Always Keep The Faith! IX


Tittle                : Always Keep The Faith!

Author              : NaraYuuki

Genre               : Family/ Romance

Rate                 : -M

Cast                 : All Member DB5K

Disclaimer:       : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

.

.

.

Yang jelek-jelek jangan ditiru ne😉

.

.

AKTF

.

.

Srak!

Begitu keluar dari ruang guru yang selalu berhasil membuat moodnya memburuk Yunho langsung tersenyum lebar, memeluk namja cantik yang menungguinya sejak tadi erat, mendaratkan kecupan sayang di atas permukaan kening indah itu, menggandeng jemari pucat itu kuat-kuat.

“Kau terlihat bahagia.”

“Yah, sejujurnya aku kesal karena seosengnim tadi langsung menceramahiku begitu aku menemuinya. Tetapi setelah aku menjelaskan semuanya seosengnim justru langsung memelukku dan mengucapkan selamat padaku. Membuat kekesalanku luntur perlahan-lahan.”

Chukae kalau begitu.” Sahut Jaejoong.

“Tapi Boo, sebagai ganti ujian praktik olah raga, kau harus menghadapi ujian teori olah raga. Aish! Itu lebih susah daripada ujian praktik. Mianhae….” sesal Yunho.

Gwaechana.”

“Jangan khawatir, karena seosengnim akan memberikan sedikit bocoran mengenai materi apa saja yang kemungkinan akan keluar.”

“Aku akan ujian sendiri, kan?”

Ani, aku akan menemanimu walaupun seosengnim sudah melarangku dan memperingatkanku soal ini.”

“Aku bisa sendiri!”

“Ck…. Jangan keras kepala!”

“Jangan selalu memaksa dan mengaturku! Dasar menyebalkan!” gerutu Jaejoong.

“Aku hanya ingin menjaga kalian berdua.”

“Kau sudah melakukannya dengan baik, Appa.”

Yah! Berhenti menggodaku!” Yunho menghentikan langkah kakinya ketika seorang yeoja yang dikenalnya sebagai yeoja chingu Yoochun tengah berdiri di hadapannya sambil melemparkan senyum manis kepadanya.

“Yunho sshi…. Bisa kita bicara sebentar?” yeoja itu bertanya.

Sedikit mengerutkan keningnya binggung, “Bicaralah!” ucap Yunho kemudian.

Yeoja itu melirik Jaejoong dengan tatapan gelisah dan sedikit aneh.

“Ck… setelah Yoochun mencampakanmu sekarang kau mau mencari korban lain?” tanya Jaejoong terdengar tajam dan menusuk. Namja cantik itu melepaskan genggaman tangan Yunho padanya, berjalan ke hadapan yeoja itu dengan sedikit angkuh kemudian melipat kedua tangannya di depan dada, “Biar aku bicara sesuatu padamu. Kau boleh menggoda siapa saja kecuali namja ini! Namja bernama Jung Yunho ini milikku! Kau tahu? Dan aku tidak suka milikku diusik oleh parasit sepertimu.”

Boo….”

“Aku mau dia dikeluarkan dari sekolah bila terus menggodamu seperti itu!” ucap Jaejoong dingin, tanpa berkata apa-apa lagi namja cantik itu berjalan melewati sang yeoja, dengan sengaja menabrakkan bahu mereka, “Itu terakhir kalinya aku bicara padamu! Jangan mengusik milikku atau kau akan menyesal!”

Yunho hanya bisa tersenyum melihat sikap Jaejoong, ketika sedang cemburu namja cantik itu  benar-benar terlihat sangat menawan dimatanya, “Jia sshi, bukankah kita sudah bicara sebelumnya? Aku ini namja brengsek jadi akan lebih baik kau menjaga jarak dariku daripada kau terkena masalah karenaku. Lagi pula aku sudah sangat mencintai orang lain.” Ucap Yunho tenang sebelum berjalan mengejar Jaejoong.

Namja jadi-jadian menyebalkan!”

.

.

