Always Keep The Faith! XIII


Tittle                : Always Keep The Faith! XIII

Author              : NaraYuuki

Betta reader      : Hyeri

Genre               : Family/ Romance

Rate                 : -M

Cast                 : All Member DB5K

Disclaimer:       : They are not mine  but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

AKTF

.

.

Yang jelek-jelek jangan ditiru ne😉

.

.

.

.

.

Tidak ada yang istimewa selama beberapa hari terakhir ini. Usai Yunho, Yoochun dan Changmin menjalani masa skorsing mereka, ke-3 namja beda sifat itu kembali ke sekolah, menerima pelajaran tambahan dan ceramah tidak penting dari kepala sekolah mengenai pentingnya Ujian akhir bagi para siswa. Alasan klise…. Nilai terbaik akan mendapatkan tempat dan posisi yang terbaik pula. Padahal sedikit saja orang-orang yang berpikiran kolot seperti itu mau mengubah pola pikir mereka bisa dipastikan mereka akan melihat dunia dengan cara pandang yang lebih baik.

Selain kegiatan monoton yang memang selalu sama pada hampir semua sekolah setiap kali menjelang ujian akhir, ketiganya juga sedikit direpotkan oleh Jaejoong yang kadang sering kali menginginkan sesuatu, muntah dan mendadak lemas dan lelah.  Bersama Junsu, ketiganya pun menjaga Jaejoong, mengawasi namja cantik itu agar tidak melakukan hal-hal berbahaya. Menghajar siswa lain contohnya, atau lebih parah merokok dan meneguk minuman berakohol. Mereka berusaha sebisa mereka menjaga dan memastikan calon ibu muda itu baik-baik saja.

Setidaknya sampai mereka selesai menghadapi ujian akhir itu….

“Kau harus pulang hari ini!” ucap Yoochun saat menemani Jaejoong duduk diam di pinggir lapangan bola. Istirahat tadi tiba-tiba saja namja cantik itu ingin melihat Yunho bermain bola. Dan di tengah lapangan sana bersama dengan Junsu dan Changmin, Yunho sedang bermain bola sepak dengan anggota ekskul sepak bola lainnya.

Jaejoong tidak menyahut, namja cantik itu hanya fokus menatap Yunho yang sedang berusaha melepaskan diri dari cekalan tim musuh.

“Hari ini mereka pulang.” Tambah Yoochun, “Kau mengerti maksudku, kan?” tanyanya.

“Aku akan pulang. Karena Yunho akan mengantarku pulang.” Chery lips merekah itu tersenyum ketika namja bermata musang miliknya itu berhasil menjebl gawang lawan dengan tendangan yang sangat cepat dan akurat.

“Kau yakin?” tanya Yoochun.

“Makin cepat makin baik.” Sahut Jaejoong yang langsung berdiri dari duduknya begitu melihat Yunho berjalan ke arahnya.

“Aku akan menemani kalian kalau begitu.”

Jaejoong segera maraih tangan Yunho, menyeret namja tampan bermata musang itu untuk duduk di sampingnya, membiarkan tatapan aneh dilayangkan oleh para yeoja dan namja yang kebetulan berada di dekat mereka yang juga ikut melihat pertandingan singkat tadi. Jaejoong tidak suka, tidak pernah suka miliknya dilirik oleh orang lain. Lihat saja bagaimana doe eyes indah itu memelototi setiap yeoja yang sejak tadi menatap Yunho.

“Ah, dia selalu bersemangat setiap kali bermain bola.” Gumam Yoochun. Ditatapnya Junsu yang masih asyik mengoper bola pada Changmin.

“Kau harus bersikap lebih baik pada Junsu.” Ucap Yunho.

“Aku sudah bersikap baik padanya. Baik seperti apa yang kau mau memangnya?”

“Kau akan tahu sendiri nanti.” Sahut Yunho.

.

.

