Always Keep The Faith! XII


Tittle                : Always Keep The Faith! XII

Author              : NaraYuuki

Genre               : Family/ Romance

Rate                 : -M

Cast                 : All Member DB5K

Disclaimer:       : They are not mine  but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

AKTF

.

.

Yang jelek-jelek jangan ditiru ne😉

.

.

.

.

.

Tengah malam sudah berlalu sejak beberapa waktu yang lalu namun namja cantik itu masih belum bisa memejamkan sepasang doe eyes indahnya. Matanya nanar, wajahnya terlihat pucat sejak tadi akibat terus menerut mengeluarkan cairan dari dalam perutnya yang bergolak. Changmin yang ikut merasakan kekhawatiran pun akhirnya tidur di meja makan dengan posisi kepala diletakkan di atas meja. Yunho dengan setia memijat bahu, punggung dan leher namja cantik itu.

Entahlah….

‘’Istirahatlah Yun.” Jaejoong membelai tangan Yunho yang berada di bahunya pelan. Jaejoong sangat mengkhawatirkan keadaan namja bermata musang itu, Yunho sama sekali belum tidur. Usai pulang dari bekerja namja itu terus menemani Jaejoong sampai sekarang, tidak membiarkan Jaejoong sendirian sama sekali.

“Aku memilih menemanimu, Boo.”

“Akan sangat menyedihkan bila kita berdua jatuh sakit. Tidurlah….” pinta Jaejoong.

“Dan membiarkanmu melewati kesakitan ini sendirian? Tidak!” tolak Yunho, “Kita membuatnya bersama, maka kita akan merawatnya bersama pula.”

“Tapi kau sudah bekerja sangat keras untuk kami. Pagi nanti kau harus ke sekolah juga, kan?” tanya Jaejoong, doe eyesnya melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 2.45 dini hari.

“Oh, Boo…. Kau lupa? Kali ini aku diskor karena yang ku hajar kemarin adalah anak kepala sekolah.”

“Pak tua itu berani menskormu? Dia cari mati rupanya.” Gerutu Jaejoong. Jemari pucatnya terjulur untuk mengusap kepala Changmin, “Changmin…. Changmin tidurlah di kamar. Changmin….” namja cantik itu berusaha membangunkan Changmin.

“Eung? Umma…. Deobboki….” gumamnya.

Yah Jung Changmin! Cepat pindah ke kamarmu!” bentak Jaejoong dengan suara lantang.

Changmin tersentak kaget, mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya pelan, “Umma?”

“Pindah ke kamarmu!”

Umma ottoke?” tanya Changmin dengan suara paraunya.

Gwaechana. Kajja pindah ke kamarmu!”

Namja jangkung itu menggangguk pelan, dengan mata setengah terpejam Changmin berjalan perlahan menuju kamarnya.

“Kau juga Yun….”

“Aku tidak apa-apa!” Yunho berusaha meyakinkan namja cantik itu, “Jangan memedulikanku, Boo…. Kau dan uri aegya lebih penting.”

Jaejoong menengadahkan kepalanya, menatap namja tampan bermata setajam musang yang tengah tersenyum kepadanya. Dapat Jaejoong lihat gurat kelelahan dan kekhawatiran pada wajah tampan Yunho. Jangannya terjulur untuk membelai wajah Yunho pelan, “Kita tahu bahwa kita berdua sama-sama keras kepala. Karena itu, mari kita tidur….”

Yunho tersenyum, “Itu pilihan yang bijaksana.” Dibantunya namja cantik itu untuk berdiri dari duduknya kemudian di tuntunnya Jaejoong menuju kamar mereka untuk beristirahat. Terlalu telat memang untuk dikatakan tidur malam, tapi toh keadaan yang memaksa mereka untuk tidur lebih lambat dari waktu yang biasanya.

Tidak apa-apa.

Selama mereka bersama, yang berat dan melelahkan pun bisa terasa ringan dan menyenangkan.

.

.

Yah! Apa yang mereka lakukan? Kenapa tidak kunjung membuka pintunya?” namja berpipi sedikit chuby itu terus menggerutu sejak dua puluh menit terakhir, sesekali ditendangnya permukaan pintu menyebalkan yang tidak kunjung terbuka dari tadi.