“Kau tahu Jaejoongie, kemarin aku bilang pada Chunie bahwa aku menyukainya lebih dari sekedar teman. Yang menyedihkan dari itu dia hanya memelukku dan mengusap kepalaku, dia bilang hubungan seperti itu salah, dia bilang aku hanya kurang mendapatkan perhatian makanya bisa merasakan perasaan seperti itu.” Ucap Junsu dengan ekspresi sedihnya, “Tadi pagi dia masih bersikap biasa-biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi tahukah kau Jaejoongie? Hatiku bahkan lebih sakit dibandingkan ketika Yoochunie mencium Jia.”

Jaejoong yang duduk di tribun penonton hanya mendengarkan apa yang Junsu katakan, doe eyes hitamnya menatap arah lapangan basket indoor dimana di sana kelas Yunho sedang praktik untuk nilai ujian akhir.

“Kau tahu Junsu, menurutku kalian berdua sama.” Gumam Jaejoong.

“Huh?” Junsu menatap lekat wajah Jaejoong.

“Kalian berdua sama-sama kesepian dan haus kasih sayang.” Jaejoong menolehkan kepalanya untuk menatap Junsu, “Sejujurnya kalian adalah pasangan yang cocok, andai cara berpikir Yoochun bisa sedikit diubah.”

Junsu diam dan melihat Yoochun yang sedang melakukan lompat tinggi di bawah sana. Yoochun memang sekelas dengan Yunho.

Umma, aku lapar.”

Tanpa banyak bicara Jaejoong menyerahkan tas berisi bekal yang dibuatnya pada namja jangkung yang baru datang dengan napas terengah itu, kelas Changmin memang praktik olah raga terlebih dahulu sebelum kelas-kelas yang lain, “Minum dulu dan atur napasmu baru makan. Ingat, sisakan untuk Yunho juga!”

Changmin mengganggukkan kepalanya pelan, mendudukkan dirinya di samping kiri Jaejoong kemudian membuka kotak bekal yang menjadi bagiannya.

“Sedikit mengejutkan karena kau membiarkan Changmin memanggilmu Umma.” Gumam Junsu.

“Katakanlah aku melihat kesamaan diriku dalam diri Changmin.” Sahut Jaejoong.

.

.

“Aku tidak bisa membiarkanmu terus-terusan tinggal di rumah Yunho!” ucap Yoochun yang tiba-tiba saja mencekal lengan Jaejoong yang hendak membuka lokernya di ruang ganti khusus namja, “Hari ini kau pulang denganku ke rumah!”

“Tidak ada yang bisa memaksaku.” Ucap Jaejoong yang berusaha melepaskan cekalan tangan Yoochun.

“Kau tidak….”

“Kau tidak boleh menyakiti Ummaku!” namja Jangkung itu meremas pergelangan tangan Yoochun hingga memerah.

Ummamu? Nugu?” tanya Yoochun binggung. Setahunya ini adalah ruang ganti khusus namja dan tidak ada ahjumaahjuma tersesat yang dilihatnya berada di sini, “Yah! Lepaskan tanganku, pabo! Kau bisa mematahkan tulangku!” pekik Yoochun karena pergelangan tangannya mulai terasa nyeri akibat ulah Changmin.

“Dia akan melepaskanmu bila kau melepaskan cengkeramanmu padaku.” Ucap Jaejoong.

“Tidak! Kau harus pulang denganku!” Yoochun bersikeras membawa Jaejoong pulang bersamanya.

“Changmin bisa mematahkan tanganmu!”

Yoochun melirik namja jangkung itu kesal sebelum melepaskan cengkeramannya pada lengan Jaejoong, “Aku akan tetap menyeretmu pulang apapun yang terjadi.” Ucapnya sebelum pergi.

“Dia terobsesi pada Umma.” Gumam Changmin, “Brother complex?”

“Bila sudah lelah dia akan berhenti sendiri.” Ucap Jaejoong yang kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena ulah Yoochun tadi. Usai mengambil jaket dan seragam olah raganya yang kotor, Jaejoong kembali menutup lokernya dan menguncinya.

