Always Keep The Faith! XI


Tittle                : Always Keep The Faith! XI

Author              : NaraYuuki

Genre               : Family/ Romance

Rate                 : -M

Cast                 : All Member DB5K

Disclaimer:       : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

AKTF

.

.

Yang jelek-jelek jangan ditiru ne😉

.

.

.

.

.

Jemari pucat itu menggenggam kuat tangan Yunho, doe eyes gelapnya terlihat nanar, chery lipsnya terbungkam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun semenjak dirinya terbangun dari tidurnya. Pikirannya kalut, kepalanya terasa sangat pusing memikirkan kejadian pagi tadi.

“Menangislah bila kau ingin menangis Boo…. Menangis tidak akan mengubah pandanganku mengenai dirimu. Kau tetap namja yang kuat dimataku.” Yunho mengusap pelan kepala namja cantik itu, membiarkannya bersandar di dadanya, membiarkannya mencari kenyamanan yang sekiranya dia butuhkan.

Yoochun memasuki kamar Jaejoong yang berada di dalam kediaman keluarga Park sambil menenteng dua bungkus kantung plastik hitam berukuran besar, “Aku tidak akan menanyakan atau menyinggung soal orientasi kalian yang menyimpang itu. Yang jelas mulai sekarang aku mau kalian menjaga keponakanku dengan baik!” diletakkannya dua kantung itu di atas tempat tidur Jaejoong.

“Apa itu?” tanya Yunho.

“Kau tidak tahu? Yah! Kau membuatnya hamil tapi tidak tahu apa ini?” dengan sengit Yoochun menunjuk kantung yang dibawanya tadi, “Susu dan vitamin yang dibutuhkan oleh wanita hamil. Dan karena dalam hal ini Jaejoong adalah namja jadi itu adalah susu dan vitamin untuk namja hamil!”

Jaejoong menggeser tubuhnya, semakin merapat pada Yunho ketika Yoochun hendak menyentuhnya.

“Aku ini kakakmu, bukan hantu!” Yoochun mencekal pergelangan tangan Jaejoong kuat.

Yah! Jangan berbuat kasar padanya!” omel Yunho.

“Kau harus tinggal di rumah agar aku bisa mengawasimu!” ucap Yoochun.

“Selama orang tua kalian pergi, biarkan Boo Jae tinggal bersamaku. Aku pastikan akan menjaganya dengan baik.” Janji Yunho.

“Kau sudah diusir oleh ayahmu.”

“Tapi aku punya tempat tinggal dan pekerjaan, aku bisa menjaga Boo Jaeku dengan baik.” Ucap Yunho, “Dia lebih nyaman bila bersamaku jadi jangan membuatnya stress! Itu bisa mengganggu bayi kami.”

Aish!”

Yoochun mendengus kesal dan melempar sebuah kunci pada Yunho, “Selama dia tinggal bersamamu setidaknya kau butuh kendaraan untuk mengurusnya. Aku akan menyuruh orangku mengantarkan motorku ke tempatmu nanti. Aku pinjamkan motor itu selama adikku tinggal bersamamu. Ingat! Hanya sampai orang tua kami pulang! Dan jangan sampai aku tahu kau menyakitinya atau kau akan berurusan denganku!” ucap Yoochun sebelum berjalan menuju pintu keluar, “Ah, susu dan vitaminnya harus diminum! Kalau habis aku akan membelikannya lagi.”

“Biar aku yang membelikannya nanti.” Sahut Yunho.

“Bagus karena kau yang menghamilinya.”

Yunho tersenyum begitu Yoochun keluar dari kamar, “Boo, dia benar-benar peduli padamu. Aku tahu sulit menerimanya. Tapi cobalah perlahan-lahan….”

.

.

Yah Yoochunie?! Bagaimana bisa kau menelponku hanya untuk menemanimu minum bir seperti ini? Kau bahkan sudah sangat mabuk! Sekarang berhentilah minum!” kesal Junsu. Sore tadi Yoochun menelponnya, memintanya datang ke rumah untuk bicara, tetapi? Namja bermarga Park itu justru mabuk-mabukkan seperti ini, “Yah! Park Yoochun!”

