Ancestor III


Tittle                : Ancestor III

Author              : NaraYuuki

Genre               : Yang jelas fantasy gagal

Rate                 : -M

Cast                 : All member DBSK (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan), Go Ahra and others

Disclaimer:       : They are not mine but this story,Jung Hyunno, Cho Eunsa, Park Hyunbin,Park Daejin  are mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.Paragraf/ dialog yang penulisannya menggunakan Blod, Italic ataupun under line berarti itu adalah kejadian dimasa lampau (flash back) ataupun pada tempat dan dimensi yang berbeda. TANPA EDIT.

.

.

Baca FF Fantasy Yuuki harus pelan-pelan, biar ga binggung!

FF Fantasy Yuuki tidak terikat dengan kebudayaan manapun jadi silahkan bebaskan imajinasi masing-masing ketika membacanya.

.

.

.

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

.

.

Ancestor Poster

.

.

Krek!

Krek!

Breeekkk!

Bagaikan melempar bola mainan, jemari kokoh itu melempar begitu saja kepala vampire yang baru saja dipisahkannya dari badan malang itu tanpa rasa bersalah sedikit pun─bahkan ketika mereka yang sedang melihatnya menjerit histeris.

“Kau sudah tumbuh besar rupanya, Nak.” Pujian itu begitu tajam dan menusuk.

“Diam kau Kim! Kau tidak pernah tahu betapa aku sangat merindukan saat-saat seperti ini, hari dimana aku bisa memenggal kepalamu dengan tanganku sendiri.”

“Oh… kau ingin membalas kematian ayahmu, huh?”

“Aku ingin merobek mulut kotormu!” mata setajam musang itu berkilat marah, bukan hanya karena kejadian penyerangan yang dilakukan oleh namja brengsek di hadapannya itu terhadap kediamannya hingga menewaskan ayahnya yang berusaha melindungi kelangsungan garis keturunan keluarga mereka tetapi juga ingatan menyebalkan tentang namja kurang ajar yang berkali-kali melayangkan lamaran pada ‘noona’ kesayangannya yang selalu ditolak setiap kali lamaran itu datang ke keluarganya.

Inilah saatnya….

Saat dimana dendam dan sakit hatinya akan melebur segala perasaan benci itu dengan cara membunuh sumber kebencian itu sendiri.

“Mencukil matamu yang dulu selalu menatap ‘noona’ku dengan tatapan menjijikkan, mematahkan tanganmu yang sempat menampar Ummaku dan mencabik tubuhmu karena kau membuat Appaku mati!”

“Ah…. Kau berani melawanku, hm?”

“Kenapa tidak? Posisi pemimpin tertinggi sudah tidak lagi dipegang oleh sepupumu itu. Kau tahu kenapa? Karena beberapa menit yang lalu aku sudah membunuhnya.”

“Kau?!”

“Apa yang seharusnya menjadi milik keluargaku akan ku kembalikan kepada posisinya yang semula. Dan kau…. Kini kau adalah satu-satunya keluarga Kim yang tersisa. Aku akan sangat terhormat bila sebelum penobatanku aku berhasil membinasakanmu!”

“Bocah tengik!”

Suara para pelayan yang menjerit ketakutan dan berhamburan pergi dari ruang tamu kediaman inti keluarga Kim itu membuat melodi tersendiri bersamaan dengan baku hantam yang terjadi pada kedua namja beda usia itu. Saling pukul, menendang, memekik, memaki, merapalkan sumpah serapah dan menyayatkan senjata masing-masing ke tubuh lawan membuat suasana di ruang tamu itu menjadi panas. Terebih tekanan aura gelap yang menyelimuti keduanya membuat mereka yang lemah akan pingsan atau mati secara perlahan-lahan.

Darah mulai berceceran membasahi lantai marmer itu, menyeruakkan aroma yang mampu menggugah ‘kelaparan’ yang memang bersemayam dalam diri mereka sebagai seorang vampire. Dengan taring mencuat dan mata merah penuh kemarahan keduanya bertarung tanpa ampun.

Yang lemah akan mati!