Umma, hari ini aku ingin makan malam dengan Japchae dan Bulgogi.” Ucap Changmin yang memasang senyum manisnya.

“Kalau begitu nanti kita harus membeli daging dulu. Ah, mana Yunho?”

Molla. Hyung pulang terlebih dahulu tadi. Sepertinya Hyung sedang terburu-buru.” Jawab Changmin.

Jaejoong mengerutkan keningnya, “Kenapa dia tidak mengatakan apa-apa padaku?” gumamnya, “Kajja pulang!”

“Belanja dulu Umma.”

Ne….”

.

.

Usai membeli daging Jaejoong dan Changmin pulang. Changmin yang memang sudah diberitahu Yunho mengenai keadaan Jaejoong yang kini membawa Jung kecil didalam tubuhnya sama sekali tidak membiarkan “Umma”nya itu menenteng daging yang hanya seberat satu kilogram itu. Bahkan Changmin juga tidak membiarkan Ummanya menggendong tas sekolahnya sendiri.

“Kau bersikap manis hari ini.” Puji Jaejoong saat keduanya menaiki lift menuju lantai lima, rumah mereka berada.

“Karena Umma sedang membawa Dongsaengku. Aku harus membantu Umma. Hyung bilang seperti itu….”

Jaejoong tersenyum, “Kau memanggilku Umma, anak ini kau panggil dongsaeng. Lalu kenapa kau tidak memanggil Yunho dengan sebutan Appa, hm? Dengan begitu kau bisa menjadi putra sulung kami.”

Jeongmal….”

Jaejoong mengusap kepala namja yang lebih muda darinya itu pelan, “Entah seperti apa penderitaan yang dulu kau alami. Sekarang, mari bersama melupakan masa lalu pahit itu dan menyongsong masa depan…. Punya anak sebesar ini diusiaku yang sangat muda tidak buruk juga.” Namja cantik itu langsung keluar dari lift begitu pintu lift terbuka, berjalan menuju apartement yang selama beberapa hari ini menjadi rumah baginya.

“Apa hyung belum pulang?” tanya Changmin.

Molla….” sahut Jaejoong. Begitu sampai di depan apartement, Jaejoong berhenti di depan pintu. Ada yang aneh. Pintu apartement tidak terkunci dan sedikit terbuka, dari arah dalam terdengar suara seorang yeoja, “Cih! Jung pabo itu cari mati rupanya!” gumamnya sebelum sedikit kasar memasuki apartement dan….

“Joongie….”

Jaejoong membatu melihat sosok itu, yeoja paruh baya yang masih terlihat sangat cantik, tubuhnya yang agak kurus itu dibalut dengan pakaian elegan yang membuatnya sangat anggun walaupun wajahnya sedikit pucat. Son Gain, yeoja yang sudah melahirkan Yunho.

Umma….”

Jaejoong menolehkan kepalanya pada Changmin yang baru saja masuk, “Changmin….” Jaejoong mengerti bila namja jangkung itu syock dan terkejut ketika melihat siapa yang sudah duduk di atas sofa ruang tamu rumah mereka, “Bawa dagingnya ke dapur dan segera masuk ke kamarmu!”

Changmin menatap Jaejoong kikuk, mengganggukkan kepalanya pelan, membungkuk pada yeoja itu dengan kaku sebelum berlari menuju dapur.

“Anak itu benar-benar tinggal di sini?”

Yunho hanya diam, enggan menjawab pertanyaan yang dilontarkan padanya.

“Jaejoongie….” yeoja itu berjalan menghampiri Jaejoong dan memeluknya erat, “Umma sudah mendengar dari Yunho. Usianya baru empat minggu, kan? Kau harus menjaganya dengan baik.” Yeoja itu mengusap wajah Jaejoong perlahan-lahan.

Jaejoong hanya diam diperlakukan seperti itu, doe eyes kelamnya melirik Yunho yang hanya diam sejak tadi.

