Ancestor IV


Tittle                : Ancestor III

Author              : NaraYuuki

Betta Reader     : Hyeri

Genre               : Yang jelas fantasy gagal

Rate                 : -M

Cast                 : All member DBSK (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan), Go Ahra and others

Disclaimer:       : They are not mine but this story,Jung Hyunno, Cho Eunsa, Park Hyunbin,Park Daejin  are mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.Paragraf/ dialog yang penulisannya menggunakan Blod, Italic ataupun under line berarti itu adalah kejadian dimasa lampau (flash back) ataupun pada tempat dan dimensi yang berbeda. TANPA EDIT.

.

.

Baca FF Fantasy Yuuki harus pelan-pelan, biar ga binggung!

FF Fantasy Yuuki tidak terikat dengan kebudayaan manapun jadi silahkan bebaskan imajinasi masing-masing ketika membacanya.

.

.

Ancestor Poster

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

.

.

.

.

.

Beberapa hari belakangan ini para burung punai sudah mengabarkan perihal kepulangannya, dia yang sangat ditunggu-tunggu. Dia yang sangat dihormati dan disanjung oleh kaumnya, dia yang sudah meninggalkan kaumnya lebih dari 200 tahun lamanya itu akhirnya akan kembali.

Kembali ke tempat seharusnya dia berada….

Umma, istirahatlah sebentar. Biar aku yang menggantikan Umma untuk menunggunya.”

“Junsu ya, masuklah ke dalam! Masaklah makanan enak untuknya.” Yeoja itu meminta pada menantunya, istri putra ke-2nya.

“Tapi Umma….”

“Kau tidak akan pernah mengerti Junsu ya…. Menyambut kepulangannya adalah sebuah kehormatan dan kebanggaan tersendiri untukku. Kelak bila aku sudah mati, kaulah yang akan menggantikanku untuk mengurusnya.”

Umma….”

Jja! Masuklah! Masaklah makanan yang resepnya sudah ku catatkan kemarin.” Yeoja itu mengibahkan tangannya, menyuruh menantunya untuk pergi.

Arra, kalau Umma lelah…”

“Aku akan baik-baik saja selama kau melakukan apa yang ku perintahkan padamu.”

Arraso Umma….” namja manis itu segera beranjak dari sana –pintu gerbang istana keluarga Jung– untuk menjalankan perintah yang diberikan oleh ibu mertuanya. Namja…. Ya, menantu pertama yang dimiliki keluarga Jung adalah seorang namja. Namja bermarga Kim yang jelas berbeda dari Kim yang sudah dibinasakan oleh putra tertua keluarga Jung.

Ahra, yeoja itu sudah berdiri di depan pintu rumahnya –yang dulu dimasa kejayaan keluarga Jung menjadi istana sekaligus pusat pemerintahan– dengan gelisah. Sesekali mata senjanya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan dirinya tidak melewatkan satu pun kejadian yang berlangsung di sekitarnya.

Angin dingin yang berhembus menerpa wajah lelahnya mendatangkan sedikit senyuman untuk sang yeoja. Setelah begitu lama kini tiba saatnya untuknya mengabdi kembali kepada tuannya, ah bukan! Kepada orang yang sangat dihormatinya lebih tepatnya.

Ketika muncul sebuah lengkungan garis oval sewarna air di hadapannya, yeoja itu tahu bahwa inilah saatnya. Saat kepulangan orang yang sangat penting dalam pohon keluarganya kini, keluarga Jung.

Senyumnya merekah ketika sosok itu perlahan-lahan terlihat bersama dua orang peri, yang satu bersayap serupa api sedangkan yang satu lagi memiliki kulit serupa pohon –Dryad.

Begitu pintu dimensi itu terlihat nyata, sosok pucat nan cantik itu melewati garis tipis yang mengantarkannya pada dunianya sendiri. Usai mengucapkan terima kasih pada kedua peri yang ditugaskan untuk mengantarnya pintu dimensi itu pun beransur-ansur menghilang tidak berjejak.

“Aku pulang Ahra ya….” chery lips itu melengkung sempurna.

“Saya di sini untuk menjemput anda. Mari….”

.

.