Itulah hukum yang melekat pada kebudayaan mereka sebagai bangsa berdarah dingin. Saling membunuh untuk tahu siapa yang terhebat diantara mereka.

“Ugrh!” namja berambut keemasan itu tersengal ketika urat nadi yang berada dilehernya terkoyak akibat tusukkan kuku tajam dan runcing milik namja bermata musang yang tengah menatapnya penuh kebencian.

“Bagaimana kalau aku mencongkel mata laknatmu, huh?”

“Cih! Yang ku dengar wajahmu memang mirip sekali dengan ‘Yang Mulia Yunho’, tetapi aku tidak menyangka bila kau sekeji ini, Jung! Ugh! Kau tidak akan bisa sepertinya!”

“Simpan sumpah serapahmu yang tidak bremutu itu. Aku sama sekali tidak berminat menjadi seperti kakek moyangku itu. Dan… sampaikan salamku pada malaikat kematianmu!”

Kretek!

Kepala malang itu pun terpisah dari tubuhnya sebelum berubah menjadi serpihan debu. Tetesan darah segar masih menetes dari kuku tajam yang hitam dan runcing itu. Dendamnya sudah terpuaskan.

Setidaknya untuk sekarang.

“Kau sedikit mengerikan hari ini Hyung.” Namja jangkung itu memutar-putarkan tombak yang berada di tangan kanannya, melirik genangan darah dan seongkok debu di sebelah kaki kakaknya.

“Diam kau magnae! Bagaimana bila tempat ini dibakar?” mata setajam musang itu masih berwarna merah terang, “Aku akan sesak bila bangunan tempat tinggal para Kim ini masih berdiri, seolah mengingatkanku pada keangkuhan dan kebengisan mereka ketika keluarga mereka berkuasa.”

“Terserah padamu saja, Hyung! Kau pemimpinnya dan semua tanggung jawab itu ada padamu sekarang. Jadi mau kau apakan tempat ini pun itu menjadi tanggang jawabmu juga. Ku rasankan lebih baik tempat ini dijadikan museum saja, akan sayang sekali bila bangunan semegah ini dibakar begitu saja.” Komentar namja jangkung itu, “Serahkan bangunan ini padaku, Hyung. Aku janji akan mengurusnya dengan baik. Lagi pula orang yang kau puja itu dulunya juga seorang Kim sebelum menjadi Jung, kan?”

“Dia seorang Jung, dulu ataupun nanti.” Abu itu menghambur ke udara ketika terinjak oleh sepatu kulit namja bermata musang berahang tegas itu, “Dan kalau kau ingin menjadikan bangunan ini markasmu, setidaknya jangan sisakan satu pun barang yang berkaitan dengan para Kim.”

Arra…. Ah, Hyung…. Ku dengar dari Yoochun hyung ‘dia’ akan segera pulang. Kau pasti senang mendengar kabar ini, bukan?”

“Aku sudah tahu.” Sahutnya sebelum meninggalkan namja jangkung yang merupakan adik kandungnya itu sendirian di dalam bangunan besar itu sendirian.

“Keluarga Kim memang hebat, puri indah ini sepertinya hasil rampokan mereka selama berkuasa….”

.

.

Tap… tap… tap….

Suara gesekan telapak sepatu yang bergesekan dengan permukaan ubin berwrna abu-abu tua itu terdengar begitu nyaring. Langkah-langkah kaki yang lebar dan tergesa itu seolah-olah dikejar oleh segerombolan kuda liar yang sedang mengamuk.

Brak!

Pintu tebal yang terbuat dari kayu jati kualitas terbaik yang diimpor langsung dari pulau Kalimantan yang berada di daerah tropis itu terbanting begitu saja.

“Kau mengagetkan Umma….” yeoja yang sudah menampakkan gurat usia itu tersentak kaget. Diletakkannya rajutan syal yang sejak beberapa hari yang lalu sudah dibuatnya.

“Dia akan pulang?”

“Hm? Nuguya? Siapa yang kau maksud, huh?” yeoja itu berjalan menghampiri putra sulungnya yang terlihat sangat kacau dan panik itu.