“Aku sudah mengatakannya padanya. Sekarang dia membenciku…. Aku harus bagaimana?” rancau Yoochun.

Junsu mengerutkan keningnya binggung, “Dia? Nugu? Jia?” tanyanya.

Yoochun kembali meneguk bir kaleng di tangannya sampai tidak bersisa.

Yah! Berhenti minum!” dengan kasar Junsu merampas botol bir itu dan menjauhkannya dari jangkauan Yoochun.

“Bukankah aku orang yang brengsek?” tanya Yoochun.

Yah! Yeoja seperti itu tidak perlu kau ingat-ingat lagi! Kenapa hanya karena yeoja seperti dia kau bisa sampai seperti ini, huh? Wae?” Junsu memukul-pukul bahu Yoochun keras seolah-olah ingin menyadarkan temannya, bahwa Yoochun tidak seharusnya menyesali keputusannya yang sudah meninggalkan yeoja bernama Jia itu.

“Apa kau pikir dia membenciku? Ya! Dia pasti sangat membenciku. Bahkan dia tidak mau ku sentuh…. Menyedihkan. Ironis bukan?!”

Aish! Kemana para pelayan itu saat dibutuhkan?” omel Junsu. Rumah keluarga Park itu terlihat sangat sepi. Bahkan ketika Junsu baru datang tadi dirinya sudah menemukan Yoochun yang sedang mabuk sendirian di ruang makan, “Apa ku telpon Jaejoongie saja?” gumamnya.

“Aku hyung yang payah….”

“Eh?” Junsu menatap Yoochun, mengerutkan keningnya, “Hyung? Yoochunie, apa yang sedang kau bicarakan ini adalah Jaejoongie? Bukaan yeoja jalang bernama Jia itu?” tanyanya.

“Dia bahkan lebih memilih tinggal bersama namja Jung itu? Cih! Apa bagusnya? Lihatlah dia! Wajahnya kecil, tukang onar dan selalu membuat masalah. Bahkan dia sudah diusir dari rumahnya, apa hebatnya namja itu? Yah! Katakan padaku?”

“Aku tidak tahu apa masalahmu dengan Jaejoongie sebenarnya, tapi karena yang menyebabkanmu mabuk bukan yeoja itu aku akan menemanimu sampai pagi!”

.

.

Boo….” gumam Yunho ketika namja cantik itu mendekap erat tubuhnya. Sejak kejadian tadi pagi di rumah keluarga Park, namja androgini itu memang enggan berpisah darinya.

“Aku memang merasa aneh ketika Appa tidak pernah menghubungiku lagi begitu bercerai dari Umma. Orang-orang selalu mengatakan bahwa aku sama sekali tidak mirip Appa. Kulit pucatku, bibirku dan mataku….” gumam pemilik chery lips itu begitu lirih.

Yunho mengusap wajah cantik itu pelan, “Hm….”

“Mengerikan, bukan?” tanya Jaejoong.

Ani.” Jawab Yunho.

“Katakan padaku! Siapa saja yang sudah kau tiduri selama ini?” doe eyes kelam itu menatap lekat wajah tampan namja yang berbaring di sampingnya.

“Em…. Aku kurang yakin nama mereka. Mungkin… Jung Jaejoong? Jung Jaejoong, Jung Jaejoong, Jung Jaejoong dan Jung Jaejoong.” Yunho tersenyum, “Aku terlalu takut untuk melukaimu, Boo….”

“Kalau kau sudah tidak menginginkanku katakan padaku maka aku akan pergi tanpa perlu kau usir.” Ucap Jaejoong.

“Aku terlalu menginginkanmu hingga aku ingin merampasmu dari keluargamu, Boo. Aku terlalu menginginkanmu hingga aku ingin sekali memasungmu agar selamanya kau menjadi milikku….” Yunho mendaratkan sebuah kecupan di atas permukaan bibir merah merekah itu lembut.