Bangsa vampire akan mulai menua begitu usia mereka diatas seribu tahun (perumpaan 40 tahun usia manusia). Tetapi ada seorang vampire yang tetap terlihat seperti berusia 17 tahun (ukuran manusia) padahal hidupnya sudah melewati ratusan abad dan perubahan jaman namun sosoknya tetap terikat pada usia 17 tahun seolah waktu berhenti menyentuhnya. Sebuah kebahagiaan di atas nama kutukan….

“Kau banyak berubah Ahra ya….” jemari pucat itu menggengam erat tangan sang yeoja, chery lips merahnya melengkung dengan sangat indah.

“Anda sama sekali tidak berubah….”

“Itu sangat menyebalkan, bukan? Melihat yang dulunya masih bayi sudah mendahuluiku menuju keabadian. Aku sangat iri….”

“Anda harusnya bersyukur….”

“Aku bersyukur karena kewarasanku masih melekat sampai sekarang.” Dituntunnya yeoja itu perlahan-lahan menuju taman yang sangat luas begitu pintu gerbang puri itu tertutup kembali, “Tidak ada yang berubah dengan tempat ini. Kau menjaganya dengan baik….”

“Hanya tidak ingin anda merasa asing dengan rumah sendiri.”

“Anak-anakmu?”

“Yang sulung sedang berada di balai kota memimpin pertemuan dengan para hunter, yang kedua sedang mengurus anak dan istrinya, mungkin….”

“Oh? Kau sudah menjadi seorang halmonie?”

“Begitulah….”

“Selamat ne…. Bagaimana dengan anak bungsumu?”

“Di dapur, sedang menghabiskan paha rusa ke sepuluh mungkin….”

“Aku iri padamu…. Aku bahkan tidak bisa lagi menimang anak-anakku.” Mata kelam itu menunjukkan raut sedihnya walaupun chery merah itu masih melengkung sempurna, “Aku bahkan sudah lupa bagaimana rasanya melahirkan….”

“Anda bisa melahirkan lagi bila anda mau….”

Membantu yeoja itu duduk kemudian dirinya sendiri mendudukkan dirinya di samping sang yeoja, di atas sebuah kursi taman di bawah pohon beringin yang sangat rindang dan sejuk, “Melahirkan lagi untuk melihat anak yang ku lahirkan mati sebelum aku? Aku tidak mau merasakannya Ahra ya…. itu sangat menyakitkan. Kau pasti mengerti rasanya karena kau juga seorang ibu. Lagi pula siapa yang mau dengan orang tua sepertiku?”

“Oh, anda masih sangat muda. Haruskah saya mengingatkan bagaimana dulu kami kepayahan menolak pinangan yang datang untuk anda?”

“Ah, jangan kau ingatkan lagi hal memuakkan itu!”

Doe eyes kelam itu tertutup saat angin sejuk berhembus menerpa wajah rupawannya. Aroma rumput segar dan bunga yang bermekaran membuat suasan taman puri tua itu terasa seperti tempat relaksasi yang cocok untuk menenangkan pikiran dan membuang jauh-jauh beban hidup yang kadang terasa sangat menyebalkan.

“Anda merasa lelah? Mau istirahat di kamar?”

“Sebentar lagi Ahra ya…. Sebentar lagi….”

“Apa anda bahagia tinggal di tanah para peri?”

“Oh percayalah Ahra ya! Rumah sendiri jauh lebih nyaman….”

“Tentu saja.”

“Ku dengar dari para punai, modernisasi sudah sampai di sini. Bahkan kaum kita bisa dengan leluasa berinteraksi dengan para manusia.”

“Benar. 50 tahun yang lalu kesepakatan baru sudah disahkan. Kaum kita dan para manusia bisa saling berinteraksi dan berdagang bahkan melakukan barter, tetapi ada batasan yang tidak boleh dilanggar.” Yeoja itu menjelaskan, “Kita tidak boleh menyerang manusia. Itu adalah harga mati! Hm…. Keluarga Hyunjoong binasa karena mereka menyerang kawanan manusia yang sedang berkemah di pinggir hutan.”

“Oh, mereka pantas mendapatkannya kalau begitu! Yang lebih hebat adalah langit tidak lagi diihiasi oleh awan dan burung-burung saja tetapi ada mesin terbang berbentuk burung.”