Keduanya hanya bisa terkaget-kaget ketika dua orang namja dewasa itu menatap mereka dengan pandangan yang sulit diartikan. Marah? Kecewa? Sedih? Entahlah…. Bahkan mata-mata lelah itu terlihat seperti mengiba, simpatik pada mereka.

“Joongie….” yeoja dewasa itu berjalan mendekati Jaejoong namun namja cantik itu menampik tangannya ketika hendak memeluknya, “Baby?”

Jaejoong hanya menatap dingin yeoja yang sudah melahirkannya itu, tangannya tidak mau melepaskan cengkeramannya pada lengan Yunho. Arus kemarahan tiba-tiba membuncah memenuhi rongga dadanya. Jaejoong ingin menjerit sekarang, tetapi suaranya tertahan ditenggorokan, lidahnya kelu untuk sekedar mengeluarkan sapaan, mulutnya terkunci rapat enggan terbuka sekedar untuk tersenyum.

“Yunho, duduklah!” Park Jaeseok, namja itu meminta Yunho untuk duduk di sofa yang berada di hadapannya, “Aku dan Appamu baru saja berbicara soal….” namja berkaca mata itu menatap Jaejoong dengan tatapan nanarnya, ada luka dan kekecewaan didalam bola mata lelah itu.

“Joongie, biarkan Yunho bicara dengan Appamu, kajja….”

Jaejoong tetap menolak ketika ibunya, orang yang melahirkannya sendiri hendak menyentuhnya, “Yunho… Biarkan aku menemani Yunho.” Ucapnya. Jaejoong menarik lengan Yunho, mendudukkan tubuhnya di atas sofa di hadapan kedua namja dewasa itu. Jantungnya berpacu cepat, keringat dingin mulai keluar membasahi sekujur tubuhnya. Jaejoong tidak pernah setakut ini sebelumnya.

Appa pasti sudah memberitahu semuanya pada Ahjushi, kan?” tanya Yunho yang duduk tenang di samping Jaejoong. Mata musangnya menatap namja berkaca mata itu, mengabaikan ayahnya sendiri yang duduk tepat di sebelah Park Jaeseok.

“Apa pembelaanmu?” tanya Jaeseok.

“Tidak ada, Ahjushi.” Jawab Yunho, “Aku tidak akan melakukan pembelaan apapun karena aku memang salah. Aku salah karena terlalu mencintai putramu, aku salah karena sudah membuat keadaannya seperti sekarang. Aku terima semua tuduhan yang akan Ahjushi limpahkan padaku asal….”

“Jung Yunho!” Jung Jihun menggebrak lengan sofa yang berada di sebelahnya, “Jaeseok sshi, maafkan kelancangan putraku!”

“Lanjutkan Yunho!” pinta Jaeseok, mengabaikan kemaarahan Jihun yang mulai trpancing.

Ahjushi, aku akan mempertanggungjawabkan semua perbuatanku. Tetapi ku mohon jangan memaksaku untuk meninggalkan Joongie.” Ucap Yunho, “Karena aku bisa merampasnya paksa dari kalian.”

“Jung Yunho! Jaga bicaramu!” Jihun mendelik kesal putranya itu benar-benar sungguh keterlaluan dan tidak sopan..

“Aku ingin dengar rencana masa depan kalian.” Ucap Jaeseok, berbeda dengan Jihun yang sudah meletup-letup, namja berkaca mata itu sedikit lebih tenang menghadapi masalah yang sejujurnya hampir membuatnya terkena serangan jantung. Bagaimanapun juga yang hamil disini adalah putranya.

“Usai ujiaan akhir aku akan menikahi Joongie, dengan atau tanpa persetujuan kalian.” Ucap Yunho dengan sorot mata serius. Tangan besarnya menggenggam kuat-kuat jemari Jaejoong yang nampak bergetar.

“Kau belum bekerja. Bagaimana kau akan memberi makan pada anakku?” tanya Jaeseok. Sangsi (meragukan) ucapan Yunho.

“Sejujurnya aku sudah bekerja, Ahjushi. Semenjak aku diusir dari rumahku….” Jawab Yunho. Mata setajam musang miliknya melirik sekilas raut wajah ayahnya sebelum kembali menatap namja berkaca mata itu.