“Yun….”

“Hm?”

“Sentuh aku….” pinta Jaejoong.

“Dengan segenap hatiku, Boo…. Dengan segenap hatiku….” bisik Yunho sebelum membawa keduanya menyelami firdaus indah yang tidak mampu terlukiskan oleh bentuk kata apapun di dunia ini.

.

.

Jaejoong menatap pantulan dirinya di atas permukaan kaca yang berembun itu. Membiarkan air hangat dari shower membasahi sekujur tubuhnya. Ditatapnya baik-baik pantulan dirinya yang terefleksi di atas permukaan buram itu. Kulit pucatnya sama seperti Yoochun, mata mereka yang hitam legam sama seperti Yoochun, golongan darah mereka pun sama, beberapa hobi dan kegemaran mereka pun sama. Jaejoong tidak menduga bahwa apa yang dulu dianggapnya sebuah kebetulan itu ternyata bukanlah sebuah kebetulan tetapi benar-benar sebuah kesamaan.

Dan selama ini, yang tidak tahu apa-apa hanyalah dirinya seorang?

Jaejoong ingin menangis sekarang. Perasaan marah, kesal, kecewa dan sedih itu teraduk-aduk dalam palung hatinya, membuatnya ingin menangis tetapi cairan brengsek itu tidak mau keluar dari sepasang doe eyes kelamnya. Sungguh sangat menyiksa!

“Kau sudah ku biarkan menyentuhnya semalam, Yun. Jangan membuatku marah!” ucap Jaejoong memperingatkan ketika tangan Yunho mulai bergerilya di atas permukaan tubuh telanjangnya yang basah.

“Kau terlihat menggoda, Boo.” Sahut Yunho, “Tahukah kau bahwa kau adalah godaan paling menakutkan yang pernah ku temui seumur hidupku?”

“Aku tahu. Karena aku memang menggoda….” Jaejoong memutar tubuhnya hingga berhadapan langsung dengan Yunho kemudian meraih tengkuk namja bermata musang yang memiliki kulit sewarna tan yang sangat eksotis itu untuk mencium bibir berbentuk hatinya.

“Ah… aku harap hari ini tidak berlalu dengan cepat….” gumam Yunho.

UMMAAAAAAAAAAAAAAAAA!”

“Ck….” Yunho berdecak kesal.

“Kalau kita tidak segera menyelesaikan acara mandi ini, ku rasa anakku anak langsung mendobrak pintu itu.”

“Anakmu sangat mengerikan!” gerutu Yunho.

.

.

“Semalaman Yoochunie mabuk. Dia menyalahkan dirinya sendiri karena merasa gagal menjadi kakak yang baik untukmu.” Ucap Junsu ketika main ke kelas Jaejoong. Namja bersuara khas itu mendudukkan dirinya di kursi samping tempat duduk namja cantik itu, “Apa kalian bertengkar?” tanyanya hati-hati, tidak ingin membuat namja cantik itu menelannya hidup-hidup.

“Bukankah pertengkaran sesama saudara itu hal yang wajar?” tanya Jaejoong.

“Tapi tetap saja pertengkaran kalian itu membuatnya sampai mabuk.”

Jaejoong melirik sekilas Junsu, mengambil tas besar berisi bekal makanan untuk diserahkan pada Junsu. “Bawa ke atap dan ajaklah Yoochun makan bersama denganmu.”

“Lalu kau?”

“Aku akan menyusul nanti. Yunho mungkin sudah ada di sana.”

Arraso….” Junsu menggangguk paham, “Yah! Jangan sampai aku melihatmu merokok lagi.” Ucapnya sebelum pergi.

“Aku bahkan sudah lupa bagaimana rasa rokok itu….” gumam Jaejoong.  Namja cantik itu hendak berdiri ketika beberapa gerombol siswa berjalan mendekatinya.