“Mungkin mereka masih tidur, Yoochunie….” gumam Junsu yang juga mulai merasa pegal menyerang kedua kakinya.

Yah Jung!” Yoochun hendak mendobrak pintu malang itu seandainya pintu itu tidak terbuka dari dalam.

“Bisakah jangan berteriak-teriak? Ummaku sedang sakit.” Gerutu Changmin yang masih memasang wajah mengantuknya.

“Jaejoongie sakit?” tanya Junsu.

Yoochun segera melesat masuk tanpa menunggu dipersilahkan masuk terlebih dahulu. Melihat isi apartemen yang sangat sederhana itu sebelum menghela napas dan bergumam, “Dia meninggalkan semua kemewahan yang ku tawarkan untuk tinggal di tempat seperti ini?” gumamnya.

Junsu memukul bahu Yoochun perlahan, “Yah! Tempat ini sangat nyaman.” Gumamnya yang langsung menuju dapur untuk meletakkan kantung buah yang dibawanya sejak tadi.

“Yang mengherankan, kenapa kau harus ikut bolos? Yah!” Yoochun mendelik tajam pada Junsu yang tidak memedulikannya, mengherankan memang Junsu yang semula sangat rajin itu kini ikut membolos bersamanya. Ah, tidak! Yoochun tidak membolos hanya diskors selama tiga hari, sama seperti yang Yunho dan Changmin terima setelah menghajar anak kepala sekolah kemarin yang hendak mengeroyok Jaejoong.

“Bisakah kalian jangan berisik aku sangat ngantuk.” Keluh Changmin.

“Semalam kau tidur jam berapa Changminie?” tanya Junsu.

Molla….” Changmin mendudukkan dirinya di kursi, membaringkan kepalanya di atas meja makan, menguap kecil sebelum menutup kembali kedua matanya, “Umma semalam terus muntah, aku dan hyung sama sekali tidak bisa tidur.” Gumamnya sebelum jatuh terlelap kembali.

Mwo? Jaejoong sakit?” tanya Yoochun.

Ani, hanya semalam anak kami sedikit membuat ulah.” Sahut Yunho yang tengah menyeret langkahnya menuju kulkas, mengambil air minum dan menegaknya beberapa teguk sebelum diletakkan kembali di dalam kulkas, “Jadi jangan berisik.”

“Kenapa tidak menelponku, huh? Kenapa tidak memanggil dokter?” tanya Yoochun.

“Aku sudah menelpon dokter dan katanya hal itu memang biasa terjadi pada trimester pertama kehamilan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Jawab Yunho santai, “Kebetulan kalian berada di sini. Tolong jaga Boo Jae, aku harus pergi menemui seseorang yang ingin membuat perhitungan padaku.”

Nugu?” Junsu yang sedang mencuci buah-buahan yang dibawanya segera menatap Yunho, “Nuguya?”

Appaku.” Jawab Yunho sebelum berjalan ke arah kamar mandi dan menutup pintu bilik di sudut ruang dapur itu sedikit keras hingga menimbulkan debuman yang cukup nyaring.

Appanya?” Junsu mengerutkan keningnya.

“Jung Jihun….” gumam Yoochun, “Namja yang sama merepotkannya dengan Park Jaeseok.” Ucapnya. Ditariknya kursi di samping Changmin yang sudah tertidur pulas untuk duduk. Menghela napas berat seolah sedang mengurangi sedikit beban di bahunya.

Yah! Yoochunie! Berhenti memanggil Appamu dengan panggilan seperti itu! Kau mau jadi anak durhaka?” tanya Junsu, “Lagi pula sepertinya kau kenal baik dengan keluarga Yunho.” Namja bersuara khas itu meletakkan buah yang sudah dicucinya di atas meja, mendudukkan dirinya sendiri di kursi yang bersebrangan dengan Yoochun.

“Hm…. Begitulah…. Karena sebuah keadaan sehingga mengharuskanku untuk mengenal inti keluarga Jung.” Gumam Yoochun.

Junsu mengambil satu apel kemudian mengupasnya perlahan, “Haruskah aku memesan makanan untuk kita ber-5 mengingat aku tidak bisa memasak seperti Jaejoongie?” tanyanya.

“Empat cukup.” Sahut Yoochun.

“Yunho?”

