Seikat Sayang Untuk Bunda


You're Not a Bad Girl 9

.

.

.

.

.

 

Yang aku tahu Bunda sangat sayang pada kami. Bunda selalu tersenyum dan tak pernah lelah menghadapi sikap kami yang kadang-kadang nakal. Bunda tak pernah mengeluh walau acap kali aku dan Julli bersikap terlalu hyper. Bunda tak pernah memarahi kami ketika kami bandel. Bunda selalu memeluk kami dalam rengkuhan kasih sayangnya. Yah, Bunda adalah sosok yang sangat penting dan berharga bagiku dan Julli.

“Nara, sebagai anak laki-laki dan sebagai seorang kakak, kamu harus menjaga adikmu ketika Ayah dan Bunda tidak ada.”

Bunda selalu bilang begitu padaku sejak kecil tanpa aku tahu alasannya. Awalnya aku berpikir Bunda berkata seperti itu karena Julli adik kembarku memang punya tubuh yang lemah. Julli gampang sakit. Tentu saja aku dengan senang hati akan menjaga Julli. Aku, kan kakaknya. Ternyata bukan karena Julli yang membuat Bunda berpesan seperti itu padaku.

Aku masih ingat dengan jelas kejadian memilukan itu. Tiba-tiba saja Ayah menelponku dan Julli, meminta kami datang ke rumah sakit. Aku tak tahu kenapa? Mungkin Ayah sedang sakit dan minta ditemani, itulah yang ku pikirkan. Aku dan Julli yang kala itu sedang berada di sekolah langsung meminta ijin untuk pergi ke rumah sakit.

Betapa terkejutnya kami melihat Ayah berada di depan ruang ICU rumah sakit. Wajahnya terlihat begitu sedih, senyuman yang diberikannya padaku dan Julli tak mampu menutupi raut sedih diwajah lelahnya. Aku masih tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Ayah diam cukup lama dan tak mengatakan apa-apa pada kami.

“Ayah, siapa yang sakit?” tanya Julli.

Bukannya menjawab pertanyaan Julli, Ayah malah memelukku dan Julli. Ayah terisak. Seumur hidupku baru kali ini aku melihat Ayah menangis dan aku tak tahu apa alasannya.

“Ayah kenapa? Ayah sakit?” tanya Julli lagi.

Lagi. Ayah  tak menjawab dan justru semakin erat memelukku dan Julli. Pelukan Ayah semakin mengendur setelah sepuluh menit lamanya. Ayah menarikku dan Julli agar duduk disampingnya. Aku duduk disamping kanan Ayah, sedangkan Julli duduk disamping kiri Ayah.

“Kalian sudah besar. Kalian harus tahu hal ini….” ucap Ayah dengan suara paraunya.

Baik aku dan Julli sama sekali tak mengerti apa maksud Ayah, tapi kami mencoba menenangkan diri dan mencoba mencerna serta memahami kata-kata yang keluar dari mulut Ayah.

“Bunda kalian sakit….” Ayah menggantung kalimatnya.

Aku dan Julli mulai takut. Bunda sakit? Bunda sehat-sehat saja. Tadi pagi bahkan Bunda mengantar kami ke sekolah jadi mana mungkin Bunda sakit? Lagipula selama ini Bunda tak petnah mengeluh kalau dirinya sakit. Pasti Ayah sedang bercanda. Mana mungkin Bunda sakit kalau Bunda saja sehat-sehat saja.

“Kangker paru-paru….” ucap Ayah.

Aku terdiam, sementara Julli sudah mulai sengungukan.Mata indah adik kembarku itu sekarang benar-benar basah.

“Kangker? Ayah bercanda?” tanyaku memastikan.

Ayah menggelengkan kepalanya pelan, “Sejak kecil Bunda kalian sudah memiliki penyakit asma. Tapi setahun belakangan penyakit Bunda kalian semakin bertambah parah. Dokter memvonis Bunda kalian mengidap kangker paru-paru.”

Julli semakin histeris, air mata sudah membanjiri wajah cantik adikku. Bunda sakit? Benar-benar sakit? Dan aku tak tahu soal hal itu? Tidak apa-apa kalau sakit bunda hanya masuk angin. Ini? Bundaku mengidap kangker? Bunda yang aku dan Julli sangat cintai itu? Tidak!

“Ayah bohong! Ayah bohong! Mana mungkin Bunda sakit? Bunda sehat-sehat saja! Bunda sehat! Ayah bohong!!!” pekikku. Ku rasakan air mata mulai turun dari kedua mataku.