“Kau, Park Jaejoong! Setelah kau membuat anak kelas satu nyaris kehilangan kepalanya, membuat beberapa orang diskors kau bahkan membuat Jia dipindahkan dari sekolah ini? Yah! Sebenarnya seberapa hebat kau ini, huh?” bentak salah satu namja berbadan tambun diantara empat namja yang berdiri di hadapan Jaejoong.

Jaejoong hanya menatap satu per satu namja itu dengan doe eyes kelamnya tanpa berniat membalas perkataan mereka.

“Apa kau pikir dirimu hebat, huh?” namja berambut cepak itu nyaris menyentuh bahu Jaejoong sebelum seseorang mencengkeram kuat jemarinya hingga terdengar bunyi aneh yang berasal dari tangannya yang diremas itu, “Argkkk!” jeritnya.

“Tangan kotor kalian tidak boleh menyentuh Ummaku!” namja jangkung itu menatap sengit ke-4 namja yang mencari gara-gara dengan Jaejoong.

Yah! Changmin!”

Brak!

Pintu belakang kelas Jaejoong pun ditendang kuat-kuat oleh seorang namja tampan bermata musang hingga menghasilkan sedikit lubang di atas permukaannya, “Hei, kalian sudah bosan hidup?” dengan sorot mata penuh kemarahan Yunho berjalan menghampiri empat namja itu, membuat teman sekelas Jaejoong yang semula duduk diam di dalam kelas lari terbirit-birit karena ketakutan.

“Mati kalian!” pekik Yoochun yang tiba-tiba saja menerjang salah satu dari 4 namja yang hampir mengeroyok Jaejoong tadi, “Tidak ada seorang pun yang boleh mengganggu adikku selama aku masih hidup!”

Jaejoong memlih berjalan keluar meninggalkan kelasnya, membiarkan Yunho, Yoochun dan Changmin menghajar ke-4 namja itu, “Hei Junsu… bagaimana kalau kita ke atap duluan? Ku rasa mereka bertiga masih harus menghadapi seosengnim.”

Junsu yang berdiri di sisi luar pintu melirik Seosengnim yang berlari ke arah mereka, “Kajja! Ck…. Kenapa para namja suka sekali kekerasan?” gerutunya sambil menggandeng tangan kanan Jaejoong.

“Hei! Kau juga namja, pabo!”

.

.

Bekal yang harusnya menjadi makan siang mereka itu terpaksa dinikmati ketika matahari nyaris kehilangan tahtanya, bahkan langit sudah sedikit menggelap, menampakkan warna jingga indah serupa wajah gadis yang tengah malu akibat godaan sang kekasih.

Boo, kau tidak makan?” tanya Yunho yang hendak menyuapkan sepotong telur gulung untuk Jaejoong.

Ani…. Aku sudah kenyang.” Tolak Jaejoong.

“Kau hanya makan keripik kentang saja dari tadi, Boo.” Keluh Yunho.

“Makanlah! Setidaknya untuk keponakanku.” Pinta Yoochun yang terus mengunyah walaupun sudut bibirnya sedikit sobek dan memar akibat perkelahiannya tadi.

“Keponakan?” tanya Junsu binggung.

Umma sedang mengandung.” Gumam Changmin.

MWO?” pekik Junsu.

YAAH! KIM JUNSU!” Yoochun dan Yunho mendelik ke arah Junsu yang menyemburkan air ke arah mereka.

Mian.” Sesal Junsu, “Jaejoongie?”

“Anak Yunho. Sekarang usianya baru lima minggu.” Jawab Jaejoong santai, mengabaikan tatapan syock Junsu.

Aigoo! Hamil?” Junsu masih memandang Jaejoong dengan wajah binggungnya, “Bagaimana bisa?”

“Cobalah membuat anak dengan Yoochun, siapa tahu kau bisa mengandung juga.” Ucap Yunho.

Yah! Kau mau mati?” tanya Yoochun yang memelototkan matanya pada Yunho.