“Sepertinya dia akan makan di luar.” Mata namja bermarga Park itu menatap pintu kamar mandi di sudut dapur dengan tatapan yang sukar diartikan, usai menghela napas namja berpipi chuby itu bergumam, “Andai aku punya keberanian untuk melawan seperti yang dilakukannya….”

“Jadi aku harus memesan apa?” tanya Junsu yang sudah mengeluarkan handphonenya.

“Terserah saja, asal siapkan bubur untuk Jaejoong.” Jawab Yoochun.

.

.

Usai memakan makan paginya Yunho segera menegak jus jeruknya hingga habis tidak bersisa. Memasang wajah datarnya ketika bertatapan dengan namja dewasa yang terus menatapnya sedari tadi dengan aura mengintimidasi. Namja dewasa yang tentu saja sangat berjasa atas kelahirannya ke dunia ini.

“Setelah lulus kau dan Changmin akan belajar ke Amerika.” Ucap namja itu dengan ekspresi datar.

“Tidak!” tolak Yunho.

“Jung Yunho!”

“Ketika aku memutuskan untuk pergi maka aku tidak akan pernah kembali lagi.” Ucap Yunho tenang, “Inilah jalan yang ku pilih!” tambahnya.

Brak!

Meja yang dipukul dengan sangat kuat itu membuat beberapa pengunjung yang juga sedang menikmati makan pagi mereka sontak menoleh karena kaget.

“Kau berbuat seperti ini karena namja itu?”

“Kenapa? Appa tidak bisa menyentuhnya karena dia seorang Park? Appa tidak bisa menyingkirkannya, bukan?” sinis Yunho, senyum mrngrjek tersungging dibibirnya. “Tentu saja. Karena sekali saja Appa mendekatinya, ku pastikan saat itu juga Appa menyesal melakukannya.”

“Jung Yunho!” bentak namja dewasa itu keras, “Kau membangkang ayahmu sendiri hanya demi namja breng….”

“Jangan membuatku menghajarmu dengan tanganku sendiri, Appa!” Yunho mengingatkan. Siapapun tidak boleh menghina Jaejoongnya, bahkan orang tua Jaejoong sendiri sekalipun, “Jangan menyalahkan orang lain! Aku yang seperti ini pun karena hasil didikan Appa juga.”

Mata setajam musang sama seperti yang Yunho punya itu menatap nyalang namja muda di hadapannya, putranya sendiri.

“Tanpa Appa aku bisa hidup, bisa membiayai sekolahku, aku masih bisa makan dan tidur di tempat yang layak.” Ucap Yunho, “Appa… entah Appa akan senang atau mengutukku bila aku mengatakan hal ini, tetapi…. Appa akan menjadi seorang haraboji sebentar lagi. Jaejoong sedang mengandung anak pertama kami. Ku harap, Appa tidak mengganggu hidup kami lagi. Soal Changmin… mianhae…. Aku tidak akan membiarkan Appa menyentuh anak malang itu. Aku bisa menghidupi Changmin dengan layak. Setidaknya dia tidak perlu mengemis dan mati kelaparan. Senang bertemu Appa. Jaga kesehatan Appa….” ucap Yunho sebelum berdiri, membungkuk sebentar dan berjalan pergi meninggalkan restoran mahal tempatnya dan sang ayah berbicara singkat. Yunho ingin segera pulang untuk bertemu Jaejoongnya.

Tidak salah memang bila ayahnya ingin dirinya dan Changmin belajar di Amerika mengingat keluarga mereka sangat mampu melakukannya. Tetapi Yunho sudah terlanjur sakit hati dan terluka karena perlakuan kedua orang tuanya dulu. Kehidupan masa kecil yang tidak bahagia, kehidupan remaja yang harus dilaluinya sendirian bahkan ketika adiknya pergi untuk selamanya.

Haruskah Yunho memaafkan mereka semudah itu?

Usianya baru 18 tahun tetapi Yunho dipaksa menerima permasalahan orang dewasa, melelahkan… sungguh melelahkan. Yunho bahkan tidak bisa menolak dan hanya bisa menjalaninya dengan sebaik-baiknya.

Yunho masih ingat dengan jelas bagaimana dulu dirinya diusir karena ayahnya mempergokinya ketika dirinya tengah mencium Jaejoong yang sedang terlelap di kamarnya usai mengerjakan PR bersama. Yunho masih bisa merasakan tamparan yang dilayangkan ayahnya pada dirinya, Yunho masih bisa mendengar makian yang ayahnya berikan padanya.