“Penerus keluarga Jung harus dididik dengan baik!”

Ahjumma… bagaimana bisa kau mengatakan hal itu padaku bila kau sendiri tidak mampu mendidik Yunho, Hyunbin dan Changmin dengan baik? Lagi pula belum tentu Jihun Ahjushi mau mengakui anak ini sebagai cucunya.” Batin Jaejoong.

“Apakah perlu Umma bicara pada Ummamu, Jaejoongie?”

“Tidak perlu!” sahut Yunho terdengar dingin, “Umma tidak perlu ikut campur urusan kami.” Yunho berdiri, berjalan menghampiri Jaejoong dan yeoja yang dipanggilnya ibu itu. Menyingkirkan tangan Gain yang masih membelai wajah Jaejoong.

“Yunho!”

Boo, aku lapar!” ucap Yunho, “Ku rasa Changmin juga lapar.” Cara halus untuk memisahkan Jaejoong dari Gain.

Jaejoong membungkukkan badannya sesaat pada Gain sebelum berjalan menuju dapur.

“Yunho! Kenapa kau bersikap seperti itu? Joongie sedang mengandung cucu Umma!” protes Gain.

Umma tidak tahu apa-apa! Berhentilah ikut campur dan teruslah berada di dalam kotak kebahagiaan Umma! Jangan bersikap seolah-olah Umma peduli pada kami karena aku tahu Umma hanya meginginkan kebahagiaan Umma sendiri!”

Gain, yeoja yang sudah melahirkan Yunho itu menghela napas pelan, “Kau tahu Umma dengan baik.” Ucapnya dingin.

Umma memberitahuku dengan sangat gamblang!” sahut Yunho.

“Surat cerai sudah Umma layangkan untuk Appamu.”

“Akhirnya… Umma akhirnya berani melakukannya juga.” Sindir Yunho, “Kenapa tidak dari dulu saja Umma lakukan hal itu?” Tanyanya.

Gain menatap Yunho dengan pandangan nanar, “Kau adalah anak Appamu. Dia tidak akan benar-benar berani mengusirmu apalagi mencoretmu dari kartu keluarga. Sekali-kali tengoklah dia.”

“Terima kasih atas nasihat Umma. Tapi tanpa Appa pun aku bisa hidup sampai sekarang.”

Umma akan berangkat ke Jinan hari ini juga, kau tahu kemana harus pergi bila merindukan Umma.” Gain meraih tasnya yang berada di atas sofa usang itu.

“Ku pastikan itu tidak akan terjadi.”

Ada sakit yang menghantam ulu hatinya ketika putranya sendiri bicara seperti itu, “Sampaikan salam Umma pada Joongie…. Kau harus menjaganya karena ditangannyalah keberlangsungan keturunan keluarga Jung.” Ucap Gain sebelum pergi.

Blam!

Yunho terpaku menatap pintu kokoh itu tertutup pelan. Ummanya datang menemuinya setelah kabur dari rumah sakit yang merawatnya selama ini dan Yunho justru bersikap sedingin itu pada ibunya sendiri? Entahlah…. Yunho sendiri tidak tahu mengapa dirinya bisa bersikap seperti itu pada yeoja yang sejujurnya sangat rapuh itu. Sikap angkuh Ummanya hanyalah tameng yang dibangunnya sebagai kamuflase untuk membuat yeoja itu tidak terlalu melangkah jauh dari area amannya, tempat yang akan membuatnya tetap merasakan kebahagiaan walaupun semuanya hanya semu belaka.

Yang Yunho tahu dibalik senyum angkuh Ummanya tersemat luka dan air mata yang ditutupinya dengan baik. Bagi Ummanya menikah dengan ayahnya saja sudah merupakan bencana karena mereka tidak saling mencintai, apalagi hingga Yunho dan Hyunbin lahir. Yunho tahu bahwa setelah melahirkan Hyunbin Ummanya menjadi agak depresi, terlebih ketika Hyunbin meninggal. Yeoja malang itu sempat dirawat di rumah sakit jiwa selama sebulan lamanya.