“Kalau aku mati, adikmu itu akan menjadi janda sebelum kami menikah dan keponakanmu itu akan menjadi anak yatim.” Sahut Yunho.

“Yoochunie tidak menyukaiku. Dia masih tidak bisa melupakan Jia.” Lirih Junsu.

Yah! Sebenarnya apa yang terjadi pada Jia? Ku dengar dia dipindahkan.” Tanya Yoochun yang tidak mendengar suara lirih Junsu..

“Joongie ingin dia dikeluarkan dari sekolah jadi itulah yang terjadi.” Jawab Yunho.

“Woah…. Kau masih seorang Jung rupanya walaupun sudah terusir sekalipun….” puji Yoochun lebih kepada sebuah sindiran.

Umma, tambah!” Changmin menyerahkan kotak bekalnya yang sudah kosong pada Jaejoong.

“Dasar tukang makan.” Sindir Yoochun, “Apa kalian berdua menganggap adikku itu pembantu kalian yang bisa kalian suruh masak setiap hari?”

“Biarkan saja, Yoochunie hanya cemburu pada kalian.” Junsu menimpali.

Yah Kim Junsu!”

.

.

Senja yang menggelap kali ini semoga mendatangkan setitik kebahagiaan bagi mereka yang merindukan cinta dan kasih sayang esok hari….

.

.

TBC

.

.

Selamat liburan🙂

.

.

Tuesday, April 08, 2014

9:34:39 AM

NaraYuuki

18 thoughts on “Always Keep The Faith! XI

  1. chunnie bener2 sayang jaema iia eon disini :’)
    aaa akhir na mereka bersahabat juga
    seneng baca na pas mereka makan bareng diatap sekolah tanpa terlalu banyak cekcok
    eh? jadi yg ngeluarin jia itu yunppa?
    kukira malah chunnie

  2. Ow.ow..kren daebak..bahagia,.hohio mereka bahagia bersama..kekeke…berasatu membantai yg jahat k umma…like it..kekwkeke..umma kalem eunk..pnya bnyk bodyguard hahahaha…kekekk

  3. wah yoochun peduli ma calon keponakannya, syukurlah.

    ah aku terharu banyak yang sayang dan banyak yang lindungin jae :’)

    aku pikir jia di keluarin ma jae eh ternyata ma appa bear, keren. >.<

  4. . bismillah, semoga comment q bisa masuk…🙂
    . kasian nasib chunnie g diakui… kkk :3
    . homin dah kayak bodyguard jaemma ja -_- semoga kebahagiaan segera menghampiri mereka…🙂 #apadah

  5. Ping-balik: Always Keep The Faith! XI | Fanfiction YunJae

  6. “Kenapa para namja suka sekali kekerasan?”
    mungkin karena hamil dia jadi lupa kalo dia juga namja umma umma ckck
    kenapa chap ini menyentuh bgt pdahal gak ada cerita haru dan sedih tapi liat mereka semua akur jadi seneng dan senyum2 sendiri tp juga sedih
    yuuki kamu membuatku terlihat seperti orang gila hehehe karena ff mu ini manis bgt so sweet!!!!

  7. ff yang bagus… aq ikutin dari chapter awal sampai chapter 11…
    akhirnya mereka berlima sama2 dan mau menerima satu sama lain…
    jae jadi punya banyak bodyguard…hehehe
    sweet dan mengharukan chapter kali ini…

  8. seneng liat jaejoong sdkt demi sdkt mw nrima yoochun..tp aq kasian ma suie krn yoochun g sadar2 kl ad org yg tulus cinta dia.semoga kedepanya g ad lg yg menghalangi yunjae utk bahagia

  9. seneng bgt ya jadi mommy, biar gitu juga banyak yg ngebela dan sayang sama dy..
    walau cara mereka memberikan rasa sayang itu bisa dibilang unik, tp aq suka interaksi mreka berlima disini..
    memusuhi, dendam, iri, tp juga saling mencintai, menyayangi juga mengasihi..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s