Yeoja itu tersenyum. Sosok cantik di sampingnya itu benar-benar tidak berubah, kecuali kulitnya yang semakin pucat saja, “Benda itu disebut pesawat.”

“Oh, kau juga harus memberitahuku benda apa yang kini menggantikan posisi kuda? Sepertinya aku melewatkan banyak hal selama kepergianku….”

.

.

Para pelayan membungkuk hormat ketika berpapasan dengannya di lorong, melontarkan pujian dan sanjungan kepadanya yang menjadi legenda hidup kaum mereka. Menatap iri pada kecantikkan yang sama sekali tidak memudar oleh waktu.

“Yunho?” tanyanya sedikit kaget ketika melihat sebuah lukisan yang terpajang pada sisi sebelah kanan dinding lorong rumah itu, “Ah… ternyata bukan. Dia Yunie Bear kecil, ne?” diliriknya yeoja yang tersenyum di sampingnya.

“Dia sudah sangat besar. Dan entah kenapa wajahnya menjadi sangat mirip dengan Yang Mulia Yunho.”

“Memang mirip. Tapi mereka berbeda.” Ucapnya, “Yunhoku memiliki tatapan yang lembut sedangkan Yunie bear… matanya menyimpan kemarahan dan dendam….”

“Oh, jangan paksa saya mengingat kejadian dihari kepergian anda.”

“Hm? Apa yang terjadi? Katakan padaku!” pintanya.

“Yunho mengamuk dan membunuh sepuluh pelayan yang berusaha menenangkannya saat dia hendak menyusul anda.” Ucap sang yeoja.

“Karena aku tidak berpamitan padanya? Oh maafkan aku Ahra ya. Aku melakukan semua itu bukan bermaksud untuk menyulitkanmu, aku hanya tidak ingin Yunie kecil kita bersedih karena kepergianku.” Sesalnya.

“Jangan merasa bersalah karena semua itu memang bukan salah anda.” Yeoja itu mengusap lengan kanan sosok cantik itu perlahan. “Begitu bangun tidur dan tidak bisa menemukan anda, Yunho mulai mengamuk dan memecahkan apa saja yang mampu dijangkaunya. Setelah mendapat penjelasan mengenai alasan kepergian anda, Yunho menjadi lebih tenang –cenderung diam− bahkan selama satu minggu lamanya dia mengurung diri di kamar anda.”

“Oh, maafkan aku…. Andai waktu itu aku berpamitan dulu padanya….”

“Itu akan membuat anda membatalkan kepergian anda….”

“Kau benar.”

“Anda terlalu memanjakannya.”

“Tidak akan ku lakukan lagi karena sekarang uri Yunho sudah besar.”

.

.

Menjelang malam kepala keluarga Jung yang sekarang baru pulang dari balai kota, tempatnya bekerja selama beberapa tahun belakangan ini. Gurat lelah nampak jelas terukir di wajah tampannya namun pancaran kebahagiaan itu tidak urung terppancar jelas dari sepasang mata musangnya yang tajam. Orang itu…

…. Orang yang seumur hidupnya ingin dipeluknya, dicumbunya kini berada di hadapannya. Senyum itu masih terlihat sangat menawan seperti 200 tahun yang lalu, mata itu masih sekelam dan seindah terakhir kali mereka bertemu sebelum berpisah –sebelum dirinya ditinggalkan lebih tepatnya. Bau harum yang menguar dari tubuhnya benar-benar membangkitkan gairah Jung Yunho sebagai seorang namja dewasa.

“Ku dengar  dari ibumu kau suka makan, lain kali akan ku masakkan makanan enak untukmu.”

Jung Changmin, namja jangkung itu menggangguk pelan dengan senyum malu-malunya. Benar kata gosip yang beredar diluar sana, orang ini… orang yang berada di hadapannya ini benar-benar sangat menawan dan bisa menghipnotis siapa saja.

“Siapa namanya?” jemari pucat itu mengusap wajah balita menggemaskan yang sedang minum susu yang dicampur tetesan darah dari botolnya.

“Inhwan.” Jawab ibu sang balita.

“Junsu ya…. Putramu sangat tampan.” Pujinya sambil tersenyum, “Ku rasa karena ayahnya juga tampan.” Diliriknya namja berpipi chuby yang sejak tadi tersenyum padanya.

Balita kecil itu menjulurkan tangannya, meminta digendong.