“Jaejoongie….”

Yeoja itu menghela napas panjang, “Yunho…. Kau tidak bisa memanggilnya dengan panggilan seperti itu. Walaupun kini kaulah yang memimpin kaum kita, tetapi kau tetap tidak boleh memanggilnya seperti itu. Kau sudah dewasa sekarang. Tunjukkan rasa hormatmu padanya. Kapan kau akan….”

“Kapan dia pulang, Umma?” tanya namja dewasa bermata musang itu seolah-olah tidak mendengarkan nasihat sang Umma.

Yeoja itu menghela napas panjang, lelah memberikan pengertian pada putra sulung kebanggaannya, “Mungkin lusa atau beberapa hari lagi.” Jawabnya.

“Aku akan mengadakan pesta penyambutan untuknya.”

“Dia tidak mau hal itu.”

Wae?” mata musang itu menatap tajam Ummanya yang kini sudah mendudukkan dirinya dibibir ranjang.

“Dia lelah dan ingin beristirahat sesegera mungkin begitu dia sampai rumah.”

“Dari mana Umma tahu hal itu?”

“Anakku, aku sudah mengurusnya begitu menginjakkan kakiku di rumah ini, begitu aku menjadi bagian dari keluarga Jung. Aku menemaninya, merawatnya, menyiapkan makanan, air mandi dan semua kebutuhannya. Kau pikir siapa yang akan lebih mengenalnya selain ibumu ini, hm?” tanyanya, “Dia tidak menyukai pesta. Kita cukup makan malam bersama. Itu sudah cukup untuk menyambut kepulangannya. Jadi luangkanlah waktumu di hari kepulangannya.”

“Kapan?”

“Kau akan tahu sendiri nanti ketika para punai mulai menyanyi….”

.

.

“Maafkan aku…. Seandainya aku mampu melakukannya sekali lagi saja….” doe eyes legam itu terlihat nanar.

“Tidak! Tidak Yang Mulia, kehadiran anda di sini sudah lebih dari cukup untuk memberikan kebahagiaan pada kami.” Jemari yang sudah renta itu menggenggam erat jemari pucat dingin itu. Bibirnya yang tergetar melengkungkan senyuman ketika melihat wajah cantik di hadapannya menangis tersedu untuknya, “Aku pergi Yang Mulia….”

“Eunsa….”

“Ibu sudah pergi….” pemuda tampan itu menahan tangisannya, sayap keperakannya tampak kuyu, telinganya yang runcing tampak melengkung dan berkerut, biji matanya yang berwarna hijau air itu meneteskan air mata serupa pelangi.

“Cho Eunsa… kau adalah Ratu Dryad terhebat, kau adalah satu-satunya temanku yang sudi menemaniku selama ini. Terima kasih…. Beristirahatlah dengan tenang.” Chery lips itu berbisik, jemari pucatnya memejamkan kelopak mata sang ratu Dryad yang akhirnya tutup usia  pada angka seratus lima puluh sembilan ribu sembilan ratus delapan puluh sembilan (159.989) tahun. Satu-satunya peri tertua yang berhasil bertahan melawan waktu, satu-satunya sahabatnya yang masih tersisa itu kini telah meninggalkannya untuk selama-lamanya.

“Hyunbin, bolehkah aku yang memimpin upacara pemakaman untuk ibumu?”

Pemuda itu menatap sosok cantik yang sangat dihormatinya dengan tatapan nanar kemudian mengganggukkan kepalanya pelan, “Sebuah kehormatan bagi kami bila anda mau melakukannya, Yang Mulia.”

.

.

Gelar ratu itu sudah lama ditinggalkannya, tetapi bagi mereka –kaum peri terutama para Dryad– dirinya tetaplah seorang ratu dalam artian yang sebenarnya. Cho Eunsa adalah sahabatnya, mereka bertemu ketika dirinya tidak sengaja tersesat di hutan. Saat itu usianya sudah seratus ribu tahun sedangkan Eunsa baru berusia 5 tahun (20 tahun usia manusia). Mereka berteman. Dirinyalah yang menjadi tempat Eunsa menumpahkan keluh kesahnya, menjadi saksi pernikahan Eunsa dengan Park Daejin seorang peri air sekaligus raja dari kaum peri, menjadi saksi kelahiran putra Eunsa yang diberinama Park Hyunbin, bahkan kini menjadi saksi kematian sahabatnya sendiri…

Betapa iri dirinya….

