Ancestor I


Tittle                : Ancestor I

Author              : NaraYuuki

Genre               : Yang jelas fantasy gagal

Rate                 : -M

Cast                 : Umma, Appa and others

Disclaimer:       : They are not mine but this story and Jung Hyunno are mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.Paragraf/ dialog yang penulisannya menggunakan Blod, Italic ataupun under line berarti itu adalah kejadian dimasa lampau (flash back). TANPA EDIT.

.

.

.

.

.

PASTIKAN BACA WARNING

Ancestor Poster

PASTIKAN BACA WARNING

.

.

.

.

.

 “Yun….” mata selegam malam itu menatap nanar suaminya, air mata sudah berlinang membasahi wajah cantiknya yang selalu mendapat sanjungan dan pujian dari berbagai pihak. Jemari pucatnya mendekap erat bayi merah yang baru saja dilahirkannya. Bayi yang diberinama Jung Siwon oleh suaminya.

“Tidak apa-apa, Baby…. Tidak apa-apa.” Jemari kokoh itu membelai wajah istrinya, orang yang sangat dicintainya, “Aku mencintaimu. Jangan ragukan hal itu. Bahkan walaupun aku terlahir kembali dalam wujud yang berbeda, aku akan tetap mencintaimu.”

“Yun….”

“Saranghae ratuku….” bibir berbentuk hatinya melengkung sebuah senyuman, perlahan-lahan tangannya merangkak naik menyentuh puncak kepala istrinya, seperti mencabut sesuatu tangan kekar itu menyentak perlahan diikuti sebuah aliran aura berwarna kemerahan yang keluar dari tubuh sang istri.

“Yun….”

“Besarkan anak kita dengan baik, Baby…. Aku mencintaimu.”

Perlahan-lahan tubuh kekar berbalut jubah kebesaran kerajaan pun tumbang dengan bada membiru dan melepuh, mata lelahnya menatap nanar sang istri yang tengah menangisinya dan jerit tangis sang putra yang baru berusia beberapa jam itu. Bibirnya melengkung sempurna sebelum mata setajam musang itu menutup untuk selamanya dan perlahan-lahan tubuhnya menjadi butiran debu.

.

.

“Anda sudah bangun?” tanya yeoja yang sedang meletakkan beberapa tangkai bunga lili putih ke dalam vas, “Saya sudah menyiapkan air hangat untuk mandi. Anda mau mandi dulu atau….”

Mata sekelam malam itu terbuka, menguap sebentar sebelum mengarahkan tatapannya pada yeoja yang tengah tersenyum manis padanya, “Ahra ya…. Berapa usia kandunganmu sekarang?”

Yeoja itu tersenyum, “Empat bulan.”

“Harusnya kau membiarkan pelayan yang mengurusku. Kau harus mempersiapkan dirimu untuk persalinan nanti, Ahra ya.” Sosok cantik itu menyibakkan selimut tebal yang semula menutupi tubuhnya. Mendudukkan dirinya dibibir ranjang berseprei sutra mahal kualitas terbaik berwarna maroon.

“Saya masih mampu.” Yeoja itu tersenyum, menyibakkan gorden berwarna merah maroon agar cahaya matahari musim dingin bisa sedikit menghangatkan kamar besar itu.

“Kapan anakmu lahir?” sosok cantik itu berdiri dari duduknya.

“Diprediksi satu minggu lagi. Anda mau makan dulu?” tanyanya ketika sosok cantik itu berjalan ke arah meja di sudut ruangan tempat makan paginya biasa disiapkan.

“Kau mau jalan-jalan?” sosok cantik itu balik bertanya.

“Anda mau jalan-jalan?”

“Bukankah aku yang bertanya padamu, Ahra ya? Apa kau mau jalan-jalan? Sepertinya hari ini cuaca akan sedikit cerah. Mau menemaniku pergi ke kota?” mata indah itu melirik langit dingin dari tempatnya berdiri, jendela kamarnya terlalu besar untuk menyembunyikan keindahan musim dingin.

“Saya tidak bisa menolak keinginan anda.” Yeoja itu tersenyum.

“Apa kau sudah makan Ahra ya?” tanyanya ketika mendudukkan dirinya di atas kursi, di hadapannya sudah terhidang berbagai macam hidangan yang tidak hanya terbuat dari daging saja melainkan dari ikan dan sayur-sayuran, hidup selama berabad-abad membuatnya mampu membiasakan diri dengan makanan para manusia.

“Sudah.” Yeoja itu tersenyum, “Anda mau teh?” tanya si yeoja sembari mengangkat teko teh kecil yang terbuat dari keramik asal daratan Cina itu hati-hati.

“Tidak. Aku bosan.” Jawabnya.

“Anda mau saya mengambilkan makanan lain?”

“Berhentilah mengkhawatirkanku! Mulai sekarang yang harus kau pikirkan adalah anakmu ini Ahra ya!” jemari pucat itu mengusap perlahan perut buncit sang yeoja, “Ku harap dia akan menjadi anak yang hebat agar kelak bisa menjaga dan melindungimu, serta keluarga  Jung….”