Jaeseok membulatkan mata gelapnya, menatap Jihun sekilas kemudian kembali menatap Yunho tidak menyangka ada orang tua yang tega mengusir anaknya sendiri, “Apa pekerjaanmu?”

Freelancer di perusahaan Big East.” Jawab Yunho. “Melelahkan memang, tetapi aku mencoba menjalaninya karena bagaimananpun Joongie dan anak kami membutuhkan biaya yang tidak sedikit apalagi ketika Joongie harus menjalani persalinan nanti.” Ucap Yunho/

“Kau sudah mempersiapkan semua? Sepertinya kau memang telah siap menangung semua akibat dari perbuatanmu.” Gumam Jaeseok mengemukakan pendapatnya.

Ye Ahjushi.” Yunho menggangguk pelan, “Apapun resikonya selama Joongie bersamaku, aku siap menjalaninya, Ahjushi.”

“Tapi putraku adalah namja…. Tidak akan mudah menjalani hubungan seperti itu terutama pandangan orang-orang terhadap kalian nanti.” Ucap Jaeseok. Keraguan itu masih membayangi akal sehatnya. Hubungan yang tidak biasa antara Yunho dan Jaejoong, akankah diterima oleh masyarakat? Lalu bagaimana seandainya tidak? Bagaimanapun kadang sanksi (hukuman) dari masyarakat jauh lebih mengerikan daripada yang dibayangkan.

“Memang sulit. Tetapi kami sudah melaluinya dengan cukup baik selama ini.” Ucap Yunho.

“Yang ku dengar dari istriku, kalian sudah bersahabat sejak kecil.” Jaeseok menatap putra bungsunga yang memilih menundukkan kepalanya dalam.

“Kami bersahabat, ya. Sahabat dalam banyak hal, Ahjushi.” Jawab Yunho, “Ketika semua orang menghujatku, menjauhiku, memvonisku dan menghinaku, Joongie adalah satu-satunya orang yang tetap setia berdiri dipihakku, mengabaikan omongan orang lain tentangku, mengabaikan pandangan orang lain yang menetap kami dengan pandangan meremehkan. Sejauh ini kami bisa melaluinya dengan baik….” Yunho tersenyum ketika Jaejoong menatapnya dengan mata indah itu.

“Jelaskan pada Pak Tua ini, Yunho.” Pinta Jaeseok yang merasa permasalah antara namja bermarga Jung dengan anaknya tidak semudah yang terlihat.

“Terlalu menyakitkan untuk diceritakan, Ahjushi.” Ucap Yunho, menolak dengan cara sedikit halus. Mengatakan semuanya sekarang berarti memaksanya merasakan lagi kesakitan yang selama ini disimpannya, kenangan menyakitkan, menyedihkan itu terlalu mengerikan untuk diingat lagi. Terlebih, tidak ada yang menjamin Jaejoongnya akan terluka. Namja cantik itu pun sedikit banyak terlibat dalam kenangan-kenangan yang mengerikan itu. Karena Jaejoong adalah muaranya melabuhkan semua penderitaan dan beban hidup yang dialaminya sepanjang hidupnya.

Jaeseok menghela napas panjang, berusaha menerima keputusan Yunho yang menolak keinginannya untuk memberitahukan alasan penyebab kedua anak remaja itu hingga berbuat sejauh ini, “Berapa usianya?” tanyanya.

“Menginjak 2 bulan, Ahjushi.” Jawab Yunho.

“Kau sudah siap menjadi orang tua?” pandangan nanar Jaeseok melembut ketika melihat wajah putranya yang sebenarnya sangat ingin dipeluknya, tetapi Jaeseok tahu bahwa Jaejoong kecilnya enggan berdekatan dan cenderung menjaga jarak darinya.

“Siap tidak siap, aku harus tetap menjalaninya semampuku, Ahjushi.” Ucap Yunho.

