Always Keep The Faith! XIV


Tittle                : Always Keep The Faith! XIV

Author              : NaraYuuki

Betta reader      : Hyeri

Genre               : Family/ Romance

Rate                 : -M

Cast                 : All Member DB5K

Disclaimer:       : They are not mine  but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

AKTF

.

.

Yang jelek-jelek jangan ditiru ne😉

.

.

.

.

.

Haeri hanya bisa menangis dalam diam di samping suaminya ketika Jaejoong, putranya yang sangat cantik itu meletakkan selembar kertas kumal yang sepertinya telah diremas berkali-kali di atas meja. Akta lahir Jaejoong.

Jaeseok mendelik marah pada Yoochun yang berdiri di samping sofa yang Jaejoong dan Yunho duduki, seketika sukses membuat namja berpipi sedikit chuby itu mengejang kaget. Darimana lagi Jaejoong akan mendapatkan kertas laknat namun sangat berharga baginya itu jikalau bukan Yoochun yang memberikannya pada Jaejoong.

Jaejoong berdiri dari duduknya, “Aku mau pulang, Yun.” Ucapnya dingin ketika tidak kunjung mendapatkan jawaban dari ibunya atau siapa saja yang bisa .

Baby?” Haeri menatap putranya dengan mata sembabnya.

Tanpa memedulikan panggilan ibunya, Jaejoong terus berjalan ke arah pintu keluar. Jaejoong benci bila harus menerka-nerka semuanya sendiri diatas ketidaktahuannya tentang jati dirinya sendiri. Itu adalah hal paling memuakkan menurutnya.

“Maafkkan Jaejoongie, Ahjumma. Akhir-akhir ini Jaejoongie memang sedikit sensitif. Kami permisi dulu….” Yunho berdiri dari duduknya, membungkuk hormat pada Jaeseok dan Haeri sebelum berjalan sedikit tergesa untuk menyusul Jaejoong.

“Park Yoochun!” teriak Jaeseok, “Apa yang sudah kau katakan pada adikmu, huh?”

“Aku mengatakan apa yang harus diketahuinya, Appa.” Jawab Yoochun.

.

.

Sepanjang perjalanan pulang Jaejoong memilih diam, sesekali namja cantik itu menanggapi ucapan yang Yunho lontarkan dengan gumaman singkat atau sekedar mengeleng dan menganggukkan kepalanya saja. Sisanya? Namja cantik itu diam. Bergeming dan menatap kepadatan lalu lintas jalanan sore itu. Hatinya agak merana ketika mengingat ekspresi sedih yang tadi ditunjukkan oleh ibunya tetapi egonya melarangnya untuk sekedar terlalut dalam ephoria kesedihan itu. Tidak! Tidak! Jaejoong pun kini menjadi calon ‘ibu’, ia tidak boleh memiliki hati yang lemah mulai sekarang. Dalam hati namja cantik itu sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan menjadi ibu yang jauh lebih baik daripada ibunya maupun ibu Yunho. Jaejoong akan memastikan bahwa kelak anaknya entah laki-laki atau perempuan akan dilimpahinya dengan kasih sayang walaupun mereka harus hidup sangat sederhana, setidaknya anaknya kelak tidak akan merasakan kesepian yang dirasakan oleh Yunho dan dirinya sendiri.

Boo, kita sudah sampai di rumah.” Bisik Yunho sambil menggenggam jemari namja cantiknya yang sepertinya tengah melamun.

Jaejoong segera menoleh, sebuah senyum dipaksakannya ketika mata setajam musang yang tegas namun penuh keteduhan itu menatap lembut padanya.

Boo Jae melamun apa?”

“Akan sangat enak bila kita bisa makan manisan di sore ini, Yun.”

Yunho mengusap wajah Jaejoong yang terlihat sedikit pucat itu perlahan, “Arra. Setelah mengantarmu ke dalam aku akan membelikan manisan itu untukmu.”

.

.

“Dia menangis dari tadi.” Ucap Changmin pada Jaejoong dan Yunho yang baru memasuki apartement mereka saat keduanya bergeming di mulut pintu menyaksikan namja itu menangis sengungukan dan mengotori lantai dengan ceceran tisu penuh ingus dan air mata itu. Betapa sangat jorok!

Jaejoong menghela napas panjang, sudah cukup hari ini! Kenapa lagi dengan Junsu? Biasanya namja yang sangat menyukai Yoochun itu selalu ceria dan cenderung sedikit berisik. Melihatnya menangis menyedihkan seperti itu membuat pandangan Jaejoong terhadapnya sedikit berubah, “Wae?” tanyanya. Ada gurat kelelahan dan keengganan dalam lagu kata yang dilontarkannya.

