Always Keep The Faith! VIII


Tittle                : Always Keep The Faith!

Author              : NaraYuuki

Genre               : Family/ Romance

Rate                 : -M

Cast                 : All Member DB5K

Disclaimer:       : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

.

.

.

Yang jelek-jelek jangan ditiru ne😉

.

.

AKTF

.

.

Aish! Yah, Kim Junsu? Kenapa kau mengajakku ke bar seperti ini, huh?” tanya Yoochun. Tadi Junsu merengek minta diantar mencari udara segar, tetapi… bagaimana bisa mendapatkan udara segar bila tempat yang mereka datangi adalah bar? Hanya akan ada bau alkohol yang menyengat dan asap rokok yang memenuhi tempat itu. Yoochun kini mulai berpikir kalau temannya ini sudah mulai gila.

“Sebentar lagi akan ada udara segar untukku, Chunie….” gumam Junsu yang langsung menyeret Yoochun untuk duduk di salah satu kursi kosong yang berada di pojok ruangan bar itu sehingga tidak terlihat begitu mencolok karena pencahayaannya yang sedikit remang.

“Bagaimana kalau ada yang menyadari kalau kita masih SMA, huh?”

“Walaupun masih SMA tapi kita sudah berusia 18 tahun. Hal yang legal untuk memasuki tempat seperti ini.” Jawab Junsu, “Joongie yang bilang….” Tambahnya.

Aish! Iblis kecil itu lagi? Akan ku seret dia pulang besok pagi.”

Andwe!” peekik Junsu.

Wae?” Yoochun mengerutkan keningnya.

“Ah….”

Yoochun menolehkan kepalanya saat Junsu terlihat begitu kaget setelah melihat sesuatu. Mata Yoochun membulat melihat yeoja yang beberapa waktu terakhir ini selalu bersamanya tengah bercumbu mesra dengan seorang ahjushiahjushi. Yoochun bahkan dengan jelas bisa melihat bagaimana tangan ahjushi itu mulai menggerayangi tubuh sang yeoja.

“Ah…. Sangat segar bukan?” Junsu tersenyum pada Yoochun.

“Dasar sundal (pelacur)!” desis Yoochun sambil mengepalkan kedua jemarinya erat-erat.

“Kau tahu? Ku dengar Joongie sudah mencoba memperingatkanmu soal ini tapi kau mengabaikannya. Dan karena aku adalah teman yang peduli padamu, aku memperlihatkan bukti ini secara langsung daripada harus berdebat denganmu, sebab aku tahu kau tidak akan semudah itu percaya padaku jika tidak melihatnya dengan mata kepalamu sendiri.” Ucap Junsu, “Dan inilah kenyataannya mengenai siapa sebenarnya yeoja yang kau kencani selama ini. Yeoja itu seorang tunasusila (orang yang menjual dirinya), bukan karena kebutuhan uang. Kau tahu? Kadang orang-orang seperti itu memerlukan pelampiasan yang lebih dari sekedar uang.”

Yoochun menatap Junsu penuh kemarahan sebelum berjalan pelan dan menghampiri sepasang manusia yang masih saling mencumbu itu. Tanpa berkata apa-apa, Yoochun meraih gelas bir yang masih penuh itu kemudian menyiramkan isinya pada tubuh keduanya.

Yah!” marah namja paruh baya itu kesal akibat kegiatannya terganggu.

Yoochun tersenyum meremehkan, “Hei jalang! Apa kau membuat video porno juga? Kalau iya aku akan membeli seratus keping untuk ku sebarkan pada teman-temanku.”

“Yoochunie….”

“Cih! Berhenti menyebut namaku dengan bibir kotormu itu! Perempuan jalang!” maki Yoochun sekali lagi sebelum berjalan pergi meninggalkan tempat laknat itu, “Junsu, kita pulang!”

Junsu yang sebelumnya tengah sibuk mengetik sms segera menyimpan handphonenya dan berlari kecil mengejar Yoochun, “Aku lapar.”

“Kita akan pergi ke restoran Jepang untuk makan! Aku yang tlaktir.”

“Apa aku perlu menelpon Jaejoongie dan Yunho agar mereka ikut makan bersama kita?”

“Tidak! Aku tidak mau mereka menertawakanku.”

“Mereka kan sudah tahu bahkan sebelum kejadian ini terjadi.” Gumam Junsu yang kini bisa tersenyum sangat puas.

.

.

Jaeoongie, parasit itu berhasil kita singkirkan!’

Usai membaca pesan singkat itu Jaejoong melirik jam dinding yang bertengger di dalam kamar Yunho yang kini juga menjadi kamarnya. Sudah pukul sepuluh malam dan namja bermata musang itu belum menunjukkan kehadirannya? Jaejoong hendak menelpon ketika pintu kamar itu tiba-tiba terbuka, menampakkan sosok namja yang sepertinya baru selesai mandi itu.

“Aku membangunkanmu?” tanya Yunho, “Aku sudah mencoba untuk tidak berisik tadi.”

Jaejoong tidak menyahut. Doe eyes kelamnya yang sedikit sayu dan lelah itu hanya menatap Yunho.