Aigoo! Maafkan Inhwan kami.” Ucap Junsu yang merupakan ibu dari balita menggemaskan itu, istri dari Jung Yoochun, kakak Changmin.

Gwaechana.” Lagi-lagi chery lips itu melengkung sempurna, “Mengingatkanku pada Yunho kecil yang selalu minta gendong….” diambilnya balita kecil itu dari gendongan Junsu. Mengusap kepalanya dan menciumnya lembut.

“Yunho sekarang sudah menjadi namja dewasa yang susah dikendalikan.” Sahut Ahra, ibu Jung Yoochun dan Jung Changmin itu. sambil melirik putra sulungnya.

“Kau terlalu keras padanya, Ahra ya….”

Yeoja yang dipanggil Ahra itu hanya diam ketika sosok cantik itu menggendong dan menimang cucu pertamanya.

Kim Jaejoong….

Dulu para vampire dipimpin oleh seorang Raja yang dipilih dari keluarga bangsawan yang terkuat sebelum posisi Raja dihapus dan digantikan menjadi ketua yang juga dipilih dari keluarga bangsawan yang memiliki kemampuan dan keahlian yang mumpuni dalam memimpin.

Dulu, Raja pertama bangsa vampire memiliki seorang istri cantik jelita. Rumah tangga yang bahagia itu tidak bertahan lama. Begitu putra pertama mereka lahir terjadi perang saudara antara sesama vampire karena istri sang raja ternyata memiliki kemampuan khusus yang tidak dimiliki oleh vampire yang lain. Kemampuan untuk membunuh siapa saja hanya dengan menatap doe eyes indahnya serta kemampuan untuk menghidupkan apa yang sudah mati hanya dengan menyentuhnya saja. Kemampuan mengerikan namun juga membahagiakan sesungguhnya andai mereka tidak memandang sesuatu dari sudut pandang yang salah.

Untuk menghentikan pertikaian itu raja vampire akhirnya mengambil kemampuan istrinya dengan mengorbankan nyawanya sendiri. Hingga imbas dari tercabutnya kemampuan itu kini menjadi sebuah kutukan bagi istri raja vampire yang pertama…

… Kim Jaejoong dan keabadian yang membayanginya….

.

.

TBC

.

.

Apakah Yuuki mencantumkan GS di warning sana? Ga kan?

Usia Umma? Kemarin kan sudah Yuuki singgung jadi bisa dihitung sendiri usia Umma berapa.

Umma bangsa apa? Sudah jelas kan ya?

.

.

Monday, April 28, 2014

5:57:28 PM

Narayuuki

25 thoughts on “Ancestor IV

  1. Ping-balik: Ancestor IV | Fanfiction YunJae

  2. oooooo jadi itu alsan umma bisa abadi
    aaah app pasti sneng bngt ne
    umma bkin anak sma appa ja klo pngn gendong anak lagi😀

  3. Ah. Kebahagiaan Yunho sudah di depan mata. Aaaah~ semakin dekat ke YunJae moment!!!
    Lagi-lagi Jae akam menyaksikan kematian orang terdekatnya. Ahra semakin menuaaa ToT
    Benar kata Jae, setidaknya dia masih waras sampai sekarang. Ah akhrnya aku dapat alasan kenapa Yunho mati dulu :’)

  4. Ciee … akhirnya umma kembali🙂 pasti yunpa locat2 kesenengan dech #plak
    Enggak sabar nunggu momen umma ketemu appa hihihi … kira2 gimana ya reaksi appa. Hm … jd ga sabaran hehehe.

  5. . akhirnya jelas juga kemampuan jaemma…🙂
    . tenang jaemma abis nikah ma yunppa pasti bakal jalan “waktu”nya anda… kkk :3

  6. Jadi,Yunho mati gara2 mencabut kemampuan Jaejung? Trus putra YunJae kemana? Siwon? Mungkinkah Jae dlm keabadian karna menunggu Yunho yg terlahir kembali?

    • Kalimat ini seharusnya bisa cukup menjawab dimana Siwon berada walaupun yang lebih jelasnya ada di next chap:
      “Itu sangat menyebalkan, bukan? Melihat yang dulunya masih bayi sudah mendahuluiku menuju keabadian. Aku sangat iri….”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s