Always Keep The Faith! XV


Tittle                : Always Keep The Faith! XV

Author              : NaraYuuki

Betta reader      : Hyeri

Genre               : Family/ Romance

Rate                 : -M

Cast                 : All Member DB5K

Disclaimer:       : They are not mine  but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

AKTF

.

.

Yang jelek-jelek jangan ditiru ne😉

.

.

.

.

.

“Sepertinya cucuku sudah menemuimu Jaeseok sshi.” Ucap namja paruh baya itu tenang sambil menyesap kopi hangatnya. Mata lelahnya yang penuh gurat kehidupan itu menatap lekat sosok di hadapannya, namja yang sepertinya usianya sama seperti anaknya yang kalau bisa ingin dikutuknya.

“Ya, bila yang anda maksud adalah Jung Yunho.” Jawab namja berkaca mata itu sedikit gusar. Bukan apa-apa, tetapi rencananya untuk menemui kedua putranya untuk menyelesaikan masalah keluarga mereka harus ditunda karena kehadiran tamu tidak diundangnya ini. Padahal istrinya tidak berhenti menangis sejak semalam karena memikirkan kedua putra mereka. Andaikan… seandainya Jung Sun Woo yang dikenal sebagai rajanya dunia bisnis itu tidak bertamu ke rumahnya sekarang.

“Jadi kau sudah tahu perihal rencana Yunho yang ingin menikahi Jaejoong begitu mereka selesai menjalankan ujian akhir? Sedikit terburu-buru memang, tetapi percayalah kalau Yunho melakukan hal itu bukan semata-mata karena Jaejoong tengah mengandung seorang Jung.” Namja itu –Jung Sun Woo− meletakkan kembali cangkir kopinya di atas meja, “Rencana itu sudah ada sejak Yunho terusir oleh ayahnya sendiri. Kehadiran Jung kecil yang sekarang tengah dikandung oleh Jaejoong adalah bonus untuknya. Karena itu….”

Dengan tidak sabar Park Jaeseok menunggu lanjutan kalimat yang dilontarkan oleh Sun Woo. Jaeseok tidak boleh gegabah karena bagaimanapun juga Sun Woo jauh lebih berbahaya daripada putranya yang bernama Jung Jihun itu –bila Sun Woo menawarkan pertikaian padanya− atau menguntungkan bila namja yang berusia diatas setengah abad itu menawarkan pertemanan padanya. Tapi sekarang Jaeseok tidak akan menduga-duga.

“Aku ingin mengajakmu menyiapkan pesta pernikahan mereka.” Sun Woo tersenyum, “Kurang dari satu bulan lagi mereka akan melaksanakan ujian.”

“Apakah Jihun sshi tahu hal ini?”

“Oh, aku tidak peduli pada anak itu! biarkan dia melakukan apa yang dianggapnya benar. Tetapi jangan khawatir padanya, selama aku masih hidup dia tidak akan bisa menjerumuskan cucuku dalam permainannya. Oh! Anakku yang bodoh!” keluhnya. “Jangan lupa! Aku ingin pesta pernikahan yang paling meriah! Lebih meriah daripada pesta pernikahan anak presiden beberapa bulan lalu. Jaejoong akan menjadi menantu keluarga Jung, dan penghargaannya untuk itu adalah pesta penyambutan yang tidak terlupakan…. Tentu ku kira kau bukan orang kikir Jaeseok sshi.”

“Tidak…. Tentu saja tidak. Akan ku lakukan apapun untuk kebahagiaan keluargaku Sun Woo sshi.” Jawab Jaeseok, “Tetapi ada hal penting lain yang harus ku selesaikan lebih dahulu sebelum membicarakkan pernikahan Jaejoong kami dengan Yunho.”

“Oh! Hal apa yang lebih penting daripada pernikahan mereka? Biar ku dengar alasanmu!”

Jaeseok menghela napas panjang, enggan menceritakan borok keluarganya pada orang lain. Tapi toh karena sedikit banyak masalah ini berkaitan dengan keluarga Jung juga dan di hadapannya kini duduk tenang calon besannya yang menunggu jawaban darinya mau tidak mau Jaeseok harus sedikit menjelaskan duduk perkaranya.