Setelah semua itu…

Haruskan Yunho kembali kesisi ayahnya dan berperan menjadi anak yang baik? Berpura-pura semuanya tidak pernah terjadi?

Yunho tidak bisa melakukan semua itu…. Belum, setidaknya….

.

.

“Hai Boo….” Yunho hanya bisa tersenyum ketika tiba-tiba saja namja cantik itu memeluknya erat, “Merindukanku, eoh? Boo Jae sudah makan?”

Namja cantik itu melepas pelukannya, meneliti setiap tubuh Yunho, memastikan tidak ada luka atau memar yang mengotori tubuh pemuda itu, “Yun….”

Yunho melemparkan tatapan kesalnya pada Yoochun yang berdiri dengan angkuhnya di tengah ruang tamu rumahnya, “Kau mengatakan pada Boo Jae kalau aku bertemu dengan Appaku?”

“Apa aku tidak boleh mengatakannya?” sahut Junsu.

“Jangan asal menuduh, Jung!” gerutu Yoochun.

“Yun….” doe eyes kelam itu menuntut sebuah kejelasan, penjelasan untuk mengurangi sedikit risau hatinya.

“Tidak apa-apa Boo, hanya saja….” Yunho menatap Changmin yang sedang membawa toples berisi biskuit coklat buatan Jaejoong kemarin, “Changmin…. Mian, mungkin gara-gara aku kau harus kehilangan kesempatan sekolah di Amerika.”

“Aku tidak keberatan, Hyung….” sahut Changmin.

Yunho hanya bisa tersenyum ketika ujung jaketnya dicengkeram kuat-kuat oleh namja cantik itu. Seolah mengerti kegundahan namja cantiknya, Yunho mendekap erat Jaejoong, mengusap punggung dan kepala namja cantik itu perlahan-lahan untuk meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.

“Yun….”

“Hm?”

“Aku ingin mandi. Gosokkan punggungku!”

Arra….”

Yoochun dan Junsu memelototkan mata mereka mendengar apa yang Yunho dan Jaejoong katakan.

“Mereka sudah memiliki bayi dalam perut Umma, harusnya hal seperti ini tidak membuat kalian seperti itu.” Gumam Changmin.

“Setidaknya jangan mengatakan hal semacam itu di hadapan kami!” omel Yoochun.

Aigoo! Aigoo!” Junsu menyentuh wajahnya, menahan malu akibat pembicaraan antara Yunho dan Jaejoong yang menurutnya sedikit terlalu intim.

.

.

Jaejoong diam, mmebiarkan Yunho membasuhkan sabun ke sekujur permukaan tubuhnya, membiarkan namja tampan itu menggosok punggungnya. Jaejoong sedang berpikir keras sekarang.

Sejujurnya Jaejoong tidak tahu pasti alasan kenapa Yunho diusir dari rumahnya, tetapi bila bukan karena kebaikan hati kakeknya mungkin Yunho tidak akan bisa hidup sampai sekarang.

Ya….

Kakeknyalah yang memberikan pekerjaan pada Yunho sehingga setiap malamnya namja tampan bermata setajam musang itu harus rela waktu istirahatnya digunakan untuk bekerja. Memang bukan pekerjaan yang berat, Yunho bekerja sebagai asisten kakeknya dimana setiap malam Yunho harus menggantikan kakeknya menghitung keuangan perusahaan, menghitung pengeluaran, pemasukan, laba dan gaji karyawan, memeriksa dokumen dan proposal kerja, kadang Yunho menemani kakeknya ikut rapat.

Yang Jaejoong tahu, kakeknya memang sudah mempersiapkan Yunho sebagai pewarisnya. Jaejoong ingat waktu Yunho merayakan ulang tahunnya yang ke-15, saat itu kakeknya menghadiahi Yunho 25% saham di perusahaan Jung, perusahaan yang bergerak dibidang komunikasi dan kontruksi. Untuk anak seusia Yunho saat itu saham sebanyak 25% adalah hal yang luar biasa, sehingga ketika Yunho terusir dari rumah ayahnya yang memang hubungannya dengan kakeknya tidak begitu baik Yunho tidak ketakutan akan kelaparan karena Yunho tahu kakeknya pasti akan membantunya.