“Kau sakit?” Yunho menyentuh wajah pucat Jaejoong yang berkeringat dingin.

Namja androgini itu menggelengkan kepalanya pelan, “Ambilkan aku minum.” Pinta Jaejoong.

“Tunggu sebentar.” Yunho kembali melesat keluar tanpa meletakkan terlebih dahulu handuk yang masih menyampir di punggungnya.

.

.

Umma sakit?” tanya Changmin ketika melihat di atas meja makan kecil itu hanya terhidang makanan yang semalam dimakannya. Sedikit kaget karena keberadaan namja cantik yang beberapa hari terakhir ini sering mengomelinya itu tidak tertangkap kedua matanya.

“Aku sudah memanaskannya.” Jawab Yunho yang dengan tenang memakan makanannya, “Boo Jae sedang demam. Aku menyuruhnya beristirahat.”

Changmin ikut mendudukkan dirinya di kursi yang berada di hadapan Yunho, mulai mengisi mangkuknya dengan nasi dan lauk pauk yang tersaji.

“Walaupun makanan sisa semalam tapi jangan ragukan rasanya. Bukankah aku berbakat dalam memanaskan makanan?” tanya Yunho untuk sekedar memecah kekakuan antara dirinya dan Changmin.

“Hanya memanaskan, siapa saja bisa melakukannya. Yang membuat makanan ini tetap enak adalah tangan Umma.” Sahut Changmin.

“Ck….” Yunho berdecak pelan, “Makan saja dan jangan berisik!”

.

.

“Jangan halangi jalanku!” mata setajam musang itu melirik Yoochun yang sudah menghadang dirinya ketika hendak menapaki tangga menuju atap sekolah, Yunho sangat mengantuk dan ingin tidur sebentar di sana.

“Aku hanya akan bertanya sekali.” Ucap Yoochun yang masih melipat tangannya di depan dadanya dengan gaya angkuhnya, “Dimana Jaejoong? Aku tidak melihatmu berangkat bersamanya pagi ini.”

Boo Jae sedang sakit. Dia akan ke dokter jadi tidak berangkat sekolah.” Jawab Yunho singkat.

“Sakit? Dan kau membiarkannya pergi ke dokter seorang diri? Yah!” Yoochun tidak habis pikir, bagaimana bisa Yunho membiarkan Jaejoong yang katanya sedang sakit itu pergi ke rumah sakit seorang diri?

“Kalau kau begitu mengkhawatirkannya, kenapa kau tidak menemuinya? Berhenti berteriak pada orang lain atas hal yang tidak bisa kau lakukan sendiri!” Yunho berjalan melewati Yoochun, tidak memedulikan kedua bahu mereka saling bersinggungan. Ketika sudah menyentuh handle pintu Yunho berujar, “Park Yoochun, pikirkan dulu apa yang ingin kau lakukan sebelum menyesalinya nanti. Kau terlihat sangat menyedihkan akhir-akhir ini.”

.

.

Doe eyes kelam itu hanya menatap diam kertas putih yang baru saja diterimanya dari dokter yang beberapa jam lalu melakukan serangkaian pemeriksaan terhadap dirinya, “Jadi aku harus bagaimana?” tanyanya.

“Jaga kesehatanmu, jangan terlalu lelah dan stress.” Jawab namja paruh baya yang memakai jas putih itu.

“Sedikit susah mengingat akhir-akhir ini aku sedikit stress, Ahjushi.” Keluh Jaejoong.

“Aku sudah menanganimu sejak kecil jadi berhentilah mendebatku, Jae….”

“Tapi aku memang sangat stress akhir-akhir ini.”

“Karena itu kau harus mengurangi stressmu dengan cara yang positif! Yang lebih penting, berhentilah merokok! Astaga! Nikotin dalam rokok itu bisa memperburuk keadaanmu dan membunuhmu perlahan-lahan.”

Arra…. Ahjushi jangan menceramahiku lebih dari ini atau aku akan gila mendengarnya!” sahut Jaejoong, “Aku tidak akan mati karena hal ini, kan?”

Namja dewasa itu mencondongkan tubuhnya ke arah Jaejoong dan menatap serius namja cantik yang sudah menjadi pasiennya bahkan semenjak dirinya di dalam kandungan sang ibu, “Kalau kau tidak mengikuti nasihat pak tua ini….”

Jaejoong menghela napas panjang, “Arraso.” Namja cantik itu berdiri dari duduknya, “Aku akan pulang kalau begitu.”

“Jaejoongie, berhenti mengkonsumsi alkohol! Itu bahkan lebih berbahaya dan bisa mengancam nyawamu.”

Ne.” Sahut Jaejoong sebelum menutup pintu ruang praktik sang dokter.

.

.

Namja itu sedang menatap langit biru yang dihiasi gumpalan awan putih dibeberapa sudutnya, terlihat sangat dingin dan indah. Doe eyes kelamnya tidak perkedip melihat pergerakan awan yang secara perlahan berjalan melewati garis langit. Sepasang telinganya mengabaikan bisikan-bisikan pengunjung kafe lain yang sedang mempertanyakan eksitensinya sebagai seorang namja atau yeoja.