“Jaejoong sedikit marah pada ibunya dan itu membuat istriku terus menangis sejak kemarin. Yoochun, kakak Jaejoong pun kabur dari rumah karena pertengkaran kami. Maaf, tetapi aku tidak bisa mengatakan apa penyebabnya karena ini adalah masalah keluarga kami.”

Sun Woo menggangguk pelan, “Maka selesaikanlah! Aku akan menunggumu menyelesaikan masalah itu untuk kemudian membicarakan perihal pernikahan Yunho dan Jaejoong. Ada banyak hal yang harus diurus dan waktu kita sangat terbatas.”

“Maafkan aku, tapi akan ku usahakan masalah ini selesai secepatnya.”

.

.

Yah! Yah! Pelan-pelan!” omel Yoochun saat Junsu mengusap-usapkan sebutir telur pada memar di wajahnya.

“Walaupun wajahmu mengerikan tapi bagiku kau tetap tampan Chunie.” Ucap Junsu.

“Aku mau muntah rasanya.” Keluh Changmin yang tetap memakan serealnya dengan sedikit tergesa.

“Agak menyedihkan melihat seorang Park Yoochun datang ke dalam kandangku dalam keadaan miskin dan babak belur.” Yunho menggelengkan kepalanya pelan. Semalam Yoochun sudah menjelaskan semua yang dialaminya kepada Yunho, Junsu dan Changmin apa yang sebelumnya ia katakan pada Jaejoong.

“Ck… berbaik hatilah sedikit. Sebentar lagi kau akan menjadi adik iparku.” Ucap Yoochun.

“Yun….” Panggil Jaejoong. Namja cantik yang sedang duduk diam di atas sofa sambil memperhatikan layar televisi itu seperti tengah menahan sakit.

Wae Boo?” tanya Yunho yang langsung beranjak dari duduknya untuk memeriksa keadaan namja cantiknya.

Jaejoong meraih tangan kanan Yunho, meletakkan telapak tangan kokoh itu di atas perutnya, “Ku rasa dia sedikit gelisah hari ini.” Ucapnya.

“Dia tahu Ummanya sedang dalam masalah….” Yunho mengusap perut Jaejoongnya perlahan-lahan, merasakan keberadaan calon bayi mereka lebih nyata. Rasa-rasanya Yunho sudah tidak sabar lagi ingin melihat seperti apa wajah anaknya.

“Jaejoongie… Bolehkah aku mengusap perutmu juga?” tanya Junsu.

“Kau bisa melakukannya setelah Yunho.” Jawab Jaejoong.

“Aku?” tanya Yoochun sambil menunjuk dirinya sendiri, “Bagaimana denganku?”

“Kau adalah pamannya jadi silahkan saja.” Sahut Jaejoong.

Yoochun tersenyum sumpringah. ‘Pamannya?’ Bukankah itu berarti secara tidak langsung Jaejoong sudah mengakuinya sebagai kakaknya, “Paman ya? Wah, ku harap keponakanku adalah seorang gadis cantik yang…. Wae?” Yoochun menatap binggung 4 orang yang kini menatap aneh padanya.

“Kau mirip seorang pedofile.” Ucap Yunho.

Yah! Apa maksudmu?” omel Yoochun.

Umma, bagaimana denganku? Bolehkah aku mengusapnya juga?” tanya Changmin sambil menggigit sendok yang sebelumnya digunakannya untuk memakan sereal.

“Kau kakaknya. Tentu saja kau harus mengusapnya.”

Jawaban Jaejoong itu membuat Changmin tersenyum lebar. Kedua matanya berbinar, tangan kananya terjulur untuk menyentuh perut Jaejoong ketika Yunho menampiknya.

“Tunggu giliranmu!” ucap Yunho mendatangkan gerutuan dari Changmin.

“Yun….” Panggil Jaejoong.

Ne?” Yunho menatap namja cantik itu lekat-lekat, “Boo Jae menginginkan sesuatu?”

“Entah kenapa aku ingin makan kacang mete (mede) yang disangrai. Aku juga ingin makan deobboki yang dijual Cha ahjuma, kiosnya di belakang gedung sekolah kita.” Ucap Jaejoong, “Ottoke?”