Sekali lagi Park Jaeseok menghela napas pelan, “Mianhae Jihun sshi, sepertinya aku harus menikahkan mereka terlepas dari eksitensi mereka sebagai seorang namja.” Ucap Jaeseok yang mendatangkan keterkejutan bukan hanya dari Jihun tetapi juga dari istri dan kedua namja di hadapannya itu.

“Jaeseok sshi….” mata setajam musang milik Yunho itu membulat sempurna, keinginannya untuk memisahkan putranya dan Jaejoong dengan melibatkan orang tua namja cantik itu sepertinya tidak akan semudah perkiraannya.

“Yunho, diusianya yang masih sangat muda dia bahkan bisa bersikap tenang dan bijaksana dalam menjalani masalah ini. Aku tidak keberatan….” Jaeseok mengukir senyum tipisnya, caranya tersenyum sangat mirip dengan cara Yoochun tersenyum, “Bagaimanapun juga mereka bersedia bertanggung jawab dan menerima konsekuensi dari apa yang mereka lakukan. Sebagai orang tua aku hanya bisa mendukung dan melindungi mereka semampuku.”

“Tapi Jaeseok sshi….”

“Memaksa Jaejoong menggugurkan kandungannya? Itu sama saja membunuh cucuku.” Jaeseok tersenyum, “Bila kau tidak mau menerima mereka dan cucuku, aku tidak akan memaksamu Jihun sshi. Tetapi ku pastikan aku akan turun tangan ketika kau mencoba mengusik putraku.” Ucapnya penuh penekanan. Jaeseok tahu seperti apa dan bagaimana sosok Jung Jihun yang sebenarnya sehingga memperingatkan namja bermarga Jung diawal bukanlah hal buruk seandainya mereka terlibat dalam sebuah permusuhan yang bukan hanya karena urusan bisnis melainkan berkaitan dengan anak dan keluarganya juga.

Jung Jihun berdiri dari duduknya, “Jika itu pilihanmu, lakukanlah Jaeseok sshi. Dan jangan menyesali keputusan apa yang sudah kau ambil ini.” Jihun mengingatkan.

“Tidak akan pernah.” Ucap Jaeseok ketika melihat tamunya itu pergi meninggalkan rumahnya dengan menahan amarah. “Kapan kau akan pindah kemari, Yunho?” tanyanya.

Mianhae Ahjushi, rumahku mungkin memang kecil. Tetapi aku lebih nyaman tinggal di sana bersama adikku. Selain Joongie dan anak kami, aku juga harus memikirkan adikku.” Jawab Yunho.

“Adikmu?” tanya Jaeseok.

“Yunho juga membiayai adiknya, Jung Changmin.” Sahut Yoochun yang baru masuk begitu Jihun keluar. Yoochun memilih menunggu di luar dengan alasan dirinya tidak begitu menyukai ayah Yunho, sehingga begitu namja bermarga Jung itu keluar dirinya langsung masuk ke dalam rumah.

“Jung Changmin?” tanya Jaeseok, “Bukankah adikmu bernama Jung Hyunbin?” ditatapnya Yunho dengan kening berkerut.

“Changmin, anak Appa dengan selingkuhannya, Ahjushi.”

“Dan kau menerimanya begitu saja?” tanya Jaeseok.

“Bagaimanapun juga dia tetap adikku, Ahjushi.” Jawab Yunho.

Jaeseok menggangguk pelan, “ArraKajja kita makan, kalian pasti lapar setelah seharian di sekolah.” Ajaknya.

Mianhae Ahjushi, kami sudah makan. Joongie membuat bekal untuk kami.” Ucap Yunho.

“Huh? Joongie? Joongie bisa memasak?” Haeri menatap putranya tidak percaya. Benarkan anak yang selalu diam dan irit bicara itu bisa memasak.

“Masakannya sangat enak.” Sahut Yoochun.

Umma….” panggil Jaejoong.

Ne? Apa Joongie merasa mual? Ingin muntah? Atau Joongie ingin makan sesuatu?” tanya Haeri. “Katakan pada Umma.”