Melewati jembatan yang terjalin dari akar-akar pepohonan yang berada di atas permukaan danau Mi Duh Yo yang memantulkan warna pelangi itu menuju sebuah pulau kecil yang terdapat di tengah-tengah danau, pulau bernama Triangel. Sebuah kuburan bagi para Dryad.

Setelah melewati satu kilo meter jembatan akar sambil membopong jasat Eunsa, sahabatnya. Sosok cantik itu meletakkan Eunsa di atas sebuah rumput hijau, menangis sebentar kemudian tersenyum ketika perlahan-lahan jasad sahabatnya itu dililit oleh rerumputan hijau, membuat jasad itu berdiri tegak dan perlahan-lahan berubah menjadi sebatang pohon, di atas permukaan kayu pohon itu terukir wajah cantik Eunsa ketika masih muda.

Di sinilah kuburan para dryad berada….

Semua pohon yang berada di atas pulau Triangel adalah jasad para dryad yang sudah menyebrang ke dunia keabadian, menyisakan kenangan dan kesedihan….

.

.

“Anda mau pulang sekarang?” tanya Hyunbin suatu senja ketika mendung menggantung di kaki cakrawala.

“Alasanku berada di sini adalah untuk sahabatku, Ibumu. Kini ketika dia sudah meninggalkanku tidak ada lagi alasan untukku bertahan di sini. Aku harus pulang.” Bibir Cherynya memaksakan sebuah senyum kepedihan.

“Kami akan merindukan anda.” Lirih peri yang sebentar lagi akan dinobatkan menjadi raja kaumnya itu perlahan─penuh kegetiran dan kesedihan.

“Oh, aku pun begitu.”

“Kalau begitu, biarkan kami mengantar kepulangan anda.”

“Tentu saja….” jawabnya singkat, “Ahra ya… aku sama sekali tidak berubah. Waktu sudah meninggalkanku terlalu lama dan jauh. Bagaimana rupamu kini? Apakah engkau mulai menua?” batinnya.

.

.

TBC

.

.

Mubeng ya?

Mian ne😀

.

.

Monday, April 28, 2014

12:05:53 PM

NaraYuuki

20 thoughts on “Ancestor III

  1. ow ternyata jaema memasuki lorong waktu utk menjenguk sahabat na iia eon
    kukira utk kyk penelitian tentang diri jaema yg gg pernah bisa mati, ato hal2 yg seperti itu
    hiiaaaaaa yunppa seneng bgt mesti
    krn jaema mau pulang😀

  2. . ah jinjja nara-san ikutan ngeksis… :v
    . q pikir bakal ketemu t’xata masih hrs nunggu next chap -_-
    . ditunggu update’annya… ^_^

  3. ini udh jemma udh melewati lorong waktu kan…trus kok yunho ma ahra emang tahu ya klo jemma menembus waktu… aku bingung
    tapi tetep suka ff ini🙂
    lanjut ne

  4. Kufikir Jae lintas lorong waktu biar mantinya dia bisa mati, ternyata buat jenguk temannya :’)
    Pasti sedih. Dia lihat masa kecil temannya, dia juga lihat gimana temannya akhirnya menutup mata.
    Ah, itu waktu Jae mengunjungi temannya menghabiskan waktu berapa tahun?
    Sepertinya waktu dia kembali justru Ahra yg mendekati kematiannya karena sudah tua :’)

  5. ihh.. Yun appa vampire berdarah dingn hihihihi😀
    gg sabar ya appa mw ktmu umma ??
    sabar ne bentar lg umma pulg kokk.

    okk eonnie. critany makin seru nihh aku makim cinta sm Yuuki eonnie -ups mksd ny ff ny hehehe xD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s