Junsu menoleh menatap Jaejoong, tangisnya semakin pecah ketika melihat namja cantik itu sebelum dirinya menghambur dan menubruk Jaejoong. Tidak kasar karena Junsu tahu namja cantik itu sedang membawa sebuah nyawa dalam dirinya namun juga tidak cukup hati-hati sehingga Jaejoong nyaris terjerembab jikalau Yunho yang berada di belakangnya tidak menahan punggungnya.

“Junsu, kau membahayakan calon istri dan anakku.” Ucap Yunho yang kemungkinan tidak akan didengar oleh Junsu.

“Joongie…. Ummaku, hiks… hiks… dia menamparku karena aku berteriak padanya…. Aku tidak suka Umma berkencan dengan namja yang sudah menikah. Hiks… hiks….” Junsu terisak keras, lengannya yang sedikit berisi itu melingkar ketat pada leher Jaejoong hingga membuat permukaan lehernya sedikit memerah.

“Kau bisa membunuh Ummaku!” omel Changmin.

Jaejoong menepuk-nepuk dan mengusap punggung Junsu perlahan, “Yun, aku menaggih manisanku.”

“Akan ku belikan.” Yunho mengecup lembut bibir merekah Jaejoong, meletakkan kunci mobil Jaejoong di atas meja. “Dan jangan biarkan dia melukaimu.” Ucapnya. Sebelum pergi namja bermata musang itu sempat menepuk-nepuk kepala Junsu pelan, sekedar untuk menunjukkan kepeduliannya pada sahabat baru Jaejoongnya walaupun namja cantik itu masih enggan mengakuinya.

“Changmin, maukah kau membelikanku jamur dan beberapa sayuran?” tanya Jaejoong. Gerakannya masih sulit akibat pelukan Junsu pada tubunya. Namja cantik itu merasakan bahunya sedikit basah akibat air mata Junsu.

“Apapun perintah Umma.” Sahut Changmin.

“List belanjaannya ada si atas lemari es. Ambillah uangnya di dalam laci meja dapur dekat tempat penyimpanan bumbu-bumbu bubuk. Kau bisa membeli beberapa bungkus snack bila kau mau.”

Arraso Umma….” Changmin segera melesat ke dapur.

Jaejoong membiarkan Junsu yang terus terisak sampai akhirnya Changmin pergi dari apartement untuk berbelanja. Setidaknya, kini dirinya bisa menenangkan Junsu tanpa gangguan Yunho maupun Changmin yang kadang bisa sedikit berlebihan.

“Duduklah dulu! Biar aku dengar cerita lengkapmu….”

Karena Junsu menggelangkan kepalanya sebagai penolakkan akhirnya dengan susah payah Jaejoong mendorong Junsu hingga namja bersuara khas itu terjengkang di atas sofa.

Junsu memasang wajah kagetnya, untuk sesaat melupakan kesedihannya dan menatap Jaejoong dengan ekspresi kebinggungan.

“Sekarang bicaralah! Aku akan mencoba menjadi pendengar yang baik untukmu dan memberikan komentar yang mungkin saja kau butuhkan diakhir ceritamu nanti.”

Sambil sesekali terisak Junsu mulai menceritakan apa yang baru saja dialaminya.

Kim Hyo Jin, wanita yang sudah melahirkan Junsu itu tengah berkencan dengan seorang namja di salah satu mall paling megah di Seoul. Junsu memergoki mereka dan berteriak histeris pada keduanya, menghujat dan memaki, menyumpah ibunya yang menurutnya bersikap sangat jalang –walaupun Junsu tahu ia tidak boleh bersikap seperti itu– Junsu bahkan melempar es kopinya pada namja itu hingga mendatangkan kemarahan dari ibunya yang kemudian menamparnya.

Junsu berhenti sejenak bercerita, mengambil tisu yang berada di atas meja untuk menyeka air mata dan ingusnya sebelum kembali melanjutkan ceritanya.

Sebenarnya Junsu tidak keberatan ibunya yang selama ini hidup sendirian berkencan dengan ahjushi atau siapapun yang sekiranya pantas untuk wanita terhormat sepertinya, tetapi Junsu tidak bisa membiarkan ibunya merendahkan harga diri dan martabatnya dengan berkencan dengan seorang namja yang masih memiliki anak dan istri. Entah ibunya tahu atau tidak kenyataan itu namun kemarahan Junsu yang terlanjur meledak dan tidak bisa terkendali membuatnya memilih kabur begitu saja dari rumah.