Doe eyes itu baru mengalihkan fokusnya ketika namja yang dinantikan sudah datang dan mendudukkan dirinya di hadapannya. Mata setajam musang itu, struktur rahang yang tegas, ah… andaikkan namja itu tidak dicap sebagai siswa badung di sekolah mereka pastilah dirinya sudah dikejar-kejar oleh banyak yeoja cantik.

“Aku membiarkan Changmin naik bus sendirian menuju rumah. Entah dia tersesat atau tidak.” Yunho melepas tas sekolahnya, meletakkannya di kursi sampingnya yang kosong, “Wae? Jadi kau sakit apa? Apa demammu sudah turun? Tadi pagi Yoochun memarahiku karena membiarkanmu pergi ke dokter sendirian.”

Jaejoong tidak menyahut, mengambil hasil kesehatannya kemudian menyerahkannya pada Yunho, “Ku rasa aku akan segera diusir dari sana.”

“Darimana?” tanya Yunho yang menerima dan mulai membaca hasil kesehatan Jaejoong.

“Rumah keluarga Park.” Jawab Jaejoong.

Boo…?” sedikit gagap dan ragu, Yunho menatap Jaejoong dengan wajah kaget bercampur bahagianya.

“Mulai sekarang kau harus membiayai hidup kami!” ucap Jaejoong yang dengan tenang menikmati jus jeruknya.

Jinjja? Benarkah ini?” tanya Yunho sekali lagi untuk memastikan.

“Kau kecewa padaku?” Jaejoong balik bertanya.

Aigoo!” Yunho tidak bisa menyembunyikan kebahagiannya.

“Kau akan mendapatkan Jung kecil delapan bulan lagi jadi menabunglah untuk persalinanku nanti! Kau tahu, kehamilan pada namja sedikit merepotkan dan biaya persalinan di Seoul tidaklah murah.”

Yunho masih memasang senyum bahagianya, mengabaikan petuah yang namja cantik itu katakan padanya, “Yah! Mulai sekarang dengarkan aku! Kau tidak boleh merokok apalagi minum alkohol!”

“Aku tahu….”

“Besok aku akan bilang pada guru olah raga agar kau tidak perlu ikut pelajaran olah raga lagi mulai sekarang.”

“Yun….”

“Hm?”

“Bagaimana bila karena ini kau dicoret dari kartu keluargamu?”

“Memang aku peduli?” tanya Yunho, “Bila mereka saja tidak peduli padaku kenapa aku harus peduli pada mereka, hm?” Yunho menggenggam erat jemari pucat namja cantik itu seolah-olah takut berpisah darinya.

Doe eyes itu hanya menatap mata setajam musang yang juga tengah menatapnya.

“Setelah ujian akhir 2 bulan lagi semuanya akan baik-baik saja. Aku akan menjagamu, kau tidak perlu takut apa-apa lagi, Boo….” ucap Yunho, “Mereka tidak akan bisa mengusik kita lagi.”

“Bahkan keputusanku untuk membuang segalanya pun masih menyisakan luka di hatiku, Yun…. Ini tidak semudah mengatakannya. Tetapi…. Tetaplah disisiku agar aku bisa melalui semua ini dengan mudah.”

“Tanpa kau minta pun aku akan tetap melakukannya, Boo….”

Tidaklah cukup hanya dengan keyakinan dan tekad, karena hidup adalah sebuah perjuangan. Setiap hembusan napas dan detik yang berlalu adalah sebuah perjuangan.

Tidak mudah memang…

Tetapi ketika ada seseorang yang mau menemani dalam perjalanan melelahkan itu, semuanya akan terasa lebih ringan dan menyenangkan seberat apapun kesulitan itu….

.

.

TBC

.

.

Gomawo yang sudah membaca dan memberikan komentar untuk FF gaje ini. Mian Yuuki belum bisa membalas, tapi Yuuki akan usahakan untuk membalasnya.

Sekali lagi jeongmal gomawo🙂

.

.

Friday, April 04, 2014

3:32:46 PM

NaraYuuki

15 thoughts on “Always Keep The Faith! VIII

  1. jaema hamil iia eon😀
    yunppa suka tuuuhhhh
    ehh tp gmn keluarga park??😦

    ciihh ternyata yeoja itu yeoja jalang
    ckckck
    chunnie sih dibilangin gg mau denger

  2. yeeiiiyyy umma hamilll..
    tapi gimana nasib mereka nanti ne..
    trus reaksi minyoosu gimana ne…
    trus gimana juga reaksi keluarga park???
    omo… jd makin penasaran ma lanjutannya…. ditunggu next chap yuuki..🙂

  3. aduuuh..mudah2an emak g tambah garang pas hamil.. g hamil aj emosian gitu..g isa mbayangin kl ntar perutnya udah gde kl ad yg nyenggol bs dibacok tuh orang…heheee

  4. disini ceritanya harusnya bahagia tapi baca ini rasanya aku malah sedih yaw mungkin terharu hehehe
    panasaran sama reaksi yg lain kalo tau!!

  5. Ping-balik: Always Keep The Faith! VIII | Fanfiction YunJae

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s