Kini….

Ketika Jung Jihun ayah Yunho tahu bahwa dirinya sedang mengandung seorang Jung, akankah namja itu memisahkan dirinya dengan Yunho secara paksa? Belum lagi reaksi orang tuanya yang masih berada di Jepang. Jaejoong sedikit takut.

Takut bila Yunho tidak lagi disisinya.

“Aku akan selalu bersamamu, Boo….” Yunho melilitkan lengan kekarnya diatas permukaan perut Jaejoong  yang licin akibat sabun dan basah, “Aku lebih suka Boo Jaeku yang garang daripada Boo Jae yang seperti ini….”

“Ini hanyalah ketakutanku, Yun…. Setelah semua ini, bagaimana jadinya bila aku harus melaluinya sendirian.”

“Kita akan melewatinya bersama. Semuanya akan baik-baik saja….”

“Bisakah kau mencampakan semuanya untuk bersamaku, Yun?”

“Bukankah sudah ku lakukan? Boo Jae perlu bukti seperti apa lagi, hm? Katakan….”

Umma…. Maukah kau menemaniku mengatakan semua ini pada Umma? Agar bila aku terusir dari rumah aku tidak akan pernah ragu dan takut ketika harus melangkah dan menantang dunia ini.”

“Kapan pun Boo Jae siap, aku akan menghadapinya.”

“Cium aku!”

Air yang mengalir dari shower itu seolah-olah meluruhkan kegundahan dan nestapa yang mencengkeram hati Yunho dan Jaejoong selama ini. Ketakutan itu melebur dalam lautan keberanian, kesiapan menghadapi segala resiko dan konsekuensi yang memang pantas mereka dapatkan sebagai penghakiman untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka selama ini.

.

.

TBC

.

.

Thursday, April 10, 2014

7:32:01 PM

NaraYuuki

19 thoughts on “Always Keep The Faith! XII

  1. waktu baca chap pertama kukira yunjae dari anak yg biasa2 aja, ato bahkan dari keluarga kurang. tp ternyata huuaa kaya seperti biasa na hahaha
    suka waktu yunppa bilang sm2 menderita krn waktu bikin na jg sama2
    aaww so sweet :3
    suie sm chunnie msh lama iia eon?

  2. Waah … so sweet banget yun appa :3
    Setiap percakapan mimin oppa dan jae umma kenapa selalu bikin hati terenyuh ya? Umma knp jd keliatan lemah … apa karena bawaan baby ya?
    Semoga mereka ber5 bisa melalui semuanya bersama dan tetap kuat apapun dihadapi bersama. Chunni jussi jgn menyebalkan terus! Masalah yunjae udh ada jd jangan ditambahin lagi -_-

    Hwaiting yuuki eonni❤ aku suka epep ini dan selalu nunggu updatenya. Semoga eonni sehat selalu🙂

  3. joha joha
    always keep the faith tuch ceritanya bener2 menggambarkan perjuangan hidup ,keluarga, sahabat dan cinta
    ga bosen buat nunggu kelanjutannya🙂

  4. jaemma biarpn hamil ttep ajja galak😀

    yunpa,,,omo…sabarnyaaaa,,, ^^
    dia lembut bgt kalo lagi sama umma gajah..

    lamalama ucun ajuchi bisa darah tggi kalo liat klakuan yunjae trs2an..haha

  5. . permasalahannya tambah rumit y, kasian yunjae… ;/
    . terutama jaemma, dy lagi hamil pi banyak pikiran😥 semoga anaknya g kenapa2…🙂

  6. Ping-balik: Always Keep The Faith! XII | Fanfiction YunJae

  7. oalaaaah..umpa tuh trnyt anak org kaya smw to. .sayang ya mereka g bahagia..ayo dong yoosu momentnya..kasian junsuie dianggurin ma yoochun

  8. ironis emg, jadi anak org kaya tapi ga menikmati senang’a jadi anak org kaya,,
    jadi org kaya emg ga slalu enak..
    btw aq jadi tertarik sama kisah masa lalu mreka..
    jadi mommy beneran ga tau kl dy yg udh bikin daddy di usir dr rumah??
    yah walau sebener’a bukan salah mommy juga sih, secara kan dy lg tidur gitu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s