“Aku akan membelikan deobboki untuk Umma.” Ucap Changmin.

“Sungguh?” tanya Jaejoong.

Changmin mengangguk pelan, menengadahkan tangannya pada Yunho, “Appa… aku butuh uang untuk membelikan Umma Deobboki.” Ucapnya.

Mwo? Appa?” Yoochun mengerutkan keningnya. Menurutnya entah Jung Yunho maupun Jung Changmin, keduanya sama-sama aneh.

“Chunie, bagaimana bila kita membelikan Joongie kacang metenya?” tanya Junsu. Mungkin dengan begitu dirinya bisa menghabiskan waktu berdua cukup lama dengan Yoochun.

“Memang dimana kita bisa mendapatkan kacang mete yang disangrai, huh?” Yoochun menautkan alisnya bingung.

“Pasar tradisional. Dimana lagi?”

Mwo?”

.

.

“Tidakkah kau menganggapku sedikit lembek akhir-akir ini, Yun?” tanya Jaejoong. Disandarkannya kepalanya pada bahu Yunho seolah-olah sedang meletakkan sedikit bebannya.

“Tidak! Tidak… Jaejoongku tidak lembek dan tidak akan pernah lembek.” Ucap Yunho, “Hanya aku lebih senang kau seperti ini, Boo. Bergantung padaku…. Biarkan aku mengurus semuanya untukmu. Sekarang kau hanya harus memikir uri aegya saja.”

“Kau tahu, Yun? Kadang aku merindukan rasa rokok di bibirku.” Gumam Jaejoong.

“Aku akan membungkam bibirmu dengan bibirku agar yang kau ingat hanya rasa manis getir bibirku saja.”

Jaejoong tersenyum sinis, “Aku juga ingin sekali merobek wajah para yeoja yang nyaris setiap hari mencuri-curi pandang padamu. Mereka lebih menykai bad boy ku rasa daripaada namja baik-baik. Yoochun harus berhati-hati, fansnya bisa menghianatinya dan memilihmu.”

Yunho tidak bisa menyembunyikan tawa bahagianya, “Biarpun para yeoja itu menawarkan wine termahal untukku sekalipun aku tidak akan mau melirik mereka, Boo.”

Wae?” Jaejoong menautkan kedua alisnya.

“Karena disampingku sudah ada berlian yang sangat mahal. Terlalu mahal untuk ditukar dengaan seluruh kekayaan di dunia ini.”

“Kau perayu yang ulung Tuan Jung. Tetapi tidak terlalu pintar untuk merayuku.”

“Aku mengerti.” Sahut Yunho, “Boo… bagaimana bila kita pindah?”

“Huh? Kemana?”

“Aku melihat sebuah rumah, tidak terlalu besar tetapi juga tidak terlalu kecil. Halamannya cukup luas. Aku berpikir seandainya anak kita lahir, kami bisa bermain bola di sana atau membangun kolam renang kecil dan taman bermain mini untuknya.”

“Jangan menghamburkan uang.” Ucap Jaejoong. Ini saat-saat sulit bagi mereka dan namja cantik itu tidak mau menghambur-hamburkan uang.

“Aku cukup mampu, Boo….”

“Aku cukup bahagia di sini kalau begitu.”

“Kau tidak suka? Aku kira aku bisa mengusahakan sesuatu untuk kenyaman kita bersama.”

“Aku cukup nyaman di sini.” Ucap Jaejoong, berusaha meyakinkan Yunho.

“Tetapi anak kita nanti butuh ruang gerak lebih luas Boo. Kau lihat berita akhir-akhir ini?”

“Berita apa?”

“Banyak balita yang jatuh dari balkon atau jendela apartemen mereka.” Ucap Yunho, “Aku tidak mampu membayangkan hal itu terjadi pada anak kita.”

Jaejoong berpikir sejenak, “Setidaknya kau harus bicara pada Changmin soal keinginanmu ini.”

“Dia akan setuju bila kau menyetujuinya.”

“Kita bicarakan itu nanti, setelah kita melewati ujian akhir. Bagaimana?”