Jaejoong melirik sekilas tas ransel yang tergeletak begitu saja di atas lantai di samping meja. Sepertinya Junsu memang benar-benar berniat kabur dari rumahnya, “Entah aku harus bilang apa padamu karena aku sendiri pun memiliki masalah dengan ibuku walaupun masalah yang kita hadapi jelas berbeda. Tapi ya…. Kau bisa tinggal di sini sementara sampai kau bisa menemukan cara yang baik untuk mengakhiri perseteruanmu dengan ibumu.” Ucapnya, “Ada satu kamar tamu kosong sehingga kau tidak perlu takut harus tidur di atas sofa yang bisa membuat tubuhmu sakit. Istirahatlah! Mau ku buatkan sesuatu?”

“Ani. Aku hanya ingin tidur sebentar. Boleh?”

“Tentu saja….”

.

.

Membiarkan Junsu terlelap di atas karpet beralaskan kakinya, Jaejoong diam membisu membiarkan televisi yang menyara tanpa suara itu mempilkan gambar-gambar yang terrlihat sangat abstrak (tidak berwujud/ buram) di matanya. Pikirannya berkelana memikirkan nasibnya yang membayanginya. Jemarinya terjulur dan mengusap perutnya yang sudah mulai terasa keras dan kencang, membayangkan kehidupan anaknya kelak akan seperti apa. Dan seperti apapun itu Jaejoong berharap tidak akan ada lagi masalah yang bisa mengguncang kebahagiaan anaknya. Jaejoong sangat takut bila kelak anaknya akan merasakan pahit seperti yang ibu dan ayahnya rasakan. Jaejoong tidak akan membiarkan hal itu terjadi apapun caranya.

Terlalu asyik dengan lamunannya sehingga membuat Jaejoong tidak sadar handphonenya bergetar sejak tadi. Ada 5 kali panggilan tidak terjawab. Dan ketika sekali lagi handphonenya bergetar, Jaejoong mengangkat telpon itu, “Hm? Wae?” mendengarkan pembicaraan si penelpon sebentar sebelum memutuskan sambungannya, “Hari ini sangat melelahkan….” keluhnya.

Sedikit berhati-hati Jaejoong meraih bantal dari atas sofa untuk dijadikan sebagai alas kepala Junsu menggantikan kakinya. Namja cantik itu sendiri berjalan perlahan dengan kaki kesemutannya menuju pintu keluar, meraih kunci mobil yang masih tertinggal di atas meja kemudian pergi dengan tenang agar tidak membangunkan Junsu.

.

.

Mobil berwarna dark silver itu berhenti di dekat halte yang berada di sebrang bangunan gedung sekolah megah. Pintunya yang terbuka menampakkan sosok cantik yang angkuh dan terkesan dingin. Beberapa orang yang kebetulan berada di halte itu sedikit berbisik dan menggunjingkannya, menanyakan eksitensinya sebagai seorang namja ‘kemayu’ atau yeoja tomboy.

Tidak memedulikan suara-suara sumbang yang memang sering didengarnya ketika dirinya berada di tempat umum, Jaejoong segera melangkah mendekati sosok namja yang duduk tertunduk di pojok kursi halte. Kepala dan wajahnya tertutupi oleh tudung jaket berwarna biru pudar. Setelah mengamati sesaat doe eyes itu melirik koper yang berada di dekatnya, menghela napas sangat panjang.

“Apakah Yunhoku harus memberimu makan juga? Betapa sialnya dia kalau begitu!” keluhnya.

Sosok yang semula meringkuk itu perlahan-lahan menengadahkan wajahnya, bibir kehitamannya tersenyum getir menatap sosok yang sudah berdiri dengan angkuhnya di hadapannya.

“Kau dihajar habis-habisan rupanya?” Jaejoong tersenyum sinis melihat beberapa memar dan lebam yang menghiasi wajah kakaknya, haruskah mulai sekarang Jaejoong membiasakan diri memanggilnya hyung?

“Para bodyguard itu mencoba melumpuhkanku saat aku mencoba kabur dari rumah.” Ucap Yoochun.

“Aku tahu.” Jaejoong menendang koper yang berada di dekatnya, “Kalian bertengkar?”

“Kalau yang kau tanyakan adalah aku dan Appa maka jawabannya iya. Umma menangis saat mencoba menenangkan Appa yang mulai tersulut emosi. Appa mengurungku di kamar dengan penjagaan bodyguard di depan pintu kamarku.” Cerita Yoochun.

