Haeri dan Junsu terlihat sedang membersihkan buah-buahan yang tadi ditenteng (dibawa) oleh ayah Yoochun –ayah Jaejoong juga. Yunho yang sedang menyeduh susu hangat untuk Jaejoong, Changmin yang sedang menikmati potongan kue coklat buatan Haeri dan Jaejoong yang tengah memakan deobboki serta kacang metenya dengan cara unik. Dengan sengaja Jaejoong menaburkan kacang mete sangrainya ke dalam deobbokinya kemudian memakannya. Semua yang berada di sana membiarkan dan mencoba memaklumi hal aneh yang Jaejoong lakukan.

Bukankah seorang yeoja yang tengah hamil kadang melakukan hal-hal aneh? Apalagi bila seorang namja yang tengah mengandung… sehingga tidak seorang pun berani menegur hal aneh yang namja cantik itu perbuat. Mereka takut menyinggung perasaan Jaejoong.

Ahjumma, kue buatan Ahjumma sangat enak.” Puji Junsu ketika mencicipi kue coklat itu, “Bisakah Ahjumma mengajariku membuatnya? Aku ingin memberikannya pada Yoochunie.” Ucapnya ceria seolah melupakan alasannya berada di sana bersama mereka.

“Eh? Yoochunie?” tanya Haeri.

“Junsu menyukai Yoochun, Ahjumma.” Ucap Yunho.

Yah Yunho! Jangan membocorkan rahasia itu!” omel Junsu.

“Rahasia?” tanya Yunho, “Maaf kalau begitu, aku sama sekali tidak tahu kalau itu adalah rahasia. Lain kali aku akan mengunci mulutku.”

Yah!” Junsu meraih kisatan di dekatnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

“Jangan sekali-kali kau berani melemparkan kisatan (cawan yang terbuat dari tembikar yang digunakan untuk mendinginkan minuman panas) itu pada Yunhoku, Kim Junsu! Atau aku akan membantingmu!” ancam Jaejoong.

“Ibu hamil tidak boleh terlalu galak Joongie!” sahut Junsu.

“Aku bisa meminta Changmin melakukannya untukku.” Ucap Jaejoong.

“Dengan senang hati akan ku lakukan, Umma….” sahut Changmin yang masih sibuk mengunyah.

“Ah, Changmin memanggil Joongie Umma? Kalau begitu Changmin adalah cucuku, ne? Astaga! Aku sudah punya cucu sebesar ini?” keluh Haeri yang mendatangkan tawa dari ke-4 pemuda itu.

Setidaknya hari ini berakhir baik. Sedikit membahagiakan daripada kemarin….

.

.

TBC

.

.

Mian kalau Miss Tynya buanyak Yuuki belum sempat edit -_- #bow

Yuuki postnya ditengah-tengah kegiatan seminar. Hueeeee….

Mian kalau hasilnya hancur begini dan jelek. Hanya segini saja yang bisa Yuuki hasilkan.

Selamat membaca :3

Jaga kesehatan, ne❤

Fighting!

.

.

Friday, May 02, 2014

9:24:53 PM

NaraYuuki

11 thoughts on “Always Keep The Faith! XVI

  1. Ping-balik: Always Keep The Faith! XVI | Fanfiction YunJae

  2. appa-nya yunnie kepala batu ya? jadi penasaran apa yg akan terjadi klo dia mmang gak muncul di wedding day-nya yunjae.

  3. uuhh kenapa jung appa msh tetep kekeuh sih
    padahal udh didatangi dan di peringati sm jung haraboji lhoo
    semoga ntr gg nyesel!!!! huh😡
    aaa akhirnya masalah kim appa eomma sm jaema selesai juga
    hahaha kasihan suie
    dibully mulu. makanya cepet sana bilang sm chunnie :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s