“Dibawah pengawasan anda, dia akan menjadi pemimpin hebat. Kelak….” yeoja itu tersenyum, anaknya sangat tenang ketika sosok cantik itu mulai mengusap perutnya, hal yang selalu dialaminya sejak hari pertama dirinya tahu bahwa di dalam tubuhnya sedang tumbuh nyawa baru.

Bibir penuh semerah chery itu tersenyum, “Bolehkah aku ikut merawatnya?”

“Aku akan marah bila anda membiarkan merawatnya sendirian.”

“Kalau begitu tidak ada alasan bagiku untuk menolaknya.”

Yeoja itu meletakkan sepotong ikan salmon di atas piring kemudian menyiapkan salad, “Kim HyunJoong dari keluarga bangsawan Kim kembali mengirim lamarannya untuk Anda.” Ucapnya.

“Lalu?”

“Ayah sudah menolaknya. Katanya minggu depan dia akan mengirim lamaran lagi, dia berharap saat itu dia tidak kembali ditolak dan anda mau menemuinya.”

Sedikit menghela napas panjang, sosok cantik itu kembali mengulum senyumnya, “Sejak keluarga Kim terpilih menjadi pemimpin bangsa kita, mereka selalu bertindak semaunya.” Gumamnya, “Kapan suamimu pulang? Apakah dia tidak ingin melihat kelahiran anak pertamanya?”

“Tiga hari lagi.” Jawab yeoja itu, “Anda tidak perlu khawatir, begitu suami saya pulang mereka tidak akan lagi mengusik kita.”

Si cantik itu menggangguk pelan, “Kenapa saat pemilihan raja dulu suamimu harus pergi? Aku yakin suamimu bisa mengalahkan perwakilan keluarga Kim jika dia ikut dalam pemilihan itu.”

“Anda kecewa?”

“Sangat!”

Yeoja itu tersenyum.

Yah, baby…. Kau harus jadi pemimpin kaum kita suatu saat nanti. Arra?” si cantik itu tersenyum sambil mengusap perut buncit sang yeoja, “Omo! Anakmu menendangku, Ahra ya….”

.

.

Puncak musim dingin dimana salju mengutupi segalanya. Bukan hanya atap rumah dan kios-kios, salju pun menutupi pucuk pepohonan dan mengubur bunga serta rerumputan. Semuanya dipaksa untuk bersembunyi dari dunia atau dipaksa mati suri selama musim dingin? Entahlah…. Karena itu adalah sebuah siklus yang tidak bisa ditolak ataupun ditunda begitu saja.

“Kau kedinginan Ahra ya?”

“Tidak. Apakah anda kedinginan? Wajah anda sangat pucat.” Yeoja itu hendak melepaskan syal yang dipakainya untuk diberikan pada sosok cantik itu sebelum dirinya mendapatkan pelototan dari mata indah yang membuat siapapun iri termasuk dirinya.

“Berhenti mencemaskanku! Kau lupa bila kulitku memang sudah pucat? Lagi pula kalaupun aku harus mati biarkan malaikat pencabut nyawa itu mendatangiku segera.” digandengnya lengan yeoja yang tengah membawa sebuah nyawa dalam perutnya itu, mengabaikan tatapan cemas dari para pengawal yang mengikuti mereka di belakang, “Apa menurutmu sweter itu cocok bila dipakai anakmu nanti?” jemari pucat itu terjulur dan

“Anda mengira anakku seorang perempuan? Sweter itu berwarna merah muda.” Yeoja itu menatap ngeri sosok cantik yang tengah tersenyum lebar di sampingnya itu.

“Ah, akan sangat menyenangkan bila anakmu perempuan Ahra ya…. Tapi bukankah kita sudah diberitahu bahwa kemungkinan anak yang akan kau lahirkan adalah seorang namja.”

Ne….”

“Haruskah aku membeli benang untuk merajut sweter kecil untuk anakmu?”

“Anda tidak harus melakukannya.”

“Oh, aku sangat menginginkannya Ahra ya…. Aku ingin membuatnya.” Rengeknya seolah melupakan siapa sebenarnya dirinya.

“Apakah anda tidak ingat terakhir kali anda memegang jarum?”

“Jariku tertusuk dan darahnya tidak mau berhenti selama satu minggu lamanya.” Jawabnya sambil tersenyum, “Tetapi kenapa aku tidak mati juga Ahra ya? Padahal aku sangat menantikannya….”

.

.

Empat bulan sudah berlalu semenjak bayi itu berada di dalam rahim sang ibu, sudah waktunya dirinya keluar dari peraduannya yang nyaman untuk melihat seperti apa dan bagaimana kejamnya dunia ini. Menekan dan memaksa agar jala yang seharusnya dilaluinya untuk melihat dunia itu semakin terbuka lebar, menulikan telinganya saat mendengar jerit kesaakitan sang ibu. Aroma itu sangat kuat mencumbu indra penciumannya…

… aroma kehidupan.