“Aku tidak mau mendengar bagaimana kau bisa sampai di sini dengan keadaan babak belur seperti itu. Tapi sebaiknya aku segera membawamu pulang. Aku pergi tanpa pamit pada siapa pun dan ku rasa Yunhoku sudah kembali ke rumah dan panik karena aku tidak ada di sana.”

“Ya, Yunhomu!” cibir Yoochun. Namja yang juga memiliki kulit pucat serupa Jaejoong itu berdiri dari duduknya, meraih kopernya dan menyeretnya menuju mobil Jaejoong. Membuka pintu duduk penumpang dan meletakkan koper berukuran sedang itu di dalamnya. Kemudian mendudukkan dirinya sendiri di samping Jaejoong, “Ku harap di rumah super kecil itu ada makanan. Aku lapar sekali.” Keluhnya.

“Kau adalah pengungsi dan pelarian, lancang sekali kau mengatakan hal seperti itu?!”

“Hei adikku, kakakmu ini sedang dalam keadaan sulit. Mengertilah….”

“Sepertinya kita semua sedang dalam keadaan sulit.” Ucap Jaejoong sebelum mengemudikan mobilnya membelah jalanan kota yang mulai menggelap.

.

.

“Oh Boo…. Ku pikir sesuatu yang buruk terjadi padamu.” Yunho mendekap erat namja cantiknya yang baru saja kembali. Yunho nyaris mencekik lehernya sendiri ketika tidak menemukan Jaejoongnya di sudut manapun yang mampu terjangkau olehnya. Yunho takut namja cantik itu pergi meninggalkannya kerena beban yang harus mereka hadapi terlalu berat.

Doe eyes itu melirik Changmin yang duduk di dekat rak sepatu sambil mengusap wajahnya yang terlihat penuh kekhawatiran serta Junsu yang sedang menghapus air matanya kasar, kali ini sepertinya namja berbadan sedikit berisi itu menangisi kepergian Jaejoong yang tanpa pamit tadi.

“Oh, kalian menghalangi jalanku.” Keluh Yoochun yang langsung mendapatkan tatapan binggung bukan hanya dari Yunho tetapi dari Junsu dan Changmin pula, “Aku akan menjelaskan semuanya usai makan malam. Oh, aku sangat lapar!”

Sepertinya malam ini kelima namja itu bisa sediikit berbagi kepedihan hidup yang tengah mereka hadapi. Membagi kegetiran yang menyakitkan namun menggembirakan bila dilihat dari sisi yang berbeda.

Yah, setidaknya mereka tidak menghadapi pahit itu sendirian….

Mereka bisa saling menguatkan dengan cara mereka sendiri.

.

.

TBC

.

.

Friday, May 02, 2014

2:10:36 PM

NaraYuuki

13 thoughts on “Always Keep The Faith! XIV

  1. yunhoku kkkkkk :3
    masalah melanda semua na
    malah jadi tinggal satu rumah
    dan aku malah jadi inget mereka waktu berlima eon :’)

  2. Ping-balik: Always Keep The Faith! XIV | Fanfiction YunJae

  3. huwaaaaaaa DBSK bersatuuu ^^

    jadi pengen mereka kmbali jadi TVXQ..kkkkkk

    aaah…apa.kata jaemma tadi…
    ‘apa YUNHOKU juga harus memberimu makan?’
    seolah2 dsini yoosumin jadi anak yunjae..hehehe

    akhirnyaaa mreka akrap

  4. Ahjussiku yg malang … semoga bersama bisa saling menguatkan. Kasihan ya masalah mereka silih berganti. Ku harap bisa berakhir bahagia. Umma bisa jd ibu yg di cita2kannya. Jd enggak sabar nunggu umma melahirkan.

  5. karena masalah mereka jadi bersatu aku suka bgt ff ini selalu ada makna yg manis
    kangen bgt sama dbsk!!
    bisakah mereka sepeti ini lagi??
    atau haruskah ada masalah dulu agar mereka bertemu
    hemzz sedih dan menggembirakan disaat yg sama
    seperti wajah jae cantik dan tampan disaat yg sama#apainigaknyambung

  6. junchan ohhh junchan malang nian nasibmu
    chunnie dihjar park appa cm krna ngsih akta umma
    ya ampun galak bngt park appa
    mreka jdi ngumpul ditmpt umma
    waaaa ntr chun tdur ma junchan donk

  7. kapan kelar’a ya nie masalah??
    satu beres ada lg yg muncul..
    wah, ga kebayang dech kl pd ngumpul gitu, sesak pasti ya??
    udh patungan aja beli tempat yg gedean dikit..
    tp segitu juga ga pa2 sih, sapa tau yoosu bisa lebih deket..
    kasian changmin belum ada couple’a.. kkkkk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s