Pernikahan yang mengikat ayah dan ibunya hanyalah ikatan diatas sebuah perjanjian, perjanjian menguntungkan keduanya yang justru mendatangkan bencana dan kesengsaraan bukan hanya untuk mereka tetapi untuk anak-anak mereka juga.

Yunho mengusap lengan pucat yang melilit perutnya itu pelan, merasakan kelembutan dan kekenyalan kulit indah itu, meresapi luka yang perlahan-lahan mengoyak hatinya, menerima dengan iklhas ketika luka itu dibasuh dengan air yang menyegarkan namun juga mendatangkan perih disaat yang bersamaan.

“Changmin bagaimana?”

“Dia menangis tadi. Aku sudah menenangkannya, sekarang dia sedang tidur.” Pelukan di perut Yunho semakin mengerat.

“Aku iri padanya. Dia memilikimu sebagai Ummanya, Boo.”

“Dan kau memilikiku sebagai sandaranmu, Yun.” Lirih namja cantik itu pelan.

Yunho tersenyum, “Benar…. Aku sedikit lebih beruntung dibandingkan Changmin.”

“Jadi jangan iri padanya!”

“Tidak akan….”

“Sepertinya situasinya semakin sulit, ne?” tanya Jaejoong. Diusapnya punggung Yunho perlahan-lahan seolah-olah sedang memberikan mantra pada namja bermata musang itu, mantra penghapus duka.

“Oh Boo…. Jangan meninggalkanku! Berjanjilah!”

“Aku selalu bersamamu.”

“Ketika Jung Jihun sudah terusik, dia tidak akan pandang bulu terhadap siapapun juga. Entah istri atau anaknya sekalipun akan dikorbankannya untuk mencapai tujuannya. Dan bila dia mulai mengusik kita, ku mohon untuk tetap menggenggam tanganku dan jangan pernah kau lepaskan apapun yang terjadi, Boo.”

“Aku janji….”

Yunho melepas lilitan Jaejoong di perutnya, memutar tubuhnya agar bisa menatap wajah namja androgini yang sangat menawan itu. Mengusap pelan wajah yang selalu membuatnya merasa tenang bahkan ketika dirinya hanya memandangnya dari kejauhan saja, membelai pelan chery lips merekah itu lembut sebelum mengundangnya dalam ciuman manis penuh kegetiran dan kepahitan hidup. Hal yang hanya akan dirasakannya bila dirinya bersama namja cantik itu, Jaejoong. Orang yang bisa menyentuh luka hatinya….

“Entah apa jadinya aku tanpamu disisiku, Boo….” lirih Yunho.

.

.

TBC

.

.

Yuuki sudah mencoba mengunakan bahasa ‘biasa’ agar yang baca tidak binggung karena Yuuki tahu yang membaca tulisan Yuuki ini kadang masih asing dengan bahasa yang Yuuki pakai. Well, semoga tidak binggung dan tidak pusing karena FF ini.

.

.

.

Sunday, April 06, 2014

12:41:55 PM

12 thoughts on “Always Keep The Faith! IX

  1. ternyata yunppa sm jaema sm2 anak yg ditinggal eomma na krn kebahagian eomma na sendiri iia eon
    pantes mereka berbagi satu sm lain :’)

    chunnie sm suie blm ada kelanjutan na iia eon
    chunnie terlalu ahh, kasihan suie
    ciihhh yeoja itu menyebalkan

  2. Kelakuan umma ke minie oppa bener2 bikin terharu. Meskipun keras kepala dan galak tp sisi lembut umma tetap keliatan.
    Yoochun masih aja bikin jengkel ya, pengen nistain yoochun biar ga ngerecokin jae umma mulu.

  3. makin rumit aja yaw tapi malah bikin penasaran karena sepertinya masalah besarnya belum nampak
    semoga semua menjadi mudah untuk yunjae
    yuuki semangat!!!!!

  4. Ping-balik: Always Keep The Faith! IX | Fanfiction YunJae

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s