“Aku setuju.”

.

.

Jemari pucat itu menggenggam erat lengan namja yang berjalan pelan di sampingnya. Tanyannya yang satu lagi menenteng (menjinjing/ membawa) tas dan sebuah kantung plastik putih berukuran cukup besar, entah apa isinya. Namja berkaca mata itu pun tengah membawa keranjang berisi beragam buah-buahan. Keduanya melangkah pelan menusuri lorong panjang dan sepi itu. beberapa kali keduanya berpapasan dengan beberapa orang aneh bukan hanya terlihat tidak meyakinkan tetapi menurut pandangan keduanya tempat itu tidak cukup layak untuk anak mereka.

“Apa boleh buat, Yunho masih anak SMA.” Namja berkaca mata itu seolah-olah sedang menghibur dirinya sendiri dan sang istri. Sangat wajar bila tiba-tiba kegundahan itu menyergap mereka.

“Bujuklah mereka agar mereka mau pindah. Setidaknya ke tempat yang lebih meyakinkan daripada tempat ini.”

“Aku akan berusaha.”

.

.

Jaejoong melepaskan tautan bibir mereka ketika mendengar pintu apartemen mereka diketuk. Sedikit tidak rela turun dari pangkuan namja tampan itu, menyisir rambut hitam legam lurusnya menggunakan jemari lentiknya, merapikan kembali kemeja yang dipakainya –sejak tahu hamil Jaejoong lebih suka menggunakan kemeja agar bayinya bisa merasa nyaman dan tidak sumpek dibandingkan bila dirinya mengenakan kaus ketat.

“Kalau itu Changmin atau Junsu bahkan Yoochun, akan ku patahkan tangan mereka!”

Yunho tersenyum, membantu Jaejoong mengancingkan kancing teratas kemeja berwarna soft blue itu sebelum berjalan menuju arah pintu untuk mencari tahu siapa tamu yang sudah mengganggu acaranya bersama Jaejoong.

Yunho sedikit terkejut ketika membuka pintu dan melihat siapa tamunya. Namun keterkejutannya tidak urung membuat Yunho mempersilahkan tamu-tamunya untuk masuk.

Sementara Yunho menjemput para tamunya, Jaejoong menunggu dengan sabar di ruang keluarga yang berfungsi juga sebagai ruang nonton tivi dan belajar mengingat semua penghuni apartemen itu masih berstatus pelajar. Sesekali chery lipsnya bergumam pelan atau menggerutu ketika melihat acara dan iklan yang dilihatnya melalui layar televisi.

“Mereka lama…. Aku ingin kacang meteku… deobboki….” gumam Jaejoong yang entah mengapa tiba-tiba merasa sangat kesal, “Siapa tamu menyebalkan yang datang? Kenapa Beruangku tertahan begitu lama?” gerutunya.

Boo… ada yang ingin bertemu denganmu.”

Suara Yunho membuat namja cantik itu menolehkan kepalanya menatap ayah dari bayi yang kini bersemayam di dalam tubuhnya itu, doe eyes kelamnya membulat begitu tahu siapa tamu yang tadi mengganggu acaranya dan Yunho.

.

.

TBC

.

.

Friday, May 02, 2014

7:58:52 PM

NaraYuuki

23 thoughts on “Always Keep The Faith! XV

  1. Ping-balik: Always Keep The Faith! XV | Fanfiction YunJae

  2. untung jung haraboji ngedukung yunppa dan gg peduli sm pendapat jung appa
    dan jung haraboji lebih berkuasa
    jadi jung appa gg bisa apa2 klo msh ada jung haraboji
    hohohoho
    jaema jadi lebih manis waktu hamil :3
    ahh kim appa eomma datang
    semoga jaema gg meledak ledak

  3. sapa yang datang umpa jaejoongie yaach

    woow kakek Jung daebak nikahin yunjae harus ngelebihi meriahnya anak presiden kereeen

  4. . udah update t’xata…🙂
    . bakalan mulus ni pernikahan yunjae, pi masih nunggu tindakan jung appa bwt ngalangin yunjae…:/
    . ditunggu next chap-nya… ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s