 

Aku tidak mengerti dengan istilah-istilah medis ataupun peralatan kedokteran. Yang aku lihat hanya Bunda bernapas melalui bantuan selang oksigen. Ada sebuah alat yang mirip televisi di samping ranjang bunda, aku tak tahu namanya dan tak mengerti apa gunanya, tapi Dokter dan suster selalu melihat layar itu ketika mereka akan mengecek kondisi jantung Bunda.

Malam ini aku menemani Bunda di ruang ICU. Sebuah ruangan yang hanya diperuntukan untuk pasiesn yang benar-benar dalam kondisi sangat kritis. Bunda termasuk salah satunya. Julli dan Ayah menunggu di luar. Ku genggam erat tangan Bunda, ku ciumi tangan hangat yang selalu membelaiku itu. Tangan yang kini terasa begitu lemah tak bertenaga.

Perlahan Bunda membuka matanya dan tersenyum ke arahku. Sungguh aku sangat senang melihat Bunda. Wajahnya terlihat masih pucat tapi binar kebahagiaan benar-benar terihat diwajah teduh yang selalu membuatku nyaman.

“Bunda….” lirihku.

“Nara….” panggil Bunda.

Aku tersenyum melihat Bunda. Aku ingin berteriak memanggil Ayah dan Julli namun ku urungkan niatku ketika merasakan tanganku digenggam erat oleh Bunda.

“Nara…. Boleh Bunda minta tolong?” tanya Bunda pelan.

Aku segera menggangguk, “Bunda haus? Mau minum? Akan Nara ambilkan.”

Bunda menggelengkan kepalanya pelan.

“Bunda mau apa?” tanyaku.

“Jaga Ayah dan Adikmu…..”

Sunggung aku tak mengerti kenapa tiba-tiba saja Bunda berkata seperti itu padaku. Aku tak mengerti maksud Bunda.

“Jangan biarkan Ayah dan Adikmu bersedih ya….”

Aku menggangguk pelan.

“Nara memang anak yang bisa Bunda banggakan.” Bunda tersenyum padaku. Wajahnya terlihat sekamin pucat. Bunda memejamkan matanya. Tidur? Itu yang ku pikirkan. Tapi tidak. Bunda tidak tidur. Bunda sudah pergi. Dan yang Bunda minta adalah pesan terakhir Bunda padaku sebelum pergi.

 

Ku letakkan krisan berwarna putih diatas sebuah batu marmer yang terukir indah. Ku lantunkan doa untuk dia yang ku cintai. Dihadapanku Ayah dan Julli juga melakukan hal yang sama. Yah, sudah dua tahun Bunda meninggalkan kami. Dua tahun kami hidup tanpa Bunda yang hangat dan perhatian pada kami. Ku usap nisan yang terukirkan nama Bunda. tanpa ku sadari air mataku menetes lagi, hal yang biasa terjadi bila aku datang mengunjungi Bunda.

“Bunda lihatlah! Anak-anakmu kini sudah besar. Julli adalah calon pengacara Bunda, hebat kan? Ayah juga sudah bisa lepas dari kesedihannya sepeninggal Bunda. dan anak laki-lakimu ini kelak akan menjadi Dokter yang akan menyembuhkan orang-orang yang sakit seperti Bunda.” batinku. Aku yakin Bunda bisa melihat kami dari surga.

“Ayo pulang….” ajak Ayah.

Kami bangkit. Julli mengapit lenganku dan lengan Ayah, berjalan ditengah-tengah aku dan Ayah sambil tersenyum. Sungguh aku bangga pada ketegaran adikku. Diusianya yang masih begitu muda Julli kehilangan sosok ibu dan harus rela mengerjakan pekerjaan yang dulu dikerjakan oleh Bunda. Tanpa mengeluh Julli membersihkan rumah, memasak untukku dan Ayah.

Angin sore berhembus, memberikan sedikit kesejukan dihatiku. Luka akibat ditinggal Bunda aku yakin tidak akan pernah bisa sembuh. Tapi ku coba untuk tegar agar Bunda bisa tersenyum bahagia ketika melihat kami bahagia dari jendela surga.

Bunda, aku mencintaimu. Julli mencintaimu. Ayah mencintaimu. Kami mencintaimu Bunda. Cinta kami padamu selamanya.

.

.

.

.

Tuesday, April 24, 2012

6:45:42 AM

NaraYuuki

2 thoughts on “Seikat Sayang Untuk Bunda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s