“Aku ini anak siapa?” tanya Jaejoong yang mendatangkan keterkejutan bagi Jaeseok dan Haeri.

Jaejoong lelah menunggu ibunya akan menjelaskan semua kepadanya, karena itulah Jaejoong lebih baik menanyakannya langsung pada ibunya mengenai siapa sebenarnya dirinya? Siapa ayahnya?

.

.

TBC

.

.

Kalau semisal ada reader FFn yang kebetulan baca FF ini, mianhae ne… Yuuki belum bisa post di FFn. Bukan apa-apa tetapi tidak tahu kenapa di tempat Yuuki FFn ga bisa diakses sejak 2 hari lalu. Jadi bagi reader FFn yang membaca postingan ini, Yuuki minta maaf sekali karena belum bisa post FF ini di FFn. Kalau Yuuki masih tidak bisa akses FFn mungkin Yuuki akan melanjutkan FF ini di sini saja.

Sekali lagi Jeongmal mianhae….

.

.

Wednesday, April 16, 2014

9:07:28 AM

NaraYuuki

22 thoughts on “Always Keep The Faith! XIII

  1. Ping-balik: Always Keep The Faith! XIII | Fanfiction YunJae

  2. fiiuuhhh setidak na appa jaema gg berfikiran soal pisah memisah yunjae, lebih bijaksana
    dari pada appa jung, huh!!😡
    waa jaema langsung tanya soal itu
    tp gpp dink, lebih cepet tau lebih baik

  3. park ahjussi trnyta baikkk
    gak kya jung appa
    umma jng bnci sma hyeri umma nr
    hyeri umma psti pnya alsan knpa smbunyiin itu dari umma
    appa keren bngtttt lahhh
    bruntung kaleeee umma dpetin appa

  4. Aish…awal y udah wowowow yunpa daebak keren cool manly pokoky lelaki sejati lah dr awal ngomong wow karisma y….ish umma pgn tahu penasaran sie boleh tp g gitu jg ..hahahaha….btw yunpa kren bgt

  5. . appanya yunppa tu rain qn…???
    . nama aslinya ‘jihoon’ pa ‘jihun’ sih…??? o.o
    . bakal kyk pegimane tu jung-appa misahin yunjae…??? #penasaran… :3

  6. yeeeaay…appa park baik deh.dia bijaksana. ^^

    keren sama sikap tenang appa waktu ngomong sama appa park..

    apa jaema akan marah kalo trnyata ia seorang park? bukan kim

  7. yunho sangat bijaksana gak kaya biasanya yg emosian dan suka seenaknya sendri makin cinta deh
    di chap ini jae sedikit bgt ngomongnya hehehehe
    jadi kangen sama jae yg manja
    selalu ditunggu

  8. “Yuuki eonnie sebenernya Rin ini reader dmn ?” #alaJaeMa
    hihihi. d ffn bc d sini bc. hehe. double attack gpp kan ._.v

    huum.. akhirnya park jusshi setuju. tinggal Jung jusshi aja nih kpn kasih restu.
    gak sabar bc nikahanny Jaemma sm Yunppa.

    jgn update lama” y eonn ^^v

  9. Huaa … terharu ama appa park, enggak ky jung appa yg arogan. Yg penting sih buat aku yunpa selalu disisi umma apapun yg terjadi. Penasaran juga siapa appa kandung umma sebenarnya. Ditunggu lanjutannya eonni.

  10. jj trnyt masih g percaya cerita yoochun soal siapa sbnrnya dia..untung appa park sabar ngadepinya bahkan rela jd tameng kl sampe yunjae disakiti appa jung..

  11. ga kusangka tuan jung bener2 picik..
    untung tuan park ga kek dy,,
    suka dech sama sosok park jaeseok..
    nah, akankah mommy mendapat kebenaran??
    trs dr mana mommy belajar masak kl eomma’a sendiri aja ga tau mommy bisa masak??
    bener2 bikin penasaran..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s