Suara tangisannya terdengar, menjerit dan memekik dengan snagat kencang mendatangkan helaan lega dan pujian-pujian dari mereka yang telah membantunya keluar dari peraduannya yang nyaman, mata polos yang bahkan belum bisa terbuka dan menatap dengan fokus itu seolah-olah melihat bayangan orang yang dinantikannya untuk merengkuhnya dalam kehangatan.

Air hangat pertama yang menyentuh permukaan kulit sensitivenya ketika orang dengan aroma menyengat aneh dan memuakkan itu membersihkan tubuh polosnya dari segala jenis cairan dan bau-bauan aneh yang melekat ditubuhnya, membalutnya dengan sebuah kain sutra lembut yang sangat halus untuk kemudian menyerahkan dirinya pada sang ibu, yeoja yang sudah mengandung dan melahirkannya sudah payah.

Air susu pertama yang diteguknya, belaian pertama dari sang ibu membuatnya menggeliat kegelian namun juga merasakan nyaman dan aman.

Samar… indra penciumannya yang belum begitu tajam itu mencium aroma yang asing, aroma yang mendatangkan kerinduan tersendiri baginya.

.

.

Aigoo! Bayi yang tampan sekali….” jemari pucat itu menyentuh permukaan pipi bayi yang masih merah itu hati-hati, seolah kulit lembut dan halus itu bisa terkoyak bila dirinya menyentuhnya terlalu berlebihan, “Akan kau beri nama siapa dia Ahra ya?” tanyanya, senyum tersungging ketika mata indah itu menatap wajah tampan sang bayi.

“Jung Yunho….” yeoja yang kini resmi menjadi seorang ibu itu menjawab.

“Eh?” mata kelam itu terlihat memancarkan keterkejutannya.

“Bila anda keberatan maka kami tidak akan memberikan nama itu padanya.” Ucap ayah sang bayi yang menatap bangga penuh haru pada istri dan anaknya.

Gwaechana…. Nama yang indah untuk bayi yang sangat tampan….” bibir merah itu msih tersenyum walaupun matanya sedikit nanar, “Jung Yunho…. Kelak kau akan menjadi namja yang hebat, Nak.”

.

.

TBC

.

.

Friday, April 25, 2014

9:37:33 AM

NaraYuuki

 

24 thoughts on “Ancestor I

  1. Eh? Kenapa Yunho mati?? Apa karena Jae melahirkan Siwon? Aku penasaran sama kematian Yunho u.u
    Lalu, kok Jae abadi (kalau boleh disebut begitu)? Apa karena sesuatu yg di ambil Yunho waktu Jar melahirkan Siwon?
    Aih..aku beneran penasaran sama kisah selanjutnya ^^
    Ditunggu part selanjutnya🙂

  2. Jae bakal sama yunho yg baru lahir??
    Ancestor bukannya semacam org yg jd jangkar buat org yg baru mati buat pindah ke dimensi laen???”efek nonton TVD”

  3. Ping-balik: Ancestor I | Fanfiction YunJae

  4. Yey … akhirnya dibuatkan chapternya :3
    Incest … kangen incest yunjae#plak
    Semoga yuuki eonni sehat selalu dan ide2 fantasinya keluar semua di epep ini. Appa yg sadis ya eonni … jgn bikin umma mati setelah melahirkan :”(
    Ditunggu lanjutannya eonni yeppo ♡

  5. oh i see, yg dulu itu draftnya ancestor. hehehe, trlalu banyak baca ff, sudah tdk bisa lagi mengingat semuanya dgn detil, hanya samar2 saja.

  6. mwoo kenapa yunho bisa mati kan yg ngelahirin siwon kan jae… yunho rengkarnasi jd anaknya ahra ya, emang marga suaminya ahra jung ya
    trus siwonnya kemana???
    lanjut ne

  7. ak gk ngerti eon😦
    otak q kelewat lola
    itu appa meninggal karna apa
    trus jung siwon mna ????
    anak ahra tu reinkarnasi appa yha

  8. oww saya ingat sama ff ini
    ini kan yang jae gak bisa tua trus samapi dewasanya yunho dia langsung jatuh cinta
    ahh akhirnya dibiikin chapter yg ini
    saya suka
    lanjutkan!!!

  9. Ceritanya ga bisa ditebak. Hebat!!baru kali ini xD
    Menurutku yg ada flashback appa metong itu jaman dulu…trus setting ceritanya brubah ke jaman skrg (reinkarnasi),tapi aku td ngira si ahra yg jadi istrinya reinkarnasi-yunho trus ntar yunnya naksir jae😛
    Tp ternyata meleset. Pedo dong ya?aseek

  10. ini versi lengkap dari yg draff ancestor tu ya??
    tp yg bikin penasaran blm kejawab disini..
    kenapa mommy bisa abadi dalam bentuk kek gitu sementara daddy hrs terlahir kembali??
    berapa waktu yg dibutuhkan mommy untuk menunggu daddy??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s